Fitnah Pada Masa Utsman Bin Affan

Sesungguhnya awal mula permasaJahan yang dihadapi oleh umat Islam pada waktu itu, sebagian besar berasal dari tiga golongan :

1. Golongan Pertama

Islamnya sebagian orang-orang Persia (awalnya mereka beragama Majusi) dan juga sebagian orang-orang Yahudi. Pada hakikatnya mereka adalah orang-orang zindiq yang menampilkan keislaman dan menyembunyikan kekufuran di dalam hatinya. Sebagian besar mereka berasal dari negara adi kuasa (Persia dan Romawi) yang merasa iri dan benci kepada bangsa Arab, karena sebagian dari mereka (bangsa Arab) pada masa lampau merupakan pengikutnya. Bangsa Arab adalah bangsa yang dilupakan dan tidak diperhitungkan oleh bangsa lain. Mereka seakan-akan telah terkubur di gurun pasir dan disibukkan dengan perselisihan dan perang saudara. Kemudian bangsa Arab mampu menggulingkan dan meruntuhkan negara mereka dalam jangka waktu yang relatif singkat menurut ukuran strategi dan kondisi peperangan pada waktu itu.

Oleh karena itulah mereka memasang tipu daya dan taktik -mereka adalah orang yang sangat berpengalaman dalam hal ini- untuk mengobarkan api fitnah di tengah-tengah kaum muslimin (seperti api yang sebagiannya memakan sebagian yang lain). Pernyataan ini bukan hanya sekedar omong kosong dengan tujuan mengkambing hitamkan orang lain atas apa yang menimpa kita, akan tetapi berdasarkan dalil-dalil dan bukti yang kuat.

Tipu daya mereka bisa diringkas dalam beberapa poin sebagai berikut:

ü Mencemarkan nama baik pegawai Utsman bin Affan, seperti gubernurnya atau pegawai yang bertugas menarik zakat serta yang lainnya, kemudian mengorek-orek kesalahan dan kekeliruan yang mereka lakukan. Bahkan kalau perlu berdusta atas nama mereka serta menghembuskan isu-isu dusta tentang mereka.

ü Menyebarkan isu bahwa Kibarus Shahabah seperti Ali, Thalhah dan Zubair (1) serta Ummul Mukminin Aisyah -semoga Alah meridhoi mereka semua-,membenci sistem pemerintahan yang dijalankan Utsman Mereka meminta agar kaum muslimin dari segala penjuru datang ke Madinah dalam rangka mengingkari Utsman bin Affan. Dalam rangka menjalankan tipu dayanya mereka memalsukan beberapa surat yang diatas namakan para shahabat tersebut, serta memalsukan juga sebuah surat atas nama Utsman.(2)

ü Membesar-besarkan sebagian perbedaan pendapat yang terjadi antara para shahabat -semoga Allah meridhoi mereka semuanya- dalam hal yang bersifat fiqhiyah dan menggambarkan hal tersebut di mata orang awam sebagai perbuatan kedholiman dan tindak sewenang-wenang yang dilakukan oleh Utman terhadap para shahabat yang lainnya. Sebagai contoh dari hal ini, perbedaan pendapat antara Abu Dzar dan jumhur shahabat tentang harta (yang disimpan) yang sudah melebihi kebutuhan pemiliknya, apakah harta ini tergolong dalam kanzun (harta yang ditimbun) sehingga terkena ancaman ayat berikut ini :

“Dan orang-orang yang menimbun emas dan perak serta tidak menginfakkannya di jalan Allah, maka kabarkan kepada mereka akan adzab yang sangat pedih.” (at-Taubah: 34)

Ataukah semua harta yang sudah dikeluarkan zakatnya tidak tergolong ke dalam ayat ini. Setelah terjadi perbedaan pendapat ini Abu Dzar atas inisiatifnya sendiri keluar dari kota Madinah menuju ke daerah Rabadzah.(3)

ü Menyebarkan (berita bohong) di tengah-tengah kalangan orang awam, yang kemudian dipercayai oleh sebagian dari mereka, bahwa Rasulullah berwasiat kepada Ali bin Abi Thalib untuk menjadi khalifah (setelah beliau wafat) dan disebarkan bahwa Utsman adalah perampas hak khilafah dari Ali bin Abi Thalib. Sungguh berita ini menyebar di masyarakat, sehingga sampai berita tersebut kepada sebagian shahabat seperti Ali dan ‘Aisyah -semoga Allah meridhoi keduanya- dan mereka mengingkari kebenaran berita ini dengan keras. Ali berkata : “Sungguh demi Allah, seandainya kita meminta khilafah ini kepada Rasulullah kemudian beliau tidak memberikannya kepada kita, sehingga akibatnya manusia tidak akan memberikannya kepada kita setelah beliau wafat. Maka sungguh aku tidak akan memintanya kepada Rasulullah.(4)

Dan Ummul Mukminin ‘Aisyah -semoga Allah meridhoinya- berkata, ketika sampai kepadanya isu wasiat Rasulullah kepada Ali :

“Siapa yang berkata demikian? Sungguh aku menyaksikan Rasulullah (saat beliau wafat) dan aku (dalam keadaan) menyandarkan beliau ke dadaku, kemudian beliau meminta sebuah bejana, lalu beliau luluh dan meninggal tanpa aku sadari. Mana mungkin beliau berwasiat kepada Ali bin Abi Thalib.”(5)

Dan sesungguhnya para ulama Rafidhah (syi’ah) telah mengakui, bahwa wasiat ini pada hakekatnya merupakan hasil rekayasa Abdullah bin Saba’.

An-Naubakhty dan Al-Kasyi menyatakan :

“Sesungguhnya asal-usul wasiat ini muncul dari lisan Abdullah bin Saba’, dia adalah orang Yahudi yang masuk Islam dan menampakkan loyalitas kepada Ali bin Abi Thalib. Ketika masih Yahudi, dia menyebarkan isu bahwa Tusa’ bin Nun adalah orang yang diwasiati kekhalifahan oleh Nabi Musa. Kemudian setekah masuk Islam dia menyatakan hal yang serupa tentang Ali (setelah wafatnya Rasulullah Dialah orang pertama yang berpendapat bahwa seharusnya kekhalifahan diberikan kepada Ali bin Abi Thalib. Dia menunjukan rasa permusuhan dan berlepas diri dari semua orang yang bertentangan dengan Ali bin Abi Thalib. Berdasarkan hal inilah musuh-musuh syi’ah menganggap bahwa syi’ah (Rafidhah) berasal dari agama Yahudi.(6)

Adapun bukti-bukti yang menunjukkan kebathilan wasiat ini, sangat banyak sekali. Akan tetapi penjelasannya pada tempat dan kesempatan lain Insya Allah.

2. Golongan Kedua :

Ahli Qiro’ah dan Ibadah serta kalangan menengali dari para Ahli Fiqh. Allah berfirman :

“Mereka adalah orang-orang yang telah sia-sia amalannya pada kehidupan dunia, namun mereka merasa sedang melakukan sebaik-baik amalan.” (Al-Kahfi: 104)

Golongan ini adalah orang-orang yang diperalat oleh golongan pertama dari belakang tabir. Mereka bagaikan mangsa yang sangat jinak dan penurut, sehingga golongan pertama menempatkannya di barisan terdepan (dalam penyebaran fitnah), dengan cara membesar-besarkan persoalan yang sepele serta menggambarkan kepada mereka bahwa ijtihad-ijtihad yang dilakukan oleh Khalifah Utsman merupakan tindak kemaksiatan dan penentangan terhadap Al-Qur’an. Kemudian mereka (golongan pertama) memberikan motivasi dan membakar semangat mereka (golongan kedua) untuk merubah kemungkaran yang dilakukan Utsman.

Pada akhirnya, golngan kedua ini berhasil dipengaruhi, karena kebodohan mereka terhadap hukum-hukum syari’at serta kurangnya pemahaman dan ilmu mereka terhadap agamaya. Walaupun mereka banyak beribadah, memberikan pengorbanan yang besar, hafal Al-Qur’an serta banyak puasa dan sholat malam. Namun ketahuilah! Iblis lebih mudah untuk menyesatkan seribu ahli ibadah (yang kurang ilmunya) dari pada menyesatkan seorang ‘alim (berilmu). Aisyah Ummul Mukminin -semoga Allah meridhoinya- berkata dalam mensifati mereka (golongan kedua ini) :

“Wabai Ubaidillah bin Adi janganlah sekali-kali engkau tertipu dengan amalan seseorang setelah engkau tabu apa yang telah terjadi. Sungguh ! Demi Allah aku tidak pernah meremehkan amalan shahabat Nabi sampai muncul orang-orang yang memusuhi Utsman. Mereka memberikan nasehat kepada Utsman dengan perkataan yang tidak pernah diucapkan oleh orang lain, membaca al-Qur’an dengan bacaan yang tidak pernah dperbuat oleh orang lain (karena saking banyaknya) mereka sholat dengan sholat yang tidak mampu dilakukan oleh orang lain. Akan tetapi ketika aku merenungkan amalan mereka, ternyata -sungguh demi Allah ! – amalan mereka tidak ada apa-apanya ketika dibandingkan dengan amalan para shahabat Rasulullah Oleh karena itu apabila engkau merasa kagum dengan perkataan seseorang, maka katakanlah : “Beramallah! karena Allah dan Rasul-Nya akan melihat amalan kalian. ” Jangan sampai tertipu oleh orang lain.”(7)

3. Golongan Ketiga

Kabilah-kabilah yang masuk Islam setelah Ha’bur Riddah (peperangan melawan orang-orang murtad pada zaman Abu Bakar ) yang kemudian ikut andil dalam peperangan yang lain. Golongan ini dinamakan dengan Ar Rowadif (pengikut), A’aroob, Mawali, al-‘Uluuj. Golongan ini semakin bertambah banyak, sedangkan selain mereka berkurang, sampai-sanipai jumlah orang yang jahat dan bodoh lebih banyak dibanding orang yang baik. (shahabat dan tabi’in). Golongan ketiga ini menuntut kepada Utsman agar dilakukan persamaan gaji. Sehingga antara Ahlul Badr (para shahabat yang ikut perang Badr) -orang-orang yang telah membela Islam semenjak awal- disamakan gajinya dengan orang-orang yang masuk Islam setelah mereka dikalahkan dalam peperangan oleh kaum muslimin. Pada hal pembedaan dalam masalah gaji, bukan Utsman yang memulainya, tetapi Umarlah yang mempeloporinya. Dan kalau kita lihat pada kehidupan sekarang, ternyata tidak ada yang menentang adanya perbedaan gaji yang sesuai dengan tingkat kedudukan atau pangkatnya

Sebagian dari para ulama berpendapat bahwa sebagian orang yang menuntut disamakannya gaji antara orang yang baru masuk Islam dengan yang telah masuk Islam lebih dulu, tidak lain mereka adalah orang-orang yang beragma Mazdakiyah. Dengan demikian terbukti bahwa mereka (orang-orang yang terkalahkan oleh Islam) terus menerus memusuhi kaum muslimin.

Pada hakekatnya, golongan petama tidaklah bertanggung jawab atas fitnah yang terjadi, karena memang sudah jelas mereka adalah musuh yang telah terkalahkan dan menyimpan dendam kesumat. Tentu saja mereka akan senantiasa berupaya melakukan segala cara untuk membalas dendam, namun yang bertanggung jawab adalah golongan kedua, para Qurro’ dan golongan menengah dari ahli Fiqh, yang mereka menganggap -dengan pemikiran mereka yang rusak- bahwa sebagian kebijakan Utsman dalam pembagian gaji, sistem pemerintahan, perbedaan pendapat dalam sebagian permasalahan antara dirinya dengan para shahabat bukanlah ijtihad. Dengan kedangkalan pemahaman dan kepicikan berpikir inilah mereka menganggap tindakan Utsman bukanlah ijtihad -yang apabila benar mendapatkan dua pahala dan kalau salah mendapat satu pahala- tetapi mereka menganggapnya sebagai perbuatan maksiat dan penentangan terhadap al-Qur’an, yang harus diluruskan dan kalau tidak mau harus dipecat dan dibunuh.

Untuk mengetahui sejauh mana kebodohan mereka terhadap hukum-hukum syariat yang berhubungan dengan muamalah terhadap imam (pemimpin) yang adil, kita lihat perbedaan sikap antara Ahlul Qurro’ (golongan kedua) dengan sikap para ulama dari kalangan shababat Rasulullah dalam mensikapi perbedaan pendapat yang terjadi. Hal ini dapat kita baca secara detail tentang kasus yang terjadi pada Abu Dzar. dalam kitab yang paling Shahih setelah Al-Qur’an, yaitu Shahih Bukhori. Dan juga kita lihat komentar Ibnu Hajar tentangnya (8) Setelah kita membaca kejadian tersebut, maka kita bisa simpulkan bahwa :

Abu Dzar berpendapat bahwa harta yang telah Iebih dari kebutuhan pemiliknya tidak boleh disimpan, dan kalau disimpan maka akan terkena ancaman yang di sebutkan dalam ayat :

“Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak….” (At Taubah: 34)

Sebagian para shahabat -semoga Allah meridhoi mereka semuanya- menyebutkan bahwa Abu Dzar, pernah mendengar hadits dari Rasulullah yang berisikan sebuah hukum yang berat, kemudian dia pergi menemui kaumnya. Setelah kepergian Abu Dzar, Rasulullah memberikan keringanan dalam permasalahan tersebut, sedang Abu Dzar tidak mendengar rukhsoh (keringanan) ini dan masih tetap berpegangan dengan hadits yang didengarnya.

Menurut jumhur shahabat -semoga Allah meridhoi mereka semuanya- ayat ini (ayat 34 surat AtTaubah) telah dimansukh (dihapuskan hukumnya) dengan turunnya syariat zakat dan nishab-nishabnya.

Abu Dzar lebih memilih untuk beruzlah (menyendiri) di Robadzah atas inisiatifnya sendiri, bukannya diusir oleh Utsman, sebagaimana yang diisyukan oleh Ahlul Ahwa’ (pengikut hawa nafsu). Dalil tentang hal ini adalah riwayat yang menyebutkan bahwa ada beberapa orang dari Kufah datang kepada Abu Dzar, ketika itu beliau sudah berada di Robadzah dan mereka berkata : “Sesungguhnya Utsman telah memperlakukan kamu begini, tidakkah engkau pancangkan bendera dan kami akan berperang bersamamu?” Maka Abu Dzar berkata : “Tidak, seandainya Utsman memerintahkanku untuk pergi dari arah timur ke barat, maka aku akan tetap mendengar dan taat kepadanya”. Dan dalam riwayat lain disebutkan : “Seandainya dia menunjuk seorang pemimpin dari Habasyah (Ethiopia) untukku, maka aku akan tetap mendengar dan taat.”

Inilah perbedaan antara ilmu dan kebodohan :

“Katakanlah (wahai Muhammad) apakah sama antara orang-orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu?” (Az-Zumar: 9)

Sebagian besar penyimpangan yang terjadi pada kaum muslimin dan gerakan dakwah Islamiyah disebabkan karena kebodohan mereka terhadap hukum hukum Islam dan syariat-syariat Islam serta tidak kokohnya hal ini di jiwa-jiwa mereka. Seandainya mereka memilikinya, mustahil mereka berani menumpahkan darah seorang muslim tanpa alasan yang benar yaitu karena berzinanya muhshon (dalam keadaan sudah menikah), membunuh seorang muslim tanpa alasan yang dibenarkan dan murtad dari agamanya. Dan mana mungkin mereka berani merampas harta, mengkoyak-koyak harga diri, hanya disebabkan pendapat atau penafsiran yang salah dan bathil…

Sumber : Tragedi Terbunuhnya Utsman Bin Affan
Penulis : Al Qodhi Abu Ya’la

Catatan Kaki :

1 Ketiga shahabat ini termasuk dalam Ahli Syura (anggota lainnya adalah Abdurahman bin ‘Auf, Sa’ad bin Abi Waqqas, Utsman bin ‘Affan).

2 Lihat Fadhailus Shahabat Imam Ahmad 1/470 dengan sanad Shahih, Tarikh Madinah Ibnu Syabbah 4/149-150, At-Thabaqatul Kubro Ibnu Sa’ad 3/83, dengan perowi-perowi yang shahih, Tarikh Ibnu Khayyath 167 dengan sanad shahih, juga lihat Al-Bidayah wa Nihayah Ibnu Katsir 7/195.

3 Lihat Shahih Bukhari -Fathul Bari- Kitabuz Zakat bab : Maa Uddiya Zakatuhu Falaisa bikanzun 3/374-375.

4 Diriwayatkan oleh Bukhari dalam shahihnya, lihat Fathul Bari 8/142 (4448)

5 Diriwayatkan oleh Bukhari dalam shahihnya, lihat Fathul Bari 7/148 (4459)

6 Firaqus-Syi’ah oleh An-Naubakhty 2-23 dan Rijalul Kasyi oleh al-Kasyi 108-109.

7 Dikeluarkan oleh Abdur Rozaq dalam Al Mushonaf 11/47 dan Al-Bukhari dalam kitab Khalqu Af’alil ‘Ibad hal 25 dengan sanad yang shahih.

8 Shahih Bukhori hadits no. 1401,1406,1407 dan 1408).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s