Janji Allah untuk kejayaan kaum muslimin dan syarat untuk mencapainya

(TADABBUR SURAT ANNUUR AYAT 55)

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ
  وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Allah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan beramal sholih: sungguh-sungguh Allah akan menjadikan mereka khalifah di muka bumi sebagaimana orang-orang sebelum mereka telah menjadi khalifah. Dan Allah akan mengokohkan agama mereka yang Allah ridhai terhadap mereka, dan sungguh-sungguh Allah akan mengganti setelah perasaan takut mereka menjadi perasaan aman. (dengan syarat) mereka menyembahKu dan tidak mensekutukan Aku dengan suatu apapun. Barangsiapa yang kafir setelah itu maka mereka adalah orang-orang yang fasiq (Q.S anNuur:55)

Para Ulama menjelaskan bahwa dalam ayat ini Allah menjanjikan 3 hal:

1. Menjadikan kaum mukminin menjadi khalifah (penguasa) yang juga menguasai wilayah-wilayah orang-orang musyrikin, sebagaimana Allah perluas kekuasaan bagi umat-umat sebelumnya yang juga beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.
Qotadah –seorang tabi’i- menafsirkan: seperti berkuasanya Dawud dan Sulaiman serta Nabi-Nabi yang lain (Tafsir al-Baghowy (6/58)).

Sebagian Ulama juga menafsirkan: sebagaimana (wilayah) kekuasaan Bani Israil ketika pembesar-pembesar (musuhnya) binasa di Mesir dan Syam, maka Bani Israil kemudian mewarisi bumi dan tempat tinggal-tempat tinggal mereka (Tafsir at-Thobary (19/208)).

2. Mengokohkan agama Islam sebagai agama yang Allah ridhai.
Agama Islam menjadi mulya dan berjaya. Pemeluknya disegani dan kedudukan agama lain menjadi rendah dan hina.

Ibnu Abbas radhiyallahu anhu menyatakan: akan diperluas Islam di negeri-negeri, hingga mereka (kaum muslimin) menguasainya, dan menjadi jaya di atas seluruh agama-agama yang lain (Tafsir al-Baghowy (6/58).

3. Menggantikan perasaan takut menjadi perasaan aman dalam diri-diri orang-orang yang beriman.

Sebelumnya mereka ditindas dan tidak merasa aman untuk sekedar beribadah, namun dengan janji Allah tersebut mereka kemudian merasa aman tenteram.

☞ Namun, janji ini hanya akan terpenuhi, jika kaum muslimin menjalankan 5 hal:

① Beriman dengan keimanan yang benar.

Keimanan yang benar adalah akidah yang shahihah. Seseorang tidak bisa berakidah dengan akidah yang shahihah tanpa ilmu yang bersumber dari Allah dan Rasul-Nya.

Sebagaimana dulu Nabi kita belum mengenal tentang iman (detail penjelasan iman dan implementasinya), namun kemudian Allah ajarkan kepada beliau melalui wahyu-wahyuNya. Kemudian Allah anugerahkan ilmu kepada beliau melalui wahyu-wahyuNya. Setelah Allah karuniakan ilmu itu kepada Nabi, kemudian beliau menjadi pemberi petunjuk (penjelasan) kepada umat menuju jalan yang lurus:

وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Dan demikianlah kami wahyukan kepadamu ruh (al-Quran) berdasarkan perintah Kami. Sebelumnya engkau (Muhammad) tidak mengetahui apa itu kitab dan apa itu iman. Akan tetapi (kemudian) Kami jadikan ia (al-Quran) cahaya yang dengannya Kami beri petunjuk kepada hamba-hamba Kami yang Kami kehendaki. Sesungguhnya engkau adalah pemberi petunjuk (penjelasan) menuju jalan yang lurus (Q.S asy-Syuura:52).

② Mengerjakan amal sholih.
Suatu amalan hanya bisa disebut sebagai amal sholih jika terpenuhi 2 syarat utama, yaitu : ikhlas menjalankannya hanya karena Allah, dan  mengikuti tuntunan Rasulullah shollallahu alaihi wasallam (transkrip ceramah Syaikh Ibn Utsaimin dalam menafsirkan surat al-Baqoroh ayat 82).

③ Beribadah hanya kepada Allah, mentauhidkanNya.

④ Tidak mensekutukan Allah dengan suatu apapun; tidak berbuat kesyirikan.

⑤ Mengikuti teladan para Sahabat Nabi dalam beragama, karena kaum mukminin yang diajak bicara oleh Allah dalam ayat itu adalah para Sahabat Nabi. Sebagaimana istinbath ini diisyaratkan oleh al-Imam Abu Bakr al-Isma’ily rahimahullah:

فخاطب بقوله منكم من ولد الآن وهو مع النبي صلى الله عليه وسلم على دينه

Maka (Allah dalam ayat ini) mengajak bicara dengan ucapan ‘minkum’ (di antara kalian) bagi orang-orang yang dilahirkan sekarang (pada saat turunnya wahyu, pent), dalam keadaan bersama dengan Nabi shollallahu alaihi wasallam di atas agamanya (I’tiqod Aimmatil Hadits (1/26)).

Secara ringkas, syarat untuk mencapai janji Allah tersebut adalah: Mempelajari ilmu yang bersumber dari al-Quran dan Sunnah Nabi dengan pemahaman para Sahabat Nabi, mengamalkan dan mendakwahkannya.

Di dalamnya sudah terkandung tauhid dan menjauhi kesyirikan serta menjauhi kebid’ahan. Menjauhi kebid’ahan adalah bagian dari upaya menjalankan amal sholih. Suatu amalan bid’ah bukanlah amal sholih karena tidak dijalankan sesuai tuntunan Rasulullah shollallahu alaihi wasallam.

Sebuah syarat yang terlihat sederhana untuk mendapatkan kejayaan kaum muslimin, namun membutuhkan perjuangan dalam mewujudkannya. Butuh kesabaran dalam menekuninya. Terkesan lama dan bahkan tidak segera terlihat hasilnya.

Untuk melihat apakah janji Allah tersebut akan segera terwujud atau masih jauh, bisa dilihat keadaan kaum muslimin dalam menjalankan syarat-syarat tersebut. Jika kaum muslimin sudah mayoritas mentauhidkan Allah dan menjauhi kesyirikan, maka itu berarti janji Allah sudah sedemikian dekat. Namun, jika kesyirikan masih merajalela dan berada di mana-mana…..bisa dipahami sendiri akibatnya…. Jika Sunnah Nabi sudah dijalankan dalam banyak aspek kehidupan oleh mayoritas kaum muslimin, maka itu menunjukkan bahwa janji Allah sudah sedemikian dekat. Namun, jika kebid’ahan merajalela, bahkan banyak yang tidak bisa membedakan mana sunnah dan mana bid’ah, maka…..bisa dipahami sendiri akibatnya.

Anehnya, upaya memenuhi persyaratan terlaksananya janji Allah tersebut tidak jarang dihalangi oleh kaum muslimin sendiri. Ketika sebagian saudaranya berusaha menasehati saudaranya yang lain untuk menjauhi kesyirikan, yang lain menyalahkannya. Dengan berujar: “sudahlah jangan bahas itu… yang penting bersatu”. “Jangan bahas masalah kesyirikan, itu bisa memecah belah kaum muslimin”. Demikian juga, ketika seorang muslim menasehati saudaranya untuk menjauhi kebid’ahan, mereka berkata: jangan bahas itu, itu bisa memecah belah persatuan kaum muslimin.

Padahal, persatuan yang hakiki tidak akan tercapai tanpa tauhid dan sunnah. Tidak bisa tercapai ukhuwwah islamiyyah yang seperti di masa Nabi dan para Sahabatnya tanpa menjauhi kesyirikan dan kebid’ahan. Persatuan yang dipaksakan asal bersatu dan menafikan segala perbedaan yang ada adalah pencampuradukan antara al-haq dengan al-batil.

Sebenarnya, syarat-syarat terlaksananya janji Allah jika diterapkan oleh pribadi-pribadi muslim akan mengantarkan mereka pada kejayaan di dunia dan di akhirat. Seandainya kejayaan di dunia yang diinginkan tidak/ belum tercapai, kejayaan di akhirat sudah menanti. Yang jelas, ia harus istiqomah untuk tetap berada pada jalur yang benar menuju tujuan itu, menjalankan syarat-syarat tercapainya janji Allah.

Mungkin saja semasa hidupnya ia belum ditakdirkan untuk melihat terwujudnya janji Allah tersebut. Namun yang pasti ia harus tetap berada dalam koridor yang telah ditetapkan Allah, tidak menyimpang ke kiri atau ke kanan. Tidak tergesa-gesa karena ketidaksabaran akhirnya harus melanggar rambu-rambu yang telah Allah tetapkan.

Masalahnya adalah: apakah kita tetap di jalur itu atau tidak. Bukan masalah apakah kita harus segera melihat terwujudnya janji Allah itu. Bisa saja hingga meninggal dunia kita tidak merasakannya, namun kita telah meletakkan pondasi yang benar bagi keturunan kita hingga mungkin pada generasi yang ke sekian janji itu baru terwujud. Yang akan dimintai pertanggungjawaban dari kita adalah apakah selama kita hidup kita masih di jalur itu atau justru melenceng dari jalur tersebut. Apakah semasa kita hidup, kita mentauhidkan Allah atau mensekutukanNya. Apakah semasa kita hidup kita jalankan sunnah Nabi-Nya atau justru menyelisihnya. Apakah semasa hidup kita mentaati Allah atau justru bermaksiat kepadaNya. Apakah semasa hidup kita beragama dengan teladan dari Nabi dan para Sahabatnya, atau justru menggunakan manhaj (metode) yang lain. Itu yang akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Sebagaimana Allah telah memberitahukan kepada Nabi-Nya bahwa tidak masalah apakah beliau masih hidup hingga melihat terjadinya ancaman adzab Allah bagi kaum penentang atau beliau meninggal sebelum itu, yang pasti mereka akan mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan Allah. Tugas Nabi hanya menyampaikan. Beliau tidak harus melihat terlaksananya janji Allah itu saat beliau masih hidup. Tapi janji Allah pasti terjadi.

فَاصْبِرْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَإِمَّا نُرِيَنَّكَ بَعْضَ الَّذِي نَعِدُهُمْ أَوْ نَتَوَفَّيَنَّكَ فَإِلَيْنَا يُرْجَعُونَ

Maka bersabarlah, sesungguhnya janji Allah adalah haq (pasti terjadi). Maka meskipun Kami perlihatkan kepadamu sebagian siksa yang Kami ancamkan kepada mereka ataupun Kami wafatkan kamu (sebelum ajal menimpa mereka), namun kepada Kami sajalah mereka dikembalikan (Q.S Ghafir/ al-Mu’min:77)

وَإِمَّا نُرِيَنَّكَ بَعْضَ الَّذِي نَعِدُهُمْ أَوْ نَتَوَفَّيَنَّكَ فَإِلَيْنَا مَرْجِعُهُمْ ثُمَّ اللَّهُ شَهِيدٌ عَلَى مَا يَفْعَلُونَ

Dan jika Kami perlihatkan kepadamu sebahagian dari (siksa) yang Kami ancamkan kepada mereka, (tentulah kamu akan melihatnya) atau (jika) Kami wafatkan kamu (sebelum itu), maka kepada Kami jualah mereka kembali, dan Allah menjadi saksi atas apa yang mereka kerjakan (Q.S Yunus:46)

وَإِنْ مَا نُرِيَنَّكَ بَعْضَ الَّذِي نَعِدُهُمْ أَوْ نَتَوَفَّيَنَّكَ فَإِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلَاغُ وَعَلَيْنَا الْحِسَابُ

dan jika Kami perlihatkan kepadamu sebahagian (siksa) yang Kami ancamkan kepada mereka atau Kami wafatkan kamu (hal itu tidak penting bagimu) karena sesungguhnya tugasmu hanya menyampaikan saja, sedang Kami-lah yang melakukan perhitungan terhadap amalan mereka (Q.S arRa’d:40)

Sumber : WA al-I’tishom – Probolinggo

Iklan

Satu pemikiran pada “Janji Allah untuk kejayaan kaum muslimin dan syarat untuk mencapainya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s