Mengenal Istilah Al-Imam

Biasanya istilah ini disematkan kepada seseorang yang dijadikan sebagai panutan dan yang diikuti, baik dalam kebaikan atau keburukan. Allah Ta’ala berfirman:

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ

“Dan Kami jadikan di antara mereka itu Imam-imam yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar . Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (QS.As-Sajadah: 24)

Demikian pula firman-Nya:

وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَإِقَامَ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءَ الزَّكَاةِ وَكَانُوا لَنَا عَابِدِينَ

“Kami telah menjadikan mereka itu sebagai Imam-imam yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada mereka, agar mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah.”(QS. Al-Anbiya’: 73)

Diantara dalil yang menunjukkan kata “Imam” digunakan dalam keburukan seperti firman Allah:

فَقَاتِلُوا أَئِمَّةَ الْكُفْرِ

“Perangilah imam- imam kekufuran.” (QS. At-Taubah: 12)

Dan firman-Nya:

وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ

“Kami jadikan mereka sebagai imam- imam yang menyeru kepada Neraka.” (QS. Al-Qashash: 41)

Didalam Islam, penyebutan Imam tidak ditujukan kecuali kepada mereka yang pantas dijadikan sebagai panutan dalam berislam yang benar, baik dalam perkara aqidah, manhaj, fikih, mu’amalah, dan aspek kehidupan lainnya, dimana dia dikenal sebagai orang yang kokoh diatas kebenaran dan memiliki ilmu yang luas.

Oleh karenanya, menggunakan istilah imam kepada seseorang tanpa melihat kondisi orang tersebut apakah ia pantas mendapatkannya, merupakan hal yang kurang tepat. Diantara yang memberi peringatan dalam masalah ini adalah Al-Allamah Muhammad bin Saleh Al-Utsaimin Rahimahullah, ketika disebutkan gelar “Imam” didepan nama Al-Muwaffaq Ibnu Qudamah, Beliau berkata:

“ini termasuk sikap memudah-mudahkan dalam sebagian perkara, sebab Al-Muwaffaq bukanlah seperti Imam Ahmad, atau Asy-Syafi’i, atau Malik, atau Abu Hanifah, namun Beliau seorang Imam dalam perkara tertentu, ada yang mendukung pendapatnya dan berpegang dengannya, sehingga dia disebut imam dari sisi ini. Adapun imamah (kepemimpinan) yang kedudukannya seperti yang dimiliki Imam Ahmad dan yang semisalnya, Beliau tidak sampai kepada tingkatan tersebut.

Pada masa-masa belakangan ini, semakin banyak penyebutan gelar “Imam” dikalangan manusia, bahkan gelar tersebut disematkan kepada yang terendah dari tingkatan para ulama. Hal ini, kalau hanya sekedar penggunaan lafazh semata, itu perkara yang ringan. Namun ternyata berpengaruh sampai kepada maknanya. Sebab seseorang, jika melihat ada yang diberi gelar imam, maka ucapan-ucapannya pun dijadikan sebagai qudwah (panutan), padahal dia orang yang tidak berhak mendapatkannya. Hal ini seperti ucapan mereka sekarang ini terhadap orang yang terbunuh dalam peperangan: bahwa dia mati syahid. Ini adalah haram, tidak diperbolehkan dipersaksikan kepada setiap orang secara individu bahwa dia mati syahid. Al-Bukhari Rahimahullah menyebutkan bab dalam permasalahan ini dengan : Bab: tidak boleh mengatakan: sifulan Syahid. Bersabda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam:

والله أعلم بمن يجاهد في سبيله والله أعلم بمن يكلم في سبيله

“Allah lebih mengetahui siapa yang berjihad dijalan-Nya, Allah lebih mengetahui siapa yang terluka dijalan-Nya.”

Demikian pula Umar bin Khaththab Radhiallahu anhu melarang dari hal tersebut.

Iya, boleh disebut: siapa yang terbunuh dijalan Allah maka dia syahid, siapa yang terbunuh karena terkena reruntuhan, atau tenggelam maka dia syahid, namun tidak boleh dipersaksikan secara individu tertentu.” (Asy-Syarhul mumti’:1/16-17)

Walhasil, penyebutan Imam kepada seseorang yang layak merupakan hal yang hukumnya boleh, asal ditempatkan pada tempatnya. Jangan hanya karena Al-Ikhwanul muslimin terbiasa menyebut pemimpinnya dengan sebutan “Imam” lalu menghukumi itu sebagai kebiasaan ikhwani, lalu siapa yang melakukannya maka dia telah terjatuh kedalam hizbiyah, atau mengikuti kebiasaan hizbiyah. Namun hendaknya tidak terlalu memperluas dalam penggunaan istilah ini, seperti perbuatan sebagian mereka yang terlalu mudah memberi pujian kepada yang sepemikiran dengannya, bahkan terkadang pujian itu dinilai sangat berlebihan. Namun dalam menyikapi orang yang berselisih dengan mereka, terlalu mudah untuk melemparkan caci maki dan celaan yang mungkin kita tidak pernah mendengar yang sejenis cacian tersebut kecuali dari anak-anak jalanan, preman dan centeng pasar, adapun penuntut ilmu??, saya tidak mengira ada yang berbuat seperti itu.

Satu contoh saja, pernah kami diperlihatkan pamflet pengumuman pengajian yang akan diisi oleh “Imam Ahlus sunnah Wal-jama’ah”!!!. Wah luar biasa, dengan dasar apa diberi gelar “Imam Ahlus sunnah”?, apakah di indonesia ini sudah ada Imam ahlus sunnah wal jama’ah yang patut dijadikan sebagai panutan dalam segala hal, atau termasuk yang disebutkan oleh Ibnu Utsaimin Rahimahullah bahwa itu termasuk bermudah-mudahan dalam penggunaannya?. Kalaulah setiap Imam shalat boleh digelari “Imam” setiap namanya disebutkan, maka alangkah banyaknya para imam Ahlussunnah di negeri kita ini, wallahul musta’an.

Sumber : http://www.salafybpp.com/5-artikel-terbaru/191-ternyata-istilah-ustadz-pun-jadi-masalah.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s