Al-Qur’an untuk orang hidup bukan untuk orang mati

Penulis: Ustadz Abu Ubaidah

Yang lebih mengherankan, ada di kalangan ummat Islam ini yang salah dalam menyikapi Al-Qur’an. Mereka menjadikan Al-Qur’an sebagai sarana mencari nafkah. Sebagian mereka menghapal Al-Qur’an dengan tujuan agar bisa di gunakan oleh orang yang membutuhkannya dalam acara-acara pernikahan dan perayaan-perayaan tertentu.

Al-Qur’an datang menyinari hati yang gelap dan menyinari jiwa yang gersang. Dan dia datang sebagai juru nasehat bagi orang yang membutuhkan bimbingan, sebagai pembawa kabar gembira bagi orang yang mau beriman dan sebagai pemberi peringatan bagi orang yang mengingkarinya. Betapa banyak kebaikan yang dapat di rasakan dengan kedatangannya, sehingga orang yang sedih akan menjadi gembira dengan membacanya dan orang yang bingung akan menjadi tenang jalannya serta orang yang hina akan menjadi mulia dengan mempelajari dan mengamalkannya.

Lebih jauh, diapun sebagai obat mujarab bagi segala penyakit. Siapa yang membaca ayat-ayatnya untuk pengobatan, maka dia akan mengetahui kehebatan Al-Qur’an dengan menyembuhkan beberapa penyakit dengan seizin Allah Ta’ala dan beberapa penyakit yang kalangan medis saat ini belum mampu menyembuhkannya. Sehingga tidaklah mengherankan kalau di katakan Al-Qur’an adalah penawar dan rahmat bagi orang yang beriman, sebagaimana firman-Nya (yang artinya) :

“Dan kami turunkan Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar (penyembuh penyakit fisik maupun rohani) dan rahmat bagi orang yang beriman kepada-Nya. “(QS. Al-Isra’ : 82).

Bahkan di lihat dari segi pahala dan keutamaannya. Al-Qur’an menyimpan sekian banyak pahala dan keutamaan bagi orang yang membaca, mempelajari, memahami dan mengamalkannya. Orang yang mahir membaca Al-Qur’an maka pada hari kiamat akan di kumpulkan bersama rombongan malaikat yang mulia. Sedangkan bagi orang yang terbata-bata dalam membacanya akan mendapatkan dua pahala, yaitu pahala dia membaca Al-Qur’an dan pahala kesungguhan dalam membacanya dengan baik dan benar.

Al-Qur’an akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafa’at bagi orang yang membacanya dan mengamalkannya. Bahkan Al-Qur’an akan menjadi pelindung baginya dari adzab Allah Ta’ala di dunia maupun akhirat. Sehingga di katakan, orang yang mempelajari Al-Qur’an akan mengamalkannya sebagai sebaik-baik manusia, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya) :

“Sebaik-baik orang di antara kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari – Muslim).

Tetapi kebaikan, keutamaan dan pahala tersebut tidak dapat di rasakan kecuali orang-orang yang diberi taufik dan hidayah Allah Ta’ala agar mau beriman kepadanya, membaca, mempelajarinya, dan mampu mengaplikasikannya. Adapun orang yang ingkar terhadapnya, tidak mau beriman kepadanya, tidak mau membaca maupun mempelajarinya, apalagi mengamalkannya, maka sekali-kali dia tidak akan merasakan manfaat sedikitpun. Bahkan Al-Qur’an akan menjadi sebab di hinakan dan di sesatkannya orang tersebut, dan akan menjadi hujjah (alasan) di hadapan Allah Ta’ala untuk menyiksakan pada hari kiamat.

Yang lebih mengherankan, ada di kalangan ummat Islam ini yang salah dalam menyikapi Al-Qur’an. Mereka menjadikan Al-Qur’an sebagai sarana mencari nafkah. Sebagian mereka menghapal Al-Qur’an dengan tujuan agar bisa di gunakan oleh orang yang membutuhkannya dalam acara-acara pernikahan dan perayaan-perayaan tertentu. Kemudian dia mendapat upah dari bacaannya. Ada lagi yang menggunakan Al-Qur’an sebagai alat mencari nafkah di pemakaman kaum muslimin. Bila ada di antara kaum muslimin yang ingin menziarahi saudaranya di perkuburan umum, maka tidak perlu repot-repot membaca ayat-ayat Al-Qur’an dan menghapalkan do’a-do’anya. Ini baru sebagian contoh kesalahan yang merebak di masyarakat dan di anggap lumrah.

Akar dari musibah memilukan ini adalah adanya keyakinan bahwa bacaan Al-Qur’an yang mereka bacakan untuk orang mati itu bisa bermanfaat bagi si mayit. Sehingga mereka berlomba-lomba untuk mengamalkannya, bahkan mereka semangat untuk melakukan amalan bid’ah ini lebih besar daripada untuk ibadah yang wajib, yang sangat jelas keutamaan dan faedahnya. Ambillah contoh, mereka sangat getol dalam mengamalkan bi’dah ini, sementara sholat berjama’ah di masjid mereka lalaikan.

Harapan mereka, bacaan tersebut bisa bermanfaat bagi si mayit agar terbebas dari siksa kubur dan mendapat pahala yang terus mengalir, padahal Allah Ta’ala dan Rasulnya tidak pernah mengajarkan yang demikian. Bahkan di tegaskan dalam firman-Nya bahwa sseorang tidak memperoleh pahala melainkan dari yang di usahakannya saja. Jika usahanya baik maka dia akan mendapatkan balasannya dan jika usahanya buruk dia akan mendapatkan balasannya pula. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya) :

“Dan bahwasanya seseorang tidak memperoleh selain apa yang telah di usahakannya. “(QS. An-Najm : 39).

Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa sallam juga menegaskan dalam sabda beliau (yang artinya) :
“Jika manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara : Shodaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholeh yang mendo’akannya. “(HR. Muslim).

Adapun jika anak si mayit yang membaca Al-Qur’an, maka pahalanya akan sampai kepadanya, karena anak adalah hasil usaha ayahnya. Ini adalah pendapat ulama, diantaranya Al-Imam Asy-Syafi’i Rahimahullah.

Yang perlu di pertanyakan, bagaimana mungkin Al-Qur’an bisa memberi manfaat kepada si mayit, yang semasa hidupnya suka meninggalkan sholat, suka berbuat maksiat, dan perbuatan dosa yang lainnya ? Bahkan Al-Qur’an sendiri malah memberinya kabar gembira dengan kecelakaan dan siksa.

Allah Ta’ala tidaklah menurunkan Al-Qur’an yang mulia ini melainkan agar di baca, di pahami dan diamalkan isinya. Yang berupa perintah hendaknya dikerjakan dengan ikhlas dan sesuai dengan contoh dari Rasulullah Shollallahu ‘alahi wa sallam dan para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum ajmai’in. Adapun yang berupa larangan hendaknya di jauhi dengan sejauh-jauhnya. Dan tentu tidak ada yang dapat melakukannya melainkan orang yang hidup yang masih sehat akal dan fikirannya serta masih terjaga fitrahnya. Sehingga jelaslah, bahwa Al-Qur’an memang untuk orang hidup bukan untuk orang mati.

Maraji’ :
1. Minhaj Al-Firqoh An-Najiyah, karya Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu.
2. At-Tibyan fii Aadaabi Hamalatil Qur’an, karya Al-Imam An-Nawawi.
( Dinukil dari Buletin Al-Bayyinah, edisi 09 / 03 / 01).

Sumber : http://www.darussalaf.or.id

25 pemikiran pada “Al-Qur’an untuk orang hidup bukan untuk orang mati

  1. Firman Allah surat an-najm ayat 39 :
    “ … Bahwa seseorang tidak akan memikul dosa orang lain dan bahwasanya tiada yang didapat oleh manusia selain dari yang diusahakannya”.
    Penjelasan :
    · Mengenai ayat diatas seorang shahabat Nabi, Ahli tafsir yang utama, yang pernah didoakan secara khusus oleh Nabi agar pandai menakwilkan al Qur’an yakni Ibnu Abbas Ra. Berkata : “Ayat tersebut telah dinasakh (dibatalkan) hukumnya dalam syariat kita dengan firman Allah SWT : “Kami hubungkan dengan mereka anak-anak mereka”, maka dimasukanlah anak ke dalam sorga berkat kebaikan yang dibuat oleh bapaknya.’ (Tafsir Khazin, IV/213)
    Firman Allah yang dikatakan oleh Ibnu Abbas Ra sebagai penasakh surat an-najm ayat 39 itu adalah sebagai berikut : “Dan orang-orang yang beriman dan anak cucu mereka mengikuti mereka dengan iman, maka kami hubungkan anak cucu mereka itu dengan mereka dan tidaklah mengurangi sedikitpun dari amal mereka. Tiap-tiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya”. (At-thur :21)
    · Ibnu Taimiyah berkata dalam menfasirkan ayat diatas: “Allah tidak menyatakan bahwa seseorang tidak bisa mendapat manfaat dari orang lain, Namun Allah berfirman, seseorang hanya berhak atas hasil usahanya sendiri. Sedangkan hasil usaha orang lain adalah hak orang lain. Namum demikian ia bisa memiliki harta orang lain apabila dihadiahkan kepadanya. Begitu pula pahala, apabila dihadiahkan kepada si mayyit maka ia berhak menerimanya seperti dalam solat jenazah dan doa di kubur. Dengan demikian si mayit berhak atas pahala yang dihadiahkan oleh kaum muslimin, baik kerabat maupun orang lain.” (Majmu’ Fatawa, 24/366)
    · Berkata Iman Syaukani dalam kitabnya : (ayat) “Tidak ada seseorang itu…..” Maksudnya “tidak ada dari segi keadilan (min thariqil adli), adapun dari segi karunia (min thariqil fadhli), maka ada bagi seseorang itu apa yang tidak dia usahakan. (Nailul Authar, IV/ 102)

    2. Hadits : ‘Apabila seorang manusia meninggal maka putuslah amalnya, kecuali tiga hal : Sedekah jariyah, anak yang shalih yang mendo’akannya atau ilmu yang bermanfaat sesudahnya’. (HR. Abu Daud)
    Jawaban :
    Dalam hadits tersebut tidak dikatakan inqata intifa’uhu (terputus keadaannya untuk mendapat manfaat) tetapi disebutkan inqata ‘amaluhu (terputus amalnya).
    Adapun amalan orang lain (yang masih hidup) maka itu adalah milik orang yang mengamalkannya, jika dia menghadiahkannya kepada si mayit, maka akan sampailah pahala orang yang mengamalkan itu kepadanya. Jadi yang sampai itu adalah pahala orang yang mengamalkan bukan pahala amal si mayit itu. (Syarh Thahawiyah : 456)

    Kesimpulannya, bahwa berdoa dan bersedekah bagi arwah seorang muslimin baik yang dilakukan oleh orang lain adalah masyru’ (disyariatkan), dan pahalanya akan sampai bila dilakukan dengan ikhlas.

    ===========================

    Pendapat sahabat Nabi, salafusshalih dan para ulama:

    Abdullah bin Amru bin Al ‘Ash Radhiallahu ‘Anhuma
    Beliau adalah seorang sahabat Nabi, ayahnya adalah Amr bin Al ‘Ash, Gubernur Mesir pada masa Khalifah Umar. Dalam kitab Syarh Muntaha Al Iradat3/16, disebutkan demikian: Dari Abdullah bin Amru, bahwa dia menganjurkan jika mayit dikuburkan hendaknya dibacakan pembuka surat Al Baqarah, dan akhir surat Al Baqarah. Ini diriwayatkan oleh Imam Al Lalika’i. Hal ini dikuatkan oleh keumuman hadits: Bacalah Yasin kepada orang yang menghadapi sakaratul maut.
    Imam Ahmad bin Hambal rah. dan Imam Ibnu Qudamah rah.
    Pendapat Ini telah masyhur diketahui sebagai pendapat imam Ahmad dan ulama-ulama mazhab Hanbali, bahwa beliau membolehkan membaca Al Quran untuk orang sudah meninggal. Imam Ibnu Qudamah mengatakan dalam kitabnya, Syarhul Kabir : Berkata Ahmad: bahwa mereka membacakan Al Quran ( surat Yasin) pada sisi mayit untuk meringankannya, dan juga diperintahkan membaca surat Al Fatihah. (Syarh Al Kabir, 2/305).
    Imam Al Bahuti juga mengatakan: Imam Ahmad mengatakan, bahwa semua bentuk amal shalih dapat sampai kepada mayit baik berupa doa, sedekah, dan amal shalih lainnya, karena adanya riwayat tentang itu. (Syarh Muntaha Al Iradat, 3/16)
    Imam Asy Syaukani rah.
    Telah ada perbedaan pendapat para ulama, apakah ‘sampai atau tidak’ kepada mayit, perihal amal kebaikan selain sedekah? Golongan mu’tazilah (rasionalis ekstrim) mengatakan, tidak sampai sedikit pun. Mereka beralasan dengan keumuman ayat (yakni An Najm: 39, pen). Sementara, dalam Syarh Al Kanzi Ad Daqaiq, disebutkan: bahwa manusia menjadikan amalnya sebagai pahala untuk orang selainnya, baik itu dari shalat, puasa, haji, sedekah, membaca Al Quran, dan semua amal kebaikan lainnya, mereka sampaikan hal itu kepada mayit, dan menurut Ahlus Sunnah hal itu bermanfaat bagi mayit tersebut. (Nailul Authar, 4/92)
    Al Imam Al Hafizh Fakhruddin Az Zaila’i rah.
    Beliau berkata : Ayat yang dijadikan dalil oleh Imam Asy Syafi’i, yaitu surah An Najm ayat 39: “Manusia tidaklah mendapatkan kecuali apa yang diusahakannya.” Disebutkan dari Ibnu Abbas bahwa ayat tersebut mansukhpen) oleh ayat lain yakni, “Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka ..” maka anak-anak akan dimasukkan ke dalam surga karena kebaikan yang dibuat bapak-bapaknya. (Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Quran, 22/546-547) (dihapus, yang dihapus bukanlah teksnya, tetapi hukumnya,
    Imam Ibnu Nujaim Al Hanafi dan Imam Kamaluddin Rahimahumallah
    Beliau berkata : “Yang paling dekat dengan kebenaran adalah apa yang telah dipilih oleh Al Muhaqqiq Ibnu Al Hummam, bahwa ayat itu (surah An Najm ayat 39) tidak termasuk larangan menghadiahkan amalnya. Artinya, tidaklah bagi manusia mendapatkan bagian selain apa yang diusahakannya, kecuali jika dia menghibahkan kepada orang lain, maka saat itu menjadi milik orang tersebut.” (Al Bahrur Raiq, 3/84)
    Demikian juga Dalam kitab Fathul Qadir –nya Imam Ibnul Hummam, pada Bab Al Hajj ‘anil Ghair, beliau mengatakan, bahwa siapa saja yang berbuat amal kebaikan untuk orang lain maka dengannya Allah Ta’ala akan memberinya manfaat dan hal itu telah sampai secara mutawatir (diceritakan banyak manusia dari zaman ke zaman yang tidak mungkin mereka sepakat untuk dusta, pen). (Fathul Qadir, 6/134).
    Imam Al Qarrafi Al Maliki rah.
    Beliau mengatakan, “Yang nampak adalah bahwa bagi orang yang sudah wafat akan mendapat keberkahan dari membaca Al Quran, sebagaimana seseorang yang mendapatkan keberkahan karena bertetanggaan dengan orang shalih. (Al Fawakih Ad Dawani, 3/283)
    Imam Ibnu Rusyd Al Maliki rah.
    Dalam An Nawazil-nya, Ibnu Rusyd mengatakan: “Jika seseorang membaca Al Quran dan menjadikan pahalanya untuk mayit, maka hal itu dibolehkan. Si Mayit akan mendapatkan pahalanya, dan sampai juga kepadanya manfaatnya.” (Syarh Mukhtashar Khalil, 5/467)
    Husain bin Mas’ud al-Baghawi rah.
    Beliau adalah pengarang kitab tafsir al Khazin, ketika menjabarkan tentang tafsir surah an-Najm ayat 39, beliau memilih pendapat yang mengatakan sampainya bacaan Qur’an bagi orang meninggal dunia. ( Tafsir Khazin,4/213)
    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rah.
    Di dalam kitab fenomenal beliau majmu’ Fatawa, beliau berkata: Orang-orang berbeda pendapat tentang sampainya pahala yang bersifat badaniyah seperti puasa, shalat dan membaca Al-Quran. Yang benar adalah bahwa semua itu akan sampai pahalanya kepada si mayyit.” (Majmu’ Fatawa, 24 /315-366)
    Imam Ibnu Hajar Al Haitami Asy Syafi’i rah.
    Dalam kitabnya beliau mengatakan “Hendaknya diperdengarkan bacaan Al Quran bagi mayit agar mendapatkan keberkahannya sebagaimana orang hidup, jika diucapkan salam saja boleh, tentu membacakannya Al Quran adalah lebih utama. (Tuhfatul Muhtaj fi Syarhil Minhaj, 10/371)
    Imam Syihabuddin Ar Ramli Asy Syafi’i rah.
    Beliau membolehkan membaca Al Quran untuk mayit bahkan setelah dikuburkan, dan ada sebagian pengikut Syafi’i lainnya menyatakan itu sunah. (Nihayatul Muhtaj, 2/428)
    Syaikh Sayyid Sabiq rah.
    Penjelasan beliau yang mendukung pendapat ini bisa kita temukan dalam kitab fiqihnya yang fonumenal Fiqhus Sunnah, juz 1 pada halaman 386.
    Jumhur Ulama al Azhar Kairo
    Membaca surat Yasin adalah sama saja waktunya, baik ketika sakaratul maut atau setelah wafatnya. Malaikat ikut mendengarkannya, mayit mendapatkan faidahnya karena hadiah tersebut, dan si pembaca juga mendapatkan pahala, begitu pula pendengarnya akan mendapatkan pelajaran dan hikmah darinya.(Fatawa Al Azhar, 8/295)

  2. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rah.
    Di dalam kitab fenomenal beliau majmu’ Fatawa, beliau berkata: Orang-orang berbeda pendapat tentang sampainya pahala yang bersifat badaniyah seperti puasa, shalat dan membaca Al-Quran. Yang benar adalah bahwa semua itu akan sampai pahalanya kepada si mayyit.” (Majmu’ Fatawa, 24 /315-366)

    1. mufazsi

      Ah.. pendapat lagi, pendapat lagi.
      Kalau dikumpulin terus pendapat manusia sebumi dari dulu sampe sekarang…Gue nggak bisa bayangin apa jadinya agama kita.
      Islam kan bukan pikiran manusia, tapi ia adalah wahyu Allah.
      Kalau sekedar pikiran, nggak perlu susah susah Allah nurunin Quraan. Lihat aja pendaptnya Aristoteles, plato dll, semuanya ahli pendapat.

      1. sunnah online

        kami mengutip banyak dalil, Quran, hadits, dan fatwa ulama. Tidak hanya pendapat ulama.
        Satu kesalahan besar adalah menyamakan pendapat ulama dengan pendapat orang kafir….

    1. sudahlah ……..g perlu di perdebatkan lg ,wahai para bapak bapak ustadz .sama2 b’argument takad habisnya .mohon maaf saya jg org bodoh .pada akhirnya kita akn menanggung amal perbuatan kita masing2 kan ?knp harus debat terus ?

  3. saudara SUNNAHONLINE, sebaiknya kalo menulis pengagungan terhadap Allah dan sholawat kepada Nabi, jangan disingkat agar tidak kehilangan faedah dan pahala.
    bukan SWT, tapi Subhaanahu Wa Ta’aala
    bukan SAW tapi Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam

  4. dedi

    transfer2 pahala tidak masuk akal sehat…ini pendapat saya orang bodoh…sombong amet kita mentransfer pahala kpd orang yg sudah meninggal, emang kita sudah yakin tidak membutuhkan pahala kita untuk bekal di akherat? sampai kita memberikan pahala buat orang yg sudah meninggal. apa bedanya pendapat transfer pahala dengan dosa waris yg ada di dogma kristen? dogma dosa waris aja oleh kaum muslim di tolak mentah2

  5. sunnah online

    kalau mentransfer pahala dikatakan sombong, berarti:
    – sahabat Nabi yang menghajikan ibunya juga sombong? (mengapa tidak haji sendiri, apakah ia sudah cukup amal sampai2 menghajikan ibunya?)
    – demikian juga sahabat Nabi yang membayarkan hutang saudaranya yang telah wafat? (apakah ia sudah cukup amal sampai2 uangnya yang terbatas dipakainya untuk membayarkan hutang orang lain?)
    – mendoakan orang lain yang wafat supaya diterima amalnya (apakah ia sudah cukup masuk surga sampai2 menggunakan waktu hidupnya buat mengurusi orang lain?)

    beramal dan amalnya didoakan kepada Allah supaya pahalanya disampaikan juga ke mayit adalah juga perbuatan sunah dan baik dan si pengamal sendiri juga mendapat pahala, demikianlah kekuasaan dan kemuliaan Allah)

      1. sunnahonline

        shirothol mustaqim SANGAT MENGELABUI UMAT ucapannya ini…
        dalam hal ini sahabat Nabi bukan hanya doa yang dilakukannya, ia MENGHAJIKAN ORANG LAIN, bukan hanya berdoa supaya amalan orang lain diterima… tapi MENGHAJIKAN ORANG LAIN… dan ini disetujui Nabi, demikian juga amalan MEMBAYArKAN HUTANG demikian juga amalan Nabi BERKURBAN yang pahalanya untuk orang lain (perlu haditsnya kah?)

      2. sunnahonline

        siapa yang berpendapat seperti saya?? ( hehe kelihatan kalau tidak membaca)

        Rasululllah para sahabat dan para ulama sebagaimana yang sudah tertulis…

      3. Afwan Ana ga tau, ana ga pernah buka halaman ini sebelumnya tapi ana rasa artikel di atas sudah cukup untuk membantah pemikiran sesat ente.

        Inilah liciknya para ahlul bid,ah mereka memakai pendapat ulama yg sesuai dengan hawa nafsu mereka dan kalo tidak sesuai hawa nafsunya maka mereka menolaknya mentah-mentah.

        Bisa-bisanya ente memakai pendapat Ibnu Taimiyah dan Imam Syaukani padahal kalo dalam masalah maulid nabi saja dengan semangat bekobar-kobar ente membantah fatwa dan pendapat keduanya.

        Ketauhilah sehebat-hebatnya ente berdebat tidak akan merubah yg haq menjadi batil dan yg batil menjadi haq. Yg haq tetap menjadi haq dan yg batil tetap menjadi batil.

        Ana bisa saja mendatangkan pendapat para ulama yg paling rajih dengan pembahasan yg lebih mendalam tapi hal itu menurut ana tidak ada gunanya buat ente.

      4. sunnah online

        hehe, justru kalau ibnu taimiyah yang berfatwa ente menolak aneh sekali. Bukankah itu ulama rujukan utama kalian?

        kalau kami memang tidak menjadikan Ibnu Taimiyah sebagai rujukan. Pendapat-pendapatnya cukup banyak yang bertentangan dengan jumhur ulama ahlussunnah. Tapi tidak semua pendapatnya kita tolak. Ada sebagian pendapatnya yang bersesuaian Quran Hadits dan jumhur ulama ahlussunnah kita pakai. Bukan karena ia Ibnu Taimiyah lalu misal ia mengatakan shalat lima waktu wajib, lalu kita menolak karena ia Ibnu Taimiyah. Tidak seperti itu. Pendapat pendapatnya tidak semua keliru dan tidak semua kita tolak. Begitu pula dengan rujukan rujukan kalian yang lain. Kami filter dengan quran hadits dan pemahaman salafus shalih (Ibnu Taimiyah bukan salafus shalih, apalagi Ibnu Qayyim, dsb, ia hidup 7 abad setelah hijrah, jauh sekalai dari masa salafus shalih)

  6. sunnah online

    nah itulah sifat salafi wahabi…
    mereka hobi berdebat, pekerjaan sehari harinya debat dan mencari dalil lalu menyerang jamaah lain yang tidak sama seperti mereka… inilah mereka

    tapi debatnya hanya sama yang tidak faham, atau maunya debat dengan angin kosong.

    kalau debat sama yang lain n ketahuan argumennya lemah, dalilnya terbantahkan tiba-tiba lari… inilah sifatnya… takut dengan ilmu… karena takut terbongkar bahwa ia keliru

  7. herry

    Kepada para pembaca yang budiman, istilah “transfer pahala” bacaan AlQuran adalah ikhtilaf ulama. jadi tolong jangan saling menyalahkan. Yang gak percaya sampainya pahala bacaan ALQUran orang lain ke mayyit, silakan, tapi tolong jangan men-TBC-kan yang percaya sampainya pahala bacaan AlQuran.

    Saya sendiri, karena merasa tidak banyak amal yang sudah dikerjakan, hanya bisa berharap muslimin muslimat sedunia mengucapkan : Allohumma taqobbal waausil sawa bama qoro’na hu minal Qurani al’adziim.

  8. Kamaludin

    klw debat pendapat… ga akan ketemu… “jika kalian berbeda pendapat tentang suatu masalah, maka kembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya.
    1. berikan dalil dari Al-Qur’an yang jelas dan tegas tentang masalah ini!
    2. berikan hadits shahih yang terang dan jelas terhadap masalah ini. apakah ada perintah dari Rasulullah Saw untuk membacakan Al-Qur’an kepada orang yang sudah mati? jika ada kita laksanakan, jika tidak ada kita tinggalkan.

    1. sunnahonline

      Dalil-dalil Hadiah Pahala Bacaan

      1. Hadits tentang wasiat ibnu umar tersebut dalam syarah aqidah Thahawiyah Hal :458 :

      “ Dari ibnu umar Ra. : “Bahwasanya Beliau berwasiat agar diatas kuburnya nanti sesudah pemakaman dibacakan awa-awal surat albaqarah dan akhirnya. Dan dari sebagian muhajirin dinukil juga adanya pembacaan surat albaqarah”

      Hadits ini menjadi pegangan Imam Ahmad, padaha imam Ahmad ini sebelumnya termasuk orang yang mengingkari sampainya pahala dari orang hidup kepada orang yang sudah mati, namun setelah mendengar dari orang-orang kepercayaan tentang wasiat ibnu umar tersebut, beliau mencabut pengingkarannya itu. (mukhtasar tadzkirah qurtubi halaman 25).

      Oleh karena itulah, maka ada riwayat dari imam Ahmad bin Hnbal bahwa beliau berkata : “ Sampai kepada mayyit (pahala) tiap-tiap kebajikan karena ada nash-nash yang dating padanya dan juga karena kaum muslimin (zaman tabi’in dan tabiuttabi’in) pada berkumpul disetiap negeri, mereka membaca al-qur’an dan menghadiahkan (pahalanya) kepada mereka yang sudah meninggal, maka jadialah ia ijma . (Yasaluunaka fid din wal hayat oleh syaikh DR Ahmad syarbasy Jilid III/423).

      2. Hadits dalam sunan Baihaqi danan isnad Hasan

      “ Bahwasanya Ibnu umar menyukai agar dibaca keatas pekuburan sesudah pemakaman awal surat albaqarah dan akhirnya”

      Hadits ini agak semakna dengan hadits pertama, hanya yang pertama itu adalah wasiat seadangkan ini adalah pernyataan bahwa beliau menyukai hal tersebut.

      3. Hadits Riwayat darulqutni

      “Barangsiapa masuk kepekuburan lalu membaca qulhuwallahu ahad (surat al ikhlash) 11 kali, kemudian menghadiahkan pahalanya kepada orang-orang yang telah mati (dipekuburan itu), maka ia akan diberi pahala sebanyak orang yang mati disitu”.

      4. Hadits marfu’ Riwayat Hafidz as-salafi

      “ Barangsiapa melewati pekuburan lalu membaca qulhuwallahu ahad (surat al ikhlash) 11 kali, kemudian menghadiahkan pahalanya kepada orang-orang yang telah mati (dipekuburan itu), maka ia akan diberi pahala sebanyak orang yang mati disitu”.

      (Mukhtasar Al-qurtubi hal. 26).

      5. Hadits Riwayat Thabrani dan Baihaqi

      “Dari Ibnu Umar ra. Bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Jika mati salah seorang dari kamu, maka janganlah menahannya dan segeralah membawanya ke kubur dan bacakanlah Fatihatul kitab disamping kepalanya”.

      1. kamaludin

        apa ini tidak bertentangan dengan ayat :
        QS: Yaasin:54.: Maka pada hari itu seseorang tidak akan dirugikan sedikitpun dan kamu tidak dibalasi, kecuali dengan apa yang Telah kamu kerjakan.

      2. sunnahonline

        surat yasin di atas maknanya mirip dengan Firman Allah surat an-najm ayat 39 :
        “ … Bahwa seseorang tidak akan memikul
        dosa orang lain dan bahwasanya tiada yang
        didapat oleh manusia selain dari yang
        diusahakannya”.
        Penjelasan :
        · Mengenai ayat diatas seorang shahabat
        Nabi, Ahli tafsir yang utama, yang pernah
        didoakan secara khusus oleh Nabi agar
        pandai menakwilkan al Qur’an yakni Ibnu
        Abbas Ra. Berkata : “Ayat tersebut telah
        dinasakh (dibatalkan) hukumnya dalam
        syariat kita dengan firman Allah SWT :
        “Kami hubungkan dengan mereka anak-
        anak mereka”, maka dimasukanlah anak ke
        dalam sorga berkat kebaikan yang dibuat
        oleh bapaknya.’ (Tafsir Khazin, IV/213)

        demikian juga dengan hadits shahih yang masyhur bahwa Rasul menancapkan dahan seraya berharap orang dalam kubur diringankan siksanya… juga bahwa sahabat membayarkan hutang sahabat lain, juga sahabat menghajikan orangtuanya.. juga tentang membayarkan hutang puasa..

  9. lintang

    sy orang awam yg sangat sedikit pengetahuan agama, jika melihat yg seperti ini semakin bingung saya… semoga Allah memberikan petunjuk kpd saya amin.

    1. tidak usah bingung, ALLAH sudah memberi petunjuk yaitu AL QUR’AN dan contoh yang paling baik yaitu RASULULLAH. jangan mencari petunjuk selain AL QUR’AN dan RASUL. Nabi bersabda
      aku tinggalkan dua perkara, kalau kalian memegangnya keduanya tidak akan sesat selamanya, yaitu kitabullah dan sunaturasul.

  10. sugeng

    Daripada Anas ra. Ia berkata Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah itu mempunyai keluarga yang terdiri daripada manusia.” Kemudian Anas berkata lagi, “Siapakah mereka itu wahai Rasulullah?” Baginda manjawab, “yaitu ahli quran (orang yang membaca atau menghapal quran dan mengamalkannya). Mereka adalah keluarga Allah dan orang-orang yang istimewa bagi Allah.” (HR. Ahmad)

    “Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al Quran dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Rasulullah SAW menjelaskan, “Barangsiapa yang membaca (hafal) Quran, maka sungguh dirinya telah menaiki derajat kenabian hanya saja tidak diwahyukan kepadanya. Tidak pantas bagi hafidzh quran bersama siapa saja yang ia dapati dan tidak melakukan kebodohan terhadap orang yang melakukan kebodohan (selektif dalam bergaul) sementara dalam dirnya terdapat firman Allah.” (HR. Hakim)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s