Pengaruh Aqidah Dalam Kehidupan

Pertanyaan :

Ada beberapa orang yang memandang remeh perkara aqidah,
mereka beranggapan bahwa nilai keimanan yang dimiliki sudah
mencukupi bagi seseorang. Sudikah Anda menjelaskan urgensi
aqidah bagi setiap pribadi muslim serta pengaruh yang timbul
dari aqidah tersebut dalam kehidupannya dan dalam
hubungannya terhadap diri sendiri, masyarakat muslim dan non
muslim ?

Jawaban :

Bismillahirrahmanirrahim, segala puji hanyalah bagi Allah
semata Rabb sekalian alam. Shalawat dan salam semoga
tercurah kepada rasul junjungan kita Muhammad Shallallahu
‘alaihi wa sallam, bagi keluarga serta sahabat beliau, wa ba’du.
Pembenahan aqidah merupakan asas dasar Dienul Islam.
Tidaklah berlebihan sebab syahadat Laa Ilaaha Illallah
Muhammadur Rasulullah merupakan rukun Islam yang pertama.
Dan para rasul pertama kali menyeru kaumnya untuk
membenahi aqidah mereka. Sebab aqidah merupakan dasar
pondasi seluruh amal ibadah dan perbuatan yang dilakukan.
Tanpa pembenahan aqidah amal menjadi tiada berguna. Allah
Subhnahahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya
lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan” [Al-
An'am : 88]

Yaitu akan hapuslah seluruh amalan mereka. Dalam ayat lain
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Sesungguhnya orang yang mempersekutukan
(sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan
kepadanya Surga, dan tempatnya ialah Neraka, tidaklah ada
bagi orang-orang zhalim itu seorang penolongpun” [Al-Maidah : 72]

Dalam ayat lain Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan
kepada (nabi-nabi) sebelummu : “Jika kamu mempersekutukan
(Allah), niscaya akan hapus amalmu dan tentulah kamu
termasuk orang-orang yang merugi” [Az-Zumar : 65]

Dari ayat-ayat diatas dan beberapa ayat lainnya jelaslah bahwa
urgensi aqidah merupakan prioritas yang utama dan pertama
dalam dakwah. Seruan dakwah pertama kali adalah kepada
pembenahan aqidah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bermukim di kota Mekkah setelah diangkat menjadi rasul selama
tiga belas tahun menyeru umat manusia kepada pembenahan
aqidah, yakni kepada tauhid. Tidaklah diturunkan kewajiban-
kewajiban ibadah kecuali setelah beliau hijrah ke Madinah.
Memang benar, ibadah shalat diwajibkan ketika beliau berada di
Makkah sebelum hijrah, akan tetapi bukankah syariat-syariat
lainnya diwajibkan atas beliau setelah hijrah ke Madinah ? Hal
itu menunjukkan bahwa amal ibadah itu baru dituntut setelah
pembenahan aqidah. Orang yang mengatakan “cukuplah nilai
keimanan tanpa memperhatikan perlu ambil peduli masalah
aqidah” justru bertentangan dengan nilai keimanan itu sendiri.
Sebab keimanan itu akan sempurna dengan memiliki aqidah
yang benar dan lurus. Adapun jika aqidah belum benar, maka
tidak akan ada tersisa iman dan nilai agama sedikitpun !

Muraja’att fi fiqhil waqi’ as-sunnah wal fikri ‘ala dhauil
kitabi wa sunnah – Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan

About these ads

Posted on Maret 6, 2010, in Aqidah, Fatwa. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 795 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: