Mengobati Hati Dari Kekuasaan Nafsu

Bab ini merupakan fondasi dan dasar dari bab-bab selanjutnya.
Sesungguhnya seluruh penyakit hati berasal dari nafsu. Materi-
materi yang rusak selalu bersumber darinya, lalu daripadanya
menyebar ke seluruh anggota tubuh. Dan yang pertama kali
diserang adalah hati. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam
khutbah hajahnya ber-sabda,

“Segala puji bagi Allah, kita memohon pertolongan, petunjuk dan
ampunan-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan-
kejahatan nafsu kita dan keburukan-keburukan perbuatan kita.”
(Diriwayatkan At-Tirmidzi, Nasa’i, Abu Daud, Ibnu Majah, Ahmad
dari jalur Ishaq dari Abul Ahwash dari Ibnu Mas’ud dan sanad-
nya. shahih).

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah berlindung dari
keja-hatan nafsu secara umum, dan dari apa yang lahir daripadanya
berupa berbagai perbuatan, serta berlindung dari kejahatan berupa
hal-hal yang dibenci dan siksa yang merupakan akibat daripadanya.
Beliau meng-himpun antara permohonan pertolongan dari kejahatan
nafsu dengan permohonan pertolongan dari keburukan-keburukan
perbuatan. Kare-na itu, di dalamnya ada dua alternatif pengertian:
Pertama, ia merupakan masalah penyandaran macam kepada
jenisnya. Artinya, aku berlindung kepada-Mu dari macam perbuatan-
perbuatan ini.

Kedua, maksudnya adalah siksaan-siksaan karena berbagai
per-buatan yang mengakibatkan buruk pemiliknya.

Pada pengertian pertama berarti ia berlindung dari sifat nafsu
dan perbuatannya. Dan pada pengertian kedua berarti ia
berlindung dari siksaan dan sebab-sebabnya. Dan perbuatan buruk
termasuk dalam kejahatan nafsu, tetapi pertanyaannya adalah
apakah pengertiannya, (aku berlindung kepada-Mu dari) keburukan
yang menimpaku karena balasan dari perbuatanku atau karena
perbuatanku yang buruk?

Kemungkinan yang kuat adalah pendapat pertama, karena ber-
lindung dari perbuatan buruk setelah terjadinya perbuatan buruk
itu tidak lain adalah memohon perlindungan dari balasan dan
konsekwensi daripadanya, jika tidak, tentu tak mungkin sesuatu yang
ada (perbuatan buruk) kemudian bisa dihilangkan wujudnya.

Orang-orang yang menuju jalan Allah, dengan berbagai
perbedaan jalan dan cara mereka, sepakat bahwa nafsu adalah
pemutus bagi ter-hubungnya hatiuntuk sampaikepada Allah. Allah
tidak akan memasuk-kan dan menyambungkan hah’ itu kepada-Nya
kecuali setelah nafsu itu dibunuh, ditinggalkan, diselisihi dan
dikalahkan.

Dan manusia terdiri dari dua macam: Pertama, orang yang
dikalahkan nafsunya, sehingga ia bisa dikuasai dan dihancurkan
nafsunya, ia pun tunduk pada perintah-perintah nafsunya. Kedua,
orang yang bisa mengalahkan dan memaksakan nafsunya, sehingga
nafsu itu pun tunduk pada perintah-perintahnya.

Sebagian orang-orang yang mengerti (al-‘arifin) berkata,
“Perjalan-an orang-orang yang mencari (at-thalibin) berakhir dengan
mengalahkan nafsu, dan siapa yang mengalahkan nafsunya maka dia
telah menang dan berhasil. Sebaliknya, siapa yang dikalahkan oleh
nafsunya maka dia orang yang merugi dan hancur. Allah befirman,

“Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan
kehi-dupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal-
(nya). Dan adapun orang-orang yang takutkepada kebesaran
Tuhannya dan menahan dirt dari keinginan hawa nafsunya, maka
sesungguhnya surgalah tempat tinggal-(nya).” (An-Nazi’at:
3741).

Nafsu menyeru kepada kedurhakaan dan mengutamakan dunia,
sedangkan Tuhan menyeru hamba-Nya agar takut kepada-Nya dan
menahan diri dari keinginan hawa nafsunya. Dan hati di antara dua
penyeru itu, terkadang ia condong kepada penyeru ini, dan terkadang
pula condong kepada penyeru yang lain.

Dan inilah tempat ujian dan cobaan. Dan Allah telah menyifati nafsu
dalam Al-Qur’an dengan tiga sifat: Muthma’innah, al-ammarah bis suu’
dan lawwamah.

Jika nafsu tentram kepada Allah, tenang dengan berdzikir dan
kembali kepada-Nya, rindu bertemu dengan-Nya, senang dekat dari-
Nya maka ia adalah nafsu muthma’innah. Dan kepada nafsu inilah
dikatakan,

“Hat nafsu muthma’innah. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati
yang puas lagi diridhai-Nya.” (Al-Fajr: 27-28).

Ibnu Abbas berkata, “Hai nafsu muthma’innah”. Artinya, hai jiwa
yang percaya.” Qatadah berkata, “Ia adalah jiwa yang beriman, jiwanya tenang dengan apa yang dijanjikan Allah.” Al-Hasan berkata, ‘Tang merasa tenang dengan apa yang difirmankan Allah, dan percaya dengan yang difirmankan.” Mujahid berkata, “Ia adalah jiwa yang kembali dan tunduk kepada Allah dan yakin bahwa Allah adalah Tuhannya, ia merasa tenang dengan perintah-Nya dan dengan mentaati-Nya, serta dia yakin pasti berjumpa dengan-Nya.”1)

Adapun hakikat thuma’ninah (ketenangan) yaitu diam dan menetap,
yakni ia benar-benar menetapi Tuhannya dengan mentaati perintah-
perintah-Nya. Adapun lawan daripada itu maka ia adalah nafsu ammarah bis suu’. Ia memerintah kepada dirinya sesuai nafsunya, dengan berbagai keinginan sesat dan mengikuti kebatilan. Dan itulah tempat segala keburukan. Jika dia mentaatinya, maka akan menuntunnya pada setiap keburukan dan sesuatu yang dibenci.

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan jenis nafsu itu sebagai
nafsu ammarah (banyak memerintah) bis suu’, Dia tidak mengatakan
amirah (yang memerintah), karena begitu banyaknya keburukan yang
diperintahkan.2) Dan itulah kebiasaan dan adatnya, kecuali jika Allah
merahmati dan menjadikannya bersih, sehingga memerintahkan pemi-
liknya pada kebaikan, dan itu adalah karena rahmat Allah, tidak karena nafsu itu, karena dia sendiri pada hakikatnya banyak memerintah pada keburukan. Sebab pada dasarnya, ia diciptakan dalam keadaan bodoh dan zalim, kecuali karena rahmat Allah. Adapun keadilan dan ilmu maka keduanya datang kemudian disebabkan oleh ilham Tuhan dan Penciptanya. Jika Allah tidak mengilhami kebenaran maka dia akan tetap berada dalam kezaliman dan kebodohannya. Karena tidaklah banyak memerintah pada keburukan kecuali akibat dari kebodohan dan kezalimannya.

Dan kalau bukan karena karunia dan rahmat Allah atas orang-orang
beriman, niscaya tak seorang pun yang memiliki jiwa yang bersih.
Jika Allah menghendaki jiwa baik maka Dia menjadikan di dalam-
nya sesuatu yang membersihkan dan memperbaikinya, baik berupa
keinginan-keinginan dan gambaran-gambaran. Dan jika Dia tidak menghendaki bersihnya jiwa maka Dia membiarkan jiwa itu seperti keadaan ketika diciptakannya, dengan kebodohan dan kezalimannya.

Adapun sebab kezaliman, bisa karena kebodohan atau karena iba-
hah (membolehkan). Dan pada dasarnya ia adalah bodoh, dan kebodohan senantiasa bersamanya, karena itu perintah-perintahnya terhadap keburukan adalah suatu kemestian, jika ia tidak mendapatkan rahmat dan karunia Allah.

Dari sini kita ketahui, keperluan hamba kepada Tuhannya adalah
di atas segala keperluan, tidak ada suatu keperluan pun yang bisa diukur dengan keperluan kepada Tuhan. Maka, jika Allah menahan rahmat, taufiq dan hidayah-Nya sekejap saja, niscaya ia akan merugi dan binasa.

Adapun kata lawwamah, ada perbedaan pendapat tentang akar
katanya. Apakah ia dari kata talawwum (berubah-ubah dan ragu-ragu)
atau dari kata al-laum (tercela)? Dan pendapat-pendapat Salafunas-
Shalih antara dua makna tersebut.3)

Sa’id bin Jubair berkata, “Aku bertanya kepada Ibnu Abbas, ‘Apakah
al-lawwamah itu?” Beliau menjawab, “Yaitu nafsu yang tercela.”

Mujahid berkata, “Ia adalah nafsu yang sangat menyesali apa yang
telah lalu dan mencela dirinya sendiri.”

Qatadah berkata, “Ia adalah nafsu yang hanyut dalam kemaksiatan.”
Ikrimah berkata, “Ia adalah nafsu yang mencela kepada kebaikan
dan keburukan.”

Atha’ bin Abbas berkata, “Setiap nafsu mencela dirinya pada Hari
Kiamat. Orang yang berbuat baik mencela nafsunya mengapa ia tidak
menambah kebaikannya, sedangkan orang yang berbuat
keburukan mencela nafsunya mengapa ia tidak berhenti dari
kemaksiatannya.”

Al-Hasan berkata, “Sesungguhnya seorang Mukmin itu -demi
Allah-tidak Anda dapati kecuali dia mencela nafsunya pada setiap
keadaan. Ia selalu merasa kurang dengan apa yang ia kerjakan,
sehingga ia menyesal dan mencela nafsunya. Adapun orang yang
tenggelam dalam maksiat, ia tetap melenggang terus dengan tidak
mencela dirinya.”

Demikianlah beberapa ungkapan dari para ulama yang
berpendapat bahwa al-lawwamah berasal dari kata al-laum.
Adapun mereka yang berpendapat bahwa al-lawwamah berasal
dari talawwum maka karena nafsu itu selalu ragu-ragu dan sering
berubah-ubah, dan bahwa ia tidak tetap dalam satu keadaan.
Tetap tampaknya’ pendapat pertama lebih mendekati
kebenaran. Karena kalau makna kedua yang dimaksud, niscaya
menjadi al-mutalaw-wimah. Seperti kata al-mutalawwinah wal
mutaraddidah (yang berubah-ubah dan selalu ragu-ragu). Hanya ia
selalu menyertai makna sebagai-mana disebutkan dalam pendapat
pertama. Sebab begitu sering-nya ia berubah-ubah dan tidak tetap
menjadikan dirinya melakukan sesuatu yang ia kemudian mencela
perbuatan itu. Jadi, at-talawwum (selalu berubah dan ragu-ragu)
merupakan sesuatu yang tak dapat dipisahkan dari al-laum
(mencela).

Dan nafsu terkadang bersifat ammarah (banyak memerintah),
lawwamah (banyakmencela) dan muthma’innah (tenang). Dalam
sehari bahkan dalam satu jam bisa terjadi ketiganya saling
bergantian pada diri seseorang. Hanya saja seseorang dihukumi
dengan nafsu yang paling banyak menguasai dirinya.
Jika nafsu itu muthma’innah maka ia adalah sifat terpuji
baginya. Jika nafsu itu ammarah bis suu’ maka ia adalah sifat
tercela baginya. Dan jika nafsu itu lawwamah maka ia terbagi
menjadi sifat terpuji dan sifat tercela tergantung pada apa yang
dicelanya.

Adapun maksudnya di sini adalah kita ingin menyebutkan pengobatan penyakit hati dengan menguasai nafsu ammarah bis suu’. Dan untuk itu ada dua pengobatan: (Pertama), senantiasa melakukan muhasabah (penghitungan) atas nafsu. Dan (kedua), selalu menyelisihi nafsu. Karena kehancuran hati adalah dengan meremehkan masalah muha-sabah dan menyepakati serta mengikuti hawa nafsu.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu bahwasanya ia berkata,

“Hisablah diri kalian sebelum Anda sekalian dihisab, timbanglah (amal) kalian sebelum (amal) Anda sekalian ditimbang. Karena kalian akan lebih mudah (menghadapi) hisab kelak jika sekarang kalian menghisab diri kalian, dan berhiaslah kalian untuk (hari) menghadap paling agung. “4)

“Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu), tiada sesuatupun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah).” (Al-Haqqah:  18).

Disebutkan pula dari Al-Hasan bahwa beliau berkata, “Engkau tidak akan menjumpai seorang Mukmin kecuali ia menghisab atas dirinya:
Apa yang hendak Anda lakukan? Apa yang hendak Anda minum? Sedangkan seorang tukang maksiat, ia terus saja berlalu tanpa mempedulikan dirinya.”

Qatadah berkata tentang firman Allah,

“Dan adalah keadaannya (hawa nafsu) itu melewati batas.” (Al-Kahfi: 28).

Artinya, ia menyia-nyiakan dan menipu nafsunya, tetapi meski demikian ia tetap menjaga harta bendanya dan melalaikan agamanya.”Al-Hasan berkata, “Sesungguhnya seorang hamba masih akan tetap baik selama dia memiliki penasihat dari dalam dirinya sendiri, serta menjadikan muhasabah sebagai capaiannya.”

Maimun bin Mahran berkata, “Tidaklah seorang hamba bertakwa hingga ia lebih menghisab nafsunya daripada seorang teman kepada temannya. Karena itu dikatakan, nafsu adalah laksana seorang teman dekat, jika Anda tidak menghisabnya, niscaya hilanglah ia bersama  hartamu.”

Maimun bin Mahran juga berkata, “Seorang yang bertakwa lebih menghisab nafsunya daripada seorang penguasa penindas dan dari teman yang kikir.”

Al-Ahnaf bin Qais mendatangi lampu, lalu ia meletakkan jarinya ke dalamnya seraya berkata, “Rasakanlah wahai Hunaif! Apa yang mendorongmu melakukan perbuatan tersebut pada hari anu? Apa yang mendorongmu melakukan perbuatan itu pada hari anu?”

Umar bin Khaththab menulis kepada sebagian pegawainya, “Hisablah dirimu di saat kamu dalam keadaan suka, sebelum datangnya hisab di waktu susah, karena siapa yang menghisab dirinya di waktu suka sebelum datang hisab di waktu susah maka ia akan rela dan suka (dengan hisabnya), sedang siapa yang dilalaikan oleh hidupnya dan disibukkan oleh hawa nafsunya maka ia akan menyesal dan merugi.”

Muhasabah diri (nafsu) ada dua macam: Muhasabah sebelum melakukan suatu perbuatan dan muhasabah setelah melakukan suatu perbuatan.

Adapun yang pertama, maka ia berhenti di awal keinginannya dan tidak langsung melakukan keinginannya sehingga jelas baginya bahwa melangsungkannya lebih baik daripada meninggalkannya.

Al-Hasan Rahimahullah berkata, “Semoga Allah merahmati hamba-Nya yang berhenti di saat berkeinginan. Jika karena Allah maka ia laksanakan dan jika karena selain-Nya maka ia tinggalkan.”

Sebagian orang menjelaskan arti ungkapan di atas dengan mengatakan, “Jika diri bergerak untuk melakukan suatu perbuatan, dan ia pun sudah berkeinginan melakukannya maka ia berhenti dan merenungkan, apakah perbuatan tersebut sanggup ia lakukan atau tidak? Jika tidak sanggung ia lakukan maka ia tidak melanjutkannya. Tetapi jika sanggup ia lakukan maka ia merenungkan hal lain, apakah melakukannya lebih baik daripada meninggalkannya atau meninggalkannya lebih baik daripada melakukannya? Jika jawabannya yang pertama, maka ia merenungkan hal ketiga, apakah yang mendorong perbuatan itu adalah keinginan mendapatkan keridhaan Allah dan pahala-Nya atau keinginan mendapatkan pangkat, pujian dan harta dari makhluk.5) Jika jawabannya yang kedua, maka ia membatalkan perbuatan itu, meskipun itu yang akan menghantarkan pada apa yang ia cari, agar ia tidak terbiasa dengan syirik, lalu menjadi ringan baginya melakukan perbuatan bukan karena Allah. Karena setingkat dengan keringanan yang ia rasakan itu (dalam berbuat bukan karena Allah) maka setingkat itu pula beratnya untuk berbuat karena Allah, bahkan hingga ia menjadi sesuatu yang terberat baginya.

Tetapi jika jawabannya yang pertama, maka hendaknya ia merenungkan kembali, apakah ia akan ditolong dalam perbuatannya itu, dan ada orang-orang yang bersedia membantunya jika memang perbuatan itu membutuhkan pertolongan? Jika tidak ada yang menolongnya dalam perbuatan itu maka ia berhenti, sebagaimana Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berhenti dan menunda jihad di Makkah hingga beliau mendapatkan para penolong. 6) Dan jika dia mendapatkan orang yang menolong-nya maka ia pun melangsungkan pekerjaannya.

Dan tidaklah suatu keberhasilan luput kecuali bagi orang yang melengahkan salah satu dari marhalah-marhalah tersebut. Jika tidak, tentu dengan melakukan semua marhalah itu, keberhasilan tidak akan luput darinya.

Inilah keempat hal yang memerlukan muhasabah diri sebelum di langsungkannya suatu pekerjaan. Karena, tidaklah setiap pekerjaan yang dikehendaki seseorang bisa ia lakukan, dan tidaklah setiap pekerjaan yang mampu ia kerjakan selalu melakukannya lebih baik daripada ia tinggalkan, dan tidaklah setiap pekerjaan yang jika dilakukan lebih baik daripada ditinggalkan selalu karena Allah, dan tidaklah setiap yang ia kerjakan karena Allah selalu mendapatkan para penolong. Jika ia menghisab dirinya dengan beberapa hal di atas maka akan jelaslah apa yang harus ia lakukan dan apa yang harus ia tinggalkan.

Jenis kedua yaitu muhasabah diri setelah selesainya pekerjaan. Dan ia terbagi menjadi tiga macam:

Pertama, muhasabah atas ketaatan dirinya dari sisi kekurangan yang ia lakukan dari hak-hak Allah, sehingga ia melakukannya tidak sebagaimana mestinya. Adapun hak Allah dalam hal ketaatan ada enam: Ikhlas dalam berbuat, nasihat karena Allah dalam pekerjaan tersebut, mengikuti Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam di dalamnya, persaksian kebaikan yang ada pada pekerjaan tersebut dan persaksian atas karunia Allah dalam pekerjaan tersebut, serta persaksian atas segala kekurangan dirinya dalam pekerjaan tersebut.

Maka hendaknya ia menghisab dirinya, apakah ia telah memenuhi semua hak-hak tersebut? Dan apakah ia melakukan ketaatan tersebut?

Kedua: Hendaknya ia menghisab dirinya atas pekerjaan yang lebih baik ditinggalkan daripada dikerjakannya.

Ketiga: Hendaknya ia menghisab dirinya atas hal-hal yang mubah atau yang biasa (sehari-hari): Kenapa ia lakukan? Apakah ia lakukan itu karena Allah dan mengharapkan kampung akhirat, sehingga ia beruntung atau ia inginkan dengan itu dunia dengan segala ketergesaannya sehingga ia merugi dan tak mendapatkan kemenangan.

Ighatsatul Lahfan – Ibnul Qoyyim Al Jauziyah

1) Ad-DurrulMantsur, (8/513-514).
2) Dalam ilmu nahwu disebut shighah mubalaghah (ungkapan yang berlebih-lebihan).
3) Ad-Durrul Mantsur (8/343).
4) Dalam Az-Zuhd (2/30), dan sebagian mereka menyebutkannya secara marfu’ (kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam) padahal tidak demikian.
5) Pernik-pernik jiwa ini banyak tak dipahami oleh mayoritas manusia, sehingga mereka mengkalkulasi segalanya sesuai dengan teori-teori duniawi, berdasarkan penghasilan yang bakal diperoleh, karena itu tidak ada manfaat dari perenungan mereka, juga niat mereka tidak diperbaiki.
6) Karena itu hendaknya orang-orang yang tergesa-gesa (menuai hasil) mengambil pelajaran dari peristiwa yang amat berharga ini. Dan agar mereka memahami bahwa ketergesaan mereka itu akan menjerumuskannya pada kehancuran jika mereka tidak bertakwa kepada Allah dan berjalan sesuai dengan manhaj Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

3 pemikiran pada “Mengobati Hati Dari Kekuasaan Nafsu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s