Kisah Penggugah Hati (Bag. 2)

Aku berusaha menguatkan tekad untuk membantunya, melangkahkan kaki mencari tahu tentang anaknya. Sambil berjalan, aku menyelami pikiranku. Tentang orang tua tadi, juga anaknya.

Tiba-tiba, sontak lamunanku berhenti mengikuti langkah kakiku. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un. Itu anaknya! Itu anaknya! Tewas diterkam dan dimakan binatang buas.

Bagaimana aku mengatakan kepada orang tadi? Berat nian deritanya.

Dengan berat hati aku berusaha mengayunkan langkah. Ku ayunkan kembali ke kemah, tempat orang tadi. Walau pahit tuk dikatakan, namun ini harus. Tapi juga harus dengan cara yang tepat. Ku berusaha memutar otak bagaimana cara mengatakannya.

Seiring langkah kaki yang terus bertambah, pikiranku juga terus memacu. Berpikir dan terus mencari. Dan akhirnya.. Nabi Ayyub ‘alaihis salam! Aku teringat Nabi Ayyub ‘alaihis salam. Mungkin ini cara yang tepat.

Aku pun bergegas. Sesampainya di sana,

“Assalamualaikum,” salamku.

“Wa’alaikum salam,” jawabnya.

“Bukankah engkau yang tadi menemuiku,” dia melanjutkan.

“Iya,” jawabku.

“Bagaimana dengan permintaanku. Apakah engkau telah mendapatkan kabarnya?” tanyanya. Aku pun berusaha menjelaskan,

“di sisi Allah, engaku kah yang lebih mulia atau Nabi Ayyub?”

“Tentu Nabi Ayyub ‘alaihis salam,” jawabnya.

“Tahukah engkau cobaan yang Allah timpakan kepada Nabi Ayyub? Bukankah Allah menguji beliau pada harta, keluarga dan putranya?”

“Benar.”

“Bagaimana sikap beliau menghadapi ujian tersebut?”

“Beliau bersabar, bersyukur dan memuji Allah subhanahu wa ta’ala.”

“Tidak sampai di situ. Beliau juga ditinggal karib kerabat dan sahabatnya bukan?”

“Benar.”

“Bagaimana sikap beliau menghadapinya?”

“Beliau tetap bersabar, bersyukur dan tak jemu memuji Allah subhanahu wa ta’ala.”

“Tidak cukup sampai di situ. Beliau juga jadi bahan pembicaraan setiap orang yang lewat di jalan. Benar bukan?”

“Iya. Aku tahu.”

“Bagaimana sikap beliau?”

“Beliau selalu bersabar, bersyukur dan bertahmid memuji Allah subhanahu wa ta’ala.”

Sepertinya ia mulai paham arah pembicaraanku.

“Semoga Allah merahmatimu. Langsung saja jelaskan maksudmu,” pintanya.

Dengan sangat berat aku mengatakannya, “aku telah menemukan putramu. Aku menemukannya di antara gundukan pasir.. tewas diterkam binatang buas. Semoga Allah melipatgandakan pahalamu.. semoga Allah menyabarkanmu.”

(Subhanalloh! Tak ada keluhan yang keluar dari lisannya. Tak ada kekecewaan yang tersirat dari kalbunya. Justru yang terucap hanyalah tahmid kepada Allah subhanahu wa ta’ala, sebagai simbol relief yang telah terpahat dalam kalbunya. Apa sebenarnya yang beliau ucapkan? Bagaimana pula akhir kisah ini? Insya Allah dalam kesempatan berikutnya)

Dikirim oleh Al-akh yahya al-Windany (salah satu thulab di Darul Hadits Fuyus,Yaman)

WA Thulab Al-fuyus

Sumber : WA Salafy Lintas Negara

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s