Apakah Ibnu Taimiyah mendukung perayaan nisyfu Sya’ban

Terdapat beberapa pihak yang mengajak kaum muslimin melakukan ibadah khusus berjamaah di malam Nishfu Sya’ban. Kemudian mereka menukil ucapan-ucapan Ibnu Taimiyyah untuk mengesankan bahwa beliau mendukung perbuatan tersebut dan tidak dianggap sebagai bid’ah.

Benarkah demikian? Berikut ini beberapa kutipan pernyataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah terkait menghidupkan malam Nishfu Sya’ban, kemudian di akhir akan disebutkan kesimpulan atas kutipan-kutipan tersebut.

وَإِنَّمَا تَنَازَعَ النَّاسُ فِي نَفْسِ التَّلَفُّظِ بِهَا سِرًّا. هَلْ يُسْتَحَبُّ أَمْ لَا؟ عَلَى قَوْلَيْنِ، وَالصَّوَابُ أَنَّهُ لَا يُسْتَحَبُّ التَّلَفُّظُ بِهَا، فَإِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَصْحَابَهُ لَمْ يَكُونُوا يَتَلَفَّظُونَ بِهَا لَا سِرًّا وَلَا جَهْرًا ؛ وَالْعِبَادَاتُ الَّتِي شَرَعَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأُمَّتِهِ لَيْسَ لِأَحَدٍ تَغْيِيرُهَا، وَلَا إحْدَاثُ بِدْعَةٍ فِيهَا. وَلَيْسَ لِأَحَدٍ أَنْ يَقُولَ: إنَّ مِثْلَ هَذَا مِنْ الْبِدَعِ الْحَسَنَةِ، مِثْلُ مَا أَحْدَثَ بَعْضُ النَّاسِ الْأَذَانَ فِي الْعِيدَيْنِ، وَاَلَّذِي أَحْدَثَهُ مَرْوَانُ بْنُ الْحَكَمِ، فَأَنْكَرَ الصَّحَابَةُ وَالتَّابِعُونَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ ذَلِكَ. هَذَا وَإِنْ كَانَ الْأَذَانُ ذِكْرَ اللَّهِ ؛ لِأَنَّهُ لَيْسَ مِنْ السُّنَّةِ، وَكَذَلِكَ لَمَّا أَحْدَثَ النَّاسُ اجْتِمَاعًا رَاتِبًا غَيْرَ الشَّرْعِيِّ: مِثْلَ الِاجْتِمَاعِ عَلَى صَلَاةٍ مُعَيَّنَةٍ، أَوَّلَ رَجَبٍ أَوْ أَوَّلَ لَيْلَةِ جُمُعَةٍ فِيهِ، وَلَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، فَأَنْكَرَ ذَلِكَ عُلَمَاءُ الْمُسْلِمِينَ

Para Ulama hanya berbeda pendapat dalam hal melafadzkan niat secara sirr (tidak dikeraskan). Apakah mustahab (sunnah) atau tidak? Ada 2 pendapat. Yang benar adalah tidak disunnahkan melafadzkannya. Karena Nabi shollallahu alaihi wasallam dan para Sahabatnya tidaklah melafadzkannya secara sirr ataupun jahr. Ibadah-ibadah yang disyariatkan Nabi shollallahu alaihi wasallam kepada umatnya, tidak boleh bagi siapapun untuk merubahnya. Tidak boleh pula mengada-adakan bid’ah di dalamnya. Tidak boleh bagi seseorang mengatakan: seperti ini adalah termasuk bid’ah hasanah (yang baik). Seperti yang dikerjakan sebagian orang ketika adzan dalam Iedain (Iedul Fithri dan Iedul Adha) dan apa yang diada-adakan oleh Marwan bin al-Hakam. Maka para Sahabat dan yang mengikuti mereka dengan baik mengingkari hal itu. Padahal adzan adalah dzikir kepada Allah. (Tapi itu diingkari) karena hal tersebut bukan termasuk Sunnah. Demikian juga yang diada-adakan oleh manusia yaitu berkumpul secara rutin yang tidak syar’i, seperti berkumpul untuk sholat tertentu di awal Rajab atau awal malam Jumat di dalamnya, dan (berkumpulnya manusia) pada Nishfu Sya’ban. Maka para Ulama kaum muslimin mengingkari hal itu (al-Fataawa al-Kubro (2/97)).

مَسْأَلَةٌ: فِي صَلَاةِ نِصْفِ شَعْبَانَ؟ الْجَوَابُ: إذَا صَلَّى الْإِنْسَانُ لَيْلَةَ النِّصْفِ وَحْدَهُ، أَوْ فِي جَمَاعَةٍ خَاصَّةٍ كَمَا كَانَ يَفْعَلُ طَوَائِفُ مِنَ السَّلَفِ، فَهُوَ أَحْسَنُ. وَأَمَّا الِاجْتِمَاعُ فِي الْمَسَاجِدِ عَلَى صَلَاةٍ مُقَدَّرَةٍ. كَالِاجْتِمَاعِ عَلَى مِائَةِ رَكْعَةٍ، بِقِرَاءَةِ أَلِفِ: {قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ} دَائِمًا.
فَهَذَا بِدْعَةٌ، لَمْ يَسْتَحِبَّهَا أَحَدٌ مِنْ الْأَئِمَّةِ. وَاَللَّهُ أَعْلَمُ.

Permasalahan: (bagaimana dengan) sholat Nishfu Sya’ban? Jika seseorang sholat nishfu Sya’ban sendirian atau berjamaah secara khusus sebagaimana yang dilakukan kelompok Salaf, maka itu adalah benar. Adapun berkumpul di masjid-masjid untuk sholat tertentu, seperti berkumpul untuk sholat 100 rokaat dengan membaca Qulhuwallaahu Ahad 1000 kali secara terus menerus, maka ini adalah bid’ah, yang tidak dianggap sebagai sunnah oleh seorangpun dari para Imam. Wallaahu A’lam (al-Fataawa al-Kubro 2/262).

وَأَمَّا لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَفِيهَا فَضْلٌ، وَكَانَ فِي السَّلَفِ مَنْ يُصَلِّي فِيهَا، لَكِنَّ الِاجْتِمَاعَ فِيهَا لِإِحْيَائِهَا فِي الْمَسَاجِدِ بِدْعَةٌ

Sedangkan malam Nishfu Sya’ban, di dalamnya terdapat keutamaan. Sebagian Salaf juga ada yang sholat di dalamnya. Akan tetapi, berkumpul untuk menghidupkan malam tersebut di masjid-masjid adalah bid’ah (al-Fataawa al-Kubro (5/344)).

وَقَدْ رُوِيَ { أَنَّ اللَّهَ يَنْزِلُ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ } إنْ صَحَّ الْحَدِيثُ فَإِنَّ هَذَا مِمَّا تَكَلَّمَ فِيهِ أَهْلُ الْعِلْمِ

Telah diriwayatkan { bahwa Allah turun malam Nishfu Sya’ban}, jika hadits tersebut shahih, maka ini termasuk yang diperbincangkan para Ulama (Majmu’ Fataawa (3/388))

وَرَوَى بِإِسْنَادِهِ مِنْ ” كِتَابِ السُّنَّةِ ” لِعَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَحْمَد بْنِ حَنْبَلٍ قَالَ أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ الْحَسَنِ ؛ حَدَّثَنِي أَبِي ثَنَا أَحْمَد بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عُمَرَ اللُّبْنَانِيُّ ثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَحْمَد بْنِ حَنْبَلٍ ثَنَا أَبِي ثَنَا مُوسَى بْنُ دَاوُد أَبُو مَعْمَرٍ ثَنَا عَبَّادُ بْنُ الْعَوَّامِ قَالَ : قَدِمَ عَلَيْنَا شَرِيكٌ فَسَأَلْته عَنْ الْحَدِيثِ { إنَّ اللَّهَ يَنْزِلُ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ } . قُلْنَا : إنَّ قَوْمًا يُنْكِرُونَ هَذِهِ الْأَحَادِيثَ قَالَ فَمَا يَقُولُونَ ؟ قُلْنَا : يَطْعَنُونَ فِيهَا فَقَالَ : إنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِهَذِهِ الْأَحَادِيثِ هُمْ الَّذِينَ جَاءُوا بِالْقُرْآنِ وَبِالصَّلَاةِ وَبِالْحَجِّ وَبِالصَّوْمِ فَمَا يُعْرَفُ اللَّهُ إلَّا بِهَذِهِ الْأَحَادِيثِ

Dan beliau meriwayatkan dengan sanadnya dari Kitabus Sunnah karya Abdullah bin Ahmad bin Hanbal beliau berkata: telah mengkhabarkan kepada kami Muhammad bin Muhammad bin al-Hasan, telah menceritakan kepadaku ayahku telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Muhammad bin Umar al-Lubnaaniy telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Ahmad bin Hanbal telah menceritakan kepada kami ayahku telah menceritakan kepada kami Musa bin Dawud Abu Ma’mar telah menceritakan kepada kami Abbad bin al-Awwaam beliau berkata: Syarik datang kepada kami kemudian aku bertanya kepadanya tentang hadits: <> kami berkata: Sesungguhnya suatu kaum mengingkari hadits ini. Beliau berkata: Apa yang mereka katakan? Kami mengatakan: mereka mencela hadits itu. Maka beliau berkata: Sesungguhnya para perawi yang datang membawa hadits-hadits ini adalah orang-orang yang juga datang menyampaikan al-Quran, sholat, haji, puasa. Tidaklah Allah dikenal kecuali dengan hadits-hadits ini (Majmu’ Fataawa (5/387))

وَرَوَى أَيْضًا عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سَلَامٍ قَالَ : سَأَلَ فَضَالَةُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ الْمُبَارَكِ عَنْ النُّزُولِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ ؛ فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ : يَا ضَعِيفُ تَجِدُ خَدَّايَ خوشيركن : يَنْزِلُ كَيْفَ شَاءَ

Dan beliau juga meriwayatkan dari Muhammad bin Salaam beliau berkata: Fadholah bertanya kepada Abdullah bin al-Mubarok tentang turunnya Allah pada malam Nishfu Sya’ban maka Abdullah berkata: wahai orang yang lemah, apakah engkau mendapati kedua pipiku Husyirkan?! Allah turun sesuai dengan yang dikehendakiNya (Majmu’ Fataawa (5/393))

وأما النزول ليلة النصف من شعبان ففيه حديث اختلف في إسناده

Adapun turunnya (Allah) pada malam Nishfu Sya’ban di dalamnya terdapat hadits yang diperselisihkan tentang sanadnya (Minhajus Sunnah anNabawiyyah (2/379))

💐📝Kesimpulan

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah tidaklah mengingkari perbuatan seseorang yang menghidupkan malam Nishfu Sya’ban dengan ibadah yang disyariatkan seperti qiyaamul lail. Qiyaamul Lail bisa dikerjakan sendiri atau berjamaah. Sebagaimana kadangkala Nabi qiyaamul lail berjamaah dengan sebagian Sahabat, seperti pernah beliau berjamaah dengan Ibnu Abbas. Pernah juga dengan Ibnu Mas’ud. Di lain waktu berjamaah dengan Hudzaifah bin al-Yaman. Namun, qiyaamul lail berjamaah itu tidak beliau lakukan setiap malam. Hanya dikerjakan sesekali atau kadang-kadang.

Ibnu Taimiyyah juga tidak memastikan keshahihan hadits tentang turunnya Allah Ta’ala pada saat malam Nishfu Sya’ban, hanya saja beliau tidak mengingkari pendapat sebagian Ulama yang mengindikasikan shahih atau hasannya hadits tersebut.

Namun, yang diingkari oleh beliau adalah perayaan khusus dengan ibadah-ibadah tertentu yang dilakukan secara bersama-sama di masjid pada malam nishfu Sya’ban.

Wallaahu A’lam.

(Abu Utsman Kharisman)

Sumber : WA al-I’tishom

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s