Fatwa ulama islam tentang demosntrasi dan mogok makan

[Sumber: Buletin Maktabah Al-Furqon, UEA]

Sebuah Upaya meluruskan pemahaman Sebagian Orang yang Menganggap Demo & Mogok Makan merupakan Salah Satu Bentuk Amar Ma’ruf-Nahi Munkar[1]

Fatwa Samahah Asy-Syaikh Al-Imam Abdul Aziz Ibn Baz –rahimahullah Ta’ala

Beliau –rahimahullah –berkata: Cara yang bagus merupakan sarana terbesar diterimanya kebenaran. Sedang cara yang keliru dan kasar merupakan sarana yang paling berbahaya ditolaknya dan tidak diterimanya kebenaran, atau bisa mengobarkan kekacauan, kezhaliman, permusuhan, dan saling menyerang.

Dikategorikan dalam permasalahan ini apa yang dikerjakan oleh sebagian orang berupa demonstrasi yang menyebabkan keburukan yang banyak bagi para da’i. Maka berkonvoi di jalan-jalan dan berteriak bukanlah merupakan jalan untuk memperbaiki dan dakwah. Jadi, cara yang benar adalah dengan menziarahi (pemerintah), menyuratinya dengan cara yang bagus. Nasihatilah para pemimpin, pemerintah, dan kepala suku dengan metode seperti ini. Bukan dengan cara kekerasan dan demonstrasi.

Nabi –Shollallahu alaihi wasallam- ketika tinggal di Makkah selama 13 tahun, beliau tidaklah pernah menggunakan demonstrasi dan berkonvoi, serta tidak mengancam orang lain untuk menghancurkan harta-bendanya, dan membunuh mereka [2]. Tak ragu, cara ini akan membahayakan dakwah dan para da’I, akan menghalangi tersebarnya dakwah, membuat para pemimpin teras memusuhinya dan melawannya dengan dengan segala yang mungkin bisa dilakukannya.

Mereka (para pelaku demo) menginginkan kebaikan dengan cara seperti tersebut, akan tetapi malah terjadi yang sebaliknya [3]. Maka hendaknya seorang da’I ilallah menempuh jalannya para rasul dan pengikutnya sekalipun memakan waktu yang panjang. Itu lebih utama dibandingkan perbuatan yang membahayakan dan mempersempit (ruang gerak) dakwah, atau dihabisi. Walaa haula walaa quwwata illa billah”. [4]

Beliau-rahimahullah- pernah ditanya: “Apakah demonstrasi yang dilakukan oleh kaum pria dan wanita melawan pemerintah bisa dianggap termasuk sarana dakwah?[5] Apakah orang yang meninggal di dalamnya dianggap mati syahid?”

Maka beliau –rahimahullah- memberikan jawaban: “Saya tidak memandang demonstrasi yang dilakukan para kaum hawa dan juga oleh kaum Adam sebagai suatu solusi. Akan tetapi itu merupakan sebab timbulnya fitnah (baca: musibah), keburukan, sebab dizholiminya sebagian orang, dan melampaui batas atas sebagian orang tanpa haq. Akan tetapi cara-cara yang syar’I (menasihati pemerintah) adalah dengan cara menyurat, menasihatinya, dan mendakwahinya menuju kepada suatu kebaikan dengan cara damai. Demikianlah yang ditempuh para ulama’. Demikianlah para sahabat Nabi -Shollallahu alaihi wasallam- dan para pengikut mereka dalam kebaikan. Cara mereka menasihati dengan menyurat dan berbicara langsung dengan orang yang bersalah, pemerintah, dan penguasa [6]. Dengan cara menghubunginya, menasihatinya, dan menyuratinya, tanpa membeberkan aibnya di atas mimbar-mimbar dan tempat-tempat lainnya (dengan berteriak): “Pemerintah Fulan melakukan begini dan begini, lalu hasilnya begini dan begini !! ”, Wallahul Musta’an”.[7]

 

Fatwa Fadhilah Asy-Syaikh Al-Allamah Muhammad bin Sholeh Al-‘Utsaimin –rahimahullah-

Beliau –rahimahullah Ta’ala – ditanya: “Apakah Demonstrasi bisa dianggap sarana dakwah yang disyari’atkan?”

Beliau menjawab: “Alhamdu lillahi Rabbil alamin wa shollallahu ala Sayyidina Muhammad wa ala alihi wa shohbihi wa sallam wa man tabi’ahum bi ihsan ilaa yaumiddin. Amma ba’du: Sesungguhnya demonstrasi merupakan perkara baru, tidaklah dikenal di zaman Nabi –shollallahu alaihi wasallam-, dan para sahabatnya –radhiyallahu anhum-. Kemudian di dalamnya terdapat kekacauan dan huru-hara yang menjadikan perkara terlarang, dimana didalamnya terjadi pemecahan kaca-kaca, pintu-pintu, dan lainnya. Juga terjadi padanya ikhtilath (campur-baur) antara pria dan wanita, orang tua dan anak muda, dan sejenisnya diantara kerusakan dan kemungkaran.

Adapun masalah tekanan atas pemerintah. Jika pemerintahnya muslim, maka cukuplah bagi mereka sebagai penasihat adalah Kitabullah Ta’ala, dan Sunnah Rasul –Shollallahu alaihi wasallam-. Ini adalah sesuatu terbaik disodorkan kepada seorang muslim. Jika pemerintahnya kafir, maka jelas mereka tak akan memperhatikan para peserta demonstrasi. Pemerintah tersebut akan “bermanis muka” di depan mereka, sementara itu hanyalah merupakan kejelekan yang tersembunyi di batin mereka. Karenanya, kami memandang bahwa demonstrasi merupakan perkara mungkar !!

Adapun alasan mereka: “Demo inikan aman-aman saja”. Memang terkadang aman-aman saja di awalnya atau pertama kalinya, lalu kemudian berubah menjadikan perusakan [8]. Aku nasihatkan kepada para pemuda agar mereka mau mengikuti jalannya Salaf. Karena Allah –Subhanahu wa Ta’ala- telah memuji para sahabat Muhajirin dan Anshor, serta juga orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan”.[9]

Fatwa Fadhilah Asy-Syaikh Al-Allamah Sholeh bin Ghoshun –rahimahullah

Beliau –rahimahullah Ta’ala- pernah ditanya dengan soal berikut: “Waktu dua tahun yang lalu, kami pernah mendengar sebagian da’I mendengung-dengungkan masalah Wasa’il (sarana) dakwah, mengingkari kemungkaran. Mereka memasukkan di dalamnya perkara demonstrasi, pembunuhan, konvoi. Terkadang sebagian mereka menggolongkannya sebagai jihad ![10]

    • Kami mengharapkan dari anda suatu penjelasan jika memang perkara-perkara ini memang tergolong sarana yang disyari’atkan. Ataukah ia masuk dalam kategori bid’ah yang tercela dan sarana-sarana yang terlarang?
    • Kami mengharapkan penjelasan bagaimana bersikap dengan orang-orang menghasung kepada perbuatan-perbuatan seperti ini, begitu pula bersikap dengan para pelaku dan mendakwahkannya?”

    Maka beliau -rahimahullah- menjawab:”Alhamdulillah, Sudah diketahui bahwa amar ma’ruf nahi munkar, dakwah, membimbing orang adalah termasuk prinsip agama Allah Azza wa Jalla. Akan tetapi Allah Jalla wa ‘Alaa berfirman dalam Kitab-Nya Al-Aziz :

    ا دع إلى سبيل ربك بالحكمة والموعظة الحسنة وجادلهم بالتي هي أجسن [النحل: 125]”

    “Serulah ke jalan Rabb-Mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, serta bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik”. [QS.An-Nahl : 125]

                Tatkala Allah mengutus Musa dan Harun menuju Fir’aun, Allah Ta’ala berfirman:

    فقولا له قولا لينا لعله يتذكر أو يخشى

    “Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah-lembut. Mudah-mudahan ia ingat atau takut”[QS.Thoha : 44]

                Nabi -Shollallahu alaihi wasallam- datang dengan hikmah dan memerintahkan agar para da’I menempuh hikmah dan agar berhias diri dengan kesabaran. Ini di dalam Al-Qur’an Al-Aziz dalam Surat Al-Ashr:

    والعصر إن الإنسان لفي خسر إلا الذين آمنوا وعملواالصالحات وتواصوا باالحق وتواصوا بالصبر

    “Demi masa, Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholeh, nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi menetapi kesabaran”.[QS.Ashr]

                Jadi seorang da’I, orang yang memerintahkan kebaikan, dan melarang dari kemungkaran, wajiblah bagi dirinya untuk menghiasi dirinya dengan kesabaran, mengharapkan pahala dan ganjaran (di sisi Allah), menanggung segala sesuatu yang ia dengarkan atau terkadang ia dicemooh dalam dakwahnya.

                Adapun seorang da’I menempuh cara kekerasan, atau dia -wal’iyadzu billah- menempuh cara dengan menyakiti manusia, mengganggu orang, atau menempuh cara perselisihan dan pertengkaran, dan memecah belah kesatuan. Ini merupakan perkara-perkara setan. Dia adalah prinsip dakwah Khawarij. Inilah prinsip dakwah Khawarij!! Mereka itulah yang mengingkari kemungkaran dengan senjata, mengingkari sesuatu perkara-perkara yang mereka anggap tidak boleh dan menyelisihi keyakinan mereka dengan cara perang, menumpahkan darah, mengkafirkan orang, dan beberapa perkara lain.

                Maka bedakanlah antara dakwah para sahabat Nabi -Shollallahu alaihi wasallam- dan Salafush Sholeh dengan dakwah Khawarij dan orang yang menempuh manhaj (jalan hidup) mereka, dan menjalani jalan mereka. Dakwahnya para sahabat dengan cara hikmah, nasehat, menjelaskan kebenaran, dengan penuh kesabaran, dengan berhias kesabaran, dan mencari pahala dan ganjaran. Sedangkan dakwah Khawarij dengan cara membunuh manusia, menumpahkan darah mereka, mengkafirkan mereka, memecah-belah kesatuan, dan merobek-robek barisan kaum muslimin. Ini adalah perbuatan-perbuatan keji dan bid’ah. Sepantasnya orang-orang yang mengajak kepada perkara-perkara seperti ini dijauhkan dan dijauhi, diburuk-sangkai. Mereka itu telah memecah-belah kesatuan kaum muslimin. Padahal Persatuan itu merupakan rahmat, sedangkan perpecahan merupakan sengsara dan adzab-wal’iyaadzu billah-. Andai suatu penduduk negara di atas kebaikan, bersatu di atas satu kata, niscaya mereka akan memiliki kharisma dan wibawa. Akan tetapi penduduk negara kita sekarang sudah berkelompok-kelompok dan terkotak-kotak. Mereka telah sobek, berselisih, musuh dari kalangan mereka masuk ke tengah-tengah mereka, dari sebagian mereka atas sebagian yang lainnya. Ini merupakan cara bid’ah, dan keji. Merupakan jalan seperti  yang telah berlalu keterangannya, datang dari orang-orang yang mau memecah-belah kesatuan, dan orang-orang yang telah membunuh Amirul Mukminin Ali-radhiyallahu anhu- dan orang-orang yang bersama beliau dari kalangan sahabat, peserta bai’at Ridhwan. Mereka telah membunuh beliau sedang mereka menginginkan “kebaikan”!! Sedang mereka itu adalah pemimpin kerusakan, pemimpin bid’ah, dan pemimpin perpecahan. Mereka itulah yang memecah-belah persatuan kaum muslimin, dan melemahkan barisan kaum muslimin. Demikian juga sampai orang-orang yang berpendapat bolehnya, mengadopsinya, dan menganggapnya baik. Maka orang seperti ini jelek aqidahnya, dan harus dijauhi.

                Aku tahu -wa’iyaadzu billah- bahwa ada seorang yang disiapkan untuk membahayakan ummatnya dan teman-teman majelisnya, serta orang-orang yang ada di sekitarnya. Nasihat yang haq, hendaknya seorang muslim menjadi seorang yang bekerja, membangun, mengajak kepada kebaikan, dan mencari kebaikan sebenar-benarnya. Dia harus mengucapkan kebenaran, berdakwah dengan cara yang benar dan lembut, berbaik sangka terhadap saudaranya, serta mengetahui bahwa kesempurnaan merupakan sesuatu yang sulit diraih, bahwasanya yang ma’shum adalah  Nabi -Shollallahu alaihi wasallam- , dan andaikan para pemerintah tersebut hilang/pergi, maka tak akan datang orang yang lebih bagus dibandingkan mereka. Andaikan semua orang yang ada hilang/pergi -sama saja diantara mereka ada pemerintah, penanggung jawab, atau para penuntut, atau rakyat. Andaikan ini semuanya pergi/hilang -rakyat negara mana saja-, niscaya akan datang pemimpin yang lebih jelek darinya !! Karena tak akan datang suatu masa kecuali yang berikutnya lebih buruk. Jadi, orang yang menginginkan agar orang sampai pada derajat kesempurnaan, atau menjadi orang-orang yang ma’shum dari segala kesalahan dan kejelekan. Orang (yang berpemikiran) macam ini adalah orang sesat. Mereka ini adalah orang-orang Khawarij. Mereka inilah yang memecah-belah persatuan manusia dan menyakiti mereka. Ini merupakan tujuan orang-orang yang memusuhi Ahlus Sunnah wal Jama’ah dengan berbagai bid’ah dari kalangan orang Rofidhoh, Khawarij, Mu’tazilah, dan seluruh jenis pelaku kejelekan dan bid’ah”.[11]

    Ucapan Fadhilah Asy-Syaikh Al-Allamah An-Najmy -Hafizhahullah-

    Beliau-Hafizhahullah- berkata ketika beliau memberikan beberapa catatan atas Jama’ah Al-Ikhwan Al-Muslimin: “Catatan ke-23: Program konvoi dan demonstrasi. Islam tidaklah mengakui perbuatan seperti ini, dan tidak mengikrarkannya. Bahkan dia adalah perkara baru dari orang-orang kafir. Sungguh hal tsb berpindah dari mereka kepada kita. Apakah setiap kali orang-orang kafir melakukan suatu perbuatan, maka kitapun mengikuti mereka.

    Islam tidaklah tertolong dengan konvoi dan demonstrasi. Akan tetapi tertolong dengan jihad yang terbangun di atas aqidah yang benar dan jalan yang telah disunnahkan oleh Muhammad bin Abdullah -Shollallahu alaihi wasallam-

    Sungguh Rasul dan para pengikut beliau telah terkena berbagai macam bala’, namun mereka tidak diperintahkan kecuali untuk bersabar. Ini, Musa –Alaihis Salam- bersabda kepada Bani Isra’il -sekalipun mereka mendapatkan dari Fir’aun dan kaumnya berbagai macam siksaan, berupa pembunuhan bayi pria dan membiarkan wanita hidup-. Musa berkata kepada kaumnya sebagaimana yang Allah kabarkan:

    قال موسى لقومه استعينوا بالله واصبروا إن الأرض لله يورثها من يشاء من عباده والعاقبة للمتقين

    “Musa berkata kepada kaumnya: Mintalah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah. Sesungguhnya bumi (ini) kepunyaan Allah. Diwariskannya kepada orang yang dikehendaki-Nya di antara para hamba-hamba-Nya. Sedangkan kesudahan yang baik bagi orang-orang yang bertaqwa”. [QS.Al-A’raaf : 128]

    Ini Rasulullah-Shollallahu alaihi wasallam- bersabda kepada sebagian sahabatnya tatkala mereka mengadu kepada beliau tentang apa yang mereka jumpai dari orang-orang musyrikin:”Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian dulu pernah didatangkan seorang laki-laki diantara mereka. Lalu gergaji diletakkan di atas kepalanya sampai terbelah apa yang ada di antara kaki. Hal itu tidaklah memalingkannya dari agamanya. Allah benar-benar akan menyempurnakan urusan agama ini sampai ada seorang laki-laki akan berjalan dari Shon’aa’ ke Hadhramaut ia tak takut kecuali kepada Allah dan serigala atas kambingnya. Akan tetapi kalian terlalu tergesa-gesa”. Beliau tidaklah memerintahkan para sahabatnya untuk melakukan demo dan pembunuhan”.[12]


    [1] Diterjemahkan dan di-ta’liq (diberi catatan kaki) oleh Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah –hafizhahullah-

    [2] Adapun hadits yang diriwayatkan dalam kitab-kitab tarikh bahwa Nabi-Shollallahu alaihi wasallam- keluar setelah Umar masuk Islam. Beliau diapit dua barisan sahabat. Barisan pertama di pimpin oleh Umar –radhiyallahu anhu-dan yang satunya oleh Hamzah-radhiyallahu anhu- dengan harapan bisa menampakkan kekuatan kaum muslimin di depan Quraisy, maka hadits ini merupakan hadits dho’if (lemah) karena ada seorang rawi yang bernama Ishaq bin Abdullah bin Abi Farwah, seorang yang munkarul hadits. [Lihat Nazhorot wa Ta’ammulat min Waqi’il Ummah, hal.152 karya Syaikh Muhammad bin Abdurrahman Al-Khumayyis-Hafizhahullah- ]

    [3] Dari sini kita tahu bahwa amalan sholeh-termasuk dakwah- haruslah dilandasi oleh keikhlasan dan ittiba’ (mencontoh) Nabi-Shollall ahu alaihi wasallam- . Abdullah bin Mas’udradhiyallahu anhu-berkata dalam riwayat Ad-Darimy : “Berapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, akan tetapi ia tak sempat mendapatkannya”. Imam Ibnu Abi Jamrah –rahimahullah- berkata dalam Fathul Bari (10/22): “Dalamnya terdapat keterangan bahwa amalan sholeh , sekalipun didasari niat yang baik, maka tak akan sah kecuali jika terjadi sesuai dengan aturan syari’at”. Artinya, niat baik tidaklah menjadikan suatu pelanggaran dan dosa menjadi amal sholeh. Dalam hal ini, demonstrasi merupakan pelanggaran dan dosa tidak bisa diubah menjadi amalan sholeh karena hanya sekedar didasari niat baik para pelakunya dengan alasan amar ma’ruf nahi munkar, memperjuangkan rakyat, menyuarakan aspirasi rakyat, dakwah dan lain-lainnya. Tetap demo itu merupakan kebatilan dan bid’ah dalam berdakwah.

    [4] Lihat Majallah Al-Buhuts Al-Islamiyyah, edisi ke-38, hal.310

    [5] Sebagaimana yang dikatakan oleh seorang da’i hizbi, Safar Al-Hawaly. Dia berkata dalam kasetnya yang berjudul “Syarah Al-Aqidah Ath-Thohawiyyah”, no.185:”Sesungguhnya demonstrasi yang dilakukan oleh kaum wanita merupakan salah satu di antara uslub (cara) berdakwah dan memberikan pengaruh”. Senada dengan ini, A’idh Al-Qorny berkata: “Demi Dzat Yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh telah keluar di Al-Jaza’ir dalam satu hari 700.000 wanita muslimah yang berhijab menuntut ditegakkannya syari’at Allah”. Adapun Salman bin Fahd Al-Audah, maka tak jauh beda dengan kedua temannya tadi. Dia berkata dalam kaset “Lin Nisaa’ faqoth”: ”Sungguh kita telah mendengar di beberapa negara lain suatu berita yang menggembirakan adanya kembali (kesadaran) yang jujur -khususnya di kalangan pemudi- kepada Allah. Setiap orang dengar adanya demonstrasi lantang di al-Jaza’ir. Sedangkan pemimpinnya adalah sekelompok wanita.Jumlah mereka lebih dari ratusan ribu orang”.

    Syaikh Abdul Malik Al-Jaza’iry –Hafizhahullah-berkata dalam mengeritik kekeliruan tiga orang di atas: “Demi Allah, Sesungguh urusan mereka benar-benar aneh! Tidaklah pernah dibayangkan kalau Jazirah Arab –setelah adanya dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab- akan melahirkan orang-orang semacam mereka!? Apakah setelah kehidupan yang dihiasi dengan menjaga kehormatan yang dijaga oleh kaum muslimin Jazirah, akan datang Safar, Salman, dan Al-Qorny ke hadapan para wanita untuk mengeluarkan mereka dari rumah kemuliaan mereka dengan memperbanyak jumlah dan kekuatan dengan para wanita!? Safar menjelaskan pengaruh yang dalam ketika keluarnya para wanita tsb untuk berdemo, sedang Al-Qorny menguatkannya dengan sumpah!! Dan Salman membangkitkan semangat mereka agar tetap bersabar menghadapi tank-tank. Duh, Alangkah anehnya agamanya!”.  Lihat Madarik An-Nazhor, hal.419-420, cet. Dar Sabiil Al-Mu’minin.

    [6] Menasihati pemerintah secara rahasia dan tersembunyi seperti menziarahinya, menyuratinya, menelponnya, atau menghubunginya lewat temannya,dan semacamnya merupakan prinsip dakwah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Nabi-Shollallahu alaihi wasallam- bersabda, “Barang siapa yang ingin menasihati seorang penguasa, maka janganlah ia menampakkannya secara terang-terangan. Akan tetapi hendaknya ia mengambil tangannya, dan berduaan dengannya. Jika ia terima, maka itulah (yang diharap). Jika tidak, maka ia telah melaksanakan kewajiban atas dirinya”.[HR.Ibnu Abi Ashim dalam As-Sunnah (no. 1096). Syaikh Al-Albany berkata dalam Zhilal Al-Jannah, (hal.514): “Sanadnya shohih”] . “Hadits ini menunjukkan bahwa nasihat kepada pemerintah dengan cara rahasia, bukan dengan cara terang-terangan, dan bukan pula membeberkan aibnya di atas mimbar-mimbar, pesta-pesta, masjid-masjid, koran-koran, majalah dan lainnya sebagai suatu nasihat. Maka janganlah kalian terpedaya dengan orang yang melakukannya, sekalipun dilandasi oleh niat yang baik. Karena itu menyelisihi sunnah. Hadits ini merupakan prinsip  dalam menyembunyikan nasihat untuk penguasa dan bahwasanya seorang penasihat jika ia menasihati dengan cara seperti ini, maka sungguh ia telah lepas tanggung jawab. Hujjah hanyalah di dalam hadits Rasulullah-Shollallahu alaihi wasallam-, bukan pada ucapan atau perbuatan seorang manusia , bagaimanapun ia”. [Lihat: Al-Ward Al-Maqthuf,hal.66]

    [7] Simak Kaset : Muqtathofaat min Aqwaal Al-Ulama’.

    [8] Demonstrasi merupakan salah satu pemberontakan yang dilarang oleh Nabi-Shollallahu alaihi wasallam-. Beliau bersabda: “Barang siapa yang melihat dari pemimpinnya sesuatu yang ia benci, maka hendaklah ia bersabar atasnya. Karena barang siapa yang meninggalkan Al-Jama’ah (pemerintah,pent) sejengkal, lalu ia mati, maka ia mati seperti matinya orang jahiliyah”. [HR.Al-Bukhory, Muslim, Ahmad, dan lainnya]. Perhatikan sabda  beliau yg berbunyi : “…sejengkal…”. Ini menunjukkan bahwa memberontak seringan apapun tidak dibolehkan oleh Nabi –Shollallahu alaihi wasallam-, apalagi demo yang kadang menyebabkan permusuhan antara rakyat dengan pemerintah.

    Ibnu Baththol –rahimahullah – berkata, “Dalam hadits ini terdapat hujjah tidak bolehnya pemberontakan atas seorang penguasa, sekalipun ia zholim”.[Lihat: Al-Ward Al-Maqthuf, hal.77]

    Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin -rahimahullah-berkata dalam mengomentari hadits Dzul Khuwaisiroh, ”Ini merupakan dalil yang paling besar bahwa pemberontakan atas seorang penguasa bisa berupa pemberontakan dengan senjata, dan juga dengan ucapan dan omongan . Yaitu: Orang ini (Dzul Khuwaisirah) tidak mengambil senjata untuk melawan Rasul -Shollallahu alaihi wasallam-, akan tetapi ia hanya mengingkari beliau (depan umum)”. Lalu beliau berkata lagi: ”Kita sudah tahu dengan yakin secara tabiat bahwa tak mungkin akan ada pemberontakan bersenjata, kecuali sungguh telah didahului dengan pemberontakan lewat mulut dan ucapan. Manusia tak mungkin akan mengambil senjata mereka untuk memerangi penguasa tanpa ada sesuatu yang membangkitkan (emosi) mereka. Haruslah disana ada sesuatu yang membangkitkan (emosi) mereka berupa ucapan . Maka menjadilah pemberontakan atas penguasa dengan ucapan sebagai pemberontakan yang hakiki sebagaimana telah ditunjukkan oleh Sunnah dan realita”.[Lihat Fatawa Al-Ulama’ Akabir, hal.94]. Jadi, demo merupakan pemberontakan yang dilarang dalam Islam, pahamilah !!

    [9] Lihat Al-Jawab Al-Abhar, hal 75 karya Fu’ad Siroj

    [10] Demikianlah Khawarij, dari zaman ke zaman mereka menamai pemberontakan sebagai “amar ma’ruf nahi munkar”, “jihad”, “menyuarakan aspirasi rakyat”. Padahal semua itu adalah kerusakan dan pemecahbelahan!!

    [11] Lihat Majallah Safinah An-Najaah, edisi 2, Januari 1997 M.

    [12] Lihat Al-Maurid Al-Adzb Az-Zalaal, hal. 228, cet. Maktabah Al-Furqon, UEA

    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s