Pandangan yang dilepaskan begitu saja itu akan menimbulkan perasaan gundah, tidak tenang dan hati yang terasa dipanas panasi. Seseorang bisa saja melihat sesuatu, yang sebenarnya dia tidak mampu untuk melihatnya secara keseluruhan, karena dia tidak sabar untuk melihatnya. Tentu merupakan siksaan yang berat pada batin anda, bila ternyata anda melihat sesuatu yang anda sendiri tidak bisa sabar untuk tidak melihatnya, walaupun sebagian dari sesuatu tersebut, namun anda juga tidak mampu untuk melihatnya.

Seorang penyair berkata :

ﺮﻇﺎﻨﳌﺍﻚﺘـﺒﻌﺗﺃﺎﻣﻮﻳﻚـﺒﻠﻘﻟﺍﺪﺋﺍﺭﻚﻓﺮﻃﺖﻠﺳﺭﺃﱴﻣﺖﻨﻛﻭ
ﺮﺑﺎﺻﺖﻧﺃﻪـﻀﻌﺑﻦﻋﻻﻭﻪﻴﻠﻋﺭﺩﺎﻗﺖﻧﺃﻪـﻠﻛﻻﻱﺬﻟﺍﺖﻳﺃﺭ

– Bila – suatu hari – engkau lepaskan pandangan matamu mencari ( mangsa ) untuk hatimu, niscaya apa apa yang dipandangnya akan melelahkan ( menyiksa ) diri kamu sendiri.

– Engkau melihat sesuatu yang engkau tidak mampu untuk melihatnya secara keseluruhan dan engkau juga tidak bisa bersabar untuk tidak melihat ( walau hanya ) sebagian dari sesuatu itu.

Lebih jelasnya, bait syair di atas maksudnya :
engkau akan melihat sesuatu yang engkau tidak sabar untuk tidak melihatnya walaupun sedikit, namun saat itu juga engkau tidak mampu untuk melihatnya sama sekali walaupun hanya sedikit.

Betapa banyak orang yang melepaskan pandangannya tanpa kendali, akhirnya dia binasa dengan pandangan pandangan itu sendiri. Seperti yang diungkapkan oleh seorang penyair :

ﻼـﻴﺘﻗﻦﻬﻨﻴﺑﻂﺤﺸﺗﱴﺣﻪـﺗﺎﻈﳊﺖﻌﻠﻗﺃﺎﻣﺍﺮﻇﺎﻧﺎﻳ

Wahai orang yang memandang, tidaklah dia sampai tuntas menyelesaikan pandangannya, sehingga dia sendiri akan menjauh dan jatuh binasa karena pandangan pandangannya sendiri.

Ada untaian bait lain yang mengatakan :

ﻼﻴﲨﻦﻈﻳﻞﻠﻃﻰﻠﻋﺎﻔﻗﻭﻪـﺗﺎﻈﳊﺕﺪﺘﻏﺎﻓﺔﻣﻼﺴﻟﺍﻞﻣ
ﺘﻳﻝﺍﺯﺎﻣ ﻼﻴﺘﻗﻦـﻬﻨﻴﺑﻂﺤﺸﺗﱴﺣﻪـﺗﺎﻈـﳊﺓﺮﺛﺇﻊـﺒ

– (Mungkin) dia sudah bosan selamat, sehingga dia biarkan pandangannya menyaksikan apa yang menurutnya indah.
– Begitulah ; dia terus melanjutkan satu pandangan dengan pandangan yang lain, sehingga ahirnya dia menjauh dan jatuh binasa karena pandangan pandangannya sendiri.

Suatu hal yang lebih mengherankan, yaitu bahwa pandangan yang dilakukan oleh seseorang itu merupakan anak panah yang tidak pernah mengena pada sasaran yang dipandang, sementara anak panah itu benar benar mengena di hati orang yang memandang.

Ada untaian bait syair yang mengatakan :

ﺐﺼﺗﻼﻓﻲﻣﺮﺗﺎﲟﻞـﻴﺘﻘﻟﺍﺖﻧﺃﺍﺪـﻬﺘﳎﻆـﺤﻠﻟﺍﻡﺎﻬﺳﺎﻴﻣﺍﺭﺎﻳ
ﺐﻄﻌﻟﺎﺑﻚﻴﺗﺄﻳﻻﻚﻟﻮﺳﺭﺲﺒﺣﺍﻪـﻟﺀﺎﻔﺸﻟﺍﺩﺎﺗﺮﻳﻑﺮﻄﻟﺍﺚﻋﺎﺑﻭ

– wahai orang yang dengan sungguh sungguh melempar anak panah pandangannya, engkaulah sebenarnya yang menjadi korban dari apa yang kamu lempar itu dan engkau tidak berhasil membidik orang yang engkau pandang.

– Dan orang yang melepas pandangannya dia akan kehilangan kesehatannya. ( oleh karena itu ) tahanlah pandanganmu, agar tidak mendatangkan musibah kepadamu.

Suatu hal yang lebih mengherankan lagi, yaitu bahwa satu pandangan (padahal yang dilarang ) itu dapat melukai hati dan (dengan pandangan yang baru ) berarti dia menoreh luka baru di atas luka lama ; namun ternyata derita yang di timbulkan oleh luka luka itu tak mencegahnya untuk kembali terus menerus melukainya.

ﺢـﻴﻠﻣﻭﺔـﺤﻴﻠﻣﻞـﻛﺮﺛﺇﰲﺓﺮـﻈﻧﰲﺓﺮـﻈﻧﻊﺒﺘﺗﺖﻟﺯﺎﻣ
ﺢـﻳﺮﲡﻰﻠﻋﺢـﻳﺮﲡﻖﻴﻘﲢـﻟﺍ ﰲﻮﻫﻭﻚﺣﺮﺟﺀ ﺍﻭﺩﻙﺍﺫﻦﻈﺗﻭ
ﺢـﻴﺑﺫ ﻱﺃﺢـﻴﺑﺫﻚﻨﻣﺐﻠﻘﻟﺎﻓﺀﺎﻜﺒﻟﺎﺑﻭﻅﺎﺤﻠﻟﺎﺑﻚﻓﺮﻃﺖﲝﺬﻓ

– Kau senantiasa mengikutkan satu pandangan dengan pandanganlainnya untuk menyaksikan ( wanita ) cantik dan ( pria ) tampan.

– Dan kau mengira bahwa itu dapat mengobati luka ( syahwat )mu, padahal dengan itu berarti kau menoreh luka di atas luka.

– Kau korbankan matamu dengan pandangan dan tangisan, sementara hatimu juga ( menjerit seperti ) disembelih habis habisan.
Oleh karena itu dikatakan : “sesungguhnya menahan pandangan hatimu itu lebih mudah dari pada menahan langgengnya penyesalan.”

Al Jawabul Kaafi Liman Sa’ala ‘an Ad Dawaa’ Asy Syafi
Ibnul Qoyyim Al Jauziyah