Bagaimana sifat-sifat malam lailatul qodr

Pertanyaan dari fatwa no 18376

Soal: Apakah lailatul qadar itu bisa dilihat dalam mimpi atau ketika terjaga? Apakah hal itu khusus atau umum apa tanda-tandanya? Saya pernah mendengar kalau lailatul qadar itu jika Allah telah menetapkannya, maka pada hari ke duanya matahari merah warnanya, dan udara keadaanya berawan. Akan tetapi jika demikian, maka lailatul qadar itu merata kebaikannya untuk hamba-hamba Allah juga untuk orang kafir.

Jawaban: Lailatul qadar itu diriwayatkan dalam hadits-hadits yang shahih, bahwasanya Nabi shlallallahu’alaihi wasallam mengkabarkan, kalau dia itu malam yang pagi harinya matahari terbit tidak ada cahaya menyilaukan. Bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wasallam pernah diperlihatkan dalam mimpi kemudian beliau dilupakan akan hal itu.

Para ulama berbeda pendapat tentang penentuan lailatul qadar, dan yg benar hal itu tidak diketahui. Allah ta’ala telah menyembunyikannya agar para hamba bersungguh-sungguh dalam mencari lailatul qadar dengan beribadah. Bahwasanya kita mencarinya di sepuluh malam terakhir bulan ramadhan, dan malam-malam ganjilnya itu lebih ditekankan.

Berdasarkan sabda Nabi shallallahu’alaihi wasallam :

التمسوها في العشر الأواخر من رمضان، التمسوها في تسع بقين، أو سبع بقين، أو خمس بقين، أو ثلاث أو آخر ليلة.

”Carilah lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir ramadhan. Carilah pada sembilan malam sisanya, atau tujuh malam sisanya atau lima malam sisanya atau tiga hari atau malam terakhirnya.”

Adapun mimpi seorang muslim tentang lailatul qadar, karena terkadang seorang itu melihat sesuatu dalam mimpinya. Dalam hadits yang shahih dari hadits Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhuma, bahwasanya ada beberapa orang dari shahabat Nabi shallallahu’alaihi wasallam melihat lailatul qadar dalam mimpi pada tujuh malam terakhir bulan ramadhan.

Maka Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam berkata :

إني أرى رؤياكم قد تواطأت في السبع الأواخر،
فمن كان متحريها فليتحرها في السبع الأواخر.

”Sesungguhnya saya melihat mimpi kalian itu telah bersepakat (kalau lailatul qadar) itu pada tujuh malam terakhir. Maka barang siapa yg ingin mencarinya, maka carilah pada tujuh malam terakhir.”

Akan tetapi jika seorang muslim melihat dalam mimpinya, janganlah dia membangun keyakinan dengan mimpinya, karena mimpi itu terkadang dari syaitan. Karena mimpi itu tidak bisa dijadikan sandaran dalam menetapkan suatu syariat dan hukum. Hanya saja Nabi shallallahu’alaihi wasallam itu mengatakan demikian pada mimpi sebagian para shahabat itu karena mimpi mereka saling bersepakat.

Wabillahit taufiq. Semoga shalawat dan salam terlimpah kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya dan sahabatnya.

Dewan tetap untuk Penelitian Ilmiyah dan Fatwa.

Ketua : Abdul ‘Aziiz bin Abdillah bin Baaz
Wakil ketua : Abdul ‘Aziiz alu Syaikh
Anggota : Bakr Abu Zaid, Shalih Al-Fauzan, Abdullah bin Ghudayyan.

Sumber : http://www.alifta.net/Fatawa/FatawaSubjects.aspx?languagename=ar&View=Page&HajjEntryID=0&HajjEntryName=&RamadanEntryID=0&RamadanEntryName=&NodeID=1360&PageID=13868&SectionID=3&SubjectPageTitlesID=35905&MarkIndex=7&0

✒ Alih Bahasa : Ustadz Abu Hafs Umar al Atsary

Sumber: http://forumsalafy.net/?p=4732



Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s