Makna Taqiyah

Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan

Makna Taqiyah

Asy-Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir berkata, “Taqiyah menurut mereka (Syiah) adalah menampakkan sesuatu dengan menyelisihi yang mereka sembunyikan atau menyatakan sesuatu yang berlawanan dengan apa yang mereka rahasiakan.” (asy-Syiah was- Sunnah, hlm. 100)

Taqiyah adalah perlindungan dengan maksud seseorang melindungi keselamatan  dan kehormatan diri dan harta dari bahaya musuh dengan menyembunyikan sesuatu serta melahirkan apa yang berlainan dengan hakikat (yang benar) yang tersembunyi di dalam hati. Dengan kata lain, taqiyah ialah tindakan berpura-pura atau hipokrit karena terpaksa. (Wikipedia)

Taqiyah dan Keyakinan Syiah

Muhammad bin Ali bin Husain bin Babawaih al-Qumi (salah seorang ahli hadits Syiah) berkata, “Taqiyah adalah suatu kewajiban. Barang siapa meninggalkannya, kedudukannya seperti orang yang meninggalkan shalat.” Dia juga berkata, “Taqiyah adalah suatu kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan sampai keluar penegak keadilan (Imam Mahdi versi mereka). Barang siapa meninggalkannya sebelum penegak keadilan tersebut keluar, berarti dia keluar dari agama Allah Subhanahu wata’ala dan dari ajaran Imamiyah serta menyelisihi Allah Subhanahu wata’ala, Rasul-Nya, dan imam-imam (mereka). (al-I’tiqad, pasal at-Taqiyah terbitan Iran tahun 1374 H)

Muhibbuddin al-Khathib rahimahullah berkata, “Sebab utama yang menghalangi terjadinya tanya jawab yang jujur dan ikhlas di antara kita dan mereka (Syiah) adalah taqiyah. Sebab, taqiyah adalah keyakinan agama yang menghalalkan mereka untuk menampakkan kepada kita segala sesuatu yang menyelisihi apa yang mereka sembunyikan di dalam hati. Karena itu, ada sebagian kita (Ahlus Sunnah) yang pada dasarnya hatinya selamat (baik) bisa tertipu oleh zahir yang mereka tampakkan karena ambisi mereka supaya dipahami dan dimengerti. Padahal mereka sendiri tidak ingin dan tidak ridha melakukannya. (al-Khuthuth al-‘Aridhah, hlm. 8—9)

Asy-Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir berkata (asy-Syiah wa as-Sunnah, hlm. 100), “Taqiyah adalah ajaran dan keyakinan mereka. Hakikatnya adalah menyembunyikan kebenaran dan menampakkan kebatilan. Sampai-sampai mereka membuat hadits palsu untuk melegalkannya. Mereka meriwayatkan dari Sulaiman bin Khalid, ia berkata, “Abu Abdillah (Jafar bin al-Baqir yang mereka gelari dengan ash-Shadiq), mengatakan, “Wahai Salman, sesungguhnya engkau berada di atas suatu ajaran agama yang barang siapa menyembunyikannya, niscaya Allah akan memuliakannya; dan barang siapa menampakkannya niscaya Allah akan menghinakannya’.” (al-Kafi fi al-Ushul, hlm. 222 terbitan Iran)

Selanjutnya asy-Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir menjelaskan, “Setelah penjelasan ini, apakah mungkin seseorang memercayai dan membenarkan ucapan mereka, berjalan bersama dan membuat kesepakatan dengan mereka?” Sungguh benar pengakuan seorang ulama Syiah, “Sesungguhnya, mazhab Imamiyah dan mazhab Ahlus Sunnah ibarat dua mata air yang mengalir berlawanan arah. Sampai hari kiamat, dua mata air tersebut demikianlah berjauhan sehingga tidak mungkin bertemu selamalamanya.” (Mishbahu azh-Zhulam, hlm. 41—42)

Mengapa dan Sampai Kapan Bertaqiyah?

Syiah melakukan taqiyah untuk menjaga jiwa, harta, dan yang lainnya. Mereka menukil dari ‘Ali bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Taqiyah termasuk amalan-amalan yang paling mulia. Dengan taqiyah, seseorang menjaga diri dan saudara-saudaranya dari orang-orang jahat.” (Tafsir al-Askari, hlm. 163)

Al-Kulaini meriwayatkan dari Zurarah, dari Abu Jafar, dia berkata, “Taqiyah (dilakukan) pada kondisi darurat.Pelakunya lebih paham, kapan harus melakukannya.” (al-Kafi fi al-Ushul, bab at-Taqiyah) Dalam riwayat lain, Abu Jafar berkata, “Ada tiga perkara yang aku tidak akan bertaqiyah terhadapa seorang pun: minum arak (khamr), mengusap bagian atas kedua khuf, dan haji tamattu’.

Asy-Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir (seorang ulama Sunni) berkomentar, “Yang benar adalah mereka berkeyakinan bahwa taqiyah itu wajib dalam seluruh perkara apakah untuk menjaga (melindungi) jiwa atau yang lainnya. Mereka membiasakan dusta, kemudian melegalisasikannya dan menyebutnya dengan nama yang lain (baca: taqiyah). Setelah itu, mereka membuat hadits-hadits palsu yang menunjukkan keutamaannya.” (asy-Syiah wa as-Sunnah, hlm. 117)

Mereka melakukan taqiyah ini sampai mati atau keluarnya imam Mahdi versi mereka. Ali bin Musa bin Jafar (imam ke-8 versi Syiah) berkata, “Tidak ada agama bagi orang yang memiliki sikap wara’ dan tidak ada iman bagi orang yang tidak bertaqiyah karena yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah Subhanahu wata’ala adalah yang paling bertakwa (baca: bertaqiyah).” Lalu dia ditanya sampai kapan? Dia menjawab, “Sampai waktu yang sudah ditentukan, yaitu hari keluarnya (Imam Mahdi) yang menegakkan keadilan. Barang siapa yang meninggalkan taqiyah sebelum keluarnya Imam Mahdi, berarti dia bukan golongan kita.” (Kasyful Ghummah [sebuah buku Syiah], hlm. 241)

Dusta, Ajaran Agama Syiah

Dalam rangka melegalisasikan ajaranajarannya yang sesat dan menyesatkan, Syiah menghalalkan dusta demi agama (baca: agama Syiah) Asy-Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir menjelaskan di dalam kitabnya, asy- Syiah was-Sunnah (hlm. 100), “Tidaklah terucap kata-kata Syiah kecuali akan tergambarkan kedustaan senantiasa bersamanya, seakan-akan dua kata yang sinonim (semakna) yang tidak ada perbedaannya. Dua perkara tersebut saling menuntut dari sejak awal munculnya mazhab ini (baca: agama ini). Syiah sejak awal munculnya berasal dari kedustaan dan diiringi dengan kedustaan pula.” Tatkala Syiah adalah induknya kedustaan, maka mereka memberi label kedustaan tersebut dengan bungkus pengultusan dan pengagungan yang mereka menamainya (at-Taqiyah) yaitu nama yang bukan aslinya. Mereka menginginkan dengan taqiyah supaya bisa menampakkan segala sesuatu yang menyelisihi dengan apa yang mereka sembunyikan dan menyatakan (segala sesuatu) yang berlawanan dengan apa yang mereka rahasiakan, sampai-sampai mereka berlebih-lebihan dengan taqiyah ini sehingga mereka menjadikannya sebagai keyakinan agama mereka dan salah satu prinsip dari prinsip-prinsip ajaran agama mereka. Lalu mereka menisbatkan prinsip ini kepada salah seorang imam mereka yang ma’shum menurut mereka yaitu Abu Jafar bin Yaqub al-Kulaini, “At-Taqiyah itu termasuk agamaku (keyakinanku) dan keyakinannya bapak-bapakku. Tidak ada iman bagi orang yang tidak bertaqiyah.” (al-Kafi fi al-Ushul, hlm. 217 terbitan Iran)

Macam-Macam Kedustaan Syiah

1. Dusta atas Nama Allah Subhanahu wata’ala Rabb kita Subhanahu wata’ala mengharamkan kedustaan atas nama-Nya di dalam firman-Nya,

ۚ فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا لِّيُضِلَّ النَّاسَ بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah untuk menyesatkan manusia tanpa pengetahuan? Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (al-An’am: 144)

Allah Subhanahu wata’ala juga berfirman,

إِنَّمَا يَأْمُرُكُم بِالسُّوءِ وَالْفَحْشَاءِ وَأَن تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Sesungguhnya setan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (al- Baqarah: 169)

Namun dengan larangan Allah Subhanahu wata’ala itu yang sangat keras, mereka orangorang Syiah berarti mengada-ngadakan kedustaan atas nama Rabb kita Subhanahu wata’ala dalam rangka membenarkan prinsip taqiyah yang jahat dengan tujuan menyesatkan hamba-hamba-Nya. Mereka menukilkan ucapan Abu Abdillah al-Baqir, imam ke-6 versi Syiah, yang mereka gelari ash-Shadiq, Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah untuk menyesatkan manusia tanpa pengetahuan? Sesungguhnya Allah  tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. tatkala ditanya tentang firman Allah Subhanahu wata’ala,

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu.” (al-Hujurat: 13)

Lalu dia menjawab, “Yang beramal dengan taqiyah di antara kalian.” (al- I’tiqad, pasal at-Taqiyah terbitan Iran tahun 1347 H) Demikian juga “Imam Bukhari” mereka yang bernama Muhammad bin Yaqub al-Kulaini meriwayatkan di dalam Shahih-nya (al-Kafi fi al-Ushul, hlm. 217 yang diterbitkan di Iran) dari Abi Bashir, dari Abu Abdillah berkata, “Taqiyah itu bagian dari agama Allah Subhanahu wata’ala.” Maka aku (Abu Bashir) bertanya, “Termasuk dari agama Allah Subhanahu wata’ala?” Lalu dia menjawab, “Ya, demi Allah, termasuk bagian dari agama Allah Subhanahu wata’ala.”

2. Dusta atas Nama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengancam umatnya yang berani berdusta atas namanya dengan sabdanya,

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Barang siapa berdusta atas namaku dengan sengaja, hendaknya dia mempersiapkan tempat duduknya dari neraka.”

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin radhiyallahu ‘anhu menjelaskan, “Golongan manusia yang paling banyak berdusta atas nama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Syiah Rafidhah. Sebab, tidak ditemukan kelompok-kelompok ahli bid’ah yang lebih sering berdusta atas nama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam daripada mereka. Hal ini ditegaskan oleh para ulama ahli hadits tatkala membahas tentang hadits palsu. Merekaberkata, ‘Sesungguhnya yang paling banyak berdusta atas nama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Syiah Rafidhah.’ Ini adalah realitas yang dapat diketahui oleh orang yang meneliti kitab-kitab mereka.” (Syarah Riyadhus Shalihin, 4/70)

Adapun bukti kedustaan mereka terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sebagai berikut. Mereka menukil dari Abu Abdillah, dia berkata bahwa ketika Abdullah bin Ubai bin Salul (pemimpin munafikin)meninggal, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menghadiri jenazahnya. Umar berkata kepada Rasulullah, “Bukankah Allah Subhanahu wata’ala telah melarangmu dari menyalatinya?” Beliau diam. Umar bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, bukankah Allah telah melarangmu dari menshalatinya?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam pun berkata kepadanya, “Celaka kamu! Apa yang kamu ketahui tentang apa yang aku ucapkan (pada doaku)? Sesungguhnya aku telah berdoa, ‘Ya Allah, penuhilah rongga perutnya dengan api neraka dan masukkanlah dia ke dalam neraka’.” Abu Abdillah berkomentar, “Dia (Umar) mendapat kejelasan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tentang masalah (yang mulanya) dia membencinya.” (al-Kafi fi al-Furu’, Kitab al-Janaiz hlm. 188 terbitan Iran)

Asy-Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir mengomentarinya, “Inilah akidah Syiah dalam masalah taqiyah. Menurut mereka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memerdaya para sahabat, wal-‘iyadzubillah. Beliau tampakkan seolah-olah memohon ampun kepada Allah Subhanahu wata’ala untuk si munafik padahal Allah Subhanahu wata’ala telah melarangnya. Demikian pula, beliau tampakkan bahwa beliau menyelisihi perintah dan larangan Allah Subhanahu wata’ala dengan melakukan sebuah amalan yang tidak dilakukan oleh para sahabat  sesuai dengan apa yang mereka lihat dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri. Sebab, mereka tidak mengetahui apakah  Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mendoakan kebaikan ataukejelekan bagi si munafik. Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam menampilkan diri sebagai hamba yang belas kasih terhadapnya, padahal yang beliau rahasiakan adalah menyelisihi yang beliau tampakkan. Jadi, lahiriah beliau menyelisihi batinnya (berdasarkan riwayat mereka).”

Beliau berkata pula, “Anda boleh bertanya kepada mereka, apa yang menyebabkan beliau takut sehingga memaksa beliau menyalatkan jenazah Abdullah bin Ubai bin Salul si munafik, padahal waktu itu Islam dalam posisi yang sangat kuat. Demikian pula, tidaklah si munafik ini menyembunyikan kekafirannya kecuali karena takut terhadap Islam dan kekuatan Islam serta ambisi mendapatkan keuntungan pribadi dari Islam. Syiah tidaklah mengada-adakan kedustaan ini kecuali untuk melegalkan akidah mereka yang najis ini, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan taqiyah atau dusta sebagaimana halnya yang dilakukan oleh imam-imam mereka. Inilah taqiyah menurut Syiah. Taqiyah yang mereka nyatakan, ‘Tidak dilakukan kecuali dengan menyembunyikan suatu perkara untuk menyelamatkan jiwa dan menjaga diri dari kejahatan.’ Adakah seorang muslim yang bimbang bahwa ini adalah kemunafikan dan kedustaan?” (asy-Syiah wa as- Sunnah, hlm. 106—107)

Ash-Shadiq meriwayatkan dari Jabir, aku berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya orang-orang berkata bahwa Abu Thalib mati dalam keadaan kafir.” Beliau menjawab, “Wahai Jabir, Rabbmu lebih mengetahui yang gaib. Tatkala aku isra mi’raj ke langit dan sampai di Arsy, aku melihat empat cahaya. Dikatakan kepadaku, ‘Ini Abdul Muthalib, ini pamanmu Abu Thalib, ini bapakmu Abdullah, dan ini anak laki-laki pamanmu, Ja’far bin Abu Thalib.’ Aku bertanya, ‘Sembahanku, mengapa mereka bisa mendapatkan kedudukan yang mulia ini?’ Dia menjawab, ‘Mereka menyembunyikan keimanan dan menampakkan kekafiran, sampai mereka mati dalam keadaan seperti itu’.” (Jami’ al-Akhbar, hlm. 140)

Mereka membuat kedustaan atas nama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda, “Permisalan seorang muslim yang tidak bertaqiyah seperti tubuh yang tidak berkepala.” (Tafsir al-‘Askari, hlm. 162)

Taqiyah dan Tauriyah

Taqiyah berbeda dengan tauriyah. Tauriyah, menurut an-Nawawi radhiyallahu ‘anhu dalam Riyadhus Shalihin, adalah memaksudkan perkataannya dengan maksud yang benar, bukan maksud dusta kalau dilihat niatnya; walaupun perkataan itu kalau dilihat zahirnya adalah dusta kalau dilihat dari apa yang dipahami oleh orang yang diajak bicara’. (Sebagai contoh) apabila seorang muslim bersembunyi dari orang zalim yang ingin membunuhnya atau mengambil hartanya dan dia menyembunyikan harta itu. Jika seorang ditanya tentang orang muslim itu, wajib dia berdusta dengan cara menyembunyikannya. Demikian pula apabila dirinya dititipi sebuah barang yang ingin dirampas oleh orang zalim, ia harus berdusta dengan menyembunyikan titipan itu. Yang lebih hati-hati dalam hal ini semuanya adalah melakukan tauriyah. (Riyadhus Shalihin, bab “Bayanu ma Yajuzu minal Kadzib”)

Dusta Atas Nama Ahlul Bait

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda tentang tanda-tanda orang munafik yang salah satu tandanya adalah,

إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ

“Apabila berbicara, dia berdusta.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abdullan bin Amr bin al-Ash radhiyallahu ‘anhu)

Syiah menukilkan bahwa Ali bin Abi Thalib z berkata, “Taqiyah termasuk amalan seorang mukmin yang paling mulia. Dengan taqiyah itu dia menjaga/ melindungi diri dan saudara-saudaranya dari orang-orang yang jahat.” (Tafsir al-Askari, hlm. 162)

Husain bin Ali berkata, “Kalau tidak ada taqiyah, tidak bisa dibedakan antara wali/saudara kita dengan musuh kita.” (Tafsir al-Askari, hlm. 162)

Ali bin Husain bin Ali berkata, “Allah Subhanahu wata’ala akan mengampuni dosa-dosa orang yang beriman dan akan menyucikannya dari dosa di dunia dan di akhirat, kecuali dua macam dosa, yaitu meninggalkan taqiyah dan meninggalkan hak-hak saudara.” (Tafsir al-‘Askari, hlm. 164)

Semua ini adalah nukilan dusta dari ahlul bait, padahal mereka lebih suci dari mengatakan hal tersebut.

Islam Mengajarkan Kejujuran dan Melarang Dusta

Agama Islam membawa syariat yang mulia dan sempurna. Ia senantiasa memerintah para hamba-Nya untuk berlaku jujur dan menjauhi dusta. Sebagian bukti yang menunjukkannya adalah Allah Subhanahu wata’ala memerintah hamba-hamba-Nya agar berjalan bersama dengan orang-orang jujur setelah perintah untuk bertakwa,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (at-Taubah: 119)

Orang-orang yang jujur adalah salah satu golongan yang Allah Subhanahu wata’ala janjikan bagi mereka ampunan dan pahala yang agung,

إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (al- Ahzab: 35)

Demikianlah karena kejujuran akan mendatangkan ketenangan, keselamatan serta kebahagiaan di dunia dan akhirat. Abu Muhammad al-Hasan bin Ali bin Abu Thalib berkata,

دَعْ مَا يَرِيْبُكَ إِلَى مَا :n حَفِظْتُ مِنْ رَسُولِ اللهِ لاَ يَرِيبُكَ، فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِيْنَةٌ وَالْكَذِبَ رَيْبَةٌ

“Aku hafal dari Rasulullah, ‘Tinggalkanlah segala sesuatu yang membingungkanmu kepada yang tidak membingungkanmu, karena kejujuran itu menimbulkan ketenangan, sedangkan dusta menimbulkan kegundahan/ ketidaktenangan’.” (HR. at-Tirmidzi dan beliau menyatakan, “Ini hadits yang sahih)

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya), “Sesungguhnya kejujuran itu akan menuntun kepada kebaikan, sedangkan kebaikan akan menuntun untuk masukke dalam jannah. Sungguh seseorang berbuat jujur sehingga ditetapkan di sisi Allah Subhanahu wata’ala sebagai orang yang sangat jujur. Sesungguhnya kedustaan itu akan menyeret pelakunya ke dalam kejahatan dan kejahatan akan menyeret pelaku ke dalam neraka. Sesungguhnya seseorang berbuat dusta sehingga ditetapkan di sisi Allah Subhanahu wata’ala sebagai pendusta.”

Adapun dusta adalah ciri khas orang-orang munafik sebagaimana yang diberitakan oleh Allah Subhanahu wata’ala dalam firman-Nya,

إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ

Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata, “Kami mengakui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah.” Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orangorang munafik itu benar-benar orang pendusta. (al-Munafiqun: 1)

Ciri khas mereka yang lain adalah nifaq (kemunafikan), yaitu menyembunyikan kekafiran dan menampakkan keimanan.

وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَىٰ شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ

Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan, “Kami telah beriman.” Dan bila mereka kembali kepada setansetan mereka, mereka mengatakan, “Sesungguhnya kami sependirian denganmu, kami hanyalah berolokolok.” (al-Baqarah: 14)

Demikian pula Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا وَمَنْ كَانَتْ فِيْهِ خَصْلُةٌ مِنْهُنَّ فِيْهِ خَصْلَةٌ مِنْ نِفَاقٍ حَتَّى يَدَعَهَا: إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ، وَإِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ، وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ

“Ada empat hal; barang siapa yang ada pada dirinya empat hal itu, berarti dia adalah orang yang munafik; dan barang siapa yang ada pada dirinya salah satu darinya, berarti ada pada dirinya perangai nifaq sehingga dia meninggalkannya. (Empat perkara tersebut adalah) apabila dia dipercaya dia khianat, apabila dia berbicara dia berdusta, apabila berjanji dia mengingkarinya, dan apabila dia berbantah-bantahan maka dia curang.” (Muttafaqun alaih)

Pembahasan ini kita akhiri dengan sebuah pertanyaan, “Apakah mungkin mempertemukan dan menyatukan antara Islam dengan Syiah atau antara Sunnah dengan Syiah?” Pertanyaan tersebut dijawab oleh seorang alim yang sangat paham dengan kesesatan dan kebobrokan Syiah, yaitu asy-Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir. Beliau katakan, “Bagaimana mungkin menyatukan orang yang jujur dengan pendusta? Perbuatan dustanya bukan karena keadaan darurat yang mengharuskan dusta, melainkan keyakinan bahwa dusta adalah kewajiban. Terlebih lagi dusta itu diyakini sebagai amalan ibadah yang agung yang dapat mendekatkan diri mereka kepada Allah Subhanahu wata’ala.”

Sumber : http://asysyariah.com/akhlak-taqiyah-dusta.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s