Faedah Surat An-Naba’ (1-3)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

عم يتساءلون

“Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya?”

Yang dimaksud adalah orang-orang musyrik, begitu para ahli tafsir mengatakan. Walaupun kata ‘orang-orang musyrik’ belum disebutkan sebelumnya. Karena ini saja baru ayat pertama. Namun, dipahami dari konteks dalam surat ini.

عن النبإ العظيم

“Tentang berita yang besar.”

Apa yang dimaksud dengan “an-naba’ al-‘adzhim” (berita besar)? Para ahli tafsir berbeda pendapat. Ada tiga pendapat dalam hal ini:

1. Al-Qur’an.
2. Al-ba’ts (hari kebangkitan).
3. Bi’tsatun-nabi (pengutusan nabi).

Al-Imam Ibnu Jarir mengatakan bahwa ayat ini mencakup semua makna tadi, karena tidak ada yang bertentangan. Asy-Syaikh asy-Syinqithi mengatakan, “Semua makna tadi saling berkaitan, karena al-ba’ts disebutkan di dalam al-Qur’an dan disebutkan oleh nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Barang siapa yang mendustakan al-ba’ts, ia telah mendustakan al-Qur’an. Dan barang siapa yang mendustakan al-Qur’an, ia telah mendustakan nabi.”

Adapun al-Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya, beliau hanya menyebutkan dua makna, al-ba’ts dan al-Qur’an. Kemudian beliau mengatakan, “Makna yang pertama lebih cocok (al-ba’ts).” Mayoritas ulama’ juga mengatakan, yang dimaksud adalah al-ba’ts.

Memang, kalau dilihat dari konteks dalam surat ini, pendapat mayoritas ulama’ -termasuk Ibnu Katsir- lebih cocok. Karena Allah subhanahu wa ta’ala akan menyebutkan di dalamnya dalil-dalil yang menunjukkan adanya hari kebangkitan (al-ba’ts), kemudian setelah itu, Allah subhanahu wa ta’ala menegaskan,

إن يوم الفصل كان ميقاتا

“Sesungguhnya Hari Keputusan (hari kebangkitan) adalah suatu waktu yang ditetapkan.” (An-naba’: 17).

الذي هم فيه مختلفون

“yang mereka perselisihkan tentang ini.”

Al-Imam Ibnu Katsir mengatakan, “Manusia berselisih menjadi dua kelompok, sebagian beriman adanya hari kebangkitan dan yang lain mendustakannya.”

Ini adalah pendapat yang pertama. Yang berselisih adalah manusia. Dan yang diperselihkan adalah ada atau tidaknya hari kebangkitan.

Adapun pendapat yang kedua, sebagaimana disebutkan oleh asy-Syaukani di dalam “Fathul Qadir”, yang berselisih adalah orang-orang musyrik. Dan ini lebih cocok. Karena, merekalah yang bertanya-tanya tentang hal ini.

Sekarang, bagaimana perselisihan mereka? Jawabannya, sebagian mereka yakin tidak adanya hari tersebut. Sebagaimana firman Allah ta’ala,

وأقسموا بالله جهد أيمانهم لا يبعث الله من يموت

“Mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sumpahnya yang sungguh-sungguh: ‘Allah tidak akan membangkitkan orang yang mati’.” (An-nahl: 38)

Dan sebagian yang lainnya, hanya bimbang. Sebagaimana firman Allah ta’ala,

وإذا قيل إن وعد الله حق والساعة لا ريب فيها قلتم ما ندري ما الساعة إن نظن إلا ظنا وما نحن بمستيقنين

“Dan apabila dikatakan (kepadamu): ‘Sesungguhnya janji Allah itu adalah benar dan hari berbangkit itu tidak ada keraguan padanya’, niscaya kamu menjawab: ‘Kami tidak tahu apakah hari kiamat itu, kami sekali-kali tidak lain hanyalah menduga-duga saja dan kami sekali-kali tidak meyakini(nya)’.” (Al-jatsiah: 32).

Dalam ayat lain,

ولئن أذقناه رحمة منا من بعد ضراء مسته ليقولن هذا لي وما أظن الساعة قائمة ولئن رجعت إلى ربي إن لي عنده للحسنى فلننبئن الذين كفروا بما عملوا ولنذيقنهم من عذاب غليظ

“Dan jika Kami merasakan kepadanya sesuatu rahmat dari Kami sesudah dia ditimpa kesusahan, pastilah dia berkata: ‘Ini adalah hakku, dan aku tidak yakin bahwa hari Kiamat itu akan datang. Dan jika aku dikembalikan kepada Tuhanku maka sesungguhnya aku akan memperoleh kebaikan pada sisi-Nya’. Maka Kami benar-benar akan memberitakan kepada orang-orang kafir apa yang telah mereka kerjakan dan akan Kami rasakan kepada mereka azab yang keras.” (Fushshilat: 50).

Dalam ayat lain,

وما أظن الساعة قائمة ولئن رددت إلى ربي لأجدن خيرا منها منقلبا

“…dan aku tidak mengira hari kiamat itu akan datang, dan jika sekiranya aku kembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik dari pada kebun-kebun itu’.” (Al-kahf: 36).

Orang-orang Nasrani mengatakan, yang dibangkitkan hanya roh saja tanpa jasad. Sedangkan Yahudi sebaliknya. Mereka mengatakan, yang dibangkitkan hanya jasad saja tanpa roh. Maka ini termasuk perselisihan.

Pembahasan barusan adalah menurut pendapat mayoritas ulama’, yang mengatakan “an-naba’ al-‘adzhim” adalah al-ba’ts.

Bagaimana dengan yang mengatakan, maksudnya adalah al-Qur’an? Dalam hal apa mereka berselisih?
Jawabannya, sebagian mereka mengatakan syair. Sebagian yang lainnya mengatakan sihir. Sebagian yang lainnya lagi mengatakan dongeng-dongeng orang terdahulu.

Bagaimana dengan yang mengatakan, maksudnya adalah pengutusan nabi? Dalam hal apa mereka berselisih?
Jawabannya, sebagian mereka mengatakan penyair. Sebagian yang lainnya mengatakan tukang sihir. Sebagian yang lainnya lagi mengatakan orang gila.

Wallahu a’lam.

Faedah dari pelajaran “Tafsir Ibnu Katsir” bersama al-Ustadz Munir as-Sa’di al-Yafi’i.

Dikirim oleh al-akh Ibrahim bin Muhammad as-Sewed (salah satu thalib di Daarul Hadits, Fuyush)

Sumber : WA SLN


Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s