Makna Ar Razzaq (Maha Memberi Rizki)

(Ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc)

Salah satu Al-Asma’ul Husna adalah Ar-Razzaq (الرَّزَّاقُ), juga Ar-Raziq (الرَّازِقُ). Nama Allah k itu disebutkan dalam ayat-Nya:

“Sesungguhnya Allah, Dialah Maha Pemberi Rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.” (Adz-Dzariyat: 58)

Demikian juga dalam hadits Rasul-Nya n yang diriwayatkan dari Anas z, ia berkata, “Orang-orang mengatakan:

يَا رَسُولَ اللهِ غَلاَ السِّعْرُ فَسَعِّرْ لَنَا. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ n: إِنَّ اللهَ هُوَ الْمُسَعِّرُ الْقَابِضُ الْبَاسِطُ الرَّازِقُ، وَإِنِّي لَأَرْجُو أَنْ أَلْقَى اللهَ وَلَيْسَ أَحَدٌ مِنْكُمْ يُطَالِبُنِى بِمَظْلَمَةٍ فِى دَمٍ وَلاَ مَالٍ

“Wahai Rasulullah, harga-harga naik. Kami mohon Anda menetapkan harga.” Beliau menjawab, “Allah l-lah yang menentukan harga, yang menahan dan yang membentangkan, serta yang memberi rezeki. Aku berharap agar berjumpa dengan Allah l dalam keadaan tidak ada seorang pun dari kalian menuntutku karena sebuah kezaliman dalam urusan darah atau harta.” (Sahih, HR. Abu Dawud. Disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani)

As-Sa’di t menerangkan makna nama Allah l tersebut, “Maha Pemberi Rezeki terhadap seluruh makhluk, sehingga tidaklah ada sesuatu yang ada di alam angkasa ataupun alam bumi kecuali menikmati rezeki-Nya dan dilingkupi oleh kedermawanan-Nya.”

Muhammad Khalil al-Harras berkata, “Salah satu nama Allah l adalah اَلرَّزَّاقُ (Ar-Razzaq), yang merupakan bentuk mubalaghah1 dari kata اَلرَّازِقُ (Ar-Raziq). Perubahan bentuk kata tersebut menunjukkan sesuatu yang banyak, diambil dari kata اَلرَّزْقُ (ar-razq) yang bermakna pemberian rezeki, yang merupakan bentuk mashdar (kata dasar). Adapun اَلرِّزْقُ (ar-rizq) adalah nama bagi sesuatu yang Allah l rezekikan kepada seorang hamba (kata benda). Jadi, makna Ar-Razzaq adalah Dzat yang banyak memberi rezeki kepada hamba-hamba-Nya, yang bantuan dan keutamaan-Nya bagi mereka tidak terputus walau sekejap mata.

Adapun kata Ar-Razq sama dengan kata Al-Khalq (penciptaan), yaitu sebagai salah satu sifat perbuatan, yakni salah satu sifat-Nya sebagai Rabb (Rububiyyah). Kata Ar-Razq tidak boleh disandarkan kepada yang selain-Nya, sehingga yang selain-Nya tidak boleh disebut Raziq (pemberi rezeki) sebagaimana tidak boleh disebut Khaliq (pencipta). Allah l berfirman:
“Allah-lah yang menciptakan kamu, kemudian memberimu rezki, kemudian mematikanmu, kemudian menghidupkanmu (kembali). Adakah di antara yang kamu sekutukan dengan Allah itu yang dapat berbuat sesuatu dari yang demikian itu? Mahasuci Dia dan Mahatinggi dari apa yang mereka persekutukan.” (ar-Rum: 40)

Jadi, semua rezeki itu di tangan Allah l saja. Dialah pencipta rezeki dan pencipta makhluk yang memanfaatkan rezeki tersebut. Dialah yang menyampaikan rezeki tersebut kepada mereka. Dia juga merupakan Pencipta sebab-sebab menikmatinya. Oleh karena itu, yang wajib dilakukan adalah menyandarkan rezeki tersebut hanya kepada Allah l satu-satu-Nya dan mensyukuri-Nya.
Rezeki Allah l kepada hamba-hamba-Nya ada dua macam, yaitu yang umum dan yang khusus. Rezeki yang umum adalah Allah l menyampaikan segala kebutuhan hidup mereka dan menjaga kelangsungan mereka. Oleh karena itu, Allah l memudahkan jalan-jalan rezeki bagi mereka. Allah l pun mengaturnya dalam jasad mereka, lalu menyampaikan makanan yang dibutuhkan jasad ke anggota-anggota tubuh yang kecil maupun yang besar. Rezeki yang umum ini mencakup orang yang baik maupun yang jahat, muslim maupun kafir, bahkan juga meliputi manusia, jin, dan hewan. Allah l berfirman:

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya.” (Hud: 6)

Rezeki ini mungkin berupa sesuatu yang halal, yang tidak mengandung dosa bagi hamba. Akan tetapi, mungkin pula berupa sesuatu yang haram namun tetap disebut sebagai rezeki dari sisi ini2, yaitu disalurkannya kepada anggota badan dan dijadikannya badan tersebut dapat mengambil manfaat darinya, sehingga hal ini tetap bisa disebut rezeki dari Allah l. Sama saja, baik dia mengambilnya dari yang halal maupun dari yang haram. Yang seperti ini sekadar disebut rezeki (muthlaqur rizq).

Adapun yang kedua, (rezeki yang khusus) adalah rezeki yang mutlak (yang sempurna), atau rezeki yang bermanfaat di dunia maupun di akhirat. Rezeki ini diperoleh melalui Rasulullah n dan terbagi menjadi dua.

1. Rezeki bagi kalbu, berupa ilmu dan iman serta hakikat keduanya, karena kalbu sangat membutuhkan pengetahuan akan kebenaran dan berkeinginan terhadapnya, serta ingin menghamba kepada Allah l. Dengan rezeki ini akan tercukupi dan hilang rasa butuhnya (karena kalbu tidak akan membaik, beruntung, dan merasa kenyang hingga mendapatkan ilmu tentang hakikat yang bermanfaat dan aqidah yang benar, akhlak yang mulia, serta bersih dari akhlak yang hina. Apa yang dibawa Rasul n menjamin dua hal tersebut sesempurna-sempurnanya, dan tidak ada jalan menuju kepadanya melainkan melalui jalan beliau n).

2. Rezeki bagi badan, berupa rezeki halal yang tidak mengandung dosa. Allah l mencukupi hamba-Nya dengan rezeki yang halal sehingga tidak membutuhkan yang haram. Allah l juga mencukupi hamba-Nya dengan keutamaan-Nya sehingga tidak membutuhkan selain keutamaan-Nya.

Rezeki yang khusus untuk mukminin dan yang mereka minta dari-Nya adalah kedua macam rezeki tersebut.

Yang pertama adalah tujuan terbesar, sedangkan yang kedua adalah sarana menuju kepadanya dan yang membantu dalam mewujudkannya. Bila Allah l memberikan rezeki kepada seorang hamba berupa ilmu yang bermanfaat, iman yang benar, rezeki yang halal, serta sifat qana’ah (merasa cukup) dengan apa yang Allah l rezekikan, berarti segala urusannya telah sempurna dan keadaannya telah lurus, baik sisi agama maupun jasmaninya. Rezeki semacam inilah yang dipuji dalam nash-nash (teks-teks) nabawi dan tercakup dalam doa-doa yang bermanfaat.
Oleh karena itu, bila berdoa kepada Rabbnya, seorang hamba semestinya mengingat dalam kalbunya dua hal ini, sehingga bila dia mengatakan, ‘Ya Allah, berikan kepadaku rezeki’, yang dia maksud adalah sesuatu yang membuat kalbunya semakin baik, yaitu ilmu dan petunjuk, serta pengetahuan dan iman; juga yang menjadikan jasmaninya baik, yaitu rezeki yang halal, yang nikmat, yang tidak sulit, dan tidak mengandung dosa. (Syarh Nuniyyah karya al-Harras, 2/110—111 dengan beberapa tambahan dari Syarh al-Asma’ wash Shifat, kumpulan penjelasan as-Sa’di)

Buah Mengimani Nama Allah Ar-Razzaq

Dengan mengimani nama Allah l tersebut, kita mengetahui betapa besarnya karunia Allah l dan betapa luasnya rezeki-Nya. Semua makhluk-Nya: manusia, jin, dan hewan, Allah k berikan rezeki-Nya kepada mereka tanpa kecuali. Lebih dari itu, Allah l mengkhususkan rezeki yang besar di dunia dan akhirat untuk hamba-Nya yang bertakwa.

Tentu semua itu menuntut kita untuk selalu bersyukur atas semuanya—rezeki iman dan amal, serta rezeki kebutuhan kita sehari-hari—, tunduk kepada-Nya, memohon kepada-Nya, karena Dialah yang Mahakaya dan Mahamampu, serta tidak memohon rezeki kepada selain Allah l, siapa pun dia karena pada hakikatnya semuanya tidak memiliki apa pun. Justru mereka juga mendapatkan rezeki dari Allah Yang Maha Pemberi Rezeki, Ar-Razzaq.
Wallahu a’lam.

Catatan kaki:

1 Bentuk mubalaghah adalah bentuk kata yang menunjukkan makna yang lebih.

2 Kelompok Mu’tazilah tidak menyebut yang haram sebagai rezeki. Pendapat mereka salah. Bahkan, yang haram juga bisa disebut rezeki dari sisi yang disebutkan ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s