Makna Ar Rafiq

(Ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc)

Di antara Al-Asma’ul Husna adalah nama Allah Ar-Rafiq. Nama Allah l ini tidak terdapat dalam ayat Al-Qur’an, namun dalam hadits Nabi n. Dari Aisyah x, ia berkata,

اسْتَأْذَنَ رَهْطٌ مِنَ الْيَهُودِ عَلَى النَّبِيِّ n فَقَالُوا: السَّامُ عَلَيْكَ. فَقُلْتُ: بَلْ عَلَيْكُمُ السَّامُ وَاللَّعْنَةُ. فَقَالَ: يَا عَائِشَةُ، إِنَّ اللهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِى الْأَمْرِ كُلِّهِ. قُلْتُ: أَوَلَمْ تَسْمَعْ مَا قَالُوا؟ قَالَ: قُلْتُ: وَعَلَيْكُمْ.

Sekelompok Yahudi meminta izin menemui Nabi n. Mereka mengatakan, “Assamu ‘alaikum (artinya: kematian atas dirimu).” Aku menjawab, “Bahkan ‘Alaikumussam (kematian atas kalian), demikian pula laknat.” Nabi n berkata, “Wahai Aisyah, sesungguhnya Allah Maha Rafiq dan mencintai kelembutan dalam segala urusan.” Aku pun mengatakan, “Tidakkah engkau mendengar apa yang mereka katakan?” Nabi menjawab, “Aku sudah menjawab, ‘Wa ‘alaikum (dan atas kalian juga)’.” (Sahih, HR. al-Bukhari)

Dari Aisyah x, istri Nabi n, bahwa Rasulullah n bersabda:
يَا عَائِشَةُ، إِنَّ اللهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ وَيُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لاَ يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ وَمَا لاَ يُعْطِي عَلَى مَا سِوَاهُ

“Wahai Aisyah, sesungguhnya Allah Maha Rafiq. Allah l mencintai kelembutan dan memberikan kepada kelembutan apa yang tidak Allah l berikan kepada kekerasan, dan yang tidak Allah l berikan kepada selainnya.” (Sahih, HR. Muslim)

Al-Harras berkata, “Kata (الرَّفِيقُ) Ar-Rafiq terambil dari kata (الرِّفْقُ) Ar-Rifq yang berarti perlahan-lahan dalam sebuah urusan dan bertahap padanya. Lawannya adalah (الْعُنْفُ) al-‘unf yang berarti keras dan terburu-buru dalam urusan tersebut (jadi, Allah Ar-Rafiq, memiliki sifat rifq dalam perbuatan-perbuatan dan syariat-syariat-Nya).

Allah l bersifat lembut, perlahan-lahan, dan bertahap dalam perbuatan-Nya. Dia menciptakan makhluk seluruhnya dengan bertahap, sedikit demi sedikit beriringan dengan hikmah dan sifat rifq-Nya, padahal Allah l mampu menciptakannya sekaligus dengan sekejap.

Allah l bersifat lembut, perlahan-lahan, dan bertahap dalam perintah dan larangan-Nya, sehingga tidak membebani hamba-Nya dengan beban-beban yang berat sekaligus. Bahkan, dengan bertahap dari satu keadaan menuju keadaan yang lain, sehingga jiwa mereka lekat dengannya dan tabiat mereka merasa tenteram dengannya. Ini sebagaimana Allah l menetapkan kewajiban puasa, pengharaman khamr, riba, dan semisalnya. (Maka dari itu, barang siapa yang memerhatikan makhluk-makhluk dan syariat-syariat, cara Allah l menetapkannya setahap demi setahap, dia akan menyaksikan sesuatu yang sangat ajaib)

Oleh karena itu, seseorang yang bersikap perlahan-lahan serta mengerjakan urusan-urusannya dengan bertahap dan tenang, dalam rangka mengikuti aturan-aturan kauniah Allah l serta mengikuti petunjuk Rasulullah n, urusan-urusannya akan menjadi mudah. Urusan-urusan yang sulit pun akan tunduk kepadanya. Terlebih seseorang yang tampil mendakwahi manusia kepada kebenaran, ia harus menjiwai kelembutan dan kehati-hatian (tidak terburu-buru), sebagaimana firman Allah l:

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (Fushshilat: 34) (Syarah Nuniyah karya al-Harras, 2/93 dengan beberapa tambahan dari Syarh al-Asma wash Shifat kumpulan penjelasan as-Sa’di)

Sufyan ats-Tsauri t berkata,

لَا يَأْمُرُ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ إِلاَّ مَنْ كَانَ فِيْهِ خِصَالٌ ثَلاَثٌ: رَفِيْقٌ بِمَا يَأْمُرُ رَفِيْقٌ بِمَا يَنْهَى، عَدْلٌ بِمَا يَأْمُرُ عَدْلٌ بِمَا يَنْهَى، عَالمٌِ بِمَا يَأْمُرُ عَالِمٌ بِمَا يَنْهَى

“Tidak boleh melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar—memerintahkan kepada yang baik dan melarang dari yang mungkar—melainkan orang yang memiliki tiga sifat: lembut dan tidak tergesa dalam memerintahkan dan melarang, adil dalam memerintahkan dan adil dalam melarang, serta mengilmui yang dia perintahkan dan yang dia larang.”

Ibnu Rajab t berkata,
وَبِكُلِّ حَالٍ يَتَعَيَّنُ الرِّفْقُ فِي الْإِنْكَارِ

“Bagaimana pun keadaannya, wajib perlahan-lahan dan tidak tergesa dalam mengingkari.”

As-Sa’di berkata, “Demikian pula seseorang yang disakiti oleh orang-orang dengan kata-kata kotor, namun dia menjaga lisannya dari mencela mereka. Dia membela dirinya dengan kehati-hatian dan kelembutan. Dengan begitu, gangguan mereka akan tercegah. Lain halnya bila dihadapi dengan sikap yang sama. Ditambah lagi, dengan begitu dia juga memperoleh kelapangan jiwa, ketenteraman, kestabilan, dan kesabaran.”

Kelembutan, kehati-hatian, dan ketidaktergesaan seorang hamba tidak berarti menghilangkan tekad dan keteguhan. Oleh karena itu, seseorang hendaknya tetap bersikap lembut dan tidak tergesa-gesa dalam urusan-urusannya, namun tidak pula melewatkan kesempatan ketika ada dan tidak menyia-nyiakannya ketika datang.

Buah Mengimani Nama Allah Ar-Rafiq

Dengan kita mengimani nama Allah l tersebut, kita mengetahui betapa besar perhatian Allah l akan kondisi dan kemampuan hamba-hamba-Nya, sehingga Allah l tidak begitu saja menetapkan suatu hukum, namun dengan perlahan-lahan sesuai dengan kesiapan mereka. Ini mengajari kita untuk juga bersikap demikian dalam mendidik dan memberikan beban.

Kita juga mengetahui betapa besar kasih sayang Allah l kepada kita, sehingga menuntut kita senantiasa bersyukur kepada-Nya, sekaligus mengajari kita untuk bersikap belas kasih terhadap sesama hamba Allah l. Pelajaran amat penting yang bisa kita ambil adalah bahwa seorang da’i atau juru dakwah—secara khusus—hendaknya memiliki sifat rifq dengan makna yang lengkap, yaitu kelembutan, kehati-hatian, ketidaktergesaan, dan bertahap dalam segala urusan, terlebih menyangkut urusan umat. Dengan memiliki sifat ini segala urusan akan menjadi mudah, insya Allah, sebagaimana dijelaskan para ulama di atas.

Wallahu a’lam.

Sumber : http://asysyariah.com/ar-rafiq/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s