Antara Berlebih-lebihan dan Meremehkan Dalam Menjalankan Agama Islam

Di antara tipu daya syetan yang menakjubkan adalah ia menguji nafsu manusia, manakah yang lebih dominan, kekuatan untuk maju dan berani atau kekuatan menolak, diam dan kehinaan?

Jika ia melihat yang dominan pada nafsu adalah diam, statis dan kehinaan, maka ia berusaha melemahkan keinginan dan kemauannya terhadap apa yang diperintahkan, ia menjadikan orang itu beranggapan berat terhadapnya, sehingga ia mudah meninggalkan perintah itu, bahkan hingga meninggalkannya sama sekali, atau paling tidak malas dan meremehkan hal tersebut.

Tetapi jika ia melihat yang dominan padanya adalah keinginan untuk maju dan motivasi kuat maka ia menjadikan perintah yang dilakukan itu terasa masih sedikit, sehingga dianggap masih kurang, lalu perlu ditingkatkan lagi dan ditambah. Sehingga golongan yang pertama meremehkan dan yang kedua berlebih-lebihan. Sebagaimana dikatakan oleh sebagian salaf, “Tidaklah Allah memerintahkan suatu perintah, kecuali syetan memiliki dua bujukan, baik kepada meremehkan dan menganggap enteng atau membujuknya kepada berlebih-lebihan dan melampaui batas, syetan tidak mempedulikan dengan yang mana ia beruntung.”

Kebanyakan manusia terjerumus pada dua lembah ini kecuali sebagian kecil saja dari mereka; yang pertama adalah lembah meremehkan dan menganggap enteng dan yang kedua adalah lembah berlebih-lebihan dan melampaui batas. Ironinya, sedikit sekali orang yang tetap tegak pada jalan Rasul Shallallahu Alaihi wa Sallam dan para sahabatnya.

Ada kaum yang meremehkan masalah kewajiban bersuci, tetapi sebagian kaum yang lain berlebih-lebihan hingga sampai mengeluarkan semua apa yang ada di tangannya dan menjadi beban bagi manusia.

Sebagian kaum meremehkan urusan kebutuhan makan, minum dan pakaian sehingga membahayakan badan dan had mereka. Sebaliknya ada kaum yang berlebih-lebihan dalam hal yang sama, sehingga membahayakan hati dan badan mereka.

Sebagian kaum meremehkan hak para nabi dan ahli waris mereka (ulama) bahkan hingga mereka membunuhnya, tetapi ada kaum lain yang melampaui batas terhadap mereka hingga sampai menyembah mereka.

Sebagian kaum meremehkan dalam hal mempergauli manusia, mereka mengasingkan diri dari manusia hingga dalam hal-hal ketaatan seperti shalat Jum’at, jama’ah, jihad dan mencari ilmu. Sebaliknya ada yang melampaui batas dalam hal pergaulan sampai mereka mempergauli manusia dalam kezaliman, kemaksiatan dan dosa.

Sebagian kaum menolak mencari ilmu yang bermanfaat, tetapi ada yang melampaui batas hingga menjadikan ilmu semata sebagai tujuannya tanpa mengamalkan ilmu itu sendiri. 1)

Sebagian kaum meremehkan hingga hanya memakan rumput serta makanan ternak lainnya dan bukan makanan manusia, sebaliknya ada yang berlebih-lebihan hingga mereka memakan barang yang haram.

Sebagian kaum meremehkan sehingga menganggap baik meninggalkan Sunnah Rasul Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam hal pernikahan, lalu ia pun membencinya sama sekali, sebaliknya ada yang berlebih-lebihan sehingga mereka sampai melakukan hal-hal yang diharamkan.

Sebagian kaum meremehkan hingga bersikap keras kepada orang-orang yang taat menjalankan perintah agamanya, orang-orang shalih serta berpaling dari mereka dan tidak mau memenuhi hak-hak mereka, sebaliknya sebagian kaum berlebih-lebihan hingga menyembah mereka selain menyembah Allah.

Sebagian kaum meremehkan hingga melarang menerima perkataan para ahli ilmu serta agar berpaling sama sekali daripadanya, sebaliknya sebagian lain melampaui batas hingga mereka menjadikan halal apa yang dihalalkan oleh mereka dan haram apa yang diharamkan oleh mereka, mereka mendahulukan perkataan para ahli ilmu tersebut atas Sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang benar dan jelas.2)

Sebagian kaum meremehkan hingga mengatakan bahwa Allah tidak kuasa atas perbuatan hamba-hamba-Nya, sebaliknya sebagian kaum berlebih-lebihan hingga mengatakan bahwa mereka tidak mampu melakukan suatu perbuatan apa pun. Allahlah –menurut pandangan mereka-yang melakukan berbagai perbuatan manusia itu secara hakiki, perbuatan itu perbuatan-Nya, bukan perbuatan mereka dan hamba tidak memiliki kuasa atau perbuatan apa pun.

Sebagian kaum meremehkan hingga mengatakan bahwa sesungguhnya Tuhan semesta alam tidaklah berada di dalam makhluk-Nya, tidak pula jauh dari mereka, tidak di atas, di bawah, di belakang, di depan, di samping kanan atau di samping kiri mereka. Sebaliknya sebagian kaum melampaui batas hingga mengatakan bahwa Allah berada di setiap tempat dengan Dzat-Nya, sebagaimana angin yang berada di setiap tempat. 3)

Sebagian kaum meremehkan hingga mengatakan bahwa Tuhan tidak befirman meskipun dengan hanya satu kalimat, tetapi sebagian melampaui batas hingga mengatakan bahwa Dia masih tetap abadi dan azali befirman,

“Hai iblis, apakah yang menghalangimu sujud kepada yang telah Kuciptakan dengan kedua Tangan-Ku?” (Shaad: 75).

Dan beiirman kepada Musa Alaihis-Salam,

“Pergilah kepada Fir’aun.” (Thaha: 24).

Firman ini -menurut mereka- masih tetap disampaikan dan terdengar daripada-Nya, sebagaimana sifat hayat yang senantiasa melekat pada-Nya.

Sebagian kaum berkata bahwa sesungguhnya Allah tidak memberi syafa’at kepada seorang pun, serta tidak pula mengasihi seseorang karena syafa’at orang lain, sebaliknya ada sebagian kaum yang menyangka bahwa ada makhluk yang bisa memberi syafa’at di sisi-Nya tanpa seizin-Nya, sebagaimana orang yang memiliki kedudukan memberi syafa’at (perantaraan, pertolongan) di sisi raja atau sejenisnya.

Sebagian kaum meremehkan hingga berkata bahwa iman orang yang paling fasik dan paling zalim sama dengan iman Jibril dan Mika’il,apalagi dengan Abu Bakar dan Umar. Sebaliknya sebagian kaum melampaui batas hingga mengeluarkan mereka dari Islam karena satu perbuatan dosa besar. 4)

Sebagian mereka menafikan dan membatalkan hak-hak nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya, tetapi sebagian lain melampaui batas sehingga mereka menyamakan dan menyerupakan-Nya dengan makhluk.

Sebagian kaum meremehkan sehingga memusuhi Ahlul Bait Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, membunuh mereka serta menghalalkan kehormatan mereka, namun sebagian kaum lagi berlebih-lebihan terhadap mereka sehingga mereka mengira bahwa Ahlul Bait tersebut memiliki keistimewaan-keistimewaan nubuwah, misalnya maksum (terbebas dari dosa) atau lainnya, bahkan mungkin ada yang mengira mereka memiliki sifat Uluhiyah. 5)

Orang-orang Yahudi meremehkan hak Al-Masih sehingga mereka mendustakan dan menfitnahnya berikut ibunya dengan sesuatu yang Allah mensucikan mereka daripadanya. Sebaliknya orang-orang Nasrani melampaui batas sehingga mereka menjadikannya sebagai putera Allah, bahkan sebagai Tuhan yang disembah bersama Allah.

Sebagian kaum meremehkan sehingga menafikan sebab, kekuatan, tabi’at dan naluri, di sisi lain ada kaum yang melampaui batas sehingga menjadikannya sebagai perkara yang mesti dan harus, yang tak mungkin diubah dan diganti, bahkan mungkin sebagian dari mereka ada yang menjadikannya memiliki pengaruh secara sendirinya.

Sebagian kaum ada yang meremehkan yakni menyembah dengan (mengenakan) barang-barang najis, mereka adalah orang-orang Nasrani dan yang sebangsanya, tetapi sebagian kaum ada yang dipenuhi oleh was-was hingga was-was itu membelenggu mereka, mereka adalah orang-orang sejenis Yahudi.

Sebagian kaum meremehkan hingga berhias untuk manusia dan menampakkan amal serta ibadahnya supaya mereka dipuji, tetapi sebagian kaum melampaui batas sampai menampakkan hal-hal yang jelek dan amal perbuatan yang buruk sehingga menjatuhkan kehormatan mereka di hadapan manusia, kelompok ini menamakan diri mereka dengan Al-Malamatiyah. 6)

Sebagian kaum meremehkan hingga menganggap enteng perbuatan hati dan tak mau mempedulikannya, bahkan mereka menganggapnya terlalu mengada-ada, namun sebagian lain melampaui batas hingga hanya membatasi pandangan dan amal mereka pada amalan hati, dan tak mempedulikan terhadap perbuatan anggota badan.

Ini adalah bab yang amat luas sekali, seandainya kita telusuri lebih jauh, niscaya akan merupakan pembahasan yang panjang sekali, di sini kita hanya mengisyaratkannya saja.

Ighatsatul Lahfan – Ibnul Qoyyim Al Jauziyah

Footnote
1) Ya Allah, selamatkanlah kami dari yang demikian, selamatkanlah kami dari yang demikian.
2) Yang benar adalah pertengahan antara keduanya, sebab perkataan ahli ilmu adalah wasilah untuk memahami nash-nash Al-Kitab dan As-Sunnah. Jika terdapat perselisihan antara pendapat mereka dengan salah satu wahyu tersebut, maka yang di-
amalkan dan yang diberlakukan adalah Al-Kitab dan As-Sunnah.
3) Yang benar, dan tak mungkin dibantah adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala berada
di atas langit, di atas ‘Arsy-Nya dan berada di atas semua makhluk-Nya.
4) Seperti jama’ah takfir dan hijrah pada zaman sekarang yang mereka itu adalah orang-orang bodoh. Mereka menghafal beberapa kalimat yang selalu mereka ulang-ulang seperti burung beo tanpa mereka pahami dan sadari akan maknanya. Tetapi sebagian dari orang-orang yang ikhlas dari mereka ada yang Allah selamatkan,
sehingga mereka kembali kepada jalan kebenaran.
5) Sebagian kelompok Rawafidh melakukan lebih dari itu
6) Mereka adalah dari kelompok sufi batiniah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s