Makna Al ‘Ala (Maha Tinggi)

(Ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar ZA, Lc.)

Di antara Al-Asma`ul Husna (nama-nama yang paling baik bagi Allah k) adalah Al-A’la yang berarti Yang Maha Tinggi. Nama Allah k lain yang semakna adalah Al-’Aly dan Al-Muta’al.

Adapun dalil yang menunjukkan nama-nama tersebut adalah sebagai berikut:

1. Firman Allah k:

سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى

“Sucikanlah nama Rabbmu Yang Maha Tinggi.” (Al-A’la: 1)

2.    Firman Allah k:

وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

“Dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (Al-Baqarah: 255)

3.    Firman Allah k:

عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ الْكَبِيرُ الْمُتَعَالِ

“Yang mengetahui semua yang ghaib dan yang nampak; Yang Maha Besar lagi Maha Tinggi.” (Ar-Ra’du: 9)

Adapun dari hadits Nabi n, sebagaimana berikut:

1. Sahabat Hudzaifah z berkata:

كَانَ -يَعْنِي النَّبِيَّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- يَقُولُ فِي رُكُوعِهِ: سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيْمِ؛ وَفِي سُجُودِهِ:سُبْحَانَ رَبِّيَ اْلأَعْلَى

“Adalah Nabi dalam rukuknya membaca ‘subhana rabbiyal-azhim’ (Maha Suci Rabb-ku Yang Maha Agung); dan dalam sujudnya subhana rabbiyal a’la (Maha Suci Rabb-ku Yang Maha Tinggi).” [Shahih, HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa`i, Ibnu Majah, dan Ahmad. Dishahihkan oleh At-Tirmidzi dan Al-Albani dalam Irwa'ul Ghalil no. 333; Shahih Sunan Abu Dawud no. 871]
2. Sabda Nabi n:

كَلِمَاتُ الْفَرَجِ:

“Kalimat-kalimat untuk jalan keluar:

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ الْحَلِيْمُ الْكَرِيْمُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ رَبُّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ

‘Tiada Ilah yang benar kecuali Allah yang Maha Pemaaf dan Maha Pemurah serta Mulia, Tiada Ilah yang benar kecuali Allah yang Maha Tinggi dan Maha Agung Tiada Ilah yang benar kecuali Allah Rabb sekalian langit yang tujuh dan Rabb Arsy yang agung’.” (Shahih, HR. Ibnu Abid-dunya dan Al-Khara`ithi. Lihat Ash-Shahihah no. 2045)

Ketinggian Allah l mencakup tiga macam ketinggian:

1.    ‘Uluwwul-qadr atau uluwwush-shifat
2.    ‘Uluwwul-qahr
3.    ‘Uluwwudz-dzat.

‘Uluwwul-qadr atau ‘uluwwush-shifat, artinya Ia tinggi/ suci dari segala kekurangan  dan aib, serta milik-Nya lah seluruh sifat kesempurnaan. Demikian juga apa yang Allah k miliki dari sifat-sifat itu adalah yang paling tinggi dan paling sempurna.

‘Uluwwul-qahr artinya Dia yang unggul di atas selain-Nya dan mengalahkan serta mengatur selain-Nya.

‘Uluwwudz-dzat artinya ketinggian Dzat Allah k di atas seluruh makhluk-Nya. Hal itu karena Allah k di atas ‘Arsy-Nya (singgasana-Nya), terpisah dari makhluk-Nya, tidak menyatu atau melebur pada diri makhluk-Nya. Sebagaimana firman-Nya:

إِنَّ رَبَّكُمُ اللهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ

“Sesungguhnya Rabb kalian ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, kemudian Dia naik di atas ‘Arsy untuk mengatur segala urusan.” (Yunus: 3)

Dari sini, sangatlah keliru bila dikatakan bahwa Allah k ada di mana-mana.
Ahlus Sunnah wal Jamaah meyakini segala macam sifat ketinggian Allah k karena semuanya disebutkan dalam Al-Qur`an dan Al-Hadits.

Kesalahan dalam Memahami Nama Al-A’la
Sementara ahli bid’ah tidak mengimani ketinggian Dzat-Nya. Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa Allah l menyatu dengan makhluk-Nya, sehingga dari sini -disadari atau tidak- muncul pernyataan bahwa ‘Allah di mana-mana’.

Ada pula yang beranggapan bahwa Allah k menitis pada makhluk-Nya atau sebagian makhluk-Nya.

Ada pula yang mengatakan bahwa Allah k tidak bersambung dengan alam, tidak pula terpisah darinya.

Keyakinan ahli bid’ah dengan pelbagai macamnya tadi merupakan keyakinan yang bertentangan dengan dalil dari Al-Qur`an maupun As-Sunnah yang sahih. Maha Suci Allah dari apa yang mereka katakan.

Faedah Mengimani Nama Ini
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin mengatakan: Bila seseorang mengetahui bahwa Allah l di atas segala sesuatu, maka dia akan tahu kadar kekuasaan-Nya terhadap makhluk-Nya sehingga ia akan takut kepada Allah k dan mengagungkan-Nya. Dan bila seseorang takut kepada Rabbnya sekaligus mengagungkan-Nya maka diapun akan akan bertaqwa kepada-Nya dan melaksanakan kewajiban-Nya serta meninggalkan larangan-Nya.

Sumber Bacaan:
- Shifatullah Azza Wa Jalla Al-Waridah fil Kitabi Was Sunnah, hal. 186
- Syarh Al-Wasithiyyah karya Ibnu Utsaimin, hal. 140 dan 340
- Syarh Al-Wasithiyyah karya Muhammad Al-Harras, hal. 91
- Syarh An-Nuniyyah karya Muhammad Al-Harras, hal. 65 dan 68
- At-Tanbihat As-Sunniyyah, hal. 51
- Syarh Asma`ullah Al-Husna karya Sa’id Al-Qahthani, hal. 78
- Tafsir As-Sa’di, hal. 946
- Muqaddimah Mukhtashar Al-‘Uluw, hal, 52-53

Sumber : http://asysyariah.com/al-ala.html

About these ads

Posted on Agustus 22, 2013, in Asmaul Husna. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 775 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: