<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Meniti Jalan yang Lurus</title>
	<atom:link href="http://shirotholmustaqim.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://shirotholmustaqim.wordpress.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 26 Jan 2012 10:20:29 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='shirotholmustaqim.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/068f949f9a70500de60db7396d2c0642?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Meniti Jalan yang Lurus</title>
		<link>http://shirotholmustaqim.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://shirotholmustaqim.wordpress.com/osd.xml" title="Meniti Jalan yang Lurus" />
	<atom:link rel='hub' href='http://shirotholmustaqim.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Hati-hati dari Teman yang Buruk</title>
		<link>http://shirotholmustaqim.wordpress.com/2012/01/26/hati-hati-dari-teman-yang-buruk/</link>
		<comments>http://shirotholmustaqim.wordpress.com/2012/01/26/hati-hati-dari-teman-yang-buruk/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Jan 2012 10:20:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>shirotholmustaqim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://shirotholmustaqim.wordpress.com/?p=2760</guid>
		<description><![CDATA[Penulis : Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah Dalam sebuah hadits yang shahih disebutkan: مَثَلُ الْـجَلِيْسِ الصَّالـِحِ وَالسُّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيْرِ. فَحَامِلُ الْـمِسْكِ إِمَّا أَنْ يَحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيْحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الْكِيْرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيْحًا خَبِيْثَةً “Permisalan teman duduk yang baik dan teman duduk yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shirotholmustaqim.wordpress.com&amp;blog=9822223&amp;post=2760&amp;subd=shirotholmustaqim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis : Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah</p>
<p>Dalam sebuah hadits yang shahih disebutkan:</p>
<p>مَثَلُ الْـجَلِيْسِ الصَّالـِحِ وَالسُّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيْرِ. فَحَامِلُ الْـمِسْكِ إِمَّا أَنْ يَحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيْحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الْكِيْرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيْحًا خَبِيْثَةً</p>
<p>“Permisalan teman duduk yang baik dan teman duduk yang jelek seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. (Duduk dengan) penjual minyak wangi bisa jadi ia akan memberimu minyak wanginya, bisa jadi engkau membeli darinya dan bisa jadi engkau akan dapati darinya aroma yang wangi. Sementara (duduk dengan) pandai besi, bisa jadi ia akan membakar pakaianmu dan bisa jadi engkau dapati darinya bau yang tak sedap.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim) </p>
<p>Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan bahwa teman dapat memberikan pengaruh negatif ataupun positif sesuai dengan kebaikan atau kejelekannya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerupakan teman bergaul atau teman duduk yang baik dengan penjual minyak wangi. Bila duduk dengan penjual minyak wangi, engkau akan dapati satu dari tiga perkara sebagaimana tersebut dalam hadits. Paling minimnya engkau dapati darinya bau yang harum yang akan memberi pengaruh pada jiwamu, tubuh dan pakaianmu. Sementara kawan yang jelek diserupakan dengan duduk di dekat pandai besi. Bisa jadi beterbangan percikan apinya hingga membakar pakaianmu, atau paling tidak engkau mencium bau tak sedap darinya yang akan mengenai tubuh dan pakaianmu.</p>
<p>Dengan demikian jelaslah, teman pasti akan memberi pengaruh kepada seseorang. Dengarkanlah berita dari Al-Qur`an yang mulia tentang penyesalan orang zalim pada hari kiamat nanti karena dulunya ketika di dunia berteman dengan orang yang sesat dan menyimpang, hingga ia terpengaruh ikut sesat dan menyimpang.<span id="more-2760"></span> </p>
<p>وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَالَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلاً. يَاوَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلاً. لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا</p>
<p>“Dan ingatlah hari ketika itu orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata, ‘Aduhai kiranya dulu aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku, andai kiranya dulu aku tidak menjadikan si Fulan itu teman akrabku. Sungguh ia telah menyesatkan aku dari Al-Qur`an ketika Al-Qur`an itu telah datang kepadaku.’ Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia.” (Al-Furqan: 27-29)</p>
<p>‘Adi bin Zaid, seorang penyair Arab, berkata:</p>
<p>عَنِ الْـمَرْءِ لاَ تَسْأَلْ وَسَلْ عَنْ قَرِيْنِهِ فَكُلُّ قَرِيْنٍ بِالْـمُقَارَنِ يَقْتَدِي<br />
إِذَا كُنْتَ فِي قَوْمٍ فَصَاحِبْ خِيَارَهُمْ وَلاَ تُصَاحِبِ الْأَرْدَى فَتَرْدَى مَعَ الرَّدِي</p>
<p>Tidak perlu engkau bertanya tentang (siapa) seseorang itu, namun tanyalah siapa temannya<br />
Karena setiap teman meniru temannya<br />
Bila engkau berada pada suatu kaum maka bertemanlah dengan orang yang terbaik dari mereka<br />
Dan janganlah engkau berteman dengan orang yang rendah/hina niscaya engkau akan hina bersama orang yang hina<br />
Karenanya lihat-lihat dan timbang-timbanglah dengan siapa engkau berkawan. </p>
<p>Dampak Teman yang Jelek<br />
Ingatlah, berteman dengan orang yang tidak baik agamanya, akhlak, sifat, dan perilakunya akan memberikan banyak dampak yang jelek. Di antara yang dapat kita sebutkan di sini:<br />
1. Memberikan keraguan pada keyakinan kita yang sudah benar, bahkan dapat memalingkan kita dari kebenaran. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: </p>
<p>فَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ يَتَسَاءَلُونَ. قَالَ قَائِلٌ مِنْهُمْ إِنِّي كَانَ لِي قَرِينٌ. يَقُولُ أَئِنَّكَ لَمِنَ الْمُصَدِّقِينَ. أَئِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا وَعِظَامًا أَئِنَّا لَمَدِينُونَ. قَالَ هَلْ أَنْتُمْ مُطَّلِعُونَ. فَاطَّلَعَ فَرَآهُ فِي سَوَاءِ الْجَحِيمِ. قَالَ تَاللهِ إِنْ كِدْتَ لَتُرْدِينِ. وَلَوْلاَ نِعْمَةُ رَبِّي لَكُنْتُ مِنَ الْمُحْضَرِينَ</p>
<p>Lalu sebagian mereka (penghuni surga) menghadap sebagian yang lain sambil bercakap-cakap. Berkatalah salah seorang di antara mereka, “Sesungguhnya aku dahulu (di dunia) memiliki seorang teman. Temanku itu pernah berkata, ‘Apakah kamu sungguh-sungguh termasuk orang yang membenarkan hari berbangkit? Apakah bila kita telah meninggal dan kita telah menjadi tanah dan tulang belulang, kita benar-benar akan dibangkitkan untuk diberi pembalasan.” Berkata pulalah ia, “Maukah kalian meninjau temanku itu?&#8221; Maka ia meninjaunya, ternyata ia melihat temannya itu di tengah-tengah neraka yang menyala-nyala. Ia pun berucap, “Demi Allah! Sungguh kamu benar-benar hampir mencelakakanku. Jikalau tidak karena nikmat Rabbku pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret ke neraka.” (Ash-Shaffat: 50-57)</p>
<p>Dengarkanlah kisah wafatnya Abu Thalib di atas kekafiran karena pengaruh teman yang buruk. Tersebut dalam hadits Al-Musayyab bin Hazn, ia berkata, &#8220;Tatkala Abu Thalib menjelang wafatnya, datanglah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau dapati di sisi pamannya ada Abu Jahl bin Hisyam dan Abdullah bin Abi Umayyah ibnil Mughirah. Berkatalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Wahai pamanku, ucapkanlah Laa ilaaha illallah, kalimat yang dengannya aku akan membelamu di sisi Allah.’ Namun kata dua teman Abu Thalib kepadanya, ‘Apakah engkau benci dengan agama Abdul Muththalib?’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terus menerus meminta pamannya mengucapkan kalimat tauhid. Namun dua teman Abu Thalib terus pula mengulangi ucapan mereka, hingga pada akhirnya Abu Thalib tetap memilih agama nenek moyangnya dan enggan mengucapkan Laa ilaaha illallah. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)</p>
<p>2. Teman yang jelek akan mengajak orang yang berteman dengannya agar mau melakukan perbuatan yang haram dan mungkar seperti dirinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang munafikin: </p>
<p>وَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ كَمَا كَفَرُوا فَتَكُونُونَ سَوَاءً</p>
<p>“Mereka menginginkan andai kalian kafir sebagaimana mereka kafir hingga kalian menjadi sama.” (An-Nisa`: 89)</p>
<p>3. Tabiat manusia, ia akan terpengaruh dengan kebiasaan, akhlak, dan perilaku teman dekatnya. Karenanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: </p>
<p>الرَّجُلُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ</p>
<p>“Seseorang itu menurut agama teman dekat/sahabatnya, maka hendaklah salah seorang dari kalian melihat dengan siapa ia bersahabat1.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 927)</p>
<p>4. Melihat teman yang buruk akan mengingatkan kepada maksiat sehingga terlintas maksiat dalam benak seseorang. Padahal sebelumnya ia tidak terpikir tentang maksiat tersebut.</p>
<p>5. Teman yang buruk akan menghubungkanmu dengan orang-orang yang jelek, yang akan memudaratkanmu.</p>
<p>6. Teman yang buruk akan menggampangkan maksiat yang engkau lakukan sehingga maksiat itu menjadi remeh/ringan dalam hatimu dan engkau akan menganggap tidak apa-apa mengurangi-ngurangi dalam ketaatan.</p>
<p>7. Karena berteman dengan orang yang jelek, engkau akan terhalang untuk berteman dengan orang-orang yang baik/shalih sehingga terluputkan kebaikan darimu sesuai dengan jauhnya engkau dari mereka.</p>
<p>8. Duduk bersama teman yang jelek tidaklah lepas dari perbuatan haram dan maksiat seperti ghibah, namimah, dusta, melaknat, dan semisalnya. Bagaimana tidak, sementara majelis orang-orang yang jelek umumnya jauh dari dzikrullah, yang mana hal ini akan menjadi penyesalan dan kerugian bagi pelakunya pada hari kiamat nanti. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: </p>
<p>مَا مِنْ قَوْمٍ يَقُوْمُوْنَ مِنْ مَجْلِسٍ لَمْ يَذْكُرُوا اللهَ تَعَالَى فِيْهِ، إِلاَّ قَامُوْا عَنْ مِثْلِ جِيْفَةِ حِمَارٍ وَكَانَ لَهُمْ حَسْرَةً </p>
<p>“Tidak ada satu kaum pun yang bangkit dari sebuah majelis yang mereka tidak berzikir kepada Allah ta’ala dalam majelis tersebut melainkan mereka bangkit dari semisal bangkai keledai2 dan majelis tersebut akan menjadi penyesalan bagi mereka.&#8221; (HR. Abu Dawud. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Ash-Shahihah no. 77)<br />
Demikian… Semoga ini menjadi peringatan!</p>
<p>(Dinukil secara ringkas dengan perubahan dan tambahan oleh Ummu Ishaq Al-Atsariyah dari kitab Al-Mukhtar lil Hadits fi Syahri Ramadhan, hal. 95-99)</p>
<p>1 Seseorang akan berperilaku seperti kebiasaan temannya dan juga menurut jalan serta perilaku temannya. Maka hendaknya setiap kita merenungkan dan memikirkan dengan siapa kita bersahabat. Siapa yang kita senangi agama dan akhlaknya maka kita jadikan ia sebagai teman, dan yang sebaliknya kita jauhi. Karena yang namanya tabiat akan saling meniru dan persahabatan itu akan berpengaruh baik ataupun buruk. (Tuhfatul Ahwadzi, kitab Az-Zuhd, bab 45)<br />
2 Sama dengan bangkai keledai dalam bau busuk dan kotornya. (&#8216;Aunul Ma&#8217;bud, kitab Al-Adab, bab Karahiyah An Yaqumar Rajulu min Majlisihi wala Yadzkurullah)</p>
<p>Sumber : http://www.asysyariah.com</p>
<br />Filed under: <a href='http://shirotholmustaqim.wordpress.com/category/hikmah/'>Hikmah</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/shirotholmustaqim.wordpress.com/2760/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/shirotholmustaqim.wordpress.com/2760/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/shirotholmustaqim.wordpress.com/2760/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/shirotholmustaqim.wordpress.com/2760/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/shirotholmustaqim.wordpress.com/2760/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/shirotholmustaqim.wordpress.com/2760/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/shirotholmustaqim.wordpress.com/2760/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/shirotholmustaqim.wordpress.com/2760/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/shirotholmustaqim.wordpress.com/2760/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/shirotholmustaqim.wordpress.com/2760/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/shirotholmustaqim.wordpress.com/2760/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/shirotholmustaqim.wordpress.com/2760/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/shirotholmustaqim.wordpress.com/2760/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/shirotholmustaqim.wordpress.com/2760/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shirotholmustaqim.wordpress.com&amp;blog=9822223&amp;post=2760&amp;subd=shirotholmustaqim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://shirotholmustaqim.wordpress.com/2012/01/26/hati-hati-dari-teman-yang-buruk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">shirotholmustaqim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jalan Menuju Kebahagiaan</title>
		<link>http://shirotholmustaqim.wordpress.com/2012/01/25/jalan-menuju-kebahagiaan/</link>
		<comments>http://shirotholmustaqim.wordpress.com/2012/01/25/jalan-menuju-kebahagiaan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Jan 2012 09:31:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>shirotholmustaqim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://shirotholmustaqim.wordpress.com/?p=2757</guid>
		<description><![CDATA[Penulis : Al Ustadzah Ummu Ishaq Zulfa Husein Al-Atsariyyah Banyak cara dilakukan manusia untuk meraih kebahagiaan. Sebagian mereka beranggapan bahwa kebahagiaan bisa diraih dengan banyaknya harta, kedudukan yang terpandang, dan popularitas yang pantang surut. Tak heran bila manusia berlomba-lomba mendapatkan itu semua, termasuk dengan menggunakan segala cara. Lantas apakah bila seseorang sudah menjadi kaya raya, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shirotholmustaqim.wordpress.com&amp;blog=9822223&amp;post=2757&amp;subd=shirotholmustaqim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis : Al Ustadzah Ummu Ishaq Zulfa Husein Al-Atsariyyah</p>
<p>Banyak cara dilakukan manusia untuk meraih kebahagiaan. Sebagian mereka beranggapan bahwa kebahagiaan bisa diraih dengan banyaknya harta, kedudukan yang terpandang, dan popularitas yang pantang surut. Tak heran bila manusia berlomba-lomba mendapatkan itu semua, termasuk dengan menggunakan segala cara. Lantas apakah bila seseorang sudah menjadi kaya raya, terpandang, dan terkenal otomatis menjadi orang yang selalu bahagia? Ternyata tidak! Kalau begitu, bagaimana cara meraih kebahagiaan yang benar?</p>
<p>Mungkin anda termasuk satu dari sekian orang yang tengah berupaya mencari cara untuk mencapai kebahagiaan dan ketenangan hidup. Sehingga anda sibuk membolak-balik majalah, tabloid, dan semisalnya, atau mendatangi orang yang berpengalaman untuk mencari kiat-kiat hidup bahagia. Mungkin kiatnya sudah anda dapatkan namun ketika dipraktekkan, kebahagiaan dan ketenangan itu tak kunjung datang. Sementara kebahagiaan dan ketenangan hidup merupakan salah satu kebutuhan penting, apalagi bila kehidupan selalu dibelit dan didera dengan permasalahan, kesedihan dan kegundah gulanaan, akan semakin terasalah butuhnya kebahagian, atau paling tidak ketenangan dan kelapangan hati ketika menghadapi segala masalah.</p>
<p>Sepertinya semua orang hampir sepakat bahwa bahagia tidak sepenuhnya diperoleh dengan harta dan kekayaan karena berapa banyak orang yang hidup bergelimang harta namun mereka tidak bahagia. Terkadang malah mereka belajar tentang kebahagiaan dari orang yang tidak berpunya.</p>
<p>Sebenarnya kebahagiaan hidup yang hakiki dan ketenangan hanya didapatkan dalam agama Islam yang mulia ini. Sehingga yang dapat hidup bahagia dalam arti yang sebenarnya hanyalah orang-orang yang berpegang teguh dengan agama ini. Ada beberapa cara yang diajarkan agama ini untuk dapat mencapai hidup bahagia, di antaranya disebutkan oleh Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa‘di rahimahullah dalam kitabnya Al-Wasailul Mufidah lil Hayatis Sa‘idah:<span id="more-2757"></span></p>
<p>1. Beriman dan beramal shalih. Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p>مَنْ عَمِلَ صَالِحاً مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَياَةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ ماَ كَانُوا يَعْمَلُوْنَ</p>
<p>“Siapa yang beramal shalih baik laki-laki ataupun perempuan dalam keadaan ia beriman, maka Kami akan memberikan kepadanya kehidupan yang baik dan Kami akan membalas mereka dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang mereka amalkan.” (An-Nahl: 97)</p>
<p>Al-Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah berkata:<br />
“Ini adalah janji dari Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala kepada orang yang beramal shalih yaitu amalan yang mengikuti Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dan disyariatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala, baik dari kalangan laki-laki maupun perempuan dari keturunan Adam, sementara hatinya beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berjanji untuk memberikan kehidupan yang baik baginya di dunia dan membalasnya di akhirat dengan pahala yang lebih baik daripada amalannya. Kehidupan yang baik mencakup seluruh kesenangan dari berbagai sisi. Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu &#8216;anhuma dan sekelompok ulama bahwa mereka menafsirkan kehidupan yang baik (dalam ayat ini) dengan rezki yang halal lagi baik (halalan thayyiban), sementara Ali bin Abi Thalib radhiallahu &#8216;anhu menafsirkannya dengan sifat qana’ah (merasa cukup), demikian pula yang dikatakan Ibnu ‘Abbas, ‘Ikrimah dan Wahb bin Munabbih. Berkata ‘Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu ‘Abbas: “Sesunggguhnya kehidupan yang baik itu adalah kebahagiaan.” Al-Hasan, Mujahid, dan Qatadah berkata: “Tidak ada bagi seorang pun kehidupan yang baik kecuali di surga.” Sedangkan Adh-Dhahhak mengatakan: “Ia adalah rizki yang halal dan ibadah di dunia serta beramal ketaatan dan lapang dada untuk taat.” Yang benar dalam hal ini adalah kehidupan yang baik mencakup seluruh perkara tersebut.” (Tafsir Ibnu Katsir, 4/421)</p>
<p>2. Banyak mengingat Allah (berdzikir) karena dengan dzikir kepada-Nya akan diperoleh kelapangan dan ketenangan, yang berarti akan hilang kegelisahan dan kegundah gulanaan. Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p>أَلاَ بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوْبِ</p>
<p>“Ketahuilah dengan mengingat (berdzikir) kepada Allah akan tenang hati itu.” (Ar-Ra’d: 28)</p>
<p>3. Bersandar kepada Allah dan tawakkal pada-Nya, yakin dan percaya kepada-Nya dan bersemangat untuk meraih keutamaan-Nya. Dengan cara seperti ini seorang hamba akan memiliki kekuatan jiwa dan tidak mudah putus asa serta gundah gulana. Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p>وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ فَهُوَ حَسْبُهُ</p>
<p>“Siapa yang bertawakkal kepada Allah maka Allah akan mencukupinya.” (Ath-Thalaq: 3)</p>
<p>4. Berbuat baik kepada makhluk dalam bentuk ucapan maupun perbuatan dengan ikhlas kepada Allah dan mengharapkan pahala-Nya. Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p>لاَ خَيْرَ فِي كَثِيْرٍ مِّنْ نَجْوَاهُمْ إِلاَّ مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوْفٍ أَوْ إِصْلاَحٍ بَيْنَ النَّاسِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ ابْتِغآءَ مَرْضَاةِ اللهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيْهِ أَجْرًا عَظِيْماً</p>
<p>“Tidak ada kebaikan dalam kebanyakan bisikan-bisikan mereka kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh ( manusia) untuk bersedekah atau berbuat kebaikan dan ketaatan atau memperbaiki hubungan di antara manusia. Barangsiapa melakukan hal itu karena mengharapkan keridhaan Allah, niscaya kelak Kami akan berikan padanya pahala yang besar.” (An-Nisa: 114)</p>
<p>Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa‘di rahimahullah berkata menafsirkan ayat di atas:<br />
“Yakni tidak ada kebaikan dalam kebanyakan pembicaraan di antara manusia dan tentunya jika tidak ada kebaikan maka bisa jadi yang ada adalah ucapan tak berfaedah seperti berlebih-lebihan dalam pembicaraan yang mubah atau bisa jadi kejelekan dan kemudlaratan semata-mata seperti ucapan yang diharamkan dengan seluruh jenisnya. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala mengecualikan: “Kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) untuk bersedekah,” dari harta ataupun ilmu (dengan mengajarkannya–pen) atau sesuatu yang bermanfaat, bahkan bisa jadi masuk pula di sini ibadah-ibadah seperti bertasbih, bertahmid, dan semisalnya sebagaimana Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya setiap tasbih adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah dan setiap tahlil adalah sedekah. Demikian pula amar ma‘ruf merupakan sedekah, nahi mungkar adalah sedekah dan dalam kemaluan salah seorang dari kalian ada sedekah (dengan menggauli istri)….” (Taisir Al-Karimir Rahman, hal. 202)</p>
<p>5. Menyibukkan diri dengan mempelajari ilmu yang bermanfaat.</p>
<p>6. Mencurahkan perhatian dengan apa yang sedang dihadapi disertai permintaan tolong kepada Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala, tanpa banyak berangan-angan (terhadap perkara dunia) untuk masa yang akan datang karena akan berbuah kegelisahan disebabkan takut/ khawatir menghadapi masa depan (di dunia) dan juga tanpa terus meratapi kegagalan dan kepahitan masa lalu karena apa yang telah berlalu tidak mungkin dapat dikembalikan dan diraih. Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>اِحْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلاَ تَعْجزْ، وَإِذَا أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلا تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَذَا كَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ: قَدَّرَ اللهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَل الشَّيْطَانِ</p>
<p>“Bersemangatlah untuk memperoleh apa yang bermanfaat bagimu dan minta tolonglah kepada Allah dan janganlah lemah. Bila menimpamu sesuatu (dari perkara yang tidak disukai) janganlah engkau berkata: “Seandainya aku melakukan ini niscaya akan begini dan begitu,” akan tetapi katakanlah: “Allah telah menetapkan dan apa yang Dia inginkan Dia akan lakukan,” karena sesungguhnya kalimat ‘seandainya’ itu membuka amalan syaithan.” (HR. Muslim)</p>
<p>7. Senantiasa mengingat dan menyebut nikmat yang telah diberikan Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala, baik nikmat lahir maupun batin. Dengan melakukan hal ini seorang hamba terdorong untuk selalu bersyukur kepada-Nya sampaipun saat ia ditimpa sakit atau berbagai musibah lainnya. Karena bila ia membandingkan kenikmatan yang Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala limpahkan padanya dengan musibah yang menimpanya sungguh musibah itu terlalu kecil. Bahkan musibah itu sendiri bila dihadapi dengan sabar dan ridha merupakan kenikmatan karena dengannya dosa-dosa akan diampuni dan pahala yang besar pun menanti.</p>
<p>8. Selalu melihat orang yang di bawah dari sisi kehidupan dunia misalnya dalam masalah rezki karena dengan begitu kita tidak akan meremehkan nikmat Allah yang diberikan-Nya kepada kita. Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ</p>
<p>“Lihatlah orang yang di bawah kalian dan jangan melihat orang yang di atas kalian karena dengan (melihat ke bawah) lebih pantas untuk kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang dilimpahkan-Nya kepada kalian.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)</p>
<p>9. Ketika melakukan sesuatu untuk manusia, jangan mengharapkan ucapan terima kasih ataupun balasan dari mereka namun berharaplah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala. Sehingga engkau tidak peduli mereka mau berterima kasih atau tidak dengan apa yang telah engkau lakukan, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala tentang ucapan hamba-hamba-Nya yang khusus:</p>
<p>إِنَّماَ نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللهِ لاَ نُرِيْدُ مِنْكُمْ جَزآءً وَلاَ شُكُوْراً</p>
<p>“Kami memberi makan kepada kalian hanyalah karena mengharap wajah Allah, kami tidak menginginkan dari kalian balasan dan tidak pula ucapan terima kasih.” (Al-Insan: 9)</p>
<p>Demikian beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mencapai ketenangan dan kebahagiaan hidup. Sebagai akhir teruntai doa kepada Rabbul ‘Izzah :</p>
<p>اللّهُمَّ أَصْلِحْ لِي دِيْنِي الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِي وَأَصْلِحْ لِي دُنْيَايَ الَّتِي فِيْهَا مَعَاشِي، وَأَصْلِحْ لِي آخِرَتِي الَّتِي إِلَيْهَا مَعَادِيْ وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِي فِي كُلَِّ خَيْرٍ وَالْمَوْتَ رَاحَةً لِي مِنْ كُلِّ شَرٍّ</p>
<p>“Ya Allah, perbaikilah bagiku agamaku yang agama ini merupakan penjagaan perkaraku, dan perbaikilah bagiku duniaku yang aku hidup di dalamnya, dan perbaikilah bagiku akhiratku yang merupakan tempat kembaliku, dan jadikanlah hidup ini sebagai tambahan bagiku dalam seluruh kebaikan, dan jadikanlah kematian sebagai peristirahatan bagiku dari seluruh kejelekan.” (HR. Muslim)</p>
<p>Wallahu ta‘ala a‘lam bish-shawab.</p>
<p>Sumber : http://www.asysyariah.com</p>
<br />Filed under: <a href='http://shirotholmustaqim.wordpress.com/category/hikmah/'>Hikmah</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/shirotholmustaqim.wordpress.com/2757/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/shirotholmustaqim.wordpress.com/2757/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/shirotholmustaqim.wordpress.com/2757/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/shirotholmustaqim.wordpress.com/2757/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/shirotholmustaqim.wordpress.com/2757/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/shirotholmustaqim.wordpress.com/2757/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/shirotholmustaqim.wordpress.com/2757/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/shirotholmustaqim.wordpress.com/2757/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/shirotholmustaqim.wordpress.com/2757/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/shirotholmustaqim.wordpress.com/2757/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/shirotholmustaqim.wordpress.com/2757/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/shirotholmustaqim.wordpress.com/2757/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/shirotholmustaqim.wordpress.com/2757/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/shirotholmustaqim.wordpress.com/2757/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shirotholmustaqim.wordpress.com&amp;blog=9822223&amp;post=2757&amp;subd=shirotholmustaqim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://shirotholmustaqim.wordpress.com/2012/01/25/jalan-menuju-kebahagiaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">shirotholmustaqim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kemiskinan yang Kalian Takutkan?</title>
		<link>http://shirotholmustaqim.wordpress.com/2012/01/23/kemiskinan-yang-kalian-takutkan/</link>
		<comments>http://shirotholmustaqim.wordpress.com/2012/01/23/kemiskinan-yang-kalian-takutkan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Jan 2012 09:14:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>shirotholmustaqim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://shirotholmustaqim.wordpress.com/?p=2755</guid>
		<description><![CDATA[Kebanyakan manusia takut terjatuh ke dalam kemiskinan. Mereka berusaha dengan berbagai cara untuk menghindarinya. Mereka begitu sedih dan berduka cita ketika mengalami kekurangan harta. Bahkan sampai-sampai di antara mereka ada yang menukar agamanya hanya untuk mendapatkan sebagian harta benda duniawi. Seperti datang ke dukun, paranormal dan yang sejenisnya untuk meminta jimat, jampi-jampi dan sejenisnya kepada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shirotholmustaqim.wordpress.com&amp;blog=9822223&amp;post=2755&amp;subd=shirotholmustaqim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kebanyakan manusia takut terjatuh ke dalam kemiskinan. Mereka berusaha dengan berbagai cara untuk menghindarinya. Mereka begitu sedih dan berduka cita ketika mengalami kekurangan harta. Bahkan sampai-sampai di antara mereka ada yang menukar agamanya hanya untuk mendapatkan sebagian harta benda duniawi. Seperti datang ke dukun, paranormal dan yang sejenisnya untuk meminta jimat, jampi-jampi dan sejenisnya kepada mereka. Atau memelihara/meminta bantuan makhluk halus (baca:jin) dalam rangka mendapat kekayaan. Dengan ini mereka telah menjual aqidah dan agamanya dengan kesenangan duniawi yang rendah dan sesaat. Nas`alullaahas salaamah wal &#8216;aafiyah.</p>
<p>Benarkah kemiskinan yang perlu kita takutkan? Benarkah kemiskinan yang dikhawatirkan oleh Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam atas ummatnya?</p>
<p>عَنْ عَمْرو بْنِ عَوْفٍ الأَنْصَارِيِّ، أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ بَعَثَ أَبَا عُبَيْدَةَ بْنَ الْجَرَّاحِ إِلَى الْبَحْرَيْنِ يَأْتِي بِجِزْيَتِهَا، فَقَدِمَ بِمَالٍ مِنَ الْبَحْرَيْنِ، فَسَمِعَتِ الأَنْصَارُ بِقُدُوْمِ أَبِي عُبَيْدَةَ، فَوَافَوْا صَلاَةَ الْفَجْرِ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ، فَلَمَّا صَلَّى رَسُوْلُ اللهِ، اِنْصَرَفَ، فَتَعَرَّضُوْا لَهُ، فَتَبَسَّمَ رَسُوْلُ اللهِ حِيْنَ رَآهُمْ، ثُمَّ قَالَ: ((أَظُنُّكُمْ سَمِعْتُمْ أَنَّ أَبَا عُبَيْدَةَ قَدِمَ بِشَيْءٍ مِنَ الْبَحْرَيْنِ)) فَقَالُوْا: أَجَل يَا رَسُوْلَ اللهِ، فَقَالَ: ((أَبْشِرُوْا وَأَمِّلُوْا مَا يَسُرُّكُمْ، فَوَاللهِ مَا الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ وَلَكِنِّي أَخْشَى أَنْ تُبْسَطَ الدُّنْيَا عَلَيْكُمْ كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، فَتَنَافَسُوْهَا كَمَا تَنَافَسُوْهَا، فَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ))</p>
<p>Dari &#8216;Amr bin &#8216;Auf Al-Anshariy radhiyallahu &#8216;anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam mengutus Abu &#8216;Ubaidah Ibnul Jarrah radhiyallahu &#8216;anhu ke negeri Bahrain untuk mengambil upeti dari penduduknya (karena kebanyakan mereka adalah Majusi ?pent). Lalu dia kembali dari Bahrain dengan membawa harta. Maka orang-orang Anshar mendengar kedatangan Abu &#8216;Ubaidah. Lalu mereka bersegera menuju masjid untuk melaksanakan shalat shubuh bersama Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Ketika Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam selesai shalat beliau pun berpaling (menghadap ke arah mereka). Lalu mereka menampakkan keinginannya terhadap apa yang dibawa Abu &#8216;Ubaidah dalam keadaan mereka butuh kepadanya. Maka Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam pun tersenyum ketika melihat mereka.</p>
<p>Kemudian beliau shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, &#8220;Aku menduga kalian telah mendengar bahwa Abu &#8216;Ubaidah telah datang dengan membawa sesuatu (harta) dari Bahrain.&#8221; Maka mereka menjawab, &#8220;Tentu Ya Rasulullah.&#8221; Lalu beliau shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, &#8220;Bergembiralah dan harapkanlah apa-apa yang akan menyenangkan kalian. Maka demi Allah! Bukan kemiskinan yang aku khawatirkan atas kalian. Akan tetapi aku khawatir akan dibentangkan dunia atas kalian sebagaimana telah dibentangkan atas orang-orang sebelum kalian. Lalu kalian pun berlomba-lomba padanya sebagaimana mereka berlomba-lomba padanya. Kemudian dunia itu akan menghancurkan kalian sebagaimana telah menghancurkan mereka.&#8221; (HR. Al-Bukhariy no.3158 dan Muslim no.2961)</p>
<p>Jangan Takut dengan Kemiskinan!<span id="more-2755"></span></p>
<p>Ketika Abu &#8216;Ubaidah kembali dengan membawa harta dari negeri Bahrain, terdengarlah hal ini oleh orang-orang Anshar. Lalu mereka pun bersegera mendatangi Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam untuk melaksanakan shalat shubuh. Ketika Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam selesai shalat, mereka menampakkan keinginannya terhadap apa yang dibawa Abu &#8216;Ubaidah dalam keadaan mereka butuh kepadanya. Maka Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam pun tersenyum yakni tertawa tanpa mengeluarkan suara. Beliau shallallahu &#8216;alaihi wa sallam tersenyum karena mereka datang dalam keadaan mengharapkan harta.<br />
Lalu beliau shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, &#8220;Aku menduga kalian telah mendengar bahwa Abu &#8216;Ubaidah telah datang dengan membawa sesuatu (harta) dari Bahrain.&#8221; Maka mereka menjawab, &#8220;Tentu Ya Rasulullah.&#8221; Yakni kami telah mendengarnya dan kami sengaja datang untuk mendapatkan bagian kami.</p>
<p>Kemudian beliau shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, &#8220;Bergembiralah dan harapkanlah apa-apa yang akan menyenangkan kalian. Maka demi Allah! Bukan kemiskinan yang aku khawatirkan atas kalian.&#8221;<br />
Berarti kemiskinan bukanlah yang dikhawatirkan oleh Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam atas kita.</p>
<p>Bahkan kadang-kadang kemiskinan bisa menjadi kebaikan bagi seseorang ketika dia bersabar dan tetap taat kepada Allah ? dalam kemiskinannya tersebut.<br />
S<br />
abda Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, &#8220;Bukan kemiskinan yang aku khawatirkan atas kalian.&#8221; Yakni aku tidak mengkhawatirkan kemiskinan atas kalian.</p>
<p>Karena sesungguhnya orang yang miskin secara umum lebih dekat kepada kebenaran daripada orang yang kaya.</p>
<p>Perhatikanlah oleh kalian keadaan para rasul! Siapakah yang mendustakan mereka? Yang mendustakan mereka adalah para pembesar kaumnya, orang-orang yang paling jeleknya dan orang-orang kaya. Dan sebaliknya, kebanyakan yang mengikuti mereka adalah orang-orang miskin. Sampai pun Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, kebanyakan yang mengikuti beliau adalah orang-orang miskin.<br />
Maka kemiskinan bukanlah sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Jangan sampai kita takut miskin atau tidak bisa makan. Jangan sampai selalu terbetik dalam hati kita, &#8220;Besok kita makan apa?&#8221; Jangan khawatir! Yang penting kita berusaha mencari rizki dengan cara yang halal, berdo&#8217;a dan bertawakkal kepada Allah. Karena sesungguhnya Allah telah menjamin rizki seluruh makhluk-Nya.</p>
<p>وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأَرْضِ إِلاَّ عَلَى اللهِ رِزْقُهَا</p>
<p>&#8220;Dan tidak ada suatu yang melata pun (yakni manusia dan hewan) di muka bumi melainkan Allah-lah yang memberi rizkinya.&#8221; (Huud:6)<br />
Bahkan sesuatu yang harus kita khawatirkan adalah ketika dibentangkan dunia kepada kita. Yakni ketika kita diuji dengan banyaknya harta benda. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, &#8220;Akan tetapi aku khawatir akan dibentangkan dunia atas kalian sebagaimana telah dibentangkan atas orang-orang sebelum kalian. Lalu kalian pun berlomba-lomba padanya sebagaimana mereka berlomba-lomba padanya. Kemudian dunia itu akan menghancurkan kalian sebagaimana telah menghancurkan mereka.&#8221;</p>
<p>Menghancurkan kalian artinya menghilangkan agama kalian yakni dikarenakan dunia, kalian menjadi lalai dan meninggalkan ketaatan kepada Allah.</p>
<p>Bahayanya Dunia bagi Seorang Muslim<br />
Dunia sangat berbahaya bagi seorang muslim. Inilah kenyataannya. Lihatlah keadaan orang-orang di sekitar kita. Ketika mereka lebih dekat kepada kemiskinan (yakni dalam keadaan miskin), mereka lebih bertakwa kepada Allah dan lebih khusyu&#8217;. Rajin shalat berjama&#8217;ah di masjid, menghadiri majelis &#8216;ilmu dan lain-lain. Namun, ketika banyak hartanya, mereka semakin lalai dan semakin berpaling dari jalan Allah. Dan muncullah sikap melampaui batas dari mereka.<br />
Akhirnya, sekarang manusia menjadi orang-orang yang selalu merindukan keindahan dunia dan perhiasannya: mobil, rumah, tempat tidur, pakaian dan lain-lainnya. Dengan ini semuanya, mereka saling membanggakan diri antara satu dengan lainnya. Dan mereka berpaling dari amalan-amalan yang akan memberikan manfaat kepadanya di akhirat.<br />
Jadilah majalah-majalah, koran-koran dan media lainnya tidaklah membicarakan kecuali tentang kemegahan dunia dan apa-apa yang berkaitan dengannya. Dan mereka berpaling dari akhirat, sehingga rusaklah manusia kecuali orang-orang yang Allah kehendaki.<br />
Maka kesimpulannya, bahwasanya dunia ketika dibukakan ?kita memohon kepada Allah agar menyelamatkan kami dan kalian dari kejelekannya- maka dunia itu akan membawa kejelekan dan akan menjadikan manusia melampaui batas.</p>
<p>كَلاَّ إِنَّ الإِنْسَانَ لَيَطْغَى. أَنْ رَآهُ اسْتَغْنَى</p>
<p>&#8220;Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup.&#8221; (Al-&#8217;Alaq:6-7)<br />
Dan sungguh Fir&#8217;aun telah berkata kepada kaumnya,</p>
<p>يَاقَوْمِ أَلَيْسَ لِي مُلْكُ مِصْرَ وَهَذِهِ الأَنْهَارُ تَجْرِي مِنْ تَحْتِي أَفَلاَ تُبْصِرُونَ</p>
<p>&#8220;Hai kaumku, bukankah kerajaan Mesir ini kepunyaanku dan (bukankah) sungai-sungai ini mengalir di bawahku; maka apakah kalian tidak melihat(nya)?&#8221; (Az-Zukhruf:51)</p>
<p>Fir&#8217;aun berbangga dengan dunia. Oleh karena itulah, maka dunia adalah sesuatu yang sangat berbahaya.<br />
Hadits di atas mirip dengan hadits berikut:</p>
<p>عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ: جَلَسَ رَسُوْلُ اللهِ عَلَى الْمِنْبَرِ، وَجَلَسْنَا حَوْلَهُ، فَقَالَ: ((إِنَّ مِمَّا أَخَافُ عَلَيْكُمْ مِنْ بَعْدِي مَا يُفْتَحُ عَلَيْكُمْ مِنْ زَهْرَةِ الدُّنْيَا وَزِيْنَتِهَا))</p>
<p>Dari Abu Sa&#8217;id Al-Khudriy radhiyallahu &#8216;anhu dia berkata, &#8220;Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam duduk di atas mimbar dan kami pun duduk di sekitar beliau. Lalu beliau shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, &#8220;Sesungguhnya di antara yang paling aku takutkan atas kalian sepeninggalku adalah ketika dibukakan atas kalian keindahan dunia dan perhiasannya.&#8221; (HR. Al-Bukhariy no.1465 dan Muslim no.1052)</p>
<p>Dunia Itu Manis dan Hijau<br />
Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam telah menjelaskan tentang keadaan dunia sekaligus memperingatkan ummatnya dari fitnahnya.</p>
<p>عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ قَالَ: ((إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ وَإِنَّ اللهَ تَعَالَى مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيْهَا، فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُوْنَ، فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ))</p>
<p>Dari Abu Sa&#8217;id Al-Khudriy radhiyallahu &#8216;anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, &#8220;Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau. Dan sesungguhnya Allah subhanahu wa ta&#8217;ala menjadikan kalian pemimpin padanya. Lalu Dia akan melihat bagaimana amalan kalian. Maka takutlah kalian dari fitnahnya dunia dan takutlah kalian dari fitnahnya wanita.&#8221; (HR. Muslim no.2742)</p>
<p>Sabda beliau shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, &#8220;Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau.&#8221; Yakni manis rasanya dan hijau pemandangannya, memikat dan menggoda. Karena sesuatu itu apabila keadaannya manis dan sedap dipandang mata, maka dia akan menggoda manusia. Demikian juga dunia, dia manis dan hijau sehingga akan menggoda manusia.<br />
Akan tetapi beliau shallallahu &#8216;alaihi wa sallam juga menyatakan,</p>
<p>&#8220;Dan sesungguhnya Allah subhanahu wa ta&#8217;ala menjadikan kalian pemimpin padanya.&#8221; Yakni Dia menjadikan kalian pemimpin-pemimpin padanya, sebagian kalian menggantikan sebagian yang lainnya dan sebagian kalian mewarisi sebagian yang lainnya.</p>
<p>&#8220;Lalu Dia akan melihat bagaimana amalan kalian.&#8221; Apakah kalian mengutamakan dunia atau akhirat? Karena inilah beliau shallallahu &#8216;alaihi wa sallam memperingatkan, &#8220;Maka takutlah kalian dari fitnahnya dunia dan takutlah kalian dari fitnahnya wanita.&#8221;</p>
<p>Harta dan Kekayaan yang Bermanfaat<br />
Akan tetapi apabila Allah memberikan kekayaan kepada seseorang, lalu kekayaannya tersebut membantunya untuk taat kepada Allah, dia infakkan hartanya di jalan kebenaran dan di jalan Allah, maka jadilah dunia itu sebagai kebaikan.</p>
<p>Kita semua tidak bisa lepas dari dunia secara keseluruhan. Kita butuh tempat tinggal/rumah, kendaraan, pakaian dan lain sebagainya. Bahkan kalau benda-benda tadi kita gunakan untuk membantu ketaatan kepada Allah niscaya kita mendapatkan pahala. Sebagai contohnya adalah kendaraan. Kita gunakan untuk menghadiri majelis &#8216;ilmu atau kegiatan lainnya yang bermanfaat. Bahkan kita pun bisa mengajak teman-teman ikut bersama kita. Dengan menggunakan kendaraan sendiri kita bisa menghindari kemaksiatan seperti ikhtilath (campur baur antara laki-laki dan wanita yang bukan mahram) dan lainnya.</p>
<p>Akan tetapi jangan sampai kendaraan ataupun harta benda duniawi menjadikan kita bangga, sombong sehingga akhirnya merendahkan dan meremehkan orang lain. Jadikan harta tersebut sebagai alat bantu untuk taat kepada Allah yang dengannya kita bisa menjadi orang yang bersyukur.</p>
<p>Bahkan sebagian &#8216;ulama mewajibkan untuk memiliki kendaraan pribadi. Dengan kendaraan tersebut seorang muslim akan terhindar dari ikhtilath dan kemaksiatan lainnya. Sedangkan menghindari maksiat adalah wajib. Sementara di dalam kaidah ushul fiqh disebutkan, &#8220;Suatu kewajiban tidak akan sempurna kecuali dengan sesuatu maka sesuatu itu adalah wajib.&#8221;</p>
<p>Akan tetapi tentunya disesuaikan dengan kemampuan masing-masing. Jangan sampai karena ingin mendapatkan kendaraan, dia mati-matian mencari harta siang dan malam. Yang terbenak dalam otaknya adalah uang, uang dan uang. Sehingga lupa berdzikir kepada Allah, mempelajari agamanya, menghadiri majelis ilmu, shalat berjama&#8217;ah dan ketaatan lainnya.<br />
Ingatlah selalu firman Allah subhanahu wa ta&#8217;ala,</p>
<p>فَاتَّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ</p>
<p>&#8220;Maka bertakwalah kalian kepada Allah menurut kesanggupan kalian.&#8221; (At-Taghaabun:16)</p>
<p>لاَ يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا</p>
<p>&#8220;Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.&#8221; (Al-Baqarah:286)</p>
<p>Oleh karena itulah, keadaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah dan pada keridhaan-Nya seperti kedudukan orang &#8216;alim yang telah Allah berikan hikmah dan ilmu kepadanya, yang mengajarkan ilmunya kepada manusia.</p>
<p>Maka di sana ada perbedaan antara orang yang rakus/ambisi terhadap dunia dan berpaling dari akhirat dengan orang yang Allah berikan kekayaan yang digunakannya untuk mendapatkan kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat dan dia infakkan di jalan Allah.</p>
<p>رَبَّنَا ءَاتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ</p>
<p>&#8220;Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.&#8221; (Al-Baqarah:201)<br />
Semoga Allah subhanahu wa ta&#8217;ala selalu membimbing kita untuk mengamalkan apa-apa yang dicintai dan diridhai-Nya serta memperbaiki urusan-urusan kita. Aamiin. Wallaahu A&#8217;lam.</p>
<p>Maraaji&#8217;: Syarh Riyaadhish Shaalihiin 2/186-189, Maktabah Ash-Shafaa; dan Bahjatun Naazhiriin 1/528, Daar Ibnil Jauziy.</p>
<p>Sumber : Bulletin Al Wala Wal Bara</p>
<br />Filed under: <a href='http://shirotholmustaqim.wordpress.com/category/hikmah/'>Hikmah</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/shirotholmustaqim.wordpress.com/2755/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/shirotholmustaqim.wordpress.com/2755/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/shirotholmustaqim.wordpress.com/2755/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/shirotholmustaqim.wordpress.com/2755/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/shirotholmustaqim.wordpress.com/2755/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/shirotholmustaqim.wordpress.com/2755/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/shirotholmustaqim.wordpress.com/2755/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/shirotholmustaqim.wordpress.com/2755/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/shirotholmustaqim.wordpress.com/2755/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/shirotholmustaqim.wordpress.com/2755/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/shirotholmustaqim.wordpress.com/2755/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/shirotholmustaqim.wordpress.com/2755/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/shirotholmustaqim.wordpress.com/2755/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/shirotholmustaqim.wordpress.com/2755/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shirotholmustaqim.wordpress.com&amp;blog=9822223&amp;post=2755&amp;subd=shirotholmustaqim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://shirotholmustaqim.wordpress.com/2012/01/23/kemiskinan-yang-kalian-takutkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">shirotholmustaqim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kejahilan, Penyakit Kronis yang Tercela</title>
		<link>http://shirotholmustaqim.wordpress.com/2012/01/14/kejahilan-penyakit-kronis-yang-tercela/</link>
		<comments>http://shirotholmustaqim.wordpress.com/2012/01/14/kejahilan-penyakit-kronis-yang-tercela/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Jan 2012 04:43:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>shirotholmustaqim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://shirotholmustaqim.wordpress.com/?p=2750</guid>
		<description><![CDATA[Penulis : Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman Mungkin akan muncul pertanyaan, apakah yang dimaksud dengan penyakit kronis dalam pembahasan akhlak kali ini? Sudah mafhum, dalam tinjauan medis, penyakit kronis adalah penyakit menahun yang tak kunjung sembuh atau bahkan sulit tertolong lagi melainkan hanya menunggu detik-detik ajal datang menjemput, kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki yang lain. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shirotholmustaqim.wordpress.com&amp;blog=9822223&amp;post=2750&amp;subd=shirotholmustaqim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis : Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman</p>
<p>Mungkin akan muncul pertanyaan, apakah yang dimaksud dengan penyakit kronis dalam pembahasan akhlak kali ini? Sudah mafhum, dalam tinjauan medis, penyakit kronis adalah penyakit menahun yang tak kunjung sembuh atau bahkan sulit tertolong lagi melainkan hanya menunggu detik-detik ajal datang menjemput, kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki yang lain.</p>
<p>Pada taraf ini, setiap orang atau keluarga yang sakit, umumnya tidak akan berpikir panjang, apapun akan dikorbankan menuju kesembuhan. Namun penyakit kronis apapun, tetaplah suatu penyakit yang masih bisa dideteksi ahlinya.<br />
Tentu kita akan bertanya-bertanya pada diri kita, penyakit kronis apakah yang mengancam keselamatan seluruh jenis manusia namun susah sekali dideteksi itu? Terlebih, keselamatan bila terbebaskan dari penyakit ini bukan tanggung-tanggung yaitu keselamatan dunia dan akhirat?</p>
<p>Namun demikianlah, tabiat manusia menyukai sesuatu yang bersifat menguntungkan sementara dan keselamatan yang bersifat semu serta melupakan yang hakiki. Itulah sifat kelalaian dan lupa yang selalu melekat pada setiap insani kecuali yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.<span id="more-2750"></span></p>
<p>إِنَّ الَّذِيْنَ لاَ يَرْجُوْنَ لِقَاءَنَا وَرَضُوْا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاطْمَأَنُّوْا بِهَا وَالَّذِيْنَ هُمْ عَنْ آيَاتِنَا غَافِلُوْنَ</p>
<p>“Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat kami.” (Yunus: 7)</p>
<p>فَالْيَوْمَ نُنَجِّيْكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُوْنَ لِمَنْ خَلْفَكَ آيَةً وَإِنَّ كَثِيْرًا مِنَ النَّاسِ عَنْ آيَاتِنَا لَغَافِلُوْنَ</p>
<p>“Maka pada hari ini kami selamatkan badanmu, supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan kami.” (Yunus: 92)</p>
<p>وَلاَ تَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ نَسُوا اللهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُوْنَ</p>
<p>“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (Al-Hasyr: 19)</p>
<p>يَعْلَمُوْنَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ اْلآخِرَةِ هُمْ غَافِلُوْنَ</p>
<p>“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (Ar-Rum: 7)</p>
<p>Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengajarkan kepada kita sebuah sikap dalam bergaul bersama mereka sebagaimana dalam firman-Nya:</p>
<p>فَأَعْرِضْ عَنْ مَنْ تَوَلَّى عَنْ ذِكْرِنَا وَلَمْ يُرِدْ إِلاَّ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا. ذَلِكَ مَبْلَغُهُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ</p>
<p>“Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari orang yang berpaling dari peringatan kami, dan tidak menginginkan kecuali kehidupan duniawi. Itulah sejauh-jauh pengetahuan mereka. Sesungguhnya Rabbmu, Dialah yang paling mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia pulalah yang paling mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.” (An-Najm: 29-30)</p>
<p>Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullahu di dalam tafsirnya menjelaskan:<br />
“Mereka berilmu tentang urusan dunia mereka namun jahil tentang urusan akhirat mereka. Al-Farra` berkata: ‘Allah merendahkan dan menghinakan mereka. Itulah batas akal mereka, mereka mengutamakan kehidupan dunia dari kehidupan akhirat’.”</p>
<p>Ibnu Katsir rahimahullahu menyatakan:<br />
“Mencari dunia dan berusaha untuknya merupakan puncak tujuan pencarian mereka. Telah diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad rahimahullahu dari Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: ‘Dunia merupakan negeri orang yang tidak memiliki negeri dan harta bagi orang yang tidak memilikinya serta yang akan berusaha mengumpulkannya adalah orang yang tidak memiliki akal’.”</p>
<p>Penyakit kronis dalam pembahasan kali ini amat sangat terkait dengan agama dan keselamatan seseorang di dunia dan di akhirat. Sekali lagi, tahukah anda penyakit kronis apakah itu?</p>
<p>Itulah penyakit kejahilan (kebodohan), yang merupakan akhlak tercela serta akhlak orang-orang yang hina.</p>
<p>Kejahilan adalah Penyakit yang Berbahaya<br />
Sedikit sekali orang mengetahui bahwa kejahilan adalah sebuah penyakit yang lebih berbahaya dari segala penyakit kronis. Bahkan bukan sesuatu yang aneh lagi, orang yang dijangkiti penyakit ini tidak merasa kalau dirinya sakit. Justru yang terjadi adalah mengklaim diri sebagai orang yang sehat segala-galanya. Seseorang yang tertimpa penyakit kronis hanya merasakannya di dunia. Namun penyakit kejahilan akan dirasakan pedihnya di dunia dan di akhirat.</p>
<p>وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيْرًا مِنَ الْجِنِّ وَاْلإِنْسِ لَهُمْ قُلُوْبٌ لاَ يَفْقَهُوْنَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لاَ يُبْصِرُوْنَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لاَ يَسْمَعُوْنَ بِهَا أُولَئِكَ كَاْلأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُوْنَ</p>
<p>“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah), dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu bagaikan binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (Al-A’raf: 179)</p>
<p>Dengan kejahilan, seseorang akan terjatuh dalam perbuatan dosa yang tidak diampuni oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, perbuatan kezhaliman yang paling besar, yang akan mengharamkan masuk ke dalam surga serta mengekalkan di neraka. Perbuatan yang akan menghalalkan darah, kehormatan, dan harta pelakunya. Itulah perbuatan menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala alias syirik.</p>
<p>Al-Imam Al-Albani rahimahullahu ketika menjelaskan tentang menggantung jimat menyatakan:<br />
“Dan terus berkesinambungan kesesatan ini, tersebar baik di tengah orang-orang yang tinggal di pegunungan, para petani, maupun sebagian orang yang tinggal di perkotaan. Termasuk dalam kategori jimat adalah kharazat yang diletakkan oleh para sopir di bagian depan mobil mereka yang digantung di atas spion (tengah). Sebagian mereka menggantung sandal yang telah usang di depan atau di belakang mobil mereka. Yang lain menggantungkan sepatu kuda di depan rumah atau toko. Semuanya mereka jadikan sebagai tameng dari kejahatan mata yang jahat –menurut sangkaan mereka– dan selainnya (dari bentuk-bentuk kesyirikan). Semuanya telah tersebar dan menjadi musibah besar, disebabkan kejahilan tentang tauhid dan apa yang dinafikannya berupa segala bentuk kesyirikan dan berhalaisme. Yang tidaklah para rasul diutus dan kitab-kitab diturunkan melainkan untuk membatalkan segala kesyirikan itu serta menghakiminya. Kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sajalah kita mengadu akan kejahilan kaum muslimin dan jauhnya mereka dari agama mereka.” (Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah 1/890, no. 492)</p>
<p>Kejahilan juga akan menjatuhkan ke dalam amalan yang paling disukai iblis setelah syirik, yakni perbuatan mengada-ada dalam syariat alias bid’ah, serta segala bentuk penyimpangan syariat lainnya. Hingga seseorang akan menolak kebenaran yang datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya.</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu menyatakan:<br />
“Tidaklah engkau menemukan seseorang terjatuh dalam kebid’ahan melainkan karena kurangnya mereka dalam berpegang dengan As-Sunnah, baik ilmu maupun amal. Dan barangsiapa berilmu tentang As-Sunnah lalu mengikutinya, maka tidak terdapat pendorong pada dirinya untuk melakukan kebid’ahan. Maka orang yang jahil tentang As-Sunnah akan terjatuh pada kebid’ahan.” (Syarah Hadits Laa Yazni Az-Zani hal. 35)</p>
<p>Demikianlah orang jahil. Kejahilannya akan menjadi malapetaka dahsyat yang menghampirinya. Kesulitan hidup menjadi terbuka di hadapannya. Kesempurnaan manusia akan menghilang di benaknya sehingga segala gerak-geriknya dikendalikan oleh hawa nafsu. Sungguh betapa malang nasib hidupnya.</p>
<p>إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللهِ لِلَّذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ السُّوْءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوْبُوْنَ مِنْ قَرِيْبٍ فَأُولَئِكَ يَتُوْبُ اللهُ عَلَيْهِمْ وَكَانَ اللهُ عَلِيْمًا حَكِيْمًا</p>
<p>“Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera. Maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (An-Nisa`: 17)</p>
<p>Ibnu Katsir rahimahullahu menjelaskan: “Mujahid dan selain beliau mengatakan:<br />
‘Barangsiapa bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala baik karena tersalah atau sengaja maka dia adalah orang jahil, hingga dia mencabut diri dari dosa tersebut’.”</p>
<p>Qatadah rahimahullahu berkata dari Abul ‘Aliyah bahwa dia bercerita bahwa seluruh shahabat nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam berkata: ‘Segala dosa yang dilakukan oleh seorang hamba adalah karena kejahilan.’</p>
<p>Abdurrazzaq rahimahullahu berkata: Ma’mar menyampaikan kepada kami dari Qatadah, dia berkata:<br />
‘Para shahabat Rasulullah radhiyallahu &#8216;anhum telah bersepakat bahwa segala sesuatu yang Allah Subhanahu wa Ta’ala dimaksiati dengannya, maka itu dilandasi kejahilan baik disengaja ataupun tidak.’</p>
<p>Abu Shalih rahimahullahu meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu bahwa dia berkata:<br />
‘Barangsiapa jahil tentang sesuatu maka dia akan melakukan kejahatan.’ (Tafsir Ibnu Katsir dengan ringkas 1/572)</p>
<p>Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata:<br />
“Sesungguhnya kesempurnaan hidup manusia berkisar pada dua poros, yaitu mengetahui kebenaran dari kebatilan dan mengutamakan kebenaran dari selainnya. Tidaklah terjadi perbedaan kedudukan seorang hamba di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala melainkan perbedaan mereka dalam dua fondasi ini. Dengan kedua hal inilah, Allah Subhanahu wa Ta’ala memuji para nabi-Nya di dalam sebuah firman-Nya:</p>
<p>وَاذْكُرْ عِبَادَنَا إبْرَاهِيْمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوْبَ أُولِي اْلأَيْدِي وَاْلأَبْصَارِ</p>
<p>“Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq, dan Ya&#8217;qub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi.” (Shad: 45)</p>
<p>أُولِي الْأَيْدِي artinya kekuatan dalam menerapkan kebenaran. الْأَبْصَارِ artinya ilmu tentang agama. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyifati mereka dengan kesempurnaan pengetahuan mereka tentang kebenaran dan kesempurnaan penerapan mereka dengannya.” (Al-Jawabul Kafi hal. 139)</p>
<p>Al-Imam Ahmad rahimahullahu berkata:<br />
“Sesungguhnya seseorang melakukan penyelisihan karena sedikitnya pengetahuan mereka tentang segala apa yang datang dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (I’lamul Muwaqqi’in, 1/44)</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu berkata:<br />
“Kebenaran banyak hilang di tengah orang-orang yang jahil lagi ummi (tidak pandai membaca dan menulis).” (Majmu’ Fatawa 25/129)</p>
<p>Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata:<br />
“Sebab tertolaknya kebenaran banyak sekali. Di antaranya adalah kejahilan, dan inilah sebab yang mendominasi pada kebanyakan orang. Karena barangsiapa jahil terhadap sesuatu niscaya dia akan menentangnya dan menentang pemeluknya.” (Hidayatul Hayara Fi Ajwibati Al-Yahudi wan Nashara hal. 18)</p>
<p>Setelah ini, tidakkah anda menganggap bahwa kejahilan adalah sebuah penyakit yang kronis dan berbahaya? Tidakkah cukup sebagai bukti bahwa terjatuhnya seseorang pada kesyirikan, kekufuran, kemaksiatan, dan segala bentuk penyelisihan terhadap syariat merupakah akibat dari kejahilan? Bahkan sekte Rafidhah, yang dicetuskan oleh seorang Yahudi yang pura-pura masuk Islam di masa pemerintahan ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, Abdullah bin Saba` Al-Yahudi, di mana mazhab yang diusungnya adalah mazhab paling jahat dan paling sesat yang muncul dan bisa berkembang pesat di tengah kaum muslimin, juga disebabkan kejahilan. Hal ini telah disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu: “Sesungguhnya yang mencetuskan mazhab Rafidhah adalah seorang zindiq (munafik), mulhid (menyeleweng), musuh Islam dan kaum muslimin. Dan dia, Abdullah bin Saba`, tidak termasuk ahli bid’ah1 yang melakukan penakwilan sebagaimana golongan Khawarij dan Qadariyyah, sekalipun doktrin-doktrinnya berkembang pesat di tengah kaum yang memiliki iman namun terkuasai oleh kejahilan mereka.” (Minhaj As-Sunnah 4/363)</p>
<p>Penyakit kronis ini butuh obat yang ampuh dan mujarab, di mana tidak akan didapati obatnya melalui pemeriksaan medis di belahan dunia manapun.</p>
<p>Obat Penyakit Kronis Kejahilan<br />
Seseorang yang mengerti sedikit ilmu agama niscaya akan mengetahui obat yang manjur bagi penyakit kronis yang sangat berbahaya tersebut. Itulah ilmu agama yang bersumberkan Al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dipahami dengan pemahaman Salafush Shalih. Ilmu yang akan memperbaiki hubungan lahiriah dan batiniah dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ilmu yang akan membimbing ke jalan yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala serta menjauhi amalan-amalan yang dimurkai-Nya. Ilmu yang akan membimbing kepada jalan yang benar serta yang akan menjauhkan dari jalan yang batil. Ilmu yang akan membuahkan rasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga mencegah dirinya untuk bermaksiat kepada-Nya.</p>
<p>Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullahu menjelaskan: “<br />
Ilmu adalah mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala, mengenal Nabi-Nya, dan mengenal agama-Nya dengan dalil-dalil.” (Tsalatsatul Ushul karya beliau)</p>
<p>Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata:<br />
“Ilmu adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan ucapan para shahabat radhiyallahu &#8216;anhum.”</p>
<p>Al-Auza’i rahimahullahu berkata:<br />
“Ilmu adalah apa yang diajarkan oleh para shahabat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka yang selainnya tidaklah dikatakan ilmu.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Bar rahimahullahu, 2/29)</p>
<p>Demikian juga yang diucapkan oleh Al-Imam Ahmad rahimahullahu. (Fadhlu Ilmis Salaf ‘alal Khalaf hal. 42)</p>
<p>Al-Junaidi rahimahullahu berkata:<br />
“Ilmu kita adalah terikat dengan Al-Kitab dan As-Sunnah. Dan orang yang tidak membaca Al-Qur`an dan Al-Hadits maka tidak bisa dijadikan panutan dalam ilmu kami.” (idem, hal. 44)</p>
<p>Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dan selain beliau berkata: “Cukuplah rasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai ilmu dan cukuplah ketertipuan sebagai kejahilan.”2</p>
<p>Sebagian ulama salaf berkata:<br />
“Ilmu bukan karena banyak meriwayatkan, akan tetapi ilmu adalah yang akan mendatangkan rasa takut.”</p>
<p>Sebagian mereka menegaskan:<br />
“Barangsiapa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala maka dia adalah orang ‘alim dan barangsiapa bermaksiat maka dia adalah orang jahil.” (idem, hal. 47)</p>
<p>As-Sa’di rahimahullahu menjelaskan dalam sebuah manzhumah-nya:<br />
“Ketahuilah –semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberimu hidayah– bahwa seutama-utama pemberian adalah ilmu yang akan menghilangkan keraguan (yaitu syubhat) dan kekotoran (yaitu syahwat). Ilmu yang akan membuka tabir kebenaran bagi yang berakal, dan ilmu yang akan menyampaikan kepada apa yang dicari.”</p>
<p>Kesimpulan kita bahwa ilmu adalah pohon yang akan membuahkan ucapan yang baik dan amal shalih. Sebaliknya, kejahilan adalah pohon yang membuahkan ucapan dan perbuatan yang jelek. (Risalah Qawa’id Fiqhiyyah karya As-Sa’di rahimahullahu hal. 12-13)</p>
<p>Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ</p>
<p>“Barangsiapa dikehendaki oleh Allah kebaikan, niscaya Allah akan memberikan kefaqihan dalam agama.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu)</p>
<p>مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلىَ الْجَنَّةِ</p>
<p>“Barangsiapa yang menempuh jalan dalam rangka menuntut ilmu maka Allah akan memudahkan jalannya menuju surga.” (HR. Muslim dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)</p>
<p>مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوْتِ اللهِ يَتْلُوْنَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَارَسُوْنَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْ عَلَيْهِمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَ اللهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ</p>
<p>“Tiadalah suatu kaum berkumpul di rumah dari rumah-rumah Allah, mereka membaca Al-Kitab (Al-Qur`an) dan mengkajinya, melainkan akan turun kepada mereka ketenangan, diliputi oleh rahmat, dikelilingi oleh para malaikat dan Allah menyebut-nyebut mereka di kalangan orang-orang yang ada di sisi-Nya .” (HR. Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)</p>
<p>Dalil-dalil yang Mengecam Kejahilan<br />
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:</p>
<p>إِنَّا عَرَضْنَا اْلأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا اْلإِنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُوْمًا جَهُوْلاً</p>
<p>“Sesungguhnya kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” (Al-Ahzab: 72)</p>
<p>وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيْلَ الْبَحْرَ فَأَتَوْا عَلَى قَوْمٍ يَعْكُفُوْنَ عَلَى أَصْنَامٍ لَهُمْ قَالُوْا يَا مُوْسَى اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُوْنَ</p>
<p>“Dan kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu. Setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala mereka, Bani lsrail berkata: ‘Hai Musa, buatkanlah untuk kami sebuah sesembahan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa sesembahan (berhala).’ Musa menjawab: ‘Sesungguhnya kalian adalah kaum yang jahil yang tidak mengetahui (sifat-sifat Allah)’.” (Al-A’raf: 138)</p>
<p>أَئِنَّكُمْ لَتَأْتُوْنَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُوْنِ النِّسَاءِ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُوْنَ</p>
<p>“Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk (memenuhi) nafsu (mu), bukan (mendatangi) wanita? Sebenarnya kamu adalah kaum yang bodoh (akibat perbuatanmu).” (An-Naml: 55)</p>
<p>قُلْ أَفَغَيْرَ اللهِ تَأْمُرُونِّي أَعْبُدُ أَيُّهَا الْجَاهِلُوْنَ</p>
<p>“Katakanlah: ‘Maka apakah kamu menyuruh Aku menyembah selain Allah, hai orang-orang yang tidak berpengetahuan?’.&#8221; (Az-Zumar: 64)</p>
<p>ثُمَّ أَنْزَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ بَعْدِ الْغَمِّ أَمَنَةً نُعَاسًا يَغْشَى طَائِفَةً مِنْكُمْ وَطَائِفَةٌ قَدْ أَهَمَّتْهُمْ أَنْفُسُهُمْ يَظُنُّوْنَ بِاللهِ غَيْرَ الْحَقِّ ظَنَّ الْجَاهِلِيَّةِ يَقُوْلُوْنَ هَلْ لَنَا مِنَ اْلأَمْرِ مِنْ شَيْءٍ قُلْ إِنَّ اْلأَمْرَ كُلَّهُ لِلهِ يُخْفُوْنَ فِيْ أَنْفُسِهِمْ مَا لاَ يُبْدُوْنَ لَكَ يَقُوْلُوْنَ لَوْ كَانَ لَنَا مِنَ اْلأَمْرِ شَيْءٌ مَا قُتِلْنَا هَاهُنَا قُلْ لَوْ كُنْتُمْ فِيْ بُيُوْتِكُمْ لَبَرَزَ الَّذِيْنَ كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقَتْلُ إِلَى مَضَاجِعِهِمْ وَلِيَبْتَلِيَ اللهُ مَا فِيْ صُدُوْرِكُمْ وَلِيُمَحِّصَ مَا فِيْ قُلُوْبِكُمْ وَاللهُ عَلِيْمٌ بِذَاتِ الصُّدُوْرِ</p>
<p>“Kemudian setelah kamu berdukacita, Allah menurunkan kepada kamu keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan kamu, sedangkan segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri. Mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah. Mereka berkata: ‘Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?’ Katakanlah: ‘Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah.’ Mereka menyembunyikan dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu. Mereka berkata: ‘Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini.’ Katakanlah: ‘Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh.’ Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu serta untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati.” (Ali ‘Imran: 154)</p>
<p>أَمْ مَنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ اْلآخِرَةَ وَيَرْجُوْ رَحْمَةَ رَبِّهِ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِيْنَ لاَ يَعْلَمُوْنَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو اْلأَلْبَابِ</p>
<p>“(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (adzab) akhirat dan mengharapkan rahmat Rabbnya? Katakanlah: ‘Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’ Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (Az-Zumar: 9)</p>
<p>Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ وَلَكِنَّ اللهَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ اللهُ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُوْسًَا جُهَّالاً فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوْا وَأَضَلُّوْا</p>
<p>“Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu dengan mencabutnya dari hamba-hamba, akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan mencabut nyawa para ulama. Sehingga bila Allah tidak lagi menyisakan seorang pun dari mereka, lalu orang-orang mengangkat pemimpinnya dari orang jahil kemudian mereka bertanya kepadanya, dan mereka pun berfatwa tanpa ilmu, sesat lagi menyesatkan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu &#8216;anhuma)</p>
<p>Akibat bila Terjangkiti Penyakit Kejahilan</p>
<p>1. Bila Dia Seorang Da’i<br />
Tidak ada yang memungkiri bahwa kedudukan seorang da’i di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah sangat tinggi. Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya telah memuji mereka di dalam banyak dalil, sebagaimana dalam firman-Nya:</p>
<p>وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلاً مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ</p>
<p>“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang shalih, dan berkata: ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?’.” (Fushshilat: 33)</p>
<p>قُلْ هَذِهِ سَبِيْلِي أَدْعُوْ إِلَى اللهِ عَلَى بَصِيْرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ</p>
<p>“Katakanlah: ‘Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata. Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik’.” (Yusuf: 108)</p>
<p>وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُوْنَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ</p>
<p>“Dan hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar. Merekalah orang-orang yang beruntung.” (Ali ‘Imran: 104)</p>
<p>Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>وَاللهِ لَأَنْ يَهْدِيَ اللهُ بِكَ رَجُلاً وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ</p>
<p>“Demi Allah, seseorang mendapatkan hidayah dari Allah karenamu maka itu lebih baik daripada kamu memiliki unta-unta merah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Sahl bin Sa’d As-Sa’idi radhiyallahu ‘anhu)</p>
<p>مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ اْلأَجْرِ مِثْلُ أُجُوْرِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا</p>
<p>“Barangsiapa menyeru kepada petunjuk maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang melakukannya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.” (HR. Muslim no. 2674 dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)</p>
<p>مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ</p>
<p>“Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti yang mengamalkannya.” (HR. Muslim no. 1493 dari sahabat Abu Mas’ud ‘Uqbah bin ‘Amir Al-Anshari Al-Badri radhiyallahu ‘anhu)</p>
<p>Bukanlah suatu keanehan jika seorang da’i mendapatkan martabat seperti ini, karena mereka adalah pewaris tugas para nabi. Dan kita mengetahui bahwa tugas mereka adalah berdakwah di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, seseorang dituntut agar bersemangat dalam memikul amanat ini untuk mendapatkan pahala yang besar di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bersamaan dengan realita umat ini yang sangat butuh kepada da’i-da’i yang shalihin, nashihin, dan penuh kasih sayang. Selain itu, juga dengan adanya peperangan yang dikobarkan musuh Islam terhadap pemikiran umat ini, aqidah dan akhlaknya, yang puncaknya mereka terpenjarakan dalam fitnah syahwat dan syubhat.</p>
<p>Kita telah diajarkan oleh agama bahwa berdakwah adalah sebuah amanat besar dan sebuah tanggung jawab. Tidak hanya di dunia, namun juga sebuah tanggung jawab di akhirat. Seorang da’i akan diminta pertanggungjawaban oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, ke mana dia mengajak umat. Dan untuk menyelamatkan diri dari tanggung jawab ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala mensyaratkan agar berdakwah dilakukan di atas ilmu. Berdakwah di atas ilmu merupakan jalan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para pengikut beliau, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam firman-Nya:</p>
<p>قُلْ هَذِهِ سَبِيْلِي أَدْعُوْ إِلَى اللهِ عَلَى بَصِيْرَةٍ</p>
<p>“Katakanlah: ‘Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata.” (Yusuf: 108)</p>
<p>Dari sini kita mengetahui bahwa orang-orang yang tidak berilmu tentang syariat tidak diperbolehkan baginya memosisikan diri sebagai penerus tugas para nabi, terlebih dikenai perintah untuk berdakwah. Karena bila salah menyampaikan atau menyesatkan orang lain, ancamannya sangat besar. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>مَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ اْلإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا</p>
<p>“Barangsiapa yang menyeru kepada kesesatan maka baginya dosa seperti dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.” (HR. Muslim no. 2674 dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)</p>
<p>2. Bila dia seorang pemimpin<br />
Amat bisa dibayangkan jika seorang pemimpin berasal dari orang yang jahil tentang agama. Segala sepak terjangnya akan dibangun di atas kejahilan. Yang tergambar adalah sebuah bentuk kezhaliman, pemerkosaan hak rakyatnya, bahkan akan memperkosa agama dan kaum muslimin, lagi sesat menyesatkan.</p>
<p>Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ وَلَكِنَّ اللهَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ اللهُ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُوْسًَا جُهَّالاً فَسُئِلُوْا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوْا وَأَضَلُّوْا</p>
<p>“Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu dengan mencabutnya dari hamba-hamba, akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan mencabut nyawa para ulama. Sehingga bila Allah tidak lagi menyisakan seorangpun dari mereka, lalu orang-orang mengangkat pemimpinnya dari orang jahil kemudian mereka bertanya kepadanya, dan mereka pun berfatwa tanpa ilmu, sesat lagi menyesatkan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari shahabat Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu &#8216;anhuma)</p>
<p>3. Bila dia seorang biasa<br />
Jika kejahilan merupakan sebuah akhlak yang tercela, yang akan merusak jati diri seorang da’i dan seorang pemimpin, apatah lagi jika akhlak ini disandang oleh seseorang yang awam tentang agama. Tentu akan semakin rusak dan jahat. Dia akan dijangkiti oleh penyakit kronis lainnya seperti taqlid buta, fanatisme, lancang, menolak kebenaran, membela kebatilan dan berkubang padanya, memusuhi kebenaran dan pelakunya, iri hati, dengki, sombong dan berbagai sifat berbahaya lainnya.</p>
<p>Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu berkata:<br />
“Dan barangsiapa ridha dengan kebid’ahannya, tidak mau mencari dalil-dalil syariat dan tidak mau mencari ilmu yang akan bisa memisahkan antara haq dan batil, serta tidak mau membelanya, menolak apa yang datang dari Al-Qur`an dan As-Sunnah, dibarengi kejahilan dan kesesatan serta berkeyakinan bahwa dirinya berada di atas kebenaran, maka orang seperti ini termasuk orang zhalim dan fasik. (Derajat kezhaliman dan kefasikannya) sesuai dengan kewajiban-kewajiban yang dia tinggalkan dan keberanian dirinya melaksanakan keharaman-keharaman Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (Irsyad Ulil Basha`ir wal Albab hal. 300)</p>
<p>Hindarilah Penyakit Kejahilan!<br />
Asy-Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr berkata:<br />
“Ilmu merupakan pokok pangkal segala kebaikan. Sedangkan kejahilan merupakan pokok pangkal segala kejelekan. Cinta kepada kezhaliman, permusuhan, melakukan kekejian dan melanggar larangan-larangan, sebabnya yang pertama adalah kejahilan serta rusaknya ilmu atau rusaknya niat. Dan rusaknya niat disebabkan karena rusaknya ilmu. Kejahilan dan rusaknya ilmu merupakan sebab pertama dalam kerusakan amal dan berkurangnya iman… Nafsu selalu mendorong untuk melakukan sesuatu yang mendatangkan mudarat dan tidak bermanfaat, karena kejahilannya tentang sesuatu yang membahayakannya. Oleh karena itu, barangsiapa mendalami Al-Qur`an maka dia akan menemukan isyarat yang besar bahwa kejahilan merupakan sebab segala dosa dan kemaksiatan.” (Asbab Ziyadatil Iman hal. 62)</p>
<p>Beliau juga menjelaskan:<br />
“Jahil tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah penyakit yang berbahaya dan membinasakan yang akan menggiring pemiliknya menuju kecelakaan dan adzab yang besar. Barangsiapa yang penyakit ini mengakar pada dirinya dan menguasainya, jangan engkau bertanya tentang kebinasaannya (yakni pasti akan binasa). Dia akan berkubang dalam kemaksiatan dan dosa, terjungkir balik dari jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang lurus, pasrah dalam seruan syubhat dan syahwat. Kecuali bila dia dijemput oleh rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan siraman hati dan cahaya penglihatan. Itulah kunci kebaikan, yaitu ilmu yang bermanfaat yang akan membuahkan amal shalih. Sebab, tidak ada obat terhadap penyakit itu melainkan ilmu. Dan seseorang tidak akan terlepas dari penyakit ini melainkan bila Allah Subhanahu wa Ta’ala mengajarkan kepadanya ilmu yang bermanfaat dan memberikan bimbingan kepadanya. Barangsiapa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala menginginkan kebaikan kepadanya, Dia akan mengajarkannya ilmu yang bermanfaat dan memberikan kedalaman tentang agama serta memperlihatkan kepadanya segala yang akan menjadikan dia bahagia dan bergembira, kemudian dia keluar dari kubangan kejahilan. Dan kapan saja Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menginginkan kebaikan untuknya, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menetapkan dia di atas kejahilan. Kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sajalah kita meminta agar Dia menyirami hati kita dengan ilmu dan iman, serta melindungi kita dari kejahilan dan permusuhan.” (idem hal. 64)</p>
<p>Wallahu a’lam.</p>
<p>1 Karena dia telah kafir<br />
2 Diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad rahimahullahu di dalam kitab Az-Zuhd (no. 158) dan Ath-Thabarani rahimahullahu di dalam Al-Kabir (9/211) namun terdapat kelemahan, serta pada sanadnya ada inqitha` (keterputusan). Lihat ta’liq dan tahqiq Risalah Fadhlu ‘Ilmi As-Salaf hal. 46)</p>
<p>Sumber :http://www.asysyariah.com</p>
<br />Filed under: <a href='http://shirotholmustaqim.wordpress.com/category/akhlaq/'>Akhlaq</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/shirotholmustaqim.wordpress.com/2750/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/shirotholmustaqim.wordpress.com/2750/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/shirotholmustaqim.wordpress.com/2750/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/shirotholmustaqim.wordpress.com/2750/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/shirotholmustaqim.wordpress.com/2750/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/shirotholmustaqim.wordpress.com/2750/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/shirotholmustaqim.wordpress.com/2750/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/shirotholmustaqim.wordpress.com/2750/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/shirotholmustaqim.wordpress.com/2750/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/shirotholmustaqim.wordpress.com/2750/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/shirotholmustaqim.wordpress.com/2750/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/shirotholmustaqim.wordpress.com/2750/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/shirotholmustaqim.wordpress.com/2750/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/shirotholmustaqim.wordpress.com/2750/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shirotholmustaqim.wordpress.com&amp;blog=9822223&amp;post=2750&amp;subd=shirotholmustaqim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://shirotholmustaqim.wordpress.com/2012/01/14/kejahilan-penyakit-kronis-yang-tercela/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">shirotholmustaqim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Membongkar Kesesatan Syiah</title>
		<link>http://shirotholmustaqim.wordpress.com/2012/01/14/membongkar-kesesatan-syiah/</link>
		<comments>http://shirotholmustaqim.wordpress.com/2012/01/14/membongkar-kesesatan-syiah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Jan 2012 04:38:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>shirotholmustaqim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Bid&#039;ah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://shirotholmustaqim.wordpress.com/?p=2747</guid>
		<description><![CDATA[Penulis : Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi Al-Atsari, Lc. Serupa tapi tak sama. Barangkali ungkapan ini tepat untuk menggambarkan Islam dan kelompok Syi’ah. Secara fisik, memang sulit dibedakan antara penganut Islam dengan Syi’ah. Namun jika ditelusuri -terutama dari sisi aqidah- perbedaan di antara keduanya ibarat minyak dan air. Sehingga, tidak mungkin disatukan. Apa Itu Syi’ah? Syi’ah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shirotholmustaqim.wordpress.com&amp;blog=9822223&amp;post=2747&amp;subd=shirotholmustaqim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis : Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi Al-Atsari, Lc.</p>
<p>Serupa tapi tak sama. Barangkali ungkapan ini tepat untuk menggambarkan Islam dan kelompok Syi’ah. Secara fisik, memang sulit dibedakan antara penganut Islam dengan Syi’ah. Namun jika ditelusuri -terutama dari sisi aqidah- perbedaan di antara keduanya ibarat minyak dan air. Sehingga, tidak mungkin disatukan.</p>
<p>Apa Itu Syi’ah?<br />
Syi’ah menurut etimologi bahasa Arab bermakna: pembela dan pengikut seseorang. Selain itu juga bermakna: Setiap kaum yang berkumpul di atas suatu perkara. (Tahdzibul Lughah, 3/61, karya Azhari dan Tajul Arus, 5/405, karya Az-Zabidi. Dinukil dari kitab Firaq Mu’ashirah, 1/31, karya Dr. Ghalib bin ‘Ali Al-Awaji)</p>
<p>Adapun menurut terminologi syariat bermakna: Mereka yang menyatakan bahwa Ali bin Abu Thalib lebih utama dari seluruh shahabat dan lebih berhak untuk memegang tampuk kepemimpinan kaum muslimin, demikian pula anak cucu sepeninggal beliau. (Al-Fishal Fil Milali Wal Ahwa Wan Nihal, 2/113, karya Ibnu Hazm)</p>
<p>Syi’ah, dalam sejarahnya mengalami beberapa pergeseran. Seiring dengan bergulirnya waktu, kelompok ini terpecah menjadi lima sekte yaitu Kaisaniyyah, Imamiyyah (Rafidhah), Zaidiyyah, Ghulat, dan Isma’iliyyah. Dari kelimanya, lahir sekian banyak cabang-cabangnya. (Al-Milal Wan Nihal, hal. 147, karya Asy-Syihristani)<span id="more-2747"></span></p>
<p>Dan tampaknya yang terpenting untuk diangkat pada edisi kali ini adalah sekte Imamiyyah atau Rafidhah, yang sejak dahulu hingga kini berjuang keras untuk menghancurkan Islam dan kaum muslimin. Dengan segala cara, kelompok sempalan ini terus menerus menebarkan berbagai macam kesesatannya. Terlebih lagi kini didukung dengan negara Iran-nya.<br />
Rafidhah , diambil dari yang menurut etimologi bahasa Arab bermakna , meninggalkan (Al-Qamus Al-Muhith, hal. 829).</p>
<p>Sedangkan dalam terminologi syariat bermakna: Mereka yang menolak imamah (kepemimpinan) Abu Bakr dan ‘Umar radhiallahu &#8216;anhuma, berlepas diri dari keduanya, dan mencela lagi menghina para shahabat Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. (Badzlul Majhud fi Itsbati Musyabahatir Rafidhati lil Yahud, 1/85, karya Abdullah Al-Jumaili)</p>
<p>Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata:<br />
“Aku telah bertanya kepada ayahku, siapa Rafidhah itu? Maka beliau menjawab: ‘Mereka adalah orang-orang yang mencela Abu Bakr dan ‘Umar’.” (Ash-Sharimul Maslul ‘Ala Syatimir Rasul hal. 567, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah)</p>
<p>Sebutan “Rafidhah” ini erat kaitannya dengan Zaid bin ‘Ali bin Husain bin ‘Ali bin Abu Thalib dan para pengikutnya ketika memberontak kepada Hisyam bin Abdul Malik bin Marwan di tahun 121 H. (Badzlul Majhud, 1/86)</p>
<p>Asy-Syaikh Abul Hasan Al-Asy’ari berkata:<br />
“Zaid bin ‘Ali adalah seorang yang melebihkan ‘Ali bin Abu Thalib atas seluruh shahabat Rasulullah, mencintai Abu Bakr dan ‘Umar, dan memandang bolehnya memberontak1 terhadap para pemimpin yang jahat. Maka ketika ia muncul di Kufah, di tengah-tengah para pengikut yang membai’atnya, ia mendengar dari sebagian mereka celaan terhadap Abu Bakr dan ‘Umar. Ia pun mengingkarinya, hingga akhirnya mereka (para pengikutnya) meninggalkannya. Maka ia katakan kepada mereka:</p>
<p>“Kalian tinggalkan aku?” Maka dikatakanlah bahwa penamaan mereka dengan Rafidhah dikarenakan perkataan Zaid kepada mereka “Rafadhtumuunii.” (Maqalatul Islamiyyin, 1/137). Demikian pula yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu’ Fatawa (13/36).</p>
<p>Rafidhah pasti Syi’ah, sedangkan Syi’ah belum tentu Rafidhah. Karena tidak semua Syi’ah membenci Abu Bakr dan ‘Umar sebagaimana keadaan Syi’ah Zaidiyyah.</p>
<p>Rafidhah ini terpecah menjadi beberapa cabang, namun yang lebih ditonjolkan dalam pembahasan kali ini adalah Al-Itsna ‘Asyariyyah.</p>
<p>Siapakah Pencetusnya?<br />
Pencetus pertama bagi faham Syi’ah Rafidhah ini adalah seorang Yahudi dari negeri Yaman (Shan’a) yang bernama Abdullah bin Saba’ Al-Himyari, yang menampakkan keislaman di masa kekhalifahan ‘Utsman bin Affan.2</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:<br />
“Asal Ar-Rafdh ini dari munafiqin dan zanadiqah (orang-orang yang menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekafiran, pen). Pencetusnya adalah Abdullah bin Saba’ Az-Zindiq. Ia tampakkan sikap ekstrim di dalam memuliakan ‘Ali, dengan suatu slogan bahwa ‘Ali yang berhak menjadi imam (khalifah) dan ia adalah seorang yang ma’shum (terjaga dari segala dosa, pen).” (Majmu’ Fatawa, 4/435)</p>
<p>Sesatkah Syi’ah Rafidhah ?<br />
Berikut ini akan dipaparkan prinsip (aqidah) mereka dari kitab-kitab mereka yang ternama, untuk kemudian para pembaca bisa menilai sejauh mana kesesatan mereka.</p>
<p>a. Tentang Al Qur’an<br />
Di dalam kitab Al-Kaafi (yang kedudukannya di sisi mereka seperti Shahih Al-Bukhari di sisi kaum muslimin), karya Abu Ja’far Muhammad bin Ya’qub Al-Kulaini (2/634), dari Abu Abdullah (Ja’far Ash-Shadiq), ia berkata : “Sesungguhnya Al Qur’an yang dibawa Jibril kepada Muhammad Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam (ada) 17.000 ayat.”</p>
<p>Di dalam Juz 1, hal 239-240, dari Abu Abdillah ia berkata: “…Sesungguhnya di sisi kami ada mushaf Fathimah ‘alaihas salam, mereka tidak tahu apa mushaf Fathimah itu. Abu Bashir berkata: ‘Apa mushaf Fathimah itu?’ Ia (Abu Abdillah) berkata: ‘Mushaf 3 kali lipat dari apa yang terdapat di dalam mushaf kalian. Demi Allah, tidak ada padanya satu huruf pun dari Al Qur’an kalian…’.”<br />
(Dinukil dari kitab Asy-Syi’ah Wal Qur’an, hal. 31-32, karya Ihsan Ilahi Dzahir)</p>
<p>Bahkan salah seorang “ahli hadits” mereka yang bernama Husain bin Muhammad At-Taqi An-Nuri Ath-Thabrisi telah mengumpulkan sekian banyak riwayat dari para imam mereka yang ma’shum (menurut mereka), di dalam kitabnya Fashlul Khithab Fii Itsbati Tahrifi Kitabi Rabbil Arbab, yang menjelaskan bahwa Al Qur’an yang ada ini telah mengalami perubahan dan penyimpangan.</p>
<p>b. Tentang shahabat Rasulullah<br />
Diriwayatkan oleh Imam Al-Jarh Wat Ta’dil mereka (Al-Kisysyi) di dalam kitabnya Rijalul Kisysyi (hal. 12-13) dari Abu Ja’far (Muhammad Al-Baqir) bahwa ia berkata: “Manusia (para shahabat) sepeninggal Nabi, dalam keadaan murtad kecuali tiga orang,” maka aku (rawi) berkata: “Siapa tiga orang itu?” Ia (Abu Ja’far) berkata: “Al-Miqdad bin Al-Aswad, Abu Dzar Al-Ghifari, dan Salman Al-Farisi…” kemudian menyebutkan surat Ali Imran ayat 144. (Dinukil dari Asy-Syi’ah Al-Imamiyyah Al-Itsna ‘Asyariyyah Fi Mizanil Islam, hal. 89)</p>
<p>Ahli hadits mereka, Muhammad bin Ya’qub Al-Kulaini berkata: “Manusia (para shahabat) sepeninggal Nabi dalam keadaan murtad kecuali tiga orang: Al-Miqdad bin Al-Aswad, Abu Dzar Al-Ghifari, dan Salman Al-Farisi.” (Al-Kafi, 8/248, dinukil dari Asy-Syi’ah Wa Ahlil Bait, hal. 45, karya Ihsan Ilahi Dzahir)</p>
<p>Demikian pula yang dinyatakan oleh Muhammad Baqir Al-Husaini Al-Majlisi di dalam kitabnya Hayatul Qulub, 3/640. (Lihat kitab Asy-Syi’ah Wa Ahlil Bait, hal. 46)</p>
<p>Adapun shahabat Abu Bakr dan ‘Umar, dua manusia terbaik setelah Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, mereka cela dan laknat. Bahkan berlepas diri dari keduanya merupakan bagian dari prinsip agama mereka. Oleh karena itu, didapati dalam kitab bimbingan do’a mereka (Miftahul Jinan, hal. 114), wirid laknat untuk keduanya:</p>
<p>Ya Allah, semoga shalawat selalu tercurahkan kepada Muhammad dan keluarganya, laknatlah kedua berhala Quraisy (Abu Bakr dan Umar), setan dan thaghut keduanya, serta kedua putri mereka…(yang dimaksud dengan kedua putri mereka adalah Ummul Mukminin ‘Aisyah dan Hafshah)<br />
(Dinukil dari kitab Al-Khuthuth Al-‘Aridhah, hal. 18, karya As-Sayyid Muhibbuddin Al-Khatib)</p>
<p>Mereka juga berkeyakinan bahwa Abu Lu’lu’ Al-Majusi, si pembunuh Amirul Mukminin ‘Umar bin Al-Khaththab, adalah seorang pahlawan yang bergelar “Baba Syuja’uddin” (seorang pemberani dalam membela agama). Dan hari kematian ‘Umar dijadikan sebagai hari “Iedul Akbar”, hari kebanggaan, hari kemuliaan dan kesucian, hari barakah, serta hari suka ria. (Al-Khuthuth Al-‘Aridhah, hal. 18)</p>
<p>Adapun ‘Aisyah dan para istri Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam lainnya, mereka yakini sebagai pelacur -na’udzu billah min dzalik-. Sebagaimana yang terdapat dalam kitab mereka Ikhtiyar Ma’rifatir Rijal (hal. 57-60) karya Ath-Thusi, dengan menukilkan (secara dusta) perkataan shahabat Abdullah bin ‘Abbas terhadap ‘Aisyah: “Kamu tidak lain hanyalah seorang pelacur dari sembilan pelacur yang ditinggalkan oleh Rasulullah…” (Dinukil dari kitab Daf’ul Kadzibil Mubin Al-Muftara Minarrafidhati ‘ala Ummahatil Mukminin, hal. 11, karya Dr. Abdul Qadir Muhammad ‘Atha)</p>
<p>Demikianlah, betapa keji dan kotornya mulut mereka. Oleh karena itu, Al-Imam Malik bin Anas berkata: “Mereka itu adalah suatu kaum yang berambisi untuk menghabisi Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam namun tidak mampu. Maka akhirnya mereka cela para shahabatnya agar kemudian dikatakan bahwa ia (Nabi Muhammad Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam ) adalah seorang yang jahat, karena kalau memang ia orang shalih, niscaya para shahabatnya adalah orang-orang shalih.” (Ash-Sharimul Maslul ‘ala Syatimirrasul, hal. 580)</p>
<p>c. Tentang Imamah (Kepemimpinan Umat)<br />
Imamah menurut mereka merupakan rukun Islam yang paling utama3. Diriwayatkan dari Al-Kulaini dalam Al-Kaafi (2/18) dari Zurarah dari Abu Ja’far, ia berkata: “Islam dibangun di atas lima perkara:… shalat, zakat, haji, shaum dan wilayah (imamah)…” Zurarah berkata: “Aku katakan, mana yang paling utama?” Ia berkata: “Yang paling utama adalah wilayah.” (Dinukil dari Badzlul Majhud, 1/174)</p>
<p>Imamah ini (menurut mereka -red) adalah hak ‘Ali bin Abu Thalib radhiallahu &#8216;anhu dan keturunannya sesuai dengan nash wasiat Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Adapun selain mereka (Ahlul Bait) yang telah memimpin kaum muslimin dari Abu Bakr, ‘Umar dan yang sesudah mereka hingga hari ini, walaupun telah berjuang untuk Islam, menyebarkan dakwah dan meninggikan kalimatullah di muka bumi, serta memperluas dunia Islam, maka sesungguhnya mereka hingga hari kiamat adalah para perampas (kekuasaan). (Lihat Al-Khuthuth Al-‘Aridhah, hal. 16-17)</p>
<p>Mereka pun berkeyakinan bahwa para imam ini ma’shum (terjaga dari segala dosa) dan mengetahui hal-hal yang ghaib. Al-Khumaini (Khomeini) berkata: “Kami bangga bahwa para imam kami adalah para imam yang ma’shum, mulai ‘Ali bin Abu Thalib hingga Penyelamat Umat manusia Al-Imam Al-Mahdi, sang penguasa zaman -baginya dan bagi nenek moyangnya beribu-ribu penghormatan dan salam- yang dengan kehendak Allah Yang Maha Kuasa, ia hidup (pada saat ini) seraya mengawasi perkara-perkara yang ada.” (Al-Washiyyah Al-Ilahiyyah, hal. 5, dinukil dari Firaq Mu’ashirah, 1/192)</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya Minhajus Sunnah, benar-benar secara rinci membantah satu persatu kesesatan-kesesatan mereka, terkhusus masalah imamah yang selalu mereka tonjolkan ini.</p>
<p>d. Tentang Taqiyyah<br />
Taqiyyah adalah berkata atau berbuat sesuatu yang berbeda dengan keyakinan, dalam rangka nifaq, dusta, dan menipu umat manusia. (Lihat Firaq Mu’ashirah, 1/195 dan Asy-Syi’ah Al-Itsna ‘Asyariyyah, hal. 80)</p>
<p>Mereka berkeyakinan bahwa taqiyyah ini bagian dari agama. Bahkan sembilan per sepuluh agama. Al-Kulaini meriwayatkan dalam Al-Kaafi (2/175) dari Abu Abdillah, ia berkata kepada Abu Umar Al-A’jami: “Wahai Abu ‘Umar, sesungguhnya sembilan per sepuluh dari agama ini adalah taqiyyah, dan tidak ada agama bagi siapa saja yang tidak ber-taqiyyah.” (Dinukil dari Firaq Mu’ashirah, 1/196)</p>
<p>Oleh karena itu Al-Imam Malik ketika ditanya tentang mereka beliau berkata:<br />
“Jangan kamu berbincang dengan mereka dan jangan pula meriwayatkan dari mereka, karena sungguh mereka itu selalu berdusta.”</p>
<p>Demikian pula Al-Imam Asy-Syafi’i berkata:<br />
“Aku belum pernah tahu ada yang melebihi Rafidhah dalam persaksian palsu.” (Mizanul I’tidal, 2/27-28, karya Al-Imam Adz-Dzahabi)</p>
<p>e. Tentang Raj’ah<br />
Raj’ah adalah keyakinan hidupnya kembali orang yang telah meninggal. ‘Ahli tafsir’ mereka, Al-Qummi ketika menafsirkan surat An-Nahl ayat 85, berkata: “Yang dimaksud dengan ayat tersebut adalah raj’ah, kemudian menukil dari Husain bin ‘Ali bahwa ia berkata tentang ayat ini: ‘Nabi kalian dan Amirul Mukminin (‘Ali bin Abu Thalib) serta para imam ‘alaihimus salam akan kembali kepada kalian’.” (Dinukil dari kitab Atsarut Tasyayyu’ ‘Alar Riwayatit Tarikhiyyah, hal. 32, karya Dr. Abdul ‘Aziz Nurwali)</p>
<p>f. Tentang Al-Bada’<br />
Al-Bada’ adalah mengetahui sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui. Mereka berkeyakinan bahwa Al-Bada’ ini terjadi pada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Bahkan mereka berlebihan dalam hal ini. Al-Kulaini dalam Al-Kaafi (1/111), meriwayatkan dari Abu Abdullah (ia berkata): “Tidak ada pengagungan kepada Allah yang melebihi Al-Bada’.” (Dinukil dari Firaq Mu’ashirah, 1/252). Suatu keyakinan kafir yang sebelumnya diyakini oleh Yahudi4.</p>
<p>Demikianlah beberapa dari sekian banyak prinsip Syi’ah Rafidhah, yang darinya saja sudah sangat jelas kesesatan dan penyimpangannya. Namun sayang, tanpa rasa malu Al-Khumaini (Khomeini) berkata: “Sesungguhnya dengan penuh keberanian aku katakan bahwa jutaan masyarakat Iran di masa sekarang lebih utama dari masyarakat Hijaz (Makkah dan Madinah, pen) di masa Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, dan lebih utama dari masyarakat Kufah dan Iraq di masa Amirul Mukminin (‘Ali bin Abu Thalib) dan Husein bin ‘Ali.” (Al-Washiyyah Al-Ilahiyyah, hal. 16, dinukil dari Firaq Mu’ashirah, hal. 192)</p>
<p>Perkataan Ulama tentang Syi’ah Rafidhah<br />
Asy-Syaikh Dr. Ibrahim Ar-Ruhaili di dalam kitabnya Al-Intishar Lish Shahbi Wal Aal (hal. 100-153) menukilkan sekian banyak perkataan para ulama tentang mereka. Namun dikarenakan sangat sempitnya ruang rubrik ini, maka hanya bisa ternukil sebagiannya saja.</p>
<p>1. Al-Imam ‘Amir Asy-Sya’bi berkata:<br />
“Aku tidak pernah melihat kaum yang lebih dungu dari Syi’ah.” (As-Sunnah, 2/549, karya Abdullah bin Al-Imam Ahmad)</p>
<p>2. Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri ketika ditanya tentang seorang yang mencela Abu Bakr dan ‘Umar, beliau berkata:<br />
“Ia telah kafir kepada Allah.” Kemudian ditanya: “Apakah kita menshalatinya (bila meninggal dunia)?” Beliau berkata: “Tidak, tiada kehormatan (baginya)….” (Siyar A’lamin Nubala, 7/253)</p>
<p>3. Al-Imam Malik dan Al-Imam Asy-Syafi’i, telah disebut di atas.</p>
<p>4. Al-Imam Ahmad bin Hanbal berkata:<br />
“Aku tidak melihat dia (orang yang mencela Abu Bakr, ‘Umar, dan ‘Aisyah) itu orang Islam.” (As-Sunnah, 1/493, karya Al-Khallal)</p>
<p>5. Al-Imam Al-Bukhari berkata:<br />
“Bagiku sama saja apakah aku shalat di belakang Jahmi, dan Rafidhi atau di belakang Yahudi dan Nashara (yakni sama-sama tidak boleh -red). Mereka tidak boleh diberi salam, tidak dikunjungi ketika sakit, tidak dinikahkan, tidak dijadikan saksi, dan tidak dimakan sembelihan mereka.” (Khalqu Af’alil ‘Ibad, hal. 125)</p>
<p>6. Al-Imam Abu Zur’ah Ar-Razi berkata:<br />
“Jika engkau melihat orang yang mencela salah satu dari shahabat Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, maka ketahuilah bahwa ia seorang zindiq. Yang demikian itu karena Rasul bagi kita haq, dan Al Qur’an haq, dan sesungguhnya yang menyampaikan Al Qur’an dan As Sunnah adalah para shahabat Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Sungguh mereka mencela para saksi kita (para shahabat) dengan tujuan untuk meniadakan Al Qur’an dan As Sunnah. Mereka (Rafidhah) lebih pantas untuk dicela dan mereka adalah zanadiqah.” (Al-Kifayah, hal. 49, karya Al-Khathib Al-Baghdadi)</p>
<p>Demikianlah selayang pandang tentang Syi’ah Rafidhah, mudah-mudahan bisa menjadi pelita dalam kegelapan dan embun penyejuk bagi pencari kebenaran…Amin.</p>
<p>Sumber : http://www.asysyariah.com</p>
<br />Filed under: <a href='http://shirotholmustaqim.wordpress.com/category/aqidah/'>Aqidah</a>, <a href='http://shirotholmustaqim.wordpress.com/category/bidah/'>Bid&#039;ah</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/shirotholmustaqim.wordpress.com/2747/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/shirotholmustaqim.wordpress.com/2747/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/shirotholmustaqim.wordpress.com/2747/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/shirotholmustaqim.wordpress.com/2747/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/shirotholmustaqim.wordpress.com/2747/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/shirotholmustaqim.wordpress.com/2747/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/shirotholmustaqim.wordpress.com/2747/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/shirotholmustaqim.wordpress.com/2747/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/shirotholmustaqim.wordpress.com/2747/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/shirotholmustaqim.wordpress.com/2747/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/shirotholmustaqim.wordpress.com/2747/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/shirotholmustaqim.wordpress.com/2747/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/shirotholmustaqim.wordpress.com/2747/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/shirotholmustaqim.wordpress.com/2747/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shirotholmustaqim.wordpress.com&amp;blog=9822223&amp;post=2747&amp;subd=shirotholmustaqim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://shirotholmustaqim.wordpress.com/2012/01/14/membongkar-kesesatan-syiah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">shirotholmustaqim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Penyembah Akal Adalah Pengikut Iblis</title>
		<link>http://shirotholmustaqim.wordpress.com/2012/01/13/penyembah-akal-adalah-pengikut-iblis/</link>
		<comments>http://shirotholmustaqim.wordpress.com/2012/01/13/penyembah-akal-adalah-pengikut-iblis/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Jan 2012 07:11:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>shirotholmustaqim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://shirotholmustaqim.wordpress.com/?p=2743</guid>
		<description><![CDATA[Penulis : Al Ustadz Qomar Suaidi Lc Islam adalah agama yang sempurna. Kesempurnaan ini akan senantiasa dijaga oleh Allah sampai hari kiamat. Namun, sudah menjadi sunatullah bahwa akan selalu muncul orang-orang ataupun kelompok yang berusaha merusak atau pun memunculkan kekaburan pada agama yang sudah jelas ini. Di antaranya adalah perusakan yang dilakukan oleh orang-orang yang lebih [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shirotholmustaqim.wordpress.com&amp;blog=9822223&amp;post=2743&amp;subd=shirotholmustaqim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis : Al Ustadz Qomar Suaidi Lc</p>
<p>Islam adalah agama yang sempurna. Kesempurnaan ini akan senantiasa dijaga oleh Allah sampai hari kiamat. Namun, sudah menjadi sunatullah bahwa akan selalu muncul orang-orang ataupun kelompok yang berusaha merusak atau pun memunculkan kekaburan pada agama yang sudah jelas ini.</p>
<p>Di antaranya adalah perusakan yang dilakukan oleh orang-orang yang lebih mengedepankan akal dibanding nash Al Qur’an dan As Sunnah. Gerakan ini muncul di banyak tempat dan sudah berlangsung sejak dulu. Termasuk di Indonesia, gerakan ini sekarang dikenal dengan Jaringan Islam Liberal (JIL).</p>
<p>Menurut pemahaman Ahlus Sunnah, satu hal yang sudah mapan (sudah pasti dan tetap) dalam aqidah bahwa dalam memahami agama ini harus selalu mendahulukan Al Qur’an dan As Sunnah berdasar pemahaman Salafush Shalih dibanding akal. Manakala ada sesuatu yang bertentangan dengan Al Qur’an dan As-Sunnah maka harus kita singkirkan. Hal ini berdasarkan apa yang Allah jelaskan dalam kitab-Nya dan Rasulullah sebutkan dalam Sunnahnya, di antaranya:</p>
<p>يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوْا لاَ تُقَدِّمُوْا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُوْلِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ</p>
<p>“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-Hujurat: 1)<span id="more-2743"></span></p>
<p>اتَّبِعُوْا مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ وَلاَ تَتَّبِعُوْا مِنْ دُوْنِهِ أَوْلِيَاءَ قَلِيْلاً مَا تَذَكَّرُوْنَ</p>
<p>“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (darinya).” (Al-A’raf: 3)</p>
<p>وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيْهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبِّيْ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيْبُ</p>
<p>“Tentang sesuatu apapun kamu berselisih maka putusannya (terserah) kepada Allah. (Yang mempunyai sifat-sifat demikian) itulah Allah Tuhanku. Kepada-Nyalah aku bertawakkal dan kepada-Nyalah aku kembali.” (Asy-Syura: 10)</p>
<p>Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>تَرَكْتُ فِيْكُمْ شَيْئَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا بَعْدَ هُمَا كِتَابَ اللهِ وَسُنّتِيْ</p>
<p>“Saya tinggalkan pada kalian dua perkara yang kalian tidak akan sesat setelah berpegang dengan keduanya yaitu Kitab Allah dan Sunnahku.” (Riwayat Al-Hakim dari Abu Hurairah, 1/172, lihat Shahih Al-Jami’ no. 2937 dan Ash-Shahihah no. 1761)</p>
<p>Ketika masa semakin jauh dari zaman kenabian dan semakin banyak muncul fitnah, datang sebuah pemikiran atau paham bahwa akal harus didahulukan daripada wahyu (dalil naqli) ketika keduanya bertentangan -menurut pemahaman penganutnya-. Paham taqdimul aql ‘alan naql (mendahulukan akal dari pada naqli) yang berarti pula taqdisul ‘aql (mengkultuskan akal) ini, jika kita teliti silsilah nasabnya (asal-usulnya), maka ia akan berujung pada Iblis la’natullah ‘alaihi. Dialah yang pertama kali menggunakan akalnya untuk menolak perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala tatkala Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan dia bersama malaikat sujud kepada Nabi Adam. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:</p>
<p>وَلَقَدْ خَلَقْنَاكُمْ ثُمَّ صَوَّرْنَاكُمْ ثُمَّ قُلْنَا لِلْمَلاَئِكَةِ اسْجُدُوْا لآدَمَ فَسَجَدُوْا إِلاَّ إِبْلِيْسَ لَمْ يَكُنْ مِنَ السَّاجِدِيْنَ۰قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلاَّ تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِيْنٍ</p>
<p>“Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat: “Bersujudlah kamu kepada Adam”; maka merekapun bersujud kecuali Iblis. Dia tidak termasuk mereka yang bersujud. Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Iblis menjawab: “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. (Al-A’raf: 11-12)</p>
<p>Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata:<br />
“Perbuatan menentang wahyu dengan akal adalah warisan Syaikh Abu Murrah (iblis). Dialah yang pertama kali menentang wahyu dengan akal dan mendahulukan akal dari pada wahyu.” (Ash-Shawa’iqul Mursalah, 3/998, lihat pula Syarh Aqidah Thahawiyah hal. 207)</p>
<p>Manhaj (metodologi) ini kemudian diwarisi oleh para pengikut iblis dari kalangan musuh para Rasul. Di antaranya adalah kaum Nabi Nuh yang melakukan penentangan terhadap dakwah beliau. Mereka berkata sebagaimana dikisahkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala:</p>
<p>فَقَالَ الْمَلأُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ قَوْمِهِ مَا نَرَاكَ إِلاَّ بَشَرًا مِثْلَنَا وَمَا نَرَاكَ اتَّبَعَكَ إِلاَّ الَّذِيْنَ هُمْ أَرَاذِلُنَا بَادِيَ الرَّأْيِ وَمَا نَرَى لَكُمْ عَلَيْنَا مِنْ فَضْلٍ بَلْ نَظُنُّكُمْ كَاذِبِيْنَ</p>
<p>“Dan berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya: ‘Kami tidak melihat kamu melainkan sebagai manusia biasa seperti kami. Dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu melainkan orang yang hina dina di antara kami yang mudah percaya begitu saja. Kami tidak melihat kamu memiliki kelebihan apapun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta.’” (Hud: 27)</p>
<p>Yakni, orang-orang yang menentang Nabi Nuh berkata bahwa mereka (para pengikut Nabi Nuh) mengikuti beliau tanpa dipikir benar-benar (Tafsir As-Sa’di, hal. 380). Orang-orang kafir itu beralasan, mereka tidak mengikuti Nabi Nuh  karena menganggap diri mereka sebagai orang-orang yang rasionya maju dan berpikir panjang, sedang pengikut para rasul berakal pendek (lekas percaya).</p>
<p>Hal yang sama terjadi pula pada zaman Nabi Muhammad Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Allah mengatakan tentang orang-orang munafiq dalam firman-Nya:</p>
<p>وَإِذَا قِيْلَ لَهُمْ آمِنُوْا كَمَا آمَنَ النَّاسُ قَالُوْا أَنُؤْمِنُ كَمَا آمَنَ السُّفَهَاءُ أَلاَ إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاءُ وَلَكِنْ لاَ يَعْلَمُوْنَ</p>
<p>“Apabila dikatakan kepada mereka: ‘Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman.’ Mereka menjawab: ‘Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang bodoh itu telah beriman?’ Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang bodoh tetapi mereka tidak tahu.” (Al-Baqarah: 13)</p>
<p>Tokoh paham ini yang muncul di masa Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam adalah Dzul Khuwaishirah. Dialah yang mengatakan kepada Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam: “Bertaqwalah kepada Allah wahai Muhammad dan berbuat adillah (dalam hal pembagian).” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 1219, 1581 dan yang lain. Lafadz tersebut terdapat dalam Al-Mustakhraj ‘ala Muslim, 3/129)</p>
<p>Orang ini tahu akan keharusan berbuat adil tapi ia tidak tahu cara adil menurut syariat. Ia menyangkal cara pembagian Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam-untuk orang-orang yang beliau maksudkan agar lunak hati mereka- dengan pandangan akalnya, ia menganggap bahwa pembagian Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam itu tidak adil walaupun Nabi membaginya dengan petunjuk dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Maka Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam pun berkata: “Yang di langit telah mempercayakan aku, sedangkan kalian tidak percaya kepadaku?” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 1219, 1581 dan yang lain. Lafadz tersebut terdapat dalam Al-Mustakhraj ‘ala Muslim, 3/129)</p>
<p>Sepeninggal Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam masih ada orang yang mewarisi pemikiran itu bahkan dikembangkan menjadi lebih sistematis. Mereka tulis dalam karya-karya mereka lalu dijadikan sebagai rujukan dalam banyak permasalahan. Maka jadilah akal sebagai hakim dalam berbagai masalah. Apa yang diputuskan akal, itulah yang benar. Dan apa yang ditolaknya maka itu tentu salah. Salah satu “ahli waris” dari paham ini adalah kelompok Mu’tazilah. Menurut Mu’tazilah, manusia dengan semata akalnya sendiri dapat mengetahui batas-batas kebaikan dan kejahatan.</p>
<p>Al-Qadhi Abdul Jabbar (wafat tahun 415 H), salah satu tokoh terkemuka paham ini mengatakan ketika menerangkan urutan dalil: “Yang pertama adalah dalil akal karena dengan akal bisa terbedakan antara yang baik dan yang buruk …karena Allah tidak berbicara kecuali dengan orang-orang yang berakal…” (Fadhlul I’tizal hal. 139, dinukil dari Mauqif Al-Madrasah Al-’Aqliyyah min As-Sunnah An-Nabawiyyah, 1/97)</p>
<p>Perkataan orang-orang Mu’tazilah ini jelas bertentangan dengan ayat-ayat dan hadits yang telah disebut di muka. Karena itu, alasan seperti ini tidak bisa diterima (karena salah), apapun alasannya. Lebih-lebih karena dalilnya juga cuma dari akal, di mana akal ini satu sama lain bisa berbeda pandangan (dalam memahami sesuatu). Lantas pandangan siapa yang mau dijadikan standar?</p>
<p>Bahkan apa yang dia katakan itu “…karena dengannya bisa terbedakan antara yang baik dan yang buruk…” adalah pernyataan yang salah menurut dalil naqli dan akal yang sehat. Tidak secara mutlak demikian. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:</p>
<p>وَوَجَدَكَ ضَالاًّ فَهَدَى</p>
<p>“Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk.” (Adh-Dhuha: 7)</p>
<p>وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوْحًا مِنْ أَمْرِنَا مَا كُنْتَ تَدْرِيْ مَا الْكِتَابُ وَلاَ اْلإِيْمَانُ وَلَكِنْ جَعَلْنَاهُ نُوْرًا نَهْدِيْ بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا وَإِنَّكَ لَتَهْدِيْ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيْمٍ</p>
<p>“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (Asy-Syura: 52)</p>
<p>Jadi Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam sendiri sebelum diberi wahyu tidak mengetahui perincian syariat, tidak tahu mana yang baik dan yang buruk secara detail apalagi selain beliau.</p>
<p>Bagi yang berakal sehat, dia akan tahu, misalnya, bahwa shalat adalah sesuatu yang baik setelah diberi tahu syariat. Tahu mencium Hajar Aswad itu baik, tahu melempar jumrah itu baik, tahu jeleknya daging babi sebelum ditemukan adanya cacing pita di dalammnya, dan banyak pengetahuan lainnya semua adalah dari syariat. Dengan demikian syariatlah yang menerangkan baik atau jeleknya sesuatu. Memang terkadang akal dapat menilai baik buruknya sesuatu namun hanya pada perkara yang sangat terbatas, seperti baiknya kejujuran dan jeleknya kebohongan. Dalam permasalahan lain, terutama dalam perkara aqidah dan ibadah, akal banyak tidak tahu bahkan butuh bimbingan wahyu untuk mengetahuinya.</p>
<p>Perkataan Al-Qadhi Abdul Jabbar berikutnya: “Karena Allah tidak berbicara kecuali dengan orang-orang yang berakal,” kalimat ini tidak bisa dijadikan dasar untuk melandasi pendapatnya. Karena Allah berbicara dengan orang yang berakal bukan untuk membolehkan akal mendahului wahyu. Namun agar mereka memahami ayat Allah, tunduk padanya dan tidak menentangnya. Ini hanya satu contoh ucapan tokoh Mu’tazilah. Masih banyak ucapan sejenis yang menyelisihi nash Al-Qur’an dan As Sunnah.</p>
<p>Kita langsung melompat pada zaman akhir-akhir ini di mana muncul pula para pemikir semacam Muhammad Abduh. Orang ini berkata: “Telah sepakat pemeluk agama Islam –kecuali sedikit yang tidak terpandang– bahwa jika bertentangan antara akal dan dalil naqli maka yang diambil adalah apa yang ditunjukkan oleh akal.” (Al-Islam wan Nashraniyyah hal. 59 dinukil dari Al-‘Aqlaniyyun hal. 61-62)</p>
<p>Ia kesankan pendapatnya adalah pendapat jumhur (mayoritas) umat, sedangkan pendapat lain (yang justru mencocoki kebenaran) merupakan pendapat minoritas yang tidak perlu ditoleh. Yang benar adalah sebaliknya. Justru pendapat seluruh Ahlus Sunnah dari dulu sampai saat ini dan yang akan datang, bahwa akal itu harus mengikuti dalil Al Qur’an dan As Sunnah. Sedang mereka (orang-orang Mu’tazilah dan pengikutnya) adalah golongan minoritas yang tidak perlu dilihat orangnya dan pendapatnya.</p>
<p>Tokoh berikutnya adalah Muhammad Al-Ghazali yang mengatakan: “Ketahuilah bahwa sesuatu yang telah dihukumi oleh akal sebagai sebuah kebathilan, maka mustahil untuk menjadi (bagian) agama. Agama yang haq adalah kemanusiaan yang benar dan kemanusiaan yang benar adalah akal yang tepat (sesuai) dengan hakikat, yang bercahaya dengan ilmu, yang merasa sempit dengan khurafat dan yang lari dari khayalan…” (Majalah Ad-Dauhah Al-Qathariyyah edisi 101/Rajab1404 H dinukil dari Al-’Aqlaniyyun hal. 64)</p>
<p>Akal siapa yang kau maksud, wahai Muhammad Al-Ghazali? Pada kenyataannya yang kau maksudkan adalah akal-akal seperti yang kau miliki. Kamu jadikan akal itu sebagai alat untuk menghukumi benar tidaknya syariat. Sampai kau ingkari begitu banyak hadits shahih walaupun dalam Shahih Al-Bukhari, terlebih hadits lain seperti hadits tentang seorang muslim tidak boleh di-qishash bunuh dengan sebab membunuh orang kafir, hadits tentang dajjal, hadits tentang terbelahnya bulan sebagai mukjizat Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, dan banyak lagi yang lain. (Kasyfu Mauqifil Ghazali, hal. 45-46)</p>
<p>Lain halnya dengan akal yang terbimbing dengan wahyu, mengambil ilmu dari wahyu tersebut dan berjalan dengan petunjuknya. Akal yang demikian tidak akan bertentangan dengan agama Allah. Meski demikian, bukan akal yang dijadikan hakim untuk menentukan kebenaran dan menempatkan wahyu di belakangnya.</p>
<p>Demikianlah paham ini senantiasa diwarisi dari generasi ke generasi walaupun terpaut waktu sekian lama. Warisan iblis ini sampai sekarang masih ada dan sungguh benar perkataan orang arab: “Likulli qaumin warits” (setiap kelompok/sekte itu ada yang mewarisi) dan sejelek-jelek warisan adalah warisan iblis, sehingga muncul berbagai pertanyaan di benak ini, yang mengingatkan kita pada firman Allah:</p>
<p>أَتَوَاصَوْا بِهِ بَلْ هُمْ قَوْمٌ طَاغُوْنَ</p>
<p>“Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu. Sebenarnya mereka adalah kaum yang melampaui batas.” (Adz-Dzariyat: 53)</p>
<p>‘Ala kulli hal (bagaimanapun), ini adalah upaya setan untuk menyelewengkan manusia dari agama Allah Subhanahu Wa Ta’ala menuju kepada kehancuran yang nyata.</p>
<p>Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan:<br />
“Sesungguhnya membenturkan antara akal dengan wahyu adalah asal-usul semua kerusakan di alam semesta. Dan itu adalah lawan dari dakwahya para rasul dari semua sisi karena mereka (para rasul) mengajak untuk mengedepankan wahyu daripada pendapat akal dan musuh mereka justru sebaliknya. Para pengikut rasul mendahulukan wahyu daripada ide dan hasil olah pikir akal. Sedang para pengikut iblis atau salah satu wakilnya, mendahukukan akal dari pada wahyu.” (Mukhtashar Ash-Shawa’iq Al-Mursalah, 1/292, lihat pula I’lamul Muwaqqi’in, 1/68-69, Mauqif Al-Madrasah, 1/86)</p>
<p>Lebih parah, metodologi ini menjadi ciri khas para ahli bid’ah dalam berdalil seperti yang dikatakan oleh Al-Imam Asy-Syathibi ketika menerangkan cara berdalil ahli bid’ah. Beliau berkata: “Mereka menolak hadits-hadits yang tidak sesuai dengan tujuan dan madzhab mereka dengan alasan bahwa hal itu tidak sesuai dengan akal dan tidak sesuai dengan konsekuensi dalil.” (Al-I’tisham, 1/294)</p>
<p>Beliaupun mengatakan:<br />
“Mayoritas ahli bidah berpendapat bahwa akal dengan sendirinya mampu menilai baik dan buruk (yakni tanpa wahyu). Pernyataan ini merupakan sandaran pertama dan kaidah mereka di mana mereka membangun syariat di atasnya sehingga itu lebih utama dalam ajarannya. Mereka tidak curiga pada akal tapi terkadang curiga pada dalil ketika terlihat tidak sesuai dengan mereka sehingga mereka menolak banyak dalil yang syar’i.” (Mukhtashar Al-I’tisham, hal. 46).Wallahu a’lam.</p>
<p>Sumber : http://www.asysyariah.com</p>
<br />Filed under: <a href='http://shirotholmustaqim.wordpress.com/category/aqidah/'>Aqidah</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/shirotholmustaqim.wordpress.com/2743/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/shirotholmustaqim.wordpress.com/2743/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/shirotholmustaqim.wordpress.com/2743/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/shirotholmustaqim.wordpress.com/2743/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/shirotholmustaqim.wordpress.com/2743/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/shirotholmustaqim.wordpress.com/2743/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/shirotholmustaqim.wordpress.com/2743/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/shirotholmustaqim.wordpress.com/2743/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/shirotholmustaqim.wordpress.com/2743/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/shirotholmustaqim.wordpress.com/2743/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/shirotholmustaqim.wordpress.com/2743/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/shirotholmustaqim.wordpress.com/2743/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/shirotholmustaqim.wordpress.com/2743/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/shirotholmustaqim.wordpress.com/2743/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shirotholmustaqim.wordpress.com&amp;blog=9822223&amp;post=2743&amp;subd=shirotholmustaqim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://shirotholmustaqim.wordpress.com/2012/01/13/penyembah-akal-adalah-pengikut-iblis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">shirotholmustaqim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Syi&#8217;ah dan Al Quran</title>
		<link>http://shirotholmustaqim.wordpress.com/2012/01/04/syiah-dan-al-quran/</link>
		<comments>http://shirotholmustaqim.wordpress.com/2012/01/04/syiah-dan-al-quran/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Jan 2012 03:19:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>shirotholmustaqim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://shirotholmustaqim.wordpress.com/?p=2739</guid>
		<description><![CDATA[Serupa tapi tak sama. Barangkali ungkapan ini tepat untuk menggambarkan Islam dan kelompok Syi&#8217;ah. Secara fisik, memang sulit dibedakan antara penganut Islam dengan penganut Syi&#8217;ah. Namun jika ditelusuri –terutama dari sisi aqidah- perbedaan di antara keduanya ibarat minyak dan air. Sehingga, tidak mungkin disatukan. Apa Itu Syi&#8217;ah? Syi&#8217;ah menurut etimologi bahasa Arab bermakna: Pembela dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shirotholmustaqim.wordpress.com&amp;blog=9822223&amp;post=2739&amp;subd=shirotholmustaqim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Serupa tapi tak sama. Barangkali ungkapan ini tepat untuk menggambarkan Islam dan kelompok Syi&#8217;ah. Secara fisik, memang sulit dibedakan antara penganut Islam dengan penganut Syi&#8217;ah. Namun jika ditelusuri –terutama dari sisi aqidah- perbedaan di antara keduanya ibarat minyak dan air. Sehingga, tidak mungkin disatukan.</p>
<p>Apa Itu Syi&#8217;ah?</p>
<p>Syi&#8217;ah menurut etimologi bahasa Arab bermakna: Pembela dan pengikut seseorang. Selain itu juga bermakna: Setiap kaum yang bersatu/berkumpul di atas suatu perkara. (Tahdzibul Lughah 3/61)</p>
<p>Adapun menurut terminologi syariat bermakna: Mereka yang berkedok dengan slogan kecintaan kepada Ali bin Abi Thalib beserta anak cucunya bahwasanya Ali bin Abi Thalib lebih utama dari seluruh shahabat dan lebih berhak untuk memegang tampuk kepemimpinan kaum muslimin, demikian pula anak cucunya sepeninggal beliau. (Al-Fishal Fil Milali Wal Ahwa` Wan Nihal 2/113, karya Ibnu Hazm)</p>
<p>Syi&#8217;ah, dalam sejarahnya mengalami beberapa pergeseran. Seiring dengan bergulirnya waktu, kelompok ini terpecah menjadi lima sekte yaitu Kaisaniyyah, Imamiyyah (Rafidhah), Zaidiyyah, Ghulat dan Isma&#8217;iliyyah. Dari kelimanya, lahir sekian banyak cabang-cabangnya. (Al-Milal Wan Nihal hal.147, karya Asy-Syihristani)</p>
<p>Namun, tampaknya yang terpenting untuk diangkat pada edisi kali ini adalah sekte Imamiyyah atau yang dikenal dengan nama lain yaitu Rafidhah, yang sejak dahulu hingga kini berjuang keras untuk menghancurkan Islam dan kaum muslimin. Dengan segala cara, kelompok sempalan ini terus menerus menebarkan berbagai macam kesesatannya. Terlebih lagi kini didukung dengan negara Iran-nya.<span id="more-2739"></span></p>
<p>Siapakah Pencetusnya?</p>
<p>Pencetus pertama bagi faham Syi&#8217;ah Rafidhah adalah seorang Yahudi dari negeri Yaman (Shan&#8217;a) yang bernama Abdullah bin Saba` Al-Himyari, yang menampakkan keislaman di masa kekhalifahan &#8216;Utsman bin &#8216;Affan.<br />
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: &#8220;Asal usul faham ini dari munafiqin dan zanadiqah (orang-orang yang menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekafiran –pent). Pencetusnya adalah Abdullah bin Saba` Az-Zindiq. Ia tampakkan sikap ekstrim di dalam memuliakan Ali, dengan suatu slogan bahwa Ali yang berhak menjadi imam (khalifah) dan ia adalah seorang yang ma&#8217;shum (terjaga dari segala dosa –pent).&#8221; (Majmu&#8217;ul Fatawa 4/435)</p>
<p>Kesesatan Syi&#8217;ah Rafidhah</p>
<p>Menengok latar belakang kemunculannya dan kondisi agama pencetusnya yaitu Abdullah bin Saba`, maka tidak samar lagi bahwa sekte yang satu ini sesat. Namun, berakhirnya riwayat hidup Abdullah bin Saba` yang dihukum bakar oleh Ali bin Abi Thalib sendiri tidaklah menghentikan sepak terjang para pewarisnya untuk menebarkan kesesatan yang lebih banyak dan lebih berbahaya.</p>
<p>Dengan berbekal kedustaan dan kesesatan, mereka mencoba meruntuhkan pondasi-pondasi Islam. Al-Qur`an –rujukan suci kaum muslimin- mereka usik keabsahannya, manusia-manusia terbaik umat ini dari para shahabat Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam mereka rendahkan martabatnya. Lalu, Islam manakah yang ada pada mereka ketika kitab suci dan orang-orang mulia kaum muslimin mereka injak-injak kehormatannya?!!</p>
<p>Al-Qur`an dalam Tinjaun Syi&#8217;ah Rafidhah<br />
Perlu pembaca ketahui bahwasanya Al-Qur`an yang Allah turunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam sebagai kitab suci dan referensi terbesar umat Islam merupakan kitab suci terakhir yang telah Allah jamin kemurniannya dari berbagai macam usaha pengubahan dan penyelewengan. Allah berfirman yang artinya: &#8220;Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur`an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.&#8221; (Al-Hijr:9)</p>
<p>Bahkan Allah telah menegaskan dalam firman-Nya yang artinya: &#8220;Katakanlah: &#8220;Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al-Qur`an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.&#8221; (Al-Israa`:88)</p>
<p>Dan juga firman-Nya yang artinya: &#8220;Atau (patutkah) mereka mengatakan: &#8220;Muhammad membuat-buatnya.&#8221; Katakanlah: &#8220;(Kalau benar yang kalian katakan itu), maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kalian panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kalian orang-orang yang benar.&#8221; (Yuunus:38)</p>
<p>Namun orang-orang Syi&#8217;ah Rafidhah dengan beraninya menyatakan bahwa Al-Qur`an yang ada di tangan kaum muslimin ini telah mengalami perubahan dari yang semestinya. Di dalam kitab Ushul Al-Kaafi (yang kedudukannya di sisi mereka seperti Shahih Al-Bukhari di sisi kaum muslimin), karya Abu Ja&#8217;far Muhammad bin Ya&#8217;qub Al-Kulaini (2/634), dari Abu Abdillah (Ja&#8217;far Ash-Shadiq), ia berkata: &#8220;Sesungguhnya Al-Qur`an yang dibawa Jibril kepada Muhammad ada 17.000 ayat.&#8221; Kalau demikian 2/3 dari Al-Qur`an telah hilang karena jumlah ayat di dalam Al-Qur`an di sisi kaum muslimin tidak lebih dari 6666 ayat !!!</p>
<p>Di dalam juz 1, hal.239-240, dari Abu Abdillah ia berkata: &#8220;Sesungguhnya di sisi kami ada mushaf Fathimah, namun mereka tidak tahu apa mushaf Fathimah itu.&#8221; Abu Bashir bertanya: &#8220;Apa mushaf Fathimah itu?&#8221; Abu Abdillah menjawab: &#8220;Sebuah mushaf 3 kali lipat dari apa yang terdapat di dalam mushaf kalian (umat Islam). Demi Allah, tidak ada padanya satu huruf pun dari Al-Qur`an kalian….&#8221;</p>
<p>Bahkan salah seorang ahli hadits mereka yang bernama Husain bin Muhammad Ath-Thabrisi telah mengumpulkan sekian banyak riwayat dari para imam mereka yang ma&#8217;shum (menurut mereka), di dalam kitabnya Fashlul Khithab yang menjelaskan bahwa Al-Qur`an yang ada di tangan kaum muslimin telah mengalami perubahan dan penyimpangan.</p>
<p>Ini merupakan suatu bentuk pelecehan terhadap Al-Qur`an sekaligus sebagai penghinaan kepada Allah, bahwa Dia tidak mampu merealisasikan jaminan-Nya untuk menjaga Al-Qur`an. Ini merupakan salah satu misi Yahudi yang berbajukan Syi&#8217;ah Rafidhah sebagai bentuk konspirasi jahat mereka untuk merusak dan mengkaburkan referensi utama umat Islam. Pernyataan kufur mereka ini sama sekali belum pernah dilontarkan sekte-sekte sesat sekalipun seperti Mu&#8217;tazilah, Khawarij ataupun Murji`ah.</p>
<p>Beberapa Fakta Pemalsuan dan Penyelewengan Al-Qur`an oleh Syi&#8217;ah</p>
<p>Ketika mereka tidak mampu membuat kitab yang semisal dengan Al-Qur`an, maka tidak ada jalan lain bagi mereka kecuali menambah, memalsukan dan menyelewengkan apa yang terdapat di dalam kitab suci Al-Qur`an sesuai dengan hawa nafsu mereka. Perbuatan tercela ini tidaklah beda dengan apa yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi terhadap kitab suci mereka. Allah berfirman yang artinya: &#8220;Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: &#8220;Ini dari Allah&#8221;, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu.&#8221; (Al-Baqarah:79)</p>
<p>Diantara contoh kedustaan dan penyelewengan mereka terhadap mushaf Al-Qur`an:</p>
<p>1. Dalam Surat Al-Baqarah:257</p>
<p>وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ &#8230;</p>
<p>&#8220;Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan….&#8221;<br />
Namun dalam Al-Qur`an palsu mereka:</p>
<p>وَالَّذِينَ كَفَرُوا بِوِلاَيَةِ عَلِيّ بْنِ أَبِيْ طَالِبٍ أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ &#8230;</p>
<p>&#8220;Dan orang-orang yang kafir terhadap kepemimpinan Ali bin Abi Thalib itu, pelindung-pelindung mereka adalah syaithan….&#8221;</p>
<p>2. Dalam Surat Al-Lail:12-13</p>
<p>إِنَّ عَلَيْنَا لَلْهُدَى(12) وَإِنَّ لَنَا لَلآخِرَةَ وَالأُولَى(13)</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk, dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akhirat dan dunia.&#8221;<br />
Namun dalam Al-Qur`an palsu mereka:</p>
<p>إِنَّ عَلِيًّا لَلْهُدَى(12) وَإِنَّ لَهُ لَلآخِرَةَ وَالأُولَى(13)</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya Ali benar-benar sebuah petunjuk dan kepunyaan dialah akhirat dan dunia.&#8221;</p>
<p>3. Dalam Surat Al-Insyiraah:7</p>
<p>فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ</p>
<p>&#8220;Maka apabila kamu (Muhammad) telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.&#8221;<br />
Sedangkan dalam Al-Qur`an palsu mereka:</p>
<p>فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصِبْ عَلِيًّا لِلْوِلاَيَةِ</p>
<p>&#8220;Maka apabila kamu (Muhammad) telah selesai (dari suatu urusan), maka berilah Ali kepemimpinan.&#8221;<br />
Bahkan sebelum ayat ini ada tambahan:</p>
<p>وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ بِعَلِيٍّ صِهْرِكَ</p>
<p>&#8220;Dan Kami angkat penyebutanmu (Muhammad) dengan Ali sang menantumu.&#8221;</p>
<p>Para pembaca, bila kita telusuri keyakinan atau aqidah bathil ini, ternyata merupakan sebuah kesepakatan yang ada pada mereka. Tidak satupun di antara ulama-ulama jahat mereka yang menyelisihi kesepakatan ini. Sebagaimana yang dikatakan oleh salah seorang ulama mereka yaitu Al-Mufid bin Muhammad An-Nu&#8217;man dalam kitab Awai&#8217;ilul Maqalaat hal 49.</p>
<p>Adapun bila ditemukan pendapat sebagian kecil ulama mereka tentang tidak adanya perubahan dan penyimpangan Al-Qur`an, maka hal itu hanyalah upaya penyembunyian aqidah kufur mereka di hadapan umat Islam. Maka janganlah sekali-kali seorang muslim mempercayainya. Karena mereka adalah orang-orang yang beragama dengan taqiyyah (kedustaan). Wallaahu A&#8217;lam.</p>
<p>Sumber: Buletin Islam Al Ilmu,Jember Edisi 28/II/II/1425</p>
<br />Filed under: <a href='http://shirotholmustaqim.wordpress.com/category/aqidah/'>Aqidah</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/shirotholmustaqim.wordpress.com/2739/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/shirotholmustaqim.wordpress.com/2739/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/shirotholmustaqim.wordpress.com/2739/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/shirotholmustaqim.wordpress.com/2739/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/shirotholmustaqim.wordpress.com/2739/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/shirotholmustaqim.wordpress.com/2739/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/shirotholmustaqim.wordpress.com/2739/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/shirotholmustaqim.wordpress.com/2739/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/shirotholmustaqim.wordpress.com/2739/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/shirotholmustaqim.wordpress.com/2739/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/shirotholmustaqim.wordpress.com/2739/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/shirotholmustaqim.wordpress.com/2739/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/shirotholmustaqim.wordpress.com/2739/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/shirotholmustaqim.wordpress.com/2739/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shirotholmustaqim.wordpress.com&amp;blog=9822223&amp;post=2739&amp;subd=shirotholmustaqim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://shirotholmustaqim.wordpress.com/2012/01/04/syiah-dan-al-quran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">shirotholmustaqim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hukum Qunut Subuh</title>
		<link>http://shirotholmustaqim.wordpress.com/2012/01/04/hukum-qunut-subuh/</link>
		<comments>http://shirotholmustaqim.wordpress.com/2012/01/04/hukum-qunut-subuh/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Jan 2012 03:12:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>shirotholmustaqim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://shirotholmustaqim.wordpress.com/?p=2736</guid>
		<description><![CDATA[Penulis: Al Ustadz Abu Muhammad Dzulqarnain Pertanyaan : Salah satu masalah kontraversial di tengah masyarakat adalah qunut Shubuh. Sebagian menganggapnya sebagai amalan sunnah, sebagian lain menganggapnya pekerjaan bid&#8217;ah. Bagaimanakah hukum qunut Shubuh sebenarnya ? Jawab : Dalam masalah ibadah, menetapkan suatu amalan bahwa itu adalah disyariatkan (wajib maupun sunnah) terbatas pada adanya dalil dari Al-Qur&#8217;an [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shirotholmustaqim.wordpress.com&amp;blog=9822223&amp;post=2736&amp;subd=shirotholmustaqim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis: Al Ustadz Abu Muhammad Dzulqarnain</p>
<p>Pertanyaan :</p>
<p>Salah satu masalah kontraversial di tengah masyarakat adalah qunut Shubuh. Sebagian menganggapnya sebagai amalan sunnah, sebagian lain menganggapnya pekerjaan bid&#8217;ah. Bagaimanakah hukum qunut Shubuh sebenarnya ?</p>
<p>Jawab :</p>
<p>Dalam masalah ibadah, menetapkan suatu amalan bahwa itu adalah disyariatkan (wajib maupun sunnah) terbatas pada adanya dalil dari Al-Qur&#8217;an maupun As-sunnah yang shohih menjelaskannya. Kalau tidak ada dalil yang benar maka hal itu tergolong membuat perkara baru dalam agama (bid&#8217;ah), yang terlarang dalam syariat Islam sebagaimana dalam hadits Aisyah riwayat Bukhary-Muslim :</p>
<p>مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَد ٌّ. وَ فِيْ رِوَايَةِ مُسْلِمٍ : ((مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمُرُنَا فَهُوَ رَدَّ</p>
<p>&#8220;Siapa yang yang mengadakan hal baru dalam perkara kami ini (dalam Agama-pent.) apa yang sebenarnya bukan dari perkara maka hal itu adalah tertolak&#8221;. Dan dalam riwayat Muslim : &#8220;Siapa yang berbuat satu amalan yang tidak di atas perkara kami maka ia (amalan) adalah tertolak&#8221;.</p>
<p>Dan ini hendaknya dijadikan sebagai kaidah pokok oleh setiap muslim dalam menilai suatu perkara yang disandarkan kepada agama.</p>
<p>Setelah mengetahui hal ini, kami akan berusaha menguraikan pendapat-pendapat para ulama dalam masalah ini.</p>
<p>Uraian Pendapat Para Ulama</p>
<p>Ada tiga pendapat dikalangan para ulama, tentang disyariatkan atau tidaknya qunut Shubuh.</p>
<p>Pendapat pertama : Qunut shubuh disunnahkan secara terus-menerus, ini adalah pendapat Malik, Ibnu Abi Laila, Al-Hasan bin Sholih dan Imam Syafi&#8217;iy.</p>
<p>Pendapat kedua : Qunut shubuh tidak disyariatkan karena qunut itu sudah mansukh (terhapus hukumnya). Ini pendapat Abu Hanifah, Sufyan Ats-Tsaury dan lain-lainnya dari ulama Kufah.</p>
<p>Pendapat ketiga : Qunut pada sholat shubuh tidaklah disyariatkan kecuali pada qunut nazilah maka boleh dilakukan pada sholat shubuh dan pada sholat-sholat lainnya. Ini adalah pendapat Imam Ahmad, Al-Laits bin Sa&#8217;d, Yahya bin Yahya Al-Laitsy dan ahli fiqh dari para ulama ahlul hadits.<span id="more-2736"></span></p>
<p>Dalil Pendapat Pertama</p>
<p>Dalil yang paling kuat yang dipakai oleh para ulama yang menganggap qunut subuh itu sunnah adalah hadits berikut ini :</p>
<p>مَا زَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ يَقْنُتُ فِيْ صَلاَةِ الْغَدَاةِ حَتَّى فَارَقَ الدُّنْيَا</p>
<p>&#8220;Terus-menerus Rasulullah shollallahu &#8216;alaihi wa a lihi wa sallam qunut pada sholat Shubuh sampai beliau meninggalkan dunia&#8221;.</p>
<p>Dikeluarkan oleh &#8216;Abdurrozzaq dalam Al Mushonnaf 3/110 no.4964, Ahmad 3/162, Ath-Thoh awy dalam Syarah Ma&#8217;ani Al Atsar 1/244, Ibnu Syahin dalam Nasikhul Hadits Wamansukhih no.220, Al-Ha kim dalam kitab Al-Arba&#8217;in sebagaimana dalam Nashbur Royah 2/132, Al-Baihaqy 2/201 dan dalam Ash-Shugro 1/273, Al-Baghawy dalam Syarhus Sunnah 3/123-124 no.639, Ad-Daruquthny dalam Sunannya 2/39, Al-Maqdasy dalam Al-Mukhtaroh 6/129-130 no.2127, Ibnul Jauzy dalam At-Tahqiq no.689-690 dan dalam Al-&#8217;Ilal Al-Mutanahiyah no.753 dan Al-Khatib Al-Baghdady dalam Mudhih Auwan Al Jama&#8217; wat Tafr iq 2/255 dan dalam kitab Al-Qunut sebagaimana dalam At-Tahqiq 1/463.</p>
<p>Semuanya dari jalan Abu Ja&#8217;far Ar-Rozy dari Ar-Robi&#8217; bin Anas dari Anas bin Malik.</p>
<p>Hadits ini dishohihkan oleh Muhammad bin &#8216;Ali Al-Balkhy dan Al-Hakim sebagaimana dalam Khulashotul Badrul Munir 1/127 dan disetujui pula oleh Imam Al-Baihaqy. Namun Imam Ibnu Turkumany dalam Al-Jauhar An-Naqy berkata : &#8220;Bagaimana bisa sanadnya menjadi shohih sedang rowi yang meriwayatkannya dari Ar-Rob i&#8217; bin Anas adalah Abu Ja&#8217;far &#8216;Isa bin Mahan Ar-Rozy mutakallamun fihi (dikritik)&#8221;. Berkata Ibnu Hambal dan An-Nasa`i : &#8220;Laysa bil qowy (bukan orang yang kuat)&#8221;. Berkata Abu Zur&#8217;ah : &#8221; Yahimu katsiran (Banyak salahnya)&#8221;. Berkata Al-Fallas : &#8220;Sayyi`ul hifzh (Jelek hafalannya)&#8221;. Dan berkata Ibnu Hibban : &#8220;Dia bercerita dari rowi-rowi yang masyhur hal-hal yang mungkar&#8221;.&#8221;</p>
<p>Dan Ibnul Qoyyim dalam Zadul Ma&#8217;ad jilid I hal.276 setelah menukil suatu keterangan dari gurunya Ibnu Taimiyah tentang salah satu bentuk hadits mungkar yang diriwayatkan oleh Abu Ja&#8217;far Ar-Rozy, beliau berkata : &#8220;Dan yang dimaksudkan bahwa Abu Ja&#8217;far Ar-R ozy adalah orang yang memiliki hadits-hadits yang mungkar, sama sekali tidak dipakai berhujjah oleh seorang pun dari para ahli hadits periwayatan haditsnya yang ia bersendirian dengannya&#8221;.</p>
<p>Dan bagi siapa yang membaca keterangan para ulama tentang Abu Ja&#8217;far Ar-R ozy ini, ia akan melihat bahwa kritikan terhadap Abu Ja&#8217;far ini adalah Jarh mufassar (Kritikan yang jelas menerangkan sebab lemahnya seorang rawi). Maka apa yang disimpulkan oleh Ibnu Hajar dalam Taqrib-Tahdzib sudah sangat tepat. Beliau berkata : &#8220;Shoduqun sayi`ul hifzh khususon &#8216;anil Mughiroh (Jujur tapi jelek hafalannya, terlebih lagi riwayatnya dari Mughirah).</p>
<p>Maka Abu Ja&#8217;far ini lemah haditsnya dan hadits qunut subuh yang ia riwayatkan ini adalah hadits yang lemah bahkan hadits yang mungkar.</p>
<p>Dihukuminya hadits ini sebagai hadits yang mungkar karena 2 sebab :</p>
<p>Satu : Makna yang ditunjukkan oleh hadits ini bertentangan dengan hadits shohih yang menunjukkan bahwa Nabi shollallahu &#8216;alaihi wa alihi wa sallam tidak melakukan qunut kecuali qunut nazilah, sebagaimana dalam hadits Anas bin Malik :</p>
<p>أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ كَانَ لاَ يَقْنُتُ إِلاَّ إِذَا دَعَا لِقَوْمٍ أَوْ عَلَى قَوْمٍ</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya Nabi shollallahu &#8216;alaihi wa a lihi wa sallam tidak melakukan qunut kecuali bila beliau berdo&#8217;a untuk (kebaikan) suatu kaum atau berdo&#8217;a (kejelekan atas suatu kaum)&#8221; . Dikeluarkan oleh Ibnu Khuzaimah 1/314 no. 620 dan dan Ibnul Jauzi dalam At-Tahqiq 1/460 dan dishahihkan oleh Syeikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 639.</p>
<p>Kedua : Adanya perbedaan lafazh dalam riwayat Abu Ja&#8217;far Ar-Rozy ini sehingga menyebabkan adanya perbedaan dalam memetik hukum dari perbedaan lafazh tersebut dan menunjukkan lemahnya dan tidak tetapnya ia dalam periwayatan. Kadang ia meriwayatkan dengan lafazh yang disebut di atas dan kadang meriwayatkan dengan lafazh :</p>
<p>أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَنَتَ فٍي الْفَجْرِ</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya Nabi shollahu &#8216;alahi wa alihi wa sallam qunut pada shalat Subuh&#8221;.</p>
<p>Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushonnaf 2/104 no.7003 (cet. Darut Taj) dan disebutkan pula oleh imam Al Maqdasy dalam Al Mukhtarah 6/129.</p>
<p>emudian sebagian para &#8216;ulama syafi&#8217;iyah menyebutkan bahwa hadits ini mempunyai beberapa jalan-jalan lain yang menguatkannya, maka mari kita melihat jalan-jalan tersebut :</p>
<p>Jalan Pertama : Dari jalan Al-Hasan Al-Bashry dari Anas bin Malik, beliau berkata :</p>
<p>قَنَتَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَأَبُوْ بَكْرٍ وَعُمْرَ وَعُثْمَانَ وَأَحْسِبُهُ وَرَابِعٌ حَتَّى فَارَقْتُهُمْ</p>
<p>&#8220;Rasulullah Shollallahu &#8216;alaihi wa alihi wa Sallam, Abu Bakar, &#8216;Umar dan &#8216;Utsman, dan saya (rawi) menyangka &#8220;dan keempat&#8221; sampai saya berpisah denga mereka&#8221;.</p>
<p>Hadits ini diriwayatkan dari Al Hasan oleh dua orang rawi :</p>
<p>Pertama : &#8216;Amru bin &#8216;Ubaid. Dikeluarkan oleh Ath-Thohawy dalam Syarah Ma&#8217;ani Al Atsar 1/243, Ad-Daraquthny 2/40, Al Baihaqy 2/202, Al Khatib dalam Al Qunut dan dari jalannya Ibnul Jauzy meriwayatkannya dalam At-Tahqiq no.693 dan Adz-Dzahaby dalam Tadzkiroh Al Huffazh 2/494. Dan &#8216;Amru bin &#8216;Ubaid ini adalah gembong kelompok sesat Mu&#8217;tazilah dan dalam periwayatan hadits ia dianggap sebagai rawi yang matrukul hadits (ditinggalkan haditsnya).</p>
<p>Kedua : Isma&#8217;il bin Muslim Al Makky, dikeluarkan oleh Ad-Da raquthny dan Al Baihaqy. Dan Isma&#8217;il ini dianggap matrukul hadits oleh banyak orang imam. Baca : Tahdzibut Tahdzib.</p>
<p>Catatan :</p>
<p>Berkata Al Hasan bin Sufyan dalam Musnadnya : Menceritakan kepada kami Ja&#8217;far bin Mihr on, (ia berkata) menceritakan kepada kami &#8216;Abdul Warits bin Sa&#8217;id, (ia berkata) menceritakan kepada kami Auf dari Al Hasan dari Anas beliau berkata :</p>
<p>صَلَّيْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يَزَلْ يَقْنُتُ فِيْ صَلاَةِ الْغَدَاةِ حَتَّى فَارَقْتُهُ</p>
<p>&#8220;Saya sholat bersama Rasulullah Shollallahu &#8216;alaihi wa alihi wa Sallam maka beliau terus-menerus qunut pada sholat Subuh sampai saya berpisah dengan beliau&#8221;.</p>
<p>Riwayat ini merupakan kekeliruan dari Ja&#8217;far bin Mihron sebagaimana yang dikatakan oleh imam Adz-Dzahaby dalam Mizanul I&#8217;tidal 1/418. Karena &#8216;Abdul Warits tidak meriwayatkan dari Auf tapi dari &#8216;Amru bin &#8216;Ubeid sebagaiman dalam riwayat Abu &#8216;Umar Al Haudhy dan Abu Ma&#8217;mar – dan beliau ini adalah orang yang paling kuat riwayatnya dari &#8216;Abdul Warits-.</p>
<p>Jalan kedua : Dari jalan Khalid bin Da&#8217;laj dari Qotadah dari Anas bin M alik :</p>
<p>صَلَّيْتُ خَلْفَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَخَلْفَ عُمَرَ فَقَنَتَ وَخَلْفَ عُثْمَانَ فَقَنَتَ</p>
<p>&#8220;Saya sholat di belakang Rasulullah shollallahu &#8216;alaihi wa alihi wa sallam lalu beliau qunut, dan dibelakang &#8216;umar lalu beliau qunut dan di belakang &#8216;Utsman lalu beliau qunut&#8221;.</p>
<p>Dikeluarkan oleh Al Baihaqy 2/202 dan Ibnu Syahin dalam Nasikhul Hadi ts wa Mansukhih no.219. Hadits di atas disebutkan oleh Al Baihaqy sebagai pendukung untuk hadits Abu Ja&#8217;far Ar-Rozy tapi Ibnu Turkumany dalam Al Jauhar An Naqy menyalahkan hal tersebut, beliau berkata : &#8220;Butuh dilihat keadaan Khalid apakah bisa dipakai sebagai syahid (pendukung) atau tidak, karena Ibnu Hambal, Ibnu Ma&#8217;in dan Ad-Daruquthny melemahkannya dan Ibnu Ma&#8217; in berkata di (kesempatan lain) : laisa bi syay`in (tidak dianggap) dan An-Nasa`i berkata : laisa bi tsiqoh (bukan tsiqoh). Dan tidak seorangpun dari pengarang Kutubus Sittah yang mengeluarkan haditsnya. Dan dalam Al-Mizan, Ad Daraquthny mengkategorikannya dalam rowi-rowi yang matruk.</p>
<p>Kemudian yang aneh, di dalam hadits Anas yang lalu, perkataannya &#8220;Terus-menerus beliau qunut pada sholat Subuh hingga beliau meninggalkan dunia&#8221;, itu tidak terdapat dalam hadits Khal id. Yang ada hanyalah &#8220;beliau (nabi) &#8216;alaihis Salam qunut&#8221;, dan ini adalah perkara yang ma&#8217;ruf (dikenal). Dan yang aneh hanyalah terus-menerus melakukannya sampai meninggal dunia. Maka di atas anggapan dia cocok sebagai pendukung, bagaimana haditsnya bisa dijadikan sebagai syahid (pendukung)&#8221;.</p>
<p>Jalan ketiga : Dari jalan Ahmad bin Muhammad dari Dinar bin &#8216;Abdillah dari Anas bin Malik :</p>
<p>مَا زَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ يَقْنُتُ فِيْ صَلاَةِ الْصُبْحِ حَتَّى مَاتَ</p>
<p>&#8220;Terus-menerus Rasulullah Shollallahu &#8216;alaihi wa a lihi wa Sallam qunut pada sholat Subuh sampai beliau meninggal&#8221;.</p>
<p>Dikeluarkan oleh Al Khatib dalam Al Qunut dan dari jalannya, Ibnul Jauzy dalam At-Tahq iq no. 695.</p>
<p>Ahmad bin Muhammad yang diberi gelar dengan nama Ghulam Khalil adalah salah seorang pemalsu hadits yang terkenal. Dan Dinar bin &#8216;Abdillah, kata Ibnu &#8216;Ady : &#8220;Mungkarul hadits (Mungkar haditsnya)&#8221;. Dan berkata Ibnu Hibba n : &#8220;Ia meriwayatkan dari Anas bin Malik perkara-perkara palsu, tidak halal dia disebut di dalam kitab kecuali untuk mencelanya&#8221;.</p>
<p>Kesimpulan pendapat pertama:</p>
<p>Jelaslah dari uraian diatas bahwa seluruh dalil-dalil yang dipakai oleh pendapat pertama adalah hadits yang lemah dan tidak bisa dikuatkan.</p>
<p>Kemudian anggaplah dalil mereka itu shohih bisa dipakai berhujjah, juga tidak bisa dijadikan dalil akan disunnahkannya qunut subuh secara terus-menerus, sebab qunut itu secara bahasa mempunyai banyak pengertian. Ada lebih dari 10 makna sebagaimana yang dinukil oleh Al-Hafidh Ibnu Hajar dari Al-Iraqi dan Ibnul Arabi.</p>
<p>1) Doa</p>
<p>2) Khusyu&#8217;</p>
<p>3) Ibadah</p>
<p>4) Taat</p>
<p>5) Menjalankan ketaatan.</p>
<p>6) Penetapan ibadah kepada Allah</p>
<p>7) Diam</p>
<p>8) Shalat</p>
<p>9) Berdiri</p>
<p>10) Lamanya berdiri</p>
<p>11) Terus menerus dalam ketaatan</p>
<p>Dan ada makna-makna yang lain yang dapat dilihat dalam Tafsir Al-Qurthubi 2/1022, Mufradat Al-Qur&#8217;an karya Al-Ashbahany hal. 428 dan lain-lain.</p>
<p>Maka jelaslah lemahnya dalil orang yang menganggap qunut subuh terus-menerus itu sunnah.</p>
<p>Dalil Pendapat Kedua</p>
<p>Mereka berdalilkan dengan hadits Abu Hurairah riwayat Bukhary-Muslim :</p>
<p>كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ حِيْنَ يَفْرَغُ مِنْ صَلاَةِ الفَجْرِ مِنَ الْقِرَاءَةِ وَيُكَبِّرُ وَيَرْفَعُ رَأْسَهُ سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ ثُمَّ يَقُوْلُ وَهُوَ قَائِمٌ اَللَّهُمَّ أَنْجِ اَلْوَلِيْدَ بْنَ الْوَلِيْدِ وَسَلَمَةَ بْنَ هِشَامٍ وَعَيَّاشَ بْنَ أَبِيْ رَبِيْعَةَ وَالْمُسْتَضْعَفِيْنَ مِنَ الْمُُؤْمِنِيْنَ اَللَّهُمَّ اشْدُدْ وَطْأَتَكَ عَلَى مُضَرَ وَاجْعَلْهَا عَلَيْهِمْ كَسِنِيْ يُوْسُفَ اَللَّهُمَّ الْعَنْ لِحْيَانَ وَرِعْلاً وَذَكْوَانَ وَعُصَيَّةَ عَصَتِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ ثُمَّ بَلَغَنَا أَنَهُ تَرَكَ ذَلِكَ لَمَّا أَنْزَلَ : (( لَيْسَ لَكَ مِنَ الأَمْرِ شَيْءٌ أَوْ يَتُوْبَ عَلَيْهِمْ أَوْ يُعَذِّبَهُمْ فَإِنَّهُمْ ظَالِمُوْنَ ))</p>
<p>&#8220;Adalah Rasulullah shollallahu &#8216;alaihi wa alihi wa sallam ketika selesai membaca (surat dari rakaat kedua) di shalat Fajr dan kemudian bertakbir dan mengangkat kepalanya (I&#8217;tidal) berkata : &#8220;Sami&#8217;allahu liman hamidah rabbana walakal hamdu, lalu beliau berdoa dalaam keadaan berdiri. &#8220;Ya Allah selamatkanlah Al-Walid bin Al-Walid, Salamah bin Hisyam, &#8216;Ayyasy bin Abi Rabi&#8217;ah dan orang-orang yang lemah dari kaum mu`minin. Ya Allah keraskanlah pijakan-Mu (adzab-Mu) atas kabilah Mudhar dan jadianlah atas mereka tahun-tahun (kelaparan) seperti tahun-tahun (kelaparan yang pernah terjadi pada masa) Nabi Yusuf. Wahai Allah, laknatlah kabilah Lihyan, Ri&#8217;lu, Dzakw an dan &#8216;Ashiyah yang bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya. Kemudian sampai kepada kami bahwa beliau meningalkannya tatkala telah turun ayat : &#8220;Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima taubat mereka, atau mengazab mereka, karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim&#8221;. (HSR.Bukhary-Muslim)</p>
<p>Berdalilkan dengan hadits ini menganggap mansukh-nya qunut adalah pendalilan yang lemah karena dua hal :</p>
<p>Pertama : ayat tersebut tidaklah menunjukkan mansukh-nya qunut sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Al-Qurthuby dalam tafsirnya, sebab ayat tersebut hanyalah menunjukkan peringatan dari Allah bahwa segala perkara itu kembali kepada-Nya. Dialah yang menentukannya dan hanya Dialah yang mengetahui perkara yang ghoib.</p>
<p>Kedua : Diriwayatkan oleh Bukhary – Muslim dari Abu Hurairah, beliau berkata :</p>
<p>وَاللهِ لَأَقْرَبَنَّ بِكُمْ صَلاَةَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ فَكَانَ أَبُوْ هُرَيْرَةَ يَقْنُتُ فِي الظُّهْرِ وَالْعِشَاءِ الْآخِرَةِ وَصَلاَةِ الْصُبْحِ وَيَدْعُوْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَيَلْعَنُ الْكُفَّارَ.</p>
<p>Dari Abi Hurairah radliyallahu `anhu beliau berkata : &#8220;Demi Allah, sungguh saya akan mendekatkan untuk kalian cara shalat Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wa sallam. Maka Abu Hurairah melakukan qunut pada shalat Dhuhur, Isya&#8217; dan Shubuh. Beliau mendoakan kebaikan untuk kaum mukminin dan memintakan laknat untuk orang-orang kafir&#8221;.</p>
<p>Ini menunjukkan bahwa qunut nazilah belum mansu kh. Andaikata qunut nazilah telah mansukh tentunya Abu Hurairah tidak akan mencontohkan cara sholat Nabi shallallahu `alaihi wa alihi wa sallam dengan qunut nazilah .</p>
<p>Dalil Pendapat Ketiga</p>
<p>Satu : Hadits Sa&#8217;ad bin Thoriq bin Asyam Al-Asyja&#8217;i</p>
<p>قُلْتُ لأَبِيْ : &#8220;يَا أَبَتِ إِنَّكَ صَلَّيْتَ خَلْفَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وآله وسلم وَأَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيَ رَضِيَ الله عَنْهُمْ هَهُنَا وَبِالْكُوْفَةِ خَمْسَ سِنِيْنَ فَكَانُوْا بَقْنُتُوْنَ فيِ الفَجْرِ&#8221; فَقَالَ : &#8220;أَيْ بَنِيْ مُحْدَثٌ&#8221;.</p>
<p>&#8220;Saya bertanya kepada ayahku : &#8220;Wahai ayahku, engkau sholat di belakang Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wa sallam dan di belakang Abu Bakar, &#8216;Umar, &#8216;Utsman dan &#8216;Ali radhiyallahu &#8216;anhum di sini dan di Kufah selama 5 tahun, apakah mereka melakukan qunut pada sholat subuh ?&#8221;. Maka dia menjawab : &#8220;Wahai anakku hal tersebut (qunut subuh) adalah perkara baru (bid&#8217;ah)&#8221;. Dikeluarkan oleh Tirmidzy no. 402, An-Nasa`i no.1080 dan dalam Al-Kubro no.667, Ibnu Majah no.1242, Ahmad 3/472 dan 6/394, Ath-Thoy alisy no.1328, Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushonnaf 2/101 no.6961, Ath-Thohawy 1/249, Ath-Thobarany 8/no.8177-8179, Ibnu Hibban sebagaimana dalam Al-Ihs an no.1989, Baihaqy 2/213, Al-Maqdasy dalam Al-Mukhtarah 8/97-98, Ibnul Jauzy dalam At-Tahqiq no.677-678 dan Al-Mizzy dalam Tahdzibul Kam al dan dishohihkan oleh syeikh Al-Albany dalam Irwa`ul Gholil no.435 dan syeikh Muqbil dalam Ash-Shohih Al-Musnad mimma laisa fi Ash-Shoh ihain.</p>
<p>Dua : Hadits Ibnu &#8216;Umar</p>
<p>عَنْ أَبِيْ مِجْلَزِ قَالَ : &#8220;صَلَّيْتُ مَعَ اِبْنِ عُمَرَ صَلاَةَ الصُّبْحِ فَلَمْ يَقْنُتْ&#8221;. فَقُلْتُ : &#8220;آلكِبَرُ يَمْنَعُكَ&#8221;, قَالَ : &#8220;مَا أَحْفَظُهُ عَنْ أَحَدٍ مِنْ أَصْحَابِيْ&#8221;.</p>
<p>&#8221; Dari Abu Mijlaz beliau berkata : saya sholat bersama Ibnu &#8216;Umar sholat shubuh lalu beliau tidak qunut. Maka saya berkata : apakah lanjut usia yang menahanmu (tidak melakukannya). Beliau berkata : saya tidak menghafal hal tersebut dari para shahabatku&#8221;. Dikeluarkan oleh Ath-Thohawy 1246, Al-Baihaqy 2213 dan Ath-Thabarany sebagaimana dalam Majma&#8217; Az-Zawa&#8217;id 2137 dan Al-Haitsamy berkata :&#8221;rawi-rawinya tsiqoh&#8221;.</p>
<p>Ketiga : tidak ada dalil yang shohih menunjukkan disyari&#8217;atkannya mengkhususkan qunut pada sholat shubuh secara terus-menerus.</p>
<p>Keempat : qunut shubuh secara terus-menerus tidak dikenal dikalangan para shahabat sebagaimana dikatakan oleh Ibnu &#8216;Umar diatas, bahkan syaikul islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu&#8217; Al-Fatawa berkata : &#8220;dan demikian pula selain Ibnu &#8216;Umar dari para shahabat, mereka menghitung hal tersebut dari perkara-perkara baru yang bid&#8217;ah&#8221;.</p>
<p>Kelima : nukilan-nukilan orang-orang yang berpendapat disyari&#8217;atkannya qunut shubuh dari beberapa orang shahabat bahwa mereka melakukan qunut, nukilan-nukilan tersebut terbagi dua :</p>
<p>1) Ada yang shohih tapi tidak ada pendalilan dari nukilan-nukilan tersebut.</p>
<p>2) Sangat jelas menunjukkan mereka melakukan qunut shubuh tapi nukilan tersebut adalah lemah tidak bisa dipakai berhujjah.</p>
<p>Keenam: setelah mengetahui apa yang disebutkan diatas maka sangatlah mustahil mengatakan bahwa disyari&#8217;atkannya qunut shubuh secara terus-menerus dengan membaca do&#8217;a qunut &#8220;Allahummahdinaa fi man hadait…….sampai akhir do&#8217;a kemudian diaminkan oleh para ma&#8217;mum, andaikan hal tersebut dilakukan secara terus menerus tentunya akan dinukil oleh para shahabat dengan nukilan yang pasti dan sangat banyak sebagaimana halnya masalah sholat karena ini adalah ibadah yang kalau dilakukan secara terus menerus maka akan dinukil oleh banyak para shahabat. Tapi kenyataannya hanya dinukil dalam hadits yang lemah.</p>
<p>Demikian keterangan Imam Ibnul qoyyim Al-Jauziyah dalam Z adul Ma&#8217;ad.</p>
<p>Kesimpulan</p>
<p>Jelaslah dari uraian di atas lemahnya dua pendapat pertama dan kuatnya dalil pendapat ketiga sehinga memberikan kesimpulan pasti bahwa qunut shubuh secara terus-menerus selain qunut nazilah adalah bid&#8217;ah tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah dan para shahabatnya. Wallahu a&#8217;lam.</p>
<p>Silahkan lihat permasalahan ini dalam Tafsir Al Qurthuby 4/200-201, Al Mughny 2/575-576, Al-Inshof 2/173, Syarh Ma&#8217;any Al-Atsar 1/241-254, Al-Ifshoh 1/323, Al-Majmu&#8217; 3/483-485, Hasyiyah Ar-Raud Al Murbi&#8217; : 2/197-198, Nailul Author 2/155-158 (Cet. Darul Kalim Ath Thoyyib), Majm u&#8217; Al Fatawa 22/104-111 dan Zadul Ma&#8217;ad 1/271-285.</p>
<p>www.an-nashihah.com</p>
<br />Filed under: <a href='http://shirotholmustaqim.wordpress.com/category/fiqh/'>Fiqh</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/shirotholmustaqim.wordpress.com/2736/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/shirotholmustaqim.wordpress.com/2736/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/shirotholmustaqim.wordpress.com/2736/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/shirotholmustaqim.wordpress.com/2736/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/shirotholmustaqim.wordpress.com/2736/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/shirotholmustaqim.wordpress.com/2736/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/shirotholmustaqim.wordpress.com/2736/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/shirotholmustaqim.wordpress.com/2736/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/shirotholmustaqim.wordpress.com/2736/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/shirotholmustaqim.wordpress.com/2736/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/shirotholmustaqim.wordpress.com/2736/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/shirotholmustaqim.wordpress.com/2736/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/shirotholmustaqim.wordpress.com/2736/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/shirotholmustaqim.wordpress.com/2736/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shirotholmustaqim.wordpress.com&amp;blog=9822223&amp;post=2736&amp;subd=shirotholmustaqim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://shirotholmustaqim.wordpress.com/2012/01/04/hukum-qunut-subuh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">shirotholmustaqim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pengepungan dan syahidnya Utsman</title>
		<link>http://shirotholmustaqim.wordpress.com/2012/01/04/pengepungan-dan-syahidnya-utsman/</link>
		<comments>http://shirotholmustaqim.wordpress.com/2012/01/04/pengepungan-dan-syahidnya-utsman/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Jan 2012 02:56:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>shirotholmustaqim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Khilafah Islamiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://shirotholmustaqim.wordpress.com/?p=2732</guid>
		<description><![CDATA[Pengepungan terhadap Utsman pada awalnya tidak begitu ketat, sehingga beliau masih bisa keluar dan mengimami shalat serta khutbah Jum&#8217;at. Pada suatu hari ketika beliau sedang berkhutbah, berdirilah seorang yang bernama Jahjah dan merebut tongkat yang beliau gunakan untuk bersandar ketika berkhutbah -tongkat yang beliau gunakan adalah tongkat peninggalan Rasulullah r&#8211; Kemudian dia patahkan tongkat itu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shirotholmustaqim.wordpress.com&amp;blog=9822223&amp;post=2732&amp;subd=shirotholmustaqim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pengepungan terhadap Utsman pada awalnya tidak begitu ketat, sehingga beliau masih bisa keluar dan mengimami shalat serta khutbah Jum&#8217;at. Pada suatu hari ketika beliau sedang berkhutbah, berdirilah seorang yang bernama Jahjah dan merebut tongkat yang beliau gunakan untuk bersandar ketika berkhutbah -tongkat yang beliau gunakan adalah tongkat peninggalan Rasulullah r&#8211; Kemudian dia patahkan tongkat itu dengan lututnya, sehingga ada serpihan kayu yang masuk ke lututnya. Hal ini menyebabkan dia tertimpa penyakit Akilah (1) Kemudian terjadilah saling lempar-melempar batu diantara manusia. Utsman pun tidak luput dari Iemparan, sehingga beliau jatuh pingsan lalu dibawa ke rumahnya.</p>
<p>Semenjak itulah, pengepungan semakin ketat. Mereka melarangnya untuk mengimami di Masjid (Nabawi) yang pernah beliau perluas dengan menggunakan hartanya sendiri. Bahkan mereka melarang beliau untuk minum dari air sumur Rumah yang jernih airnya. Padahal beliaulah yang membeli sumur itu lalu mewakafkannya untuk kepentingan kaum muslimin.</p>
<p>Maka Utsman hanya shalat di rumahnya dan minum dari sumur yang ada di rumahnya (yang airnya asin seperti air laut).<span id="more-2732"></span></p>
<p>Yang menjadi imam Masjid Nabawi pada waktu itu adalah salah seorang penggerak fitnah. Hal ini sebagaimana telah disebutkan dalam riwayat yang shahih. Walaupun demikian, Utsman tetap menganjurkan kepada kaum muslimin untuk tetap shalat dibelakangnya. Utsman berkata: &#8220;Sesungguhnya amalan yang paling baik yang dilakukan oleh manusia adalah shalat. Hal ini menunjukkan betapa ambisi Utsman untuk tetap menjaga persatuan kaum muslimin dan menunjukkan bahwa dia masih menganggap pengepungnyadalah sebagai kaum muslimin, bukan orang-orang kafir.</p>
<p>Ketika para shahabat -semoga Allah meridhoi mereka semuanya- melihat kenyataan ini, mereka khawatir kalau-kalau akan timbul akibat yang lebih buruk. Maka mereka menawarkan bantuan kepada Utsman untuk membela dan melindunginya serta mengusir para pemberontak dari Madinah. Akan tetapi Utsman menolak semua tawaran itu.</p>
<p>Zaid bin Tsabit bcrkata kepadanya : &#8220;Para Anshor telah berdiri dipintumu, jika engkau mau, maka kami akan menjadi pembela Allah dua kali&#8221;.</p>
<p>Abu Hurairah datang dengan menghunus pedangnya dan dia berkata : “Sekarang telah datang saatnya untuk berperang&#8221;.</p>
<p>Abdullah bin Zubair datang dan merayu Utsman untuk mengizinkannya dengan mengatakan : &#8220;Wahai Amirul Mukminin, sungguh telah ada sekelompok orang yang memiliki bashirah bersamamu. Allah pasti menolong kita walaupun jumlah kita lebih sedikit, izinkanlah kami!&#8221;.</p>
<p>Ayahnya, yaitu Az Zubair mengirim utusan kepada kholifah (Utsman) untuk menawarkan bantuan yaitu penggalangan massa dan masuk ke rumah beliau.</p>
<p>Akan tetapi Utsman tetap menolak semua tawaran itu. Alasan beliau (dalam menolak tawaran ini) ada beberapa poin :</p>
<p>Dia (Utsman) mengatakan : &#8220;Aku tidak ingin menjadi pengganti Rasulullah yang pertama kali menumpahkan darah di tengah-tengah umatnya&#8221;.</p>
<p>Dia mengetahui bahwa para pengepungnya tidaklah menginginkan kecuali dirinya.</p>
<p>Dia berkeinginan untuk bersabar, karena dia yakin berada di pihak yang benar. Sehingga kelak di hadapan Allah Ta&#8217;ala dia memiliki hujjah yang mantap.</p>
<p>Dia mengatakan : &#8220;Sesungguhnya Nabi telah mengambil janji dariku, maka aku bersabar dalam memenuhi janji ini&#8221;.</p>
<p>Sumber : Tragedi Terbunuhnya Utsman bin Affan<br />
Penulis : Al Qodhi Abu Ya’la</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p>(1) Suatu penyakit yang apabila menimpa seseorang pada salah satu anggota tubuhnya, maka akan cepat menjalar ke seluruh tubuh hingga mati.</p>
<br />Filed under: <a href='http://shirotholmustaqim.wordpress.com/category/khilafah-islamiyah/'>Khilafah Islamiyah</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/shirotholmustaqim.wordpress.com/2732/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/shirotholmustaqim.wordpress.com/2732/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/shirotholmustaqim.wordpress.com/2732/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/shirotholmustaqim.wordpress.com/2732/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/shirotholmustaqim.wordpress.com/2732/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/shirotholmustaqim.wordpress.com/2732/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/shirotholmustaqim.wordpress.com/2732/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/shirotholmustaqim.wordpress.com/2732/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/shirotholmustaqim.wordpress.com/2732/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/shirotholmustaqim.wordpress.com/2732/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/shirotholmustaqim.wordpress.com/2732/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/shirotholmustaqim.wordpress.com/2732/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/shirotholmustaqim.wordpress.com/2732/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/shirotholmustaqim.wordpress.com/2732/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shirotholmustaqim.wordpress.com&amp;blog=9822223&amp;post=2732&amp;subd=shirotholmustaqim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://shirotholmustaqim.wordpress.com/2012/01/04/pengepungan-dan-syahidnya-utsman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">shirotholmustaqim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pergerakan ahlul fitnah dan sikap Utsman terhadap mereka</title>
		<link>http://shirotholmustaqim.wordpress.com/2011/12/13/pergerakan-ahlul-fitnah-dan-sikap-utsman-terhadap-mereka/</link>
		<comments>http://shirotholmustaqim.wordpress.com/2011/12/13/pergerakan-ahlul-fitnah-dan-sikap-utsman-terhadap-mereka/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Dec 2011 06:32:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>shirotholmustaqim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Khilafah Islamiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://shirotholmustaqim.wordpress.com/?p=2725</guid>
		<description><![CDATA[Pada tahun 33 H, sebagian penduduk Kufah, yang tersohor adalah Al Asytar an Nakho&#8217;i, Kumail bin Ziyad, Amr bin al Hamiq al Khuzaai dan Sho&#8217;shoah bin Shouhan berbicara di hadapan Al Qurro&#8217; (golongan kedua) dan pemuka masyarakat dengan pembicaraan yang sangat jelek dan keji yang berisikan celaan terhadap Utsman serta celaan terhadap kebijakan dan sistem [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shirotholmustaqim.wordpress.com&amp;blog=9822223&amp;post=2725&amp;subd=shirotholmustaqim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada tahun 33 H, sebagian penduduk Kufah, yang tersohor adalah Al Asytar an Nakho&#8217;i, Kumail bin Ziyad, Amr bin al Hamiq al Khuzaai dan Sho&#8217;shoah bin Shouhan berbicara di hadapan Al Qurro&#8217; (golongan kedua) dan pemuka masyarakat dengan pembicaraan yang sangat jelek dan keji yang berisikan celaan terhadap Utsman serta celaan terhadap kebijakan dan sistem pemerintahan yang dijalankannya. Mereka pun mencela gubernur Kufah, dengan anggapan bahwa tindakan tersebut adalah amar ma&#8217;ruf nahi munkar. Karena inilah mereka diusir oleh Utsman ke Syam. Di Syam inilah mereka mulai menulis surat kepada orang-orang yang sepaham dengan mereka, baik yang berada di Bashrah, Mesir maupun Kufah.</p>
<p>Akibatnya gubernur Kufah yaitu Sa&#8217;id bin Al &#8216;Ash diusir oleh penduduknya. Al Asytar berkata : &#8220;Demi Allah, dia (Sa&#8217;id bin Al Ash) tidak akan bisa masuk ke Kufah selama pedang-pedang kami masih terhunus.&#8221; Kemudian mereka menunjuk gubernur sendiri, yaitu Abu Musa Al &#8216;Asyari yang kemudian disetujui oleh khalifah Utsman.</p>
<p>Pada musim haji tahun 35 H, datang utusan dari penduduk Kufah, Bashrah dan Mesir.Mereka menuntut beberapa hal dari Utsman, kesemuanya berkisar tentang harta. Hal ini juga pernah mereka tuntutkan kepada Umar, akan tetapi beliau menolaknya. Ada sebuah riwayat yang shahih yang menceritakan, pada saat Utsman dikepung, dia berkata :Adakah di tengah-tengah kalian dua putra Mahduuj? Demi Allah bukankah kalian berdua mengetahui bahwa Umar telah berkata : &#8220;Sesungguhnya Rabi&#8217;ah adalah orang fajir dan pengkhianat, demi Allah aku tidak akan menyamakan pemberian gaji dirinya dengan yang lainnya&#8230;..”</p>
<p>Kemudian Utsman berkata : &#8220;Bukankah beberapa waktu yang lalu aku telah menambah bagian kalian lima ratus, sehingga bagian kalian sama?&#8221; Maka mereka menjawab : &#8220;Benar.” Kemudian Utsman mengingatkan mereka bahwa dia telah menuruti permintaan mereka untuk memberhentikan gubernurnya dan menggantinya sesuai dengan keinginan mereka. Mereka pun mengatakan : “Ya, benar&#8221;. Maka Utsman berdoa : “Ya, Allah, seandainya mereka mengingkari dan mengkufuri perbuatan baikku, maka jangan sekali-kali Engkau jadikan mereka ridha terhadap setiap pemimpin mereka dan jangan sekali-kali Engkau jadikan pemimpinnya ridha terhadap mereka&#8221;.(1)<span id="more-2725"></span></p>
<p>Bukti yang memperkuat bahwa tidak lain permintaan mereka kecuali harta yaitu sebuah atsar yang diriwiyatkan oleh Imam Ahmad dengan sanad yang shahih dari Ibnu Umar, beliau berkata : &#8220;Telah datang kepadaku seorang Anshor (penduduk Madinah) kelihatannya dia termasuk orang yang banyak ibadahnya, penghafal Al-Qur&#8217;an pada zaman Utsman. Kemudian dia berkata kepadaku, dengan perkataan yang panjang lebar, yang intinya menyuruhku untuk mencela Utsman. Maka setelah perkataannya selesai, aku katakan :Sesungguhnya kami (para shahabat) semasa Rasulullah masih hidup selalu mengatakan, orang yang paling utama dari umat Rasulullah setelah beliau adalah Abu Bakar, kemudian Umar lalu Utsman. Demi Allah kami tidak mengetahui kalau Utsman membunuh tanpa alasan yang dibenarkan atau melakukan dosa besar sedikitpun. Akan tetapi permasalahannya berpusat mengenai harta. Apabila Utsman memberikannya kepada kalian (harta yang dituntut) maka kalian merasa ridha kepadanya, dan apabila dia memberikannya kepada karib kerabatnya maka kalian membencinya. Sesungguhnya kalian seperti orang-orang Persia dan Romawi, yang tidak mempunyai seorang pemimpin kecuali mereka bunuh.&#8221; (2)</p>
<p>Pada tahun 35 H, datang utusan dari Mesir, maka Utsman menemui mereka di luar perbatasan kota Madinah, karena dia tidak suka kalau mereka mememuinya di dalam kota Madinah. Mereka berkata kepada Utsman: &#8220;Datangkanlah sebuah Mushaf.&#8221; — yang mendebat Utsman adaJah anak muda yang jenggotnya belum tumbuh- anak muda itu berkata : &#8220;Buka surat As Sabiah&#8221; &#8211;mereka pada waktu itu menamakan surat Yunus dengan As Sabiah-. Kemudian anak muda itu membaca ayat :</p>
<p>Katakanlah : &#8220;Terangkanlah kepadaku tentang rizqi yang turunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal. Katakanlah: &#8216;Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah ?&#8221; (Yunus: 59).</p>
<p>Pemuda itu menyatakan kepada Utsman: &#8220;Cukup! Bagaimana tentang tanah gembalaan, apakah Allah memberikan izin kepadamu ataukah kamu telah berdusta atas nama Allah?&#8221;&#8230; Maka Utsman menjawab : “Buka terus!! Karena ayat ini turun tentang permasalahan ini dan itu. Adapun tanah gembalaan, sesungguhnya Umar telah membatasi tanah-tanah gembalaan untuk unta-unta shadaqah dan zakat. Kemudian aku memperluas tanah-tanah gembalaan ini ketika jumlah unta-unta shadaqah bertambah banyak. Lewatilah ayat ini!!.&#8221;</p>
<p>Begitulah seterusnya, mereka menanyakan kepada Utsman ayat demi ayat, dan Utsman menjawab dengan mengatakan : &#8220;Lewatilah ayat ini!!, karena ayat ini diturunkan tentang permasalahan ini dan itu&#8221;. Setelah mereka dikalahkan oleh Utsman dalam perdebatan ini, maka Utsman mengambil janji dari mereka untuk tidak memecah belah persatuan kaum muslimin dan tidak memisahkan diri dari jama&#8217;ah. Selanjutnya Utsman berkata: &#8216;Apa yang kalian inginkan?&#8221;</p>
<p>Maka mereka menjelaskan tujuan yang sebenarnya. Mereka katakan : &#8220;Kami menginginkan agar penduduk Madinah jangan ada yang menerima harta ini, kecuali orang-orang yang telah ikut dalam peperangan dan para shahabat Rasulullah saja.<br />
Akhirnya Utsman menyetujui permintaan ini, dengan maksud untuk mcredam api fitnah. Kemudian bersama Utsman, mereka pergi ke Madinah. Lalu Utsman berkhutbah di atas mimbar dan mengumumkan perubahan kebijakan pemerintahan dalam pembagian harta. Inti dari khutbahnya yaitu : &#8220;tidak ada yang berhak atas harta baitul mal kecuali orang-orang yang telah ditetapkan untuk mendapatkan bagian karena ikut serta dalam peperangan yang lalu, orang-orang yang disebutkan dalam Al Qur&#8217;an yang berhak mendapat ghanimah dan orang-orang tertentu yang telah ditetapkan pemerintah&#8221;.</p>
<p>Namun, perjanjian damai ini sangatlah dibenci oleh orang-orang yang masih memendam makar (terhadap Utsman) Ketika utusan dari Mesir hendak pulang, di tengah-tengah perjalanan mereka dikejutkan oleh seorang penunggang kuda yang sangat mencurigakan. Kadang-kadang dia menampakkan diri, dan kadang-kadang menghilang. SeteJah tertangkap, maka dikatakan kepadanya: Apa maumu? Kami yakin engkau punya maksud tertentu?!!&#8221; Dia menjawab :Aku adalah utusan Amirul Mukminin kepada gubernur Mesir&#8221;. Maka mereka menggeledahnya. Ditemukanlah sebuah surat atas nama Utsman yang dibubuhi stempel. Isi surat itu Utsman memerintahkan kepada gubernur Mesir untuk menyalib utusan dari Mesir yang datang kepadanya, membunuh mereka dan memotong tangan-tangan serta kaki-kaki mereka. Mendapati kenyataan yang seperti ini, darah mereka mendidih —marah besar— lalu mereka kembali ke Madinah dan menemui Ali bin Abi Thalib Mereka berkata kepada Ali: &#8220;Tahukah kamu kalau Utsman telah menulis surat tentang kami yang isinya demikian dan demikian? Marilah bersama kami untuk mendatangi Utsman!!&#8221;. Ali bin Abi Thalib menjawab : &#8220;Demi Allah, aku tidak akan berangkat bersama kalian&#8221;. Maka mereka berkata kepadanya : &#8220;Kalau engkau tidak mau lalu kenapa engkau menuliskan surat kepada kami (agar datang kepadamu)??&#8221;. Maka Ali bin Abi Thalib menjawab: &#8220;Demi Allah, aku tidak pernah menuliskan sepucuk surat pun kepada kalian&#8221;. Mereka menjadi keheranan dan saling berpandangan satu sama lainnya. Kemudian ada yang berkata : &#8220;Apakah karena orang ini kalian memerangi (Utsman) ataukah karena orang ini kalian marah?&#8221;.</p>
<p>Akhirnya mereka pergi menuju Utsman dan mengatakan kepadanya : &#8220;Kenapa engkau menuliskan surat seperti ini tentang kami?&#8221; Utsman menjawab : &#8220;Dua pilihan bagi kalian, kalian mendatangkan saksi dua orang muslim (bahwa aku menulis surat itu) atau menerima sumpahku. Demi Allah yang tiada Ilah yang berhak diibadahi kecuali Dia, aku tidak pernah menuliskan surat tentang kalian sedikitpun. Dan aku tidak tahu menahu tentangnya. Kalian tahu bahwa surat tersebut dipalsukan atas namaku dan distempel dengan stempel palsu atas namaku!&#8221;&#8230; Maka mereka berkata ; &#8220;Allah telah menghalalkan darahmu!&#8221; Kemudian mereka mengepung rumahnya …(3)</p>
<p>Sumber : Tragedi Terbunuhnya Utsman bin Affan<br />
Penulis : Al Qodhi Abu Ya&#8217;la</p>
<p>Catatan Kaki :</p>
<p>1 Tarikh Khalifah 171-172<br />
2 Fadhoilus Shohabah 1/94 (64)<br />
3. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Fadhoilus Shohabah 1/470, dengan sanad yang hasan dan lafadh riwayat ini adalah lafadh beliau. Juga diriwayatkan oleh Al Bazzar dalam Al Bahruz Zakhoor (Musnad Al Bazzar) dengan sanad yang shahih 2/42, dan Ibnu Syabbah dalam Tarikhul Madinah 4/1149.</p>
<br />Filed under: <a href='http://shirotholmustaqim.wordpress.com/category/khilafah-islamiyah/'>Khilafah Islamiyah</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/shirotholmustaqim.wordpress.com/2725/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/shirotholmustaqim.wordpress.com/2725/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/shirotholmustaqim.wordpress.com/2725/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/shirotholmustaqim.wordpress.com/2725/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/shirotholmustaqim.wordpress.com/2725/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/shirotholmustaqim.wordpress.com/2725/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/shirotholmustaqim.wordpress.com/2725/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/shirotholmustaqim.wordpress.com/2725/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/shirotholmustaqim.wordpress.com/2725/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/shirotholmustaqim.wordpress.com/2725/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/shirotholmustaqim.wordpress.com/2725/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/shirotholmustaqim.wordpress.com/2725/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/shirotholmustaqim.wordpress.com/2725/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/shirotholmustaqim.wordpress.com/2725/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shirotholmustaqim.wordpress.com&amp;blog=9822223&amp;post=2725&amp;subd=shirotholmustaqim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://shirotholmustaqim.wordpress.com/2011/12/13/pergerakan-ahlul-fitnah-dan-sikap-utsman-terhadap-mereka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">shirotholmustaqim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Fitnah Pada Masa Utsman Bin Affan</title>
		<link>http://shirotholmustaqim.wordpress.com/2011/11/18/fitnah-pada-masa-utsman-bin-affan/</link>
		<comments>http://shirotholmustaqim.wordpress.com/2011/11/18/fitnah-pada-masa-utsman-bin-affan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Nov 2011 03:27:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>shirotholmustaqim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Khilafah Islamiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://shirotholmustaqim.wordpress.com/?p=2715</guid>
		<description><![CDATA[Sesungguhnya awal mula permasaJahan yang dihadapi oleh umat Islam pada waktu itu, sebagian besar berasal dari tiga golongan : 1. Golongan Pertama Islamnya sebagian orang-orang Persia (awalnya mereka beragama Majusi) dan juga sebagian orang-orang Yahudi. Pada hakikatnya mereka adalah orang-orang zindiq yang menampilkan keislaman dan menyembunyikan kekufuran di dalam hatinya. Sebagian besar mereka berasal dari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shirotholmustaqim.wordpress.com&amp;blog=9822223&amp;post=2715&amp;subd=shirotholmustaqim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sesungguhnya awal mula permasaJahan yang dihadapi oleh umat Islam pada waktu itu, sebagian besar berasal dari tiga golongan :</p>
<p>1. Golongan Pertama</p>
<p>Islamnya sebagian orang-orang Persia (awalnya mereka beragama Majusi) dan juga sebagian orang-orang Yahudi. Pada hakikatnya mereka adalah orang-orang zindiq yang menampilkan keislaman dan menyembunyikan kekufuran di dalam hatinya. Sebagian besar mereka berasal dari negara adi kuasa (Persia dan Romawi) yang merasa iri dan benci kepada bangsa Arab, karena sebagian dari mereka (bangsa Arab) pada masa lampau merupakan pengikutnya. Bangsa Arab adalah bangsa yang dilupakan dan tidak diperhitungkan oleh bangsa lain. Mereka seakan-akan telah terkubur di gurun pasir dan disibukkan dengan perselisihan dan perang saudara. Kemudian bangsa Arab mampu menggulingkan dan meruntuhkan negara mereka dalam jangka waktu yang relatif singkat menurut ukuran strategi dan kondisi peperangan pada waktu itu.</p>
<p>Oleh karena itulah mereka memasang tipu daya dan taktik -mereka adalah orang yang sangat berpengalaman dalam hal ini- untuk mengobarkan api fitnah di tengah-tengah kaum muslimin (seperti api yang sebagiannya memakan sebagian yang lain). Pernyataan ini bukan hanya sekedar omong kosong dengan tujuan mengkambing hitamkan orang lain atas apa yang menimpa kita, akan tetapi berdasarkan dalil-dalil dan bukti yang kuat.</p>
<p>Tipu daya mereka bisa diringkas dalam beberapa poin sebagai berikut: <span id="more-2715"></span></p>
<p>ü Mencemarkan nama baik pegawai Utsman bin Affan, seperti gubernurnya atau pegawai yang bertugas menarik zakat serta yang lainnya, kemudian mengorek-orek kesalahan dan kekeliruan yang mereka lakukan. Bahkan kalau perlu berdusta atas nama mereka serta menghembuskan isu-isu dusta tentang mereka.</p>
<p>ü Menyebarkan isu bahwa Kibarus Shahabah seperti Ali, Thalhah dan Zubair (1) serta Ummul Mukminin Aisyah -semoga Alah meridhoi mereka semua-,membenci sistem pemerintahan yang dijalankan Utsman Mereka meminta agar kaum muslimin dari segala penjuru datang ke Madinah dalam rangka mengingkari Utsman bin Affan. Dalam rangka menjalankan tipu dayanya mereka memalsukan beberapa surat yang diatas namakan para shahabat tersebut, serta memalsukan juga sebuah surat atas nama Utsman.(2)</p>
<p>ü Membesar-besarkan sebagian perbedaan pendapat yang terjadi antara para shahabat -semoga Allah meridhoi mereka semuanya- dalam hal yang bersifat fiqhiyah dan menggambarkan hal tersebut di mata orang awam sebagai perbuatan kedholiman dan tindak sewenang-wenang yang dilakukan oleh Utman terhadap para shahabat yang lainnya. Sebagai contoh dari hal ini, perbedaan pendapat antara Abu Dzar dan jumhur shahabat tentang harta (yang disimpan) yang sudah melebihi kebutuhan pemiliknya, apakah harta ini tergolong dalam kanzun (harta yang ditimbun) sehingga terkena ancaman ayat berikut ini :</p>
<p>&#8220;Dan orang-orang yang menimbun emas dan perak serta tidak menginfakkannya di jalan Allah, maka kabarkan kepada mereka akan adzab yang sangat pedih.&#8221; (at-Taubah: 34)</p>
<p>Ataukah semua harta yang sudah dikeluarkan zakatnya tidak tergolong ke dalam ayat ini. Setelah terjadi perbedaan pendapat ini Abu Dzar atas inisiatifnya sendiri keluar dari kota Madinah menuju ke daerah Rabadzah.(3)</p>
<p>ü Menyebarkan (berita bohong) di tengah-tengah kalangan orang awam, yang kemudian dipercayai oleh sebagian dari mereka, bahwa Rasulullah berwasiat kepada Ali bin Abi Thalib untuk menjadi khalifah (setelah beliau wafat) dan disebarkan bahwa Utsman adalah perampas hak khilafah dari Ali bin Abi Thalib. Sungguh berita ini menyebar di masyarakat, sehingga sampai berita tersebut kepada sebagian shahabat seperti Ali dan &#8216;Aisyah -semoga Allah meridhoi keduanya- dan mereka mengingkari kebenaran berita ini dengan keras. Ali berkata : &#8220;Sungguh demi Allah, seandainya kita meminta khilafah ini kepada Rasulullah kemudian beliau tidak memberikannya kepada kita, sehingga akibatnya manusia tidak akan memberikannya kepada kita setelah beliau wafat. Maka sungguh aku tidak akan memintanya kepada Rasulullah.(4)</p>
<p>Dan Ummul Mukminin &#8216;Aisyah -semoga Allah meridhoinya- berkata, ketika sampai kepadanya isu wasiat Rasulullah kepada Ali :</p>
<p>&#8220;Siapa yang berkata demikian? Sungguh aku menyaksikan Rasulullah (saat beliau wafat) dan aku (dalam keadaan) menyandarkan beliau ke dadaku, kemudian beliau meminta sebuah bejana, lalu beliau luluh dan meninggal tanpa aku sadari. Mana mungkin beliau berwasiat kepada Ali bin Abi Thalib.&#8221;(5)</p>
<p>Dan sesungguhnya para ulama Rafidhah (syi&#8217;ah) telah mengakui, bahwa wasiat ini pada hakekatnya merupakan hasil rekayasa Abdullah bin Saba&#8217;.</p>
<p>An-Naubakhty dan Al-Kasyi menyatakan :</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya asal-usul wasiat ini muncul dari lisan Abdullah bin Saba&#8217;, dia adalah orang Yahudi yang masuk Islam dan menampakkan loyalitas kepada Ali bin Abi Thalib. Ketika masih Yahudi, dia menyebarkan isu bahwa Tusa&#8217; bin Nun adalah orang yang diwasiati kekhalifahan oleh Nabi Musa. Kemudian setekah masuk Islam dia menyatakan hal yang serupa tentang Ali (setelah wafatnya Rasulullah Dialah orang pertama yang berpendapat bahwa seharusnya kekhalifahan diberikan kepada Ali bin Abi Thalib. Dia menunjukan rasa permusuhan dan berlepas diri dari semua orang yang bertentangan dengan Ali bin Abi Thalib. Berdasarkan hal inilah musuh-musuh syi&#8217;ah menganggap bahwa syi&#8217;ah (Rafidhah) berasal dari agama Yahudi.(6)</p>
<p>Adapun bukti-bukti yang menunjukkan kebathilan wasiat ini, sangat banyak sekali. Akan tetapi penjelasannya pada tempat dan kesempatan lain Insya Allah.</p>
<p>2. Golongan Kedua :</p>
<p>Ahli Qiro&#8217;ah dan Ibadah serta kalangan menengali dari para Ahli Fiqh. Allah berfirman :</p>
<p>&#8220;Mereka adalah orang-orang yang telah sia-sia amalannya pada kehidupan dunia, namun mereka merasa sedang melakukan sebaik-baik amalan.&#8221; (Al-Kahfi: 104)</p>
<p>Golongan ini adalah orang-orang yang diperalat oleh golongan pertama dari belakang tabir. Mereka bagaikan mangsa yang sangat jinak dan penurut, sehingga golongan pertama menempatkannya di barisan terdepan (dalam penyebaran fitnah), dengan cara membesar-besarkan persoalan yang sepele serta menggambarkan kepada mereka bahwa ijtihad-ijtihad yang dilakukan oleh Khalifah Utsman merupakan tindak kemaksiatan dan penentangan terhadap Al-Qur&#8217;an. Kemudian mereka (golongan pertama) memberikan motivasi dan membakar semangat mereka (golongan kedua) untuk merubah kemungkaran yang dilakukan Utsman.</p>
<p>Pada akhirnya, golngan kedua ini berhasil dipengaruhi, karena kebodohan mereka terhadap hukum-hukum syari&#8217;at serta kurangnya pemahaman dan ilmu mereka terhadap agamaya. Walaupun mereka banyak beribadah, memberikan pengorbanan yang besar, hafal Al-Qur&#8217;an serta banyak puasa dan sholat malam. Namun ketahuilah! Iblis lebih mudah untuk menyesatkan seribu ahli ibadah (yang kurang ilmunya) dari pada menyesatkan seorang &#8216;alim (berilmu). Aisyah Ummul Mukminin -semoga Allah meridhoinya- berkata dalam mensifati mereka (golongan kedua ini) :</p>
<p>&#8220;Wabai Ubaidillah bin Adi janganlah sekali-kali engkau tertipu dengan amalan seseorang setelah engkau tabu apa yang telah terjadi. Sungguh ! Demi Allah aku tidak pernah meremehkan amalan shahabat Nabi sampai muncul orang-orang yang memusuhi Utsman. Mereka memberikan nasehat kepada Utsman dengan perkataan yang tidak pernah diucapkan oleh orang lain, membaca al-Qur&#8217;an dengan bacaan yang tidak pernah dperbuat oleh orang lain (karena saking banyaknya) mereka sholat dengan sholat yang tidak mampu dilakukan oleh orang lain. Akan tetapi ketika aku merenungkan amalan mereka, ternyata -sungguh demi Allah ! &#8211; amalan mereka tidak ada apa-apanya ketika dibandingkan dengan amalan para shahabat Rasulullah Oleh karena itu apabila engkau merasa kagum dengan perkataan seseorang, maka katakanlah : “Beramallah! karena Allah dan Rasul-Nya akan melihat amalan kalian. &#8221; Jangan sampai tertipu oleh orang lain.&#8221;(7)</p>
<p>3. Golongan Ketiga</p>
<p>Kabilah-kabilah yang masuk Islam setelah Ha&#8217;bur Riddah (peperangan melawan orang-orang murtad pada zaman Abu Bakar ) yang kemudian ikut andil dalam peperangan yang lain. Golongan ini dinamakan dengan Ar Rowadif (pengikut), A&#8217;aroob, Mawali, al-&#8217;Uluuj. Golongan ini semakin bertambah banyak, sedangkan selain mereka berkurang, sampai-sanipai jumlah orang yang jahat dan bodoh lebih banyak dibanding orang yang baik. (shahabat dan tabi&#8217;in). Golongan ketiga ini menuntut kepada Utsman agar dilakukan persamaan gaji. Sehingga antara Ahlul Badr (para shahabat yang ikut perang Badr) -orang-orang yang telah membela Islam semenjak awal- disamakan gajinya dengan orang-orang yang masuk Islam setelah mereka dikalahkan dalam peperangan oleh kaum muslimin. Pada hal pembedaan dalam masalah gaji, bukan Utsman yang memulainya, tetapi Umarlah yang mempeloporinya. Dan kalau kita lihat pada kehidupan sekarang, ternyata tidak ada yang menentang adanya perbedaan gaji yang sesuai dengan tingkat kedudukan atau pangkatnya</p>
<p>Sebagian dari para ulama berpendapat bahwa sebagian orang yang menuntut disamakannya gaji antara orang yang baru masuk Islam dengan yang telah masuk Islam lebih dulu, tidak lain mereka adalah orang-orang yang beragma Mazdakiyah. Dengan demikian terbukti bahwa mereka (orang-orang yang terkalahkan oleh Islam) terus menerus memusuhi kaum muslimin.</p>
<p>Pada hakekatnya, golongan petama tidaklah bertanggung jawab atas fitnah yang terjadi, karena memang sudah jelas mereka adalah musuh yang telah terkalahkan dan menyimpan dendam kesumat. Tentu saja mereka akan senantiasa berupaya melakukan segala cara untuk membalas dendam, namun yang bertanggung jawab adalah golongan kedua, para Qurro&#8217; dan golongan menengah dari ahli Fiqh, yang mereka menganggap -dengan pemikiran mereka yang rusak- bahwa sebagian kebijakan Utsman dalam pembagian gaji, sistem pemerintahan, perbedaan pendapat dalam sebagian permasalahan antara dirinya dengan para shahabat bukanlah ijtihad. Dengan kedangkalan pemahaman dan kepicikan berpikir inilah mereka menganggap tindakan Utsman bukanlah ijtihad -yang apabila benar mendapatkan dua pahala dan kalau salah mendapat satu pahala- tetapi mereka menganggapnya sebagai perbuatan maksiat dan penentangan terhadap al-Qur&#8217;an, yang harus diluruskan dan kalau tidak mau harus dipecat dan dibunuh.</p>
<p>Untuk mengetahui sejauh mana kebodohan mereka terhadap hukum-hukum syariat yang berhubungan dengan muamalah terhadap imam (pemimpin) yang adil, kita lihat perbedaan sikap antara Ahlul Qurro&#8217; (golongan kedua) dengan sikap para ulama dari kalangan shababat Rasulullah dalam mensikapi perbedaan pendapat yang terjadi. Hal ini dapat kita baca secara detail tentang kasus yang terjadi pada Abu Dzar. dalam kitab yang paling Shahih setelah Al-Qur&#8217;an, yaitu Shahih Bukhori. Dan juga kita lihat komentar Ibnu Hajar tentangnya (8) Setelah kita membaca kejadian tersebut, maka kita bisa simpulkan bahwa :</p>
<p>Abu Dzar berpendapat bahwa harta yang telah Iebih dari kebutuhan pemiliknya tidak boleh disimpan, dan kalau disimpan maka akan terkena ancaman yang di sebutkan dalam ayat :</p>
<p>&#8220;Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak&#8230;.&#8221; (At Taubah: 34)</p>
<p>Sebagian para shahabat -semoga Allah meridhoi mereka semuanya- menyebutkan bahwa Abu Dzar, pernah mendengar hadits dari Rasulullah yang berisikan sebuah hukum yang berat, kemudian dia pergi menemui kaumnya. Setelah kepergian Abu Dzar, Rasulullah memberikan keringanan dalam permasalahan tersebut, sedang Abu Dzar tidak mendengar rukhsoh (keringanan) ini dan masih tetap berpegangan dengan hadits yang didengarnya.</p>
<p>Menurut jumhur shahabat -semoga Allah meridhoi mereka semuanya- ayat ini (ayat 34 surat AtTaubah) telah dimansukh (dihapuskan hukumnya) dengan turunnya syariat zakat dan nishab-nishabnya.</p>
<p>Abu Dzar lebih memilih untuk beruzlah (menyendiri) di Robadzah atas inisiatifnya sendiri, bukannya diusir oleh Utsman, sebagaimana yang diisyukan oleh Ahlul Ahwa&#8217; (pengikut hawa nafsu). Dalil tentang hal ini adalah riwayat yang menyebutkan bahwa ada beberapa orang dari Kufah datang kepada Abu Dzar, ketika itu beliau sudah berada di Robadzah dan mereka berkata : &#8220;Sesungguhnya Utsman telah memperlakukan kamu begini, tidakkah engkau pancangkan bendera dan kami akan berperang bersamamu?” Maka Abu Dzar berkata : &#8220;Tidak, seandainya Utsman memerintahkanku untuk pergi dari arah timur ke barat, maka aku akan tetap mendengar dan taat kepadanya&#8221;. Dan dalam riwayat lain disebutkan : &#8220;Seandainya dia menunjuk seorang pemimpin dari Habasyah (Ethiopia) untukku, maka aku akan tetap mendengar dan taat.”</p>
<p>Inilah perbedaan antara ilmu dan kebodohan :</p>
<p>&#8220;Katakanlah (wahai Muhammad) apakah sama antara orang-orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu?&#8221; (Az-Zumar: 9)</p>
<p>Sebagian besar penyimpangan yang terjadi pada kaum muslimin dan gerakan dakwah Islamiyah disebabkan karena kebodohan mereka terhadap hukum hukum Islam dan syariat-syariat Islam serta tidak kokohnya hal ini di jiwa-jiwa mereka. Seandainya mereka memilikinya, mustahil mereka berani menumpahkan darah seorang muslim tanpa alasan yang benar yaitu karena berzinanya muhshon (dalam keadaan sudah menikah), membunuh seorang muslim tanpa alasan yang dibenarkan dan murtad dari agamanya. Dan mana mungkin mereka berani merampas harta, mengkoyak-koyak harga diri, hanya disebabkan pendapat atau penafsiran yang salah dan bathil…</p>
<p>Sumber : Tragedi Terbunuhnya Utsman Bin Affan<br />
Penulis : Al Qodhi Abu Ya&#8217;la</p>
<p>Catatan Kaki :</p>
<p>1 Ketiga shahabat ini termasuk dalam Ahli Syura (anggota lainnya adalah Abdurahman bin &#8216;Auf, Sa&#8217;ad bin Abi Waqqas, Utsman bin &#8216;Affan).</p>
<p>2 Lihat Fadhailus Shahabat Imam Ahmad 1/470 dengan sanad Shahih, Tarikh Madinah Ibnu Syabbah 4/149-150, At-Thabaqatul Kubro Ibnu Sa&#8217;ad 3/83, dengan perowi-perowi yang shahih, Tarikh Ibnu Khayyath 167 dengan sanad shahih, juga lihat Al-Bidayah wa Nihayah Ibnu Katsir 7/195.</p>
<p>3 Lihat Shahih Bukhari -Fathul Bari- Kitabuz Zakat bab : Maa Uddiya Zakatuhu Falaisa bikanzun 3/374-375.</p>
<p>4 Diriwayatkan oleh Bukhari dalam shahihnya, lihat Fathul Bari 8/142 (4448)</p>
<p>5 Diriwayatkan oleh Bukhari dalam shahihnya, lihat Fathul Bari 7/148 (4459)</p>
<p>6 Firaqus-Syi&#8217;ah oleh An-Naubakhty 2-23 dan Rijalul Kasyi oleh al-Kasyi 108-109.</p>
<p>7 Dikeluarkan oleh Abdur Rozaq dalam Al Mushonaf 11/47 dan Al-Bukhari dalam kitab Khalqu Af’alil &#8216;Ibad hal 25 dengan sanad yang shahih.</p>
<p>8 Shahih Bukhori hadits no. 1401,1406,1407 dan 1408).</p>
<br />Filed under: <a href='http://shirotholmustaqim.wordpress.com/category/khilafah-islamiyah/'>Khilafah Islamiyah</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/shirotholmustaqim.wordpress.com/2715/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/shirotholmustaqim.wordpress.com/2715/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/shirotholmustaqim.wordpress.com/2715/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/shirotholmustaqim.wordpress.com/2715/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/shirotholmustaqim.wordpress.com/2715/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/shirotholmustaqim.wordpress.com/2715/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/shirotholmustaqim.wordpress.com/2715/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/shirotholmustaqim.wordpress.com/2715/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/shirotholmustaqim.wordpress.com/2715/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/shirotholmustaqim.wordpress.com/2715/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/shirotholmustaqim.wordpress.com/2715/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/shirotholmustaqim.wordpress.com/2715/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/shirotholmustaqim.wordpress.com/2715/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/shirotholmustaqim.wordpress.com/2715/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shirotholmustaqim.wordpress.com&amp;blog=9822223&amp;post=2715&amp;subd=shirotholmustaqim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://shirotholmustaqim.wordpress.com/2011/11/18/fitnah-pada-masa-utsman-bin-affan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">shirotholmustaqim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Al-Qur&#8217;an untuk orang hidup bukan untuk orang mati</title>
		<link>http://shirotholmustaqim.wordpress.com/2011/11/11/al-quran-untuk-orang-hidup-bukan-untuk-orang-mati/</link>
		<comments>http://shirotholmustaqim.wordpress.com/2011/11/11/al-quran-untuk-orang-hidup-bukan-untuk-orang-mati/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Nov 2011 02:31:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>shirotholmustaqim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://shirotholmustaqim.wordpress.com/?p=2712</guid>
		<description><![CDATA[Penulis: Ustadz Abu Ubaidah Yang lebih mengherankan, ada di kalangan ummat Islam ini yang salah dalam menyikapi Al-Qur’an. Mereka menjadikan Al-Qur’an sebagai sarana mencari nafkah. Sebagian mereka menghapal Al-Qur’an dengan tujuan agar bisa di gunakan oleh orang yang membutuhkannya dalam acara-acara pernikahan dan perayaan-perayaan tertentu. Al-Qur’an datang menyinari hati yang gelap dan menyinari jiwa yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shirotholmustaqim.wordpress.com&amp;blog=9822223&amp;post=2712&amp;subd=shirotholmustaqim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis: Ustadz Abu Ubaidah</p>
<p>Yang lebih mengherankan, ada di kalangan ummat Islam ini yang salah dalam menyikapi Al-Qur’an. Mereka menjadikan Al-Qur’an sebagai sarana mencari nafkah. Sebagian mereka menghapal Al-Qur’an dengan tujuan agar bisa di gunakan oleh orang yang membutuhkannya dalam acara-acara pernikahan dan perayaan-perayaan tertentu.</p>
<p>Al-Qur’an datang menyinari hati yang gelap dan menyinari jiwa yang gersang. Dan dia datang sebagai juru nasehat bagi orang yang membutuhkan bimbingan, sebagai pembawa kabar gembira bagi orang yang mau beriman dan sebagai pemberi peringatan bagi orang yang mengingkarinya. Betapa banyak kebaikan yang dapat di rasakan dengan kedatangannya, sehingga orang yang sedih akan menjadi gembira dengan membacanya dan orang yang bingung akan menjadi tenang jalannya serta orang yang hina akan menjadi mulia dengan mempelajari dan mengamalkannya.</p>
<p>Lebih jauh, diapun sebagai obat mujarab bagi segala penyakit. Siapa yang membaca ayat-ayatnya untuk pengobatan, maka dia akan mengetahui kehebatan Al-Qur’an dengan menyembuhkan beberapa penyakit dengan seizin Allah Ta’ala dan beberapa penyakit yang kalangan medis saat ini belum mampu menyembuhkannya. Sehingga tidaklah mengherankan kalau di katakan Al-Qur’an adalah penawar dan rahmat bagi orang yang beriman, sebagaimana firman-Nya (yang artinya) :<span id="more-2712"></span></p>
<p>“Dan kami turunkan Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar (penyembuh penyakit fisik maupun rohani) dan rahmat bagi orang yang beriman kepada-Nya. “(QS. Al-Isra’ : 82).</p>
<p>Bahkan di lihat dari segi pahala dan keutamaannya. Al-Qur’an menyimpan sekian banyak pahala dan keutamaan bagi orang yang membaca, mempelajari, memahami dan mengamalkannya. Orang yang mahir membaca Al-Qur’an maka pada hari kiamat akan di kumpulkan bersama rombongan malaikat yang mulia. Sedangkan bagi orang yang terbata-bata dalam membacanya akan mendapatkan dua pahala, yaitu pahala dia membaca Al-Qur’an dan pahala kesungguhan dalam membacanya dengan baik dan benar.</p>
<p>Al-Qur’an akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafa’at bagi orang yang membacanya dan mengamalkannya. Bahkan Al-Qur’an akan menjadi pelindung baginya dari adzab Allah Ta’ala di dunia maupun akhirat. Sehingga di katakan, orang yang mempelajari Al-Qur’an akan mengamalkannya sebagai sebaik-baik manusia, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya) :</p>
<p>“Sebaik-baik orang di antara kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari – Muslim).</p>
<p>Tetapi kebaikan, keutamaan dan pahala tersebut tidak dapat di rasakan kecuali orang-orang yang diberi taufik dan hidayah Allah Ta’ala agar mau beriman kepadanya, membaca, mempelajarinya, dan mampu mengaplikasikannya. Adapun orang yang ingkar terhadapnya, tidak mau beriman kepadanya, tidak mau membaca maupun mempelajarinya, apalagi mengamalkannya, maka sekali-kali dia tidak akan merasakan manfaat sedikitpun. Bahkan Al-Qur’an akan menjadi sebab di hinakan dan di sesatkannya orang tersebut, dan akan menjadi hujjah (alasan) di hadapan Allah Ta’ala untuk menyiksakan pada hari kiamat.</p>
<p>Yang lebih mengherankan, ada di kalangan ummat Islam ini yang salah dalam menyikapi Al-Qur’an. Mereka menjadikan Al-Qur’an sebagai sarana mencari nafkah. Sebagian mereka menghapal Al-Qur’an dengan tujuan agar bisa di gunakan oleh orang yang membutuhkannya dalam acara-acara pernikahan dan perayaan-perayaan tertentu. Kemudian dia mendapat upah dari bacaannya. Ada lagi yang menggunakan Al-Qur’an sebagai alat mencari nafkah di pemakaman kaum muslimin. Bila ada di antara kaum muslimin yang ingin menziarahi saudaranya di perkuburan umum, maka tidak perlu repot-repot membaca ayat-ayat Al-Qur’an dan menghapalkan do’a-do’anya. Ini baru sebagian contoh kesalahan yang merebak di masyarakat dan di anggap lumrah.</p>
<p>Akar dari musibah memilukan ini adalah adanya keyakinan bahwa bacaan Al-Qur’an yang mereka bacakan untuk orang mati itu bisa bermanfaat bagi si mayit. Sehingga mereka berlomba-lomba untuk mengamalkannya, bahkan mereka semangat untuk melakukan amalan bid’ah ini lebih besar daripada untuk ibadah yang wajib, yang sangat jelas keutamaan dan faedahnya. Ambillah contoh, mereka sangat getol dalam mengamalkan bi’dah ini, sementara sholat berjama’ah di masjid mereka lalaikan.</p>
<p>Harapan mereka, bacaan tersebut bisa bermanfaat bagi si mayit agar terbebas dari siksa kubur dan mendapat pahala yang terus mengalir, padahal Allah Ta’ala dan Rasulnya tidak pernah mengajarkan yang demikian. Bahkan di tegaskan dalam firman-Nya bahwa sseorang tidak memperoleh pahala melainkan dari yang di usahakannya saja. Jika usahanya baik maka dia akan mendapatkan balasannya dan jika usahanya buruk dia akan mendapatkan balasannya pula. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya) :</p>
<p>“Dan bahwasanya seseorang tidak memperoleh selain apa yang telah di usahakannya. “(QS. An-Najm : 39).</p>
<p>Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa sallam juga menegaskan dalam sabda beliau (yang artinya) :<br />
“Jika manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara : Shodaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholeh yang mendo’akannya. “(HR. Muslim).</p>
<p>Adapun jika anak si mayit yang membaca Al-Qur’an, maka pahalanya akan sampai kepadanya, karena anak adalah hasil usaha ayahnya. Ini adalah pendapat ulama, diantaranya Al-Imam Asy-Syafi’i Rahimahullah.</p>
<p>Yang perlu di pertanyakan, bagaimana mungkin Al-Qur’an bisa memberi manfaat kepada si mayit, yang semasa hidupnya suka meninggalkan sholat, suka berbuat maksiat, dan perbuatan dosa yang lainnya ? Bahkan Al-Qur’an sendiri malah memberinya kabar gembira dengan kecelakaan dan siksa.</p>
<p>Allah Ta’ala tidaklah menurunkan Al-Qur’an yang mulia ini melainkan agar di baca, di pahami dan diamalkan isinya. Yang berupa perintah hendaknya dikerjakan dengan ikhlas dan sesuai dengan contoh dari Rasulullah Shollallahu ‘alahi wa sallam dan para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum ajmai’in. Adapun yang berupa larangan hendaknya di jauhi dengan sejauh-jauhnya. Dan tentu tidak ada yang dapat melakukannya melainkan orang yang hidup yang masih sehat akal dan fikirannya serta masih terjaga fitrahnya. Sehingga jelaslah, bahwa Al-Qur’an memang untuk orang hidup bukan untuk orang mati.</p>
<p>Maraji’ :<br />
1. Minhaj Al-Firqoh An-Najiyah, karya Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu.<br />
2. At-Tibyan fii Aadaabi Hamalatil Qur’an, karya Al-Imam An-Nawawi.<br />
( Dinukil dari Buletin Al-Bayyinah, edisi 09 / 03 / 01).</p>
<p>Sumber : http://www.darussalaf.or.id</p>
<br />Filed under: <a href='http://shirotholmustaqim.wordpress.com/category/aqidah/'>Aqidah</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/shirotholmustaqim.wordpress.com/2712/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/shirotholmustaqim.wordpress.com/2712/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/shirotholmustaqim.wordpress.com/2712/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/shirotholmustaqim.wordpress.com/2712/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/shirotholmustaqim.wordpress.com/2712/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/shirotholmustaqim.wordpress.com/2712/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/shirotholmustaqim.wordpress.com/2712/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/shirotholmustaqim.wordpress.com/2712/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/shirotholmustaqim.wordpress.com/2712/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/shirotholmustaqim.wordpress.com/2712/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/shirotholmustaqim.wordpress.com/2712/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/shirotholmustaqim.wordpress.com/2712/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/shirotholmustaqim.wordpress.com/2712/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/shirotholmustaqim.wordpress.com/2712/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shirotholmustaqim.wordpress.com&amp;blog=9822223&amp;post=2712&amp;subd=shirotholmustaqim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://shirotholmustaqim.wordpress.com/2011/11/11/al-quran-untuk-orang-hidup-bukan-untuk-orang-mati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">shirotholmustaqim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Fakta Soal Bank Syari&#8217;ah</title>
		<link>http://shirotholmustaqim.wordpress.com/2011/11/11/fakta-soal-bank-syariah/</link>
		<comments>http://shirotholmustaqim.wordpress.com/2011/11/11/fakta-soal-bank-syariah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Nov 2011 02:26:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>shirotholmustaqim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://shirotholmustaqim.wordpress.com/?p=2710</guid>
		<description><![CDATA[Penulis: Abu Abdillah Abdurrahman Al-Mar&#8217;i Hafidzhahullah Ta&#8217;ala Pada asalnya pengadaan Bank Islam yang terhindar dari praktek riba dan peminjaman secara riba adalah sesuatu yang baik. Akan tetapi kenyataannya bahwa Bank-bank Islam yang ada diberbagai Negeri tidak memenuhi apa yang dijanjikannya kepada kaum muslimin, bahkan mereka terseret kedalam berbagai muamalah yang rusak dan haram. Muamalah yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shirotholmustaqim.wordpress.com&amp;blog=9822223&amp;post=2710&amp;subd=shirotholmustaqim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis: Abu Abdillah Abdurrahman Al-Mar&#8217;i Hafidzhahullah Ta&#8217;ala</p>
<p>Pada asalnya pengadaan Bank Islam yang terhindar dari praktek riba dan peminjaman secara riba adalah sesuatu yang baik. Akan tetapi kenyataannya bahwa Bank-bank Islam yang ada diberbagai Negeri tidak memenuhi apa yang dijanjikannya kepada kaum muslimin, bahkan mereka terseret kedalam berbagai muamalah yang rusak dan haram.</p>
<p>Muamalah yang dipraktekkan Bank-bank Islam pada saat ini mayoritasnya adalah apa yang dinamakan (menurut mereka) &#8220;Bai&#8217; Al-Murobahah&#8221; (jual beli yang menguntungkan).</p>
<p>Sebagian Ulama membela bank-bank ini, walaupun terjatuh pada kesalahan-kesalahan, maka tidak ada satupun yang ma&#8217;shum, sementara Bank itu ingin meletakkan bangunan Islam secara nyata.</p>
<p>Namun yang sebenarnya, Bank-bank tersebut lebih berbahaya dari Bank-bank Konvensional yang mempraktekkan riba secara nyata, karena orang-orang yang masuk kedalam transaksi bersama dengan Bank-bank riba konvensional, mengetahui dengan yakin bahwa dia bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya.</p>
<p>Sedangkan orang-orang yang bermuamalah dengan Bank-bank yang disebut sebagai Bank-bank Islam mereka menganggap Taqarrub kepada Allah dengan bermuamalah bersama Bank-bank tersebut (tidak merasa keliru). Sementara mereka ternyata bermuamalah dengan riba dan jual beli yang haram dan rusak, dalam keadaan mereka menyangka bahwa mereka berbuat dengan sebaik-baik perbuatan.</p>
<p>Untuk itu banyak dari kalangan para Ulama memperingatkan agar tidak bermuamalah dengan Bank-bank &#8220;islam&#8221; ini.Bahkan peringatan untuk tidak bermuamalah dengan &#8220;Bank-bank islam&#8221; tersebut lebih keras karena Bank itu memakai lebel Islam.<span id="more-2710"></span></p>
<p>PENEGASAN<br />
Kalau &#8220;Bai&#8217; Al Amanah&#8221; (jual beli secara amanah) tidak ada perselisihan diantara para Ulama tentang bolehnya. Dan dinamakan jual beli amanah karena orang yang menjual wajib baginya untuk secara amanah menyebutkan harga kepada pembeli, dan hal tersebut ada tiga macam :</p>
<p>a. Bai&#8217; al-Murobahah. ( jual beli yang memberi keuntungan)<br />
Gambarannya : Saya membeli alat rekam (misalnya) dengan harga 1000, kemudian saya menjualnya kepada orang lain dengan keuntungan 200, maka ini adalah murobahah (keuntungan).<br />
Akan tetapi bukan seperti itu Bai&#8217; al-Murobahah yang praktekkan oleh Bank-bank Islam.</p>
<p>b. Bai&#8217; al-Wadhi&#8217;ah. (menurunkan harga)<br />
Gambarannya : Saya membeli suatu barang dengan harga 1000 dan saya menjualnya ketika saya butuh, dengan harga 800.</p>
<p>c. Bai&#8217; at-Tauliyyah (kembali modal).<br />
Gambarannya : Saya membeli satu barang dengan harga 1000 dan kemudian saya menjualnya dengan harga 1000.</p>
<p>Maka dinamakan amanah karena jual beli tersebut dibangun diatas amanah orang yang berbicara. Maka Bai&#8217; al-Murobahah dengan gambaran diatas tidak ada perselisihan diantara para ulama tentang bolehnya, kecuali sekedar perselisihan yang ringan disisi sebagian Ulama yang menyatakan Karohah (makruh/dibenci). Namun sebenarnya tidak ada sisi untuk menghukuminya makruh.</p>
<p>Akan tetapi al-Murabahah yang dilakukan oleh pelaku-pelaku Bank-bank Islam tidak seperti murabahah yang seperti diatas sama sekali.<br />
Al-Murabahah yang ada pada pelaku-pelaku Bank Islam memiliki bentuk/model sebagai berikut:</p>
<p>1. Model yang pertama : Seseorang yang butuh untuk membeli, datang kepada sebuah Bank, lalu mengatakan : Saya ingin membeli sebuah mobil Xen.. (misalnya) yang dijual di Dialer si fulan, dengan harga 100 ribu real, kemudian perwakilan bank tersebut menulis akad jual beli antara dia dengan orang yang hendak membeli, perwakilan Bank ini mengatakan : Saya akan jual kepadamu mobil tersebut dengan harga 110 ribu real untuk jangka waktu 2 tahun.</p>
<p>Maka perwakilan Bank tersebut menjual mobil tersebut sebelum dia memilikinya.</p>
<p>Kemudian perwakilan tersebut akan memberikan kepada orang yang ingin membeli itu uang seharga mobil dengan mengatakan : Pergilah dan belilah mobil tersebut. Dan perwakilan tersebut tetap dikantornya, tidak pergi kepemilik showroom (dealer) mobil.</p>
<p>Hukum model pertama ini :<br />
Tidak diperselisihkan tentang tidak bolehnya model seperti ini,<br />
Dikarenakan :<br />
- hal itu adalah peminjaman yang menghasilkan manfaat (riba),<br />
- dan juga menjual sesuatu yang belum dimiliki sipenjual.</p>
<p>2. Sama modelnya dengan yang pertama, hanya saja model kedua ini ada bentuk tambahan yaitu : Bahwa siperwakilan Bank tersebut menghubungi sipemilik dealer dan mengatakan : Mobil merek tertentu ini telah aku beli dari kamu, dan mereka mengirimkan ke dealer tersebut uang melalui sarana pengiriman modern (on line, mis.), kemudian mereka mengatakan kepada orang yang ingin beli : Pergilah anda dan ambillah barangnya, kami telah menjualnya kepada anda dengan tambahan 10 ribu secara kredit.</p>
<p>Hukum model kedua ini adalah harom, tidak boleh,<br />
Dikarenakan :<br />
- siperwakilan Bank tersebut menjual sesuatu yang belum masuk dalam tanggungan/jaminan dia<br />
- dan dia menjual barang sebelum Qabdl (dipegang /diterima).</p>
<p>3. Model ketiga : Sama dengan sebelumnya, hanya saja siperwakilan Bank tersebut betul-betul pergi dengan membawa uang senilai harga barang yang diinginkan oleh orang yang ingin membelinya. Kemudian perwakilan Bank tersebut membeli barang dari pemilik dealer, dan mengatakan : Berikan barang ini kepada sifulan, kemudian diapun pergi, dan dia telah menetapkan kepada orang yang hendak membeli adanya tambahan harga dan telah ditetapkan akad sebelum orang yang ingin membeli tersebut keluar dari Bank.</p>
<p>Hukum model ketiga ini adalah diharomkan<br />
Dikarenakan : pihak perwakilan Bank tersebut menjual barang yang belum dia miliki, sementara akad dia sebenarnya adalah dia menjual uang dengan uang bersama adanya barang diantara mereka, seakan-seakan orang yang ingin membeli itu mengatakan : Pinjamkan kepadaku 100 ribu karena saya akan pergi untuk membeli barang A (misalnya).<br />
Maka si perwakilan bank itu menjawab : Saya tidak akan meminjamkan untuk kamu, namun saya akan mengambil barang itu dan saya akan jual kepada kamu.</p>
<p>Maka seakan-akan dia meminjaminya 100 ribu dengan pengembalian 110 ribu.(inilah hakekat jual beli uang dengan uang) dan telah disebutkan dari Ibnu &#8216;Abbas  ucapan beliau : ((penukaran Dirham dengan dirham sementara makanan adalah perantara))</p>
<p>4. Model ke empat : modelnya sama dengan sebelumnya, hanya saja si Perwakilan Bank pergi kepemilik dealer dan mengatakan : kami telah membeli barang ini dari kamu, akan tetapi simpan saja barang ini sebagai barang titipan di sisimu. Kemudian si perwakilan Bank ini pergi kepada orang yang ingin membeli, dan dia katakan : pergilah kamu kepadanya terimalah barang itu, kami telah membelinya.</p>
<p>Hukum model ke-empat ini :<br />
Sebagian ulama&#8217; Ahlus Sunnah membolehkan model ini dikarenakan dia telah menjadikannya sebagai barang titipan.</p>
<p>Yang benar adalah terlarang , karena Nabi  melarang untuk menjual barang sampai para pedagang itu membawanya ke tempat mereka, dan Beliau melarang dari sesuatu yang belum dipegang tangan (menerima). Maka apabila si Perwakilan Bank tersebut membeli mobil, dia harus mengeluarkannya ke tempat yang tidak ada lagi kepemilikan dan kekuasaan si penjual tersebut.</p>
<p>5. Model ke-lima : Orang yang ingin membeli datang ke sebuah Bank, dan dia menginginkan suatu barang. Maka pihak Bank berkata : kami akan memenuhinya untukmu. Dan bisa saja keduanya bersepakat atas adanya keuntungan terlebih dahulu, kemudian si perwakilan itu pergi ke dealer dan dia membawa barang tersebut ke lokasi bank, kemudian terjadilah akad jual beli, dalam keadaan bank itu sungguh telah memiliki barang tersebut dan tidak menjualnya kecuali setelah dia memilikinya dan qobdl (dia telah terima), maka bagaimana hukumnya ?</p>
<p>Hukum model ke-lima ini adalah :<br />
Apabila jual beli tersebut dalam bentuk keharusan maka hal itu adalah termasuk jual beli barang yang belum ada pada dia dan jual beli barang yang belum masuk dalam tanggungan dia. Sebagaimana yang telah lalu (yaitu tidak boleh) (karena akad telah ditetapkan terlebih dahulu sebelum adanya barang,pent).</p>
<p>Adapun apabila tidak terjadi keharusan membeli, maka hukumnya diperselisihkan :</p>
<p>a) Jumhur berpendapat bolehnya , dengan alasan bahwa dalam akad ini tidak ada keharusan untuk menyempurnakan akad atau harus mengganti rugi kalau barangnya rusak, bahkan barang tersebut masih tanggungan bank, dan bank tidak mengetahui apakah orang yang akan datang itu akan membelinya ataukah tidak. sehingga pihak bank siap menanggung resiko dengan membeli barang tersebut, kemudian pihak bank tersebut jika telah datang barang itu, ia memiliki hak untuk menjualnya kepada selain orang yang ingin membeli barang tersebut, sebagaimana pula orang yang ingin membeli barang tadi juga berhak untuk tidak jadi membeli, maka tidak ada dalam model ini menjual barang yang belum diqobdl oleh penjual atau barang yang yang tidak dimilikinya, maka hukumnya boleh.</p>
<p>Dari kalangan ulama&#8217; sekarang yang memperbolehkan adalah :<br />
Al Imam Ibnu Baz, Syaikh Al Fauzan , Al Lajnah Ad Daaimah, dan kebanyakan dari para ulama&#8217;. Bahkan sebagian mereka berkata tidak ada masalah dalam hal bolehnya.</p>
<p>Asy Syaikh Al Albani dan Asy Syaikh Ibnu &#8216;Utsaimin mengharomkan model ini. Dan diketahui hal tersebut merupakan pendapat Asy Syaikh Al Albani karena beliau mengarahkan kepada pembahasan Abdurrohman Abdul Kholiq khususnya dalam masalah ini dia menguatkan tentang haromnya model tersebut dan Syaikh Al Albani tidak memberikan komentar atasnya, dan kesimpulan pembahasan Ibnu Abdil Kholiq adalah bahwa hal itu merupakan hilah (tipu muslihat) dari pinjaman yang menghasilkan manfaat.</p>
<p>Termasuk alasan ulama yang melarangnya adalah bahwa model semacam ini hakekatnya adalah pinjaman dirham dengan dirham dan masalah ini termasuk muamalah &#8216;inah (salah satu jenis praktek riba) bahkan Asy Syaikh Al &#8216;Utsaimin berkata : bahwa hal itu lebih berbahaya dari &#8216;inah, beliau katakan dalam &#8220;Syarh Al Mumthi&#8217; dan disebagian fatwa beliau. Dan tempat lain beliau mengatakan : itu adalah benar-benar riba, disebagian tempat beliau mengatakan : itu adalah hilah atas riba .</p>
<p>Mereka menyebutkan dalil-dalil tentang bahayanya banyak ber-hilah terhadap syariat. Mereka mengatakan: sesungguhnya orang – orang yang datang dengan sesuatu yang harom secara nyata itu lebih ringan dari orang yang datang dengan sesuatu yang harom dengan berhilah, dan membungkusnya dengan label islam. Dan biasanya orang yang ingin membeli tidak akan membatalkan karena dia butuh terhadap barang tersebut, maka dia akan mengambilnya.</p>
<p>Yang rojih : bahwa model semacam ini adalah syubhat. Walaupun mayoritas ulama&#8217; berpendapat boleh, namun tidak didapati dalil yang jelas yang menunjukkan bahwa masalah ini termasuk riba atau harom.<br />
Maka tidak diketahui dari kalangan ulama&#8217; yang berpendapat harom kecuali Ibnu &#8216;Utsaimin dan berdasar dugaan yang kuat bahwa Syaikh Al Albani juga berpendapat harom, sungguh telah sampai kepadaku dari saudaraku (seiman) yang berasal dari mesir bahwa mereka bertanya kepada Syaikh Al Albani (tentang masalah ini) maka dijawab oleh beliau : sesungguhnya seluruh muamalah dengan bank-bank ini tidaklah benar dan bank-bank ini lebih berbahaya dari bank-bank riba (konvesional)</p>
<p>Faidah :</p>
<p>Berkata Abu Abdillah :<br />
Model yang terakhir ini hampir-hampir tidak ditemukan diseluruh bank ,sebab tidak masuk akal bila sebuah bank memenuhi untukmu satu barang kecuali setelah ada jaminan, akad dan saksi-saksi, maka tidak ada perlunya untuk berselisih dalam masalah ini , dan hendaknya kita berhati-hati dari bermuamalah dengan bank-bank tersebut dengan seluruh jenisnya dan seluruh muamalahnya dan kita sepakat dengan Al Allamah Al Albani dan Al &#8216;Utsaimin ,karena bentuk (akad jual beli) model yang terakhir dengan tanpa keharusan (membeli barang tersebut) adalah bagaikan fatamorgana belaka hampir tidak didapati pada sebuah bank dari bank-bank tersebut.</p>
<p>Wallahu a&#8217;lam</p>
<p>Diterjemahkan dari &#8220;Kitab Al-Buyu&#8221;, karya Abu Abdillah Abdurrahman Al-Mar&#8217;i Hafidzhahullah Ta&#8217;ala, hal:90-92. Oleh:para penuntut ilmu yang bermukim di Kalimantan Timur.</p>
<br />Filed under: <a href='http://shirotholmustaqim.wordpress.com/category/fiqh/'>Fiqh</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/shirotholmustaqim.wordpress.com/2710/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/shirotholmustaqim.wordpress.com/2710/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/shirotholmustaqim.wordpress.com/2710/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/shirotholmustaqim.wordpress.com/2710/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/shirotholmustaqim.wordpress.com/2710/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/shirotholmustaqim.wordpress.com/2710/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/shirotholmustaqim.wordpress.com/2710/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/shirotholmustaqim.wordpress.com/2710/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/shirotholmustaqim.wordpress.com/2710/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/shirotholmustaqim.wordpress.com/2710/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/shirotholmustaqim.wordpress.com/2710/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/shirotholmustaqim.wordpress.com/2710/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/shirotholmustaqim.wordpress.com/2710/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/shirotholmustaqim.wordpress.com/2710/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shirotholmustaqim.wordpress.com&amp;blog=9822223&amp;post=2710&amp;subd=shirotholmustaqim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://shirotholmustaqim.wordpress.com/2011/11/11/fakta-soal-bank-syariah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">shirotholmustaqim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hukum memberi ucapan tahun baru Hijriyah</title>
		<link>http://shirotholmustaqim.wordpress.com/2011/11/11/hukum-memberi-ucapan-tahun-baru-hijriyah/</link>
		<comments>http://shirotholmustaqim.wordpress.com/2011/11/11/hukum-memberi-ucapan-tahun-baru-hijriyah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Nov 2011 02:17:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>shirotholmustaqim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fatwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://shirotholmustaqim.wordpress.com/?p=2707</guid>
		<description><![CDATA[Penulis: Syaikh Muhammad Sholih Al Utsaimin Tanya : &#8220;Bagaimana hukum yang berkenaan dengan ‘ucapan selamat’ saat memasuki tahun baru hijriyah, dan bagaimana tanggapan (kita) atas mereka yang menyambut (tahun baru Hijriyah) tersebut? Jawaban : Jika seseorang memberikan ucapan selamat kepada anda, kemudian bereaksi terhadap dia, tetapi seseorang tersebut tidak memulainya;maka ini adalah sikap yang benar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shirotholmustaqim.wordpress.com&amp;blog=9822223&amp;post=2707&amp;subd=shirotholmustaqim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis: Syaikh Muhammad Sholih Al Utsaimin</p>
<p>Tanya :<br />
&#8220;Bagaimana hukum yang berkenaan dengan ‘ucapan selamat’ saat memasuki tahun baru hijriyah, dan bagaimana tanggapan (kita) atas mereka yang menyambut (tahun baru Hijriyah) tersebut?<span id="more-2707"></span></p>
<p>Jawaban :<br />
Jika seseorang memberikan ucapan selamat kepada anda, kemudian bereaksi terhadap dia, tetapi seseorang tersebut tidak memulainya;maka ini adalah sikap yang benar dalam kasus ini. Jika seorang laki-laki, sebagai contoh, berkata : &#8220;Kami ucapkan selamat tahun baru (hijriyah),&#8221; maka katakan, &#8220;Semoga Allah memberikan kebaikan kepada anda dan menjadikannya sebagai tahun kebaikan dan barakah.&#8221; Namun, jangan engkau memulai sendiri (ucapan ini), sebab saya tidak mengetahui hal ini datang dari pendahulu (Salafus Sholih) kita, dimana mereka dulu memberi selamat satu sama lain untuk tahun baru. Bahkan, (saya) mengetahui bahwa Salaf tidak mengambil Muharram sebagai bulan pertama tahun hijriyah, kecuali setelah kepemimpinan Umar bin Khattab, semoga Allah merahmatinya. (Syaikh Muhammad Sholih Al Utsaimin)</p>
<p>Rujukan artikel asli : يقول السائل: ما حكم التهنئة بالسنة الهجرية و ماذا يرد على المهنئ؟<br />
فأجاب فضيلة الشيخ العثيمين رحمة الله<br />
إن هنّأك احد فَرُدَّ عليه و لا تبتديء احداً بذلك هذا هو الصواب في هذه المسألة لو قال لك إنسان مثلاً نهنئك بهذا العام الجديد قل : هنئك الله بخير و جعله عام خير و بركه لكن لا تبتدئ الناس أنت لأنني لا أعلم أنه جاء عن السلف أنهم كانوا يهنئون بالعام الجديد بل إعلموا ان السلف لم يتخذوا المحرم أول العام الجديد إلا في خلافة عمر بن الخطاب رضي الله عنه.<br />
إنتهى</p>
<p>http://www.sahab.net/sahab/showthread.php?s=86c85ebd2ff2b7a142240c5c1d60baed&#038;threadid=301572</p>
<p>(Dinukil dari http://www.salafitalk.net/st/viewmessages.cfm?Forum=6&amp;Topic=3289 tulisan saudara Abul Abbas Musa ibn Yohanes Richardson (&#8216;Aziziyyah, Makkah, Saudi Arabia))</p>
<p>Sumber : http://www.darussalaf.or.id</p>
<br />Filed under: <a href='http://shirotholmustaqim.wordpress.com/category/fatwa/'>Fatwa</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/shirotholmustaqim.wordpress.com/2707/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/shirotholmustaqim.wordpress.com/2707/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/shirotholmustaqim.wordpress.com/2707/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/shirotholmustaqim.wordpress.com/2707/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/shirotholmustaqim.wordpress.com/2707/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/shirotholmustaqim.wordpress.com/2707/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/shirotholmustaqim.wordpress.com/2707/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/shirotholmustaqim.wordpress.com/2707/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/shirotholmustaqim.wordpress.com/2707/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/shirotholmustaqim.wordpress.com/2707/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/shirotholmustaqim.wordpress.com/2707/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/shirotholmustaqim.wordpress.com/2707/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/shirotholmustaqim.wordpress.com/2707/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/shirotholmustaqim.wordpress.com/2707/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shirotholmustaqim.wordpress.com&amp;blog=9822223&amp;post=2707&amp;subd=shirotholmustaqim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://shirotholmustaqim.wordpress.com/2011/11/11/hukum-memberi-ucapan-tahun-baru-hijriyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">shirotholmustaqim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jangan lihat siapa yang bicara, tapi lihat apa yang dibicarakan</title>
		<link>http://shirotholmustaqim.wordpress.com/2011/11/08/jangan-lihat-siapa-yang-bicara-tapi-lihat-apa-yang-dibicarakan/</link>
		<comments>http://shirotholmustaqim.wordpress.com/2011/11/08/jangan-lihat-siapa-yang-bicara-tapi-lihat-apa-yang-dibicarakan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Nov 2011 03:54:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>shirotholmustaqim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://shirotholmustaqim.wordpress.com/?p=2705</guid>
		<description><![CDATA[Penulis: Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf Al-Atsary Pertanyaan: Assalaamu’alaikum, ada sekelompok orang yang mengatakan “jangan lihat siapa yang bicara, tapi lihat apa yang dibicarakan!” Apa ini benar? (081586190***) Jawaban: Wa’alaikumussalaam warahmatullaah. Ucapan: “Jangan lihat siapa yang bicara, tapi lihat apa yang dibicarakan!” ini bukanlah firman Allah, sabda Rasulullah ataupun kaidah ushul fiqh, sehingga kita tidak usah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shirotholmustaqim.wordpress.com&amp;blog=9822223&amp;post=2705&amp;subd=shirotholmustaqim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis: Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf Al-Atsary</p>
<p>Pertanyaan:<br />
Assalaamu’alaikum, ada sekelompok orang yang mengatakan “jangan lihat siapa yang bicara, tapi lihat apa yang dibicarakan!” Apa ini benar? (081586190***)<br />
Jawaban:</p>
<p>Wa’alaikumussalaam warahmatullaah.</p>
<p>Ucapan: “Jangan lihat siapa yang bicara, tapi lihat apa yang dibicarakan!” ini bukanlah firman Allah, sabda Rasulullah ataupun kaidah ushul fiqh, sehingga kita tidak usah dipusingkan dengan ucapan tersebut.<span id="more-2705"></span></p>
<p>Ucapan tadi sengaja dipopulerkan oleh orang-orang yang bermanhaj di sana senang di sini senang, sehingga mereka mengambil ilmu atau belajar dari siapa saja karena berpegang dengan ucapan tadi.</p>
<p>Bahkan yang benar adalah kita mengambil ilmu dari orang yang lurus manhajnya yaitu dari ahlus sunnah wal jama’ah bukan dari sembarang orang apalagi dari ahli bid’ah.</p>
<p>Al-Imam Ibnu Sirin mengatakan:</p>
<p>إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِيْنٌ فَانْظُرُوْا عَمَّنْ تَأْخُذُوْنَ دِيْنَكُمْ</p>
<p>“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka hendaklah kalian melihat dari siapa kalian mengambil agama kalian.” (Muqaddimah Shahiih Muslim)</p>
<p>Beliau juga mengatakan: “Mereka (para shahabat dan tabi’in) pada awalnya tidaklah menanyakan tentang sanad hadits. Maka ketika terjadi fitnah (munculnya berbagai firqah sesat seperti Khawarij, Syi’ah-Rafidhah dan lainnya), mereka berkata: “Sebutkan kepada kami sanad kalian. Maka dilihat apabila datang dari ahlus sunnah maka diterima haditsnya dan apabila datang dari ahli bid’ah maka ditolak haditsnya.” (Ibid.)</p>
<p>Memang, kita tidak memungkiri bahwa bisa jadi setiap orang termasuk ahli bid’ah mengatakan sesuatu yang benar. Akan tetapi apakah kita menjamin bahwa mereka tidak mencampurinya dengan kebathilan? Atau mereka menyampaikannya tetapi dengan tafsiran yang salah? Atau apakah kita dapat memilah mana yang benar dan mana yang salah?</p>
<p>Ketika mereka menyampaikan ayat, hadits atapun ucapan para ulama, mereka ubah lafazhnya atau diselewengkan tafsirnya sesuai dengan hawa nafsu mereka?</p>
<p>Ketika datang ahli bid’ah kepada seorang ulama salaf, ingin menyampaikan satu kalimat atau satu ayat, maka ulama tadi mengatakan: “Tidak, walaupun setengah kata (saya tidak akan mendengarkannya).” Dan ketika ditanya: “Mengapa engkau tidak mau mendengarkan ayat yang akan dibacakannya?” Maka sang ulamapun menjawab: “Saya takut kalau dia membaca satu ayat lalu dia ubah lafazhnya dan hal ini menancap di hatiku sehingga akupun menjadi sesat karenanya.”</p>
<p>Tidakkah kita takut terjatuh dalam kesalahan dan penyimpangan akibat mengambil ilmu dari siapa saja? Hendaklah kita lebih berhati-hati dan waspada dalam mengambil ilmu karena ilmu ini adalah agama yang akan kita pertanggungjawabkan kepada Allah di hari kiamat nanti.</p>
<p>Di samping itu, kalau kita mengambil ilmu dari ahli bid’ah maka hati kita akan condong kepadanya sehingga mentolerir kesalahan dan penyimpangannya yang akhirnya lambat laun kita mengikutinya secara sempurna, yang pada awalnya kita hanya ingin mengambil kebaikannya saja, nas`alullaahas salaamah.</p>
<p>Apakah ahlus sunnah tidak memiliki kebaikan atau kurang kebaikannya sehingga kita harus mengambil ilmu dari ahli bid’ah?</p>
<p>Bukankah masih banyak ahlus sunnah yang mendakwahkan Islam berdasarkan pemahaman salafush shalih? Berhati-hatilah dalam mengambil ilmu, mudah-mudahan Allah menunjukki kita semua kepada apa yang dicintai dan diridhai-Nya. Wallaahul Muwaffiq.</p>
<p>Sumber : Buletin Al-Wala’ Wal-Baro’ Edisi ke-23 Tahun ke-3 / 06 Mei 2005 M / 27 Rabi’ul Awwal 1426 H</p>
<p>http://adhwaus-salaf.or.id/2011/05/08/undhur-maa-qoolaa-walaa-tandhur-man-qoola/</p>
<br />Filed under: <a href='http://shirotholmustaqim.wordpress.com/category/aqidah/'>Aqidah</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/shirotholmustaqim.wordpress.com/2705/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/shirotholmustaqim.wordpress.com/2705/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/shirotholmustaqim.wordpress.com/2705/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/shirotholmustaqim.wordpress.com/2705/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/shirotholmustaqim.wordpress.com/2705/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/shirotholmustaqim.wordpress.com/2705/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/shirotholmustaqim.wordpress.com/2705/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/shirotholmustaqim.wordpress.com/2705/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/shirotholmustaqim.wordpress.com/2705/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/shirotholmustaqim.wordpress.com/2705/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/shirotholmustaqim.wordpress.com/2705/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/shirotholmustaqim.wordpress.com/2705/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/shirotholmustaqim.wordpress.com/2705/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/shirotholmustaqim.wordpress.com/2705/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shirotholmustaqim.wordpress.com&amp;blog=9822223&amp;post=2705&amp;subd=shirotholmustaqim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://shirotholmustaqim.wordpress.com/2011/11/08/jangan-lihat-siapa-yang-bicara-tapi-lihat-apa-yang-dibicarakan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">shirotholmustaqim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Syarat-syarat Tauhid kepada Allah Ta&#8217;ala</title>
		<link>http://shirotholmustaqim.wordpress.com/2011/10/24/syarat-syarat-tauhid-kepada-allah-taala/</link>
		<comments>http://shirotholmustaqim.wordpress.com/2011/10/24/syarat-syarat-tauhid-kepada-allah-taala/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Oct 2011 06:18:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>shirotholmustaqim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://shirotholmustaqim.wordpress.com/?p=2702</guid>
		<description><![CDATA[Penulis: Ustadz Muhammad Umar As Sewed Kalimat tauhid mempunyai keutamaan yang sangat agung. Dengan kalimat tersebut seseorang akan dapat masuk surga dan selamat dari api neraka. Sehingga dikatakan kalimat tauhid merupakan kunci surga. Barangsiapa yang akhir kalimatnya adalah لا إله إلا الله maka dia termasuk ahlul jannah (penghuni surga). Namun sebagaimana dikatakan dalam kitab Fathul [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shirotholmustaqim.wordpress.com&amp;blog=9822223&amp;post=2702&amp;subd=shirotholmustaqim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis: Ustadz Muhammad Umar As Sewed</p>
<p>Kalimat tauhid mempunyai keutamaan yang sangat agung. Dengan kalimat tersebut seseorang akan dapat masuk surga dan selamat dari api neraka. Sehingga dikatakan kalimat tauhid merupakan kunci surga. Barangsiapa yang akhir kalimatnya adalah لا إله إلا الله maka dia termasuk ahlul jannah (penghuni surga).</p>
<p>Namun sebagaimana dikatakan dalam kitab Fathul Majid (Syaikh Abdurrahman Alu Syaikh) bahwa setiap kunci memiliki gigi-gigi. Dan tanpa gigi-gigi tersebut tidak dapat dikatakan kunci dan tidak bisa dipakai untuk membuka. Gigi-gigi pada kunci surga tersebut adalah syarat-syarat لا إله إلا الله. Barang siapa memenuhi syarat-syarat tersebut dia akan mendapatkan surga, sedangkan barangsapa yang tidak melengkapinya maka ucapannya hanya igauan tanpa makna.</p>
<p>Ketika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam memberikan jaminan surga kepada orang-orang mukmin, Rasulullah menyebutkannya degan lafadz:<span id="more-2702"></span></p>
<p>مَنْ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ. (متفق عليه)</p>
<p>Barang siapa yang bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah (HR. Bukhari Muslim)</p>
<p>Lafadz شهد (bersaksi) bukanlah sekedar ucapan, karena persaksian lebih luas maknanya daripada ucapan. Lafadz ini mengandung ucapan dengan lisan, ilmu, pemahaman, keyakinan dalam hati dan pembuktian dengan amalan.</p>
<p>Bukankah kita ketahui bahwa seseorang yang mempersaksikan suatu persaksian di hadapan hakim di pengadilan, tidak akan diterima jika saksi tersebut tidak mengetahui atau ia tidak memahami apa yang dia ucapkan? Bukankah pula jika ia berbicara dengan ragu dan tidak yakin juga tidak akan diterima persaksiannya? Demikian pula persaksian seseorang yang bertentangan dengan perbuatannya sendiri, tidak akan dipercaya oleh pengadilan manapun. Hal ini jika ditinjau dari makna شهد(mempersaksikan).</p>
<p>Apalagi masalah ilmu dan pemahaman telah jelas dalilnya dalam al-Qur’an, sebagaimana firman Allah:</p>
<p>فَاعْلَمْ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ [الزحرف: 86]</p>
<p>Maka ketahuilah bahwasanya tidak ada sesembahan yang patut diibadahi kecuali Allah</p>
<p>إِلاَّ مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ. [الزحرف: 86]</p>
<p>Kecuali orang yang mempersaksikan yang hak (tauhid) dan mereka meyakini(nya) (az-Zuhruf: 86)</p>
<p>Oleh karena itu sebatas mengucapkannya tanpa adanya pengetahuan tentang maknanya, keyakinan hati, dan tanpa pengamalan terhadap konsekwensi-konsekwensinya baik berupa pensucian diri dari noda kesyirikan maupun pengikhlasan ucapan dan amalan –ucapan hati dan lisan, amalan hati dan anggota badan- maka hal tersebut tidaklah bermanfaat menurut kesepakatan para ulama (lihat Fathul Majid, Abdurrahman Alu Syaikh, hal. 52).</p>
<p>Itulah hakikat makna syahadat yang harus ditunjukkan dengan adanya keikhlasan, kejujuran yang mana keduanya harus berjalan beriringan dan tidak dapat dipisahkan antara satu dengan lainnya. Jika tidak mengikhlaskan persaksiannya berarti dia adalah musyrik dan apabila tidak jujur dalam persaksiannya berarti dia munafiq.</p>
<p>Jadi, persaksian kalimat لا إله إلا الله yang merupakan kunci untuk membuka pintu surga tentu harus memiliki harus syarat-syarat.</p>
<p>Syarat pertama: Ilmu<br />
yaitu pengetahuan terhadap makna syahadat yang membuahkan peniadaan terhadap kebodohan. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala:</p>
<p>فَاعْلَمْ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ. [محمد: 19]</p>
<p>Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan) yang patut diibadahi kecuali Allah &#8230;. (Muhammad: 19)</p>
<p>dan dalam hadits disebutkan:</p>
<p>مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ. (رواه مسلم عن عثمان بن عفان)</p>
<p>Barangsiapa yang mati, sedangkan ia mengetahui bahwa tidak ada ilah yang patut diibadahi kecuali Allah, maka ia akan masuk surga (HR. Muslim)</p>
<p>Syarat kedua: Yakin<br />
Yaitu keyakinan tanpa keraguan terhadap kalimat لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ. Hal tersebut tidak akan terwujud kecuali jika seorang yang mengucapkan persaksian tersebut dalam keadaan yakin terhadap persaksiannya. Dalilnya adalah firman-Nya:</p>
<p>إِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا بِاللهِ وَرَسُوْلِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوْا&#8230;[الحجرات: 15]</p>
<p>Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu &#8230; (al-Hujurat: 15)</p>
<p>Untuk membuktikan kebenaran keimanannya, Allah memberikan syarat adaya keyakinan pada keimanannya ini. Karena orang yang ragu dalam keimanannya tidak lain hanyalah orang-orang munafiq –wal iyadzu billah- sebagaimana yang diterangkan dalam ayat-Nya:</p>
<p>إِنَّمَا يَسْتَأْذِنُكَ الَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ وَارْتَابَتْ قُلُوبُهُمْ فَهُمْ فِي رَيْبِهِمْ يَتَرَدَّدُونَ. [التوبة: 45]</p>
<p>Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keraguannya.(at-Taubah: 45)</p>
<p>Adapun dalil dari sunnah adalah sebagaimana disebutkan dalam hadits:</p>
<p>مَنْ لَقِيْتُ مِنْ وَرَاءِ هَذَا الْحَائِطِ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ مُسْتَيْقِنًا بِهَا قَلْبَهُ فَبَشِّرْهُ بِالْجَنَّةِ. (رواه مسلم عن أبي هريرة)</p>
<p>Barangsiapa yang menemui-Ku dari balik tabir ini yang bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang patut diibadahi kecuali Allah dengan yakin terhadapnya dalam hatinya, maka berilah kabar gembira kepadanya dengan surga. (HR. Muslim dari Abu Hurairah)</p>
<p>Syarat ketiga: Menerima<br />
Yaitu menerima segala konsekwensi-konsekwensi dari kalimat syahadat baik dengan hatinya maupun dengan lisannya. Tidak seperti kaum musyrikin yang tidak mau menerima konsekwensi kalimat tauhid yaitu meninggalkan sesembahan-sesembahan mereka.</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:</p>
<p>إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ [35] وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُوا ءَالِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَجْنُونٍ [الصافات: 36]</p>
<p>Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: &#8220;Laa ilaaha illallah&#8221; (Tiada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah) mereka menyombongkan diri, dan mereka berkata: &#8220;Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena seorang penyair gila?&#8221; (ash-Shafat: 35-36)</p>
<p>Adapun dalil dari hadits adalah:</p>
<p>فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقُهَ فِي دِيْنِ اللهِ وَنَفَعَهُ مَا بَعَثَنِيَ اللهُ بِهِ فَعَلِمَ وَعَلَّمَ وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللهِ الَّذِيْ أَرْسَلْتُ بِهِ. (رواه البخاري)</p>
<p>Maka demikianlah permisalan bagi siapa yang paham terhadap agama Allah dan dapat mengambil manfaat dari apa-apa yang Allah mengutusku dengannya maka dia mengetahui dan mengajarkannya. Da permisalan bagi siapa yang tidak mengangkat kepalanya dengan hal itu dan tidak menerima petunjuk Allah yang aku diutus dengannya. (HR. Bukhari)</p>
<p>Syarat keempat: Tunduk<br />
yaitu tunduk dan menerima konsekwensi-konsekwensi kalimat .لا إله إلا الله Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:</p>
<p>وَمَنْ يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى وَإِلَى اللَّهِ عَاقِبَةُ اْلأُمُورِ. [لقمان: 22]</p>
<p>Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang pada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allahlah kesudahan segala urusan. (Luqman: 22)</p>
<p>Syarat kelima: Jujur<br />
Hal ini tidak akan terwujud kecuali dengan mengucapkannya secara jujur dari dalam hatinya. Maka jika mengucapkan syahadat dengan lisannya akan tetapi tidak dibenarkan oleh hatinya berati dia adalah munafiq, pendusta.<br />
Allah berfirman:</p>
<p>الم(1)أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا ءَامَنَّا وَهُمْ لاَ يُفْتَنُونَ [2] وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ<br />
[العنكبوت: 3]</p>
<p>Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan : &#8220;Kami telah beriman&#8221;, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang jujur dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (al-Ankabut: 1-3)</p>
<p>Dan sabda Nabi Shalallahu ‘alahi wassalam :</p>
<p>مَا مِنْ أَحَدٍ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمّدًا رَسُوْلُ اللهِ صِدْقًا مِنْ قَلْبِهِ إِلاَّ حَرَّمَهُ اللهُ عَلَى النَّارِ . (رواه البخاري)</p>
<p>Tidaklah dari salah seorang di antara kalian yang bersaksi bahwasanya tidak ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah dengan jujur dari lubuk hatinya, kecuali Allah akan mengharamkannya dari api neraka. (HR. Bukhari)</p>
<p>Syarat keenam: Ikhlas<br />
yaitu keikhlasan yang bermakna memurnikan, maka apabila ibadahnya diberikan pula kepada selain Allah, maka hilanglah keikhlasan dan jatuh ke dalam kesyirikan. Maka keikhlasan harus meniadakan bentuk amalan kesyirikan, kemunafiqan, riya’ dan sum’ah.</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:</p>
<p>&#8230;فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ. [الزمر: 2]<br />
…<br />
Maka beribadahlah kepada Allah dengan memurnikan agama kepada-Nya. (az-Zumar: 2)</p>
<p>وَمَآ أُمِرُوآ إِلاَّ لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ&#8230; [البينة: 5]</p>
<p>Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan ibadah kepadaNya dalam (menjalankan) agama yang lurus. (al-Bayyinah: 5)<br />
dan dalam hadits:</p>
<p>أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِيْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إَلاَّ اللهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ. (رواه البخاري)</p>
<p>Manusia yang paling berbahagia dengan syafa’atku di hari kiamat adalah seseorang yang berkata لاَ إِلَهَ إَلاَّ اللهُ dengan ikhlas dari lubuk hatinya. (HR. Bukhari)</p>
<p>Syarat ketujuh: Kecintaan<br />
yaitu kecintaan kepada Allah terhadap kalimat syahadat ini serta terhadap konsekwensi-konsekwensinya, terhadap orang-orang yang mengamalkannya dan berpegang teguh dengan syarat-syaratnya serta benci terhadap perkara-perkara yang membatalkan syahadat. Sebagaimana firman-Nya:</p>
<p>وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ&#8230;. [البقرة: 165]</p>
<p>Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. (alBaqarah: 165)<br />
dan sabda Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassalam :</p>
<p>مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ اْلإِيْمَانَ أَنْ يَكُوْنَ اللهُ وَرَسوْلُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهُ أنَ ْيَعُوْدَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يَْقذِفَ فِي الناَّرِ. (رواه البخاري)</p>
<p>Barangsiapa yang ada padanya (tiga perkara ini) maka ia akan mendapatkan manisnya keimanan. Yakni jika ia lebih mencintai Allah dan rasulNya daripada selain keduanya, dan jika mencintai seseorang, tidaklah ia mencintainya kecuali karena Allah, dan benci pada kekafiran sebagaimana kebenciannya untuk dilemparkan ke dalam api neraka. (HR. Bukhari).</p>
<p>Syarat ke delapan: Mengingkari Thaghut<br />
yaitu segala sesuatu yang diibadahi selain Allah. Bentuk-bentuknya bisa bermacam-macam, bisa dalam bentuk jin, manusia ataupun pohon-pohonan dan hewan-hewan. Didefinisikan oleh Ibnul Qayyim dengan ucapannya: “Thaghut adalah segala sesuatu yang menyebabkan manusia keluar dari batas kehambaannya kepada Allah apakah dalam bentuk matbu’ (panutan), ma’bud (sesembahan) atau mutha’ (yang ditaati)”. Atau dengan kata lain sesuatu yang menyebabkan seseorang kufur dan syirik.</p>
<p>Maka pimpinan yang harus diingkari pertama adalah setan, kemudian dukun-dukun yang datang pada mereka setan-setan, kemudian semua yang diibadahi selain Allah dalam keadaan ridha bahkan mengajak manusia untuk beribadah kepada dirinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:</p>
<p>&#8230;قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لاَ انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ. [البقرة: 256]</p>
<p>Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (al-Baqarah: 256)</p>
<p>Dan dalam hadits:<br />
مَنْ قالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَكَفَرَ بِمَا يُعْبَدُ مِنْ دُوْنِ اللهِ حَرَّمَ مَالُهُ وَدَمُّهُ وَحِسَابُهُ عَلَى اللهِ. (رواه مسلم)</p>
<p>Barangsiapa yang berkata لا إله إلا الله dan mengingkari terhadap apa-apa yang diibadahi selain Allah, maka haram harta dan darahnya. Adapun perhitungannya ada pada sisi Allah (HR. Muslim).</p>
<p>(Dikutip dari Bulletin Dakwah Manhaj Salaf, penulis Ustadz Muhammad Umar As Sewed, judul asli &#8220;Syarat-syarat Tauhid&#8221;.)</p>
<br />Filed under: <a href='http://shirotholmustaqim.wordpress.com/category/aqidah/'>Aqidah</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/shirotholmustaqim.wordpress.com/2702/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/shirotholmustaqim.wordpress.com/2702/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/shirotholmustaqim.wordpress.com/2702/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/shirotholmustaqim.wordpress.com/2702/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/shirotholmustaqim.wordpress.com/2702/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/shirotholmustaqim.wordpress.com/2702/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/shirotholmustaqim.wordpress.com/2702/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/shirotholmustaqim.wordpress.com/2702/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/shirotholmustaqim.wordpress.com/2702/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/shirotholmustaqim.wordpress.com/2702/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/shirotholmustaqim.wordpress.com/2702/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/shirotholmustaqim.wordpress.com/2702/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/shirotholmustaqim.wordpress.com/2702/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/shirotholmustaqim.wordpress.com/2702/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shirotholmustaqim.wordpress.com&amp;blog=9822223&amp;post=2702&amp;subd=shirotholmustaqim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://shirotholmustaqim.wordpress.com/2011/10/24/syarat-syarat-tauhid-kepada-allah-taala/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">shirotholmustaqim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Puasa Ramadhan bagi Musafir</title>
		<link>http://shirotholmustaqim.wordpress.com/2011/08/18/puasa-ramadhan-bagi-musafir/</link>
		<comments>http://shirotholmustaqim.wordpress.com/2011/08/18/puasa-ramadhan-bagi-musafir/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Aug 2011 02:38:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>shirotholmustaqim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fatwa]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://shirotholmustaqim.wordpress.com/?p=2696</guid>
		<description><![CDATA[Saudara-saudaraku kaum muslimin ?rahimakumullah-, kehadiran bulan suci Ramadhan di tengah-tengah kita sungguh membawa berkah yang besar di mana Allah melipatgandakan pahala amalan-amalan di dalamnya, dibukanya pintu-pintu surga dan berkah, serta fadhilah-fadhilah lainnya. Sebagai seorang muslim tentunya kita ingin segala aktivitas yang dilakukan tidaklah mengganggu shoum yang sedang kita jalani. Di sisi lain kita meyakini bahwa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shirotholmustaqim.wordpress.com&amp;blog=9822223&amp;post=2696&amp;subd=shirotholmustaqim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saudara-saudaraku kaum muslimin ?rahimakumullah-, kehadiran bulan suci Ramadhan di tengah-tengah kita sungguh membawa berkah yang besar di mana Allah melipatgandakan pahala amalan-amalan di dalamnya, dibukanya pintu-pintu surga dan berkah, serta fadhilah-fadhilah lainnya.</p>
<p>Sebagai seorang muslim tentunya kita ingin segala aktivitas yang dilakukan tidaklah mengganggu shoum yang sedang kita jalani. Di sisi lain kita meyakini bahwa agama ini tidaklah menyulitkan para pemeluknya sebagaimana pernyataan Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dari sahabat Abu Hurairah, &#8220;Sesungguhnya agama ini mudah.&#8221; Allah subhanahu wa ta&#8217;ala telah memberikan keringanan untuk berbuka dari shoumnya bagi siapa saja yang memiliki udzur syar&#8217;i seperti sakit atau musafir (yang sedang mengadakan satu perjalanan) atau yang lainnya.</p>
<p>Berkenaan dengan hal itu, menjadi satu hal penting jika kita mengetahui ahkam yang berkaitan dengan shoum atau berbuka bagi musafirin. Hanya kepada Allah-lah kita mohon pertolongan dan taufiq.</p>
<p>A. Beberapa dalil tentang masalah ini:<span id="more-2696"></span></p>
<p>* Allah subhanahu wa ta&#8217;ala berfirman, &#8220;Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka) maka wajiblah baginya berpuasa sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.&#8221; (Q.S. Al Baqarah: 184).</p>
<p>* Dari hadits Aisyah bahwa Hamzah bin Amr Al Aslami bertanya kepada Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, &#8220;Apakah aku berpuasa dalam keadaan safar?&#8221; ? dan beliau adalah orang yang sering melakukan shoum ? Rasulullah menjawab, &#8220;Jika engkau berkehendak maka shoumlah, jika tidak maka berbukalah.&#8221; (H.R. Al Bukhari dan Muslim). Hadits ini menunjukkan bolehnya shoum dan berbuka jika shoumnya nafilah (shoum sunnah).</p>
<p>* Dari Anas bin Malik, ia berkata, &#8220;Kami bepergian bersama Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Yang berpuasa tidak mencela kepada yang berbuka, demikian pula sebaliknya yang berbuka tidak mencela kepada yang berpuasa.&#8221; (H.R. Al Bukhari dan Muslim). Hadits ini lebih dekat pendalilannya atas kebolehan shoum Ramadhan dalam keadaan safar.</p>
<p>* Dari Abu Darda, ia berkata, &#8220;Kami keluar bersama Rasulullah di bulan Ramadhan dalam keadaan cuaca sangat panas, sampai-sampai seseorang di antara kami ada yang meletakkan tangannya di atas kepalanya karena saking panasnya. Tidak ada di antara kami yang berpuasa kecuali Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dan Abdullah bin Rowahah.&#8221; (H.R. Al Bukhari dan Muslim). Hadits ini dalil bolehnya berbuka dan bolehnya shoum di bulan Ramadhan.</p>
<p>* Dan masih banyak hadits-hadits lainnya dalam masalah ini.</p>
<p>B. Berbuka bagi yang musafir</p>
<p>Dibolehkan bagi yang musafir untuk berbuka berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta&#8217;ala di atas dalam Al Qur&#8217;an surat Al Baqarah: 184, dan telah dinukil pula ijma&#8217; (kesepakatan) sebagian besar dari kalangan ahlul ilmi, sampai Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyatakan,</p>
<p>&#8220;Barangsiapa yang mengatakan tidak boleh bagi musafir untuk berpuasa, kecuali kalau tidak mampu untuk shoum, maka hendaknya ia bertaubat. Jika tidak, maka diperangi.&#8221; Dan berkata lagi, &#8220;Barangsiapa yang mengatakan yang berbuka dari shoumnya akan mendapatkan dosa hendaknya ia bertaubat.&#8221;</p>
<p>C. Shoum bagi yang musafir</p>
<p>Terdapat beberapa perbedaan dari kalangan ahlul ilmi tentang boleh dan tidaknya shoum bagi musafir, namun pendapat yang rajih dalam hal ini adalah bolehnya shoum bagi musafir dan ini pendapatnya jumhur ulama dengan dalil di antaranya hadits Abu Darda di atas.<br />
D. Jika shoum ataupun berbuka dibenarkan dalam keadaan safar lalu mana yang lebih afdhal atau yang lebih didahulukan?</p>
<p>Sebagian kalangan ulama menyatakan yang lebih afdhal adalah shoum, jika keadaannya sama antara shoum maupun berbuka, yakni tidak menimbulkan lelah. Mereka yang berpendapat seperti ini adalah madzhab Malik, Asy Syafi&#8217;i, Abu Hanifah, dan yang lainnya. Mereka berdalil di antaranya dengan firman Allah subhanahu wa ta&#8217;ala, &#8220;Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.&#8221; (Q.S. Al Baqarah: 184).</p>
<p>Sebagiannya lagi seperti Imam Ahmad, Ishaq, dan jamaah dari para sahabat dan tabi&#8217;in berpendapat bahwa yang afdhal adalah berbuka. Adapun di antara dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh sekelompok para sahabat, di antaranya Anas bin Malik, Ibnu Umar, Abu Hurairah, dan Ibnu Abbas secara marfu&#8217;, &#8220;Sesungguhnya Allah menyukai untuk didatangi rukhsoh-Nya (keringanan-Nya).&#8221; Dan hadits Jabir, &#8220;Bukanlah termasuk kebaikan shoum dalam keadaan safar.&#8221; (H.R. Al Bukhari dan Muslim). Dalam lafazh Muslim, &#8220;Hendaklah kalian dengan rukhsoh Allah bagi kalian.&#8221;</p>
<p>Berkata Ibnu Daqiqil &#8216;Ied, &#8220;Di dalamnya terdapat dalil bahwa disunnahkan untuk berpegang teguh dengan rukhsoh jika keperluan mendesaknya.&#8221;</p>
<p>Kesimpulan</p>
<p>Dari keterangan-keterangan di atas kita dapat melihat tentang kebolehannya bagi musafir untuk berbuka maupun berpuasa, namun kita dapat katakan bahwa sebaiknya dan afdhal bagi musafir untuk berbuka dengan syarat tidak memberatkannya di saat menqodhonya.<br />
Wal &#8216;ilmu &#8216;indallah.<br />
Maraji&#8217;:<br />
- Al Majmu&#8217;<br />
- Al Muhalla<br />
- Al Mughni<br />
- Bidayatul Mujtahid<br />
- Majmu&#8217;ul Fatawa<br />
- Al Fath<br />
- Ash Shohihah<br />
- Ihkamul Ihkam<br />
- Az Zaad</p>
<br />Filed under: <a href='http://shirotholmustaqim.wordpress.com/category/fatwa/'>Fatwa</a>, <a href='http://shirotholmustaqim.wordpress.com/category/fiqh/'>Fiqh</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/shirotholmustaqim.wordpress.com/2696/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/shirotholmustaqim.wordpress.com/2696/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/shirotholmustaqim.wordpress.com/2696/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/shirotholmustaqim.wordpress.com/2696/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/shirotholmustaqim.wordpress.com/2696/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/shirotholmustaqim.wordpress.com/2696/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/shirotholmustaqim.wordpress.com/2696/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/shirotholmustaqim.wordpress.com/2696/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/shirotholmustaqim.wordpress.com/2696/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/shirotholmustaqim.wordpress.com/2696/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/shirotholmustaqim.wordpress.com/2696/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/shirotholmustaqim.wordpress.com/2696/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/shirotholmustaqim.wordpress.com/2696/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/shirotholmustaqim.wordpress.com/2696/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shirotholmustaqim.wordpress.com&amp;blog=9822223&amp;post=2696&amp;subd=shirotholmustaqim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://shirotholmustaqim.wordpress.com/2011/08/18/puasa-ramadhan-bagi-musafir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">shirotholmustaqim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Lailatul Qadr dan Zakat Fithri</title>
		<link>http://shirotholmustaqim.wordpress.com/2011/08/15/lailatul-qadr-dan-zakat-fithri/</link>
		<comments>http://shirotholmustaqim.wordpress.com/2011/08/15/lailatul-qadr-dan-zakat-fithri/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Aug 2011 00:13:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>shirotholmustaqim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://shirotholmustaqim.wordpress.com/?p=2694</guid>
		<description><![CDATA[Lailatul Qadr Lailatul Qadr (atau lebih dikenal dengan malam Lailatul Qadar) mempunyai keutamaan yang sangat besar, karena malam ini menyaksikan turunnya Al-Qur`anul Karim, yang membimbing orang-orang yang berpegang dengannya ke jalan kemuliaan dan mengangkatnya ke derajat yang mulia dan abadi. Ummat Islam yang mengikuti Sunnah Rasulnya berlomba-lomba untuk beribadah di malam harinya dengan penuh iman [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shirotholmustaqim.wordpress.com&amp;blog=9822223&amp;post=2694&amp;subd=shirotholmustaqim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Lailatul Qadr</p>
<p>Lailatul Qadr (atau lebih dikenal dengan malam Lailatul Qadar) mempunyai keutamaan yang sangat besar, karena malam ini menyaksikan turunnya Al-Qur`anul Karim, yang membimbing orang-orang yang berpegang dengannya ke jalan kemuliaan dan mengangkatnya ke derajat yang mulia dan abadi. Ummat Islam yang mengikuti Sunnah Rasulnya berlomba-lomba untuk beribadah di malam harinya dengan penuh iman dan mengharap pahala dari Allah subhanahu wa ta&#8217;ala.</p>
<p>Inilah wahai saudaraku muslim, ayat-ayat Al-Qur`an dan hadits-hadits Nabi yang shahih menjelaskan tentang malam tersebut.</p>
<p>1. Keutamaan Lailatul Qadr<br />
Cukuplah untuk mengetahui tingginya kedudukan Lailatul Qadr dengan mengetahui bahwasanya malam itu lebih baik dari seribu bulan. Allah subhanahu wa ta&#8217;ala berfirman (yang artinya):</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur`an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.&#8221; (Al-Qadr:1-5)</p>
<p>2. Waktunya<br />
Pendapat yang paling kuat, terjadinya Lailatul Qadr itu pada malam di akhir-akhir bulan Ramadhan sebagaimana ditunjukkan oleh hadits &#8216;A`isyah, dia berkata: Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam beri&#8217;tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dan beliau bersabda:<span id="more-2694"></span></p>
<p>تَحَرَّوْا (وَفِيْ رِوَايَة: اِلْتَمِسُوْا) لَيْلَةَ القَدْرِ فِي الوِتْرِ مِنَ العَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ</p>
<p>&#8220;Carilah Lailatul Qadr di malam ganjil pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan.&#8221; (HR. Al-Bukhariy no.2017 dan Muslim no.1169)</p>
<p>Jika seseorang merasa lemah atau tidak mampu, maka janganlah sampai terluput dari tujuh hari terakhir, berdasarkan riwayat dari Ibnu &#8216;Umar, dia berkata: Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>اِلْتَمِسُوْهَا فِي العَشْرِ الأَوَاخِرِ (يَعْنِي لَيْلَةَ القَدْرِ) فَإِنْ ضَعُفَ أَحَدُكُمْ أَوْ عَجَزَ فَلاَ يُغْلَبَنَّ عَلَى السَّبْعِ البَوَاقِي</p>
<p>&#8220;Carilah di sepuluh hari terakhir, jika salah seorang di antara kalian tidak mampu atau lemah maka jangan sampai terluput dari tujuh hari sisanya.&#8221; (HR. Muslim no.1165)</p>
<p>Telah diketahui dalam Sunnah, pemberitahuan ini ada karena perdebatan para shahabat. Dari &#8216;Ubadah bin Ash-Shamit, ia berkata: Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam keluar pada Lailatul Qadr, lalu ada dua orang shahabat berdebat, maka beliau bersabda:</p>
<p>&#8220;Aku keluar untuk mengkhabarkan kepada kalian tentang Lailatul Qadr, tetapi fulan dan fulan berdebat hingga diangkat (tidak bisa lagi diketahui kapan kepastian lailatul qadr terjadi), semoga ini lebih baik bagi kalian, maka carilah pada malam 29, 27 dan 25.&#8221; (HR. Al-Bukhariy 2023)</p>
<p>Banyak hadits yang mengisyaratkan bahwa Lailatul Qadr itu terjadi pada sepuluh hari terakhir, hadits yang lainnya menegaskan di malam ganjil sepuluh hari terakhir. Hadits yang pertama sifatnya umum sedangkan hadits kedua sifatnya khusus, maka riwayat yang khusus lebih didahulukan daripada yang umum, dan telah banyak hadits yang lebih menerangkan bahwa Lailatul Qadr itu ada pada tujuh hari terakhir bulan Ramadhan (malam ke-25, 27 dan 29), tetapi ini dibatasi kalau tidak mampu dan lemah. Maka dengan penjelasan ini, cocoklah hadits-hadits tersebut dan tidak saling bertentangan.</p>
<p>3. Bagaimana Mencari Lailatul Qadr?<br />
Sesungguhnya malam yang diberkahi ini, barangsiapa yang diharamkan untuk mendapatkannya, maka sungguh telah diharamkan seluruh kebaikan (baginya). Oleh karena itu dianjurkan bagi muslimin agar bersemangat dalam melakukan ketaatan kepada Allah untuk menghidupkan malam Lailatul Qadr seperti melakukan shalat tarawih, membaca Al-Qur`an, menghafalnya dan memahaminya serta amalan yang lainnya, yang dilakukan dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala-Nya yang besar. Jika dia telah berbuat demikian maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.</p>
<p>Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>مَنْ قَامَ لَيْلَةَ القَدْرِ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ</p>
<p>&#8220;Barangsiapa shalat malam/tarawih (bertepatan) pada malam Lailatul Qadr dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.&#8221; (HR. Al-Bukhariy 38 dan Muslim no.760)</p>
<p>Disunnahkan untuk memperbanyak do&#8217;a pada malam tersebut. Diriwayatkan dari &#8216;A`isyah, dia berkata: Aku bertanya: Ya Rasulullah, apa pendapatmu jika aku tahu kapan Lailatul Qadr (terjadi), apa yang harus aku ucapkan? Beliau menjawab: &#8220;Ucapkanlah:</p>
<p>اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ العَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي<br />
&#8220;Ya Allah, Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan mencintai orang yang meminta ampunan, maka ampunilah aku.&#8221; (HR. At-Tirmidziy 3760 dan Ibnu Majah 3850, sanadnya shahih)</p>
<p>Saudaraku, setelah engkau mengetahui bagaimana keadaan malam Lailatul Qadr (dan keutamaannya) maka bangunlah (untuk menegakkan shalat) pada sepuluh malam terakhir, menghidupkannya dengan ibadah dan menjauhi wanita, perintahkan kepada istrimu dan keluargamu untuk itu, perbanyaklah perbuatan ketaatan.<br />
Dari &#8216;A`isyah berkata:</p>
<p>&#8220;Adalah Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam apabila masuk pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, beliau menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, dan bersungguh-sungguh serta mengencangkan kainnya (yaitu menjauhi istri-istrinya untuk konsentrasi beribadah dan mencari Lailatul Qadr).&#8221; (HR. Al-Bukhariy no.2024 dan Muslim no.1174)</p>
<p>4. Tanda-tandanya<br />
Dari Ubaiy, ia berkata: Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>&#8220;Pagi hari malam Lailatul Qadr, matahari terbit tidak ada sinar yang menyilaukan, seperti bejana hingga meninggi.&#8221; (HR. Muslim no.762)<br />
Dan dari Ibnu &#8216;Abbas, ia berkata: Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>&#8220;Malam Lailatul Qadr adalah malam yang indah, cerah, tidak panas dan tidak juga dingin, dan keesokan harinya sinar mataharinya melemah kemerah-merahan.&#8221; (HR. Ath-Thayalisiy 349, Ibnu Khuzaimah 3/231 dan Al-Bazzar 1/486, sanadnya hasan)</p>
<p>Zakat Fithri</p>
<p>1. Hukumnya<br />
Zakat fithri ini hukumnya wajib berdasarkan hadits dari Ibnu &#8216;Umar, dia berkata:</p>
<p>فَرَضَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم زَكَاةَ الفِطْرِ (مِنْ رَمَضَانَ عَلَى النَّاسِ)</p>
<p>&#8220;Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri [pada bulan Ramadhan kepada manusia].&#8221; (HR. Al-Bukhariy no.1503, 1504 dan Muslim no.984, tambahan dalam kurung riwayat Muslim)</p>
<p>2. Siapa yang Wajib Zakat?<br />
Zakat fithri wajib atas kaum muslimin, anak kecil, besar, laki-laki, perempuan, orang yang merdeka maupun budak. Hal ini berdasarkan hadits &#8216;Abdullah bin &#8216;Umar:</p>
<p>&#8220;Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri sebanyak satu sha&#8217; kurma atau satu sha&#8217; gandum atas setiap orang merdeka atau budak, laki-laki atau perempuan, anak kecil atau besar dari kalangan kaum muslimin.&#8221; (HR. Al-Bukhariy no.1503 dan Muslim no.984)</p>
<p>Zakat fithri juga wajib atas orang yang masuk Islam atau bayi yang lahir sesaat sebelum terbenamnya matahari (yang besoknya adalah tanggal 1 Syawwal).</p>
<p>Adapun janin maka banyak di antara &#8216;ulama yang menyunnahkannya agar dikeluarkan zakat fithrinya sebagaimana yang dilakukan &#8216;Utsman dan para shahabat lainnya.</p>
<p>3. Macam Zakat Fithri<br />
Zakat fithri dikeluarkan berupa satu sha&#8217; gandum, satu sha&#8217; kurma, satu sha&#8217; susu, satu sha&#8217; salt atau anggur kering, berdasarkan hadits Abu Sa&#8217;id Al-Khudriy:</p>
<p>&#8220;Kami mengeluarkan zakat fithri (pada zaman Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam) satu sha&#8217; makanan, satu sha&#8217; gandum, satu sha&#8217; kurma, satu sha&#8217; susu kering dan satu sha&#8217; anggur kering.&#8221; (HR. Al-Bukhariy no.1506 dan Muslim no.985)<br />
Dan hadits Ibnu &#8216;Umar:</p>
<p>&#8220;Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam mewajibkan satu sha&#8217; gandum, satu sha&#8217; kurma dan satu sha&#8217; salt.&#8221; (HR. Ibnu Khuzaimah 4/80 dan Al-Hakim 1/409-410)</p>
<p>Ibnu Taimiyyah menyebutkan tentang bolehnya mengeluarkan zakat fithri dari makanan pokok suatu negeri (kalau di negeri kita adalah beras). Dan ini pendapatnya jumhur &#8216;ulama.</p>
<p>4. Ukuran Zakat Fithri<br />
Disebutkan dalam hadits di atas bahwa ukuran zakat fithri adalah 1 sha&#8217; (sekitar 2,5 &#8211; 3,0 kg) yang mencakup kurma, gandum, ataupun lainnya yang merupakan makanan pokok suatu negeri. Ini adalah pendapat jumhur &#8216;ulama.</p>
<p>5. Siapakah yang Harus Dibayar Zakatnya?<br />
Seorang muslim harus mengeluarkan zakat fithri untuk dirinya dan seluruh orang yang di bawah tanggungannya, baik anak kecil ataupun orang tua laki-laki dan perempuan, orang yang merdeka dan budak, berdasarkan hadits Ibnu &#8216;Umar: &#8220;Kami diperintah oleh Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam (mengeluarkan) zakat fithri atas anak kecil dan orang tua, orang merdeka dan budak dari orang-orang yang membekalinya.&#8221; (HR. Ad-Daraquthniy 2/141 dan Al-Baihaqiy 4/161, hadits hasan dengan syawahidnya)</p>
<p>6. Ke mana Disalurkannya<br />
Zakat tidak boleh diberikan kecuali kepada orang yang berhak menerimanya, mereka adalah orang-orang miskin berdasarkan hadits Ibnu &#8216;Abbas:</p>
<p>فَرَضَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم زَكَاةَ الفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِيْنِ</p>
<p>&#8220;Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri sebagai pembersih (diri) bagi yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan perbuatan kotor serta sebagai makanan bagi orang-orang miskin.&#8221; (HR. Al-Hakim no.1488 dan beliau berkata: ini hadits shahih)<br />
Inilah yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah di dalam Majmuu&#8217;ul Fataawaa (2/71-78) dan murid beliau Ibnul Qayyim pada kitabnya Zaadul Ma&#8217;aad (2/44).</p>
<p>Sebagian Ahlul Ilmi berpendapat bahwa zakat fithri diberikan kepada delapan golongan, tetapi pendapat ini tidak ada dalilnya. Dan Syaikhul Islam telah membantahnya pada kitab yang telah disebutkan di atas, maka lihatlah kitab tersebut, karena hal itu sangat penting.<br />
Termasuk amalan sunnah jika ada seseorang yang bertugas mengumpulkan zakat tersebut (untuk dibagikan kepada yang berhak -pent). Sungguh Nabi telah mewakilkan kepada Abu Hurairah, ia berkata: &#8220;Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menugaskan kepadaku agar menjaga zakat Ramadhan.&#8221; (HR. Al-Bukhariy no.2311)</p>
<p>Dan sungguh dahulu pernah Ibnu &#8216;Umar mengeluarkan zakat kepada orang-orang yang menangani zakat dan mereka adalah panitia yang dibentuk oleh Imam (pemerintah -pent) untuk mengumpulkannya. Beliau (Ibnu &#8216;Umar) mengeluarkan zakatnya satu hari atau dua hari sebelum &#8216;Idul Fithri. (Lihat HR. Ibnu Khuzaimah 4/83)</p>
<p>Boleh juga langsung menyerahkannya kepada orang-orang miskin yang ada di daerahnya.</p>
<p>7. Waktu Penunaian Zakat<br />
Zakat fithri ditunaikan sebelum orang-orang keluar rumah menuju shalat &#8216;Id dan tidak boleh diakhirkan (setelah) shalat. Sebagian &#8216;ulama seperti Al-Imam Asy-Syafi&#8217;i membolehkan mengeluarkan zakat fithri di awal Ramadhan. Tapi yang sunnah adalah satu atau dua hari (sebelum &#8216;Id) berdasarkan perbuatan Ibnu &#8216;Umar.</p>
<p>Maka apabila penunaian zakat itu diakhirkan (setelah) shalat maka dianggap sebagai shadaqah berdasarkan hadits Ibnu &#8216;Abbas: &#8220;&#8230; Barangsiapa yang menunaikan zakatnya sebelum shalat maka dia adalah zakat yang diterima, dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat maka dia adalah merupakan suatu shadaqah dari beberapa shadaqah (yang ada).&#8221; (HR. Al-Hakim no.1488 dan beliau berkata: ini hadits shahih)</p>
<p>8. Hikmah Zakat<br />
Allah subhanahu wa ta&#8217;ala mewajibkan zakat sebagai pensucian diri bagi orang-orang yang berpuasa dari (perbuatan) sia-sia dan kotor serta sebagai makanan bagi orang-orang miskin untuk mencukupi (kebutuhan) mereka pada hari yang bagus tersebut berdasarkan hadits dari Ibnu &#8216;Abbas yang telah lalu. Wallaahu A&#8217;lam.</p>
<p>(Sumber Bacaan: Shifat Shaumin Nabi; Taisiirul &#8216;Allaam; Ad-Durarul Bahiyyah; Shahiih Al-Bukhaariy dan Shahiih Muslim)</p>
<br />Filed under: <a href='http://shirotholmustaqim.wordpress.com/category/fiqh/'>Fiqh</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/shirotholmustaqim.wordpress.com/2694/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/shirotholmustaqim.wordpress.com/2694/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/shirotholmustaqim.wordpress.com/2694/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/shirotholmustaqim.wordpress.com/2694/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/shirotholmustaqim.wordpress.com/2694/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/shirotholmustaqim.wordpress.com/2694/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/shirotholmustaqim.wordpress.com/2694/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/shirotholmustaqim.wordpress.com/2694/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/shirotholmustaqim.wordpress.com/2694/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/shirotholmustaqim.wordpress.com/2694/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/shirotholmustaqim.wordpress.com/2694/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/shirotholmustaqim.wordpress.com/2694/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/shirotholmustaqim.wordpress.com/2694/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/shirotholmustaqim.wordpress.com/2694/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shirotholmustaqim.wordpress.com&amp;blog=9822223&amp;post=2694&amp;subd=shirotholmustaqim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://shirotholmustaqim.wordpress.com/2011/08/15/lailatul-qadr-dan-zakat-fithri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">shirotholmustaqim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pemasangan Bendera Merah Putih Untuk Hari-Hari Besar Nasional Terkhusus HUT RI</title>
		<link>http://shirotholmustaqim.wordpress.com/2011/08/15/pemasangan-bendera-merah-putih-untuk-hari-hari-besar-nasional-terkhusus-hut-ri/</link>
		<comments>http://shirotholmustaqim.wordpress.com/2011/08/15/pemasangan-bendera-merah-putih-untuk-hari-hari-besar-nasional-terkhusus-hut-ri/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Aug 2011 23:57:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>shirotholmustaqim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Bid&#039;ah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://shirotholmustaqim.wordpress.com/?p=2691</guid>
		<description><![CDATA[Penulis: Al-Ustadz Muhammad Afifudin Perlu dipahami bahwa kita tidak mengingkari keberadaan bendera di sebuah Negara, karena hal itu ada pada masa Rasulullah, demikian pula masalah warna bendera, pada dasarnya tidak mengapa selama tidak ada padanya hal-hal yang melanggar syar’i seperti gambar bernyawa, simbol-simbol khusus orang kafir dan sebagainya. Di zaman Rasulullah bendera Beliau ada yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shirotholmustaqim.wordpress.com&amp;blog=9822223&amp;post=2691&amp;subd=shirotholmustaqim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis: Al-Ustadz Muhammad Afifudin</p>
<p>Perlu dipahami bahwa kita tidak mengingkari keberadaan bendera di sebuah Negara, karena hal itu ada pada masa Rasulullah, demikian pula masalah warna bendera, pada dasarnya tidak mengapa selama tidak ada padanya hal-hal yang melanggar syar’i seperti gambar bernyawa, simbol-simbol khusus orang kafir dan sebagainya.</p>
<p>Di zaman Rasulullah bendera Beliau ada yang berwarna putih adapula yang berwarna hitam, dari Ibnu Abbas Beliau berkata: “Dahulu bendera Rasulullah berwarna hitam.” (HR. Ahmad, Tirmidzi dengan sanad hasan.) Dalam riwayat At Tirmidzi disebutkan “Bendera Beliau Shalallahu ‘alaihi wa salam berwarna putih.”</p>
<p>Dengan dasar ini, maka kami mengakui keberadaan bendera merah putih untuk negeri kita yang tercinta NKRI. Namun, kita perlu menengok sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam dalam masalah bendera ini, apa fungsi dan kegunaannya?<span id="more-2691"></span></p>
<p>Dalam banyak riwayat di sebutkan bahwa bendera ini difungsikan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam untuk berjihad fisabilillah melawan orang-orang kafir, orang yang menelaah sejarah beliau akan dapat memastikan hal ini, bahkan kalau kita melihat dalam sejarah, mereka (para shahabat) mempertahankan bendera itu sampai titik darah penghabisan, sedikitpun tidak membiarkan bendera itu jatuh ketanah walaupun harus mengorbankan jiwa raga mereka. Berikut ini saya bawakan beberapa riwayat yang menjelaskan masalah ini.</p>
<p>Dari Sahl bin Sa’id, bahwasanya Rasulullah pada waktu perang khoibar bersabda :</p>
<p>َلأُعْطِيَنَّ الرَّايَةَ غَدًا رَجُلاً يُحِبُّ الله َوَرَسُوْلَهُ وَيُحِبُّهُ الله ُوَرَسُوْلُهُ يَفْتَحُ الله ُعَلَى يَدَيْهِ</p>
<p>“Sungguh besok aku akan berikan bendera ini kepada seorang yang cinta kepada Allah dan Rasul-Nya dan dicintai Allahkdan rasul-Nya, Allahkakan menangkan melalui kedua tanganya” (muttafaq ‘alaih)</p>
<p>Dalam lanjutan riwayat di atas disebutkan bahwa para Shahabat sampai begadang malam membicarakan, siapakah gerangan yang bakal diserahi bendera? Bahkan mereka semua berkeinginan untuk mendapatkannya, dan ternyata yang mendapatkannya adalah Ali bin Ali Tholib. Riwayat ini jelas menunjukkan bahwa bendera tersebut untuk kepentingan Jihad fisabilillah.</p>
<p>Juga dalam riwayat Imam Ahmad dalam Musnadnya dari Abdullah bin Ja’far disebutkan, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam mengutus pasukan perang dan menunjuk Zaid bin Harits sebagai panglima, beliau bersabda: “Bila Zaid terbunuh maka panglima kalian adalah Ja’far, bia dia terbunuh maka panglima kalian adalah Abdullah bin Rawahah.” Pasukan pun berhadapan dengan musuh, panglima Zaid pun memegang bendera, beliau berperang hingga terbunuh, kemudian bendera perang diambil oleh Ja’far, beliau berperang hingga terbunuh, kemudian bendera diambil oleh Abdullah bin Rawahah, beliau berperang hingga terbunuh, lalu bendera dipegang oleh Kholid bin Walid, maka Allah menangkan melalui tangannya. (lihat: ‘ Jami’us Shahih ‘ 3/246-247, karya Syaikh Muqbil dan beliau menshahihkan riwayat ini.)</p>
<p>Lihatlah! Bagaimana para panglima tadi mempertahankan bendera, tidak dia lepas sedikit pun hingga dia terbunuh.</p>
<p>Inilah fungsi bendera di masa itu, dan inilah yang kita baca dalam sejarah perjuangan NKRI, para pejuang-pejuang kita dengan gigihnya mempertahankan bendera merah putih sampai titik darah penghabisan, itu semua mereka lakukan untuk melawan kebringasan para penjajah kafir di masa itu, maka fungsikanlah bendera ini sebagaimana mestinya!!!</p>
<p>Adapun pemasangan bendera dalam rangka peringatan hari besar nasional, maka tidak pernah kita lihat dilakukan di zaman Rasulullah karena tidak ada dalam bimbingan beliau peringatan-peringatan seperti itu sebagaimana yang kita uraikan dalam pembahasan sebelumnya.</p>
<p>وخير الهدي هدي محمد</p>
<p>“Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah.”</p>
<p>Demikianlah apa yang bisa kami tulis, sebenarnya masih banyak perkara yang tidak bisa ditaati karena adanya larangan dalam agama Islam seperti PEMILU, dan lainnya. Insya’ Allah bila ada kesempatan kami akan berusaha melanjutkannya. Semoga Allah memberi hidayah kita semua ke jalan yang diridloiNya. Amin …..</p>
<br />Filed under: <a href='http://shirotholmustaqim.wordpress.com/category/aqidah/'>Aqidah</a>, <a href='http://shirotholmustaqim.wordpress.com/category/bidah/'>Bid&#039;ah</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/shirotholmustaqim.wordpress.com/2691/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/shirotholmustaqim.wordpress.com/2691/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/shirotholmustaqim.wordpress.com/2691/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/shirotholmustaqim.wordpress.com/2691/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/shirotholmustaqim.wordpress.com/2691/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/shirotholmustaqim.wordpress.com/2691/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/shirotholmustaqim.wordpress.com/2691/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/shirotholmustaqim.wordpress.com/2691/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/shirotholmustaqim.wordpress.com/2691/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/shirotholmustaqim.wordpress.com/2691/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/shirotholmustaqim.wordpress.com/2691/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/shirotholmustaqim.wordpress.com/2691/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/shirotholmustaqim.wordpress.com/2691/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/shirotholmustaqim.wordpress.com/2691/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shirotholmustaqim.wordpress.com&amp;blog=9822223&amp;post=2691&amp;subd=shirotholmustaqim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://shirotholmustaqim.wordpress.com/2011/08/15/pemasangan-bendera-merah-putih-untuk-hari-hari-besar-nasional-terkhusus-hut-ri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">shirotholmustaqim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Astrologi Dalam Islam</title>
		<link>http://shirotholmustaqim.wordpress.com/2011/08/10/astrologi-dalam-islam/</link>
		<comments>http://shirotholmustaqim.wordpress.com/2011/08/10/astrologi-dalam-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Aug 2011 03:06:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>shirotholmustaqim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://shirotholmustaqim.wordpress.com/?p=2688</guid>
		<description><![CDATA[Al Ustadz Ahmad Hamdani &#8220;Motivasi yang menggebu-gebu untuk mengejar tujuan sangat membantu karier atau studi. Kali ini adalah peluang baik untuk memulai obsesi yang terpendam selama ini. Buatlah kesempatan.&#8221; Tunggu dulu! Jangan terburu-buru saudara menyangka saya mengetahui masa depan dan aktivitas saudara terutama bagi saudara yang terlahir pada tanggal 23 Oktober &#8211; 21 November atau [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shirotholmustaqim.wordpress.com&amp;blog=9822223&amp;post=2688&amp;subd=shirotholmustaqim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Al Ustadz Ahmad Hamdani</p>
<p>&#8220;Motivasi yang menggebu-gebu untuk mengejar tujuan sangat membantu karier atau studi. Kali ini adalah peluang baik untuk memulai obsesi yang terpendam selama ini. Buatlah kesempatan.&#8221;</p>
<p>Tunggu dulu! Jangan terburu-buru saudara menyangka saya mengetahui masa depan dan aktivitas saudara terutama bagi saudara yang terlahir pada tanggal 23 Oktober &#8211; 21 November atau seringnya orang menyebut saudara berbintang Scorpio. Akan tetapi kalimat di atas adalah secuplik kalimat ramalan astrolog yang kami ambil dari sebuah koran ternama di kota pelajar dalam rubrik perbintangan.</p>
<p>Dilihat dari nama rubriknya, dapat diketahui bahwa dasar pemikiran para astrolog atau yang sejalan pemikirannya dengan mereka adalah letak dan konfigurasi bintang-bintang di langit. Misalnya, bila letak gugusan bintang Bima Sakti di arah A lalu kebetulan ada seorang bayi lahir tepat pada malam ketika bintang itu terbit maka diramalkan bayi itu akan menjadi orang terkenal setelah besar nanti.<span id="more-2688"></span></p>
<p>Apabila kita perhatikan ramalan di atas, akan terlihat bahwa si peramal mencoba atau seolah-olah mengetahui hal-hal ghaib. Seakan ia mampu membaca dan menentukan nasib seseorang. Dengan dasar ini ia memerintah dan melarang pasiennya untuk berbuat sesuatu. Bahkan ia sering menakut-nakutinya meskipun akhirnya memberi kabar gembira atau hiburan dengan kata-kata manis. Bagi orang yang senang akan rubrik seperti tersebut di atas atau yang suka membaca buku-buku astrologi (ramalan-ramalan bohong) terkadang ramalan itu cocok dengan keadaan yang di alami. Namun yang menjadi permasalahan, dari mana pikiran peramal itu mencuat? Bagaimana pandangan Islam terhadap masalah ini?<br />
Sesungguhnya perkara-perkara ghaib hanyalah Allah yang mengetahui. Dan ini adalah hak prerogatif Allah semata, selain makhluk yang Ia beritahukan tentangnya, seperti sebagian Malaikat dan para Rasul sebagai mukjizat. Dalam hal ini, Allah berfirman : &#8220;(Dia adalah Rabb) Yang mengetahui yang ghaib. Maka Dia tidak memperlihatkan kepada seseorang pun tentang yang ghaib itu kecuali kepada Rasul yang diridlai-Nya. Maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (Malaikat) di muka bumi dan di belakangnya.&#8221; (QS. Al Jin : 26-27)</p>
<p>Barangsiapa mengaku mengetahui perkara atau ilmu ghaib selain orang yang dikecualikan sebagaimana ayat di atas, maka ia telah kafir. Baik mengetahuinya dengan perantaraan membaca garis-garis tangan, di dalam gelas, perdukunan, sihir, dan ilmu perbintangan atau selain itu. Yang terakhir ini yang biasa dilakukan oleh paranormal. Bila ada orang sakit bertanya kepadanya tentang sebab sakitnya maka akan dijawab : &#8220;Saudara sakit karena perbuatan orang yang tidak suka kepada saudara.&#8221; Dari mana dia tahu bahwa penyebab sakitnya adalah dari perbuatan seseorang, sementara tidak ada bukti-bukti yang kuat sebagai dasar tuduhannya? Sebenarnya hal ini tidak lain adalah karena bantuan jin dan para syaithan. Mereka menampakkan kepada khalayak dengan cara-cara di atas (melihat letak bintang, misalnya) hanyalah tipuan belaka.</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : &#8220;Para dukun dan yang sejenis dengan mereka sebenarnya mempunyai pembantu atau pendamping (qarin) dari kalangan syaithan yang mengabarkan perkara-perkara ghaib yang dicuri dari langit. Kemudian para dukun itu menyampaikan berita tersebut dengan tambahan kedustaan. Di antara mereka ada yang mendatangi syaithan dengan membawa makanan, buah-buahan, dan lain-lain (untuk dipersembahkan)  . Dengan bantuan jin, mereka ada yang dapat terbang ke Makkah atau Baitul Maqdis atau tempat lainnya.&#8221; (Kitabut Tauhid, Syaikh Fauzan halaman 25)</p>
<p>Sungguh benar kabar Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam mengenai syaithan yang mencuri berita dari langit. Diceritakan dalam sebuah hadits : Tatkala Allah memutuskan perkara di langit, para Malaikat mengepakkan sayap, mereka merasa tunduk dengan firman-Nya, seolah-olah kepakan sayap itu bunyi gemerincing rantai di atas batu besar. Ketika telah hilang rasa takut, mereka saling bertanya : &#8220;Apakah yang dikatakan Rabbmu? Dia berkata tentang kebenaran dan Dia Maha Tinggi lagi Maha Besar.&#8221; Lalu firman Allah itu didengar oleh pencuri berita langit. Para pencuri berita itu saling memanggul (untuk sampai di langit), lalu melemparkan hasil curiannya itu kepada teman di bawahnya. (HR. Bukhari dari Abi Hurairah radliyallahu &#8216;anhu)<br />
Seorang dukun atau paranormal yang memberitakan perkara-perkara ghaib sebenarnya menerima kabar dari syaithan itu dengan jalan melihat letak bintang untuk menentukan atau mengetahui peristiwa-peristiwa di bumi, seperti letak benda yang hilang, nasib seseorang, perubahan musim, dan lain-lain. Inilah yang biasa disebut ilmu perbintangan atau tanjim. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam : &#8221;  Kemudian melemparkan benda itu kepada orang yang di bawahnya sampai akhirnya kepada dukun atau tukang sihir. Terkadang setan itu terkena panah bintang sebelum menyerahkan berita dan terkadang berhasil. Lalu setan itu menambah berita itu dengan seratus kedustaan.&#8221; (HR. Bukhari dari Abi Hurairah radliyallahu &#8216;anhu)<br />
Meskipun demikian, masih banyak orang yang mempercayai dan mau mendatangi peramal atau astrolog atau para dukun, bukan saja dari kalangan orang yang berpendidikan dan ekonomi rendahan bahkan dari orang-orang yang berpendidikan dan berstatus sosial tinggi. Perbuatan orang yang mendatangi atau yang didatangi dalam hal ini para dukun sama-sama mendapatkan dosa dan ancaman keras dari Nabi Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam berupa dosa syirik dan tidak diterima shalatnya selama 40 malam.</p>
<p>Nabi Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam bersabda : &#8220;Barangsiapa yang mendatangi dukun dan menanyakan tentang sesuatu lalu membenarkannya, maka tidak diterima shalatnya 40 malam.&#8221; (HR. Muslim dari sebagian istri Nabi Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam)</p>
<p>Pada kesempatan lain, Nabi Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam juga mengancam mereka tergolong orang-orang yang ingkar (kufur) dengan apa yang dibawa beliau Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam : &#8220;Barangsiapa yang mendatangi dukun (peramal) dan membenarkan apa yang dikatakannya, sungguh ia telah ingkar (kufur) dengan apa yang dibawa Nabi Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam.&#8221; (HR. Abu Dawud)</p>
<p>Ancaman dalam hadits di atas berlaku untuk yang mendatangi dan menanyakan, baik membenarkan atau tidak. (Syaikh Abdurrahman Alu Syaikh 1979)</p>
<p>Tujuan Penciptaan Bintang-Bintang</p>
<p>Alam dan segala isinya diciptakan dengan hikmah karena diciptakan oleh Dzat yang memiliki sifat Maha Memberi Hikmah dan Maha Mengetahui. Dia Maha Mengetahui apa yang di depan dan di balik ciptaan-Nya. Sehingga mustahil Allah mencipta makhluk dengan main-main. Sebab itu, kewajiban atas makhluk-Nya ialah tunduk dan menerima berita, perintah, dan larangan-Nya. Sebagai contoh, yang berhubungan dengan pembahasan kali ini ialah penciptaan bintang-bintang di langit.</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala memberitakan bahwa penciptaan bintang-bintang itu ialah untuk penerang, hiasan langit, penunjuk jalan, dan pelempar setan yang mencuri wahyu yang sedang diucapkan di hadapan para malaikat. Sebagaimana Dia firmankan : &#8220;Dan sungguh, Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar setan.&#8221; (QS. Al Mulk : 5)<br />
Dalam kitab Shahih Bukhari disebutkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala menciptakan bintang-bintang itu untuk tujuan sebagai hiasan langit, alat pelempar setan, dan rambu-rambu jalan. Maka barangsiapa mempergunakannya untuk selain tujuan itu, sungguh terjerumus ke dalam kesalahan, kehilangan bagian akhiratnya, dan terbebani dengan satu hal yang tak diketahuinya. (Perkataan dalam kitab Shahih Bukhari di atas adalah ucapan Qatadah rahimahullah)</p>
<p>Hukum Mempelajari Ilmu Falak</p>
<p>Para ulama berbeda pendapat dalam menentukan hukum mempelajari ilmu perbintangan atau ilmu falak (astrologi). Qatadah rahimahullah (seorang tabi&#8217;in) dan Sufyan bin Uyainah (seorang ulama hadits, wafat pada tahun 198 H) mengharamkan secara mutlak mempelajari ilmu falak. Sedangkan Imam Ahmad dan Ishaq rahimahullah memperbolehkan dengan syarat tertentu. Menurut Syaikh Muhammad bin Abdil Aziz As Sulaiman Al Qarawi &#8211;yang berusaha mengkompromikan perbedaan pendapat para ulama di atas&#8211; bahwa mempelajarinya adalah :</p>
<p>Pertama, kafir bila meyakini bintang-bintang itu sendiri yang mempengaruhi segala aktivitas makhluk di bumi. Ini yang pertama.</p>
<p>Kedua, mempelajarinya untuk menentukan kejadian-kejadian yang ada, akan tetapi semua itu diyakini karena takdir dan kehendak-Nya. Maka yang kedua ini hukumnya haram.</p>
<p>Ketiga, mempelajarinya untuk mengetahui arah kiblat, penunjuk jalan, waktu, menurut jumhur ulama hal ini diperbolehkan (jaiz).</p>
<p>Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa mengaku mengetahui ilmu ghaib menyebabkan pelakunya kafir. Sedangkan mendatangi dukun dan bertanya kepadanya, hukumnya haram, baik ia membenarkan atau tidak. Dan yang disebut dukun sekarang ini banyak julukannya. Kadang ia disebut orang pintar atau paranormal, astrolog, fortuneteller, atau yang lainnya. Walaupun begitu, hakikatnya sama saja. Penggunaan julukan yang berbeda-beda hanyalah sebagai pelaris dagangan saja (atau agar terkesan tidak ketinggalan jaman). Hal ini karena mempelajari ilmu falak yang ditujukan untuk meramal nasib atau mengaku mengetahui ilmu ghaib merupakan tindakan kekufuran. Tujuan penciptaan bintang adalah sebagaimana yang telah diterangkan Allah dan para ulama, bukan untuk mengetahui perkara ghaib seperti yang diyakini oleh sebagian besar astrolog. Ayat yang mengatakan : &#8220;Dan (Dia ciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah mereka (mendapat petunjuk).&#8221; (QS. An Nahl : 16)</p>
<p>Maksudnya, agar manusia mengetahui arah jalan dengan mengetahui letak bintang-bintang, bukan untuk mengetahui perkara ghaib. Banyak hadits Nabi Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam yang mengharamkan dan melarang mempelajari ilmu nujum (perbintangan) dengan tujuan yang dilarang syariat, seperti hadits : &#8220;Barangsiapa mempelajari satu cabang dari cabang ilmu nujum (perbintangan) sungguh ia telah mempelajari satu cabang ilmu sihir  .&#8221; (HR. Ahmad[1], Abu Dawud, dan Ibnu Majah dari Ibnu Abbas)</p>
<p>Sementara Islam mengharamkan orang yang menyihir atau meminta sihir. Dan mengaku mengetahui ilmu ghaib merupakan perkara yang membatalkan atau menggugurkan tauhid dan keimanan orang karena menandingi Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala dalam sifat Rububiyah. (Kitabut Tauhid, Syaikh Fauzan halaman 25)</p>
<p>Wallahul Musta&#8217;an.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-<br />
[1] Hadits hasan, dihasankan oleh Syaikh Ibnu Alis Sinan dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami&#8217; nomor 5950 dan dalam Ash Shahihah nomor 793.</p>
<p>Sumber : Bulletin Al Wala&#8217; Wal Bara&#8217;</p>
<br />Filed under: <a href='http://shirotholmustaqim.wordpress.com/category/aqidah/'>Aqidah</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/shirotholmustaqim.wordpress.com/2688/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/shirotholmustaqim.wordpress.com/2688/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/shirotholmustaqim.wordpress.com/2688/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/shirotholmustaqim.wordpress.com/2688/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/shirotholmustaqim.wordpress.com/2688/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/shirotholmustaqim.wordpress.com/2688/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/shirotholmustaqim.wordpress.com/2688/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/shirotholmustaqim.wordpress.com/2688/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/shirotholmustaqim.wordpress.com/2688/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/shirotholmustaqim.wordpress.com/2688/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/shirotholmustaqim.wordpress.com/2688/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/shirotholmustaqim.wordpress.com/2688/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/shirotholmustaqim.wordpress.com/2688/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/shirotholmustaqim.wordpress.com/2688/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shirotholmustaqim.wordpress.com&amp;blog=9822223&amp;post=2688&amp;subd=shirotholmustaqim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://shirotholmustaqim.wordpress.com/2011/08/10/astrologi-dalam-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">shirotholmustaqim</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
