Merekalah yang paling mulia

Ya. Merekalah yang paling mulia setelah baginda Nabi -sholollahu ‘alaihi wasalam-. Ridhwanullahi ‘alaihim ajma’in.

Alquranlah sebagai saksi mereka. Betapa mulia dan tingginya martabat mereka di  kalangan ummat ini.

Keutamaan mereka menjulang tinggi. Nabi kita -shalollahu ‘alaihi wasalam- bersabda, “Sebaik baik generasi adalah yang hidup di masaku. Kemudian yang hidup setelahnya dan setelahnya.”

Bagaimana tidak !? Allah telah memilih mereka dari sekian banyak hamba-Nya yang beriman untuk mendampingi nabi nya.

Bagaimana tidak !? Allah telah menjadikan mereka sebagai perantara sampainya agama ini kepada kita.

Allah telah ridho kepada mereka. Mereka yg keras dan tegas terhadap kuffar, sayang dan lembut terhadap sesamanya.

Inilah ‘Abdurrohman bin ‘Auf dan seorang dari Anshor. Ketika Rosulullah -sholollhu ‘alaihi wasalam- mempersaudarakan antara muhajirin dan anshor, datanglah ‘Abdurrohman kepada saudaranya, Sa’ad bn Robi’.

“Wahai saudaraku tunjukkanlah kepadaku pasar, semoga Allah merahmatimu,” kata ‘Abdurrohman .

“Ketahuilah, wahai ‘Abdurrohman. Allah telah menganungrahkan harta benda kepadaku, ambilah setengahnya. Aku juga memiliki dua istri, pilihlah salah satu,” Sa’ad menawari.

“Semoga Allah memberkahi harta dan keluargamu. Tunjukkan saja kepadaku pasar,” jawab ‘Abdurrohman sembari mengulang pertanyaannya. Sa’ad pun menunjukkannya.

Subhanallah..! Betapa mulianya sahabat ini ! Siapakah di zaman kita  yang semulia beliau !? Menawarkan salah satu istrinya untuk dinikahi orang lain, menawarkan setengah harta yang dimiliki.

Pun Abdurrohman bn ‘auf, menolak dengan perkataan yang menunjukkan bijaksananya beliau dan ‘iffah yang beliau miliki.

Penolakan yang tidak menyinggung sang pemberi, namun juga tetap menjaga iffah dengan mencari  harta dari jerih payahnya sendiri.

Bisakah kita mencontohnya ? Menyamai tentunya tak mungkin, namun setidaknya kan mendekati.

Peristiwa lain yang menunjukkan mulianya para shohabat adalah kisah ‘Abdurrohman bin ‘Auf dengan Kholid bin Walid, sang pedang Allah yang terhunus. Ketika diantara keduanya terdapat sedikit masalah, dikabarkan permasalahan ini kepada Nabi -shalollahu’ alaihi wa sallam-. Seketika beliau marah dan berkata kepada Kholid, “Janganlah kalian menghina sahabatku. Seandainya salah seorang kalian menginfakkan emas sebesar gunung uhud, tentu tak akan menyamai  setengah mud (seukuran dua genggaman tangan orang dewasa) yang mereka infaqkan.”

Subhanallah..!! Betapa mulianya mereka. Ridhwanullah ‘alaihim ajma’in.

‘Abdurrohman bin ‘Auf memang termasuk sahabat yang banyak keutamaannya. Beliau masuk Islam sebelum Rosululloh berdakwah di rumah Zaid bin Arqom, melalui tangan Abu Bakar Ash-Shidiq -rodhiallahu ‘anhu-. Beliau sempat hijroh dua kali, pertama ke Habasyah dan yang kedua ke Madinah.

Keberanian beliau sangat mengagumkan. Pernah terjadi sebuah peperangan antara kaum muslimin dan kaum kuffar. Sebelum perang campuh dimulai, dari kedua kubu menampilkan jagoannya masing-masing.

‘Abdurrohman bin ‘Auf maju dengan untanya menyosong tantangan musuh. Keduanya saling serang. Dan ‘Abdurrohman berhasil membuat orang musyrik jatuh tersungkur.

Tak hanya sampai disitu. Setelah mengatasi lawan tandingnya, ‘Abdurrohman -rodhiallahu ‘anhu- maju merangsek barisan musuh dengan untanya memporak porandakan kekuatan tempur mereka, kemudian kembali pada barisan kaum muslimin.

Marahlah kaum musyrikin dengan kerugian yang mereka derita. Mulailah terompet berbunyi, tabuh dipukul dan sorak sorai membumbung ke angkasa tanda perang campuh dimulai.

Kaum muslimin pun menggemakan takbir yang membangkitkan ruh semangat sehingga membuat goyah kaki-kaki musuh.

Itulah Abdurrohman bin ‘auf, sahabat nabi yang mulia. Beliau termasuk sahabat yang kaya raya. Suatu ketika, mendadak Aisyah dan seorang shohabiyah lainnya -rodhiallahu ‘anhuma- mendengar keramaian.

“Suara apa ini, wahai Aisyah?” Shohabiah itu bertanya.
“Inilah ‘Abdurrohman bn ‘Auf bersama kafilahnya datang dari syam,” jawab Aisyah.

Tapi subhanallah, kekayaan tidak pernah menyibukkannya dari ibadah dan taqorub kepada Robbul ‘Alamin. Bahkan justru membantunya.

Saat ditanyakan kepada beliau tentang hartanya, apa jawabannya?

“Aku telah melepaskannya ketika masuk masjid.”

Subhanallah..!!

Salah satu mutiara yang beliau katakan, “Kita diuji bersama Rasululloh dengan kesusahan, maka kita mampu bersabar. Namun sepeninggal beliau, kita diuji dengan kelapangan dan tak mampu bersabar.”

Demikianlah sohabat Nabi ‘Abdurrohman bin ‘Auf -rodhiallahu ‘anhu-. Semoga Allah mempertemukan kita dengannya di jannah-Nya yang seluas langit dan bumi.

Aamiin, ya mujibassailin.

Dikirim oleh Al-akh Umar Bakhtir(salah satu thulab di Darul Hadist Fuyus,Yaman)

Sumber : WA Salafy Lintas Negara

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s