Banyak terjadi perselisihan tentang apakah kitab Taurat yang ada pada mereka telah diubah ataukah pengubahan itu hanya dalam bentuk penyelewengan takwil (penafsiran)-nya, bukan teksnya? Dalam hal iniada tiga pendapat.

Pendapat pertama, dari kelompok yang berlebih-lebihan. Mereka menganggap bahwa semua atau sebagian besar Taurat telah diubah dan diganti. la bukanlah Taurat sebagaimana yang diturunkan Allah ke-pada Musa Alaihis-Salam. Karena itulah sebagian mereka membantahdan mendustakan sebagian yang lain.

Pendapat ini dibantah oleh kelompok kedua yang terdiri dari para imam hadits, fiqh dan kalam. Mereka berkata, “Pengubahan itu hanya terjadi pada sisi takwilnya saja, bukan dari sisi  tanzil  (tekstual)-nya.” Para penganut madzhab ini di antaranya adalah Abu Abdillah Muhammad bin Isma’il Al-Bukhari. Dalam kitab Shahih-nya beliau berkata, “Katayuharrifuna dalam Al-Qur’an artinya adalah yuziluna (membuang, menghapuskan), padahal tak seorang pun mampu menghapuskan dan membuang ayat-ayat-Nya. Maksudnya di sini adalah mereka mentakwilkannyatidak sesuai dengan yang semestinya.” Pendapat ini pula yang dipilih oleh Ar-Razi dalam tafsirnya.

Dan kami mendengar syaikh kami Ibnu Taimiyah berkata, ‘Telah terjadi perselisihan dalam masalah ini antar ulama yang terpandang. Dan Ar-Razi memilih pendapat ini, dengan melemahkan pendapat yang lain. Lalu para ulama pun mengingkarinya. Dan karena itu beliau mendatangkan Taurat sebanyak lima belas buah.

Di antara alasan mereka yaitu bahwa Taurat telah memenuhi penjuru timur dan barat, utara dan selatan. Dan tak seorang pun yang mengetahui jumlah naskahnya kecuali Allah Ta’ala. Dan sungguh mustahil jika telah terjadi pengubahan dan penggantian dalam semua naskah tersebut secara bersamaan, di mana tak satu naskah pun kecuali ia telah mengalami pengubahan dan itu dilakukan secara seragam. Ini tentu ditolakdan dibatalkan oleh akal. Mereka juga mengemukakan dalil,

“Katakanlah, ‘(Jika kamu mengatakan ada makanan yang diharamkan sebelum turun Taurat), maka bawalah Taurat itu, lalu bacalah dia jika kamu orang-orang yang benar’.” (Ali Imran: 93).

Mereka juga berkata, “Sifat-sifat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan solusi yang bakal dilakukannya secara sangat jelas disebutkan dalam Taurat. Karena itu tak mungkin mereka menghilangkan atau mengubahnya. Maka dari itu, Allah mencela mereka karena menyembunyikannya. Dan bila mereka dibantah dengan apa yang ada di dalam Taurat dari sifat-sifat dan ciri-ciri Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, mereka berkata, ‘Bukan dia, dan kami masih menunggu yang lain’.” Inilah di antara dasar dan dalil yang digunakan oleh mereka yang mendukung kelompok ini.

Kelompok ketiga bersikap moderat, mereka berpendapat, “Memang telah terjadi penambahan di dalam Taurat, ada pula beberapa bagian yang diubah, tetapi sebagian besar masih tetap sebagaimana saat ia di-turunkan. Pengubahan di dalamnya sangatlah sedikit sekali’.” Di antara yang memilih pendapat ini adalah syaikh kami, Ibnu Taimiyah dalam kitabnya Al-Jawabus Shahih liman Baddala Dinul Masih.

Ighatsatul Lahfan, Ibnul Qoyyim Al Jauziyah