Hukum Melaknat Istri

السؤل

ماحكم لعن الزوج لزوجته عمدًا ؟ وهل الزوجة محرمة عليه بسبب لعنه لها ؟ أم هل تصبح في حكم الطلاق ؟ وما كفارة ذالك؟

الجواب

لعن الزوج لزوجته أمر منكر لا يجوز، بل هو من كبائر الذنوب، لما ثبت عن النبي -صلى الله عليه وسلم- أنه قال :  ( لَعْنُ المُؤْمِنِ كَقَتْلِهِ )،

وقال -صلى الله عليه وسلم- :  (سِبابُ المُسْلِمِ فُسوقٌ وَ قِتَالُهُ كُفْرٌ) 

وقوله -صلى الله عليه وسلم- :(لا يَكُونُ اللّعّانُونَ شُفَعَاءَ ولا شُهَدَاءَ يوم القيامَةِ)،

والواجب عليه التوبة من ذلك، واستحلال زوجته من سبّهِ لها، ومن تاب توبة نصوحا تاب الله عليه، وزوجته باقية في عصمته لا تحرم عليه بلعنه لها، والواجب عليه أن يعاشر باالمعروف، وأن يحفظ لسانه من كل قول يغضب الله سبحانه،

وعلى الزوجة أيضا أن تحسن عشرة زوجها ، وأن تحفظ لسانها مما يغضب الله -عزّ وجلّ- ومما يغضب زوجها إلا بحق، يقول الله سبحانه: (وعاشروهن بالمعروف)

PERTANYAAN

Apa hukum laknat suami terhadap isterinya dengan sengaja? Apakah isterinya menjadi haram baginya karena laknat tersebut? Atau bahkan termasuk kategori talak? Lalu apa kaffarahnya (tebusannya)?

JAWABAN

Laknat seorang suami terhadap isterinya adalah perbuatan mungkar, tidak boleh dilakukan, bahkan termasuk dosa besar, sebagaimana sabda Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam

لعن المؤمن كقتله

“Melaknat seorang mukmin adalah seperti membunuhnya” (Mutafaqun alaihi, [al-Bukhori, kitab al-Adab, no, 6105; dan Muslim, kitab al-Iman, no. 64.])

Dalam hadits lain disebutkan:

سباب المسلم فسوق وقتاله كفر

“Mencela seorang Muslim adalah suatu kefasikan dan membunuhnya adalah suatu kekufuran.” (HR. al-Bukhori, kitab al-Iman, no. 48, dan Muslim, kitab al-Iman, no.64.)

Dalam hadits lainnya lagi disebutkan,

ﻻ يكون اللعانون شفعاء وﻻ شهداء يوم القيامة

“Orang-orang yang suka melaknat itu tidak akan menjadi pemberi syafaat dan tidak pula menjadi saksi pada hari kiamat.” (HR. MUSLIM, KITAB AL- BIRR, no. 2598).

Maka yang wajib atasnya adalah bertaubat dari perbuatannya itu dan membebaskan isterinya dari celaan yang telah dilontarkan kepadanya.  Barang siapa yang bertaubat dengan sungguh-sungguh, niscaya Alloh menerima taubatnya. Sementara isterinya, tetap dalam tanggung jawabnya, dia tidak menjadi haram baginya lantaran laknat tersebut. Lain dari itu, yang wajib atasnya adalah memperlakukannya dengan baik dan senantiasa menjaga lisannya dari setiap perkataan yang dapat menimbulkan kemurkaan Alloh.

Demikian juga sang isteri, hendaknya memperlakukan suaminya dengan baik dan menjaga lisannya dari apa-apa yang dapat menimbulkan kemurkaan Alloh dan kemarahan suaminya; kecuali berdasarkan kebenaran.Alloh berfirman:

وعاشروهن بالمعروف

“Dan bergaulah dengan mereka secara patut”. (an-Nisa :19).

Dalam ayat lain disebutkan,

وللرجال عليهن درجة

“Akan tetapi para suami,  mempunyai satu tingkatan kelebihan dari pada isterinya.” (al-Baqoroh: 228).

Hanya Alloh-lah pemberi petunjuk.

Sumber: FATAWA HAI’ATI KIBARIL ULAMA, juz 2 hlm. 687-688.

Alih Bahasa: Miqdad al-Ghifary hafizhahullah

WA Riyadhul Jannah As-Salafy

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s