Upaya Penegakan Syari’at Islam Mengapa Gagal?

(Ditulis oleh: Al-Ustadz Luqman Baabduh)

Permasalahan ini adalah salah satu pokok penting yang harus segera dijawab demi tercapainya upaya dan cita-cita kita menegakkan syariat Islam. Berbagai upaya untuk menegakkannya telah dilakukan oleh banyak pihak dengan beragam cara dan sistem, namun tidak ada hasil selain kegagalan dan kegagalan. Bahkan, yang muncul adalah berbagai efek negatif yang merugikan umat Islam.

Dalam pembahasan kali ini kita akan mencoba mendiskusikan sebab-sebab yang mengantarkan kepada kegagalan, untuk kemudian dicarikan solusinya sesuai dengan bimbingan ilmu dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, serta contoh teladan dari generasi as-salafush shalih.

Sebab-sebab Kegagalan


1. Kebanyakan upaya penegakan syariat Islam yang dilakukan pada masa kini masih jauh dari ilmu dan bimbingan para ulama mujtahidin generasi as-salafush shalih serta para ulama yang mengikuti jejak mereka hingga hari ini.

Akibatnya, yang muncul adalah logika-logika yang saling bertentangan satu sama lain. Kondisi ini semakin memperlemah barisan kaum muslimin dan semakin memperkuat para penentang penegakan syariat Islam. Tidak ada jalan dan sistem yang lebih baik dibandingkan dengan tuntunan generasi as-salafush shalih. Ketika Rasulullah n ditanya tentang kelompok yang selamat atau sukses, beliau n menjawab:

مَنْ كَانَ عَلَى مَا أَنَا عَلَيْهِ الْيَوْمَ وَأَصْحَابِيْ

“Barang siapa yang berada di atas (prinsip) yang aku dan para sahabatku berada di atasnya pada hari ini.”1
Hal ini sebagaimana ungkapan yang sering disebutkan oleh para ulama:

كُلُّ خَيْرٍ فِي اتِّبَاعِ مَنْ سَلَفَ وَكُلُّ شَرٍّ فِي ابْتِدَاعِ مَنْ خَلَفَ

“Segala kebaikan terletak pada sikap meneladani generasi salaf, dan segala kejelekan terletak pada amalan yang diada-adakan oleh generasi khalaf (belakangan).”

Atas dasar itu, hendaknya semua pihak yang menginginkan dengan sungguh-sungguh penerapan syariat Islam segera mengoreksi sistem dan berbagai cara yang mereka terapkan berdasarkan bimbingan dan teladan generasi terbaik tersebut. Jangan sampai seperti ungkapan yang sering disebutkan oleh para ulama:

تَرْجُو النَّجَاةَ وَلَمْ تَسْلُكْ مَسَالِكَهَا
إِنَّ السَّفِيْنَةَ لاَ تَجْرِيْ عَلَى الْيَبَسِ

“Anda menginginkan keselamatan namun Anda tidak menempuh jalan-jalannya.

Sesungguhnya bahtera tidak akan pernah bisa berlayar di atas (tempat) yang kering.”

2. Belum adanya upaya at-tashfiyah dan at-tarbiyah
Upaya at-tashfiyah yang dimaksud adalah upaya membersihkan dan menjauhkan generasi umat Islam ini dari berbagai paham yang mengotori akidah, iman, ibadah, dan akhlak mereka. Adapun at-tarbiyah adalah upaya mendidik generasi Islam di atas iman dan akhlak yang mulia serta semangat beramal dan beribadah yang tinggi.

Masih banyak didapati di tengah-tengah masyarakat muslim—baik pribadi maupun kelompok pergerakan, bahkan lembaga pendidikan umat Islam— berbagai paham dan akidah yang menyimpang dari bimbingan Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai dengan pemahaman as-salafush shalih. Di antaranya seperti kesesatan akidah al-Jahmiyah dan al-Mu’tazilah2 yang menafikan (menolak) dan mengingkari sifat-sifat Allah l yang telah ditetapkan oleh Allah l dan Rasul-Nya n. Begitu pula, kesesatan akidah dan paham al-Qadariyah3 (para pengingkar takdir) masih menyelimuti akidah sebagian umat Islam dan tokoh-tokohnya.

Tak luput pula paham syi’ah4 dan tashawwuf5 yang telah mencabik-cabik akidah umat dan beberapa lembaga pendidikan umat Islam dengan berbagai khurafat, takhayul, dan keyakinan-keyakinan bernuansa syirik. Belum lagi paham khawarij6 dengan bendera yang berbeda-beda dan masing-masing dipimpin oleh amir jamaah sendiri dengan bai’at tersendiri, serta suara “perjuangan” sendiri, terus menebarkan akidah pengafiran dengan obyek yang berbeda-beda.

Kaum liberalis pun tak kalah gencar menanamkan akar-akar liberalisme di tengah-tengah masyarakat dan berbagai lembaga pendidikan kaum muslimin.
Semua hal di atas sangat membutuhkan upaya at-tashfiyah yang sangat mendesak. Keberadaan berbagai akidah menyimpang yang sebagiannya kami sebutkan di atas adalah penghalang terbesar turunnya pertolongan Allah l bagi umat ini. Sudah barang tentu, upaya at-tashfiyah ini harus dipimpin dan dibimbing langsung oleh para ulama umat yang mengikuti jejak generasi as-salafush shalih dan kepada merekalah urusan umat dikembalikan.

“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu segera menyiarkannya, kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri), kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kalian, tentulah kalian mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antara kalian).” (an-Nisa: 83)

يَحْمِلُ هَذَا الْعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُوْلُهُ يُنْفُوْنَ عَنْهُ تَحْرِيْفَ الْغَالِيْنَ وَانْتِحَالَ الْمُبْطِلِيْنَ وَتَأْوِيْلَ الْجَاهِلِيْنَ

“Ilmu agama ini akan terus dibawa oleh orang-orang adil (tepercaya) dari tiap-tiap generasi, yang selalu berjuang membersihkan agama ini dari: (1) Tahriful ghalin (pemutarbalikan pengertian agama yang dilakukan oleh orang-orang yang menyimpang), (2) Intihalul mubthilin (tipu daya ahlul batil), (3) Ta’wilul jahilin (pentakwilan agama yang salah yang dilakukan oleh orang-orang yang jahil).” (HR. Ibnu ‘Adi dalam al-Kamil, dari sahabat Abu Hurairah z dan ‘Abdullah bin ‘Umar c, dan al-Baihaqi dari sahabat Ibrahim bin ‘Abdirrahman al-’Adzari z)

Sudah Siapkah Umat Islam Menerapkan Syariat Islam?
Pertanyaan ini sangat penting dan mendesak untuk segera dijawab karena hal ini adalah salah satu sebab kegagalan upaya penerapan syariat Islam. Keberhasilan penerapan syariat Islam sangat bergantung kepada kemauan dan sikap kaum muslimin sendiri untuk menjadikan syariat Islam sebagai sumber hukum dan perundang-undangan dalam seluruh aspek kehidupan mereka.

Jika kaum muslimin memiliki kemauan dan kejujuran serta keimanan yang tulus untuk megamalkan syariat Islam pada kehidupan pribadi, rumah tangga, dan masyarakat, baik dalam hal akidah, akhlak, ibadah, maupun muamalah mereka dalam keseharian, pasti Allah akan mewujudkan tegaknya syariat Islam di bumi dan negeri mereka tinggal. Allah berfirman:

“Sungguh Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa sungguh Dia (Allah) akan menjadikan mereka sebagai pihak yang berkuasa di muka bumi, sebagaimana Allah telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Allah akan mengokohkan bagi mereka agama mereka yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Allah benar-benar akan menukar (keadaan) mereka sesudah mereka dahulu dalam ketakutan menjadi aman sentausa, mereka tetap beribadah kepada-Ku dengan tidak mempersekutukan Aku dengan sesuatu apapun, dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (an-Nur: 55)

Akan tetapi, apabila kaum muslimin tetap enggan untuk beramal dan berhukum dengan syariat Islam pada diri, rumah tangga, dan masyarakat mereka, baik dalam urusan akidah, akhlak, ibadah, maupun muamalah dalam keseharian, Allah l tidak akan pernah mewujudkan impian mereka berupa tegaknya syariat Islam di bumi mereka. Allah l justru akan memberikan kepada mereka para pemimpin atau penguasa yang zalim dan cenderung bermaksiat, sesuai dengan keadaan dan kondisi mereka. Hal ini sebagaimana firman Allah l:

“Dan demikianlah Kami jadikan sebahagian orang-orang yang zalim itu menjadi teman bagi sebahagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan.” (al-An’am: 129)

Asy-Syaikh ‘Abdurrahman as-Sa’di t berkata, “Di antara makna ayat ini adalah jika para hamba telah banyak melakukan kezaliman dan kerusakan, serta keengganan untuk menunaikan kewajiban, pasti akan berkuasa atas mereka para penguasa zalim yang akan menimpakan azab (hukuman) yang berat kepada mereka. Penguasa itu akan menyiksa mereka dengan penuh kezaliman dan kebengisan melebihi keengganan mereka untuk memenuhi hak-hak Allah atau hak-hak hamba-Nya … Sebagaimana pula jika para hamba tersebut beramal saleh dan istiqamah, pasti Allah l akan membenahi para pemimpin mereka dan menjadikannya sebagai para penguasa yang adil dan sportif, bukan para penguasa yang zalim dan bengis.” (Taisirul Karimirrahman)
Bahkan, Allah l mengancam pihak-pihak yang berpaling dari syariat-Nya dengan berbagai ancaman yang sangat berat, sebagaimana telah kami jelaskan di atas pada pembahasan sebelumnya.

Khusus kepada pihak-pihak yang lebih dikenal sebagai para aktivis pergerakan, hendaknya mereka menjadi orang-orang yang terdepan dalam mengamalkan syariat Islam pada diri, keluarga, dan masyarakatnya. Hendaklah mereka berupaya melakukan at-tashfiyah (upaya penjernihan) terhadap akidah, akhlak, dan cara ibadah, serta bermuamalah mereka.

Hendaknya mereka membersihkan akidahnya dari berbagai paham menyimpang yang sebagiannya telah kami sebutkan di atas, sebagaimana pula mereka wajib membersihkan cara ibadahnya dari berbagai bentuk amalan yang tidak pernah dibimbingkan oleh Rasulullah n.

Tak kalah penting, mereka juga harus membersihkan rumah tangganya dari berbagai perbuatan yang tidak diridhai oleh Allah l. Hendaklah para istri dan putra-putri mereka terbimbing dengan bimbingan syariat Islam dalam hal akidah, akhlak, dan ibadah mereka.

Sengaja kami menyampaikan himbauan ini karena kami masih mendapati beberapa pihak yang menyerukan penegakan syariat Islam namun belum melakukan upaya at-tashfiyah, pada diri, keluarga, dan lingkungan terdekatnya. Bahkan, tidak sedikit dari mereka yang tidak melakukan upaya at-tashfiyah kepada anggota kelompok atau pergerakannya.

Jika berbagai hal di atas belum mereka lakukan, janganlah berkhayal akan terwujud penerapan syariat Islam di bumi mereka tinggal. Ini sebagaimana ungkapan yang sering disebutkan oleh sebagian:

أَقِمْ دَوْلَةَ الْإِسْلاَمِ فِيْ نَفْسِكَ تُقَمْ فِيْ أَرْضِكَ

“Terapkanlah dahulu negara Islam pada diri Anda sendiri, pasti (negara Islam tersebut) akan ditegakkan (oleh Allah) di bumi Anda.”

Keterpurukan umat Islam tidak kunjung usai melainkan jika mereka semua berupaya dengan sungguh-sungguh kembali kepada bimbingan syariat Islam sebagaimana yang ditegaskan oleh Rasulullah n:

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ

“Jika kalian berjual beli dengan sistem ‘inah (sistem riba), dan kalian telah sibuk dengan ekor-ekor sapi (pertanian), dan kalian juga rela (senang) dengan perkebunan, serta meninggalkan jihad, pasti Allah akan menimpakan kepada kalian kehinaan yang tidak akan pernah dicabut oleh Allah sampai kalian semua kembali kepada (syariat) agama kalian.” (HR. Abu Dawud, al-Baihaqi, dan selain keduanya, dari sahabat ‘Abdullah bin ‘Umar c)

Rasulullah n juga bersabda:

وَلَمْ يَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيْزَانَ إِلاَّ أُخِذُوْا بِالسِّنِيْنَ وَشِدَّةِ الْمَئُوْنَةِ وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عَلَيْهِمْ

“Tidaklah mereka (umat ini) mengurangi takaran dan timbangan melainkan akan ditimpakan kepada mereka paceklik, kehidupan yang sulit, dan kekejaman penguasa terhadap mereka.” (HR. Ibnu Majah, Abu Nu’aim dalam al-Hilyah, dari sahabat ‘Abdullah bin ‘Umar c. Lihat Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah)

Syariat Islam Versi Siapa?

Ketika kita berbincang tentang syariat Islam di masa kita hidup ini, tentu ada sebuah pertanyaan penting yang juga harus segera dijawab. Pertanyaan itu adalah syariat Islam menurut pandangan dan kacamata siapa yang akan ditegakkan?

Pertanyaan ini mungkin nampak aneh bagi sebagian pihak. Namun, hal ini tidak boleh diabaikan karena kita hidup di masa yang penuh dengan perpecahan dan perbedaan akidah dalam memahami Islam dan syariat Islam itu sendiri. Di tengah-tengah muslimin telah hidup berbagai kelompok dan mazhab yang memiliki cara pandang dan akidah yang berbeda-beda. Tentu hal itu akan mempengaruhi sistem penerapan syariat Islam yang akan mereka tegakkan.

Berbagai paham menyimpang bermunculan di tengah masyarakat muslim. Mulai dari paham sesat Syi’ah, Sufi, Mu’tazilah, Qadariyah, Jahmiyah, Khawarij, sampai kaum liberalis telah mengotori akidah kaum muslimin. Belum lagi adanya berbagai kelompok seperti HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) yang bernuansa paham Mu’tazilah. Kemudian muncul pula kelompok HDI (Hizb Dakwah Islam) yang konon adalah sempalan kelompok HTI yang sama-sama mengklaim ingin memperjuangkan tegaknya Khilafah Islamiyah ‘ala Manhajin Nubuwwah—entah apa sebabnya mereka berselisih, padahal masih belum terwujud khilafah yang mereka impikan.

Begitu pula kelompok MMI (Majelis Mujahidin Indonesia) yang pada awalnya dipimpin oleh Abu Bakar Ba’asyir (ABB). Kemudian terjadilah perselisihan yang sengit antarpembesar kelompok ini. ABB kemudian memisahkan diri dan mendirikan kelompok baru yang diberi nama Jama’ah Ansharut Tauhid (JAT) dengan struktur kepemimpinan dan bai’at tersendiri. Konon, kata ABB, sebab keluarnya adalah sistem organisasi yang diterapkan di MMI masih menggunakan sistem/sunnah Yahudi, yaitu sistem demokrasi. Adapun yang benar, menurut ABB, adalah sistem al-Jama’ah wal Imamah (JI). Dengan kata lain, kelompok MMI tidak lagi menerapkan syariat Islam atau tidak lagi berhukum dengan hukum Islam dalam sistem keorganisasian dan kepemimpinannya.

Di sini akan muncul pertanyaan, kafirkah kelompok MMI dengan sebab itu? Tentu sebuah pertanyaan yang sulit dijawab oleh kelompok MMI sendiri maupun JAT. Dua kelompok yang tadinya satu payung berselisih paham sebelum terwujudnya impian mereka. Jika demikian, syariat Islam dalam pandangan kelompok mana yang pantas diterapkan?

Tidak jauh berbeda, kondisi kelompok IM (Ikhwanul Muslimin), LDII, dan rival beratnya JAMUS (Jama’atul Muslimin) yang saling mengklaim bahwa keamiran dan bai’atnya sajalah yang sah, semakin membikin suram permasalahan. Tak kalah pula kelompok Khilafatul Muslimin yang beraliran paham Khawarij semisal MMI dan JAT, ikut meramaikan suasana perpecahan yang terjadi.

Mayoritas kelompok di atas memiliki sistem keamiran, bai’at, dan cara pandang terhadap syariat Islam serta cara perwujudannya yang berbeda-beda. Masing-masing mengklaim bahwa kelompok, sistem keamiran, dan bai’atnya sajalah yang sah.

Semua itu semakin mengaburkan gambaran syariat Islam yang hakiki. Dengan demikian, pertanyaan
“Syariat Islam versi siapa yang akan ditegakkan?” adalah pertanyaan penting yang harus selalu diajukan.
Kita akan merasakan semakin pentingnya hal ini ketika kita mencoba menengok sejarah di masa al-Imam Ahmad bin Hanbal yang hidup di bawah pemerintahan al-Ma’mun. Al-Ma’mun banyak dipengaruhi oleh para tokoh mazhab Jahmiyah dan Mu’tazilah. Mereka berhasil menanamkan akidah sesatnya kepada Sang Khalifah bahwa Al-Qur’an itu adalah makhluk, bukan kalamullah. Sebuah akidah yang sangat bertentangan dengan syariat yang diturunkan oleh Allah l serta bertentangan dengan akidah dan pengamalan generasi as-salafush shalih. Sebuah akidah yang para ulama generasi as-salafush shalih, di antaranya al-Imam Malik, al-Imam asy-Syafi’i, al-Imam Ahmad, al-Imam Sufyan ats-Tsauri, al-Imam Waki’, al-Imam Abu Hatim, al-Imam Abu Zur’ah, dan lain-lain berkata:

مَنْ زَعَمَ أَنَّ الْقُرْآنَ مَخْلُوْقٌ فَقَدْ كَفَرَ

“Barang siapa yang berkeyakinan bahwa Al-Qur’an itu makhluk (yakni bukan kalamullah), sungguh dia telah kafir.”

Tragisnya, kaum Mu’tazilah dan Jahmiyah berhasil mempengaruhi Khalifah. Akhirnya, Khalifah pun menetapkan akidah yang sesat dan menyesatkan itu sebagai salah satu prinsip utama dalam khilafahnya yang harus diyakini oleh semua rakyat. Tidak sedikit dari para ulama terbaik umat ini yang terpaksa harus dibunuh karena menentang kebijakan pemerintahan al-Ma’mun. Tidak sedikit pula di antara mereka yang harus merasakan siksaan di penjara khilafah. Di antara mereka adalah seorang imam yang mulia dan gigih membela tauhid serta syariat Islam, yaitu al-Imam Ahmad.

Tidak cukup beliau disiksa dan dipenjara pada masa Khalifah al-Ma’mun saja. Penderitaan beliau t bahkan berlanjut pada masa Khalifah al-Mu’tashim hingga Khalifah al-Watsiq. Dalam keadaan kaum Mu’tazilah dan khalifah pada waktu itu merasa telah menegakkan syariat Islam dan membelanya. Sungguh sangat tragis.
Di masa kita hidup pun, kita mendengar beberapa negara mengatasnamakan dirinya sebagai negara Islam.

Sebagai contoh, negara Iran yang memproklamirkan dirinya sebagai negara Islam. Berbagai kelompok pergerakan yang sedang mengimpikan penegakan syariat Islam serta merta memuji dan menyanjung negara Iran dan Khumaini sebagai pemimpin teladan umat ini, tanpa mau meninjau syariat bentuk apa yang dicanangkan oleh negara Iran. Kenyataannya, Islam yang dimaukan dan diterapkan di sana adalah paham Syi’ah yang menyesatkan. Jadilah syiar-syiar akidah warisan si Yahudi Abdullah bin Saba’ itu sangat dijunjung tinggi di negeri tersebut.

Pertanyaan di atas kembali terlintas di benak kita, “Syariat Islam versi siapa yang akan ditegakkan?”
Syariat Islam versi HTI? Syariat Islam versi HDI? Syariat Islam versi MMI? Syariat Islam versi JAT? Syariat Islam versi Syi’ah? Begitu seterusnya, tak kunjung usai.

Kaum Liberalis Penentang Syariat Islam

Kondisi di atas menggambarkan kepada kita betapa carut-marutnya keadaan para penyeru syariat Islam. Hal ini semakin diperparah dengan keberadaan kaum liberalis yang tidak henti-hentinya siang dan malam mempropagandakan gerakan anti syariat Islam dengan cara yang sistematis. Mulai dari paham pluralisme, sistem penafsiran hermeneutika, desakralisasi Al-Qur’an, perkawinan beda agama, kesetaraan gender, poligami, dukungan untuk perkawinan sesama jenis, dan sebagainya, hingga pelecehan terhadap Allah l, Rabb semesta alam. Lihat sekelumit penjelasan tentang kaum liberalis pada majalah Asy Syari’ah Vol. VI/No. 63/1431 H/2010 yang bertema Benang Kusut Madzhab IAIN.

Mereka dengan penuh kegigihan terus menanamkan syubhat anti syariat kepada masyarakat muslim. Dengan itu, dapat dipastikan bahwa mereka telah bekerja untuk kepentingan kaum kuffar, baik Yahudi, Nasrani, dan yang lainnya, untuk menghancurkan Islam dan menjauhkan kaum muslimin dari syariat Islam.

Maka dari itu, kepada seluruh kaum muslimin, baik sebagai rakyat maupun pemerintah, hendaknya mewaspadai bahaya gerakan kaum liberalis dan segera mengambil langkah untuk melindungi putra-putri muslimin dan para aparatur pemerintah dari bahaya paham liberalisme yang telah menyerang berbagai lembaga pendidikan serta ormas-ormas di negeri ini. Jika kaum liberalis dan paham liberalisme ini dibiarkan tumbuh subur, kita semua—rakyat ataupun pemerintah—akan berhadapan dengan Allah, Sang Pemilik alam semesta, sebagaimana yang telah kami sebutkan pada pembahasan sebelumnya.

Jangan Menjadikan Slogan Penerapan Syariat Islam Sebagai Komoditi Politik Untuk Memikat Hati Umat
Sebelum kami mengakhiri tulisan ini, perlu kami sampaikan sebuah nasihat untuk saudara kami semua agar masing-masing kita merasa bertanggung jawab terhadap nama baik dan kemuliaan syariat Islam, baik di hadapan pemeluknya maupun di hadapan kaum kuffar.

Janganlah seruan penerapan syariat Islam hanya dijadikan sebagai komoditi politik untuk memikat hati umat demi sebuah kepentingan duniawi yang sedang dikejarnya. Tidak jarang, beberapa kelompok atau partai politik yang menampakkan dirinya berasaskan syariat Islam. Namun, realitasnya slogan ini hanya dijadikan sebagai tunggangan untuk mencapai target-target politiknya. Amaliah keseharian mereka, kelompok, dan partainya sangat jauh dari norma-norma Islam.

Sebagai contoh adalah MMI, salah satu kelompok yang sangat getol meneriakkan syariat Islam, bahkan sering menamakan dirinya sebagai ‘mujahidin’. Ternyata, salah satu pejabat terasnya menyandarkan ‘sikap dakwah’ atau lebih tepat dikatakan sikap politiknya kepada ramalan Ronggowarsito, salah satu dukun terbesar di negeri ini, dengan mencalonkan amir kelompoknya kala itu, yaitu ABB, sebagai calon presiden independen Indonesia. Konon pejabat teras ini dipecat dari kelompok MMI, namun akhirnya dirangkul kembali oleh ABB ke dalam kelompok barunya, JAT.

Sungguh sangat naif. Sebuah kelompok yang tidak jarang mencela bahkan mengafirkan pihak-pihak yang berhukum dengan selain hukum Allah l, namun salah satu pimpinan terasnya terjatuh ke dalam amal kesyirikan yang sangat bertentangan dengan tauhid dan syariat Islam itu sendiri.

Tentu sangat berbeda jika perbuatan dosa besar di atas dilakukan oleh seorang awam yang tidak pernah meneriakkan penerapan syariat Islam. Atau dilakukan oleh anggota baru dari kelompok tersebut yang belum memegang jabatan tertentu.

Tidak jauh berbeda dari kondisi di atas adalah PKS (Partai Keadilan Sejahtera) sebagai partai yang menjadikan seruan penerapan syariat Islam sebagai komoditi politiknya. Ternyata, di antara tokoh-tokoh partai tersebut mempercayai khurafat angka 8 sebagai angka keberuntungan untuk mempromosikan partainya. Partai politik ini semula mengumumkan Islam sebagai asasnya dan penerapan syariat Islam sebagai slogannya. Akan tetapi, ternyata pada hari-hari ini mereka—dengan penuh kebodohan dan kesombongan, serta tanpa malu—mengumumkan bahwa partainya bukanlah partai Islam dan membuka kesempatan bagi kaum kuffar untuk bersama-sama berjuang dalam bingkai partainya tersebut.

Ketahuilah, berbagai pelanggaran mendasar yang dapat merobohkan sendi-sendi tauhid di atas—di samping telah mencoreng nama Islam sebagai syariat dan sumber hukum—adalah penghalang turunnya pertolongan Allah l kepada umat ini dalam meraih kemuliaan hidup di dunia dan akhirat dengan penerapan syariat Islam di negeri mereka tinggal.

Wallahu a’lam.

Sumber : http://asysyariah.com/upaya-penegakan-syariat-islam-mengapa-gagal/

2 pemikiran pada “Upaya Penegakan Syari’at Islam Mengapa Gagal?

  1. salam

    sepertinya penulis perlu tabayun pada ulama2 yang ada di HTI sebelum mengatakan bahwa mereka bernuansa paham mu’tazilah. karena dari kitab2 mereka yang saya baca, mereka tidak membenarkan paham mu’tazilah. begitu juga dengan ust abu bakar ba’asyir. penulis juga harus tabayun langsung sama beliau biar tidak muncul fitnah. karena dengan memberi informasi seperti ini, akan semakin membuat umat islam tidak tahu mana yang harus di percaya. karena menurut saya, penulis sendiri sama sekali tidak atau belum mendakwahkan agar umat islam segera menerapkan syariat islam dalam kehidupan bermasyarakat atau bernegara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s