Tiga generasi terbaik yang jadi panutan

Ada 3 generasi terbaik yang menjadi panutan bagi kaum muslimin. Tiga generasi itu adalah:

1. Para Sahabat Nabi  : murid Nabi Muhammad shollallahu alaihi wasallam.

2. Tabiin : murid para Sahabat Nabi. Satu orang yang termasuk kelompok Tabiin disebut tabi’i.

3. Atbaaut Taabiin : murid para Tabiin. Satu orang yang termasuk kelompok atbaaut Tabiin disebut Tabiut Tabiin.

Sahabat Nabi adalah seorang yang pernah bertemu dengan Nabi dalam keadaan beriman dan meninggal dalam keadaan beriman. Sedangkan Taabi’in adalah orang-orang yang pernah bertemu dengan paling tidak seorang Sahabat Nabi dalam keadaan beriman dan meninggal dalam keadaan beriman. Para atbaaut Taabiin adalah orang-orang yang pernah bertemu dengan paling tidak satu orang Tabiin dalam keadaan beriman dan meninggal dalam keadaan beriman.

Tentunya para Tabiin dan atbaut Tabiin yang dimaksud adalah orang-orang yang mengikuti para Sahabat Nabi dengan baik. Bukannya orang-orang yang terjerumus dalam kebid’ahan-kebid’ahan dan kesesatan.

PERIODE TIGA GENERASI TERSEBUT

Masa Nabi dan para Sahabatnya : sejak Nabi diutus hingga 110 Hijriyah. Sahabat Nabi yang terakhir meninggal dunia adalah Abut Thufail Aamir bin Waatsilah al-Laitsy (wafat 110 Hijriyah).
Masa Taabiin : hingga 181 H (wafatnya Taabiin terakhir: Kholf bin Kholiifah)

قال البلقيني أول التابعين موتا ابو زيد معمر بن زيد قتل بخراسان وقيل بأذربيجان سنة ثلاثين وآخرهم موتا خلف بن خليفة سنة ثمانين ومائة (تدريب الراوي (2-243)

Al-Bulqiiniy menyatakan: Tabiin pertama yang meninggal dunia adalah Abu Zaid Ma’mar bin Zaid yang terbunuh di Khurosan, dan ada yang mengatakan: (meninggal) di Azerbaijan pada tahun 30 H. Sedangkan Taabiin yang paling akhir meninggal dunia adalah Kholf bin Kholiifah pada tahun 180 H (Tadriibur roowiy karya as-Suyuthiy (2/234)).

Masa atbaaut Taabi’iin : hingga 220 H.

Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqolaany menyatakan:

واتفقوا على أن آخر من كان من أتباع التابعين ممن يقبل قوله من عاش إلى حدود العشرين ومئتين

Para Ulama sepakat bahwa akhir Atbaaut Tabiin yang bisa diterima ucapannya adalah yang masa kehidupannya hingga batasan tahun 220 (Hiriyah)(Fathul Baari karya Ibnu Hajar al-Asqolaany (7/6)).

Catatan: penjelasan di atas hanyalah tentang periode pada tiap generasi dengan menyebutkan akhir kematian orang-orang yang berada di generasi tersebut. Namun, untuk menentukan apakah seseorang yang hidup di masa itu masuk di generasi tertentu, harus dilihat apakah ia pernah bertemu dengan orang pada generasi tertentu.

Sebagai contoh, seorang yang hidup di masa Sahabat Nabi, belum tentu ia adalah Sahabat Nabi, jika sepanjang hidupnya ia belum pernah bertemu dengan Nabi. Seperti Uwais bin ‘Aamir al-Qoroniy yang tidak pernah bertemu dengan Nabi sepanjang hidupnya. Beliau hanya bertemu dengan beberapa Sahabat Nabi, di antaranya Umar bin al-Khotthob. Maka Uwais al-Qoroniy dimasukkan dalam kategori tabiin, sebagaimana Nabi dalam salah satu haditsnya menyatakan bahwa beliau adalah sebaik-baik Tabiin. Beliau dikabarkan hilang saat perang Shiffin ikut bersama pasukan Ali bin Abi Tholib, sekitar tahun 37 Hijriyah. Dari masa kehidupannya, beliau sebenarnya masuk dalam periode kehidupan para Sahabat Nabi, namun karena beliau tidak pernah bertemu dengan Nabi shollalahu alaihi wasallam, maka beliau bukanlah Sahabat Nabi.

KEUTAMAAN TIGA GENERASI TERSEBUT

طُوْبَى لِمَنْ رَآنِي وَآمَنَ بِي وَطُوْبَى لِمَنْ رَأَى مَنْ رَآنِي وَلِمَنْ رَأَى مَنْ رَأَى مَنْ رَآنِي وَأَمَنَ بِي طُوْبَى لَهُمْ وَحُسْنَ مَآبٍ

Beruntunglah bagi orang melihatku dan beriman kepadaku, dan beruntunglah bagi orang yang melihat orang yang melihatku dan orang yang melihat orang yang melihat orang yang melihatku dan beriman kepadaku. Beruntung bagi mereka dan tempat kembali yang baik (H.R atThobarony dishahihkan Syaikh al-Albany dalam Shahihul Jami’)

لاَ تَزَالُونَ بِخَيْرٍ مَا دَامَ فِيكُمْ مَنْ رَآنِي وَصَاحَبَنِي , وَاللهِ لاَ تَزَالُونَ بِخَيْرٍ , مَا دَامَ فِيكُمْ مَنْ رَأَى مَنْ رَآنِي , وَصَاحَبَ مَنْ صَاحَبَنِي , وَاللهِ لاَ تَزَالُونَ بِخَيْرٍ , مَا دَامَ فِيكُمْ مَنْ رَأَى مَنْ رَأَى مَنْ رَآنِي , وَصَاحَبَ مَنْ صَاحَبَ مَنْ صَاحَبَنِي

Kalian senantiasa dalam kebaikan selama di antara kalian ada orang yang melihatku dan menjadi sahabatku. Demi Allah kalian senantiasa dalam kebaikan selama di antara kalian ada orang yang melihat orang yang melihatku dan menjadi Sahabat dari Sahabatku. Demi Allah, kalian senantiasa dalam kebaikan selama di antara kalian ada orang yang melihat orang yang melihat orang yang melihatku dan menjadi Sahabat dari Sahabat para Sahabatku (H.R Ibnu Abi Syaibah dan al-Hafidz Ibnu Hajar menyatakan sanadnya hasan dalam Fathul Bari).

يَأْتِي زَمَانٌ يَغْزُو فِئَامٌ مِنَ النَّاسِ فَيُقَالُ فِيكُمْ مَنْ صَحِبَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيُقَالُ نَعَمْ فَيُفْتَحُ عَلَيْهِ ثُمَّ يَأْتِي زَمَانٌ فَيُقَالُ فِيكُمْ مَنْ صَحِبَ أَصْحَابَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيُقَالُ نَعَمْ فَيُفْتَحُ ثُمَّ يَأْتِي زَمَانٌ فَيُقَالُ فِيكُمْ مَنْ صَحِبَ صَاحِبَ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيُقَالُ نَعَمْ فَيُفْتَحُ

Akan datang suatu zaman ketika sekelompok manusia berperang. Dikatakan kepada mereka: Apakah ada di antara kalian yang merupakan Sahabat Nabi shollallahu alaihi wasallam? Dikatakan: Ya. Maka diberikan kemenangan kepada mereka. Kemudian datang suatu zaman, yang ditanyakan: Apakah ada yang menjadi Sahabat bagi para Sahabat Nabi shollallahu alaihi wasallam? Dikatakan: Ya. Maka diberikan kemenangan untuk mereka. Kemudian datang suatu zaman, dikatakan: Apakah ada di antara kalian orang menjadi Sahabat dari Sahabat bagi para Sahabat Nabi. Dikatakan: Ya. Maka diberikan kemenangan kepada mereka (H.R al-Bukhari dan Muslim dari Abu Said al-Khudry)

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ يَجِيءُ قَوْمٌ تَسْبِقُ شَهَادَةُ أَحَدِهِمْ يَمِينَهُ وَيَمِينُهُ شَهَادَتَهُ

Sebaik-baik manusia adalah generasiku (Nabi dan para Sahabatnya) kemudian yang setelahnya (tabiin) kemudian yang setelahnya (Atbaut Tabiin) kemudian akan datang suatu kaum yang persaksiannya mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului persaksiannya (orang-orang yang banyak berdusta dan tidak bisa dipercaya) (H.R al-Bukhari dan Muslim)

Contoh-contoh Manusia yang Termasuk Tiga Generasi Tersebut

Para Sahabat Nabi seperti: Abu Bakr ash-Shiddiq, Umar bin al-Khoththob, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Tholib, Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Ibnu Mas’ud, Jabir bin Abdillah, Hudzaifah bin al-Yaman, Muadz bin Jabal, Abu Dzar al-Ghiffary, Abud Darda’, Anas bin Malik, Aisyah bintu Abi Bakr ash-Shiddiq, Abu Hurairah, dan masih banyak lagi yang lain.

Para Tabiin, di antaranya: Uwais al-Qorony, Said bin al-Musayyib, Mujahid, Qotadah, al-Hasan al-Bashri, Abul ‘Aaliyah, Abu Qilabah, Said bin Jubair, dan masih banyak lagi yang lain.

Para atbaut Tabiin, di antaranya: Malik bin Anas, Sufyan ats-Tsaury, Sufyan bin Uyainah, al-Auza’i, Abdullah bin al-Mubarok (Ibnul Mubarok) dan masih banyak lagi yang lain.

Ketiga generasi inilah sebagai teladan dan panutan bagi umat Islam setelahnya dalam menjalankan Dien ini. Mereka juga disebut sebagai para pendahulu yang sholih atau Salafus Sholih, atau kadang disebut juga dengan para Ulama Salaf. Mengikuti manhaj mereka dalam memahami dan mengamalkan Dien ini berarti mengikuti manhaj Salaf.

Abu Utsman Kharisman

WA alI’tishom – Probolinggo

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s