Wasilah dengan Amal Shaleh

Anehnya ada sementara orang yang mengaku sebagai ahli ilmu, telah terbiasa menggunakan dua ayat tersebut (Al-Maidah: 35 dan Al- Isra 1 : 57) sebagai dalil untuk membenarkan praktik tawassul dengan melalui para nabi, hak mereka atau kemuliaan mereka. Ini adalah suatu cara pengambilan dalil (istidlal) yang keliru. Tidaklah benar mengartikan dua ayat tersebut dengan tindakan demikian. Oleh karena di dalam syara tidak pernah dinyatakan bahwa tawassul seperti ini disyari’atkan dan dianjurkan. Itulah sebabnya mengapa istidlal seperti ini tidak pernah disebutkan oleh seorang pun dari ulama salaf, dan mereka pun tidak pernah tawassul seperti itu. Sebaliknya, yang mereka pahami dari dua ayat tersebut ialah bahwa Allah memerintahkan kepada kita agar ber-taqarrub kepada-Nya dengan penuh kesungguhan, mendekatkan diri kepada-Nya sedekat-dekatnya, dan mencapai ridha-Nya dengan cara-cara yang benar.

Allah Ta’ala telah mengajarkan kepada kita di dalam nash-nash yang lain, bahwa apabila kita ingin ber-taqarmb kepada-Nya, maka kita harus mendekat kepada-Nya dengan amal-amal shaleh yang disukai dan diridhai-Nya. Dia tidak membiarkan amalan-amalan tersebut dikerjakan sekehendak hati kita, tidak membiarkan penentuannya berlandaskan akal dan perasaan kita semata. Karena hal itu akan menimbulkan perselisihan dan pertentangan. Akan tetapi Allah memerintahkan kita agar kembali kepada-Nya dalam masalah ini, mengikuti tuntunan dan ajaran-Nya. Karena tidak ada yang mengetahui Dia semata. Qleh karena itu untuk mengetahui wasilah-wasilah yang dapat mendekatkan diri kepada Allah, kita wajib kembali pada setiap masalah kepada apa yang disyari’atkan Allah dan dijelaskan oleh Rasulullah. Ini berarti kita harus kembali kepada Al-Qur’an dan sunnah Rasul-Nya. Dalam kaitan ini Rasulullah Rasulullah Sholalloh ‘alaihi wasalam telah berwasiat kepada kita di dalam sebuah haditsnya:

“Telah aku tinggalkan kepadamu dua perkara yang kamu tidak akan sesat selama kamu berpegang teguh pada keduanya: Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya.” 1)

Kapankah Amal Itu Bernilai Shaleh?

Al-Qur’an dan As-sunnah telah menjelaskan bahwa suatu amal akan bernilai shaleh, diterima dan dapat mendekatkan diri kepada Allah, apabila memenuhi persyaratan penting.

Pertama: bahwa amal tersebut harus ditujukan kepada Allah semata dengan ikhlas.

Kedua, bahwa amal tersebut harus sesuai dengan apa yang disyariatkan Allah di dalam kitab-Nya atau apa yang dijelaskan oleh Rasul-Nya di dalam sunnahnya. Jika salah satunya tidak dipenuhi, maka amal tersebut tidak bernilai shaleh dan tertolak. Hal ini ditujukkan di dalam firman-Nya:

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada Tuhan-Ny’a.” (Al-Kahfi: 110)

Di dalam ayat itu Allah memerintahkan agar menjadikan amal itu bernilai shaleh, yaitu sesuai dengan sunnah Rasulullah Rasulullah Sholalloh ‘alaihi wasalam. Kemudian Dia memerintahkan agar orang yang mengerjakan amal shaleh itu mengikhlaskan niatnya karena Allah semata, tidak menghendaki selain-Nya.

Al-Hafizn Ibnu Katsir berkata di dalam tafsirnya, “Inilah dua landasan amal yang diterima: Harus ikhlas karena Allah, dan sesuai benar dengan syariat Rasulullah Sholalloh ‘alaihi wasalam.”

Perkataan yang sama juga diriwayatkan dari Al-Qadhi ‘Iyadh dan lain-lainnya.

Tawassul -Syaikh Muhammad Nasniruddin Al Albani

1) Diriwayatkan oleh Malik dengan mursal, dan Al-Hakim dari hadits Ibnu Abbas, dan sanadnya hasan. Baginya ada penguat dari hadits Jabir yang telah penulis takhrij di dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah (1761).

Satu pemikiran pada “Wasilah dengan Amal Shaleh

  1. sunnahonline

    Boleh juga tawassul pada Nabi saw atau orang lainnya, sebagaimana yang
    diperbuat oleh Umar bin Khattab ra, bahwa Umar bin Khattab ra shalat istisqa lalu
    berdoa kepada Allah dengan doa : “wahai Allah.., sungguh kami telah mengambil
    perantara (bertawassul) pada Mu dengan Nabi kami Muhammad saw agar kau
    turunkan hujan lalu kau turunkan hujan, maka kini kami mengambil perantara
    (bertawassul) pada Mu Dengan Paman Nabi Mu (Abbas bin Abdulmuttalib ra) yang
    melihat beliau sang Nabi saw maka turunkanlah hujan” maka hujanpun turun dengan
    derasnya. (Shahih Bukhari hadits no.964 dan hadits no.3507).

    Riwayat diatas menunjukkan bahwa :
     Para sahabat besar bertawassul pada Nabi saw dan dikabulkan Allah swt.
     Para sahabat besar bertawassul satu sama lain antara mereka dan dikabulkan
    Allah swt.
     Para sahabat besar bertawassul pada keluarga Nabi saw (perhatikan ucapan Umar
    ra : “Dengan Paman nabi” (saw). Kenapa beliau tak ucapkan namanya saja?,
    misalnya Demi Abbas bin Abdulmuttalib ra, namun justru beliau tak mengucapkan
    nama, tapi mengucapkan sebutan “Paman Nabi” dalam doanya kepada Allah, dan
    Allah mengabulkan doanya, menunjukkan bahwa Tawassul pada keluarga Nabi
    saw adalah perbuatan Sahabat besar, dan dikabulkan Allah.
     Para sahabat besar bertawassul pada kemuliaan sahabatnya yang melihat Rasul
    saw, perhatikan ucapan Umar bin Khattab ra : “dengan pamannya yang melihatnya”
    (dengan paman nabi saw yang melihat Nabi saw) jelaslah bahwa melihat Rasul saw
    mempunyai kemuliaan tersendiri disisi Umar bin Khattab ra hingga beliau
    menyebutnya dalam doanya, maka melihat Rasul saw adalah kemuliaan yang
    ditawassuli Umar ra dan dikabulkan Allah.

    Riwayat lain ketika datangnya seorang buta pada Rasul saw, seraya mengadukan
    kebutaannya dan minta didoakan agar sembuh, maka Rasul saw menyarankannya
    agar bersabar, namun orang ini tetap meminta agar Rasul saw berdoa untuk
    kesembuhannya, maka Rasul saw memerintahkannya untuk berwudhu, lalu shalat dua
    rakaat, lalu Rasul saw mengajarkan doa ini padanya, ucapkanlah : “Wahai Allah, Aku
    meminta kepada Mu, dan Menghadap kepada Mu, Demi Nabi Mu Nabi Muhammad,
    Nabi Pembawa Kasih Sayang, Wahai Muhammad, Sungguh aku menghadap demi
    dirimu (Muhammad saw), kepada Tuhanku dalam hajatku ini, maka kau kabulkan
    hajatku, wahai Allah jadikanlah ia memberi syafaat hajatku untukku” (Shahih Ibn
    Khuzaimah hadits no.1219, Mustadrak ala shahihain hadits no.1180 dan ia berkata
    hadits ini shahih dengan syarat shahihain Imam Bukhari dan Muslim).

    Hadits diatas ini jelas jelas Rasul saw mengajarkan orang buta ini agar berdoa dengan
    doa tersebut, Rasul saw yang mengajarkan padanya, bukan orang buta itu yang
    membuat buat doa ini, tapi Rasul saw yang mengajarkannya agar berdoa dengan doa
    itu, sebagaimana juga Rasul saw mengajarkan ummatnya bershalawat padanya,
    bersalam padanya.

    Lalu muncullah pendapat saudara saudara kita, bahwa tawassul hanya boleh pada
    Nabi saw, pendapat ini tentunya keliru, karena Umar bin Khattab ra bertawassul pada
    Abbas bin Abdulmuttalib ra. Sebagaimana riwayat Shahih Bukhari diatas,

    Adapula pendapat mengatakan tawassul hanya boleh pada yang hidup, pendapat ini
    ditentang dengan riwayat shahih berikut : “telah datang kepada utsman bin hanif ra
    seorang yang mengadukan bahwa Utsman bin Affan ra tak memperhatikan
    kebutuhannya, maka berkatalah Utsman bin Hanif ra : “berwudulah, lalu shalat lah dua
    rakaat di masjid, lalu berdoalah dengan doa : “: “Wahai Allah, Aku meminta kepada Mu,
    dan Menghadap kepada Mu, Demi Nabi Mu Nabi Muhammad, Nabi Pembawa Kasih
    Sayang, Wahai Muhammad, Sungguh aku menghadap demi dirimu (Muhammad saw),
    kepada Tuhanku dalam hajatku ini, maka kau kabulkan hajatku, wahai Allah jadikanlah
    ia memberi syafaat hajatku untukku” (doa yang sama dengan riwayat diatas)”, nanti
    selepas kau lakukan itu maka ikutlah dengan ku kesuatu tempat.

    Maka orang itupun melakukannya lalu utsman bin hanif ra mengajaknya keluar masjid
    dan menuju rumah Utsman bin Affan ra, lalu orang itu masuk dan sebelum ia berkata
    apa apa Utsman bin Affan lebih dulu bertanya padanya : “apa hajatmu?”, orang itu
    menyebutkan hajatnya maka Utsman bin Affan ra memberinya. Dan orang itu keluar
    menemui Ustman bin Hanif ra dan berkata : “kau bicara apa pada utsman bin affan
    sampai ia segera mengabulkan hajatku ya..?”, maka berkata Utsman bin hanif ra : “aku
    tak bicara apa2 pada Utsman bin Affan ra tentangmu, Cuma aku menyaksikan Rasul
    saw mengajarkan doa itu pada orang buta dan sembuh”. (Majmu’ zawaid Juz 2 hal
    279).

    Tentunya doa ini dibaca setela wafatnya Rasul saw, dan itu diajarkan oleh Utsman bin
    hanif dan dikabulkan Allah. Ucapan : Wahai Muhammad.. dalam doa tawassul itu
    banyak dipungkiri oleh sebagian saudara saudara kita, mereka berkata kenapa
    memanggil orang yang sudah mati?, kita menjawabnya : sungguh kita setiap shalat
    mengucapkan salam pada Nabi saw yang telah wafat : Assalamu alaika
    ayyuhannabiyyu… (Salam sejahtera atasmu wahai nabi……), dan nabi saw
    menjawabnya, sebagaimana sabda beliau saw : “tiadalah seseorang bersalam
    kepadaku, kecuali Allah mengembalikan ruh ku hingga aku menjawab salamnya” (HR
    Sunan Imam Baihaqiy Alkubra hadits no.10.050)

    Tawassul merupakan salah satu amalan yang sunnah dan tidak pernah diharamkan
    oleh Rasulullah saw, tak pula oleh ijma para Sahabat Radhiyallahu’anhum, tak pula
    oleh para tabi’in dan bahkan oleh para ulama serta imam-imam besar Muhadditsin,
    bahkan Allah memerintahkannya, Rasul saw mengajarkannya, sahabat
    radhiyallahu’anhum mengamalkannya.

    Mereka berdoa dengan perantara atau tanpa perantara, tak ada yang
    mempermasalahkannya apalagi menentangnya bahkan mengharamkannya atau
    bahkan memusyrikan orang yang mengamalkannya.

    Tak ada pula yang membedakan antara tawassul pada yang hidup dan mati, karena
    tawassul adalah berperantara pada kemuliaan seseorang, atau benda (seperti air liur
    yang tergolong benda) dihadapan Allah, bukanlah kemuliaan orang atau benda itu
    sendiri, dan tentunya kemuliaan orang dihadapan Allah tidak sirna dengan kematian,
    justru mereka yang membedakan bolehnya tawassul pada yang hidup saja dan
    mengharamkan pada yang mati, maka mereka itu malah dirisaukan akan terjerumus
    pada kemusyrikan karena menganggap makhluk hidup bisa memberi manfaat,
    sedangkan akidah kita adalah semua yang hidup dan yang mati tak bisa memberi
    manfaat apa apa kecuali karena Allah memuliakannya, bukan karena ia hidup lalu ia
    bisa memberi manfaat dihadapan Allah, berarti si hidup itu sebanding dengan Allah?, si
    hidup bisa berbuat sesuatu pada keputusan Allah?,
    Tidak saudaraku.. Demi Allah bukan demikian, Tak ada perbedaan dari yang hidup dan
    dari yang mati dalam memberi manfaat kecuali dengan izin Allah swt. Yang hidup tak
    akan mampu berbuat terkecuali dengan izin Allah swt dan yang mati pun bukan
    mustahil memberi manfaat bila memang di kehendaki oleh Allah swt.

    Ketahuilah bahwa pengingkaran akan kekuasaan Allah swt atas orang yang mati
    adalah kekufuran yang jelas, karena hidup ataupun mati tidak membedakan kodrat
    Ilahi dan tidak bisa membatasi kemampuan Allah SWT. Ketakwaan mereka dan
    kedekatan mereka kepada Allah SWT tetap abadi walau mereka telah wafat.

    Sebagai contoh dari bertawassul, seorang pengemis datang pada seorang saudagar
    kaya dan dermawan, kebetulan almarhumah istri saudagar itu adalah tetangganya, lalu
    saat ia mengemis pada saudagar itu ia berkata “Berilah hajat saya tuan …saya adalah
    tetangga dekat amarhumah istri tuan…” maka tentunya si saudagar akan memberi
    lebih pada si pengemis karena ia tetangga mendiang istrinya, Nah… bukankah hal ini
    mengambil manfaat dari orang yang telah mati? Bagaimana dengan pandangan yang
    mengatakan orang mati tak bisa memberi manfaat?, Jelas-jelas saudagar itu akan
    sangat menghormati atau mengabulkan hajat si pengemis, atau memberinya uang
    lebih, karena ia menyebut nama orang yang ia cintai walau sudah wafat.

    Walaupun seandainya ia tak memberi, namun harapan untuk dikabulkan akan lebih
    besar, lalu bagaimana dengan Arrahman Arrahiim, yang maha pemurah dan maha
    penyantun?, istri saudagar yang telah wafat itu tak bangkit dari kubur dan tak tahu
    menahu tentang urusan hajat sipengemis pada si saudagar, NAMUN TENTUNYA SI
    PENGEMIS MENDAPAT MANFAAT BESAR DARI ORANG YANG TELAH WAFAT,
    entah apa yang membuat pemikiran saudara saudara kita menyempit hingga tak
    mampu mengambil permisalan mudah seperti ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s