Cara Memperoleh Akhlaq Yang Mulia

Telah kita jelaskan dalam pembahasan sebelumnya, bahwa akhlaq yang mulia bisa berupa sifat alami dan bisa berupa sifat yang dapat diusahakan atau diupayakan. Dan bahwasanya yang bersifat alami tentu sempurna dari yang satunya. Dan juga telah kita sebutkan dalil yang menunjukan akan hal ini, yaitu sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam kepada Asyajj bin ‘Abdul Qais:

ﺎﻤﻬﻴﻠﻋﷲﺍﻚﻠﺒﺟﻞﺑ

“Allah-lah yang telah mengaruniakan keduanya padamu”. (1)

Dan begitu pula, karena akhlaq mulia yang bersifat alami tidak akan bisa hilang dari seseorang, sedangkan akhlaq yang dihasilkan dengan cara membiasakannya bisa saja terlewat dari seseorang dalam situasi dan kondisi tertentu. Karena orang tersebut memerlukan kebiasaan, kerja keras, latihan dan kesungguhan. Dan terkadang ia juga perlu mengingat-ingatnya lagi ketika terjadi hal-hal yang dapat membangkitkan emosinya.

Untuk itu ada seorang pemuda datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam lalu berkata: Wahai Rasulullah, beri aku nasehat, beliau menjawab: ﺐﻀـﻐﺗﻻ “Janganlah engkau marah”, kemudian beliau terus mengulanginya seraya berkata: “Janganlah engkau marah. (2)

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam juga bersabda:

ﺔﻋﺮﺼﻟﺎﺑﺪﻳﺪﺸﻟﺍﺲﻴﻟ , ﺐﻀﻐﻟﺍﺪﻨﻋﻪﺴﻔﻧﻚﻠﳝﻱﺬﻟﺍﺪﻳﺪﺸﻟﺍﺎﳕﺇ

“Bukanlah orang yang kuat itu yang menang dalam bertarung, akan tetapi orang yang kuat adalah yang mampu menguasai dirinya ketika sedang marah”. (3)

Arti “Ash-Shur’ah” adalah orang yang bertarung atau bergulat dengan lawannya. Seperti kata “Humazah” dan “Lumazah”. Adapun “Humazah” artinya yang suka mengumpat atau memaki orang, sedangkan “Lumazah” artinya yang suka mengejek orang lain dengan kedipan mata.

Maka, orang yang kuat bukanlah yang menang dalam bertarung dan mampu mengalahkan lawannya, akan tetapi “orang yang kuat adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika sedang emosi”, dia mampu menguasai dan menahan dirinya pada saat sedang marah. Dan kemampuan seseorang untuk mengendalikan dirinya ketika sedang marah termasuk akhlaq yang mulia. Jika anda marah, janganlah anda menuruti kemarahan anda, akan tetapi segeralah memohon perlindungan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dari setan yang terkutuk. Jika anda berdiri maka duduklah, dan jika duduk maka berbaringlah. Dan jika rasa marah anda semakin bertambah maka segeralah berwudhu sampai hilang dari anda rasa marah tersebut.

Setiap orang bisa mendapatkan akhlaq yang mulia, hal ini dapat dilakukan dengan cara membiasakan, bersungguh-sungguh, dan melatih dirinya. Maka, ia dapat menjadi orang yang berakhlaq mulia dengan beberapa perkara, di antaranya:

Pertama: Hendaklah ia mengamati dan menelaah kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Sunnah Rasul-Nyan. Yakni mengamati nash-nash yang menunjukan pujian terhadap akhlaq yang agung tersebut, yang mana ia berkemauan untuk berperilaku dengannya. Jika seorang mukmin melihat nash-nash yang memuji-muji akhlaq atau perilaku tertentu, maka ia akan berusaha untuk dapat menerapkan perilaku yang terpuji tersebut pada dirinya. (4)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah mengisyaratkan akan hal itu dalam sabdanya:

“Permisalan teman duduk yang baik dengan yang tidak baik, seperti penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Adapun penjual minyak wangi: terkadang ia akan menawarkan minyaknya kepadamu, dan terkadang ia akan memberimu”. (5)
.

Dan terkadang juga kamu akan mendapatkan darinya bau yang wangi. Adapun teman duduk yang tidak baik ia seperti seorang pandai besi: kalau tidak membakar pakaianmu, pasti kamu akan mencium darinya bau yang tidak sedap. (6)

Kedua: Bersahabat dengan orang yang telah dikenal kemuliaan akhlaqnya, dan jauh dari sifat-sifat rendah dan perbuatan-perbuatan hina. Sehingga ia menjadikan persahabatan tersebut ibarat sebuah sekolah yang ia menimba akhlaq yang mulia darinya. Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah berkata:

ﻞﻟﺎﳜﻦﻣﻢﻛﺪﺣﺃﺮﻈﻨﻴﻠﻓﻪﻠﻴﻠﺧﻦﻳﺩﻰﻠﻋﻞﺟﺮﻟﺍ

“Seseorang itu tergantung dengan agama sahabatnya, maka hendaklah kalian melihat orang yang akan kalian pergauli”. (7)

Ketiga: Hendaklah ia memperhatikan akibat buruk dari akhlaq tercela, karena orang yang berakhlaq buruk pasti dibenci, ditinggalkan, dan akan dikenal dengan sebutan yang jelek. Maka, jika seseorang mengetahui bahwa akhlaq yang buruk bisa mengakibatkan semua ini, niscaya ia akan segera menjauhinya.

Keempat: Hendaklah ia selalu menghadirkan gambaran akhlaq mulia Rasulullahn, bagaimanakah dahulu Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam merendahkan dirinya di hadapan sesama, bersikap santun terhadap mereka, mau memaafkan mereka, dan juga selalu bersabar dari gangguan mereka. Seandainya saja seseorang mampu menghadirkan akhlaq Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, dan bahwasanya Belaiu adalah sebaik-baik manusia, serta merupakan orang yang paling utama dari hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala , niscaya ia akan merasa rendah diri dan akan terpecah sifat kecongkakan yang ada dalam dirinya. Maka, hal tersebut pun akan menjadi penyeru baginya yang mengajak kepada perilaku yang baik.

Akhlaqul Karimah – Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin

Footnote
(1) Dikeluarkan oleh Abu Daud, No (5225) di Kitaabul Adab, dan Ahmad di kitabnya Al-
Musnad (4 / 206). Imam Muslim hanya mengeluarkan bagian yang pertama saja, No (25 & 26) di Kitaabul Iman, juga oleh Imam Tirmidzi, No (2011) di Kitaabul Bir Wash Shilah.
(2) Dikeluarkan oleh Imam Bukhari, No (6114) di Kitaabul Adab¸ dan Tirmidzi, No (2020) di Kitaabul bir Wash Shilah.
(3) Dikeluarkan oleh Imam Bukhari, No (6114) di Kitaabul Adab, dan Imam Muslim, No
(107) di Kitaabul bir Wash Shilah.
(4) Pensucian diri / jiwa (membersihkan jiwa dari debu-debu hawa nafsu dan maksiat -pent) tidaklah bisa digapai melainkan dengan cara-cara yang telah ditempuh oleh para rasul, sebagaimana yang telah diungkapkan oleh Ibnul Qayyim: Pensucian jiwa lebih sulit dan lebih berat dari pada mengobati raga ini. Barang siapa yang berusaha untuk
membersihkan jiwanya dengan jalan melatihnya dan berjuang dengan bersungguh-
sungguh serta dengan menyendiri, yang mana hal tersebut tidak dicontohkan oleh para rasul, maka ia seolah-olah seperti orang sakit yang berusaha mengobati dirinya dengan ramuannya sendiri. Akankah ramuannya sesuai dengan resep dokter?!. Maka itu, rasul adalah dokter bagi hati, tidak ada jalan untuk membersihkan dan memperbaikinya kecuali dengan petunjuk dan penanganan darinya, serta dengan kemurnian sikap tunduk dan patuh hanya kepadanya, dan Allah-lah tempat memohon pertolongan. {Madaarijus Saalikiin (2 / 300)}.
(5) Yakni memberimu dengan cuma-cuma atau gratis.
(6) Dikeluarkan oleh Bukhari, No (2101) di Kitaabul Buyu’, dan No (5534) di Kitaabudz
dzabaa-ih. Dan dikeluarkan juga oleh Muslim, No (146) di Kitaabul Bir Wash Shilah. Imam Nawawi berkata: Dalam hadits tersebut terdapat faedah, yakni keutamaan duduk-duduk bersama orang-orang yang shalih dan orang-orang yang baik, juga terdapat suatu keutamaan dari perangai yang baik dan akhlak yang mulia, sikap wara’ (sifat kehati-hatian terhadap sesuatu yang masih bersifat syubhat / tidak jelas halal dan haramnya -pent), ilmu dan adab. Dan juga terdapat larangan dari duduk-duduk bersama dengan orang yang jahat, ahli bid’ah, orang yang sering menggunjing, yang banyak melakukan perbuatan dosa dan orang yang tidak mempunyai kesibukan, serta sifat-sifat tercela lainnya. Lihat kitab Shahih Muslim dengan Syarahnya Imam Nawawi (16 / 394).
(7) Dikeluarkan oleh Tirmidzi, No (2378) di Kitaabuz Zuhd, dan ia berkata: Hadits hasan shahih, Abu Daud, No (4833) di Kitaabul Adab, Ahmad di kitabnya Al-Musnad (2 / 303 & 334). Dan dihasankan oleh Imam Al-Albani di kitab Shahiihul Jaami’ Ash-Shaghiir, No (3545) dan di kitab Silsilatul Ahaadits Ash-Shahiihah, No (927).

About these ads

Posted on Mei 17, 2010, in Akhlaq. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh!Trims tausiahnya ustadz,saya menanti pencerahan2 berikutnya

  2. subhanallah, syukron atas tausiah ini. salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 731 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: