Hukum Melanggar Peraturan Lalu Lintas

Soal:
Bagaimana hukum Islam terhadap seseorang yang melanggar peraturan lalu lintas, semisal dia melanggar lampu lintas ketika berwarna merah?

Jawab:
Tidak bolah ada seorang muslim pun yang melanggar peraturan negara dalam hal lalu lintas, karena perbuatan itu akan menyebabkan timbulnya bahaya yang besar bagi dirinya dan pengguna jalan lainnya. Negara (baca: pemerintah) -semoga Allah memberikan taufiq kepadanya- tidaklah membuat aturan-aturan ini kecuali sebagai bentuk usaha dalam mewujudkan maslahat bersama bagi kaum muslimin dan untuk mencegah mudharat menimpa mereka.

Karenanya, tidak boleh ada seorang pun yang melanggar aturan-aturan tersebut. Pihak yang berwenang boleh menjatuhkan hukuman kepada orang yang melanggar, dengan hukuman yang bisa membuat orang itu dan semacamnya jera untuk mengulangi pelanggarannya. Karena Allah Subhanahu terkadang menertibkan melalui pemerintah dan hasilnya terkadang lebih baik daripada langsung dengan Al-Qur`an. Hal itu karena kebanyakan orang tidak takut melanggar aturan dari Al-Qur`an dan sunnah, akan tetapi mereka justru takut melanggar aturan pemerintah dikarenakan adanya beraneka ragam hukuman. Dan hal itu tidak lain kecuali dikarenakan minimnya keimanan mereka kepada Allah dan hari akhir atau bahkan keimanan itu tidak ada pada kebanyakan makhluk. Sebagaimana firman Allah Subhanahu:

وَمَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ

“Dan sebahagian besar manusia tidak akan beriman walaupun kamu sangat menginginkannya.” (QS. Yusuf: 103)
Kita meminta kepada Allah hidayah dan taufik untuk kita seluruhnya.

(Fatawa Islamiah Ibnu Baaz: 4/536)

(Diterjemah dari Fatawa Asy-Syar’iyah hal. 579-580)

Iklan

7 pemikiran pada “Hukum Melanggar Peraturan Lalu Lintas

  1. why

    anda memberikan sebuah jawaban seperti anak kecil yang mencoba menjelaskan antara kewenangan negara hanyalah sebuah upaya inisiatif yang tidak ada sangkut pautnya dengan aturan islam mengapa anda tidak katakan saja bahwa pelanggaran trerhadap lalulintas adalah wujud ketidak taatan terhadap ulil amri dan bertentangan dengan surat 4:ayat 59.

    1. why

      oke..oke maaf kalo tulisan itu produk ulama anda . judul yang anda buat adalah tentang HUKUM dimana hukum berbicara tentang Benar dan salah bukan maslahat dan mudharat..
      sepertinya justru anda yang gak memahami fatwa diatas dan
      saya coment tuh buat menjaga sikap anda…

      wallohu a’lam

  2. Pada prinsipnya kita bisa memberikan sebuah argumentasi dan kebenaranya bukanlah bersifat absolut namun kebenarannya relatif sangat tergantung dari sudut pandang seseorang dalam memahaminya. Oleh karena itu menurut pendapat saya yang besic keilmuaanya masih muda sekali saya sarankan ada beberapa pendekatan kemashlahayan yang harus dijelaskan. Misalnya istislahiyah. Hajjiyah dan tahsiniyah, nah dari beberapa pendekatan kemadhlahatan tsb mana yang lebih sesuai untuk diaplikasikan utk menjelas permasalahan itu sendiri. Karena masalah tsb tdk dijelaskan scr tersurat namun sebaliknya. Wallahu ‘alam. Zubir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s