Ahmadiyah

Penulis: Al Lajnah Ad Da’imah lil Buhuts Al Ilmiyyah wal Ifta

Pertanyaan

Kami mohon penjelasan Syaikh terhadap kelompok (Ahmadiyah) Qodiyaniyah dan tentang pernyataan mereka bahwa mereka memiliki nabi bernama Ghulam Ahmad Al Qodiyani.

Jawab

Masa kenabian telah selesai dengan munculnya Nabi kita Muhammad Sholallahu ‘Alaihi Wassalam. Karena itu tidak ada lagi nabi setelah beliau. Demikian disebutkan dalam AlQuran dan Assunnah. Maka Siapa saja yang mengklaim dirinya adalah nabi setelah Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wassalam maka dia adalah pendusta. Dan diantara pendusta itu adalah Ghulam Ahmad Al Qodiyani.

Lajnah Daimah (komite/dewan fatwa -pen) Kerajaan Saudi telah mengeluarkan pernyataan bahwa kelompok (Ahmadiyah) Qodiyaniyah adalah kafir disebabkan keyakinan mereka itu. Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan. Semoga Sholawat dan salam selalu dilimpahkan kepada nabi kita Muhammad, keluarganya dan para pengikutnya.

Ketua: As Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bi Baz
Wakil: As Syaikh Abdur Razzaq Affifi
Anggota: As Syaikh Abdullah bin Ghudayyan, Assyaikh Abdullah bin Qu’ud

Fataawa Al Lajnah Ad Da’imah lil Buhuts Al Ilmiyyah wal Ifta
jilid 2 hal 313, fatwa no 4317

Sumber : Fatwa-Fatwa Kontemporer Ulama Ahlussunnah
Penerbit Qoulan Karima

Iklan

10 pemikiran pada “Ahmadiyah

  1. mira

    Ahmadiyah menjawab:
    Berdasarkan Al Qur’an Surat Al A’raf ayat 35 dinyatakan bahwa Rasul itu akan terus datang, Arti dari ayat itu adalah sebagai berikut:
    ” Wahai anak cucu Adam (berdasarkan Hadits Rasulullah, seluruh umat manusia ini adalah anak cucu Adam, termasuk kita yang hidup zaman sekarang, lihat pula Al Qur’an surat 7:26, 27 dan 31 yang menunjukan kata anak cucu Adam itu untuk semua manusia ) jika datang kepadamu ( imma ya’tiyannakum = berdasarkan kaidah ilmu Sharf kalimat ini masuk kedalam fiil mudhari yang berarti pekerjaan itu terus berlangsung) rasul-rasul dari antara mu yang membacakan kepada mu ayat-ayat Ku, maka barang siapa bertakwa dan memperbaiki diri, tak ada ketakutan menimpa mereka dan tidak akan pula mereka berduka cita.

    Berdasarkan surat Al A’raf ini terbukti bahwa nabi dan rasul itu terus datang hingga hari kiamat. Alasannnya karena Allah Ta’ala sendiri yang mempunyai kekuasaan penuh untuk mengutus seorang nabi atau pun rasul.

    Pernyataan Ahmadiyah ini sejalan dengan tafsir Al Azhar milik Buyya HAMKA pada tafsir surat Al A’raf ayat 35.

    Jika ayat ini didustakan atau ditolak oleh Al Lajnah Ad Da’imah lil Buhuts Al Ilmiyyah wal Ifta, maka hal itu bukan tanggung jawab Ahmadiyah lagi.

    Tentang Ahmadiyah, ada baiknya anda bertanya langsung pada Ahmadiyah, bukan pada ulama yang membenci Ahmadiyah. Karena informasi yang anda dapatkan tentang Ahmadiyah adalah informasi yang sesat menyesatkan.

    1. bani

      Ketika kita beriman kepada Nabi Muhammad saw., maka kita akan mengetahui bahwa risalah beliau adalah risalah yang paling lengkap dan paling sempurna yang pernah diturunkan oleh Sang Pencipta kepada hamba-Nya. Akidah semua nabi adalah satu, yakni tauhid, tetapi syariah mereka berbeda-beda. Karena Nabi Muhammad saw. adalah nabi penutup, maka risalahnya adalah risalah yang terakhir dan syariatnya akan berlaku hingga akhir zaman. Tiada agama yang diridhai di sisi Allah swt. kecuali Islam, dan tidak ada nabi yang membawa syariat lain setelah Nabi Muhammad saw.

      مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا.

      “Dan Muhammad itu bukanlah bapak dari salah seorang lelaki di antara kalian, tetapi ia adalah Rasul Allah dan Nabi yang terakhir; dan adalah Allah Maha Mengetahui terhadap segala sesuatu.” [QS. Al-Ahzab (33): 40]

      Imam At-Thabari saat menafsirkan ayat ini berkata, “Muhammad saw. itu bukanlah ayah dari salah seorang lelaki diantara kalian (Zaid bin Haritsah r.a., yaitu anak angkat Nabi saw.) melainkan beliau adalah Nabi terakhir, maka tiada lagi Nabi setelah beliau sampai hari kiamat; dan adalah Allah swt. terhadap segala perbuatan dan perkataan kalian Maha Mengetahui.” (Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Qur’an, Imam At-Thabari, XX/278)

      Imam Al-Qurthubi berkata, ayat ini mengandung 3 hukum Fiqh. “Pertama, saat Nabi saw. menikah dengan Zainab (mantan istri Zaid bin Haritsah r.a.) orang-orang munafik berkata: Dia (Muhammad) menikahi mantan istri anaknya sendiri, maka ayat ini turun untuk membantah hal tersebut. Kedua, bahwa Muhammad saw. adalah Nabi terakhir, tiada Nabi sesudahnya yang membawa syariat baru. Ketiga, syariat beliau menyempurnakan syariat sebelumnya, sebagaimana sabdanya: Aku diutus untuk ‘menyempurnakan’ akhlak yang mulia, atau sabdanya yang lain: Perumpamaanku dengan nabi sebelumku seperti perumpamaan seorang yang membuat bangunan yang amat indah, tinggal sebuah lubang batu bata yang belum dipasang, maka akulah batu bata tersebut dan akulah nabi yang terakhir.” (Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, Imam Al-Qurthubi, I/4484)

      Berkata Sayyid Quthb rahimahullah dalam tafsirnya, “Bahwa setelah menjelaskan tentang beliau saw. bukanlah ayah dari Zaid bin Haritsah r.a., sehingga halal beliau menikahi Zainab r.a., ayat ini juga menggariskan tentang pemenuhan hukum syariat yang masih tersisa yang harus diketahui dan disampaikan kepada umat manusia, sebagai realisasi dari penutup risalah langit untuk di bumi ini, tidak boleh ada pengurangan dan tidak boleh ada perubahan, semuanya harus disampaikan.” (Fi Zhilalil Qur’an, Sayyid Quthb, VI/89)

      Lebih lanjut beliau menambahkan saat menafsirkan akhir ayat tersebut (yang berbunyi “Dan adalah Allah Maha Mengetahui atas segala sesuatu“), “Sungguh Dia-lah yang paling mengetahui apa yang paling baik dan paling tepat bagi para hamba-Nya, maka Ia memfardhukan kepada Nabi-Nya apa yang seharusnya dan memilihkan bagi beliau apa yang terbaik. Ia menetapkan hukum-Nya ini sesuai dengan pengetahuan-Nya yang meliputi segala sesuatu dan ilmu-Nya tentang mana yang terbaik tentang hukum, aturan dan undang-undang serta sesuai dengan kasih-sayang-Nya kepada semua hamba-Nya yang beriman.”

      semoga jadi pncerah

  2. Edi Keling

    untuk menguraikan kandungan isi Al-Quran begitu luas sehingga air laut dijadikan tinta tidaklah mencukupinya walaupun ditambah satu samudra lagi, jadi jika ada penapsiran tentang khatam adalah terakhir doang, berarti begitu sempit pemikiran seperti itu, dan otomatis Malaikat Jibril yang bertugas menyampaikan Wahyu Allah Dipensiunkan oleh pemikiran itu………… segitu aja kok repot mikirnya……

  3. armand

    @ Mira;
    saya akan menjawab pernyataan anda (Ahmadiyah):
    anda bukan ahli FIQIH dan bukan pula ahli hadits….pernahkah anda tahu bahwa dalam ilmu FIQIH berlaku hukum tidak berlaku surut…maksudnya hukum lama tidak akan dipakai sebagai hujah setelah ada hukum terbaru.Surat AL A’RAF ayat 35 yang anda pakai sebagai hujah telah hiang pegangannya setelah turun QS AL AHZAB 40:( ” Bukanlah Muhammad itu bapak salah seorang laki-laki di antara kamu tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup Nabi-nabi”) dAN QS AL MA’IDAH 3. surat AL A’RAF adalah golongan surat Makkiyyah yang turun lebih dulu sebelum Rasulullah hijrah sedang surat AL AHZAB & AL MA’IDAH adalah surat Madaniyyah yang turun setelah beliau hijrah.
    banyak kasus juga seperti itu, seperti hukum minum khamar (semula boleh lalu jadi haram), nikah poligami ( semula nikah poligami tak terbatas lalu hanya maksimal 4 orang)& nikah mut’ah, dll

    Imam Muslim dan yang lainnya meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda:
    “Perumpamaan saya dan para Nabi sebelum saya seperti orang yang membangun satu bangunan lalu dia membaguskan dan membuat indah bangunan itu kecuali tempat batu yang ada di salah satu sudut. Kemudian orang-orang mengelilinginya dan mereka ta’juk lalu berkata: ‘kenapa kamu tidak taruh batu ini.?’ Nabi menjawab : Sayalah batu itu dan saya penutup Nabi-nabi”

    Imam Muslim juga meriwayatkan dari Jubair bin Mut’im RA bahwa Nabi SAW bersabda:
    “Sesungguhnya saya mempunyai nama-nama, saya Muhammad, saya Ahmad, saya Al-Mahi, yang mana Allah menghapuskan kekafiran karena saya, saya Al-Hasyir yang mana manusia berkumpul di kaki saya, saya Al-Aqib yang tidak ada Nabi setelahnya”

    Abu Daud dan yang lain dalam hadist Thauban Al-Thawil, bersabda Nabi Muhammad SAW:
    “Akan ada pada umatku 30 pendusta semuanya mengaku nabi, dan saya penutup para Nabi dan tidak ada nabi setelahku”

    Khutbah terakhir Rasulullah …
    ” …Wahai manusia, tidak ada nabi atau rasul yang akan datang sesudahku dan tidak ada agama baru yang akan lahir.Karena itu, wahai manusia, berpikirlah dengan baik dan pahamilah kata-kata yang kusampaikan kepadamu. Aku tinggalkan dua hal: Al Quran dan Sunnah, contoh-contoh dariku; dan jika kamu ikuti keduanya kamu tidak akan pernah tersesat …”

    saya rasa ini cukup untuk membantah pernyataan anda…

    semoga anda kembali kejalan yang benar….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s