Hukum shalat (bermakmum) di belakang orang yang beristighasah kepada selain Allah

Penulis: Fadlilatu As Syaikh Al’Allamah Al Muhaddits, Al Faqih Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Bazz

( Makna istighasah : meminta pertolongan/bantuan dalam kondisi yang sangat membutuhkan/sangat darurat )

Soal : Apakah sah sholat yang aku lakukan dengan menjadi makmum di belakang seorang imam yang dia beristighasah kepada selain Allah ? Dan orang yang menjadi imam shalat tersebut sering mengucapkan kalimat-kalimat seperti ini :

“Kami beristighasah kepada engkau wahai Jailani (Abdul Qadir Jailani yang telah mati).” Jika aku tidak menemukan orang selain dia untuk shalat menjadi makmum di belakangnya dalam shalat berjama’ah di masjid, maka apakah boleh bagiku untuk shalat di rumahku? (Tidak berjama’ah di masjid karena imam shalatnya adalah orang yang beristighasah kepada selain Allah).

Jawab : Tidak boleh bagimu untuk shalat dengan menjadi makmum di belakang orang-orang musyrik. Dan termasuk dari golongan orang-orang yang dihukumi musyrik adalah orang yang beristighasah kepada selain Allah. Hal ini karena istighasah kepada selain Allah dengan meminta pertolongan/bantuan dalam kondisi yang sangat membutuhkan/sangat darurat kepada orang-orang yang sudah mati, berhala/patung-patung, jin-jin dan yang selainnya adalah merupakan perbuatan syirik kepada Allah.

Adapun beristighasah kepada orang yang masih hidup, yang orang itu hadir/ada, dan dia memiliki kemampuan untuk membantu engkau dari apa yang engkau minta tolong padanya ( syarat lainnya : orang itu mendengar, tidak dalam keadaan tuli/tidur. Keterangan Syaikh Shalih Alu Syaikh) , maka hal ini tidak mengapa. Dalil yang menunjukkan hal ini adalah firman Allah ‘Azza wa Jalla tentang kisah Musa ‘alaihissalam (artinya) : ” maka orang yang berasal dari golongan Musa meminta pertolongan kepada Musa, agar Musa membantunya untuk mengalahkan musuhnya ( yang berasal dari golongan fir’aun).” (Q.S. Al Qashash : 15)

Dan jika engkau tidak mendapatkan imam yang muslim selain imam yang musyrik tadi untuk engkau shalat di belakangnya, maka boleh bagimu untuk shalat di rumahmu.
Dan jika engkau mendapatkan ada jama’ah kaum muslimun yang mereka sanggup untuk shalat di masjid tersebut dengan diimami seorang imam yang muslim, sebelum atau sesudah imam yang musyrik itu mengimami shalat, maka shalatlah engkau bersama jama’ah kaum muslimin tersebut.

Dan jika kaum muslimin mempunyai kemampuan untuk memberhentikan/memecat imam yang musyrik itu sebagai imam di masjid tersebut dan kemudian kaum muslimin mereka memilih / menunjuk seorang imam baru yang muslim untuk shalat mengimami manusia, maka perkara ini wajib dilakukan oleh kaum muslimin.
Hal ini karena yang demikian termasuk bagian dari amar ma’ruf dan nahi munkar dan perkara tersebut untuk menegakkan syari’at Allah di bumi-Nya. Akan tetapi perkara yang demikian memungkinkan untuk dilakukan selama tidak menimbulkan fitnah.

Perkara amar ma’ruf dan nahi munkar ini berdasarkan firman Allah ta’ala (artinya) : ” Dan orang-orang mu’min yang laiki-laki dan orang-orang mu’min yang perempuan sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagai yang lain. Mereka memerintahkan untuk menjalankan kebaikan dan melarang dari perbuatan yang munkar “. (Q.S. At Taubah :7)
Dan firman Allah (artinya) : “Maka bertakwalah kalian kepada Allah sesuai dengan kadar kemampuan kalian ” (Q.S. At Taghaabun : 16)

Dan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam (artinya ) : “Barang siapa diantara kalian yang melihat suatu perbuatan munkar, maka hendaklah dia rubah dengan tangannya. Jika dia tidak mampu maka dengan lisannya. Dan jika dia tidak mampu, maka dengan hatinya. Yang demikian itu (merubah kemungkaran dengan mengingkari dalam hati ) adalah selemah-lemahnya iman “.
( Riwayat Imam Muslim dalam Kitab Shahihnya)

Majalah Ad Dakwah , 13/10/1409
(Diterjemahkan oleh Al Akh Abu Sulaiman dari ‘Fataawa wa Maqaalaat bin Baaz ’, Muraja’ah Al Ustadz Abu ‘Isa Nurwahid)

Sumber :Buletin Dakwah Al-Atsary, Semarang Edisi 12/Th.I
http://www.darussalaf.or.id

Iklan

4 pemikiran pada “Hukum shalat (bermakmum) di belakang orang yang beristighasah kepada selain Allah

  1. sunnahonline

    ISTIGHATSAH

    Istighatsah adalah memanggil nama seseorang untuk meminta pertolongannya, untuk sebagian kelompok muslimin hal ini langsung di vonis syirik, namun vonis mereka itu hanyalah karena kedangkalan pemahamannya terhadap syariah islam, pada hakekatnya memanggil nama seseorang untuk meminta pertolongannya adalah hal yg diperbolehkan selama ia seorang Muslim, Mukmin, Shalih dan diyakini mempunyai manzilah di sisi Allah swt, tak pula terikat ia masih hidup atau telah wafat, karena bila seseorang mengatakan ada perbedaan dalam kehidupan dan kematian atas manfaat dan mudharrat maka justru dirisaukan ia dalam kemusyrikan yg nyata, karena seluruh manfaat dan mudharrat berasal dari Allah swt, maka kehidupan dan kematian tak bisa membuat batas dari manfaat dan mudharrat kecuali dengan izin Allah swt, ketika seseorang berkata bahwa orang mati tak bisa memberi manfaat, dan orang hidup bisa memberi manfaat, maka ia dirisaukan telah jatuh dalam kekufuran karena menganggap kehidupan adalah sumber manfaat dan kematian adalah mustahilnya manfaat, padahal manfaat dan mudharrat itu dari Allah, dan kekuasaan Allah tidak bisa dibatasi dengan kehidupan atau kematian.

    Sama saja ketika seorang berkata bahwa hanya dokter lah yg bisa menyembuhkan dan tak mungkin kesembuhan datang dari selain dokter, maka ia telah membatasi Kodrat Allah swt untuk memberikan kesembuhan, yg bisa saja lewat dokter, namun tak mustahil dari petani, atau bahkan sembuh dengan sendirinya.

    Justru Allah memerintahkan manusia untuk MENOLONG manusia lain, Tolong menolonglah kamu dalam kebajikan dan taqwa.

    Terkadang kita tak menyadari bahwa kita lebih banyak mengambil manfaat dalam kehidupan ini dari mereka yg telah mati daripada yg masih hidup, sungguh peradaban manusia, tuntunan ibadah, tuntunan kehidupan, modernisasi dlsb, kesemua para pelopornya telah wafat, dan kita masih terus mengambil manfaat dari mereka, muslim dan non muslim, seperti teori Einstein dan teori2 lainnya, kita masih mengambil manfaat dari yg mati hingga kini, dari ilmu mereka, dari kekuatan mereka, dari jabatan mereka, dari perjuangan mereka,

    Cuma bedanya kalau mereka ini kita ambil manfaatnya berupa ilmunya, namun para shalihin, para wali dan muqarrabien kita mengambil manfaat dari imannya dan amal shalihnya, dan ketaatannya kepada Allah.

    Rasul saw memperbolehkan Istighatsah, sebagaimana hadits beliau saw : “Sungguh matahari mendekat dihari kiamat hingga keringat sampai setengah telinga, dan sementara mereka dalam keadaan itu mereka ber istighatsah kepada Adam, lalu mereka beristighatsah kepada Musa, lalu mereka beristighatsah kepada Muhammad saw” (Shahih Bukhari hadits no.1405), juga banyak terdapat hadits serupa pada Shahih Muslim hadits no.194, shahih Bukhari hadits no.3162, 3182, 4435, dan banyak lagi hadist2 shahih yg rasul saw menunjukkan ummat manusia ber istighatsah pada para nabi dan rasul, bahkan Riwayat shahih Bukhari dijelaskan bahwa mereka berkata pada Adam, Wahai Adam, sungguh engkau adalah ayah dari semua manusai.. dst.. dst…dan Adam as berkata : “Diriku..diriku.., pergilah pada selainku.., hingga akhirnya mereka ber Istighatsah memanggil manggil Muhammad saw, dan Nabi saw sendiri yg menceritakan ini, dan menunjukkan beliau tak mengharamkan Istighatsah.

    Maka hadits ini jelas jelas merupakan rujukan bagi istighatsah, bahwa Rasul saw menceritakan orang orang ber istighatsah kepada manusia, dan rasul saw tak mengatakannya syirik, namun jelaslah Istighatsah di hari kiamat ternyata hanya untuk Sayyidina Muhammad saw.

    Jelaslah sudah bahwa riwayat ini justru bukan mengatakan musyrik pada orang yg memanggil nama seseorang saat dalam keadaan tersulitkan, Rasulullah saw yg mengajari hal ini.

    Kita bisa melihat kejadian Tsunami di aceh beberapa tahun yg silam, bagaimana air laut yg setinggi 30 meter dengan kecepatan 300km dan kekuatannya ratusan juta ton, mereka tak menyentuh masjid tua dan makam makam shalihin, hingga mereka yg lari ke makam shalihin selamat, inilah bukti bahwa Istighatsah dikehendaki oleh Allah swt, karena kalau tidak lalu mengapa Allah jadikan di makam2 shalihin itu terdapat benteng yg tak terlihat membentengi air bah itu, yg itu sebagai isyarat ilahi bahwa demikianlah Allah memuliakan tubuh yg taat pada Nya swt, tubuh tubuh tak bernyawa itu Allah jadikan benteng untuk mereka yg hidup.., tubuh yg tak bernyawa itu Allah jadikan sumber Rahmat dan perlindungan Nya swt kepada mereka mereka yg berlindung dan lari ke makam mereka.

    Kesimpulannya : mereka yg lari berlindung pada hamba hamba Allah yg shalih mereka selamat, mereka yg lari ke masjid masjid tua yg bekas tempat sujudnya orang orang shalih maka mereka selamat, mereka yg lari dengan mobilnya tidak selamat, mereka yg lari mencari tim SAR tidak selamat..

    Pertanyaannya adalah : kenapa Allah jadikan makam sebagai perantara perlindungan Nya swt?, kenapa bukan orang yg hidup?, kenapa bukan gunung?, kenapa bukan perumahan?.

    Jawabannya bahwa Allah mengajari penduduk bumi ini beristighatsah pada shalihin.

    Walillahittaufiq

  2. sunnahonline

    Mengenai Istighatsah, dalil telah jelas bagaikan matahari.
    tercantum dalam Shahih Bukhari (ashahhulkitab ba’dalqur’an) bahwa Rasul saw bersabda : “kelak dihari qiamat matahari didekatkan hingga sampailah keringat mereka ditengah telinga, lalu saat mereka dalam keadaan demikian mereka ber Istighatsah pd Adam, lalu Musa, Lalu Muhammad…..”.

    diriwayatkan dalam kitab Imam Ibn Sunni, dari Haitsam bin Hanasy berkata : “kami sedang bersama Abdullah bin Umar ra, lalu kakinya terkena keram (kejang urat), maka ia berseru : “Wahai Muhammad..!”, maka ia terlepas dari keramnya.
    dan demikian pula riwayat dari Ibn Abbas ra, yg memerintahkan orang yg terkena penyakit keram agar memanggil orang yg paling ia cintai, maka berkatalah lelaki itu, : “wahai Muhammad..!”, maka hilanglah penyakit keramnya. (Al Adzkar hal. 271)

    demikian pula dari Ibn Mundzir alhuzamiy (salah seorang guru Imam Bukhari), yg Imam Bukhari menganggapnya rajulun tsiqat, dan masih banyak lagi riwayat Ibn Qayyim dll mengenai dalil Istighatsah. (Al Adzkar hal. 271), demikian pula riwayat Imam Qadhi Iyadh dalam kitabnya Assyifa

    TAWASSUL

    Memang banyak pemahaman saudara saudara kita muslimin yg perlu diluruskan tentang tawassul, tawassul adalah berdoa kepada Allah dengan perantara amal shalih, orang shalih, malaikat, atau orang orang mukmin.

    Tawassul merupakan hal yg sunnah, dan tak pernah ditentang oleh Rasul saw, tak pula oleh Ijma? Sahabat radhiyallahu?anhum, tak pula oleh Tabi?in, dan bahkan para Ulama dan Imam Imam besar Muhadditsin, mereka berdoa tanpa perantara atau dengan perantara, dan tak ada yg menentangnya, apalagi mengharamkannya, atau bahkan memusyrikkan orang yg mengamalkannya.

    Pengingkaran hanya muncul pada abad ke 17-20 ini, dengan munculnya sekte sesat yg memusyrikkan orang orang yg bertawassul, padahal Tawassul adalah sunnah Rasul saw, sebagaimana hadits shahih dibawah ini : ?Wahai Allah, Demi orang orang yg berdoa kepada Mu, demi orang orang yg bersemangat menuju (keridhoan) Mu, dan Demi langkah langkahku ini kepada (keridhoan) Mu, maka aku tak keluar dengan niat berbuat jahat, dan tidak pula berniat membuat kerusuhan, tak pula keluarku ini karena Riya atau sum?ah, ??? hingga akhir hadits. (HR Imam Ahmad, Imam Ibn Khuzaimah, Imam Abu Na?iem, Imam Baihaqy, Imam Thabrani, Imam Ibn Sunni, Imam Ibn Majah dengan sanad Shahih).

    Hadits ini kemudian hingga kini digunakan oleh seluruh muslimin untuk doa menuju masjid dan doa safar.

    Tujuh Imam Muhaddits meriwayatkan hadits ini, bahwa Rasul saw berdoa dengan Tawassul kepada orang orang yg berdoa kepada Allah, lalu kepada orang orang yg bersemangat kepada keridhoan Allah, dan barulah bertawassul kepada Amal shalih beliau saw (demi langkah2ku ini kepada keridhoan Mu).

    Siapakah Muhaddits?, Muhaddits adalah seorang ahli hadits yg sudah hafal 100.000 (seratus ribu) hadits beserta hukum sanad dan hukum matannya, betapa jenius dan briliannya mereka ini dan betapa Luasnya pemahaman mereka tentang hadist Rasul saw, sedangkan satu hadits pendek, bisa menjadi dua halaman bila disertai hukum sanad dan hukum matannya.

    Lalu hadits diatas diriwayatkan oleh tujuh Muhaddits.., apakah kiranya kita masih memilih pendapat madzhab model baru yg baru muncul di abad ke 20 ini, dengan ucapan orang orang yg dianggap muhaddits padahal tak satupun dari mereka mencapai kategori Muhaddits , dan kategori ulama atau apalagi Imam Madzhab, adalah orang yg bukan pencaci, apalagi memusyrikkan orang orang yg beramal dg landasan hadits shahih.

    Masih banyak hadits lain yg menjadi dalil tawassul adalah sunnah Rasul saw, sebagaimana hadits yg dikeluarkan oleh Abu Nu’aim, Thabrani dan Ibn Hibban dalam shahihnya, bahwa ketika wafatnya Fathimah binti Asad (Bunda dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw, dalam hadits itu disebutkan Rasul saw rebah/bersandar dikuburnya dan berdoa : Allah Yang Menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Hidup tak akan mati, ampunilah dosa Ibuku Fathimah binti Asad, dan bimbinglah hujjah nya (pertanyaan di kubur), dan luaskanlah atasnya kuburnya, Demi Nabi Mu dan Demi para Nabi sebelummu, Sungguh Engkau Maha Pengasih dari semua pemilik sifat kasih sayang.”

    jelas sudah dengan hadits ini pula bahwa Rasul saw bertawassul di kubur, kepada para Nabi yg telah wafat, untuk mendoakan Bibi beliau saw (Istri Abu Thalib).

    Para Imam Imam besar itu tak satupun mengharamkannya, hanyalah pendapat sekte model baru ini yg memusyrikkan orang yg bertawassul, padahal Rasul saw sendiri berrtawassul. Apakah mereka memusyrikkan Rasul saw?, Naudzubillah dari pemahaman sesat ini,

    mengenai pendapat sebagian dari mereka yg mengatakan bahwa tawassul hanya boleh pada orang yg masih hidup, maka entah darimana pula mereka mengarang persyaratan tawassul itu, dan mereka mengatakan bahwa orang yg sudah mati tak akan dapat memberi manfaat lagi..,

    pendapat yg jelas jelas datang dari pemahaman yg sangat dangkal, dan pemikiran yg sangat buta terhadap kesucian tauhid..

    jelas dan tanpa syak bahwa tak ada satu makhlukpun dapat memberi manfaat dan mudharrat terkecuali dengan izin Allah, lalu mereka mengatakan bahwa makhluk hidup bisa memberi manfaat, dan yg mati mustahil?, lalu dimana kesucian tauhid dalam keimana mereka?
    Tak ada perbedaan dari yg hidup dan yg mati dalam memberi manfaat kecuali dengan izin Allah.., yg hidup tak akan mampu berbuat terkecuali dg izin Allah, dan yg mati pun bukan mustahil memberi manfaat bila dikehendaki Allah. karena penafian kekuasaan Allah atas orang yg mati adalah kekufuran yg jelas.

    1. hamba allah

      kalo menurut saya yang awam tetap kalo meminta kepada selain allah adalah musrik…. kalo kontek hadist tersebut di atas itubukan berarti meminta orang terdahulu/orang soleh/orang sudah meniggal menyampaikan permohonan kepada allah(membantu) akan tetapi ucapan rasulluloh untuk menguatkan dengan kata demi( bukan dengan )yaitu agar supaya alloh lebih memerhatikan…bahwasanya…Coba liat aku ini nabimu, coba liat demi orang soleh…coba liat demi amal soleh….bukan ber arti orang soleh tersebut yang mengabulkan..dan dijaman sekarang banyak sekali bahwa keyakinan orang soleh/orang meninggal/atau apalah yang membantu melncarkan maksud dari orang yang memeohon nya..yang jelas-jelas itu lah syirik…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s