Cara-cara Batil Menegakkan Daulah Islamiyah

Penulis : Al-Ustadz Abu Abdillah Luqman Ba’abduh

Ketika kaum muslimin, terkhusus para aktivisnya, telah menjauhi dan meninggalkan metode dan cara yang ditempuh oleh para nabi dan generasi Salaful Ummah di dalam mengatasi problematika umat dalam upaya mewujudkan Daulah Islamiyyah, tak pelak lagi mereka akan mengikuti ra`yu dan hawa nafsu. Karena tidak ada lagi setelah Al-Haq yang datang dari Allah ‘Azza wa Jalla dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta Salaful Ummah, kecuali kesesatan. Sebagaimana firman Allah:

فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلاَّ الضَّلاَلُ

“Maka apakah setelah Al Haq itu kecuali kesesatan?” (Yunus: 32)

Dengan cara yang mereka tempuh ini, justru mengantarkan umat ini kepada kehancuran dan perpecahan, sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla:

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيْمًا فَاتَّبِعُوْهُ وَلاَ تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيْلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutlah dia, dan janganlah kalian mengikuti As-Subul (jalan-jalan yang lain), karena jalan-jalan itu menyebabkan kalian tercerai berai dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kalian bertaqwa.” (Al-An’am: 153)

Di antara cara-cara sesat yang mereka tempuh antara lain :

1. Penyelesaian problem umat melalui jalur politik dengan ikut terjun langsung atau tidak langsung dalam panggung politik dengan berbagai macam alasan untuk membenarkan tindakan mereka.

Di antara mereka ada yang beralasan bahwa tidak mungkin Daulah Islamiyyah akan terwujud kecuali dengan cara merebut kekuasaan melalui jalur politik, yaitu dengan memperbanyak perolehan suara dukungan dan kursi jabatan dalam pemerintahan. Sehingga dengan banyaknya dukungan dan kursi di pemerintahan, syariat Islam bisa diterapkan. Walaupun dalam pelaksanaannya, mereka rela untuk mengadopsi dan menerapkan sistem politik Barat (kufur) yang bertolak belakang seratus delapan puluh derajat dengan Islam. Mereka sanggup untuk berdusta dengan menyebarkan isu-isu negatif terhadap lawan politiknya. Bila perlu, merekapun sanggup untuk mencampakkan prinsip-prisip Islam yang paling utama dalam rangka untuk memuluskan ambisi mereka, baik melalui acara ‘kontrak politik’ atau yang semisalnya.1 Bahkan tidak jarang merekapun sanggup untuk berdusta atas nama Ulama Ahlus Sunnah dengan mencuplik fatwa-fatwa para ulama tersebut dan mengaplikasikannya tidak pada tempatnya. Cara ini lebih banyak dipraktekkan oleh kelompok Al-Ikhwanul Muslimun.

Sebagian kelompok lagi beralasan bahwa melalui politik ini akan bisa direalisasikan amar ma’ruf nahi munkar kepada penguasa, yaitu dengan menekan dan memaksa mereka menerapkan hukum syariat Islam dan meninggalkan segala hukum selain hukum Islam.

Walaupun sepintas lalu mereka tampak ‘menghindarkan diri’ untuk terjun langsung ke panggung politik demokrasi seperti halnya kelompok pertama, namun ternyata mereka menerapkan cara-cara Khawarij di dalam melaksanakan aktivitas politiknya. Yaitu melalui berbagai macam orasi politik yang penuh dengan provokasi, atau dengan berbagai aksi demonstrasi dengan menggiring anak muda-mudi sebagaimana digiringnya gerombolan kambing oleh penggembalanya.

Kemudian mereka menamakan tindakan-tindakan tersebut sebagai tindakan kritik dan kontrol serta koreksi terhadap penguasa, atau terkadang mereka mengistilahkannya dengan amar ma’ruf nahi munkar. Yang ternyata tindakan mereka tersebut justru mendatangkan kehinaan bagi kaum muslimin serta ketidakstabilan bagi kehidupan umat Islam, baik sebagai pribadi muslim ataupun sebagai warga negara di banyak negeri. Dengan ini, semakin pupuslah harapan terwujudnya Daulah Islamiyyah. Cara ini lebih banyak dimainkan oleh kelompok Hizbut Tahrir.

Maka Ahlus Sunnah menyatakan kepada mereka, baik kelompok Al-Ikhwanul Muslimun ataupun Hizbut Tahrir serta semua pihak yang menempuh cara mereka, tunjukkan kepada umat ini satu saja Daulah Islamiyyah yang berhasil kalian wujudkan dengan cara yang kalian tempuh sepanjang sejarah kelompok kalian. Di Mesir kalian telah gagal total, bahkan harus ditebus dengan dieksekusinya tokoh-tokoh kalian di tiang gantungan atau ditembak mati, dan semakin suramnya nasib dakwah. Di Al-Jazair pun ternyata juga pupus bahkan berakhir dengan pertumpahan darah dan perpecahan.

Atau mungkin kalian akan menyebut Sudan, sebagai Daulah Islamiyyah yang berhasil kalian dirikan, di mana kalian berhasil dalam Pemilu di negeri tersebut. Namun apa yang terjadi setelah itu…? Wakil Presidennya adalah seorang Nashrani, lebih dari 10 orang menteri di kabinet adalah Nashrani. Atau mungkin kalian menganggap itu sebagai kesuksesan di panggung politik di negeri Sudan, ketika kalian berhasil ‘mengorbitkan’ salah satu pembesar kalian di negeri tersebut dan memegang salah satu tampuk kepemimpinan tertinggi di negeri itu, yaitu Hasan At-Turabi. Apakah orang seperti dia yang kalian banggakan, orang yang berakidah dan berpemikiran sesat?! Simak salah satu ucapan dia: “Aku ingin berkata bahwa dalam lingkup daulah yang satu dan perjanjian yang satu, boleh bagi seorang muslim – sebagaimana boleh pula bagi seorang Nashrani– untuk mengganti agamanya.”2

Kami pun mengatakan kepada kelompok Hizbut Tahrir dengan pernyataan yang sama. Bagaimana Allah akan memberikan keberhasilan kepada kalian sementara kalian menempuh cara-cara Khawarij yang telah dikecam keras oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sekian banyak haditsnya?

Di mana prinsip dan dakwah kalian –wahai Hizbut Tahrir—dibanding manhaj yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menyampaikan nasehat kepada penguasa, sebagaimana hadits beliau, dari shahabat ‘Iyadh bin Ghunm: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِذِي سُلْطَانِ فَلاَ يُبْدِهِ عَلاَنِيَةً، وَلَكِنْ يَأْخُذُ بِيَدِهِ فَيَخْلُو بِهِ، فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ، وَإِلاَّ قَدْ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ

“Barangsiapa yang hendak menasehati seorang penguasa, maka jangan dilakukan secara terang-terangan (di tempat umum atau terbuka dan yang semisalnya, pent). Namun hendaknya dia sampaikan kepadanya secara pribadi, jika ia (penguasa itu) menerima nasehat tersebut maka itulah yang diharapkan, namun jika tidak mau menerimanya maka berarti ia telah menunaikan kewajibannya.” (HR. Ahmad, Ibnu Abi ‘Ashim, Al-Baihaqi. Dishahihkan oleh Al-Imam Al-Albani di dalam Zhilalul Jannah hadits no. 1096)

2. Jenis cara batil yang kedua adalah melalui tindakan atau gerakan kudeta/revolusi terhadap penguasa yang sah, dengan alasan mereka telah kafir karena tidak menerapkan hukum/syariat Islam dalam praktek kenegaraannya. Kelompok pergerakan ini cenderung menamakan tindakan teror dan kudeta yang mereka lakukan dengan nama jihad, yang pada hakekatnya justru tindakan tersebut membuat kabur dan tercemarnya nama harum jihad itu sendiri. Mereka melakukan pengeboman di tempat-tempat umum sehingga tak pelak lagi warga sipil menjadi korban. Bahkan tak jarang di tengah-tengah mereka didapati sebagian umat Islam yang tidak bersalah dan tidak mengerti apa-apa. Cara-cara seperti ini lebih banyak diperankan oleh kelompok-kelompok radikal semacam Jamaah Islamiyyah, demikian juga Usamah bin Laden –salah satu tokoh Khawarij masa kini— dengan Al-Qaeda-nya beserta para pengikutnya dari kalangan pemuda yang tidak memiliki bekal ilmu syar’i dan cenderung melandasi sikapnya di atas emosi. Cara-cara yang mereka lakukan ini merupakan salah satu bentuk pengaruh pemikiran-pemikiran sesat dari tokoh-tokoh mereka, seperti:

a. Abul A’la Al-Maududi, di mana dia menyatakan: “…Mungkin telah jelas bagi anda semua dari tulisan-tulisan dan risalah-risalah kita bahwa tujuan kita yang paling tinggi yang kita perjuangkan adalah: MENGADAKAN GERAKAN PENG-GULINGAN KEPEMIMPINAN. Dan yang saya maksudkan dengan itu adalah untuk membersihkan dunia ini dari kekotoran para pemimpin yang fasiq dan jahat. Dan dengan itu kita bisa menegakkan imamah yang baik dan terbimbing. Itulah usaha dan perjuangan yang bisa menyampaikan ke sana. Itu adalah cara yang lebih berhasil untuk mencapai keridhaan Allah dan mengharapkan wajah-Nya yang mulia di dunia dan akhirat.” (Al-Ususul Akhlaqiyyah lil Harakah Al-Islamiyyah, hal. 16)

Al-Maududi juga berkata: “Kalau seseorang ingin membersihkan bumi ini dan menukar kejahatan dengan kebaikan… tidak cukup bagi mereka hanya dengan berdakwah mengajak manusia kepada kebaikan dan mengagungkan ketakwaan kepada Allah serta menyuruh mereka untuk berakhlak mulia. Tapi mereka harus mengumpulkan beberapa unsur (kekuatan) manusia yang shalih sebanyak mungkin, kemudian dibentuk (sebagai suatu kekuatan) untuk merebut kepemimpinan dunia dari orang-orang yang kini sedang memegangnya dan mengadakan revolusi.” (Al-Ususul Akhlaqiyah lil Harakah Al-Islamiyyah, hal. 17-18)

b. Sayyid Quthb. Pernyataan Sayyid Quthb dalam beberapa karyanya yang mengarahkan dan menggiring umat ini untuk menyikap lingkungan dan masyarakat serta pemerintahan muslim sebagai lingkungan, masyarakat, dan pemerintahan yang kafir dan jahiliyah. Pemikiran ini berujung kepada tindakan kudeta dan penggulingan kekuasaan sebagai bentuk metode penyelesaian problema umat demi terwujudnya Khilafah Islamiyyah.

Metode berpikir seperti tersebut di atas disuarakan pula oleh tokoh-tokoh mereka yang lainnya seperti Sa’id Hawwa, Abdullah ‘Azzam, Salman Al-‘Audah, DR. Safar Al-Hawali, dan lain-lain.3

Buku-buku dan karya-karya mereka telah tersebar luas di negeri ini, yang cukup punya andil besar dalam menggiring para pemuda khususnya untuk berpemikiran radikal serta memilih cara-cara kekerasan untuk mengatasi problematika umat ini dan menggapai angan yang mereka canangkan. Maka wajib bagi semua pihak dari kalangan muslimin untuk berhati-hati dan tidak mengkonsumsi buku fitnah karya tokoh-tokoh Khawarij. Demikian juga buku-buku kelompok Syi’ah Rafidhah yang juga syarat dengan berbagai provokasi kepada umat ini untuk melakukan berbagai aksi dan tindakan teror terhadap penguasa. Mudah-mudahan Allah ‘Azza wa Jalla memberikan taufiq-Nya kepada pemerintah kita agar mereka bisa mencegah peredaran buku-buku sesat dan menyesatkan tersebut di tengah-tengah umat, demi terwujudnya stabilitas keamanan umat Islam di negeri ini.

Khilafah Islamiyyah bukan Tujuan Utama Dakwah para Nabi
Dari penjelasan-penjelasan di atas jelas bagi kita, bahwa banyak dari kalangan aktivis pergerakan-pergerakan Islam yang menyatakan bahwa permasalahan Daulah Islamiyyah merupakan permasalahan yang penting, bahkan terpenting dalam masalah agama dan kehidupan.

Dari situ muncul beberapa pertanyaan besar yang harus diketahui jawabannya oleh setiap muslim, yaitu: Apakah penegakan Daulah Islamiyyah adalah fardhu ‘ain (kewajiban atas setiap pribadi muslim) yang harus dipusatkan atau dikosentrasikan pikiran, waktu, dan tenaga umat ini untuk mewujudkannya?

Kemudian: Benarkah bahwa tujuan utama dakwah para nabi adalah penegakan Daulah Islamiyyah?
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas, mari kita simak penjelasan para ulama besar Islam berikut ini.

Al-Imam Abul Hasan Al-Mawardi berkata di dalam kitabnya Al-Ahkam As-Sulthaniyah:
“…Jika telah pasti tentang wajibnya (penegakan) Al-Imamah (kepeme-rintahan/kepe-mimpinan) maka tingkat kewajibannya adalah fardhu kifa-yah, seperti kewa-jiban jihad dan menuntut ilmu.” Sebelumnya beliau juga berkata: “Al-Imamah ditegakkan sebagai sarana untuk melanjutkan khilafatun nubuwwah dalam rangka menjaga agama dan pengaturan urusan dunia yang penegakannya adalah wajib secara ijma’, bagi pihak yang berwenang dalam urusan tersebut.” (Al-Ahkam As-Sulthaniyah, hal. 5-6)

Imamul Haramain menyatakan bahwa permasalahan Al-Imamah merupakan jenis permasalahan furu’. (Al-Ahkam As-Sulthaniyah, hal. 5-6)

Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali berkata:
“Maka anda melihat pernyataan mereka (para ulama) tentang permasalahan Al-Imamah bahwasanya ia tergolong permasalahan furu’, tidak lebih sebatas wasilah (sarana) yang berfungsi sebagai pelindung terhadap agama dan politik (di) dunia, yang dalil tentang kewajibannya masih diperselisihkan apakah dalil ‘aqli ataukah dalil syar’i…. Bagaimanapun, jenis permasalahan yang seperti ini kondisinya, yang masih diperselisihkan tentang posisi dalil yang mewajibkannya, bagaimana mungkin bisa dikatakan bahwa masalah Al-Imamah ini merupakan puncak tujuan agama yang paling hakiki?”

Demikian jawaban dari pertanyaan pertama.
Adapun jawaban untuk pertanyaan kedua, mari kita simak penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu:

“Sesungguhnya pihak-pihak yang berpendapat bahwa permasalahan Al-Imamah merupakan satu tuntutan yang paling penting dalam hukum Islam dan merupakan permasalahan umat yang paling utama (mulia) adalah suatu kedustaan berdasarkan ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin, baik dari kalangan Ahlus Sunnah maupun dari kalangan Syi’ah (itu sendiri). Bahkan pendapat tersebut terkategorikan sebagai suatu kekufuran, sebab masalah iman kepada Allah dan Rasul-Nya adalah perma-salahan yang jauh lebih penting daripada perma-salahan Al-Imamah. Hal ini merupakan permasalahan yang diketahui secara pasti dalam dienul Islam.” (Minhajus Sunnah An-Nabawiyah, 1/16)

Kemudian beliau melanjutkan:
“…Kalau (seandainya) demikian (yakni kalau seandainya Al-Imamah merupakan tujuan utama dakwah para nabi, pent), maka (mestinya) wajib atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menjelaskan (hal ini) kepada umatnya sepeninggal beliau, sebagaimana beliau telah menjelaskan kepada umat ini tentang permasalahan shalat, shaum (puasa), zakat, haji, dan telah menentukan perkara iman dan tauhid kepada Allah ‘Azza wa Jalla serta iman pada hari akhir. Dan suatu hal yang diketahui bahwa penjelasan tentang Al-Imamah di dalam Al Qur`an dan As Sunnah tidak seperti penjelasan tentang perkara-perkara ushul (prinsip) tersebut… Dan juga tentunya di antara perkara yang diketahui bahwa suatu tuntutan terpenting dalam agama ini, maka penjelasannya di dalam Al Qur`an akan jauh lebih besar dibandingkan masalah-masalah lain. Demikian juga penjelasan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terntang permasalahan (Al-Imamah) tersebut akan lebih diutamakan dibandingkan permasalahan-permasalahan lainnya. Sementara Al Qur`an dipenuhi dengan penyebutan (dalil-dalil) tentang tauhid kepada Allah ‘Azza wa Jalla, nama-nama dan sifat-sifat-Nya, serta tanda-tanda kebesaran-Nya, tentang (iman) kepada para malaikat-Nya, kitab-kitab suci-Nya, para rasul-Nya, dan hari akhir. Dan tentang kisah-kisah (umat terdahulu), tentang perintah dan larangan, hukum-hukum had dan warisan. Sangat berbeda sekali dengan permasalahan Al-Imamah. Bagaimana mungkin Al Qur`an akan dipenuhi dengan selain permasalahan-permasalahan yang penting dan mulia?” (Minhajus Sunnah An-Nabawiyah, 1/16)

Setelah kita membaca penjelasan ilmiah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah di atas, lalu coba kita bandingkan dengan ucapan Al-Maududi, yang menyatakan bahwa:
1. Permasalahan Al-Imamah adalah inti permasalahan dalam kehidupan kemanusiaan dan merupakan pokok dasar dan paling mendasar.
2. Puncak tujuan agama yang paling hakiki adalah penegakan struktur Al-Imamah (kepemerintahan) yang shalihah dan rasyidah.
3. (Permasalahan Al-Imamah) adalah tujuan utama tugas para nabi.

Menanggapi hal itu, Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali hafizhahullah berkata:
“Sesungguhnya permasalahan yang terpenting adalah permasalahan yang dibawa oleh seluruh para nabi –alaihimush shalatu was salaam- yaitu permasalahan tauhid dan iman, sebagaimana telah Allah simpulkan dalam firman-Nya:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِيْ كُلِّ أُمَّةٍ رَسُوْلاً أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوْتَ

“Dan sesungguhnya telah Kami utus pada tiap-tiap umat seorang rasul (dengan tugas menyeru) beribadahlah kalian kepada Allah (saja) dan jauhilah oleh kalian thagut.” (An-Nahl: 36)

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُوْلٍ إِلاَّ نُوْحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنَا فَاعْبُدُوْنِ

“Tidaklah Kami utus sebelummu seorang rasul-pun kecuali pasti kami wahyukan kepadanya: Sesungguhnya tidak ada yang berhak untuk diibadahi kecuali Aku, maka beribadahlah kalian semuanya (hanya) kepada-Ku.” (Al-Anbiya`: 25)

وَلَقَدْ أُوْحَي إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ

“Sungguh telah kami wahyukan kepadamu dan kepada (para nabi) yang sebelummu (bahwa) jika engkau berbuat syirik niscaya akan batal seluruh amalanmu dan niscaya engkau akan termasuk orang-orang yang merugi.” (Az-Zumar: 65)

Inilah permasalahan yang terpenting yang karenanya terjadi permusuhan antara para nabi dengan umat mereka, dan karenanya ditenggelamkan pihak-pihak yang telah ditenggelamkan… Dan sesungguhnya puncak tujuan agama yang paling hakiki dan tujuan penciptaan jin dan manusia, serta tujuan diutusnya para Rasul, dan diturunkannya kitab-kitab suci adalah peribadatan kepada Allah (tauhid), serta pemurnian agama hanya untuk-Nya… Sebagaimana firman Allah:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُيْنِ

“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku.” (Adz-Dzariyat: 56)

الر، كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آيَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِنْ لَدُنْ حَكِيْمٍ خَبِيْرٍ. أَلاَّ تَعْبُدُوا إِلاَّ اللهَ إِنَّنِي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيْرٌ وَبَشِيْرٌ

“Aliif Laam Raa. (Inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci yang diturunkan dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu. Agar kalian tidak beribadah kecuali kepada Allah. Sesungguhnya aku (Muhammad) adalah pemberi peringatan dan pembawa kabar gembira kepadamu daripada-Nya.” (Hud: 1-2)

Demikian tulisan ini kami sajikan sebagai bentuk nasehat bagi seluruh kaum muslimin. Semoga Allah memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada kita semua.

Wallahu a’lam bish-shawab.

1 Untuk lebih jelasnya tentang berbagai sepak terjang mereka yang menyimpang dalam politik, pembaca bisa membaca kitab Madarikun Nazhar fi As-Siyasah karya Asy-Syaikh Abdul Malik Ramadhani; dan kitab Tanwiiruzh Zhulumat bi Kasyfi Mafasidi wa Syubuhati Al-Intikhabaat oleh Asy-Syaikh Abu Nashr Muhammad bin Abdullah Al-Imam.
2 Ucapan ini dinyatakan di Universitas Khurthum, seperti dinukil oleh Ahmad bin Malik dalam Ash-Sharimul Maslul fi Raddi ‘ala At-Turabi Syaatimir Rasul, hal 12.
3 Tiga tokoh terakhir ini yang banyak berpengaruh dan sangat dikagumi oleh seorang teroris muda berasal dari Indonesia, bernama Imam Samudra.

Sumber : http://www.asysyariah.com

Share this :


Facebook
Twitter
More...

Iklan

49 pemikiran pada “Cara-cara Batil Menegakkan Daulah Islamiyah

    1. hasan

      sistem islamlah yang terbaik, umat terpecah maka satu solusi mari bersatu dibawah sistem khilafah, kalau tak dukung maka dukunglah pemerintah thoghut’ semoga thoghut berbaik hati barangkali kita merasa bangga hidup dipimpin oleh thoghut selamanya lebih baik daripada tanpa ada yang memimpin. tapi bagi ana lebih memilih waqofal haq walau kunta wahda drpd dipimpin thoghut.

  1. Abu Faris

    Assalaamu’alaikum,
    Ustadz, setelah artikel ini ana forward ke beberapa ikhwan kemudian muncul pertanyaan ini, tolong dijelaskan ustadz. Jazakumullahu khairan katsira!
    ………………

    1. saya heran dan aneh terasa oleh saya, bapak mengatakan ikut dalam politik adalah bathil karena ikut dalam cara – cara kafir, tetapi setelah terjadi pemilihan siapapun pemenangnya dan jadi pemimpin tertinggi negeri ini bapak katakan adalah bathil memberontak kepada penguasa, saya benar benar heran, caranya bapak katakan bathil tapi hasilnya dikatakan haq ( kt haq ini dari saya, karena tiada kata setelah bathil kecuali haq )

    2. apakah bapak jujur mengatakan ini semua ? apakah bapak pernah merenung tentang cara – cara bapak mengatakan( da’wah ) selama ini, apakah tidak terbersit dalam hati bapak meski hanya 0.0001 micron saja, kemungkinan cara da’wah ini salah ?. karena tidak ada kata setelah kata kejujuran kecuali kebohongan.

    3. cara apa yang bapak tawarkan dalam menegakan daulah islamiyah ?

    4. apa maknanya atau hikmahnya bagi penegakan kepemimpinan islam contoh dari para sahabat nabi yang mengangkat dulu kholifah dibanding memakamkan jenazah Rosululloh ?

    1. Sebelum ana jawab ana ingin memberi tahu bahwa ana bukan ustadz tapi hanya penuntut ilmu

      1. Bagaimana jika saya balik bertanya kalau seandainya pemimpin negeri ini di kudeta dan pemimpin kudetanya menjadi penguasa negeri ini apakah kita harus melawannya? sudahkah anda memperhitungkan berapa banyak nyawa kaum muslimin yg akan hilang?

      Intinya adalah bagaimanapun caranya seorang pemimpin mendapatkan kekuasaannya baik dengan cara yg haq maupun yg batil kita harus tetap taat dan bersabar. Karena dengan ketaatan dapat mencegah tertumpahnya darah kaum muslimin padahal darah dan kehormatan kaum muslimin lebih suci daripada sucinya hari arafah dan sucinya kota mekah.

      Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan dlm hadits shahih yg diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim saat Haji Wada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

      فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا، فِي شَهْرِكُمْ هَذَا، فِي بَلَدِكُمْ هَذَا إلَى يَوْمِ تَلْقَوْنَ رَبَّكُمْ

      “Sungguh darah harta dan kehormatan kalian adl suci seperti suci hari ini seperti suci bulan ini dan seperti suci negeri ini hingga hari kalian bertemu Rabb kalian.”

      2. Saya tidak paham dengan pertanyaan anda apakah anda ingin mengatakan bahwa Al Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman salaf (dakwah salafiyah) ada kesalahan walupun hanya 0,0001 micron?

      3. Tentu saja dengan Tauhid dan Ilmu memangnya anda kira bagaimana caranya Rasulallah dan sahabatnya dapat menegakkan daulah islamiyah.

      4. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menukilkan sebuah riwayat dalam buku as-Siyasah asy- Syar’iy-yahnya:

      سِتُّوْنَ سَنَةٍ مَعَ إِمَامٍ جَائِرٍ أَصْلَحُ مِنْ لَيْلَةٍ وَاحِدَةٍ بِلاَ سُلْطَانٍ.

      “Enam puluh tahun dibawah penguasa yang jahat lebih baik dari pada sehari tanpa pemerintahan”

      Para sahabat paling paham tentang hal ini, karena akan banyak terjadi kekacauan dan mudharat bahkan darah tertumpah bila sehari tanpa seorang pemimpin. Karena itulah kepemimpinan lebih didahulukan daripada memandikan jenazah Rasulallah.

      1. zuan R&R

        assalamualaikum.wr.wb. daripada antum menulis artikel ini, lebih baik antum ngaji dulu di hizbut-tahrir. baru silahkan menulis lagi. ok brow, doakan saya untuk keep istiqomah memperjuangkan islam kaffah

      2. Untuk apa saya ngaji ama hizbut tahrir sedangkan mereka sendiri menghalalkan segala cara untuk menegakkan daulah islamiyah termasuk mengikuti demokrasi yg sudah jelas kebatilannya.

      3. armansyahdi

        Assalamu’alaikum wr wb.
        Abu Ustman Zain. Coba tolong jelaskan kpd ana segala cara yg dihalalkan oleh saudara kita Hizbut Tahrir(HT) untuk menegakkan Khilafah Islamiyah!!dan jelaskan juga pernyataan antum yg mengatakan HT mengikuti demokrasi yg sudah jelas kebatilannya,krn mnurut spengetahuan ana justru mereka menoolak dengan tegas Demokrasi dan mengatakan Demokrasi sebagai sistem kufur..(jelaskan jg sumbernya)

      4. kastolani

        Assalamu’alaikum, ikhwanul kiram,
        Kita harus ingat dan sadar bahwa kemuliaan Islam telah dirasakan oleh umat selama 14 abad pada saat Al-Qur’an dan Assunnah diterapkan sebagai aturan berbangsa dan bermasyarakat dalam bingakai daulah Islam meskipun para pemimpinnya (Imam/khalifah) ada juga yang berlaku sewenang-wenang, karena daulah Islam adalah daulah basyariah (daulahnya manusia yang bisa saja salah/khilaf). Namun yang menjadi point di sini adalah daulah Islamnya tetap berdiri tegak dengan diterapkannya aturan-aturan Allah swt (Al-Qur’an dan Assunnah) sebagai hukum tertinggi di dalam mengatur kehidupan rakyat dan negaranya. Hadist-hadist tentang para pemimpin, kalau kita cermati tentunya berhubungan dengan satu negara yang di dalamnya diterapkan hukum-hukum Allah swt.bukan negara yang sebaliknya. Kalau kita baca, banyak hadist-hadist tentang Imamah/Khalifah dan bai’at dan tidak ada satupun hadits tentang kepemimpinan seperti dewasa ini dalam sistem demokrasi yang menjadikan manusia sebagai pembuat hukum/aturan (kedaulatan di tangan manusia bukan di tangan Allah swt sebagai pencipta manusia).
        Wasalamu’alaikum

  2. Khalid Ramdhan

    Assalamualaykum. Sy cm mw tanya lebih baik mana pemerintahan yg diisi oleh org yg tidak mengeri islam dng org2 yg paham islam. Menurut saya org2 yg tdk mengerti islam tsb akan memerintah sesuai hawa nafsunya sendiri krn setelah sering medengarkan berita banyak orang2 di pemerintahan yg tidak setuju dng undang2 yg jelas2 baik seperti uu pornografi, membolehkan perjudian, tidak setujud ng kode etik yg tidak membolehkan anggota dewan ke t4 portitusi. Untung saja di pemerintahan msh ada org2 yg memperjuangkan syariat islam, bgm klo tdk. Dan apakah salah jika demokrasi hanya sbg wasilah saja bukan tujuan utama utk mendirikan daulah islamiyah?? Dan lbh baik mana negara islam yg sekuler dng negara demokrasi yg menjunjung syariat islam?? Jazakallah

      1. Batil menurut siapa ya?batil disini masalah yg disepakati atau diperdebatkan?jangan2 yang nulis ini berpaham kalau gak begini pasti salah!yang beda sama penulis masuk neraka!ini pemahaman yang sangat berbahaya…

      2. achmad

        pemimpin itukan lahir dari rakyat…. jadi kalo rakyatnya dzholim jangan salahin pemimpinnya dzholim, jadi kalo ente mau pemimpin yang adil yang islami, ente pupukin dulu rakyat nya dengan ilmu dan amal sholeh, sebagaimana ketika khalifah Ali bin Abi tholib ditanya oleh rakyatnya, kurang lebih demikian : “wahai Ali mengapa setelah anda menjadi khalifah banyak pembrontakan dimana-mana tapi ketika Abu Bakar, Umar yang menjadi Khalifah tidak ada satupun pembrontakan? lalu Ali bin Abi Tholib menjawab ” ketika Abu Bakar, Umar menjadi Khalifah maka yang menjadi rakyatnya adalah aku dan orang2 semacamku, sedangkan sekarang aku menjadi khalifah maka rakyatnya kamu dan orang2 semacam mu

  3. afwan.. kayakya antum gak paham dengan hizb klo antu berpendapat kami menghalalkan demokrasi,. yang ada kami mengharamkan utk membenarkan demokrasi,. seperti yg antum katakan demokrasi adalsh sistem kufur,.

    tidak sedikit pun dalam hati kami yg di hizb membenarkan demokrasi apalgi menerapkan demokrasi,…..

    ana sarankan terimah aja tawaran di ata,. ngaji dulu, baru nulis lagi,. alx antu gak paham sama sekali,. alias antum hanya dengar tapi gak pernah cicipih,. antum hanya liat warna kopi tapi sekalipun antuk gak pernah meminumnya

    1. armand

      hei syamsul….. nih ada omongan dari pentolan ente….
      Muhammad Ismail Yusanto, juru bicara HTI dalam konferensi pers di Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Rabu (29/6/2011) “Hizbut Tahrir itu partai politik Islam. Sejak dulu kami memang parpol kok,” nah mau ngemeng apa ente…

  4. armand

    @ buat saudara samsul muh, saya tertantang dengan ucapan anda lalu cari sumber & membacanya eh ternyata HT mengarang Kitab At-Takattul al-H izbî (Politik Partai: Strategi Partai Politik Islam) nah disitu ketahuan bahwa kalian juga berdemokrasi dengan membentuk partai.

    saya ngaji di HT selama 2 tahun… tapi saya keluar setelah Abdurarahman Al Baghdadi (pemuka Hizbut Tahrir di Bogor) berkata : “Sesungguhnya mengambil khabar ahad dalam masalah aqidah sama artinya telah mengambil dzan dan telah memperturutkan hawa nafsu. Tentunya, hal semacam ini adalah perbuatan haram. Mengambil khabar ahad dalam masalah aqidah sama artinya dengan membangun aqidah di atas szan. Iman yang dibangun di atas dzan tentu di dalamnya akan dipenuhi oleh keraguan dan kontradiksi. Padahal ini adalah sebuah kekufuran..”
    “Akhir kata, kegigihan untuk tetap mengambil khabar ahad dalam masalah aqidah, serta terus komitmen pada pendapat tersebut merupakan sikap kepala batu”.

    ya ALLAH, sesatlah golongan orang yang menolak hadits ahad karena banyak tata cara sholat kita ada dalam hadits ahad….berarti HT telah masuk dalam golongan Mu’tazilah

  5. yogi

    antum bilang : “Tentu saja dengan Tauhid dan Ilmu memangnya anda kira bagaimana caranya Rasulallah dan sahabatnya dapat menegakkan daulah islamiyah”

    Apa kalo antum berhukum pada hukum thagut dan hidup dalam demokrasi bikinan orang kafir masih bilang Tauhid??
    Apakah penegakan tauhid itu berarti tanpa perang dan pertumpahan darah dan pengorbanan samasekali? hanya duduk omong2 tauhid sementara saudara2 muslim kita dizhalimi antum diam aja malah menuduh mereka dengan khawarij dsb.., sistemnya bathil antum bilang bisa dibenarkan dengan ama ilmu trus ilmu apa yang antum ajarkan untuk khilafah ini?

    Mohon penjelasan..

  6. rois

    semoga ikhwanul muslimin di Indonesia terus berjuang dan akhirnya memegang tampuk kekuasaan, sehingga nanti akan ditaati oleh orang-orang salafi…mantaaabb

    1. achmad

      ya ampun….. bapak/mas rois, ente komentarnya kok hizbi banget, ente emang ga tau artinya salaf ya…. capek deh….ilmu belom nyampe kok pengen negakin daulah islamiyah….. saya jadi khawatir jangan2 kalo daulah tegak ente duluan yg dipenggal sama ulil amri gara2 jahil dalam ilmu syariat

      1. ridho

        Yang antum maksud salaf itu siapa?.Mas… Kewajiban sholat itu dah jelas. dinegeri ini, hukum bagi yang tidak sholat itu yang tidak jelas…? Padahal dalam islam itu udah jelas. Lantas apakah kita mau membiarkan ini? Kita mungkin tunduk dan khusyu’ pada saat kita sholat 20 menit, tapi diluar sholat (22 jam), dengan durasi waktu yang lebih lama ternyata aturan Allah dihinakan, Riba merajalela, Penguasa tunduk pada hukum kufur, aurat terbuka di sana-sini. Apa yang kita tunggu? Apakah menunggu azab Allah yang tidak hanya menimpa orang-orang yang dzalim diantara kita?

      2. Perhatikan hadits berikut ini

        Rosululloh bersabda dalam hadits Hudzaifah bin al-Yaman a: “Akan ada sepeninggalku nanti para pemimpin, mereka tidak memakai petunjukku, tidak pula sunnahku, dan akan ada nanti di antara mereka sekelompok orang yang berhati setan namun bertubuh manusia.” Hudzaifah bertanya: “Wahai Rosululloh, bagaimanakah sikapku bila aku jumpai hari itu?” Rosululloh menjawab: “Taatilah amir (pemimpin) walau punggungmu dipukul, hartamu diambil, maka tetap taatlah.” (HR. Muslim: 1847)

        Ikutilah syariat ini jika memang ente benar-benar mengikuti syariat islam kecuali jika enta adalah seorang pendusta

  7. jibran

    saya salut anda menerangkn tauhid dengan jelas..
    yang saya tanyakan apa itu toghut? klo ilmu aqidah anda sudah benar
    bagaimana menurut anda perjuangan ibnutaimiah melawan tar-tar?
    bagai mana menurut anda status ketaatan kpda pemimpn negara yang bukan bersyari’at islam?
    apakah anda ada keinginan untuk merubah negri yg bersetatus demokrasi dengan syari’at islam? dengan cara apa?
    apakah demokrasi sebuah kesyirikan?

  8. Andy

    biarlah waktu yg akan membuktikan, kita lihat sj siapa sebenarnya yg menjadi pejuang syariah dan khilafah…..kalo salafi ditanya bgmn realnya menegakkan khilafah islamiyah, pastilah mrk tdk tau krn bukan “bidangnya/ahlinya”…bagi yg mau diskusi secara langsung ttg khilafah silahkan call sy, insya Allah di semua kota akan kita layani

  9. ridho

    Demonstrasi bukan ciri khas demokrasi… Masyiroh dilakukan Rasulullah sambil mengelilingi ka’bah.. Janganlah disamakan babi dengan unta meski sama-sama berkaki empat.

  10. @aulia afwan ana ga bisa menampilkan komentar ente karena terlalu panjang

    Tanggapan saya : Khilafah tidak akan terwujud jika seluruh atau sebagian besar penduduk suatu negeri tidak diatas satu manhaj yaitu manhajnya para sahabat radhiallahu ‘anhum (Manhaj Salaf)

    Membangun khilafah tanpa persatuan itu adalah sesuatu hal yg mustahil.

    1. khilafah=persatuan umat islam
      tp perjuangan salafi utk khilafah mana??
      perjuangan mereka kan mengkafirkan dan membid’ahkan kelompok lain, ini adalah seruan BERCERAI-BERAI. Dan sejarah telah mencatat bahwa yang memberontak kepada khilafah adalah WAHABI+ibnu Su’ud(dulu)=SALAFI(sekarang=reinkarnasi wahabi)

  11. sikap menyalahkan semua orang inilah kesalahan dari “salafi”..
    harusnya kita ber”fastabiqulkhairat” atas perbedaan jalur yang ditempuh.
    jika salafi berpendapat masalah bidah dan iman dulu yg harus diluruskan ya tafaddhal
    ada jamaah tabligh yng mementingkan semua orang yang penting shalat dulu, tafaddhal..
    adalagi yang harus menegakkan khilafah, tafaddhal..
    karena menurut saya smua itu penting untuk dilakukan.

      1. tidah usah mengingkari fakta akhi sirotolmustaqim, itu malah menunjukkan antm tdk faham lebih baik antm cross check kebenarannya. dan yang terbaru Partai Salafi mesir (HIZB AN NUR) malah mengatakan bahwa pinjaman IMF tdk HARAM!!

  12. royhan

    ehm…
    Pemimpin/Penguasa/Pemerintah yang sah tu yang bagaimana?
    apa yang dipilih dan diangkat dg cara syaithon bisa dianggap sah, ampe2 ga boleh diobok2? atau …????

  13. ADJI

    baru nyimak…hhe, to sirotholmustaqim
    1. ibnu taimiyah “Enam puluh tahun dibawah penguasa yang jahat lebih baik dari pada sehari tanpa pemerintahan”
    tidak ada yg salah dlm perkataan beliau karena yg di maksud adalah pemerintahan islam sekalipun kholifahnya berbuat dzolim,beda halnya kl pemerintahannya bukan daulah islamiyah maka harus DIGANTI

    1. Orang-orang seperti kalian ini memang sama sekali tidak menghargai nyawa kaum muslimin

      Kalo kalian menginginkan daulah islamiyah yg pertama harus dirubah bukan pemimpinnya tapi rubahlah diri kalian sendiri. Kalo senandainya semua orang di negeri ini sibuk untuk menyelamatkan dirinya dari api neraka pasti negeri ini akan aman dan akan tegak daulah islamiyah.

  14. bara

    1. Rasulullah lakukan selain dakwah sir adalah mencari tempat aman agar dpt menyebarkan islam lbh baik. Maka terpilihlah Madinah
    2. ……. Rosululloh menjawab: “Taatilah amir (pemimpin) walau punggungmu dipukul, hartamu diambil, maka tetap taatlah.” (HR. Muslim: 1847) amir di dlm hadits trsebut adalah kholifal islam, bukan pemerintahan dengan UU kufur. begitu jga perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah

    سِتُّوْنَ سَنَةٍ مَعَ إِمَامٍ جَائِرٍ أَصْلَحُ مِنْ لَيْلَةٍ وَاحِدَةٍ بِلاَ سُلْطَانٍ.

    “Enam puluh tahun dibawah penguasa yang jahat lebih baik dari pada sehari tanpa pemerintahan” karena beliau pada masa kholifah yang dholim bukan pemerintah dengan UU kufur. karena kolifah dholim masih berhukum Al-Qur’an dan Assunnah dan memerintahkan untuk berjihad.
    3. Rasulullah dapat merubah bangsa arab menjadi yang kuat. karena Rasullah sebagai contoh / suri tauladan. Kesimpulannya : jika pemimpin kacau maka rakyat kacau, begitu pun sebalilknya.
    4. menjelekkan muslim yang lain dan merasa lebih baik maka yg terjadi dia tdk akan menerima pendapat yang lain walaupun benar. ini akan merusak hubungan antar muslim.
    5. Salafi memang bagus dr segi ilmu (bagik fiqh maupun aqidah) tp ada satu cacat : dalam hal Al-wala wal Bara’
    5. tidak mungkin Rasulullah menyuruh sahabatnya berjihad jik pertimbangannya darah sahabat/kaum muslimin dr pada perluasan Islam. tdk mungkin Rasulullah berjihad jk bukan karena kaum kafir yang melakukan menindasan. Sepertinya salafi takut mati dan lbh baik duduk dan dakwah dengan mencela muslim yg lain drpada membela kaum muslimin yg tertindas. Salafi ternyata benci terhadap kaum muslimin dan cinta dan taat terhadap penguasa kufur. Semoga kita tdk termasuk kedalamnya.

    1. 1. Dakwah sir??? dakwah jahr kali akan tetapi Rasulullah hijrah ke madinah karena beliau akan di bunuh oleh orang quraisy

      2. Sudah ada bantahannya

      https://shirotholmustaqim.wordpress.com/2013/09/13/benarkah-kewajiban-taat-hanya-kepada-pemerintah-yang-adil-saja/

      3. Kesimpulan ente adalah kesimpulan yang batil tanpa dalil

      Sesungguhnya pemimpin adalah cermin dari rakyatnya.

      Seolah telah menjadi sunatullah, bahwa pemimpin yang ditunjuk untuk mengatur suatu rakyat, sifatnya tidak jauh dari rakyatnya. Karena pada awalnya setiap pemimpin adalah rakyat, yang kemudian dia ditunjuk untuk mengurusi msyarakatnya.

      Oleh karena itu, jika kita berharap ingin memiliki pemimpin yang baik, jadilah rakyat yang baik. Sebaliknya, ketika umumnya rakyat adalah masyarakat yang dzalim hampir bisa dipastikan, pemimpinnya tidak jauh dari sifat itu.

      Allah berfirman:

      وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

      “Demikianlah kami jadikan sebagaian orang zalim sebagai pemimpin bagi orang zalim yang lain, disebabkan perbuatan maksiat yang telah mereka lakukan.” (QS. Al-An’am: 129).

      Mari kita perhatikan, sebab utama Allah menunjuk orang dzalim sebagai pemimpin adalah perbuatan maksiat yang pernah dilakukan oleh rakyatnya. Karena sejatinya, perbuatan maksiat termasuk bentuk kedzaliman.

      Mana yang benar kesimpulan ente atau firman Allah

      4. Kami tidak pernah merasa lebih baik karena kami beragama bukan dengan PERASAAN akan tetapi kami hanya bersikap ilmiyah

      5. Al Wala wal Bara’ menurut siapa? menurut ulama ahlus sunnah atau ahlul bid’ah kalo menurut ulama ahlus sunnah silahkan baca buku Al Wara wal Bara’ karya Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan

      https://shirotholmustaqim.wordpress.com/download-e-book-karya-ulama-ulama-lainnya/download-e-book-karya-syaikh-shalih-bin-fauzan-al-fauzan/

      6. Silahkan baca https://shirotholmustaqim.wordpress.com/2010/09/30/jihad-harus-didasari-ilmu/

      Sudahlah ente jangan bermimpi di siang bolong untuk mendirikan khilafah di negeri ini tanpa menegakkan tauhid

  15. bara

    afwan bro…dakwah jahr itu beliau lakukan ketika kaum muslimin sudah kuat…sebelumnya beliau lakukan dakwah dengan sembunyi2.
    Siapa yang ingin mendirikan khilafah di Indonesia bro? kami cuma ingin ada khalifah kaum muslimin seluruh dunia bro..seperti dulu…karena khilafah & UU Islamlah yang siap menjamin harta, darah kaum muslimin. g kaya sekarang darah kaum muslimin sudah tak berharga dibatai oleh orang kafir (Yahudi, Nasrani & Syi’ah) tp kita diam saja…apalagi cuma dakwah ngomongin golongan. ini salah .. itu salah.
    kurasa cukup…sepertinya kita tak bs bersatu walaupun sama2 muslim…satu Ilah..satu Rasul..satu Kitab + syahadat kita sama bro. Semoga pendapat ente bener bro…selamat berjuang…selamat berdakwah…moga rakyat jd pada insyaf dngn dakwah antum n orang kafir g ngebantai n memerangi kaum muslimin di belahan dunia ini. (Walaupun tak mungkin)
    Allah SWT berfirman, yang artinya : Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. (Q.S Al-Baqarah : 120).

  16. karena ketiadaan khilafah, umat islam di berbagai belahan dunia di bantai tak berdaya. penghalang penegakkan khilafah adalah mereka yang berbicara islam namun tak memberi solusi agar umat islam terjaga dari pembantaian. kita semua perlu ingat, selama tidak ada khilafah, jangan pernah menghayal kaum muslimin takkan lagi mengalami pembantaian. pejuang khilafah itu mereka yang perduli dengan keadaan umat, bagi mereka yang hanya fokus ceramahkan aqidah itu mereka yang berharap agar diri selamat. jadi tidak ada urusannya dengan umat. mereka fikir bisa masuk surga hanya dakwahkan tauhid pada umat, sementara orang2 terdahulu harus terpenggal dulu leher mareka karena perjuangkan syariat. tauhid itu memang penting, karena ia landasan dalam setiap perbuatan. untuk apa pertuhankan Allah, namun taati pembuat aturan yang tak di sukai-Nya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s