Beramal dengan Sunnah, Walaupun Sunnah itu Dijauhi Masyarakat

Jangan Malu untuk Menegakkan Sunnah!

Dalam mengamalkan sunnah terdapat qa’idah-qa’idah yang harus diperhatikan dan dipahami dengan benar, yaitu yang pertama adalah beramal dengan sunnah, walaupun sunnah itu dijauhi masyarakat.

Seringkali terjadi pada sebagian orang yang mencintai sunnah, merasa bimbang dan ragu dalam menghidupkan suatu sunnah yang tidak nampak di dalam masyarakatnya. Yang mendorong dia bersikap seperti ini adalah perasaan “malu” (atau lebih tepatnya minder) dan yang sejenisnya.

Sikap orang ini lebih tepat dinamakan dengan minder (bukan malu), karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Malu itu tidaklah mendatangkan kecuali kebaikan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari ‘Imran bin Hushain rodhiyallahu ‘anhu). Yaitu perasaan malu untuk melakukan kejelekan dan kemaksiatan.

Dalam lafazh yang lain disebutkan: dari Abu Qatadah dia berkata: Kami pernah bersama ‘Imran bin Hushain rodhiyallahu ‘anhu di dalam suatu rombongan, sedangkan di dalam rombongan kami terdapat Bisyir bin Ka’b. Pada suatu hari ‘Imran menceritakan kepada kami, dia berkata: bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Malu itu baik semuanya” atau beliau bersabda: “Malu itu adalah semuanya baik.” Maka berkata Bisyir bin Ka’b: “Sesungguhnya kami mendapati di sebagian kitab atau hikmah, bahwa dari malu itu ada yang merupakan ketentraman dan penghormatan kepada Allah, tetapi pada malu itu juga ada kelemahan.” Maka ‘Imran pun marah sampai merah kedua matanya dan berkata: “Tidakkah engkau melihat aku, aku mengatakan kepadamu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan engkau menentangnya?!” (HR. Al-Bukhariy dan Muslim dan ini lafazhnya)
Disebutkan di dalam Fathul Baari 10/522 beberapa pendapat tentang sebab marahnya ‘Imran, yaitu:
1. Dikatakan: Bahwa ‘Imran marah karena perkataan orang tersebut: “Dan pada malu itu juga ada kelemahan.”
2. Dikatakan: Bahwa ‘Imran marah karena perkataan orang tersebut: “dari malu itu”, karena kata: “dari…” dapat dipahami bahwa daripadanya ada yang bertentangan, sedangkan dia (‘Imran) telah meriwayatkan bahwa malu itu semuanya adalah baik.
3. Dikatakan: Bahwasanya pengingkaran ‘Imran atas orang ini, di mana orang tersebut mengatakannya dalam posisi orang yang menentang perkataan Rasul dengan perkataan yang selainnya. Dan Ibnu Hajar menganggap baik pendapat ini.
4. Dikatakan: Bahwasanya pengingkaran ‘Imran atas orang tersebut dikarenakan dia takut tercampurnya Sunnah dengan yang lainnya.
[Lihat Ta’zhiimus Sunnah karya ‘Abdul Qayyum bin Muhammad bin Nashir As-Sahaibaniy]

Berkata ‘Iyyadh dan lainnya: “Rasa malu yang berakibat adanya pengurangan terhadap hak-hak, bukanlah malu yang syar’i bahkan hal itu adalah kelemahan dan kerendahan serta kehinaan. Dan hanya saja kata “malu” digunakan untuknya (malu yang tercela) karena kesamaannya (dari segi penamaan) terhadap “malu yang syar’i”.” (Fathul Baari 13/138)

Maka rasa malu yang mengantarkan pemiliknya pada pengurangan terhadap hak-hak Allah, lalu dia beribadah kepada Allah di atas kebodohan, tidak bertanya tentang agamanya dan mengurangi dalam melaksanakan hak-hak-Nya, hak-hak orang yang ia zhalimi dan hak-hak kaum muslimin, maka rasa malu ini adalah tercela karena hal itu adalah kelemahan dan kerendahan. (Lihat Qawaa’id wa Fawaa`id minal Arba’iin An-Nawawiyyah hal.181-182)

Demikian pula orang yang malu untuk menampakkan syi’ar-syi’ar Islam dan kewajiban-kewajibannya seperti shalat berjama’ah di masjid, memakai pakaian islami (seperti gamis dan sejenisnya), menghadiri majelis ‘ilmu yang disampaikan oleh ahlus sunnah yang komitmen dengan sunnah, mengajak orang kepada kebaikan dan amalan-amalan ketaatan yang lainnya, maka ini adalah malu yang tercela yang harus dihindari sejauh-jauhnya.

Pahala Besar bagi Yang Menghidupkan Sunnah yang Ditinggalkan Masyarakat

Hendaklah mereka ingat dan ketahui, bahwa menghidupkan sunnah dalam kondisi seperti ini akan lebih afdhal (utama) secara berlipat ganda daripada beramal dengan sunnah pada masyarakat yang sudah berpegang dengannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya di belakang kalian ada hari-hari kesabaran (situasi yang diliputi oleh berbagai macam fitnah -pent.). Bagi orang di jaman itu yang berpegang (dengan sunnah -pent.) dengan kalian yang berada (berpegang) di atasnya pada hari ini, mereka akan mendapat pahala lima puluh orang dari kalian.” Mereka bertanya: “Wahai Nabi Allah, bukan lima puluh dari mereka?” Beliau menjawab: “Tidak, akan tetapi lima puluh dari kalian.” (HR. Al-Marwaziy dalam As-Sunnah hal.9, At-Tirmidziy, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Al-Hakim dan ia berkata: “Shahih sanadnya”, dan disetujui oleh Adz-Dzahabiy)

Kewajiban Menghidupkan Sunnah

Betapa indahnya apa yang dikatakan oleh Asy-Syaikh Sulaiman bin Sahman dalam bantahannya kepada orang yang mengingkari sunnah mengeraskan suara untuk berdzikir sesudah salam:

“Seandainya setiap sunnah yang ditinggalkan itu dari sunnah-sunnah qauliyyah (ucapan) atau fi’liyyah (perbuatan) yang ada pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam -yang manusia bermudah-mudah dalam meninggalkannya, yaitu dari amalan yang manusia diberi pahala karena mengerjakannya dan tidak disiksa karena meninggalkannya- ketika datang seorang pemberi kabar memberitahukan, bahwa itu adalah sunnah mahjuurah (yang ditinggalkan) dan tidak dilakukan: bahwa pemberi kabar itu (dituduh sebagai) seorang yang mengacaukan manusia apabila beramal dengannya (sunnah)� niscaya tertutuplah pintu ilmu dan matilah sunnah-sunnah dan dengan itu muncullah berbagai kerusakan yang tidak ada yang bisa menghitungnya, kecuali Allah.”

Dan sungguh benar perkataannya rahimahullah: “Maka kerusakan manakah yang lebih besar yang menimpa pemeluk Islam dan sunnah dari matinya sunnah, yang merupakan petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga (datanglah) generasi-generasi yang tidak mengenali sunnah tersebut, yang seandainya sunnah itu dikerjakan pada kalangan mereka, pastilah mereka akan mengingkarinya.” (Tahqiiqul Kalaam fii Masyruu’iyyatil Jahr bidz Dzikri ba’das Salaam hal.62)

Hukum Mengeraskan Suara dalam Dzikir Setelah Shalat

Dalam masalah ini, berkata Asy-Syaikh Al-Albaniy rahimahullah:
“Ada satu hadits dalam Ash-Shahiihain dari Ibnu ‘Abbas rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Dahulu kami mengetahui selesainya shalat pada masa Nabi karena suara dzikir yang keras.”

Akan tetapi sebagian ‘ulama mencermati dengan teliti perkataan Ibnu ‘Abbas tersebut, mereka menyimpulkan bahwa lafazh “kunna” (kami dahulu), mengandung isyarat halus bahwa perkara ini tidaklah berlangsung terus-menerus.

Berkata Al-Imam Asy-Syafi’iy dalam kitab Al-Umm bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengeraskan suaranya ketika berdzikir adalah untuk mengajari orang-orang yang belum bisa melakukannya. Dan jika amalan tersebut untuk hanya pengajaran maka biasanya tidak dilakukan secara terus-menerus.

Ini mengingatkanku akan perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah tentang bolehnya imam mengeraskan suara pada bacaan shalat padahal mestinya dibaca perlahan dengan tujuan untuk mengajari orang-orang yang belum bisa.

Ada sebuah hadits di dalam Ash-Shahiihain dari Abu Qatadah Al-Anshariy rodhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu terkadang memperdengarkan kepada para shahabat bacaan ayat Al-Qur`an di dalam shalat Zhuhur dan ‘Ashar, dan ‘Umar juga melakukan sunnah ini.

Al-Imam Asy-Syafi’iy menyimpulkan berdasarkan sanad yang shahih bahwa ‘Umar pernah menjahrkan (mengeraskan) do’a iftitah untuk mengajari makmum, (maka hadits dan atsar inilah) yang menyebabkan Al-Imam Asy-Syafi’iy, Ibnu Taimiyyah dan yang lainnya berkesimpulan bahwa hadits di atas (hadits Ibnu ‘Abbas) mengandung maksud pengajaran. Dan syari’at telah menentukan bahwa sebaik-baik dzikir adalah yang tersembunyi.

Walaupun hadits: “Sebaik-baik dzikir adalah yang tersembunyi (perlahan)”, sanadnya dha’if akan tetapi maknanya shahih.
Banyak sekali hadits-hadits shahih yang melarang berdzikir dengan suara keras, sebagaimana hadits Abu Musa Al-Asy’ariy yang terdapat dalam Ash-Shahiihain yang menceritakan perjalanan para shahabat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Abu Musa berkata: Jika kami menuruni lembah maka kami bertasbih dan jika kami mendaki tempat yang tinggi maka kami bertakbir. Dan kamipun mengeraskan suara-suara dzikir kami. Maka berkata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Wahai sekalian manusia, berlaku baiklah kepada diri kalian sendiri. Sesungguhnya yang kalian seru itu tidaklah tuli dan tidak pula ghaib. Sesungguhnya kalian berdo’a kepada Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat, yang lebih dekat kepada kalian daripada leher tunggangan kalian sendiri.”

Kejadian ini berlangsung di padang pasir yang tidak mungkin mengganggu siapapun. Lalu bagaimana pendapatmu, jika mengeraskan suara dzikir itu berlangsung dalam masjid yang tentu mengganggu orang yang sedang membaca Al-Qur`an, orang yang masbuq dan lain-lain. Jadi dengan alasan mengganggu orang lain inilah kita dilarang mengeraskan suara dzikir.

Hal ini sesuai dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Wahai sekalian manusia, masing-masing kalian sedang bermunajat (yaitu beribadah) kepada Rabb kalian, maka janganlah sebagian kalian mengeraskan suaranya atas sebagian yang lain dalam membaca Al-Qur`an yang menyebabkan orang-orang mukmin terganggu.” (HR. Abu Dawud dari Abu Sa’id Al-Khudriy rodhiyallahu ‘anhu).” (Lihat Fatwa-fatwa Asy-Syaikh Al-Albaniy)

Sehingga dengan keterangan ini, dapat dipahami perkataan Asy-Syaikh Sulaiman bin Sahman di atas.

Teruskan Menghidupkan Sunnah!

Dan Al-Khathib meriwayatkan, bahwa ‘Abdullah bin Al-Hasan sering duduk dengan Rabi’ah. Ia berkata: “Pada suatu hari mereka berdua memperbincangkan tentang sunnah-sunnah, maka berkatalah seseorang yang berada di majelis itu: “Beramal itu bukanlah di atas ini.” Maka ‘Abdullah berkata: “Tidakkah engkau melihat, bahwa jika telah banyak orang-orang bodoh sehingga merekalah yang menjadi pemimpin, adakah mereka itu sebagai hujjah atas sunnah?!

Maka berkata Rabi’ah: “Aku bersaksi, bahwa ini adalah perkataan anak keturunan para Nabi.” (Al-Faqiih wal Mutafaqqih 1/146)

Tidaklah akan mati sunnah itu, kecuali sebagai pertanda akan muncul dan tersebarluasnya bid’ah. Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas rodhiyallahu ‘anhu: “Tidaklah datang suatu jaman kepada manusia, kecuali mereka telah mengadakan suatu perbuatan bid’ah di dalamnya dan mereka mematikan suatu sunnah di dalamnya. Sehingga hiduplah bid’ah-bid’ah dan matilah sunnah-sunnah.” (Riwayat Ibnu Wadhdhah dalam Al-Bida’ wan Nahyu ‘anhaa hal.38-39)

Meninggalkan sunnah itu akan mengantarkan kepada ketidaktahuan terhadap sunnah tersebut, sebagaimana hal ini dapat disaksikan.
Berkata Syaikhul Islam: “Boleh meninggalkan perkara yang mustahab, tetapi tidak boleh meyakini keistihbaban (dianjurkannya) meninggalkannya, sedangkan mengetahui hukum keistihbabannya adalah fardhu kifayah, agar tidak ada satupun perkara agama ini yang tersia-siakan.” (Majmu’ Fatawa 4/436)

Semoga Allah selalu merahmati Ibnul Qayyim, ketika mengatakan:

“Seandainya sunnah-sunnah ini ditinggalkan untuk suatu pekerjaan, niscaya akan berhentilah sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan hilang jejaknya serta matilah sunnah.”

Berapa banyak amalan yang dilakukan untuk menyelisihi sunnah yang terang dari jaman dulu sampai sekarang.

Setiap waktu satu sunnah ditinggalkan dan dikerjakanlah amalan yang menyelisihinya, serta terus-menerus amalan itu dikerjakan, sehingga akan didapati sedikit sekali sunnah yang diamalkan, itupun dengan cara yang banyak kekurangan.

Coba ambillah sesuai dengan kehendak Allah satu sunnah yang telah dilalaikan dan telah diabaikan pengamalan sunnah tersebut secara keseluruhan, maka seandainya sunnah itu diamalkan oleh orang yang mengetahuinya, pastilah manusia akan mengatakan: “Telah ditinggalkan sunnah…” (I’laamul Muwaqqi’iin 2/395)

Siapa Lagi yang Akan Menghidupkan Sunnah Kalau Bukan Kita (Kaum Muslimin)?

Berhati-hatilah wahai ummat Islam dengan sunnah Rasul kalian shallallahu ‘alaihi wa sallam, siapa yang akan mengamalkan sunnah tersebut kalau bukan kalian? Hidupkanlah sunnah itu sekuat tenaga kalian dan bimbinglah manusia untuk beramal dengannya, karena hal itu pertanda kecintaan yang sempurna kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan pertanda sikap mutaba’ah (mengikuti) yang jujur kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dan janganlah kebencian orang-orang yang ta’ashshub (fanatik) menghambat kalian, tidak pula teror dan intimidasi dari ahlul bathil, tidak pula larinya orang-orang awam yang terfitnah, karena sesungguhnya sunnah itu pada hari ini asing. Segala daya upaya untuk menghancurkannya terus-menerus menyerang dan mengoyak dari seluruh penjuru. Maka pada hari ini, ia benar-benar sangat dibutuhkan oleh generasi sunnah yang ikhlash, yang siap mengemban dan menghadapi berbagai halangan dan rintangan di jalan yang penuh duri dan kerikil tajam itu, serta lebih mementingkan sunnah daripada kepentingan dan keuntungan pribadi mereka. Pemimpin mereka dalam hal ini adalah kelemah-lembutan dan keramahan, berdebat dengan cara yang terbaik, dan taufiq akan menyertai mereka, serta akibat yang baik untuk mereka, kapanpun mereka mengikhlashkan niatnya untuk Allah ‘azza wa jalla dan mengharap pahala dari-Nya semata dengan amalan yang besar ini.

Di sini sangatlah perlu kami ingatkan kepada mereka akan pengalaman yang telah terjadi di jaman Al-Imam Asy-Syathibi rahimahullah ketika bertekad bulat untuk menghidupkan sunnah dengan menumpahkan seluruh upaya untuknya, walaupun manusia menyelisihinya, yang berakibat ia harus berhadapan dengan kemurkaan manusia, penghinaan dan berbagai tuduhan yang jelek dan jahat. Namun, akhir yang baik itu bagi orang-orang yang bertaqwa saja.

“Sesungguhnya Allah pasti menolong orang-orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (Al-Hajj:40)

Berkata Asy-Syathibiy: “… kebimbangan menyelimuti: apabila mengikuti sunnah dengan syarat menyelisihi kebiasaan yang dilakukan oleh manusia, maka sepatutnya akan memperoleh segala yang didapatkan oleh orang-orang yang menyelisihi kebiasaan/adat dan tradisi -terutama apabila orang-orangnya mengaku, bahwa keberadaan mereka adalah di atas sunnah, bukan di atas yang lainnya-, namun di dalam mengemban tugas yang berat ini terdapat pahala yang besar. Dan apabila mengikuti mereka (kebanyakan mereka -pent.) dengan syarat menyelisihi sunnah dan As-Salafush Shalih, sehingga aku akan masuk di bawah judul biografi: “Orang-orang Sesat dan Penyesat” -aku berlindung kepada Allah dari hal itu-.

Dengan menyetujui atau mengikuti kebiasaan manusia yang ada, maka aku akan dikategorikan sebagai orang-orang yang bergabung (dengan kebanyakan manusia -pent.) dan bukan golongan orang-orang yang menyelisihi adat dan tradisi mereka.

Maka aku memandang, bahwa kebinasaan dalam mengikuti sunnah itu sesungguhnya adalah keselamatan. Dan sesungguhnya manusia tidak akan dapat menolongku sedikitpun di hadapan Allah.” (Al-I’tishaam 1/34-35). Wallaahu A’lamu bish Shawaab.

Diringkas dari kitab Dharuuratul Ihtimaam bis Sunanin Nabawiyyah dengan beberapa perubahan dan tambahan.

Sumber : Bulletin Al Wala’ Wal Bara’

Iklan

8 pemikiran pada “Beramal dengan Sunnah, Walaupun Sunnah itu Dijauhi Masyarakat

      1. Abu najm

        bismillah,sdikit nambahi yg telah ada, sunah yg dijauhi masyarakat mis:sholat berjamaah 5x bagi laki2,mluruskan shof,sholat dg tumaninah , memakai peci,bc qur’an,makan atw minum dg tangan kanan dan dlakukan dg duduk dimulai dg bismillah,meyebarkan salam antara laki2 dg laki2 atau dg wanita yg mahromya, saling berjabat tangn antara laki2 dg laki2,wanita dg wanita atau pria namun dg mahromya, mnckur kumis,mencabut bulu ktiak,ptong kuku jari2 tngn dan kaki ,mnckur blu kmaluan,sholat duha,puasa snin kamis,sholat witir,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s