Najisnya Dosa-dosa dan Maksiat

Adapun najisnya dosa-dosa dan maksiat maka ia adalah dari sisi lain, sebab keduanya tidak mengharuskan adanya pelecehan terhadap Rububiyah, juga tidak purbasangka buruk kepada Allah. Karena itu, Allah tidak memberikan siksa dan hukuman sebagaimana yang diberikan kepada perbuatan syirik. Dan syariat menetapkan bahwa najis mukhaffafah (yang ringan) dimaafkan, seperti najis yang masih tertinggal di bagian bawah karena cebok dengan batu. 1) Demikian pula dengan bagian bawah dari khuf dan sepatu, 2) atau kencing bayi yang masih menyusu, 3) dan lainnya selama tidak merupakan najis mughallazhah. Demikian pula dengan dosa-dosa kecil, ia dimaafkan selama tidak termasuk dosa-dosa besar. Dan para ahli tauhid yang tidak mencampurinya dengan syirik dimaafkan dosa-dosanya, yang hal itu tidak berlaku untuk selain mereka.

Seandainya seorang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun bertemu Allah dengan membawa dosa-dosa sepenuh bumi, niscaya Allah akan memberinya ampunan sepenuh bumi pula, 4) dan itu tidak akan didapatkan oleh orang yang tauhidnya kurang serta bercampur dengan syirik. Sebab tauhid yang murni, yang tidak bercampur dengan syirik, tidak akan membawa dosa. Karena ia mengandung kecintaan kepada Allah, pemuliaan, pengagungan, takut dan berharap hanya kepada-Nya yang hal itu mengharuskan dibasuhnya dosa, bahkan meskipun dosa itu sepenuh bumi. Najisnya itu adalah datang kemudian, sedangkan yang menolaknya begitu kuat, sehingga ia tak akan tetap bersamanya.

Adapun najisnya zina dan homosexual maka adalah lebih berat dari najis-najis yang lain. Karena ia merusak hati dan merupakan faktor yang sangat melemahkan tauhid. Oleh sebab itu, orang yang paling banyak memiliki najis jenis ini adalah orang yang paling banyak syiriknya. Dan semakin banyak syirik pada diri seorang hamba maka semakin banyak pula najis dan kekejian jenis ini pada dirinya. Sebaliknya, semakin besar keikhlasan pada diri hamba, maka semakin jauh najis dan kekejian jenis itu pada dirinya, sebagaimana firman Allah tentang Yusuf Ash-Shiddiq Alaihis-Salam,

“Demikianlah agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang ikhlas.” (Yusuf: 24).

Kecintaan yang dalam Cisyq) terhadap gambar-gambar yang diharamkan adalah salah satu bentuk penyembahan padanya, bahkan ia merupakan bentuk penyembahan yang paling tinggi, apalagi jika hal itu menguasai dan menghunjam kuat di hati, ia akan menjadi tatayyum (penyembahan). Sehingga seorang ‘asyiq (pecintayang membara) akan menjadi penyembah apa yang dicintainya. Dan banyak terjadi ia terkalahkan oleh kecintaan, ingatan dan kerinduannya, terkalahkan oleh usaha untuk mendapatkan keridhaannya. Ia mengutamakan kecintaannya pada sesuatu itu daripada kecintaannya kepada Allah, dzikir dan mencari keridhaan-Nya.

Bahkan kebanyakan segenap hatinya terbawa bersama apa yang dicintainya itu, menjadilah ia senantiasa bergantung dengan yang dicintainya, yang terdiri dari gambar-gambar, sebagaimana yang banyak terjadi, dan jadilah apa yang dicintainya itu (al-ma’syuq) sebagai tuhannya selain Allah. Ia mendahulukan keridhaan dan kecintaan al-ma’syuq daripada ridha dan kecintaan Allah. Ia mendekatkan diri padanya dan tidak mendekatkan diri kepada Allah, mengeluarkan harta demi keridhaannya dan tidak mengeluarkan harta demi keridhaan Allah, ia menjauhkan diri dari murkanya dan tidak menjauhkan diri dari murka Allah, maka menjadilah al-ma’syuq itu lebih utama di sisinya daripada Tuhannya, baik dalam kecintaan, merendahkan diri, kehinaan, mendengar dan mentaati.

Karena itu al-‘isyq (kecintaan yang sangat) dan asy-syirk (menyekutukan Allah) adalah senantiasa bersamaan, sehingga Allah mencontohkan kecintaan orang-orang musyrik dari kaum Luth dan juga istri Al-Azis (raja) yang waktu itu masih musyrik. Maka, ketika syirik seorang hamba kuat, ia akan ditimpa dengan kecintaan kepada gambar-gambar, dan ketika kuat tauhid hamba, maka ia akan dipalingkan daripadanya.

Adapun zina dan homosexual, maka kesempurnaan kenikmatannya adalah dengan cinta, dan orang yang melakukan keduanya tak akan lepas daripadanya. Hanya saja, karena ia senantiasa berganti-ganti pasangan, maka kecintaannya tidak saja terpaku pada seorang saja, tetapi ia terbagi-bagi pada banyak orang, dan setiap yang dicintainya mendapatkan bagian dari penyembahannya.

Dari sinilah, sehingga tidak ada dosa yang lebih merusak hati dan agama daripada dua kekejian tersebut, apatah lagi keduanya memiliki kiat khusus sehingga bisa menjauhkan hati daripada Allah. Keduanya adalah sungguh-sungguh dosa yang paling keji. Dan jika hati telah tercelup dan terwarnai dengannya, ia akan jauh dari kebaikan apa pun, dan tidak akan lari daripadanya kecuali sesuatu yang baik. Semakin bertambah kekejiannya, maka semakin jauh pula dirinya dari Allah.

Dan orang musyrik membenci orang-orang yang bertauhid dengan melepaskan dirinya sama sekali dari tauhid, bahkan ia tidak mencampur sedikit pun syiriknya dengan tauhid. Demikian pula dengan ahli bid’ah, ia membenci orang-orang yang melakukan Sunnah dengan melepaskan dirinya sama sekali dari mengikuti rasul. Dan ia tidak mencampurnya sedikit pun dengan pendapat-pendapat manusia, 5) bahkan tidak dengan sesuatu yang bertentangan dengannya. Tetapi kesabaran para ahli tauhid yang mengikuti rasul atas berbagai kebencian ahli syirik dan bid’ah kepada mereka sungguh lebih baik, lebih bermanfaat dan lebih ringan daripada kesabaran terhadap kebencian Allah dan Rasul-Nya atas dirinya karena menyepakati ahli syirik dan ahli bid’ah.

“Jika tak ada lagi atas hal apa bersabar maka bersabarlah atas kebenaran, karena itulah kesabaran yang terpuji pada akhirnya.”

Ighatsatul Lahfan – Ibnul Qoyyim Al Jauziyah

1) Imam Al-Bukhari meriwayatkan (156), Muslim (262) dari Ibnu Mas’ud, “Bahwasanya Nabi Shallallahu Alaihi via Sallam cebok dengan tiga batu, dan beliau melarang mereka cebok dengan batu yang kurang dari itu.” Seperti ini akan meninggalkan sedikit kotoran, tetapi hal itu dimaafkan.
2) Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Jika salah seorang dari kamu menginjak kotoran, maka sungguh debu (tanah berikutnya) merupakan penyuci baginya.” (Hadits riwayat Abu Daud (386), Ibnu Khuzaimah (292), Al-Baihaqi (2/430) dan lainnya dari Aisyah dengan sanad shahih). Dan dalam hal tersebut, tentu juga masih meninggalkan bekas.
3) Dikeluarkan oleh Al-Bukhari (223), Muslim (287) dari Ummu Qais binti Mihshan, “Bahwasanya ia datang kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan bayi laki-lakinya yang belum makan makanan, lalu dia meletakkannya di pangkuan beliau, kemudian bayi itu mengompol, dan beliau tidak lebih dari memerciki-(nya) dengan air.”
4) Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Tirmidzi (3534) dari Anas. Dan dalam sanadnya terdapat sedikit kelemahan. Tetapi ia memiliki jalur lain yang saya muat dalam Mausu’atul Ahadits Al-Qudsiyyah (Q.88), dan ia adalah shahih.
5) Karena itu Anda lihat mereka mendengki para ahli tauhid, serta menjauhi mereka. Bahkan di antara mereka ada yang memperingatkan kaum Muslimin dari pengaruh para ahli tauhid, dikarenakan kedengkian dan iri hati mereka.

Share this :


Facebook
Twitter
More...

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s