Tadabbur Surat Al Insan Ayat 7-12

✅AYAT KE-TUJUH

يُوفُونَ بِالنَّذْرِ وَيَخَافُونَ يَوْمًا كَانَ شَرُّهُ مُسْتَطِيرًا (7)

Mereka memenuhi nadzarnya dan takut terhadap hari (kiamat) yang keburukan (adzabnya) merata di mana-mana (7)

Nadzar adalah mewajibkan diri sendiri untuk mengerjakan sesuatu. Secara asal, hukum nadzar adalah makruh, namun jika telah terlanjur bernadzar untuk mengerjakan ketaatan kepada Allah, wajib untuk menjalankannya.

Allah puji dalam ayat ini orang-orang beriman yang di dunia konsekuen menjalankan nadzarnya.

Jika untuk sesuatu yang secara asal tidak wajib bagi dia (nadzar), ia melakukannya, lebih-lebih lagi untuk hal-hal yang Allah wajibkan baginya seperti, ia akan bersegera mengerjakannya dengan baik (disarikan dari Tafsir as-Sa’di)

Sifat yang kedua adalah orang-orang beriman itu takut akan hari kiamat yang kedahsyatan dan kengeriannya terjadi secara merata. Menjangkau seluruh penjuru yang didiami makhluk.

✅AYAT KE-DELAPAN

وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَى حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا (8)

Dan mereka memberikan makanan yang disukainya (dan dibutuhkannya) kepada orang-orang miskin, anak yatim, dan tawanan perang (8)

Orang-orang beriman memberikan makanan kepada 3 orang:

1. Miskin, yang tidak memiliki harta yang mencukupi kebutuhannya.
2. Anak yatim, yang ayahnya meninggal dan ia masih belum baligh.
3. Tawanan perang, meski ia adalah seorang musyrik.

Ayat ini merupakan dalil yang menunjukkan disyariatkannya berbuat baik kepada tawanan perang meski ia adalah seorang musyrik dengan memberikan makanan kepadanya. Pemberian itu adalah pemberian shodaqoh sunnah, namun tidak boleh berupa zakat yang diwajibkan seperti zakat fithrah (disarikan dari penjelasan Ibnul Jauzi dalam Zaadul Masiir).

Jika untuk tawanan perang musyrik saja diperintahkan untuk berbuat baik, maka lebih-lebih lagi untuk saudara kita muslim lebih berhak untuk mendapat kebaikan (sebagaimana pernyataan seorang tabi’i, Qotaadah).

✅AYAT KE-SEMBILAN

إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا (9)

(dalam hati seakan mereka berkata) Sesungguhnya kami memberi makan kepada kalian untuk (mengharap) Wajah Allah, kami tidak menginginkan dari kalian balasan ataupun ucapan terima kasih (9)

Mujahid dan Said bin Jubair menjelaskan bahwa orang-orang beriman itu tidak mengucapkan kalimat itu dengan lisan, tapi Allah mengetahui yang ada dalam hati mereka (kalau mereka mengerjakannya karena Allah).

Orang-orang beriman memberikan makanan kepada pihak yang membutuhkan dengan ikhlas hanya untuk Allah, tidak mengharapkan balasan ataupun ucapan terima kasih. Bahkan termasuk doa dari pihak yang diberi, ia tidak mengharapkan dan memintanya. Karena doa adalah bagian dari pembalasan yang dilakukan pihak yang diberi (sebagaimana yang dijelaskan Syaikh Ibn Utsaimin). Sungguh sangat berbeda antara seorang yang memberikan sesuatu dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah, dengan orang yang memberikan sesuatu dengan tujuan agar didoakan.

Karena itu Aisyah radhiyallahu anha benar-benar tidak mengharapkan doa dari pihak yang diberi. Jika pihak yang diberi mendoakan beliau, beliau akan balas mendoakan yang serupa dengan tujuan agar pahala pemberian masih utuh di sisi Allah.

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ : أُهْدِيَتْ لِرَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ شَاة فَقَالَ اِقْسِمِيْهَا قَالَ وَكَانَتْ عَائِشَةُ إِذَا رَجَعَتِ الْخَادِمُ قاَلَتْ مَا قَالُوا لَكَ تَقُوْلُ مَا يَقُوْلُوْنَ يَقُوْلُ بَارَكَ اللهُ فِيْكُمْ فَتَقُوْلُ عَائِشَةُ وَفِيْهِمْ بَارَكَ اللهُ تُرَدُّ عَلَيْهِمْ مِثْلَ مَا قَالُوا وَيَبْقَى أَجْرُنَا لَنَا

Dari Aisyah –radhiyallahu anha- beliau berkata: Rasulullah shollallahu alaihi wasallam diberi hadiah kambing, kemudian beliau bersabda: bagikanlah. Jika budak (yang bertugas membagikan) telah kembali, Aisyah akan bertanya: Apa yang mereka katakan? Budak itu menjawab: mereka mengatakan: Baarakallahu fiikum (semoga Allah memberkahi yang ada pada kalian). Maka Aisyah mengatakan: Wa fiihim baarakallah (dan semoga Allah memberkahi yang ada pada mereka). Mereka diberi balasan (ucapan doa) sebagaimana yang mereka ucapkan, dan pahala kita tetap ada (H.R anNasaai)

Seorang yang ikhlas disebut dengan sebutan ‘mengharapkan Wajah Allah’ karena ia mengharapkan melihat Wajah Allah di surga (sebagaimana diisyaratkan oleh al-Munawy dalam Faidhul Qodiir (6/149)).

Dalam ayat ini juga terdapat penetapan Sifat Wajah bagi Allah yang sesuai dengan kemulyaan dan kesempurnaanNya, tidak sama dengan makhlukNya.

✅AYAT KE-SEPULUH

إِنَّا نَخَافُ مِنْ رَبِّنَا يَوْمًا عَبُوسًا قَمْطَرِيرًا (10)

Sungguh kami takut akan (adzab) Tuhan kami pada hari (ketika) orang-orang berwajah muram penuh kesulitan (10)

Oleh orang Arab, suatu hari yang panjang penuh dengan musibah disebut dengan ‘abuus’ atau ‘qomthoriir’ atau ‘ashiib’ (penjelasan Abu Ubaidah dan al-Akhfasy).

✅AYAT KE-SEBELAS

فَوَقَاهُمُ اللَّهُ شَرَّ ذَلِكَ الْيَوْمِ وَلَقَّاهُمْ نَضْرَةً وَسُرُورًا (11)

Maka Allah memelihara mereka dari keburukan hari itu, dan Allah berikan kepada mereka wajah yang cerah dan kegembiraan (dalam hati)(11)

Pada hari kiamat orang beriman mendapatkan: penjagaan/perlindungan dari adzab, wajah yang cerah saat kebanyakan manusia lain bermuka muram, dan kegembiraan dalam hati (ketenangan) saat manusia lain ditimpa kecemasan, ketakutan, dan kesedihan yang dahsyat.

Suatu balasan yang sesuai dengan perbuatan, karena justru saat di dunia, orang beriman mengingat Allah, takut akan datangnya hari kiamat, hingga menyibukkan dirinya dengan ibadah, dan meninggalkan hal-hal yang dilarang Allah, karena beriman akan datangnya hari kiamat. Sebaliknya, orang yang melupakan datangnya hari kiamat, tidak mempersiapkan dengan amal, lupa dan menyibukkan dirinya dengan kehidupan dunia, akan mendapat kesengsaraan di hari kiamat.

✅AYAT KE-DUA BELAS

وَجَزَاهُمْ بِمَا صَبَرُوا جَنَّةً وَحَرِيرًا (12)
dan Allah membalas kesabaran mereka dengan surga dan sutera (12)

Orang-orang yang beriman dan bersikap sabar di dunia: sabar dalam menjalankan ketaatan, sabar dari meninggalkan kemaksiatan, dan sabar dalam menerima takdir Allah, Allah berikan kepada mereka surga sebagai tempat tinggal dan pakaian dari sutera. Pada saat orang beriman sabar tidak mau memakai sutera di dunia, Allah ganti di akhirat dengan sutera dari surga yang jauh lebih baik dan tidak bisa dibandingkan dengan sutera dunia.

Abu Utsman Kharisman

Sumber : WA al-I’tishom – Probolinggo

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s