Sekarang, perhatikanlah hikmah yang luar biasa dalam panas dan dingin. Betapa hidup hewan dan tanaman tergantung kepadanya! Salah satu dari keduanya masuk kepada yang lain secara berangsur dan perlahan sampai mencapai titik akhir. Kalau masuk secara tiba-tiba, tentu membahayakan dan bahkan membinasakan badan dan tanaman; seperti orang yang keluar dari pemandian air hangat ke tempat yang amat dingin. Kalau bukan karena hikmah dan rahmat-Nya, tentu tidak dibuat demikian. Jika Anda menyanggah dengan mengatakan bahwa terjadinya hal ini secara berangsur-angsur dan perlahan adalah untuk memperlambat jalannya matahari dalam naik dan turunnya, dengarlah jawabannya berikut ini! Kalau memang benar begitu, lalu apa penyebab naik-turunnya (matahari) itu? Kalau kamu menjawab karena jauhnya jarak dari tempat terbit dan tenggelamnya, kamu ditanya lagi, apa yang menyebabkan jarak keduanya berjauhan? Dan demikianlah pertanyaan akan terus membuntuti kamu setiap kali kamu menentukan sebuah sebab, sampai akhirnya tiba pada dua kemungkinan. Yakni, kamu keras kepala dengan mengklaim bahwa itu terjadi kebetulan tanpa pengatur dan pembuat. Atau kamu mengakui adanya Tuhan Seru Sekalian Alam dan mengimani adanya pengatur langit serta bumi, kemudian masuk ke dalam golongan para pemilik akal. Anda tidak akan menjumpai pilihan ketiga.

Karenanya, janganlah melelahkan otak Anda dengan igauan orang-orang ateis. Semua igauan mereka, bagi orang yang tahu, adalah kegilaan setan dan khayalan orang-orang kafir. Apabila fajar hidayah  telah terbit, dan cahaya kenabian telah bersinar, maka tentara khayalan-khayalan itulah barisan pertama yang kalah. Allah SWT pasti menyempurnakan cahaya-Nya meski orang-orang kafir benci.

Miftahud Darussa’adah, Ibnul Qoyyim Al Jauziyah