Siapakah penguasa dunia yang sebenarnya?

Oleh : Abu Nasim Mukhtar “iben” Rifai La Firlaz hafizhahullah

Orang pertama berprofesi sebagai tukang parkir. Tiap bulan berkeharusan setor ke Dinas Perhubungan sebesar 130.000, sebab ia memang resmi bekerja di bawah Dinas. Selama total lima jam perhari ia bekerja, minimalnya ada 200 motor yang dikelola. Orang kedua setiap pagi, dari jam 06.00 sampai jam 09.00, berjalan keliling mengusung sayur dan lauk matang ke pemukiman penduduk untuk dijajakan. 70.000 rupiah perhari minimal nominal yang diterima bersih.

Kepada mereka berdua, saya menyampaikan, ”Sungguh beruntung Anda! Anda jauh lebih beruntung dari kebanyakan orang. Walaupun status yang tersematkan pada Anda adalah tukang parkir dan penjual sayur, namun Anda berdua telah menggenggam kebahagiaan.”

Bagaimana tidak bahagia bila nyatanya mereka berdua telah diberi anugrah istri, anak dan pekerjaan. Apalagi sehari-hari, mereka berdua berusaha meluangkan kesempatan untuk duduk bersimpuh dalam posisi bersila di berbagai majlis ilmu demi mereguk sejuknya siraman rohani. Menyimak ayat Al Qur’an dibacakan juga menghayati sabda Rasulullah yang diuraikan. Sungguh tentram dan sungguh berkecukupan!

Kemudian saya mengajak mereka berdua untuk berpikir dalam konsep perbandingan. Bukan untuk menyemai rasa takabur dalam hati. Bukan pula untuk menabur bibit sombong. Perbandingan yang saya maksud bertujuan mendorong kita untuk terus menambah syukur kepada Allah, Dzat yang maha luas rahmat dan maha melapangkan rejeki. Perbandingan apa?

Saya meminta mereka untuk melihat kenyataan manusia-manusia yang diperbudak tanpa disadari. Atau barangkali mereka sadar jika telah diperbudak, namun tidak mempunyai cara nyata untuk melepaskan diri dari perbudakan. Perbudakan macam apa? Perbudakan bagaimana? Kenapa bisa mereka diperbudak?

Lihatlah mereka yang menghabiskan waktunya untuk bekerja. Sedari pagi hingga tengah malam. Sejak dini hari sampai di pertengahan siang. Bahkan kadang-kadang bekerja non stop. Contoh sederhana adalah para pekerja pabrik, karyawan di berbagai perkantoran atau yang tenggelam dalam hiruk pikuk pasar. Sungguh gersang hidup mereka!

Jarang berkumpul bersama keluarga. Hanya sedikit waktu yang bisa dihabiskan untuk mencandai istri dan anak. Lelah dan menjemukan. Dibayang-bayangi oleh target produksi yang harus tercapai. Uang dan upah atau gaji ternyata tidak dapat menggantikan itu semua. Belum lagi kalau kita membicarakan ibadah mereka, kapan waktunya mendekatkan diri kepada Allah? Kapan ia merasakan nikmatnya menunduk dalam rukuk, merendah dalam sujud? Sepi dari ketentraman hati!

Jawablah saudaraku melalui bahasa hatimu yang terdalam, ”Sudahkah engkau temukan kedamaian dalam hidupmu? Telah-kah engkau rasakan betapa lezatnya ketenangan? Apakah engkau tidak ingin meraih cinta hakiki di dunia dan pada akhiratmu kelak?”

Dunia beserta seluruh isinya bisalah digenggam dengan mudah. Bukankah banyak dari kita yang sempat dan pernah berangan untuk mempunyai ini dan itu? Memiliki rumah mewah, tanah luas, kendaraan nomer wahid. Bukankah banyak dari kita yang berpikir untuk menggapai jabatan, pangkat dan kedudukan yang setinggi-tingginya? Banyak orang terobsesi untuk menjadi penguasa dunia. Bisakah kita menjadinya?

Nabi Muhammad bersabda:

«مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ مُعَافًى فِي جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا»

“Siapa saja dari kalian yang seharinya itu merasakan aman di dalam rumahnya, tubuhnya sehat bugar dan mempunyai bahan makanan untuk hari itu, sungguh seakan dunia beserta isinya dihimpunkan untuknya”

Masya Allah! Jlebbb di hati sabda Rasulullah di atas!

Alangkah mudahnya untuk menggenggam dunia.Cukup dengan bermodalkan rasa aman di dalam rumah tempat kita bertinggal, tubuh yang sehat wal afiat serta memiliki stok makanan yang bisa dikonsumsi dalam sehari itu. Hanya itu. Cukup sudah.

Rasulullah mengingatkan untuk selalu bersyukur dan sadar bahwa selama ini kebahagiaan dan kedamaian telah kita miliki. Kecuali jika Anda kurang bersyukur atau tidak menyadari, itu lain masalah. Rasulullah menyampaikan bahwa untuk hidup mulia –layaknya seorang penguasa dunia- cukup dengan tiga hal di atas.

Berkaca dari hadits di atas, cobalah mengingat kembali sosok dua orang sahabat yang saya ceritakan sebelumnya. Pasti Anda yakin bahwa mereka berdua –walaupun tukang parkir dan penjual sayur- bisa disejajarkan dengan para penguasa dunia. Nah, bagaimana dengan Anda?

Intisari Khutbah Idul Fitri Jum’at 1 Syawwal 1435 H/17 Juli 2015

Hadits riwayat Tirmidzi dan yang lain. Dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Shahihah (2318) dari sahabat Ubaidullah bin Mihshan.
Sumber : WA Ashhabus Sunnah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s