Duduk bersimpuh dan merawat kuburan sebagai penghormatan

Di antara perbuatan yang diharamkan adalah duduk bersimpuh di kuburan, merawatnya dan menjaganya untuk menghormatinya, memasang tirai seperti tirai Ka‘bah. Telah kami jelaskan bahwa umat Islam telah sepakat bahwa membangun masjid di atas kuburan diharamkan atas dasar dalil dari Sunnah Nabi, apalagi berdiam dan bersimpuh di dalam masjid tersebut dan menganggapnya laksana Masjidil Haram. Bahkan ada sebagian orang yang lebih senang duduk bersimpuh di masjid yang dibangun di atas kuburan daripada duduk bersimpuh di Masjidil Haram. Demikian ini karena mereka telah mengangkat tuhan-tuhan setara dengan Allah dan mereka mencintai tuhan-tuhan itu sebagaimana cintanya kepada Allah, padahal orang-orang mukmin lebih besar cintanya kepada Allah.

Bahkan mengagungkan masjid yang dibangun di atas kuburan, yang mana hal ini telah diharamkan oleh Allah dan rasul-Nya– menurut pengikut paham ini, kuburan lebih agung daripada rumah-rumah Allah (masjid). Padahal Allah telah menetapkan bahwa masjid sebagai tempat untuk menyebut nama-Nya dan masjid hendaknya dibangun atas dasar takwa kepada Allah serta untuk mencari keridhaan-Nya.

Syetan telah menjerumuskan sebagian besar manusia kepada syirik besar dengan melakukan bid‘ah-bid‘ah semacam ini, sehingga di antara mereka ada yang beranggapan bahwa menziarahi kuburan para syuhada’, baik kuburan seorang nabi, seorang syekh atau salah satu keturunan nabi, lebih baik dari melaksanakan ibadah haji ke Mekkah. Ziarah ke kuburan semacam itu mereka sebut haji akbar. Pada waktu ibadah haji, setelah sampai ke Madinah sebagian dari mereka ada yang langsung pulang ke negerinya tanpa kembali ke masjidil haram, karena menganggap hajinya telah selesai. Mereka melakukan hal ini karena beranggapan ibadah haji mereka telah cukup dengan melakukan ziarah ke kuburan Nabi, berdo‘a di tempat tersebut dan bertawashul dengan kuburan beliau serta memohon kepada orang yang sudah wafat. Sebagian mereka ketika berdo‘a berupaya menggambarkan wajah syekh yang dimintai pertolongan. Hal ini adalah bujukan syetan sebagaimana syetan telah melakukannya kepada penyembah berhala.

Lebih hebat dari semua itu adalah memanjatkan do‘a kepada orang yang telah mati di kuburannya, bernadzar kepadanya atau kepada para perawat kubur yang selalu duduk bersila di atas kuburannya, atau kepada orang-orang yang tinggal di dekat kuburannya, baik kerabat dekatnya atau bukan. Mereka beranggapan bahwa dengan bernadzar kepada orang yang telah mati itu, hajatnya akan terkabul atau kesulitan-kesulitannya terselesaikan.

Telah kami jelaskan berdasar sabda Nabi bahwa bernadzar untuk berbuat baik tidak akan menghasikan kebaikan, apalagi bernadzar untuk berbuat dosa. Allah tidak akan menjadikan cara semacam itu menjadi sarana mengabulkan hajat yang dimaksud, misalnya bernadzar berdo‘a kepada orang yang telah mati.

Ketahuilah bahwa mereka yang telah dikubur, baik para nabi maupun orang-orang shalih, membenci segala macam perbuatan yang dilakukan di sisi kuburan mereka. Misalnya, ‘Isa Al Masih membenci apa yang dilakukan kaum Nasrani terhadap beliau. Para nabi Bani Israil juga membenci apa yang dilakukan para pengikutnya kepada mereka.

Seorang muslim tidak boleh beranggapan bahwa larangan menjadikan kuburan-kuburan sebagai tempat perayaan dan meletakkan patung-patung di atasnya sebagai tanda menghormati kebesaran atau memuliakan penghuni kuburannya. Demikian itu, karena hati manusia apabila telah dirasuki perbuatan-perbuatan bid‘ah, maka ia akan meninggalkan sunnah-sunnah Nabi. Anda lihat bahwa sebagian besar orang yang duduk bersimpuh di atas kuburan adalah orang-orang yang menentang cara-cara hidup orang yang menghuni kuburan tersebut. Mereka asyik dengan kuburan tersebut dan memohon kepadanya, padahal tidak ada perintah agama untuk melakukannya.

Di antara perbuatan menghormati para nabi dan orang-orang shalih adalah mengikuti seruannya dan melakukan amal shalih, sehingga para nabi dan orang-orang shalih memperoleh lebih banyak pahala karena perbuatan para pengikutnya, sebagaimana Nabi bersabda:

“Barang siapa mengajak kepada petunjuk, maka ia mendapatkan pahalanya dan ditambah sebanyak pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi sedikitpun pahala mereka.” (HR. Muslim)

Orang-orang yang biasa melakukan bid‘ah dalam beribadah sebenarnya tidak perlu melakukannya, sekiranya mau melaksanakan ibadah yang disyari‘atkan. Contohnya, mereka tidak perlu memilih tempat dan waktu tertentu untuk berdo‘a, sekiranya mereka mau mencukupkan diri berdo‘a pada waktu-waktu yang disyari‘atkan, seperti saat makan sahur, setelah shalat, ketika sujud dan lain sebagainya. Oleh karena itu, orang yang berakal sehat hendaknya berusaha dengan sungguh-sungguh mengikuti sunnah Nabi dalam semua urusan dan menjauhi semua perbuatan bid‘ah serta beranggapan bahwa semua perbuatan bid‘ah itu tidak lebih baik daripada perbuatan sunnah. Karena barang siapa yang memilih berbuat baik, dia akan diberi kebaikan dan barang siapa menjauhi yang buruk (bid‘ah), ia akan dijauhkan dari keburukan itu.

Mukhtarat Iqtidha’ Ash-Shirathal Mustaqim
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah

7 pemikiran pada “Duduk bersimpuh dan merawat kuburan sebagai penghormatan

  1. SHALAT DI KUBURAN

    Rasul saw shalat ghaib di pekuburan umum,
    Rasul saw shalat jenazah (shalat ghaib) menghadap
    kuburan setelah dimakamkan di sebuah pemakaman,
    lalu bermakmum dibelakang beliau shaf para
    sahabat, beliau saw bertakbir dengan 4 takbir
    (Shahih Muslim hadits No.954).
    Nabi saw shalat (shalat gaib) diatas kuburan
    (shahih Muslim hadits No.955).

    Telah wafat seseorang yang biasa berkhidmat
    menyapu masjid, maka Rasul saw bertanya
    tentangnya dan para sahabat berkata bahwa ia
    telah wafat, maka Rasul saw bersabda:
    “Apakah kalian tak memberitahuku??” maka
    para sahabat seakan tak terlalu menganggap
    penting, mengabarkannya, maka Rasul saw berkata:
    “Tunjukkan padaku kuburnya!”, maka Rasul saw
    mendatangi kuburnya lalu menyalatkannya, seraya
    bersabda:
    “Sungguh penduduk pekuburan ini penuh
    dengan kegelapan, dan Allah menerangi mereka
    dengan shalatku atas mereka” (Shahih Muslim
    hadits No.956), hadits semakna pada Shahih
    Bukhari hadits no.1258).

    MEMBANGUN MASJID DI ATAS KUBURAN

    Rasulullah Saw bersabda:
    “Allah telah melaknat kamu Yahudi dan
    Nashrani karena mereka menjadikan kuburan para
    Nabi mereka sebagai masjid”. ‘Aisyah berkata:
    “Rasulullah Saw (dalam hadits ini) memperingatkan
    agar mengindari perbuatan mereka”.

    Dan diriwayatkan dari Ummu Salamah dan
    Ummu Habibah bahwa mereka menceritakan
    kepada Rasulullah Saw perihal gereja berikut
    lukisan – lukisan yang ada didalamnya yang pernah
    mereka lihat di Habasyah, kemudian Rasulullah
    Saw bersabda :“Mereka itu apabila salah seorang
    yang shaleh diantara mereka meninggal, mereka
    bangun diatas kuburnya sebuah masjid dan mereka
    buat lukisan – lukisan tadi, mereka itulah sejelek
    – jelek makhluk di sisi Allah” (HR. Bukhari dan
    Muslim).

    Apakah maksudnya HADITS DI ATAS?

    Kita akan lihat ucapan para Imam :
    1. Berkata Guru dari Imam Ahmad bin Hanbal,
    yaitu Imam Syafii rahimahullah: “Makruh
    memuliakan seseorang hingga menjadikan
    makamnya sebagai masjid, (*Imam syafii
    tidak mengharamkan memuliakan seseorang
    hingga membangun kuburnya menjadi masjid,
    namun beliau mengatakannya makruh), karena
    DITAKUTKAN FITNAH atas orang itu atau atas
    orang lain, dan hal yang tak diperbolehkan
    adalah MEMBANGUN MASJID DI ATAS MAKAM
    setelah jenazah dikuburkan, Namun bila
    membangun masjid lalu membuat didekatnya
    makam untuk pewakafnya maka TIDAK ADA LARANGANNYA”.
    Demikian ucapan Imam
    Syafii (Faidhul qadir Juz 5 hal.274).

    2. Berkata Hujjatul Islam Al Imam Ibn Hajar
    Al Atsqalaniy: “Hadits–hadits larangan ini
    adalah LARANGAN SHALAT DENGAN MENGINJAK
    KUBURAN DAN DI ATAS KUBURAN, atau berkiblat
    ke kubur atau diantara dua kuburan, dan
    larangan itu tak mempengaruhi sahnya shalat,
    (*maksudnya bilapun shalat diatas makam,
    atau mengarah ke makam tanpa pembatas
    maka shalatnya tidak batal), sebagaimana
    lafadh dari riwayat kitab Asshalaat oleh
    Abu Nai’im guru Imam Bukhari, bahwa
    ketika Anas ra shalat dihadapan kuburan
    maka Umar berkata: Kuburan..kuburan..!,
    maka Anas melangkahinya dan meneruskan
    shalat dan ini menunjukkan shalatnya sah,
    dan tidak batal”. (Fathul Baari Almayshur
    juz 1 hal 524).

    3. Berkata Imam Ibn Hajar: “Berkata Imam Al
    Baidhawiy: ketika orang yahudi dan nasrani
    bersujud pada kubur para Nabi mereka
    dan berkiblat dan menghadap pada kubur
    mereka dan menyembahnya dan mereka
    membuat patung–patungnya, maka Rasul saw
    melaknat mereka, dan melarang muslimin
    berbuat itu, tapi kalau menjadikan masjid
    di dekat kuburan orang shalih dengan niat
    bertabarruk dengan kedekatan pada mereka
    tanpa penyembahan dengan merubah kiblat
    kepadanya maka TIDAK TERMASUK PADA UCAPAN
    YANG DIMAKSUD HADITS ITU ”(Fathul Bari Al
    Masyhur Juz 1 hal 525).

    Berkata Imam Al Baidhawiy: “Bahwa KUBURAN NABI
    ISMAIL AS ADALAH DI HATHIIM (disamping
    Miizab di ka’bah dan di dalam Masjidil Haram)
    dan tempat itu justru afdhal shalat padanya, dan
    larangan shalat di kuburan adalah kuburan yg
    sudah tergali (Faidhulqadiir Juz 5 hal 251).

    Kita memahami bahwa Masjidirrasul saw itu
    didalamnya terdapat makam beliau saw, Abubakar
    ra dan Umar ra, masjid diperluas dan diperluas,
    namun bila saja perluasannya itu akan menyebabkan
    hal yang dibenci dan dilaknat Nabi saw karena
    menjadikan kubur beliau saw ditengah – tengah
    masjid, maka pastilah ratusan Imam dan Ulama
    dimasa itu telah memerintahkan agar perluasan
    tidak perlu mencakup rumah Aisyah ra (makam
    Rasul saw).

    Perluasan adalah di zaman Khalifah Walid
    bin Abdulmalik sebagaimana diriwayatkan dalam
    Shahih Bukhari, sedangkan Walid bin Abdulmalik
    dibai’at menjadi khalifah pada 4 Syawal tahun 86
    Hijriyah, dan ia wafat pada 15 Jumadil Akhir pada
    tahun 96 Hijriyah

    Lalu dimana Imam Bukhari? (194 H-256 H),
    Imam Muslim? (206 H–261H), Imam Syafii? (150
    H–204 H), Imam Ahmad bin Hanbal? (164 H–241
    H), Imam Malik? (93 H–179 H), dan ratusan imam
    imam lainnya? apakah mereka diam membiarkan
    hal yang dibenci dan dilaknat Rasul saw terjadi
    di Makam Rasul saw?, lalu Imam – imam yang
    hafal ratusan ribu hadits itu adalah para musyrikin
    yang bodoh dan hanya menjulurkan kaki melihat
    kemungkaran terjadi di Makam Rasul saw??.
    Munculkan satu saja dari ucapan mereka yang
    mengatakan bahwa perluasan Masjid nabawiy
    adalah makruh. apalagi haram.

    Justru inilah jawabannya, mereka diam karena
    hal ini diperbolehkan, bahwa orang yang kelak akan
    bersujud menghadap Makam Rasul saw itu tidak
    satupun yang berniat menyembah Nabi saw, atau
    menyembah Abubakar ra atau Umar bin Khattab
    ra, mereka terbatasi dengan tembok, maka hukum
    makruhnya sirna dengan adanya tembok pemisah,
    yang membuat kubur – kubur itu terpisah dari
    masjid, maka ratusan Imam dan Muhadditsin itu
    tidak melarang perluasan
    masjid Nabawiy bahkan masjidil Haram pun
    berkata Imam Baidhawiy bahwa kuburan Nabi
    Ismail adalah di Masjidil Haram.

    Kesimpulannya larangan membuat masjid
    d i a t a s ma k am a d a l a h me n g i n j a k n y a d a n
    menjadikannya terinjak – injak, ini hukumnya
    makruh, ada pendapat mengatakannya haram.

  2. Dalam qasidah Nuniyyah (bait ke 4058) Ibnul Qayyim menyatakan bahwa ziarah ke makam Nabi SAW adalah salah satu ibadah yang paling utama “Diantara amalan yang paling utama dalah ziarah ini. Kelak menghasilkan pahala melimpah di timbangan amal pada hari kiamat”. Sebelumnya ia mengajarkan tata cara ziarah (bait ke 4046-4057). Diantaranya, peziarah hendaklah memulai dengan sholat dua rakaat di masjid Nabawi. Lalu memasuki makam dengan sikap penuh hormat dan takdzim, tertunduk diliputi kewibawaan sang Nabi. Bahkan ia menggambarkan pengagungan tersebut dengan kalimat “Kita menuju makam Nabi SAW yang mulia sekalipun harus berjalan dengan kelopak mata (bait 4048).

    Hal ini sangat kontradiksi dengan pemandangan sekarang. Suasana khusyu’ dan khidmat di makam Nabi SAW kini berubah menjadi seram. Orang-orang bayaran dengan congkaknya membelakangi makam Nabi yang mulia. Mata mereka memelototi peziarah dan membentak-bentak mereka yang sedang bertawassul kepada beliau SAW dengan tuduhan syirik dan bid’ah. Tidakkah mereka menghormati jasad makhluk termulia di semesta ini..? Tidakkah mereka ingat firman Allah “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari.

    “Sesungguhnya orang-orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah, mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar” (QS Al Hujarat, 49: 2-3).

  3. Ada pertanyaan yang masuk ke blognya al-ustadz Abu Ibrahim Abdullah bin Mudakir al Jakarti seperti ini:

    Assalamu’alaikum……….
    maaf izinkan saya ikut belajar utk memahami………………..
    ada beberapa pertanyaan yg ingin saya ajukan ,a l :
    1.dimanakah letak makam Nabi Muhammad SAW ?
    2.mengapa anda yakin sekali bahwa mereka yg kemakam bertujuan menyembahnya ?
    3.bagaimana & bolehkan seandainya makam orang tua anda digusur tanpa kehormatan ?
    4.Anda sholat menhadap kiblat..( KA’BAH ),apakah tu berarti anda menyembah ka’bah ?
    Sekedar manambahi, bukan dalil yang salah mungkin pemahman kita yg kurang sempurna,……maaf, saya termasuk orang bodoh…tapi setiap ziaroh kemakam,baik itu makam kerabat atopun makam karomah……..Alhamdulillah tak pernah terbersit niat untuk menyembahnya….na’udubillaahi mindzalik…
    Tolong jawab pertanyaan -2 saya diatas ,agar saya semakin bisa menyadari kebodohan saya. terimakasih
    wassalamu’alaikum…………….

    Bagaimana menjawab pertanyaan ini??? Mari simak jawaban beliau disini:

    http://nikahmudayuk.wordpress.com/2010/06/06/ini-komentar-anda-ini-jawaban-kami/

  4. Abdullah

    Bismillah

    Sedikit nimbrung

    1. Berkata Guru dari Imam Ahmad bin Hanbal,
    yaitu Imam Syafii rahimahullah: “Makruh
    memuliakan seseorang hingga menjadikan
    makamnya sebagai masjid, (*Imam syafii
    tidak mengharamkan memuliakan seseorang
    hingga membangun kuburnya menjadi masjid,
    namun beliau mengatakannya makruh), karena
    DITAKUTKAN FITNAH atas orang itu atau atas
    orang lain, dan hal yang tak diperbolehkan
    adalah MEMBANGUN MASJID DI ATAS MAKAM
    setelah jenazah dikuburkan, Namun bila
    membangun masjid lalu membuat didekatnya
    makam untuk pewakafnya maka TIDAK ADA LARANGANNYA”.
    Demikian ucapan Imam
    Syafii (Faidhul qadir Juz 5 hal.274).

    Disana menunjukkan kebencian Imam Syafi’i. okelah jikalau hal tersebut bersifat makruh. bukankah seorang mukmin menjauhi hal2 yang tercela. karena makruh adalah sebuah pengertian dilakukan mendapat celaan sedangkan tidak dilakukan menunjukkan disukainya. kenapa antum lebih condong kepada yang dicela???????

    lalu
    2. Berkata Hujjatul Islam Al Imam Ibn Hajar
    Al Atsqalaniy: “Hadits–hadits larangan ini
    adalah LARANGAN SHALAT DENGAN MENGINJAK
    KUBURAN DAN DI ATAS KUBURAN, atau berkiblat
    ke kubur atau diantara dua kuburan, dan
    larangan itu tak mempengaruhi sahnya shalat,
    (*maksudnya bilapun shalat diatas makam,
    atau mengarah ke makam tanpa pembatas
    maka shalatnya tidak batal), sebagaimana
    lafadh dari riwayat kitab Asshalaat oleh
    Abu Nai’im guru Imam Bukhari, bahwa
    ketika Anas ra shalat dihadapan kuburan
    maka Umar berkata: Kuburan..kuburan..!,
    maka Anas melangkahinya dan meneruskan
    shalat dan ini menunjukkan shalatnya sah,
    dan tidak batal”. (Fathul Baari Almayshur
    juz 1 hal 524).

    Antum membawakan fatwa Imam Ibnu Hajar Rahimahullah dan Imam Baidhawi yang mana didalam 3 kitab fathul bari dari cetakan berbeda tidak ana temukan konteks tersebut. wallahu musta’an.
    Anggaplah itu memang perkataan Ibnu hajar Rahimahullah dan Imam Baidhawi. bukankah konteks perkataan sendiri sudah keluar dari makna hadits tersebut. bukankah takwil sudah menyelisihi makna hadits itu sendiri.

    Sementara di 3 kitab fathul bari yang ana temukan disana ada penjelasan dari “اتخذوا” (mereka menjadikan) kalimat ini menjelaskan makna laknat . seolah-olah ditanyakan kepadanya, “apa yang menyebabkan Yahudi dan Nasrani terlaknat” jawabnya “dikarenakan mereka menjadikan…..”

    Disana menunjukkan Ibnu Hajar sendiri mengikuti makna hadits tersebut dan tidak mentakwil dengan menginjak-injak.

    penutup ana bawakan perkataan ulama Syafi’iyyah yang terkenal Imam Nawawi Rahimahullah dalam Syarh Al Muhadzdzab dan syarahnya terhadap hadits yang antum bawakan berkata “sudah menjadi kesepakatan dari para ulama bahwa membangun mesjid di atas kuburan adalah HARAM secara MUTLAK”

    Ibnu Qudamah Rahimahullah seorang ulama bermadzhab Hambalai berkata dalam Al Mughni “Haram membangun tempat ibadah di atas kubur.”

    Membangunnya saja sudah haram apalagi menjadikannya tempat ibadah.
    Wallahu a’lam

  5. Abdullah

    Sabda Rasulullah saw :
    Barangsiapa yang pergi haji, lalu menziarahi kuburku setelah aku wafat, maka sama
    saja dengan mengunjungiku saat aku hidup (Sunan Imam Baihaqiy Alkubra hadits
    no.10054).

    Hadits ini diriwayatkan dari jalan Hafs Ibnu Sulaiman dimana Imam Ibnu hajar berkata dia adalah Pemalsu Hadits, Ibnu Mu’in berkata “dia adalah pendusta.”

    2. Antum ini senang bercanda atau senang copas-copas aja? lihat tulisan antum Imam Baihaqi Al Qubra 10054 dilain tempat 10053. Didalam kitab-kitab Imam baihaqi tidak pernah sampai haditsnya lebih dari “6000” hadits bagaimana bisa anda menuliskan “10054”
    Kekonyolan antum buat lagi dengan berkata “Shahih Muslim 6498”
    dimana2 kitab Shahih Muslim hanya memuat hadits dibawah “3040” hadits bagaimana bisa melonjak ke “6000” hadits? waduuuuuuuh

    Lalu yang antum bawakan semuanya hadits mendo’akan orang yang dikubur dan menunjukkan bahwa kita akan mati seperti mereka. tetapi dalil ISTIGHOSAH nya mana pak? berharap orang yang dikubur memberikan do’a kepada Allah Ta’ala agar kita selamat mana? Tawassul melalui orang mati mana?
    yang ada Allah Ta’ala berfirman “Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfa’at dan tidak (pula) memberi madharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zhalim”. (Yunus: 106)
    lalu Sabda Rasul “Jika seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak shalih yang mendo’akan kepada (orang tua)-nya.” (HR. Muslim)
    Sedangkan dia saja butuh dido’akan malah kita minta di’doakan oleh mayyit. ya luuuucuuuuuu

  6. Abdullah

    Lalu antum katakan berdo’a didalam toilet dengan do’a masuk toilet dan do’a keluar tolilet. antum bener2 melawak. do’a tersebut dibaca ketika akan masuk toilet. lihat haditsnya baik2 dan lihat hadits tentang do’a keluar toilet. dibaca setelah keluar dari toilet.

    ke 3 anda membawakan sholat diatas kubur. dengan dalil sholat jenazah. semua ulama tidak mengingkari sholat jenazah di atas kubur. lalu didalam sholat jenazah tidak ada rukuk, tidak ada sujud, tidak ada duduk diantara 2 sujud maupun duduk tasyahud awal ataupun akhir. Lalu dalil tentang larangan duduk dikubur juga jelas. hadits Dari Abu Martsad al-Ghanawi r.a, ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Janganlah duduk di atas kubur dan jangan pula shalat menghadapnya’,” (HR Muslim (972).
    Jadi keumuman Lafadz sholat menghadapnya hanya dibatalkan oleh shalat jenazah tidak sholat yang lain.

  7. Abdullah

    lalu Antum membawakan dalil perkataan Ibnu Qoyyim. lah dalilnya perkataan Ibnu Qoyyim mana? mau dia Imam Ahmad, mau dia Imam Syafi’i, Hanafi dan malik sekalipun jikalau dia berbicara tentang syariat tanpa berlandaskan dalil bahkan bertentangan dengan dalil maka ditolak perkataannya. cukup dah bantahan terhadap antum “sunnahonline” yang pantas bukan “sunnahonline” tetapi “syirikonline”
    Wallahu musta’an

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s