Was-was setelah Kencing

Termasuk berlebih-lebihan adalah apa yang banyak dilakukan oleh orang-orang yang suka was-was dan ragu-ragu seusai kencing mereka. Dan hal itu ada sepuluh macam: As-saltu/an-natru, an-nahnahatu, al-masyyu, al-qafzu, al-hablu, at-tafaqqudu, al-wajuru, al-hasywu, al-ishabatu, ad-darjatu. 1)

Adapun as-saltu yaitu ia menarik (mengurut) kemaluannya dari pangkal hingga ke kepalanya. Memang ada riwayat tentang hal tersebut, tetapi haditsnya gharib dan tidak diterima. Dalam Al-Musnad dan Sunan Ibnu Majah 2) dari Isa bin Yazdad dari ayahnya, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Jika salah seorang dari kamu buang air kecil, maka hendaklah ia menarik (mengurut) kemaluannya sebanyak tiga kali’.”

Mereka berkata, “Karena dengan as-saltu dan an-natru (keduanya bermakna menarik/mengurut, dalam hal ini mengurut kemaluan) maka akan bisa dikeluarkan sesuatu yang ditakutkan kembali lagi setelah bersuci.”

Mereka juga berkata, “Jika untuk itu memerlukan berjalan beberapa langkah, lalu ia lakukan, maka itu lebih baik.”

Adapun an-nahnahatu (berdehem) dilakukan untuk mengeluarkan (air kencing) yang masih tersisa. Demikian juga dengan al-qafzu, yang berarti melompat di atas lantai kemudian duduk dengan cepat. Sedangkan al-hablu yaitu bergantung di atas tali hingga tinggi, lalu menukik daripadanya kemudian duduk.

At-tafaqqudu yaitu memegang kemaluan, lalu melihat ke lubang kencing, apakah masih tersisa sesuatu di dalamnya atau sudah habis Al-wajur yaitu memegang kemaluan, lalu membuka lubang kencimg seraya menuangkan air ke dalamnya.

Al-hasywu yaitu orang tersebut membawa sebuah alat untuk memeriksa kedalaman luka yang dibalut dengan kapas (mungkin juga lidi atau sejenisnya yang dianggap aman), lalu lubang kencing itu ditutup dengan kapas tersebut, sebagaimana lubang bisul yang ditutup dengan kapas.

Al-ishabatu yaitu membalutnya dengan kain. Ad-darjatu yaitu naik ke tangga beberapa tingkat, lalu turun dari-padanya dengan cepat. Al-masyyu yaitu berjalan beberapa langkah, kemudian mengulangi bersuci lagi.

Syaikh kami berkata, “Semua itu adalah was-was dan bid’ah.” Saya kembali bertanya tentang menarik dan mengurut kemaluan (dari pangkal hingga ke kepala kelamin), tetapi beliau tetap tidak menyetujuinya seraya berkata, “Hadits tentang hal tersebut tidak shahih.”

Dan air kencing itu sejenis dengan air susu, jika engkau membiarkannya maka ia diam (tidak mengalir), dan jika engkau peras maka ia akan mengalir. Siapa yang membiasakan melakukannya maka ia akan diuji dengan hal tersebut, padahal orang yang tidak memperhatikannya akan dimaafkan karenanya. Dan seandainya hal ini Sunnah, tentu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam serta para sahabatnya lebih dahulu melakukannya. Sedangkan seorang Yahudi saja berkata kepada Salman, “Nabimu telah mengajarkan kepada kalian segala sesuatu sampai dalam masalah khira’ah (buang air besar).” Salman menjawab, “Benar!” (Diriwayatkan Muslim). Lalu, adakah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam telah mengajarkan hal-hal di atas kepada kita?

Ighatsatul Lahfan – Ibnul Qoyyim Al Jauziyah

1) Syaikh Mahmud Khathab As-Subki dalam Ad-Dinul Khalish (1/192, cet.4) berkata, “Hendaknya setiap orang membersihkan diri (dari kencingnya) sesuai dengan kebiasaannya seperti: Berjalan, berdehem, berlari atau tiduran. Demikianlah orang yang mengerti.”
2) (no. 326), Ahmad, (4/347), Al-Baihaqi (1/113), Abu Daud dalam Al-Maras.il (no.3), Ibnu Abi Syaibah (1/161) dari jalur Zam’ah bin Shalih dan Zakaria bin Ishaq dari Isa bin Yazdad (bertambah), sehingga dikatakan, “Ia melebihi (bertambah) dari ayahnya karena hadits ini.” Sanad hadits ini dha’if karena ke mursalannya (tidak bersambung hingga kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam). Demikian seperti dikatakan oleh Abu Hatim, seperti yang dinukilkan oleh anaknya dalam Al-Ilal (1/42). Lihat Al-Itmam (19076).

Iklan

3 pemikiran pada “Was-was setelah Kencing

  1. ardian

    saya juga suka merasa was-was. jd klo pemahaman yg sy baca di atas. bahwasanya kita setelah kencing ialah lebih baik tidak terlalu memperhatikan, karena klo pun keluar sesuatu akan dimaafkan. bagaimana jika setelah kencing trus saya berwudhu kemudian stlahnya saya merasa ada sesuatu yg keluar dari lubang kencing saya secara tdk sengaja. apakah saya tidak perlu mengulangi wudhu saya atau bagaimana, tolong penjelasannya?!
    trimaksih

  2. argian

    menanggapai komentar saudara ardian tadi, jadi ketika kita sehabis buang air kecil hendaknya memercikkan air pada kemaluan sehingga ketika terjadi was-was ada yang menetes maka dapat di yakini bahwa yg menetes itu adalah air yg di percikkan tadi..kemudian jangan di jadikan pusat perhatian, karena hal itu akan di maafkan bagi yang tidak memperhatikannya.. benarkah pendapat saya??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s