Puasa Ramadhan bagi Musafir

Saudara-saudaraku kaum muslimin ?rahimakumullah-, kehadiran bulan suci Ramadhan di tengah-tengah kita sungguh membawa berkah yang besar di mana Allah melipatgandakan pahala amalan-amalan di dalamnya, dibukanya pintu-pintu surga dan berkah, serta fadhilah-fadhilah lainnya.

Sebagai seorang muslim tentunya kita ingin segala aktivitas yang dilakukan tidaklah mengganggu shoum yang sedang kita jalani. Di sisi lain kita meyakini bahwa agama ini tidaklah menyulitkan para pemeluknya sebagaimana pernyataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari sahabat Abu Hurairah, “Sesungguhnya agama ini mudah.” Allah subhanahu wa ta’ala telah memberikan keringanan untuk berbuka dari shoumnya bagi siapa saja yang memiliki udzur syar’i seperti sakit atau musafir (yang sedang mengadakan satu perjalanan) atau yang lainnya.

Berkenaan dengan hal itu, menjadi satu hal penting jika kita mengetahui ahkam yang berkaitan dengan shoum atau berbuka bagi musafirin. Hanya kepada Allah-lah kita mohon pertolongan dan taufiq.

A. Beberapa dalil tentang masalah ini:

* Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka) maka wajiblah baginya berpuasa sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.” (Q.S. Al Baqarah: 184).

* Dari hadits Aisyah bahwa Hamzah bin Amr Al Aslami bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Apakah aku berpuasa dalam keadaan safar?” ? dan beliau adalah orang yang sering melakukan shoum ? Rasulullah menjawab, “Jika engkau berkehendak maka shoumlah, jika tidak maka berbukalah.” (H.R. Al Bukhari dan Muslim). Hadits ini menunjukkan bolehnya shoum dan berbuka jika shoumnya nafilah (shoum sunnah).

* Dari Anas bin Malik, ia berkata, “Kami bepergian bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang berpuasa tidak mencela kepada yang berbuka, demikian pula sebaliknya yang berbuka tidak mencela kepada yang berpuasa.” (H.R. Al Bukhari dan Muslim). Hadits ini lebih dekat pendalilannya atas kebolehan shoum Ramadhan dalam keadaan safar.

* Dari Abu Darda, ia berkata, “Kami keluar bersama Rasulullah di bulan Ramadhan dalam keadaan cuaca sangat panas, sampai-sampai seseorang di antara kami ada yang meletakkan tangannya di atas kepalanya karena saking panasnya. Tidak ada di antara kami yang berpuasa kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abdullah bin Rowahah.” (H.R. Al Bukhari dan Muslim). Hadits ini dalil bolehnya berbuka dan bolehnya shoum di bulan Ramadhan.

* Dan masih banyak hadits-hadits lainnya dalam masalah ini.

B. Berbuka bagi yang musafir

Dibolehkan bagi yang musafir untuk berbuka berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta’ala di atas dalam Al Qur’an surat Al Baqarah: 184, dan telah dinukil pula ijma’ (kesepakatan) sebagian besar dari kalangan ahlul ilmi, sampai Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyatakan,

“Barangsiapa yang mengatakan tidak boleh bagi musafir untuk berpuasa, kecuali kalau tidak mampu untuk shoum, maka hendaknya ia bertaubat. Jika tidak, maka diperangi.” Dan berkata lagi, “Barangsiapa yang mengatakan yang berbuka dari shoumnya akan mendapatkan dosa hendaknya ia bertaubat.”

C. Shoum bagi yang musafir

Terdapat beberapa perbedaan dari kalangan ahlul ilmi tentang boleh dan tidaknya shoum bagi musafir, namun pendapat yang rajih dalam hal ini adalah bolehnya shoum bagi musafir dan ini pendapatnya jumhur ulama dengan dalil di antaranya hadits Abu Darda di atas.
D. Jika shoum ataupun berbuka dibenarkan dalam keadaan safar lalu mana yang lebih afdhal atau yang lebih didahulukan?

Sebagian kalangan ulama menyatakan yang lebih afdhal adalah shoum, jika keadaannya sama antara shoum maupun berbuka, yakni tidak menimbulkan lelah. Mereka yang berpendapat seperti ini adalah madzhab Malik, Asy Syafi’i, Abu Hanifah, dan yang lainnya. Mereka berdalil di antaranya dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala, “Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (Q.S. Al Baqarah: 184).

Sebagiannya lagi seperti Imam Ahmad, Ishaq, dan jamaah dari para sahabat dan tabi’in berpendapat bahwa yang afdhal adalah berbuka. Adapun di antara dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh sekelompok para sahabat, di antaranya Anas bin Malik, Ibnu Umar, Abu Hurairah, dan Ibnu Abbas secara marfu’, “Sesungguhnya Allah menyukai untuk didatangi rukhsoh-Nya (keringanan-Nya).” Dan hadits Jabir, “Bukanlah termasuk kebaikan shoum dalam keadaan safar.” (H.R. Al Bukhari dan Muslim). Dalam lafazh Muslim, “Hendaklah kalian dengan rukhsoh Allah bagi kalian.”

Berkata Ibnu Daqiqil ‘Ied, “Di dalamnya terdapat dalil bahwa disunnahkan untuk berpegang teguh dengan rukhsoh jika keperluan mendesaknya.”

Kesimpulan

Dari keterangan-keterangan di atas kita dapat melihat tentang kebolehannya bagi musafir untuk berbuka maupun berpuasa, namun kita dapat katakan bahwa sebaiknya dan afdhal bagi musafir untuk berbuka dengan syarat tidak memberatkannya di saat menqodhonya.
Wal ‘ilmu ‘indallah.
Maraji’:
– Al Majmu’
– Al Muhalla
– Al Mughni
– Bidayatul Mujtahid
– Majmu’ul Fatawa
– Al Fath
– Ash Shohihah
– Ihkamul Ihkam
– Az Zaad

2 pemikiran pada “Puasa Ramadhan bagi Musafir

  1. pemuda pencari al haq

    Assalamu’alaikum mau tanya apakah org yg ditugaskan perusahaan di luar daerah selama 3 minggu termasuk musafir atau org yg mukim?

    1. Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh

      Maaf baru dibalas sekarang karena masuk spam

      Ini adalah jawaban Ustadz Kharisman :

      Sebaiknya jika seseorang menetap dan ada kepastian kapan tanggal pulangnya dan lebih dari 4 hari, ia ikut pendapat Jumhur, shg ia tdk mengqoshor sholat. Ini sebagai bentuk kehati-hatian saja. Karena tdk ada dalil yg tegas dalam masalah ini. Bagi yg ikut pendapat Ibnu Abbas dgn batasan 19 hari, silakan. Kita tdk bisa mengingkari dalam hal yg tdk ada dalil tegas dalam hal tersebut.

      Jika seseorang ragu apakah ia sedang terhitung safar atau tidak, maka ambillah keadaan tidak safar sebagai kondisi asalnya.

      Wallaahu A’lam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s