Pengharaman Alat-alat Musik

Pembahasan ini akan menjelaskan tentang pengharaman Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam terhadap alat-alat musik dengan mendasarkan pada hadits-hadits tentang hal tersebut.

Dari Abdurrahman bin Ghanm, ia berkata, Abu Amir atau Abu Malik Al-Asy’ari Radhiyallahu Anhuma bercerita bahwasanya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

“Akan ada dari umatku kaum yang menghalalkan perzinaan, sutra, khamar dan alat-alat musik.”

Ini adalah hadits shahih 1) dikeluarkan oleh Al-Bukhari dalam Shahihnya dan ia menggunakannya sebagai hujjah, bahkan beliau mengomen-tarinya dengan komentar yang tegas, 2) beliau berkata, “Bab tentang Orang Yang Menghalalkan Khamar dan Menamakannya dengan Selain Namanya.”

Dan Hisyam bin Ammar berkata, “Shadaqah bin Khalid bercerita kepadaku, Telah berkata kepadaku Abdurrahman bin Yazid bin Jabir, telah berkata kepadaku Athiyah bin Qais Al-Kilabi, telah berkata kepadaku Abdurrahman bin Ghanm Al-Asy’ari, telah berkata kepadaku Abu Amir atau Abu Malik Al-Asy’ari -dan demi Allah ia tidak mendustaiku-bahwasanya ia mendengar Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Akan ada dari umatku kaum-kaum yang menghalalkan perzinaan, sutra, khamar dan alat-alat musik’.”

Tidak ada upaya yang dilakukan oleh orang-orang yang menganggap cacat hadits di atas, seperti Ibnu Hazm untuk mempertahankan pendapatnya yang batil tentang dibolehkannya nyanyian dan musik, selain mengatakan bahwa hadits itu munqathi’ (terputus), karena Al-Bukhari -katanya- tidak memiliki sanad yang bersambung dalam hal hadits di atas!

Adapun untuk menjawab kekeliruan ini adalah sebagai berikut:

1. Bahwasanya Al-Bukhari telah berjumpa dengan Hisyam bin Ammar, dan ia mendengar daripadanya. Dan jika ia berkata, “Hisyam berkata, maka itu sama dengan ucapannya, “Dari Hisyam…”

2. Jika dia belum mendengar daripadanya maka dia tidak boleh memastikan bahwa hadits itu darinya, tetapi yang shahih adalah ia telah mendengar daripadanya. Dan inilah yang paling mungkin, karena banyaknya orang yang meriwayatkan daripadanya, sebab Hisyam bin Ammar adalah seorang syaikh (guru) yang terkenal, sedangkan Al-Bukhari adalah makhluk Allah yang paling jauh dari melakukan kecurangan.

3. Bahwasanya Al-Bukhari telah memasukkan hadits tersebut dalam kitabnya yang terkenal dengan Ash-Shahih, yang bisa dijadikan huj-jah, seandainya hadits itu bukan hadits shahih, tentu ia tak akan melakukan yang demikian.

4. Al-Bukhari memberikan ta’liq pada hadits itu dengan ungkapan yang menunjukkan kepastian, tidak dengan ungkapan yang menunjukkan tamridh (cacat). Dan bahwasanya jika beliau bersikap tawaqquf (tidak berpendapat) dalam suatu hadits atau bahwa hadits itu tidak atas dasar syaratnya maka beliau akan mengatakan, “Diriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam”, dan juga dengan ungkapan, “Disebutkan dari beliau”, atau dengan ungkapan yang sejenis- nya. Tetapi jika beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda”, maka berarti ia telah memastikan bahwa hadits itu disandarkan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

5. Seandainya kita mengatakan berbagai dalil di atas tidak ada artinya, maka cukuplah bagi kita bahwa hadits tersebut shahih dan muttashil menurut perawi hadits yang lain.

Abu Daud dalam kitabnya Al-Libas 3) berkata, ‘Telah berkata kepadaku Abdul Wahab bin Najdah, telah berkata kepadaku Bisyr bin Bakr dari Abdurrahman bin Yazid bin Jabir, telah berkata kepadaku Athiyah bin Qais, bahwasanya ia berkata, ‘Aku mendengar Abdurrahman bin Ghanm Al-Asy’ari berkata, Telah berkata kepadaku Abu Amir atau Abu Malik, lalu ia menyebutkan hadits secara ringkas’.”

Abu Bakar Al-Isma’ili meriwayatkan dalam kitabnya Ash-Shahih dan ia berkata, “Abu Amir telah berkata 0alu ia menyebutkan hadits yang dimaksud).” Sedang ia sama sekali tidak meragukannya.

Dalil di atas menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan alat musik adalah seluruh alat musik yang ada. Dan para ahli bahasa tidak ada yang berselisih tentang hal ini. Dan seandainya ia halal, tentu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak mencela orang yang menghalalkannya, dan tentu beliau tidak menyamakan penghalalannya dengan penghalalan khamar dan sutra.

Kami telah menyebutkan syubhat-syubhat para penyanyi dan orang-orang yang kena fitnah dengan mendengarkan nyanyian syetan tersebut, kami juga telah membantah dan membatalkannya dalam kitab As-Sama 4) dan kami juga menyebutkan tentang perbedaan antara apa yang dibangkitkan oleh bait-bait nyanyian dengan apa yang dibangkitkan oleh ayat-ayat Al-Qur’an. Kita juga menyebutkan berbagai syubhat yang ada pada sebagian besar para ahli ibadah dalam masalah nyanyian, bahkan mereka menganggapnya sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah. Karena itu, siapa yang ingin mengetahui hal-hal di atas secara lengkap silahkan merujuk kepada kitab tersebut. Adapun di sini, kita sebutkan secara ringkas karena ia adalah salah satu dari perangkap dan senjata syetan. Wabillahit-taufik.

Ighatsatul Lahfan – Ibnul Qoyyim Al Jauziyah

1) Saya telah menyendirikan pembahasan tentang hadits ini dalam suatu risalah yang saya beri judul Al-Kasyiffi Tashhihi Riwayatil Bukhari li Haditsil Ma’azifwar Radd al Ibn Hazm Al-Mukhalif wa Muqalliduhu Al-Mujazif, diterbitkan oleh Dar Ibnul Jauzi Dammam.
2) Dan telah diketahui bahwa dalam juz yang dimaksud (hal. 30-32), komentar tersebu sebetulnya ada berdasarkan hadits yang muttashil (bersambung).
3) Nomor (4039) dan lihat pula Al-Kasyif (hal. 41).
4) Kitab ini telah diterbitkan oleh Darul Ashimah, Riyadh dengan tahqiq Rasyid bin Abdul Azis Al-Hamd.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s