Di antaranya yaitu ia akan membuat seseorang tak suka memperlihatkan amalnya kepada orang lain, apa pun yang terjadi. Sebab siapa yang menunjukkan amalnya, niscaya amal itu tak akan naik kepada Allah Ta’ala, sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Ahmad dari sebagian ahli ilmu, bahwasanya seseorang berkata kepadanya, “Sesungguhnya aku berdiri dalam shalatku sampai aku menangis, bahkan hingga hampir-hampir saja tumbuh rumput karena air mataku.” Maka ia menjawab, “Sesungguhnya jika engkau tertawa dan engkau mengakui kepada Allah akan kesalahan-kesalahanmu maka hal itu lebih baik daripada engkau menangis kemudian engkau menunjukkan amal shalihmu.” Karena shalat orang tersebut tidak naik ke atasnya (tidak diterima Allah).

Lalu orang itu bertanya, “Berilah aku wasiat!” Ia menjawab, “Hendaknya engkau bersikap zuhud terhadap dunia, dan janganlah engkau melawan para penghuninya. Dan hendaklah kamu seperti lebah, jika ia makan maka hanya makan yang baik-baik, dan jika ia mengeluarkan sesuatu (dari dalam perutnya) maka ia hanya mengeluarkan yang baik-baik, jika ia bertengger di atas dahan maka tidak membahayakan, dan tidak pula mematahkannya. Saya menasihatimu karena Allah sebagaimana orang-orang yang ingin menjinakkan anjingnya. Mereka membiarkannya lapar dan mengusirnya, tetapi anjing itu enggan dan tetap mengelilingi serta berlaku jinak kepada mereka.”

Ighatsatul Lahfan – Ibnul Qoyyim Al Jauziyah