Sahkah puasa orang yang melakukan onani di bulan Ramadhan

Syaikh Muhammad Ibnu Sholeh Al Utsaimin rahimahullah

السؤال

شاب استمني في رمضان جاهلاً بأنه يفطر وفي حالة غلبت عليه شهوته ، فما الحكم؟

الجواب

الحكم أنه لا شيء عليه ، لأننا قررنا فيما سبق أنه لا يفطر الصائم إلا بثلاثة شروط :العلم – الذكر- الإرادة . ولكني أقول : إنه يجب علي الإنسان أن يصبر عن الاستمناء لأنه حرام،

لقول الله تعالى : (وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَفِظُونَ (٥) إلاَّ علي أَزْوَجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَنُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (٦) فَمَنِ ابْتَغَي وَرَاءَ ذلِكَ فَأُوْلَئكَ هُمُ العَا دُونَ (٧) {المؤمنون : ٥- ٧}

ولأن النبي صلي الله عليه وسلم قال: (يا معشر الشباب ، من الستطاع منكم الباءة فليتزوج ، فإنه أغض للبصر، وأحصن للفرج، ومن لم يستطع فعليه بالصوم)

ولو كان الاستمناء جائزًا لأرشد إليه النبي صلي   الله عليه وسلم، لأنه أيسر علي المكلف ، ولأن الإنسان يجد فيه متعة، بخلاف الصوم ففيه مشقة ،فلما عدل النبي صلي الله عليه وسلم إلي الصوم ، دلَّ هذا علي أن لاستمناء ليس بجائز .

ثمانية وأربعون سؤاﻻ في الص

Pertanyaan :

Apa hukum seorang pemuda melakukan onani (sampai mengeluarkan air mani) di bulan romadhon dalam keadaan dia tidak mengetahui bahwa perbuatan ini merupakan pembatal puasa dan ketika syahwatnya sedang bergejolak sahkah puasanya?

Jawaban :

Hukumnya adalah tidak mengapa baginya. Artinya puasanya tetap sah, sebab,  sebagaimana yang telah kita sebutkan sebelumnya bahwa seseorang itu tidaklah batal puasanya kecuali karena tiga syarat: Dia dalam keadaan tahu bahwa perbuatan tersebut termasuk pembatal puasa, dia dalam keadaan ingat, tidak dalam keadaan lupa dan dia memiliki kemauan. Akan tetapi saya katakan bahwa wajib baginya bersabar untuk tidak melakukan onani karena hukumnya adalah haram.

Berdasarkan firman Alloh:

وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَفِظُونَ (٥) إلاَّ علي أَزْوَجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَنُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (٦) فَمَنِ ابْتَغَي وَرَاءَ ذلِكَ فَأُوْلَئكَ هُمُ العَا دُونَ (٧)

“Orang-orang  yang beriman adalah orang-orang yang menjaga kemaluannya. Kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki. Maka sesungguhnya dalam hal ini tidak tercela. Barang siapa yang mencari dibalik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampau batas. (Al-Mukminun: 5-7).

Dan juga Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

(يا معشر الشباب ، من استطاع منكم الباءة فليتزوج ، فإنه أغض للبصر، وأحصن للفرج، ومن لم يستطع فعليه بالصوم)

“Wahai para pemuda, barang siapa yang telah mampu di antara kalian untuk menikah, maka menikahlah, karena menikah itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barang siapa yang belum mampu, maka hendaklah ia berpuasa”. (HR. Al-Bukhori (1905) dan Muslim (3379).

Seandainya onani itu dibolehkan, tentu Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam akan membimbing kepada hal yang demikian kepada hal yang demikian, karena hal ini sangat mudah bagi para mukallaf  dan dia mendapatkan kesenangan. Lain halnya dengan berpuasa, maka didalamnya terdapat kesusahan. Karena itu, tatkala Nabi Sholallohu Alaihi Wasallam mengarahkan bagi orang yang tidak mampu menikah, untuk berpuasa. Hal ini menunjukkan bahwa onani itu adalah sesuatu yang tidak boleh dilakukan.

Sumber:
📂📋 ثمانية وأربعون سؤاﻻ في الصيام

Alih Bahasa: Miqdad al-Ghifary hafizhahullah

Sumber : WA Riyadhul Jannah As-Salafy

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s