Kisah Penggugah Hati (Bag.1)

Setiap bani adam yang hidup di dunia ini tentunya mengharapkan sebuah kebahagian. Benar bukan? Lalu, bagaimana cara mendapatkannya?

Imam Ibnul Qoyyim dalam “Waabilush Shoyyib” juga Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhab dalam risalah “Qowa’idul Arba’” menyebutkan bahwa pokok kebahagiaan ada tiga: ketika diberi bersyukur, ketika diuji bersabar dan jika salah beristighfar.

Semoga kisah Abu Qilabah ini bisa memberi inspirasi buat kita tentang makna syukur dan sabar, bidznillah.

Beliau adalah ‘Abdulloh bin Zaid, ulama kesohor yang disegani oleh ulama’ lain semasa beliau. Keilmuan dan akhlak beliau begitu agung hingga beliau diminta untuk menjadi Qodhi.

Apakah beliau menerimanya? Tidak. Ilmunya yang tinggi membuat beliau takut akan sebuah jabatan. Atau beliau takut akan ditanya pertanggung jawabannya di hari kiamat. Apapun itu beliau lari dan terus berlari dari jabatan yang menghantuinya, menjauh menghindari keramaian manusia.

Hingga pada suatu hari . . .
Biarkan ‘Abdulloh bin Muhammad yang mengkisahkannya. Al Imam Ibnu Hibban dalam kitab “Ats Tsiqat” membawakan sebuah sanad sampai kepada ‘Abdulloh bin Muhammad, beliau berkata;

Ketika itu aku ditugaskan murobathoh (menjaga daerah perbatasan kaum muslimin) di tepi sebuah pantai, bernama Aresy Mishr. Sesampainya di sana tiba-tiba aku berada di sebuah pesisir pantai yang luas. Aku berusaha menelusurinya. Berjalan dan terus menelusuri hingga aku menemukan sebuah kemah.

Sebentar kuperhatikan, kedua mataku mendapati sebuah tubuh yang amat memprihatinkan. Kedua tangannya putus.. kedua kakinya juga. Pendengaran dan penglihatannya juga tak berfungsi dengan normal. Hampir-hampir ia tak mempunyai anggota badan yang normal kecuali lisannya.

Kulipat gandakan fokus mataku dan memang hanya lisannya yang berfungsi normal. Dia berdoa, “ya Allah, berilah aku kekuatan untuk dapat memuji-Mu. Puji-pujian yang dapat menunaikan rasa syukurku atas segala kenikmatan yang telah Engkau anugrahkan padaku. Sungguh Engkau telah melebihkanku atas kebanyakan makhluk yang Kau ciptakan.”

Demi Allah, aku harus mendatanginya, bisikku dalam hati. Apa gerangan sebab doanya itu? Apakah ia memahami dan mengetahui yang diucapkannya, atau hanya ilham semata?

Dengan langkah pasti kudekati sosok tubuh itu.

“Assalamualaikum,” kucoba memulai.

“Aku tadi mendengar doamu. Gerangan apa yang membuatmu berdoa seperti itu? Nikmat apa yang telah engkau dapatkan hingga engkau sangat memuji-Nya? Keutamaan apa yang telah engkau peroleh hingga engkau mensyukuri-Nya?” lanjutku memberinya pertanyaan bertubi-tubi. Siapa yang tidak terheran-heran dengan doanya. Padahal tubuhnya begitu memprihatinkan

“Apa kau tidak melihat perlakuan Rabb-ku kepadaku. Demi Allah, seandainya saja Ia mengirim halilintar yang membakar tubuhku, atau memerintahkan gunung-gunung untuk menindihku sehingga hancur tubuhku, atau menitahkan laut untuk menenggelamkanku, atau menyuruh bumi menelanku, semua itu hanya akan menambah tekadku bersyukur kepada-Nya semakin kuat, karena nikmat lisan yang Ia anugrahkan padaku,” terangnya.

“Wahai, hamba Allah!” serunya padaku. Seperti ia ingin sesuatu hal.

“Karena engkau telah mendatangiku, bolehkah aku meminta bantuanmu. Engkau telah melihat keadaanku ini. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku tidak bisa melindungi diri dari mara bahaya. Aku pun tak bisa memberi manfaat untuk diriku sendiri.

Aku memiliki seorang anak yang selalu melayaniku. Jika waktu sholat tiba, dia mewudhukan aku. Jika aku lapar, dia menyuapiku. Dan jika aku haus, dia memberiku minum.

Namun entah kemana dia sekarang. Aku telah kehilangannya selama tiga hari. Tolonglah aku, carikanlah kabarnya untukku, semoga Allah merahmatimu,” pintanya memelas.

“Demi Allah, tidaklah seseorang berjalan menunaikan keperluan saudaranya melainkan akan mendapatkan ganjaran yang besar di sisi-Nya. Apalagi jika orangnya seperti engkau,” aku memenuhi permintaannya. Aku berusaha menguatkan tekad untuk membatunya, melangkahkan kaki mencari tahu tentang anaknya. Sambil berjalan, aku menyelami pikiranku. Tentang orang tua tadi, juga anaknya.

Tiba-tiba, sontak khayalanku berhenti mengikuti langkah kakiku . . . .

(Bersambung, insya Allah)

Dikirim oleh Al-Yahya Al-Windany (salah satu thulab di Darul Hadist Fuyus,Yaman)

Sumber : WA Thulab Al-Fuyus

Iklan

3 pemikiran pada “Kisah Penggugah Hati (Bag.1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s