Celaan terhadap Pendapat yang Tercela

Yang dimaksud dalam tema ini adalah pendapat yang dibangun tanpa dasar dan bersandar pada selain Al Kitab dan As-Sunnah, akan tetapi ia merupakan ketentuan yang disyariatkan. Pendapat seperti itu menjadi bagian dari bid’ah, bahkan merupakan salah satu jenisnya, karena semua bentuk bid’ah adalah pendapat yang dibangun tanpa dasar yang jelas, sehingga ia digolongkan dalam kesesatan.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin Al Ash, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shalalloh ‘alaihi wassalam bersabda,

” Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dari manusia secara langsung setelah diberikan kepada mereka, akan tetapi Dia mencabutnya dari mereka bersamaan dengan dimatikannya para ulama beserta ilmu mereka, sehingga yang tersisa adalah manusia-manusia bodoh yang dimintai fatwa lalu mereka berfatwa dengan pendapatnya, sehingga sesat dan menyesatkan.” Hadits shahih.

Jika demikian adanya maka celaan terhadap pendapat yang mengarah pada bid’ah adalah celaan yang sangat buruk.

Diriwayatkan oleh Ibnu Mubarak dan lainnya dari Auf bin Malik Al Asyja’i, ia berkata: Rasulullah Shalalloh ‘alaihi wassalam bersabda,

” Umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh golongan lebih, dan golongan yang paling berbahaya adalah kaum yang membandingkan agama dengan pendapat mereka, yang dengannya mereka mengharamkan hal-hal yang dihalalkan oleh Allah serta dengan mereka menghalalkan hal-hal yang diharamkan oleh Allah.” Ibnu Abdul Barr berkata, “Ini adalah perbandingan tanpa dasar dan pendapat —dalam masalah agama— dengan pendustaan dan peridraan akal. Coba perhatikan sabda beliau berikut ini,

‘Menghalalkan —hal-hal—yang haram dan mengharamkan —hal-hal— yang halal’.”

Telah disepakati bahwa perkara yang halal adalah semua perkara yang penghalalannya terdapat dalam kitab Allah dan Rasul-Nya. Sedangkan perkara yang haram adalah semua perkara yang pengharamannya terdapat dalam kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. Orang yang tidak mengetahui namun ia menjawab pertanyaan tentang perkara tersebut tanpa ilmu serta memutuskan dengan pendapatnya yang bertentangan dengan Sunnah, berarti orang ini telah membandingkan suatu perkara dengan pendapat akalnya sehingga sesat dan menyesatkan, dengan seseorang yang mengembalikan cabang-cabang ajaran syariat yang diketahuinya kepada pokok-pokoknya dan tidak mengambil keputusan dengan pendapatnya.

Ibnu Mubarak meriwayatkan hadits, “Sesungguhnya syarat datangnya Hari Kiamat ada tiga, salah satunya adalah dikuasainya ilmu oleh anak-anak kecil.” Lalu ditanyakan kepada Ibnu Mubarak, “Siapa yang dimaksud anak-anak kecil?” la menjawab, “Orang-orang yang berkomentar hanya dcngan mengandalkan akalnya. Anak kecil yang meriwayatkan dari orang dewasa tidak dinamakan dengan anak-anak kecil.”

Diriwayatkan oleh Ibnu Wahab dari Umar Ibnu Al Khaththab, bahwa beliau berkata, “Orang-orang yang mengikuti pendapat akalnya akan menjadi musuh-musuh Sunnah, karena mereka diperintahkan untuk memakai hadits-hadits namun ternyata berlepas diri darinya.”

Sahnun berkata, “Maksudnya adalah bid’ah.”

Dalam periwayatan lain disebutkan, “Berhati-hatilah terhadap orang-orang yang mengikuti pendapat akalnya, karena mereka adalah musuh Sunnah. Mereka diperintahkan memakai hadits-hadits dengan tujuan menjaganya, namun mereka justru menggunakan pendapat akalnya, sehingga mereka sesat dan menyesatkan.”

Diriwayatkan oleh Ibnu Wahab, ia mengatakan bahwa para pengikut pendapat akal adalah musuh-musuh Sunnah. Mereka diperintah untuk menjaganya dengan cara memakainya, namun mereka justru berlepas diri darinya. Mereka merasa malu jika ditanya kemudian menjawab, “Kami tidak tahu.” Akhirnya mereka menyelisihi Sunnah dengan pendapat akalnya. Jadi, berhati-hatilah kamu melakukan hal itu dan jauhkanlah dirimu dari mereka. Abu Bakar bin Abu Daud berkata, “Pengikut pendapat akal adalah pengikut bid’ah.”

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA, ia berkata, “Siapa yang berpendapat dengan pendapat akalnya yang tidak terdapat dalam kitab Allah dan tidak mengikuti Sunnah Rasulullah Shalalloh ‘alaihi wassalam, niscaya ia tidak tahu keadaan dirinya ketika bertemu dengan Allah Azza wa JaJJa.”

Diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud RA, ia berkata, “Orang-orang alim di antara kamu telah pergi dan manusia menjadikan orang-orang bodoh yang memutuskan semua perkara dengan pendapat akalnya sebagai pemimpin mereka.”

Diriwayatkan oleh Ibnu Wahab dan yang lain dari Umar bin Khaththab, ia berkata, “Sunnah adalah yang telah disunnahkan Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu menjadikan pendapat akal sebagai Sunnah bagi umat.”

Diriwayatkan oleh Ibnu Wahab dari Hisyam bin Urwah, dari bapaknya, ia berkata, “Perkara-perkara bani Isra’il tetap berjalan lurus hingga lahir dari mereka anak-anak dari tawanan umat lain, kemudian mereka memakai pendapat akal, sehingga mereka menyesatkan bani Isra’ il.”

Diriwayatkan dari Asy-Sya’bi, ia berkata, “Sesungguhnya kehancuran Anda terjadi tatkala Anda meninggalkan Sunnah dan memakai pendapat akal.”

Diriwayatkan dari Al Hasan, ia berkata, “Orang-orang sebelum kalian telah celaka, penyebabnya adalah jalan yang bercabang-cabang, mereka berbelok dari jalan yang lurus dan meninggalkan Sunnah serta memutuskan perkara agama dengan pendapat akal mereka, sehingga mereka sesat dan menyesatkan.”

Diriwayatkan dari Darraj bin As-Sahm bin Asmah, ia berkata, “Akan datang suatu masa kepada manusia, seorang laki-laki yang membuat gemuk binatang tunggangannya sehingga penuh dengan lemak, kemudian ia menaikinya melintasi negeri-negeri hingga kembali menjadi kurus demi mencari seseorang yang dapat memberikan fatwa dengan Sunnah yang telah dilakukannya, namun ia hanya mendapatkan orang yang berfatwa dengan perkiraan akalnya.”

Ulama telah berselisih pendapat tentang pendapat akal yang dimaksud di dalam hadits dan Sunnah tersebut. Sebagian kelompok berpendapat, “Maksudnya adalah pendapat akal para pelaku bid’ah —yang menentang Sunnah— dalam masalah akidah, seperti aliran Jahmiyah dan semua aliran ulama ilmu kalam. Mereka menggunakan pendapat-pendapat akal mereka untuk menentang hadits-hadits yang telah diriwayatkan dari Nabi, bahkan untuk menentang nash-nash Al Qur * an yang telah jelas tanpa adanya sebab-sebab yang mengharuskan penentangannya dan penakwilannya, sebagaimana mereka berpendapat tentang pengingkaran terhadap melihat Allah (dengan dalil-dalil yang tersurat yang mencakup beberapa kemungkinan), pengingkaran terhadap adzab kubur, pengingkaran terhadap timbangan amal, dan pengingkaran terhadap sirathal mustaqim. Mereka juga menolak hadits-hadits tentang pemberian syafaat dan telaga Rasul -serta banyak lagi— yang semuanya disebutkan di dalam kitab-kitab ilmu kalam.

Kelompok lain berkata, “Maksudnya adalah pendapat akal yang tercela dan buruk, yaitu pendapat-pendapat ahli bid’ah dan yang semisalnya dari bentuk-bentuk perbuatan bid’ah, karena hakikat bid’ah secara keseluruhannya kembali pada pendapat akal dan keluar dari syariat.”

Pendapat tersebut adalah yang paling benar, sebab dalil-dalil yang telah disebutkan —secara tersurat— mencakup seluruh bentuk bid’ah yang umum, yang terjadi hingga Hari Kiamat, baik dalam perkara yang berkenaan dengan dasar-dasar agama maupun cabang-cabangnya, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al Qadhi Isma’il tentang firman Allah, ‘ S’esungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikit pun tanggung jawabmu terhadap mereka” (Qs. Al An’aam [6]: 159) Setelah dijelaskan bahwa ayat ini diturunkan untuk kelompok Khawarij.

Adapun orang-orang yang menganggapnya sebagai pengkhususan, tidak bermaksud menyatakan tujuan yang pertama dari bentuk bid’ah, namun hanya memberi contoh dengan sebuah permisalan yang terdapat dalam kandungan ayat tersebut. Contohnya adalah permisalan yang telah disebutkan tadi, yang pada zaman itu perkara tersebut sedang berkembang pada zaman itu. Oleh karena itu, perkara tersebut lebih utama untuk dijadikan permisalan sementara yang lainnya tidak disebutkan oleh yang mengomentari perkaranya. Jika mereka ditanya tentang keumuman maksud ayat tersebut, mereka pasti menyetujuinya.

Demikianlah, semua pendapat sebelumnya yang mengkhususkan bid’ah pada sebagian kelompok ahli bid’ah, hanyalah hasil dari penafsiran yang sesuai dengan kebutuhan. Bukankankah kamu dapat memperhatikan bahwa ayat pertama (yang menjadi dasar dari pembahasan ini, yang terdapat dalam) surah Aali ‘Imraan diturunkan berkenaan dengan kisah orang-orang Nasrani?

Kemudian diturunkan untuk kaum Khawarij, sebagaimana dijelaskan sebelumnya —dan lainnya, sebagaimana telah disebutkan dalam penafsiran— adalah mereka menafsirkannya sesuai kebutuhan saat itu, bukan sesuai kandungan lafazh secara bahasa. Begitulah hendaknya penafsiran ulama-ulama terdahulu dipahami, karena mereka mempunyai kedudukan yang utama dalam keilmuan serta derajat yang tinggi dalam memahami Al Qur’an dan Sunnah. Pernahaman tentang perkara ini akan dijelaskan pada bab yang lain.

Kelompok lain (Ibnu Abdul Al Barr dari jumhur ahli ilmu) berkata, “Pendapat akal yang disebutkan dalam hadits tersebut maksudnya adalah pernyataan dalam hukum-hukum syariat agama yang hanya berlandaskan pada istihsan dan prasangka, bersungguh-sungguh mempertahankan kekeliruan dan kesalahan-kesalahan, serta mengembalikan cabang-cabang serta bagian-bagiannya hanya berlandaskan pada pendapat akal atau qiyas tanpa merujuk pada dasar-dasarnya dan sebab-sebab pengambilan hukumnya, sehingga pendapat akal digunakan sebelum adanya perintah, kemudian hal itu terbagi-bagi menjadi beberapa bagian sebelum dikukuhkan, dan diperbincangkan sebelum disahkan, sekali lagi bahwa mereka menggunakan pendapat akal yang serupa dengan prasangka.”

Mereka berkata, “Karena bersungguh-sungguh dengan semua ini dan berpegang teguh padanya, menyebabkan tidak berfungsinya Sunnah dan tampaknya ketidaktahuan tentangnya serta meninggalkan sesuatu yang seharusnya diperhatikan; As-Sunnah dan kitab Allah beserta makna-maknanya.”

Mereka kemudian berhujjah —atas pendapat tersebut— dengan bermacam-macam dalil; diantaranya yaitu: Umar RA melaknat orang yang bertanya tentang perkara-perkara yang tidak diperintahkan dan larangan-larangan terhadap sesuatu, karena dapat menjadikannya terjatuh dalam kesalahan; mempersulit masalah dan banyak bertanya. Sesungguhnya ia sangat membenci dan mencela sikap banyak bertanya. Sesungguhnya ulama salaf tidak pernah menjawab kecuali dengan hal-hal yang telah diturunkan, bukan dengan hal-hal yang belum diturunkan.

Pendapat ini tidak bertentangan dengan pendapat sebelumnya, karena orang yang berpendapat demikian telah melarang penggunaan pendapat akal, meski tidak tercela, Sebab, banyak menggunakan pendapat akal akan menjerumuskan seseorang pada pendapat akal yang tercela, yaitu tidak memperhatikan Sunnah dan hanya memakai pendapat akal. Apabila demikian keadaannya, maka sama dengan pendapat sebelumnya, sebab biasanya hukum syariat bila melarang atau mencegah sesuatu, maka mencegah pula sesuatu yang ada disekelilingnya dan masuk ke dalam ruang lingkupnya. Rasulullah Shalalloh ‘alaihi wassalam,

” Yang halal itu jelas dan yang haram juga jelas, sedangkan di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang samar.”

Diterangkan pula dalam syariat tentang asal hukum mencegah kerusakan, yaitu melarang yang diperbolehkan karena mengarah kepada hal yang tidak diperbolehkan. Besarnya kerusakan dalam perkara yang dilarang menjadikan luasnya larangan pada kerusakan dan keharusan meninggalkannya.

Dalil-dalil yang telah disebutkan sebelumnya menjelaskan tentang besarnya bahaya bid’ah dan kerusakan yang ditimbulkannya, sedangkan hal tersebut mengitari batasan-batasannya yang sangat luas.

Oleh karena itu, para ulama menjauhkan pendapat mereka dari qiyas, meski sejalan dengan hal tersebut. Sebagian kelompok pemberi fatwa melarang penggunaan qiyas sebelum diturunkan permasalahannya. Mereka meriwayatkan hadits —tentang hal tersebut— dari Rasulullah Shalalloh ‘alaihi wassalam, beliau bersabda,

“Janganlah terburu-buru memutuskan perkara sebelum kejadiannya, karena jika kamu melakukannya maka akan terpecah bagimu jalan-jalan disana dan disini.”

Betul, sesungguhnya beliau SAW melarang banyak bertanya, seperti dalam sabdanya,

“Sesungguhnya Allah telah menentukan kewajiban-kewajiban, maka janganlah kamu meninggalkannya. Dia telah melarang sesuatu, maka janganlah kamu melanggarnya, Dia telah menentukan hukum-hukum-Nya, maka janganlah kamu melampauinya. Dia telah membiarkan beberapa perkara sebagai rahmat bagimu bukan karena lupa, maka janganlah kamu mempermasalahkannya.” (1)

Sebagian ulama membolehkan hal tersebut bagi para pemimpin, sehingga mereka tidak memberikan fatwa sampai pemimpin tersebut yang menangani perkara tersebut. Mereka menamakannya ” Shafawul Umara ‘”

Sebagian kelompok yang hanya bersandar pada akal, bukan pada ilmu, memberikan fatwa untuk tidak mengikuti pemimpin.

Abu Bakar Ash-Shiddiq RA berkata (tatkala ditanya tentang orang yang tidak mempunyai anak dan ayah), “Aku akan menjawabnya dengan pendapatku sendiri; jika benar maka itu datangnya dari Allah, namun jika salah maka itu datangnya dari diriku sendiri dan syetan.” Setelah itu ia mengutarakan jawabannya.

Seorang laki-laki datang kepada Sa’id bin Musayib dan bertanya kepadanya tentang sesuatu, kemudian ia menjawabnya. Lalu ditanya lagi tentang hal yang sama, dan ia pun menjawabnya. Orang tersebut (yang bertanya) lalu menuliskan jawabannya. Salah seorang muridnya kemudian berkata, “Apakah kamu menuliskan pendapatmu, wahai Abu Muhammad?” Sa’id lalu berkata kepada laki-laki tersebut, “Berikan tulisan itu kepadaku.” Tulisan itu pun diserahkan kepadanya, dan ia kemudian membakarnya.

Al Qasim bin Muhammad pernah ditanya tentang sesuatu, ia pun menjawabnya. Tatkala laki-laki tersebut menjadi pemimpin, ia memanggilnya dan berkata kepadanya, “Janganlah kamu menyangka bahwa Qasim menganggap jawaban ini benar, akan tetapi jika kamu terpaksa menggunakannya maka gunakanlah.”

Malik bin Anas berkata, “Rasulullah Shalalloh ‘alaihi wassalam telah meninggal dunia, sedangkan perkara ini telah sempurna, maka selayaknya kita mengikuti hadits Rasulullah SAW dan tidak mengikuti pendapat akal. Sebab jika kamu mengikuti pendapat akal kemudian seseorang datang dengan pendapatnya yang lebih kuat dari pendapatmu, maka kamu akan mengikutinya. Setiap kali datang seseorang yang mengalahkan (pendapat)mu, maka kamu akan mengikutinya, dan aku mengira hal itu tidak akan selesai.”

Kemudian terbukti ia berpendapat dengan akalnya, namun kebanyakan dari pendapatnya dikeluarkan setelah berijtihad menggunakan akalnya, seperti yang disebutkan dalam ayat, “Kami sekali-kali tidak lain hanyalah menduga-duga saja dan kami sekali-kali tidak meyakini (nya).” (Qs. Al Jaatsiah [45]: 32). Karena takut dikalahkan oleh orang yang mendalami perkara tersebut, maka ia terus-menerus mencelanya dan mencela orang yang mendalaminya. Namun ia akhirnya menyingkir dari penduduk Irak, karena mereka kebanyakan menggunakannya dalam hukum-hukum syariat. Hal yang paling ringan yang datang darinya adalah, “Istihsan adalah sembilan bagian dari ilmu dan orang yang tenggelam dalam qiyas pasti meninggalkan Sunnah.”

Perkataan-perkataan sebelumnya — menurut madzhab Malik— tidak dikhususkan dalam hal akidah, penekanan-penekanan terhadap larangan menggunakan pendapat akal, meski berkenaan dengan dasar-dasar syariat, sebagai langkah kehati-hatian terhadap perkara yang tidak berkenaan dengan dasar-dasar agama.

Dalam masalah ini Ibnu Abdul Barr banyak berkomentar namun kami enggan untuk menuangkannya dalam bab ini.

Kesimpulan dari penjelasan tersebut adalah:

Yang dimaksud dengan pendapat akal yang tercela adalah sesuatu yang dibangun dengan kebodohan dan hawa nafsu, tanpa sedikit pun kembali kepada dasar agama. Hal ini masuk dalam batasan bid’ah dan telah disebutkan dalil-dalil yang mencelanya. Sedangkan sesuatu yang mempunyai keburukan —meski pada awalnya terpuji— namun semuanya dikembalikan kepada dasar-dasar syariat, adalah sesuatu yang telah keluar dari batasan-batasan bid’ah dan selamanya tidak akan menjadi bid’ah.

Al ‘Itisham – Imam Syathibi

(1) Telah dinukil oleh An-Nawawi di dalam hadits Arba’in dari Daruquthni dengan lafazh, “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kewajiban-kewajiban maka janganlah kamu meninggalkannya, dan telah menentukan hukum-hukumnya maka janganlah kamu melampauinya, serta telah mengharamkan sesuatu maka janganlah kamu melanggarnya, dan membiarkan beberapa perkara sebagai rahmat bagimu bukan karena lupa maka janganlah kamu bertanya tentangnya.”

3 pemikiran pada “Celaan terhadap Pendapat yang Tercela

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s