Hendaklah kalian menuntut ilmu dari sumbernya yang asli, dari kitab-kitab tafsir salafiy dan kitab-kitab aqidah salafiyah, yang terpancar dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, yang akan menjelaskan kepada kalian perbedaan antara jalannya orang-orang mukmin yang shadiq (jujur) dengan jalannya  mubtadi’in (pelaku bid’ah) yang menyelisihi manhaj Allah yang haq.

Mereka, yaitu orang-orang mukmin yang shadiq –demi Allah- adalah pengemban amanat ummat ini terhadap agama Allah  Azza wa Jalla, terhadap keselamatan aqidah dan manhajnya, dan terhadap ketetapannya (ketsabatannya) di atas apa yang dibawa oleh Muhammad  Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

Termasuk hal yang sudah kalian fahami adalah, bahwasanya merupakan suatu kewajiban atas kita untuk meneladani Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, berpegang teguh dengan keduanya, dan menggigitnya dengan gigi geraham, sebagaimana sabda Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wa Sallam ketika menasehati sahabatnya dengan nasehatyang indah yang menyebabkan air mata bercucuran dan hati menjadi bergetar, mereka meminta kepadabeliau agar memberikan nasehat kepada mereka,mereka berkata :

“Wahai Rasulullah, seolah-olah ini nasehat perpisahan, maka berikanlah wasiat kepada kami”, lantas Rasulullah bersabda,

“Aku menasehatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah…”, perhatikanlah wasiat ini! “ dan untuk tetap mendengar dan taat (kepada pemimpin kaum muslimin, ed.), sesungguhnya barang siapa diantara kalian masih hidup akan melihat perselisihan yang amat banyak, maka peganglah sunnahku dan sunnah para khalifah yang lurus (ar-Rasyidin) lagi mendapat petunjuk (al-Mahdiyin), gigitlah dengan gigi geraham, dan  jauhilah perkara-perkara yang baru (muhdats) karena setiap perkara yang baru itu bid’ah dan setiap kebid’ahan itu sesat.” (Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Ashim dalam as-Sunnah, dan dishahihkan oleh Syaikh kami di dalam Zhilalul Jannah (24-34), lihatlah ash-Shahihah  (934) karya beliau)

Nasehat ini mengandung wasiat untuk bertakwa kepada Allah, yang merupakan suatu keharusan darinya, dan tidaklah hal ini termanifestasikan melainkan hanya pada diri ulama yang jujur lagi shalih, sebagaimana firman Allah Ta’ala :

“Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah diantara hamba- hamba-Nya hanyalah para ulama” (Fathir : 28).

Bersatu dan Berkasih Sayanglah Wahai Ahlus Sunnah dan Janganlah Berpecah dan Berselisih – Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkholi