Sebab-sebab Fitnah Kubur

Jika ditanyakan, apa yang menjerumuskan para penyembah kuburan kepada fitnah kuburan, padahal mereka mengetahui orang-orang yang ada di dalamnya telah mati, tidak bisa memberikan madharat atau manfaat sama sekali kepada mereka, juga tidak kematian, kehidupan dan kebangkitan?

Maka jawabnya adalah, sebab-sebab yang menjerumuskan mereka kepada hal tersebut adalah:

1. Kebodohan terhadap hakikat apa yang dengannya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam diutus oleh Allah, juga segenap rasul, dari realiasi tauhid dan memangkas sebab-sebab syirik. Karena itu, bagian mereka dalam hal tersebut sangat sedikit. Lalu syetan menyeru mereka kepada fitnah pada saat mereka tidak memiliki ilmu yang bisa membatalkan ajakannya, sehingga ia memenuhi ajakan syetan tersebut sebesar kebodohan yang ada pada dirinya, dan mereka dijaga daripadanya sesuai dengan ilmu yang mereka miliki.

2. Hadits-hadits dusta yang bermacam-macam yang dibuat oleh orang-orang sejenis para penyembah berhala, yakni al-quburiyyun (penyembah kuburan) atas nama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bertentangan dengan agama-Nya dan apa yang beliau bawa. Seperti hadits,

“Jika kamu dilelahkan oleh berbagai perkara, maka hendaklah kamu meminta (dibebaskan darinya) kepada para penghuni kubur.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitabnya At-Tawassul berkata, “Hadits ini dusta dan diada-adakan atas Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menurut ijma’ orang-orang yang mengetahui tentang hadits beliau, dan tak seorang pun ulama yang meriwayatkan hadits demikian, juga tidak ada dalam kitab-kitab hadits yang diakui.” Juga hadits,

“Jika salah seorang dari kamu berprasangka baik terhadap batu, niscaya ia memberi manfaat baginya.” 1)

Serta hadits-hadits sejenis yang bertentangan dengan agama Islam, yang dibikin oleh orang-orang musyrik, yang dengannya mereka mengharapkan kesesatan orang-orang bodoh seperti mereka. Sedangkan Allah mengutus Rasul-Nya agar membunuh orang yang berprasangka baik kepada batu-batu, serta menjauhkan umatnya dari fitnah kubur dengan berbagai jalannya.

3. Kisah-kisah yang diceritakan kepada mereka tentang kuburan, misalnya: Si Fulan meminta pertolongan ke kuburan anu agar dibebaskan dari kesulitan, lalu ia dikabulkan. Si Fulan berdoa kepadanya atau menjadikannya sebagai perantara dalam doa untuk suatu keperluan, lalu permohonannya diluluskan. Si Fulan ditimpa musibah, lalu memohon kepada penghuni kubur tersebut, maka musibah itu pun dihilangkan daripadanya. Serta cerita-cerita lain yang banyak dimiliki oleh juru kunci makam atau al-quburiyyun yang akan panjang jika dimuat di sini. Dan mereka adalah orang yang paling ahli berdusta dari segenap makhluk Allah, baik terhadap yang hidup maupun yang mat!

Dan jiwa manusia senangjika keperluannya dipenuhi serta musibahnya dihilangkan. Lalu ia pun mendengar bahwa kuburan si Fulan telah terbukti, sedang syetan memiliki ajakan yang amat lembut sekali. Karena itu, pertama kali ia (hanya) mengajak berdoa di kuburan. Maka, hamba ini pun berdoa di kuburan dengan segenap hatinya, khusyu’ dan menghinakan diri. Lalu Allah mengabulkan doanya karena ketulusan hatinya, tidak karena ia berdoa di kuburan. Sebab, jika ia berdoa dengan ketulusan yang sama di kedai-kedai, tempat-tempat minuman keras, kamar mandi dan di pasar, niscaya Allah mengabulkannya. Tetapi, orang yang bodoh mengira, kuburan itulah yang mempunyai pengaruh sehingga doanya dikabulkan, 2) padahal Allah mengabulkan doa orang yang sangat membutuhkan, meskipun ia seorang kafir. Allah befirman,

“Kepada masing-masing golongan, baik golongan ini maupun golo-
ngan itu Kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu. Dan kemu-
rahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi.” (Al-Israa’: 20).
Dan Al-Khalil (Ibrahim) Alaihis-Salam berkata,

“Dan berikanlah rezki dari buah-buahan kepada penduduknya yang
beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian.” (Al-
Baqarah: 126). Dan Allah befirman,

“Dan kepada orang yang kafir pun Aku beri kesenangan sementara,
kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka, dan itulah seburuk-
buruk tempat kembali.” (Al-Baqarah: 126).

Jadi, tidak setiap orang yang dikabulkan doanya berarti Allah meridhai, cinta dan merelakan perbuatannya. Sebab Allah mengabulkan doa orang baik dan orang jahat, orang Mukmin dan orang kafir. Dan banyak orang yang berdoa, tetapi melampaui batas, atau memberi syarat dalam doanya, atau meminta sesuatu yang tidak boleh untuk diminta, tetapi semua itu atau sebagiannya dikabulkan. Lalu, serta-merta ia mengira bahwa perbuatannya itu adalah baik dan diridhai Allah. Orang semacam ini sama dengan orang yang dikaruniai banyak harta dan anak, dan ia mengira bahwa Allah menyegerakan baginya dalam kebaikan, padahal Allah befirman,

“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan
kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan
untuk mereka.” (Al-An’am: 44).

Maksudnya, dengan tipu dayanya yang lembut, syetan menjadikan berdoa di kuburan sebagai sesuatu yang baik, dan bahwa berdoa di dalamnya lebih baik daripada berdoa di rumah, di masjid atau di waktu menjelang fajar. Lalu, jika hal itu telah melekat pada mereka, ia pindah menggoda ke derajat yang lebih tinggi; yakni dari berdoa di kuburan menjadi berdoa dengan menjadikan orang yang ada di dalam kuburan sebagai perantara, serta bersumpah kepada Allah dengan namanya. Dan yang terakhir ini tentu lebih besar (bahayanya) daripada yang sebelumnya, sebab Allah sungguh sangat agung untuk disumpahi, atau diminta dengan perantara salah satu dari makhluk-Nya, para ulama Islam telah mengingkari hal demikian.

Abul Husain Al-Qudur dalam penjelasan Kitabul Karkhi berkata, “Bisyr bin Al-Walid berkata, ‘Aku mendengar Abu Yusuf berkata, ‘Abu Hanifah berkata, Tidak sepatutnya bagi seseorang meminta kepada Allah kecuali dengan-Nya pula.’ Ia juga berkata, ‘Aku benci jika dikatakan, ‘Aku memohon dengan tempat keagungan dari Arasy-Mu.’ Aku juga benci jika dikatakan, ‘Dengan hak Fulan, dan dengan hak para nabi dan Rasul-Mu, dan dengan hak Baitul Haram (aku meminta kepada-Mu)’.”

Abul Husain berkata, “Adapun memohon kepada Allah dengan selain Allah, maka hal itu adalah mungkar, sebab tidak ada hak bagi selain Allah atas-Nya. Sebaliknya, yang ada adalah hak Allah atas para makhluk-Nya. Adapun ucapan, ‘Dengan tempat keagungan dari Arasy-Mu, maka Abu Hanifah menghukuminya makruh, sedang Abu Yusuf memberikan rukhshah (keringanan) di dalamnya’.”

Abul Hasan berkata, “Diriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berdoa demikian. 3) Lalu ia memberi alasan, ‘Sebab tempat keagungan Arasy yang dimaksudkan adalah kekuatan yang diciptakan Allah terhadap Arasy, dengan segala keagungannya, maka ia seakan-akan meminta kepada Allah dengan sifat-sifat-Nya’.”

Ibnu Baldaji dalam Syarhul Mukhtar’ 4) berkata, “Adalah makruh berdoa kepada Allah kecuali dengan-Nya. Karena itu seseorang tidak boleh mengatakan, ‘Aku memohon kepada-Mu dengan (hak) si Fulan, atau malaikat-malaikat-Mu, atau nabi-nabi-Mu atau yang sejenisnya. Sebab tidak adahak bagi makhluk atas Al-Khalik (Pencipta). Juga tidak boleh mengatakan dalam doanya, ‘Aku memohon kepada-Mu dengan tempat keagungan dari Arasy-Mu. Tetapi Abu Yusuf membolehkan hal ini’.”

Adapun apa yang dikatakan oleh Abu Hanifah dan para sahabatnya, ini adalah makruh, menurut Muhammad itu adalah haram, sedangkan menurut Abu Hanifah dan Abu Yusuf, ia lebih dekat kepada yang haram, bahkan keharamannya itulah yang lebih banyak. 5)

Dalam Fatawa 6) Abu Muhammad bin Abdissalam disebutkan, “Bahwasanya tidak dibolehkan meminta kepada Allah dengan sesuatu dari makhluk-Nya, tidak para nabi atau yang lain, tetapi ia tak berkomentar saat meminta dengan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, karena dia meyakini bahwa hal itu ada di dalam hadits, dan ia tidak mengetahui seberapa jauh ke-shahih-m hadits itu.” 7)

Jika syetan telah berhasil meyakinkan bahwa bersumpah kepada Allah dengannya (penghuni kubur) dan berdoa melaluinya lebih merupakan pengagungan dan pemuliaan kepadanya, dan lebih manjur untuk meluluskan hajatnya maka syetan berpindah pada tipu daya yang lain, yakni (mengajak) meminta langsung kepada penghuni kubur itu selain dari Allah, selanjutnya ia beranjak ke derajat yang lain yaitu menjadikan kuburan orang tersebut sebagai berhala yang disembah, dijadikannya sebagai tempat i’tikaf, dinyalakannya lampu di atasnya, digantungkan padanya tirai/hijab kemudian dibangun di atasnya tempat ibadah. Maka ia pun menyembah dan bersujud padanya, thawaf mengelilinginya, mencium dan mengusapnya, haji kepadanya, serta memotong sembelihan di sisinya. Lalu syetan berpindah ke tingkat lain yaitu mengajak manusia untuk menyembah kuburan tersebut, menjadikannya sebagai tempat perayaan dan acara ritual/ibadah, serta (meyakinkan) bahwa itulah yang lebih bermanfaat bagi mereka, baik di dunia maupun di akhirat.

Syaikh kami Ibnu Taimiyah -semoga Allah menyucikan ruhnya berkata, “Perkara-perkara bid’ah di kuburan ada beberapa tingkatan. Tingkatan yang paling jauh dari syariat yaitu ia meminta kebutuhannya kepada si mayit dan meminta pertolongannya, dan itulah yang justru dilakukan oleh banyak orang.” Beliau lalu berkata, “Mereka itu termasuk jenis orang-orang penyembah berhala. Karena itu, kadang-kadang syetan menyamar rupa si mayit, atau orang yang gaib, sebagaimana ia juga menyamar kepada para penyembah berhala. Dan ini terjadi pada orang-orang kafir dari golongan mereka yang musyrik dan Ahlul Kitab. Seseorang dari mereka meminta kepada orang yang ia agungkan, lalu kadang-kadang syetan datang menyamarnya, bahkan terkadang ia membisiki mereka dengan sebagian perkara-perkara gaib, juga agar bersujud kepada kuburan, mengusap dan menciumnya.

Tingkatan kedua yaitu ia meminta kepada Allah melalui perantaraan dirinya. Dan ini banyak dilakukan oleh orang-orang kemudian. Padahal ia menurut kesepakatan kaum Muslimin sebagai perbuatan bid’ah.

Tingkatan ketiga yaitu ia meminta kepada diri orang tersebut.

Tingkatan keempat, ia mengira bahwa berdoa di kuburan orang tersebut adalah mustajab, atau bahwa berdoa di kuburan lebih utama daripada berdoa di masjid, sehingga ia menjadikannya sebagai tujuan ziarahnya, shalat di sisinya untuk meminta hajat dan keperluannya. Hal ini juga merupakan kemungkaran dan bid’ah menurut kesepakatan umat Islam, dan yang jelas ia adalah haram. Dan saya tidak pernah mengetahui para imam agama berselisih paham dalam masalah ini, meskipun banyak orang-orang kemudian yang melakukan hal tersebut, seraya berkata, ‘Kuburan si Fulan itu telah terbukti!’

Adapun cerita yang dinukilkan dari Syafi’i, bahwasanya beliau menyengaja berdoa di kuburan Abu Hanifah adalah suatu dusta yang nyata.” 8)

Ighatsatul Lahfan – Ibnul Qoyyim Al Jauziyah

1) Dinukil oleh As-Sakhawi dalam Al-Maqashidul Hasanah (no. 883) dari Syaikhul Islam bahwasanya ia adalah dusta, kemudian dari syaikhnya, Al-Hafizh Ibnu Hajar, beliau berkata, hadits itu tidak punya asal. Lihat pula Tadzkiratul Maudhu’at (hal. 286) oleh Al-Futtani Al-Hindi, Tanzihusy Syari’ah (2/316) dan Al-Asrarul Ma’rufah (496).
2) Di sini kita mendapatkan pelajaran berharga yang mengungkap hakikat apa yang Anda lihat dalam beberapa kitab Tarajum (Biografi) tentang ucapan mereka, “Berdoa di kuburannya adalah makbul.”
3) Hadits ini adalah maudhu’ (palsu), seperti dapat Anda lihat dalam Nashbur Rayah (4/272), Al-Maudhu’at (2/U2),At-Tawassul (hal. 49) oleh Syaikh kami Al-Albani.
4) Bandingkan dengan Al-Fatawa Al-Hindiyah (5/280).
5) Ithafus Sadah Al-Muttaqin, (2/285) oleh Az-Zubaidi
6) (hal. 127).
7) Yang dimaksud adalah hadits tentang tawassul-nya orang buta. Lihat teks dan takhrijhadits ini secara lebih luas dalam risalah saya Kasyful Mutawari min Talbiyaitil Ghumari, risalah ini dikarang atas dasar hadits tersebut, dicetak oleh Dar Ibnul Jauzi, Dammam.
8) Diriwayatkan oleh Al-Khathib dalam Tarikh-nya (1/123). Al-Kautsari dalam Maqalat-nya (hal. 381) menduga bahwa sanad-nya adalah shahih. Ini adalah dugaan batil. Lihat bantahannya dalam Silsilatul Ahadits Adh-Dha’ifah (1/31), Iqtidha’ Shirathal Mustaqim (hal. 165).

Iklan

Satu pemikiran pada “Sebab-sebab Fitnah Kubur

  1. Imam Asrofi

    tTerimakasih atas penjelasannya.saya lebih hati2 . Bagi saya Cukuplah Alloh sebagai penolongku . Aku berpendapat apakah aku berdosa jika tidak berziarah ke kubur. Dan jika tidak mengapa harus aku paksakan. Dan apakah yang suka ziaroh mesti yakin dapat pahala. atau sebaliknya justru dapat dosa besar. kalaolah demikian lebih baik aku lakukan amal yang jelas2 saja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s