Pengepungan dan syahidnya Utsman

Pengepungan terhadap Utsman pada awalnya tidak begitu ketat, sehingga beliau masih bisa keluar dan mengimami shalat serta khutbah Jum’at. Pada suatu hari ketika beliau sedang berkhutbah, berdirilah seorang yang bernama Jahjah dan merebut tongkat yang beliau gunakan untuk bersandar ketika berkhutbah -tongkat yang beliau gunakan adalah tongkat peninggalan Rasulullah r– Kemudian dia patahkan tongkat itu dengan lututnya, sehingga ada serpihan kayu yang masuk ke lututnya. Hal ini menyebabkan dia tertimpa penyakit Akilah (1) Kemudian terjadilah saling lempar-melempar batu diantara manusia. Utsman pun tidak luput dari Iemparan, sehingga beliau jatuh pingsan lalu dibawa ke rumahnya.

Semenjak itulah, pengepungan semakin ketat. Mereka melarangnya untuk mengimami di Masjid (Nabawi) yang pernah beliau perluas dengan menggunakan hartanya sendiri. Bahkan mereka melarang beliau untuk minum dari air sumur Rumah yang jernih airnya. Padahal beliaulah yang membeli sumur itu lalu mewakafkannya untuk kepentingan kaum muslimin.

Maka Utsman hanya shalat di rumahnya dan minum dari sumur yang ada di rumahnya (yang airnya asin seperti air laut).

Yang menjadi imam Masjid Nabawi pada waktu itu adalah salah seorang penggerak fitnah. Hal ini sebagaimana telah disebutkan dalam riwayat yang shahih. Walaupun demikian, Utsman tetap menganjurkan kepada kaum muslimin untuk tetap shalat dibelakangnya. Utsman berkata: “Sesungguhnya amalan yang paling baik yang dilakukan oleh manusia adalah shalat. Hal ini menunjukkan betapa ambisi Utsman untuk tetap menjaga persatuan kaum muslimin dan menunjukkan bahwa dia masih menganggap pengepungnyadalah sebagai kaum muslimin, bukan orang-orang kafir.

Ketika para shahabat -semoga Allah meridhoi mereka semuanya- melihat kenyataan ini, mereka khawatir kalau-kalau akan timbul akibat yang lebih buruk. Maka mereka menawarkan bantuan kepada Utsman untuk membela dan melindunginya serta mengusir para pemberontak dari Madinah. Akan tetapi Utsman menolak semua tawaran itu.

Zaid bin Tsabit bcrkata kepadanya : “Para Anshor telah berdiri dipintumu, jika engkau mau, maka kami akan menjadi pembela Allah dua kali”.

Abu Hurairah datang dengan menghunus pedangnya dan dia berkata : “Sekarang telah datang saatnya untuk berperang”.

Abdullah bin Zubair datang dan merayu Utsman untuk mengizinkannya dengan mengatakan : “Wahai Amirul Mukminin, sungguh telah ada sekelompok orang yang memiliki bashirah bersamamu. Allah pasti menolong kita walaupun jumlah kita lebih sedikit, izinkanlah kami!”.

Ayahnya, yaitu Az Zubair mengirim utusan kepada kholifah (Utsman) untuk menawarkan bantuan yaitu penggalangan massa dan masuk ke rumah beliau.

Akan tetapi Utsman tetap menolak semua tawaran itu. Alasan beliau (dalam menolak tawaran ini) ada beberapa poin :

Dia (Utsman) mengatakan : “Aku tidak ingin menjadi pengganti Rasulullah yang pertama kali menumpahkan darah di tengah-tengah umatnya”.

Dia mengetahui bahwa para pengepungnya tidaklah menginginkan kecuali dirinya.

Dia berkeinginan untuk bersabar, karena dia yakin berada di pihak yang benar. Sehingga kelak di hadapan Allah Ta’ala dia memiliki hujjah yang mantap.

Dia mengatakan : “Sesungguhnya Nabi telah mengambil janji dariku, maka aku bersabar dalam memenuhi janji ini”.

Sumber : Tragedi Terbunuhnya Utsman bin Affan
Penulis : Al Qodhi Abu Ya’la

———————————–

(1) Suatu penyakit yang apabila menimpa seseorang pada salah satu anggota tubuhnya, maka akan cepat menjalar ke seluruh tubuh hingga mati.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s