Hewan berbicara

Telah saya nukilkan perkataan Al-Imam Ibnul Qoyyim dalam artikel sebelumnya yang  berjudul “Perangilah dirimu” dari kitab beliau “Miftah Darussa’adah” bahwa makhluk Allah ada tiga, ada yang dikaruniai akal tanpa nafsu yaitu malaikat, ada yang dikaruniai nafsu saja tanpa akal yaitu hewan dan yang ada yang dikaruniai akal dan nafsu yaitu manusia.

Ketika manusia mampu menundukkan dan menguasai nafsunya maka kedudukannya lebih tinggi dari malaikat. Akan tetapi, apabila nafsunya yang menguasai akalnya maka dia lebih rendah dari hewan. Dalam keadaan seperti ini maka tidak ada perbedaan antara dia dengan hewan. Perbedaanya hanya pada bembicaraan saja. Dan inilah yang dimaksud dengan hewan berbicara, yaitu ketika manusia yang kehidupnya, pikirannya, cita-cita dan kesibukannya hanya sekedar untuk memperoleh kepuasan nafsunya. Bahkan derajatnya bisa lebih rendah dan lebih hina daripada  hewan. Manusia diciptakan bukan untuk memperoleh kepuasan nafsunya belaka sebagaimana binatang. Akan tetapi, manusia diciptakan untuk maksud yang sangat mulia, yaitu beriman dan tunduk beribadah hanya kepada Alloh semata.

Dikatakan lebih rendah dari hewan dikarenakan hewan bisa membedakan antara maslahat dan mudhorot bagi dirinya dengan insting. Padahal hewan tidak mempunyai akal sebagaimana manusia. Sebaliknya, manusia yang telah dikaruniai akal justru kebanyakannya dikalahkan dan dihinakan oleh hawa nafsunya. Dia mengerti sesuatu yang maslahat bagi dirinya akan tetapi dia tidak melakukannya. Dia mengerti sesuatu yang berbahaya bagi dirinya, namun serta merta dia menjatuhkan diri ke dalamnya bahkan terkadang dengan bangga dia melakukan perkara tersebut.

Ketika manusia telah  seperti binatang atau bahkan lebih rendah, maka watak dan tabiatnya akan seperti binatang pula. Dan telah maklum bahwa binatang  memiliki jenisnya dan tabiatnya yang beragam.

Di sana ada anjing, kita katakana wataknya dengan watak kalbiyah. Bagaimana watak anjing itu? Perhatikanlah wahai saudaraku yang saya muliakan! Apabila anda lemparkan ke hadapannya daging segar dan bangkai maka dia tidak selera dengan yang segar, dia akan memilih yang busuk (bangkai). Dia akan berputar-putar mengelilingi bangkai tersebut sambil mengibas-ngibaskan ekor dan menjulurkan lidahnya. Tidak ada binatang yang menjulurkan lidahnya dalam keadaan haus atau tidak selain anjing. Binatang lain menjulurkan lidah hanya ketika kehausan. Ini adalah  gambaran keserakahan.

Anjingnya tersebut sangat bergembira dengan bangkai sehingga apabila ada anjing lain mendekat dia akan menyerangnya. Inilah watak orang yang sudah mengetahui kebenaran namun dia tinggalkan demi menuruti kepuasan nafsunya.

Di sana juga ada himar. Wataknya kita sebut watak himariyah. Bagaimana himar itu? Dia hidupnya hanya makan dan membawa beban tanpa mengetahui apa yang dia bawa tersebut. Begitu pula orang yang membaca Al Qur’an dan As Sunnah tetapi tidak mau memahami dan tidak mau mengamalkannya.

Di sana ada tikus, wataknya kita sebut dengan watak fa’riyah (watak tikus). Wataknya sangat jelek, jiwanya jiwa perusak. Dia tidak menyukai yang baik-baik atau yang teratur kecuali akan dirusaknya.

Di sana ada ular dan kalajengking atau hewan berbisa dan buas lainnya. Sifat hasad dan dengki yang ada pada dirinya dibentuk menjadi cairan bisa yang siap dia semburkan pada musuhnya. Itulah watak ahli bid’ah seperti kalajengking. Setelah menyiapkan bisanya dia tunggu lawannya sampai duduk tenang kemudian barulah dia menyengatnya. Seperti pengikut hawa nafsu yang jiwanya sangat membenci sunnah dan ahlinya. Dengan tenang duduk di tengah-tengah ahlussunnah kemudian dia mengeluarkan syubhat dan setelah itu pergi dengan tenang tanpa merasa malu dan bersalah.

Di sana ada babi, wataknya kita katakan watak hinziriyyah. Apabila melewati makanan yang baik dia tidak selera padanya. Tetapi ketika melewati kotoran serta merta melahapnya. Seperti orang yang melihat kebaikan-kebaikan saudaranya yang sangat banyak tidak mau mengambil faidahnya akan tetapi ketika melihat satu kesalahan saudaranya serta merta mengambilnya dan menyebarkannya.

Di sana ada binatang merak (Thowus) yaitu ahli menghias diri dengan berbagai ucapan dan perbuatan palsu (dusta). Padahal itu hanya lipstik untuk mengelabui yang lain padahal hakekatnya dia tidak punya apa-apa.

Inilah sebagian watak dan tabiat manusia di sekeliling kita yang kita tidak mengetahui mana yang bertabiat seperti anjing, mana yang seperti himar, mana yang seperti ularnya dan seterusnya. Semoga Alloh melindungi kita dari watak-watak binatang yag tercela. Hanya kepada Allah kita memohon perlindungan dari kejahatan makhluk-Nya. Orang yang baik adalah yang bisa mengambil pelajaran dari yang lain bukan yang dijadikan pelajaran oleh yang lain.

Tertoreh dalam perjalanan Istanbul – Singapura tanggal 14 Mei 2014 diatas pesawat Turkish Airlines. Semoga bermanfaat untuk penulis dan pembaca yang saya cintai dan saya hormati. Mohon do’anya sedikit yang saya dapatkan di Markiz Fiyus barokah dan bermanfaat dunia dan akhirat.

Abu Umamah Abdurrohim Al Malanji.

Sumber : WhatsApp Thullab Fuy

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s