Pentingnya memohon kekokohan iman

قال الشيخ ابن العثيمين رحمە الله:

والإنسان ما دامت روحه في جسده فهو معرض للفتنة ولهذا أوصي نفسي وإياكم أن نسأل الله دائماً الثبات على الإيمان، وأن تخافوا؛

لأن تحت أرجلكم مزالق فإذا لم يثبتكم الله – عز وجل – وقعتم في الهلاك

واسمعوا قول الله سبحانه وتعالى لرسوله صلى الله عليه وسلم أثبت الخلق، وأقوااهم إيماناً :

{ ولولا أن ثبتناك لقد كدت تركن إليهم شيئا قليلا }

فإذا كان هذا للرسول صلى الله عليه وسلم فما بالنا نحن؛ ضعفاء الإيمان واليقين، وتعترينا الشبهات، والشهوات

فنحن على خطر عظيم، فعلينا أن نسأل الله تعالى الثبات على الحق، وألا يزيغ قلوبنا، وهذا هو دعاء أولي الألباب:

{ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا}

📝انتهى باختصار من :
[الشرح الممتع (5\388)]

* مجموعات شباب الخير السلفي.

http://goo.gl/jZwBNM http://shababalkhir.blogspot.com/2014/03/blog-post.html

———————

     ~~~~~~ ❁ ✺ ❁ ~~~~~~

Syaikh Ibnu al ‘Utsaimin rahimahullah berpesan:

Seorang manusia itu, selama ruh masih di jasadnya maka dia terancam (tidak aman) dengan fitnah. Oleh karena itu, aku berwasiyat kepada diriku sendiri dan kepada kalian agar senantiasa memohon kepada Allah kekokohan di atas iman dan hendaknya dia khawatir,

Karena di bawah kaki-kaki kalian ada perangkap. Jika Allah ‘Azza wa Jalla tidak mengokohkan kalian maka kalian akan terjatuh dalam kebinasaan.

Dengarkanlah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Rosulnya shollallaahu ‘alaihi wa sallam, makhluk Allah yang paling kokoh dan paling kuat imannya:

{ ولولا أن ثبتناك لقد كدت تركن إليهم شيئا قليلا }

“Dan kalau Kami tidak mengokohkan (hati) mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka” (QS alIsra’: 74)

Jika ini terjadi pada Rosul shallallaahu ‘alaihi wa sallam, maka bagaimana dengan kita? Kita ini lemah keimanan dan keyakinannya dalam keadaan berbagai syubhat dan godaan syahwat menimpa kita.

Kita dalam bahaya yang besar. Maka wajib bagi kita untuk memohon kepada Allah Ta’ala kekokohan di atas al-haq dan agar hati kita tidak menyimpang. Dan ini adalah adalah doanya orang yang berakal.

ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا

Wahai Robb kami, janganlah Engkau simpangkan hati kami setelah Engkai memberi hidayah kepada kami.

Syarhul Mumti’: 5/388 (dengan peringkasan)

Wallaahu A’lam

Sumber : Ashhabus Sunnah

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s