Sikap Berlebih-lebihan Menyebabkan Kesesatan

Sikap berlebihan terhadap para nabi dan orang-orang shalih telah terjadi pada kelompok-kelompok sesat di kalangan ahli ibadah dan para pengikut sufi. Bahkan sebagian mereka keyakinannya telah tercampur dengan aliran emanasi dan manunggaling kawula lan gusti. Sikap ini merupakan sikap paling buruk yang menyebabkan kesesatan pada golongan-golongan tersebut.

Allah berfirman pada surah At Taubah ayat 31:

“Mereka telah menjadikan para pendeta dan pastur-pastur mereka sebagai Tuhan selain Allah dan mereka juga menjadikan Al Masih putra Maryam (sebagai tuhan).”

Pada hadits riwayat Ahmad dan Tirmidzi, Nabi menjelaskan maksud ayat ini kepada ‘Adi bin Hatim, bahwa para pendeta menghalalkan hal-hal yang semula diharamkan kepada mereka (kaum Nasrani) lalu mereka (para pengikutnya) menaati ucapan para pendeta itu. Para pendeta juga mengharamkan hal-hal yang Allah halalkan kepada mereka, lalu para pengikutnya menaati ucapan para pendeta itu. Allah juga berfirman pada surah Al Hadiid ayat 27 tentang perilaku golongan yang sesat: “(Yaitu) perilaku kependetaan yang mereka rekayasa, padahal Allah tidak menetapkan hal itu kepada mereka, kecuali mereka disuruh mencari keridhaan Allah.” Sungguh beberapa kelompok dari kaum muslim telah terpedaya oleh perilaku kependetaan yang merupakan hasil rekayasa mereka.

Sering kita temui sebagian besar dari ajaran kaum Nasrani berupa nyanyian dan gambar-gambar indah. Mereka tidak lagi serius memperhatikan pokok ajaran mereka selain kegiatan menyanyikan lagu-lagu dengan paduan suara.

Kemudian sebagian umat Islam pun terpengaruh perilaku merekayasa nyanyian-nyanyian merdu dengan qasidah yang bermacam-macam dan paduan suara untuk menyegarkan hati dan suasana. Padahal, perbuatan ini termasuk perbuatan menyerupai sebagian perilaku golongan sesat tersebut. Allah berfirman pada surah Al Baqarah ayat 113:

“Kaum Yahudi berkata: ‘Kaum Nasrani tidak mengikuti jalan kebenaran.’ Dan kaum Nasrani berkata: ‘Kaum Yahudi tidak mengikuti jalan kebenaran.’”

Ayat tersebut menjelaskan bahwa kaum Yahudi dan kaum Nasrani masing-masing mengingkari kebenaran yang ada pada pihak lain.

Sebagian besar dari ahli fiqh, jika melihat golongan sufi dan ahli ibadah, maka mereka menilai golongan tersebut sama sekali tidak benar dan menganggap mereka sebagai golongan bodoh dan sesat. Cara mereka beragama dianggap sama sekali tidak berdasarkan ilmu dan petunjuk. Sebaliknya, golongan sufi beranggapan bahwa syari‘at dan ilmu sama sekali tidak benar. Orang yang berpegang teguh kepada syari‘at dan ilmu dianggap terputus dari Allah, dan para pengikutnya tidak akan memperoleh manfaat sedikit pun di sisi Allah.

Sikap yang benar adalah meyakini bahwa segala yang tersebut dalam Al-Qur‘an dan As-Sunnah itulah yang benar, sedangkan semua yang menyelisihi Al-Qur‘an dan As-Sunnah adalah batil.

Ibnu Taimiyah berkata: “Akan terjadinya perpecahan di kalangan umat Islam telah disebutkan dalam sebuah hadits:

Dari Abu Hurairah, sungguh Rasulullah sholalloh ‘alaihi wassalam pernah bersabda:
“Kaum Yahudi terpecah menjadi tujuh puluh satu golongan, atau tujuh puluh dua golongan, demikian juga kaum Nasrani. Dan umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan Tirmidzi, hadits hasan shahih)

Dari Mu‘awiyah bin Abu Sufyan, ia berkata bahwa Rasulullah sholalloh ‘alaihi wassalam bersabda: “Sungguh pengikut dua kitab (Taurat dan Injil) terpecah dalam urusan agama mereka dalam tujuh puluh dua aliran dan umat ini akan terpecah ke dalam tujuh puluh tiga aliran yaitu hawa nafsu. Semuanya masuk neraka kecuali satu, yaitu al-jama‘ah.” (HR. Ahmad)

Sabda beliau juga:

“Sungguh akan muncul beberapa kelompok dari umatku yang mengikuti hawa nafsu, sebagaimana anjing mengikuti tuannya, sehingga tidaklah tersisa sepotong daging atau sepotong tulang pun melainkan pasti dicaploknya. Wahai bangsa Arab, demi Allah, jika kamu sekalian tidak mau melaksanakan apa yang dibawa oleh Muhammad , niscaya kaum lain dari umat manusia ini lebih tidak mau lagi melaksanakannya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Hakim)

Nabi telah memberitahukan bahwa umatnya akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Tujuh puluh duagolongan di antaranya tidak diragukan lagi menempuh jalan sesat seperti yang telah ditempuh oleh umat sebelum mereka.

Kemudian perpecahan yang diberitahukan Nabi mungkin terjadi dalam urusan agama saja, atau dalam urusan agama dan dunia, kemudian terkadang mengimbas kepada urusan dunia atau barangkali perpecahan itu hanya dalam urusan dunia saja.

Perpecahan yang disebutkan dalam dua hadits di atas adalah suatu hal yang dilarang oleh Allah sebagaimana firman-Nya pada surah Ali ‘Imran ayat 105:

“Dan janganlah kamu menjadi seperti golongan yang bercerai berai dan berselisih setelah datang bukti-bukti kebenaran kepada mereka. Mereka itu akan mendapatkan azab yang berat.”

Dan firman-Nya pada surah Al An‘aam ayat 153:

“Sungguh mereka yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi bergolongan-golongan, maka engkau Muhammad sedikitpun bukan dari golongan mereka.”

Mukhtarat Iqtidha’ Ash-Shirathal Mustaqim
Syaikul Islam Ibnu Taimiyah

Iklan

4 pemikiran pada “Sikap Berlebih-lebihan Menyebabkan Kesesatan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s