Buah Merenungi Al Qur’an (Bag 2)

Allah Ta’ala menyambung organ-organ dan bagian-bagian itu dengan tali-tali, pengikatnya, lalu menjadikannya seperti senar yang menahan dan menjaganya. Jumlah tali-tali itu mencapai lima ratus dua puluh sembilan tali yang berbeda besar kecilnya, panjang pendeknya, dan lurus bengkoknya—sesuai dengan perbedaan tempatnya. Dia menjadikan dua puluh empat tali sebagai alat untuk menggerakkan membuka dan menutup mata. Satu saja tali terputus, maka mata tidak norma Demikianlah, setiap organ punya tali-tali yang berfungsi sebagai alat untuk bergerat Semua itu adalah aturan Tuhan Yang Maha Mulia, takdir Tuhan Yang Maha Tahu da Maha Kuasa atas setetes air yang hina. Orang yang mendustakan dan ingkar pasl akan celaka.

Di antara sekian keajaiban ciptaan-Nya, Dia menjadikan kepala memiliki tiga bilik yang tembus satu sama lain: satu di depan, satu di tengah, dan satu di belakang Di bilik-bilik itulah Dia meletakkan proses zikir dan berpikir yang merupakan rahasia Nya.

Juga organ-organ dalam yang tidak terlihat; seperti jantung, hati, limpa, paru- paru, usus, kandung kemih, dan alat-alat di dalam perutnya yang menakjubkan dengan fungsinya yang berbeda-beda. Itu semua termasuk keajaiban ciptaan-Nya. Hati (1) adalah raja yang mengatur dan mengomandoi semua organ tubuh. Dia dikelilingi dan dibantu oleh organ-organ itu dan berada di tengah. la adalah organ tubuh paling mulia. la adalah inti kehidupan, sumber ruh hewani dan insting. la adalah sumber akal, ilmu, keberanian, kedermawanan, santun, sabar, cinta, kehendak, ridha, amarah dan sifat-sifat terpuji lainnya. Jadi, semua organ, baik lahir maupun batin, sekedar tentara hati. Mata sebagai tentara barisan depan yang memberitahukan kepadanya hal-hal yang terlihat. Bila melihat sesuatu, mata menyampaikannya kepada hati Dan karena eratnya hubungan antara mata dan hati ini,. maka bila ada sesuatu yang tersimpan di hati akan tampak di mata. Jadi mata adalah cermin hati yang mengungkapkan isi hati kepada orang yang memandangnya. Sedang lidah adalah juru bicara yang mengungkapkan isi hati ke telinga orang lain. Oleh karena itu, seringkali Allah Ta’ala menghubungkan ketiga organ ini dalam kitab-Nya, seperti dalam ayat-ayat,

“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimininta pertanggungjawabannya.” (al-lsraa: 36)

“Dan Kami telah memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan, dan haf/.”(al-Ahqaaf: 26)

“Mereka tuli, bisu, dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar). (al-Baqarah: 18)

Begitu pula Dia menghubungkan antara hati dan mata seperti firman-Nya,

“Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka.” (al-An’aam: 110)

Firman-Nya tentang Nabi saw.,

“Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya.” (an-Najm: 11)

Lalu Dia berfirman,

“Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya.” (an-Najm: 17)

Adapun telinga adalah utusan hati yang menyampaikan (berita) kepadanya. Jadi intinya, semua organ adalah pembantu dan tentara hati. Nabi saw. bersabda,

“Ketahuilah bahwa dijasadada segumpal daging. Bila baik, maka seluruh organ yang lain akan baik. Bila rusak, maka yang lain juga rusak. la adalah hati.”(HR Bukhari)

Abu Hurairah r.a. pernah berkata, “Hati adalah raja, dan organ yang lain adalah tentaranya. Bila rajanya baik, tentaranya baik. Bila buruk, maka tentaranya buruk juga.”

Paru-paru dijadikan sebagai kipas jantung (2) yang membuatnya selalu segar, karena jantung adalah organ yang paling panas, bahkan sumber panas. Adapun otak, tabiatnya dingin. Mereka berselisih pandang soal hikmahnya. Ada yang mengatakan, otak dibuat dingin untuk mendinginkan panas yang ada di jantung agar kembali ke suhu yang normal. Sebagian menolak pendapat ini. Mereka mengatakan, kalau fungsinya seperti itu tentu letak otak tidak jauh, tapi seharusnya mengelilingi jantung seperti paru-paru, atau paling tidak di dekatnya seperti di dada untuk menetralisir panasnya.

Tapi kelompok pertama membantah, jauhnya otak dari jantung tidak menghalangi hikmah yang kami sebutkan itu karena kalau dekat, tentu akan kalah oleh panasnya jantung. Oleh karena itulah, posisinya dibuat berjauhan sehingga keduanya tidak rusak. Ini berbeda dengan paru-paru yang merupakan alat untuk mengipasi jantung ‘dan tidak ditujukan untuk menormalkan panasnya.

Ada kelompok ketiga yang menengahi kedua pendapat itu. Mereka mengatakan, otak itu panas tapi tidak terlalu. la berfungsi mendinginkan dengan khashiyyah (karakter). Otak adalah tempat pikiran. Karenanya, untuk berpikir diperlukan tempat yang tenang, jernih, dan bersih dari kekeruhan. Proses berpikir akan baik bila terjadi. pada saat badan tenang, tidak banyak gerak, sedikit kesibukan dan gangguannya. Oleh karena itulah, jantung tidak cocok. Sementara itu, otak suhunya sedang yang pas untuk berpikir. Dan, karenanya aktivitas berpikir sangat baik jika dilakukan pada malam hari dan di tempat-tempat sepi. Begitu juga sebaliknya, aktivitas seperti ini kurang baik saat sedang tersulut api amarah dan syahwat serta pada saat lelah dan badan banyak gerak atau tekanan jiwa.

Pembahasan ini berkaitan dengan masalah lain: apakah pancaindera dan akal itu bersumber di jantung atau otak?

Sebagian berpendapat bahwa semuanya timbul dari jantung dan terkait dengannya. Ada saluran-saluran yang menghubungkan antara jantung dan panca indera. Setiap organ tubuh—yang merupakan alat pancaindera—bersambungan dengan jantung melalui urat syaraf atau lainnya. Urat syaraf ini keluar dari jantung, sampai bersambung dengan organ-organ yang memiliki pancaindera itu.

Kata mereka, jika mata melihat sesuatu, ia menyampaikannya ke jantung, karena mata terhubung dengan suatu urat ke jantung. Bila telinga merasakan suara, akan mengirimkannya ke jantung. Begitu pula setiap indera. Jika ada yang bertanya, bagaimana satu organ bisa demikian kompleks, punya beberapa indera yang berbeda dengan organ yang berbeda-beda pula? Mereka menjawab bahwa semua urat di badan bersambung ke jantung secara langsung atau tidak langsung. Tidak ada urat maupun organ yang tidak punya hubungan dengan jantung, baik jauh maupun dekat. Dan dari jantung—melalui urat dan saluran—itulah timbulnya indera ke setiap organ tubuh. Ke mata timbul indera penglihatan, ke telinga indera pendengaran untuk menangkap suara, ke daging indera perasa, ke hidung indera penciuman, ke lidah indera untuk mengecap rasa, dan demikian seterusnya ke setiap organ timbul kekuatan inderawi yang sesuai dengannya.

Jadi jantunglah pangkal organ-organ dan indera-indera ini. Oleh karena itu, pendapat yang benar adalah bahwa jantunglah organ pertama yang diciptakan. Mereka menambahkan bahwa permulaan potensi akal, yaitu berpikir, adalah dari jantung.

Namun, ada yang menentang pendapat ini. Mereka mengatakan bahwa akal itu di kepala.

Yang benar, asal timbulnya dari jantung, sedang cabang-cabang dan buahnya di kepala. Al-Qur’an telah menunjukkan hal ini. Allah Ta’ala berfirman,

“Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar; karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.” (al-Hajj: 46)

“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.” (Qaaf: 37)

Maksud al-qalb ‘hati’ di sini bukan segumpal daging yang dimiliki oleh semua hewan, tetapi adalah akal dan pikiran yang dikandung oleh organ itu.

Mereka disanggah oleh kelompok lain. Mereka mengatakan bahwa asal timbulnya panca indera adalah otak. Mereka tidak percaya bahwa antara jantung dengan mata, telinga, dan hidung ada urat-urat syaraf penghubung. Mereka mengatakan bahwa itu mengada-ada saja.

Yang benar adalah pertengahan antara kedua kelompok ini. Yaitu bahwa dari jantung timbul kekuatan/energi ke indera-indera itu. Energi ini adalah kekuatan abstrak; untuk sampainya ke jantung tidak memerlukan saluran dan urat-urat khusus yang membawanya. Sampainya energi ini ke indera dan organ tubuh hanya tergantung kepada potensi penerimaan organ dan indera itu serta suplai jantung; tidak tergantung kepada saluran dan urat-urat syaraf. Dengan demikian, tidak ada lagi kerancuan dalam masalah yang banyak menjadi tema perbincangan ini. Wallahu a’lam, wa bihit taufiq.

Tujuan utama dalam membahas hal-hal di atas adalah mengingatkan pembaca mengenai sedikit dari hikmah penciptaan manusia. Hikmahnya sendiri sebenarnya jauh lebih banyak dari yang terbetik di hati kita. Fungsi menyebutkan sedikit mutiara ini—yang merupakan segala-galanya bila dibanding dengan hal yang lain—hanyalah mengingatkan. Apabila manusia memperhatikan makanannya saja—masuknya, tempat pengolahannya, dan keluarnya—ia pasti menemukan ‘ibrah dan keajaiban-keajaiban. Bagaimana dia diberi alat untuk menyuapkan makanan itu (tangan), dikaruniai pintu masuknya (bibir), alat untuk memotongnya kecil-kecil (gigi), alat pelumat (geraham), lalu dibantu dengan air liur untuk melumatkannya. Juga diberi saluran yang berdampingan dengan saluran pernafasan, yang satu turun dan yang satunya naik sehingga keduanya tidak bertemu padahal sangat dekat. Lalu disediakan saluran ke lambung yang menjadi penampung dan tempat terkumpulnya.

Lambung itu punya dua pintu; atas untuk masuknya makanan dan bawah untuk keluarnya sisa. Pintu atas lebih lebar dari yang bawah karena yang atas adalah pintu masuknya makanan, sedang yang bawah adalah pintu pembuangan sisa yang berbahaya. Yang bawah selalu tertutup agar makanan tetap di tempatnya. Apabila proses pencernaan telah selesai, maka pintu itu terbuka sampai proses pembuangan usai. Oleh karena itulah, pintu ini dinamakan bawwaab (pintu gerbang). Sedang yang atas dinamakan ‘mulut lambung’.

Makanan turun ke lambung dalam keadaan keras. Apabila telah berada di dalam lambung ia mencair dan leleh. Dari bagian dalam dan luarnya, lambung dikelilingi panas api, bahkan mungkin melebihi panas api. Dengan suhu yang tinggi seperti itu makanan dapat masak di dalam lambung seperti masak di dalam periuk dengan api yang mengelilinginya. Oleh karena itu, dapat melelehkan benda yang keras membatu seperti kerikil dan sebagainya. Apabila telah cair, maka yang jernih terapung di atas, sedang yang keruh tenggelam di bawah.

Dari lambung itu ada urat-urat yang terhubung ke bagian badan yang lain untuk mengirimkan energi ke setiap organ yang sesuai dengannya. Energi yang paling mulia, lembut dan ringan dikirimkan ke organ batin. Ke mata dikirimkan penglihatan, ke telinga dikirim pendengaran, ke hidung penciuman, dan begitu seterusnya ke setiap indera apa yang sesuai. Itulah yang paling lembut yang terlahir dari makanan. Kemudian ke otak dikirimkan energi yang lembut yang sesuai dengannya. Lalu sisanya dikirimkan ke organ-organ lain. Ke tulang, rambut, dan kuku dikirimkan energi yang menyuplainya dan menjaga fungsinya.

Jadi, makanan masuk ke dalam lambung melalui saluran-saluran dan keluar menuju organ tubuh melalui saluran-saluran pula. Salah satu saluran tersebut datang ke lambung, dan yang lain keluar dari sana. Ini adalah hikmah dan nikmat yang luar biasa.

Karena di lambung makanan berubah menjadi darah, empedu hitam, empedu kuning, dan dahak, maka dengan penuh hikmah Allah Ta’ala menciptakan saluran untuk setiap cairan tersebut agar terkumpul di sana, dan yang terkirim ke organ-organ yang mulia hanya cairan yang paling sempurna. Dia menjadikan empedu sebagai tempat penampungan empedu kuning, limpa sebagai tempat empedu hitam. Sedangkan hati (al-kabid) menyerap cairan yang paling mulia, yaitu darah, lalu mengirimkannya ke seluruh badan melalui satu urat yang terbagi ke dalam banyak saluran yang mencapai setiap rambut, bulu, urat syaraf, tulang, dan otot dengan mengirimkan energi yang menyebabkan kesehatannya.

Kemudian, bila Anda perhatikan aneka ragam potensi serta kekuatan lahir dan batin yang ada pada diri manusia dengan bentuk dan manfaatnya yang berbeda-beda, Anda menyaksikan keajaiban yang luar biasa. Misalnya, kekuatan pendengaran, penglihatan, penciuman, pengecap, perasa, cinta, benci, ridha, marah, dan kekuatan-kekuatan lainnya yang terkait dengan kesadaran dan kehendak. Begitu pula energi/kekuatan yang mengolah makanannya; seperti energi yang memasak makanan, energi yang menahannya di dalam lambung dan yang mengirimnya ke organ-organ tubuh, energi yang mencernanya setelah organ-organ mengambil gizi atau energi yang dibutuhkannya. Begitulah seterusnya. Keajaiban-keajaiban penciptaan manusia, baik yang zahir maupun yang batin teramat banyak.

Miftah Ad Dar As Sa’adah – Ibnul Qoyyim Al Jauziyah

1) “Hati” di sini terjemahan kata “al-qalb”, bukan terjemahan kata “al-kabid”. Dalam buku terjemah Al Qur’an, al-qalb selalu diartikan dengan “hati”. Di kamus, kata ini diartikan dengan “hati, jantung”. Di sini penerjemah menggunakan kedua kata ini untuk menerjemahkan “al-qalb” dengan melihat konteks atau rasa bahasa (pemakaian yang lazim dalam bahasa Indonesia); atau menggunakan “hati” untuk “al-qalb” yarng bermakna abstrak, dan “jantung” untuk “al-qalb ” sebagai organ.
2) Terjemahan kata “al-qalb” di sini kami artikan dengan jantung karena mengacu pada organ

Bookmark and Share

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s