Kisah Penggugah Hati (Bag. 3)

Walaupun berat aku harus mengatakannya, “aku telah menemukan putramu. Aku menemukannya di antara gundukan pasir.. tewas diterkam binatang buas. Semoga Allah melipatgandakan pahalamu.. semoga Allah menyabarkanmu.”

~~~ Subhanalloh! Tak ada keluhan yang keluar dari lisannya. Tak ada kekecewaan yang tersirat dari raut wajahnya. Justru yang terucap hanyalah tahmid kepada Allah subhanahu wa ta’ala, sebagai simbol relief yang telah terpahat dalam kalbunya.

Alhamdulillah. Iya. Hanya “alhamdulillah” yang keluar dari bibirnya. Subhanalloh! ‘Abdulloh bin Muhammad melanjutkan,-pent ~~~

“Alhamdulillah, Dia tidak menciptakan bagiku keturunan yang bermaksiat kepada-Nya sehingga Dia menyiksanya dengan api neraka,” kata orang tadi begitu mendengar berita yang kubawa.

“Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un,” kalimat thoyyibah terus terangkai elok dari bibirnya mengikuti kalimat thoyyibah sebelumnya. Ia pun menarik napas dalam-dalam menghayati kenikmatan Allah yang tiada tara banyaknya. Seakan-akan musibah yang baru saja menimpanya juga sebuah nikmat yang harus dibalas dengan ucapan “alhamdulillah”.

Ia terus menghayati mengikuti aliran napas yang keluar. Dan saat napas benar-benar keluar, ternyata itu adalah nafas terakhirnya.

Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un!

Besar nian musibahku. Aku tak tahu harus berbuat apa. Jika aku biarkan jasad mulia ini, tentu binatang buas akan memakannya. Namun jika aku pergi, siapa yang akan menjaga jasadnya.

Aku pun hanya bisa menyelimuti dengan kain yang ada di tubuhnya. Selebihnya, tubuhku hanya duduk terpaku di dekat kepalanya. Merenungi peristiwa luar biasa yang mewarnai lembaran kehidupanku hari ini. Tak terasa butiran-butiran air mata menetes membasahi pipi.

Tiba-tiba datanglah empat orang dan bertanya, “Abdulloh, ada apa denganmu? Apa yang terjadi?”

Aku ceritakan kisah indah nan mengharukan ini kepada mereka dari awal sampai akhir.

“Tolong bukalah kain ini, kiranya aku mengenalnya,” kata salah seorang mereka.

Begitu aku menyingkapnya, tiba-tiba mereka tersungkur berebut mencium keningnya. Aku pun kaget dan terheran-heran melihatnya. Sepertinya orang ini punya jasa besar kepada mereka.

“Wallahi, matanya selalu tunduk dari memandang perkara haram. Wallahi, tubuhnya selalu sujud saat orang-orang terlelap dalam mimpi,” kata salah seorang mereka mengenangnya.

“Semoga Allah merahmati kalian. Siapa orang ini?” benar-benar rasa penasaranku sampai puncak.

“Abu Qilabah Al Jarmi, sahabat Ibnu ‘Abbas. Sungguh dia sangat mencintai Allah dan Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam,” terang salah seorang dari mereka.

Akhirnya, kami pun memandikan dan mengkafaninya dengan pakaian yang kami pakai, lalu kami menyolati dan menguburkannya.

Seusainya, mereka kembali pulang. Aku juga menuju pos penjagaanku di daerah perbatasan.

Saat malam tiba, saat aku tidur.. tiba-tiba aku terseret ke dimensi lain. Aku berada di sebuah taman . . .

(bersambung, insyaAllah)

Dikirim oleh Al-akh yahya Al-Windany(salah satu thulab di darul hadist Fuyus,Yaman)

WA Thulab Al-Fuyus

Sumber : WA Salafy Lintas Negara

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s